Thursday, March 30, 2017

ULASAN: THE SPACE BETWEEN US



Akhir-akhir ini, entah kenapa film bertema penjelajahan kesebuah planet atau tempat yang belum pernah dikunjungi manusia menjadi tema cerita yang digemari oleh hollywood. Belum sebulan ini kita menonton 'Life' yang mengankat tema itu, lalu masih ada Alien Covenant di bulan Mei nanti. Dan sekarang ada The Space Between Us. Film yang disutradarai oleh Peter Chelsom (Serendipity, Shall We Dance ?). Berbeda dengan film tema penjelajahan lainnya yang biasanya bergenre thiller/horror. Untuk The Space Between Us membawa tema cerita ini ke genre drama/romance. Dibintangi oleh aktor remaja yang sedang naik daun Asa Butterfield, lalu juga ada nama senior Garry Oldman dan Carla Gugino.



Sekelompok astronot diutus untuk pergi ke dalam misi penelitian di Mars. Ketika mendarat, salah seorang astronot menemukan jika ia tengah mengandung. Tidak lama kemudian astronot itu meninggal setelah ia melahirkan seorang bayi lelaki. Demi menjaga nama perusahaan dan penyandang dana tidak mencabut dananya, CEO Genesis, Nathaniel Shepard) mengambil keputusan merahasikan kejadian ini.



Enam belas tahun kemudian, putra dari sang astronot, Gardner Elliot (Asa Butterfield) telah tumbuh menjadi seorang remaja yang menghabiskan hidupnya di planet Mars bersama para astronot. Gardner memiliki keinginan untuk bertemu dengan ayah kandungnya di bumi. Sementara itu ia juga menjalani persahabatan dengan Tulsa (Britt Robertson), seorang gadis yang tinggal di Colorado. 


Itulah plot cerita yang ditawarkan oleh 'The Space Between Us'. Lalu apakah film ini menjadi tontonan yang menarik ?. Jawabannya tergantung dari penonton sendiri. Nama Peter Chelsom sebagai sutradara yang sukses dengan film-film sebelumnya dengan genre seperti ini menjadi daya tarik utama sendiri. Cuma, jika kamu sudah kenyang dan bosan dengan hal-hal klise dalam film ala-ala drama-romantis, sebaiknya kamu menjauhi film ini, karena hal ini akan sangat banyak ditemui dalam setiap adegannya.









ULASAN: GHOST IN THE SHELL




Meskipun sudah berulang kali mengalami kegagalan dalam mengadaptasi anime/manga ke dalam visual versi. Sepertinya tidak ada kata kapok bagi 'Hollywood'. Setidaknya tahun ini 2 film adaptasi anime yang dibuat versi hollywoodnya. Selain Ghost In The Shell, bulan Agustus nanti akan ada Death Note yang tayang di Netflix. Doa kita sebagai penikmat film dan fanboy versi originalnya ?. Semoga dosa terbesar hollywood yang mereka lakukan pada Dragon Ball Z tidak akan terulang.



Kritikan pedas selalu menemani produksi film ini, mengganti wajah asia karakter utamanya dengan Scarlett Johansson. Lalu hujan kritik sedikit bisa diredam ketika trailer pertamanya rilis. Perlahan hujan kritik dari calon penonton itu berganti dengan rasa optimisme film yang disutradarai oleh Rupert Sanders (Snow White & The Huntsman) ini. Visual futuristik yang sangat megah yang kita lihat di trailer tak terbantahkan sangat mengagumkan. Dan sekarang, filmnya pun sudah tayang. Lalu bagaimanakah hasilnya ?



The Major (Scarlett Johansson) adalah seorang agen cyborg yang hidup di era tahun 2029 dimana robot-robot dengan kecerdasan buatan hidup berdampingan dengan manusia. Batas antara manusia dan teknologi jadi semakin kabur ketika ditemukannya cara mengkombinasikan otak manusia dengan tubuh robot dan Major mewakili dan pelopor teknologi seperti itu.



Didampingi partnernya Batou (Pilou Asbaek), Major yang bekerja untuk Public Security Section 9 memiliki kewajiban untuk menghentikan kejahatan yang dilakukan oleh hacker terkenal, Kuze dan mengantisipasi pergerakan dari penjahat misterius yang ingin menghancurkan perkembangan teknologi dari Hanka Robotic. Dalam segala penyelidikan yang dilakukan untuk menangkap Kuze , Major seperti perlahan Major seperti mengumpulkan puzzle mengenai masa lalunya tidak pernah dia ingat. Siapakah sebenarnya Major sebenarnya ?



