Showing posts with label Event. Show all posts
Showing posts with label Event. Show all posts

Monday, September 26, 2022

JOURDY PRANATA IKUT MERAMAMAIKAN JAKARTA FILM WEEK 2022 SEBAGAI AMBASSADOR FESTIVAL

                     

Jakarta Film Week (JFW) 2022, sebuah festival film bertaraf internasional yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi DKI Jakarta, kembali hadir. Mengusung tema baru, yaitu Emerge, JFW siap merangkul secercah harapan baru yang muncul di industri perfilman pasca-pandemi. Di tahun ini, JFW juga menghadirkan wajah baru sebagai festival ambassador, yaitu Jourdy Pranata.

Nama Jourdy Pranata sudah dikenal sebagai aktor sejak 2017 lalu. Ia sudah terlibat di sejumlah judul film, baik itu film panjang ataupun film pendek. Beberapa judul film yang ia bintangi antara lain, Habibie & Ainun 3 (2019), #TemanTapiMenikah2 (2020), Kukira Kau Rumah (2021), One Night Stand (2021) dan yang terbaru film Pengabdi Setan 2: Communion (2022).

 

Jourdy Pranata mengaku, terlibat di sebuah festival film adalah hal yang dapat membantu karirnya yang tengah berkembang. Pasalnya, dengan terlibat sebagai festival ambassador Jakarta Film Week, ia bisa melihat karya-karya filmmaker dari negara lain. Dengan begitu, ia bisa mengapresiasi karya-karya tersebut. Karena apresiasi penonton pastinya akan membuat para filmmaker dihargai atas karyanya.

“Festival film adalah salah satu wadah penting untuk karya. Karena gue juga terlibat di beberapa film pendek, dan gue pribadi senang, karya film pendek yang beberapa menit, 9 menit 15 menit, tapi bisa berdampak besar ke orang luas, jadi gue pengin bisa melihat karya-karya dari lapisan dunia dengan berbagai pesan yang ingin disampaikan,” ungkap aktor 28 tahun tersebut.

Dengan menjadi bagian di Jakarta Film Week, ia juga berharap bisa menyaksikan karya-karya luar biasa dari luar negeri, yang tidak sempat terekspos di Indonesia. “Gue juga suka nonton, dan mungkin ada film dengan konsep niche yang enggak sempat terdengar di Indonesia, bisa
ada di festival nanti, nah gue pengen lihat itu. That’s why gue pengen terlibat di Jakarta Film Week,” lanjutnya lagi.



Selain akan aktif menonton film-film yang hadir di festival, Jourdy juga akan berbagi dalam sesi Talks, yang menjadi salah satu program di Fringe Event Jakarta Film Week 2022. Jourdy akan menjadi narasumber dan membicarakan seputar pengalamannya sebagai aktor.

Festival Jakarta Film Week 2022 ini akan hadir tanggal 13-16 Oktober 2022, yang diadakan di tiga venue: CGV Grand Indonesia untuk Program Screening, Kineforum Taman Ismail Marzuki untuk Program Screening dan Non Screening, Ashley Hotel untuk Program Producer’s Lab.

Untuk pemesanan tiket penayangan film dapat diakses mulai 1 Oktober melalui Tix ID secara gratis. Fringe Event Jakarta FIlm Week 2022 dan informasi lainnya bisa diakses melalui www.jakartafilmweek.com dan instagram @jakartafilmweek.




Saturday, September 17, 2022

MENERIMA 461 FILM DARI 28 NEGARA, JAKARTA FILM WEEK TAHUN KEDUA AKANN HADIR JAUH LEBIH BESAR DIBANDINGKAN TAHUN PERTAMA



Jakarta Film Week (JFW), festival film bertaraf internasional kembali diadakan tahun ini pada 13-16 Oktober, secara offline dan online. Jakarta hadir sebagai kota yang merespon kegiatan ekonomi kreatif dan juga memfasilitasi ruang dan kebutuhan film, baik dari penonton dan juga industri yang terus berkembang. Jakarta Film Week edisi kedua akan mengusung tema Emerge, kembali diinisiasi oleh Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi DKI Jakarta. 




Tahun ini Jakarta Film Week masih memiliki dua program utama, yaitu program pemutaran film dan non pemutaran film. Program pemutaran film akan terdiri dari Ä program, yaitu Global Feature (merupakan pemutaran film panjang terpilih baik dari Indonesia maupun internasional), Global Short (pemutaran film pendek menampilkan film-film pendek terpilih, baik dari Indonesia maupun Internasional), dan Jakagja Film Fk[d (kompetisi ide cerita pembuatan film pendek). Dalam program pemutaran film juga akan ada sesi kompetisi yang terdiri dari, Global Feature Award (penghargaan film panjang internasional terbaik), Direction Award (penghargaan film panjang Indonesia terbaik), Global Short Award (penghargaan film pendek internasional terbaik), Jakagja Film Fk[d Aqagd (penghargaan film hasil produksi pemenang Jakarta Film Fund), Global Animation Award (penghargaan film animasi pendek), dan Series of the Year (penghargaan series orisinal yang tayang di OTT).