Untuk yang tidak pernah mengikuti versi serial atau film dari animenya, berusaha keras untuk memahami plot cerita mengiringi sampai pertengahan film ketika sampai akhirnya misteri Major terjawab. Jika kamu bisa bertahan sampai waktu itu, maka sudah dijamin kamu akan menikmati dari setengah sisa durasi. Terlebih untuk penikmat film action yang harus bersabar untuk bisa melihat adegan aksinya. Kekhwatiran penonton jika Ghost In The Shell mengikuti jejak buruk hollywood mengadaptasi anime menjadi sebuah film tidak terbukti (kecuali mengganti wajah asia Major menjadi barat). Dengan visual kota Tokyo di tahun 2029 yang sangat luar biasa (mengingatkan kita dengan Blade Runner) yang sangat memanjakan mata, sangat disayangkan jika tidak ditonton di bioskop. 

ULASAN: SMURFS 'THE LOST VILLAGE'




Sebelum memulai perlu saya beritahu saya belum pernah menonton serial, film ataupun membaca komik dari Belgia ini, Smurf ciptaan dari Peyo (nama pena dari Pierre Culliford). Jadi bisa dibilang Smurfs: The Lost Village adalah film Smurfs yang saya tonton. Jadi apa yang saya tahu mengenai Smurfs sebelum menonton film ini ? Jawabannya sama sekali tidak ada, kecuali jika tahu seri komiknya dari Belgia bisa disebut bisa diberi nilai lebih. Ketidaktahuan ini sendiri ternyata menjadi hal yang saya syukuri, menonton tanpa ekspetasi apa-apa berbuah sangat menyenangkan ketika menonton film ini.



Cerita berpusat pada Smurfette (Demi Lovato) yang masih dalam mencari jati diri sebenarnya, apa arti dirinya untuk kaum smurf, terlebih Smurffette bukanlah keturunan darah asli makhluk smurf. Tetapi ketika Smurfette menemukan sebuah peta misterius, ia bersama para sahabatnya Brainy, Clumsy dan Hefty pergi dalam sebuah petualangan menuju sebuah hutan terlarang yang dihuni oleh macam-macam hewan dan makhluk ajaib lainnya untuk mecari sebuah desa misterius sebelum penyihir jahat Gargamel menemukannya. Dengan melalui perjalan yang dipenuhi rintangan dan bahaya, para Smurf akan menemukan sebuah rahasia terbesar dalam sejarah kaum Smurf.


Jika kamu tidak pernah mengikuti jejak rekam visual dari smurf, mungkin ini saatnya untuk memulai. Ketidaktahuan kita mengenai akan berganti sangat menikmati sajian animasi menghibur mulai dari plot cerita sampai karakter-karakter dari Smurf yang masing-masing punya ciri khas yang unik. Nama-nama karakternya sendiri juga mewakili dari ciri khas mereka. 


Film yang disutradarai oleh Kelly Asbury (Shrek 2, Gnomeo & Juliet) ini akan sangat mudah menarik perhatian kita selama film berlangsung, terlebih anak-anak. Jikapun ada nilai minus yang sangat terasa ceritanya sangat tipikal yang sangat mudah ditebak. Tetapi hei, ini memang film animasi yang diperuntukan 13 tahun kebawah. Lupakan film-film sebelumnya dan cukup duduk manis. Untuk sesaat jadilah anak-anak, nikmati 90 menit petualangan bersama Smurffette dan kawan-kawan dalam pencarian 'Desa yang Hilang'.



Friday, March 24, 2017

NIGHT BUS, DRAMA THILLER DI TANAH KONFLIK PERANG




Setelah sempat tertunda selama dua tahun untuk jadwal rilisnya, akhirnya Night Bus mendapatkan jadwal rilisnya 6 April 2017. Film yang diproduseri oleh Teuku Rifnu Wikana dan Darius Sinathrya di-isi oleh jajaran cast aktor-aktor yang sudah sangat kita kenal. Selain Teuku Rifnu Wikana yang juga ikut bermain dalam film ini, ada nama Tyo Pakusadewo, Lukman Sardi, Alex Abbad, Yaya Unru dan Torro Margens. Cerita yang berpusat pada para penumpang dalam bus yang melakukan perjalanan terjebak dalam konflik perang yang sedang terjadi. Ketika perjalanan menuju tujuan yang sebenarnya tampak sederhana menjadi masalah besar dan mengancam nyawa semua penumpang yang tidak punya keterkaitan langsung dengan konflik yang sedang terjadi.



Dalam plot cerita bergenre drama thiller ini kita akan diperkenalkan dengan macam-macam karakter penumpang yang mempunyai kepentingan sendiri-sendiri. Ada seorang jurnalis yang sedang ingin bertugas di wilayah konflik mencari berita, ada seorang nenek yang mendapat kabar anak-anaknya dibakar dalam rumahnya sendiri dan ingin mengujungi kuburan anakanya tersebut, sepasang kekasih yang melarikan diri dari rumah orang tuanya untuk memuali hidup baru dan masih ada karakter-karakter lainnya yang mempunyai karakteristik tersendiri.



Kita lihat bagaimana hasilnya. Yang pastinya dengan plot cerita yang belum ada di ranah film Indonesia sebelumnya, Night Bus salah satu film yang membuat saya penasaran. Penantian selama dua tahun akan segera terjawab tanggal 6 April 2017 nanti di bioskop-bioskop tanah air.





SINOPSIS

Bis Babad mengangkut beberapa penumpang menuju Sampar, sebuah kota yang terkenal kaya akan sumber daya alamnya namun terjadi konflik berkepanjangan. Sampar dijaga ketat oleh aparat pemerintah pusat yang siap siaga melawan pasukan Samerka (Sampar Merdeka), para milisi pemberontak yang menuntut kemerdekaan atas tanah kelahiran mereka.

Setiap penumpang bis memiliki tujuannya masing- masing : mencari penghidupan yang lebih baik, memenuhi kebutuhan keluarga, menyelesaikan masalah pribadi atau sesederhana ingin pulang ke kampung halaman.

Mereka berpikir bahwa ini akan menjadi perjalanan seperti biasa, tanpa mereka sadari ada penyusup masuk ke dalam bis, membawa pesan penting yang harus di sampaikan ke Sampar.

Kehadiran penyusup membahayakan semua penumpang, orang paling dicari oleh kedua pihak yang bertikai, perintahnya temukan hidup atau mati!!



Situasi menjadi semakin menegangkan ketika seluruh penumpang harus memperjuangkan hidupnya di antara desingan peluru.

Mereka bahkan harus menghadapi pihak lain yang justru tidak menginginkan konflik berakhir. Kaum oportunis, pemelihara konflik karena mereka hidup dari konflik, kesadisan dan kebengisan mereka semakin memberikan teror pada para penumpang bus.

Tidak ada yang tahu, siapa akan hidup dan siapa akan mati?!




Production Data:

Distributor: Night Bus Pictures

Producer: T Rifnu Wikana, Darius Sinathrya

Director: Emil Heradi

Writer: Rahabi Mandra


Cast: Yayu Unru, Teuku Rifnu Wikana, Hana Prinantina, Edward Akbar, Alex Abbad, Lukman Sardi, Tio Pakusadewo, Donny Alamsyah


Thursday, March 23, 2017

ULASAN: LIFE



Kita selalu berandai-andai apakah planet Bumi ini merupakan satu-satunya tempat dimana segala makhluk hidup berada, dan terus melakukan ekplorasi penelitian ke angkasa luar untuk mengejar tanda-tanda kehidupan di luar Bumi, namun bagaimana jika akhirnya manusia menemukan apa yang selama ini dicari bahwa kehidupan alien itu benar-benar ada? Sama halnya dengan angkasa luar yang tidak terbatas, segala kemungkinan dari yang ditemukan di luar sana juga tidak tehingga. Dalam film ini, untuk pertama kalinya dalam sejarah manusia menemukan kehidupan lain dari angkasa luar, tanpa menyadari bahwasanya penemuan tersebut bisa jadi sangat berbahaya dan dapat mengancam kelangsungan hidup di Bumi itu sendiri.




Mengambil setting utama di Stasiung Internasional Angkasa Luar, film dimulai ketika para astronaut dalam stasiun menerima modul yang baru saja datang dari planet Mars yang membawa beberapa sampel materi dari planet merah tersebut. Kemudian diketahui kalau ternyata mereka telah menemukan sel kehidupan dari materi tersebut dan seketika ini menjadi penemuan bersejarah bagi manusia, sekaligus menjadi awal mula ancaman yang sangat berbahaya bagi kehidupan di Bumi.




Film ini menyoroti hanya sedikit karakter para astronaut yang bekerja di Stasiun Angkasa Luar namun diisi jajaran cast yang menarik seperti mulai dari Ryan Reynolds, Rebecca Ferguson hingga Jake Gyllenhaal. Kita diberikan kesempatan beberapa adegan untuk saling mengenal para karakter tersebut hingga sebelum film mulai memutar keadaan secara bertahap menjadi misi bertahan hidup yang lebih intens. Seluruh cast sudah memberikan performa yang baik, atau hanya dari yang seperlunya, well, pada dasarnya ini ternyata merupakan survival film yang lebih banyak menuntut kengerian dan aksi bertahan hidup, sehingga pembangunan karakter merupakan akan nilai tambahan saja.




Saya mendapati waktu yang seru dan terhibur di sepanjang menonton film ini. Ada momennya ketika dibuat tersenyum ringan, dibuat takjub dengan sajian teknis seperti sinematografi yang dinamis, set lokasi stasiun angkasa luar yang indah hingga scoring yang beberapa di antaranya terdengar agak mirip dengan musik dalam Man of Steel karya Hans Zimmer. Dan kemudian terutama yang paling menonjol dari film garapan sutradara Daniel Espinosa ini, adalah tensinya yang terus menanjak menegangkan sampai akhir. Inilah nilai plus terbesarnya.




Life adalah film original yang sayangnya mengalami kekurang dalam nilai-nilai originalnya sendiri. Film ini tidak merupakan sekuel/prekuel ataupun adaptasi dari sumber lain, namun secara keseluruhan film ini tidak pula menyajikan sesuatu yang baru. Banyak formula seperti yang sudah sering kita temukan pada film-film survival sejenis digunakan juga di sini. Film ini masih kalah jika disandingkan dengan Gravity ataupun Interstellar, pun masih dibayang-bayangi oleh Alien karena memiliki karakteristik yang masih kurang kuat. Namun terlepas dari kurangnya originalitas ini, Life masih sangat layak untuk mendapatkan kesempatannya. Ini bisa menjadi pemanasan sebelum kita menyaksikan apa yang akan diasjikan sang maestro space-horror Ridley Scott melalui Alien: Covenant yang tidak lama lagi juga akan dirilis dalam tahun ini. Kita lihat mana nanti yang akan menjadi lebih baik.

(By Arief Noor Iffandy)

Friday, March 10, 2017

ULASAN: KONG 'SKULL ISLAND'





Kong, apa yang tersirat ketika mendengarkan sebuah judul film tersebut? Film aksi yang meneganggkan (checked), film denganvisualisasi yang menarik (checked), film yang menampilkan pertarungan antara monster dan monster (checked), film yang menampilkan aksi heroic yang sangat klimaks (checked) dan film seru yang asik banget ditonton bareng teman (checked). Semua ada di film terbaru Kong: Skull Island yang merupakan rangkaian universe (dinamakanLegendary's MonsterVerse)setelah film Godzilla padatahun 2014 lalu.



Para ilmuwan Bill Randa (John Goodman) dan Houston Brooks (Corey Hawkins) mendapatkan lampu hijau untuk melakukan survei di sebuah pulau antah berantah yang terletak di Asia Tenggara (South Pacific) yang diberi julukan Skull Island. Bill Randa terkadang menyebutnya dengan nama"the land where God did not finish creation". Mereka tiba dengan rombongan yang terdiri dari sang fotografer anti perang yang pemberani Mason Weaver (Brie Larson), tracker yang handal dari Inggris James Conrad (Tom Hiddleston) dan pengawalan militer yang dipimpin oleh LetnanKolonel Preston Packard (Samuel L. Jackson)beserta anak buahnya. Ketika itu Letkol Packard sudah mempersiapkan diri untuk pulang meninggalkan Vietnam atas perintah Presiden Amerika.



Cerita bergerak maju dengan alur yang cepat ketika para rombongan tersebut sampai di pulau yang sulit untuk dijangkau,helikopter yang mengangkut mereka terhadang raksasa berbentuk gorilla yang sangat buas dan tentu saja raksasa yang ditakuti olehbanyak orang, Kong. Kong hanyalah melindungi rumahnya. Rombongan tersebut terpisah dan ada sebagian yang bertemu dengan peradaban lokal masyarakat setempat yang ternyata dilindungi oleh Kong. Tetapi bukan hanya itu yang mengejutkan, ketika rombongan James Conrad dkk bertemu Hank Marlow (John C. Reilly), seorang pilot Perang Dunia II yang sudah terdampar lama sejak 1944. Marlow sudah hidup di antara penduduk asli dan menegaskan bahwa Kong adalah raksasa baik, yang melindungi mereka dari orang-orang dengan niat yang jahat, bahkan lebihburuk, dari makhluk yang dinamakan Skullcrawlers. Dan dia tidak berbohong.



Film ini bersetting pada tahun 1970-an, ketika perang Vietnam berakhir dan cerita berfokus di lokasi Pulau Skull. Penonton akan kecewa kalau mereka mengharapkan Kong akan mengikuti predensor-nya, yaitu Kong yang menapaki gedung-gedung tinggi yang ada di Amerika. Tidak, fokus dalam film ini adalah perkenalan kepada raksasa yang sensitif dan baik hati. Bagaimana para penonton akhirnya bersimpatik kepada karakter Kong. Seperti pada umumnya seekor Kera, Kong tidak menunjukkan banyak kepribadian, tidak seperti yang dilakukannya dalam beberapaversi, walaupun begitu dia binatang yang mengesankan, dan itu adalah  bagian terbaik dari film.



"Kong: Skull Island" memiliki banyak pertempuran adu nyali bahkan pertumpahan darah, ditambah lagi tanpa ada adegan aksi yang berlebihan, praktis dan mampu membuat penonton tercengang dan terasa menegangkan. Pengambilan gambar yang di-shot pemandangan di lokasi di Hawaii, Australia dan Vietnam menghasilkan nuansa indah tetapi sekaligus terasa asing. Belum lagi makhluk raksasa lainnya yang tidak terduga muncul baik itu buas atau jinak. Versi 3-D dari film ini cukup menegangkan dengan beberapa aksi yang terkesan pop up dan mengejutkan para penonton. Tidak perlu diragukan lagi mengenai visual effect dan sinematografi, begitu juga dengan editing yang pas tanpa berkesan draggy.

Dengan semua perhatian pada visual effect dan sinematografi, jelas ada energi yang tersisa untuk memberikan kepribadian pada karakter. Para prajurit bawahan Letkol Pickard adalah makanan ringan bagi Kong. Samuel L. Jackson melakukan variasi pada karakternya Nick Fury dari Marvel superhero film, tetapi dengan dendam yang membara. Hiddleston memliki kesan yang tidak jauh berbeda dari “The Night Manager” seperti ingin memberikan kesan, bahwa dialah yang pantas menjadi The Next James Bond. Goodman dan Hawkins hanya sedikit mendapatkan peran dan tidak mampu mencuri perhatian penonton. Hanya John C. Reilly diantara jajaran para karakter pria yang mampu menarik perhatian penonton dengan joke, quote dan karaternya yang sedikit nyentrik.

Karakter wanita di film ini justru lebih buruk, memang hanya ada 2 karakter wanita. Aktris Asia Jing Tian memiliki hanya beberapa baris percakapan sebagai ahli biologi; penonton mungkin bertanya-tanya mengapa dia repot-repot untuk bergabung rombongan ini. Brie Larson, yang diakui para kritikus atas perannya di "Room," hanya mendapatkan kesan sebagai pemanis untuk meningkatkan sensitifitas Kong terhadap manusia pendatang. Yah, setidaknya Brie Larson, tidak diminta untuk melakukan yang Fay Wraydan Naomi Watts lakukan,menjerit sehisteris-histerisnya. Larson memang memberikan kesan wanita tangguh di film ini.

Setiap film pasti ada plus dan ada minusnya. Walaupun begitu, sangat diharapkan bahwa sutradara Jordan Vogt-Roberts danpenulis Dan Gilroy serta Max Borenstein akan kembali menyutradarai serta menulis film yang telah diramu menjadi sebuah film dengan tontona nmenarik, asik serta seru. Tanpa menonjolkan kelebihan yang berlebihandari film-film Kong sebelumnya.



Baik atau tidak, apabila ada pihak/orang/makhluk asing yang mengganggu wilayahmu, pasti kau akan melindungi wilayahmu, dengan segala cara. Itulah inti cerita dari film “Kong: Skull Island”. Dia adalah gorilla raksasa yang akan menjadi ancaman bagi umat manusia, tetapi dia akan melindungi apa yang seharusnya dia lindungi. Sebuah kisah yang klise tetapi penuh dengan pesan positif.



Overall: 4/5.

(Ibnu Akbar)