Untuk program non pemutaran film, terdiri dari; Masterclass (pelatihan untuk para profesional industri film dengan narasumber berpengalaman di industri film internasional), Talks (diskusi publik seputar industri film dengan panelis yang inovatif dan berpengalaman), Community (ruang berbagi komunitas film untuk memperluas jaringan dan bertukar pengetahuan dengan para ahli di industri film), Jakarta Film Fund (kompetisi ide cerita pembuatan film pendek, dengan proposal yang terpilih akan mendapatkan dukungan produksi, teknis dan pelatihan), Road to Jakarta Film Week (Kegiatan yang berjalan menjelang acara puncak Jakarta Film Week 2022). Acara ini berkolaborasi dengan instansi edukasi film di Indonesia, berbentuk diskusi dan bincang dengan praktisi industri film. Selain diskusi dan bincang dengan praktisi industri film, Road to Jakarta Film Week juga berupa penayangan 24 film pendek secara eksklusif di Vidio.com, hasil kolaborasi dari instansi edukasi film di Indonesia, dan Exhibition[ (ruang pameran dan pertemuan untuk pekerja film, prakerja film, prakarsa teknologi, investor dan penonton). Satu program terbaru lainnya di tahun ini yaitu Pg]dkcegh Lab. Program hasil kolaborasi dengan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia dan Platform BUSAN, yang secara eksklusif memfasilitasi para produser film Indonesia untuk siap berkompetisi secara lokal dan internasional. Yulia Evina Bhara, produser film asal Indonesia dan Alemberg Ang, produser film asal Filipina akan menjadi mentor program ini. Peserta yang terpilih akan mendapat kesempatan untuk mengikuti Platform BUSAN 2023.





Di tahun kedua ini JFW menerima pendaftar film mencapai 461 film yang berasal dari 28 negara. Film Balada Si Roy produksi IDN Pictures dipilih menjadi film pembuka JFW 2023. Pemutaran tersebut sekaligus menjadi momen world premiere untuk film Balada Si Roy. Penyelenggaraan Jakarta Film Week secara luring tahun ini akan diadakan di 3 lokasi berbeda, yaitu; CGV Grand Indonesia dan Kineforum Taman Ismail Marzuki untuk program pemutaran film dan non pemutaran film, Ashley Hotel untuk Program Producer Lab. Sementara penyelenggaraan secara daring akan tayang secara eksklusif di Vidio.com.





PROGRAM JAKARTA FILM WEEK

Film Panjang Kompetisi :

1. Arnold is a Model Student / Sorayos Prapapan / Thailand, Singapore, France,

Netherlands, Philippines

2. Balada si Roy / Fajar Nugros / Indonesia

3. Galang / Adriyanto Dewo / Indonesia

4. Huesera / Michelle Garza Cervera / Mexico, Peru

5. Mencuri Raden Saleh / Angga Sasongko / Indonesia

6. Melchior the Apothecary / Elmo Nuganen / Estonia, Latvia, Germany

7. Nana (Before Now 2 Then) / Kamila Andini / Indonesia







Film Pendek Kompetisi :

1. Buried Bullet / Ali Nazha / Lebanon

2. Basiyat: Bathe My Corpse With Wine / Ahmad Faiz / Indonesia

3. Cake Day! / Ribka Natalia / Indonesia

4. Gabriel (Berita Duka Hari Ini) / Candra Aditya / Indonesia

5. James English Academy / Kim Kwon-hoan / South Korea

5. Jumawut Night / Yudhatama / Indonesia

6. Late Blooming in a Lonely Summer Day / Sein Lyan Tun/ Myanmar

7. Moshari / Nuhash Humayun / Bangladesh

8. Nauha (Eve of a Eulogy) / Pratham Khurana / India

9. Nusa Antara / Azalia Muchransyah 2 Firman Widyasmara / Indonesia

10. Sweet Squad (Pasukan Semut) / Haris Supiandi / Indonesia

11. Such Small Hands / Maria Martinez Bayona / UK

12. Sigarane Nyowo / Yudhatama / Indonesia (Jogja)

13. Serangan Oemoem! / Fajar Martha Santosa / Indonesia

14. Tankboy / Novella / Singapore

15. What About Mother Earth / Pamela Suryadjaya / Indonesia








Friday, November 5, 2021

67 JUDUL FILM PANJANG DAN FILM PENDEK SIAP MERAMAIKAN PERGELARAN TAHUN PERTAMA JAKARTA FILM WEEK



Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi DKI Jakarta resmi meluncurkan Jakarta Film Week, festival film berskala Internasional di Jakarta, yang akan berlangsung pada 18 - 21 November 2021 mendatang. Penyelenggaraan Jakarta Film Week dilakukan baik secara online maupun offline. Kegiatan festival secara offline akan diadakan di CGV, Cinema XXI dan Hotel Ashley, sedangkan pemutaran film secara online eksklusif tayang hanya di Vidio.com. Tiket dapat diakses mulai tanggal 10 November melalui Loket.

Hadirnya Jakarta Film Week, diharapkan membuka kesempatan dan peluang baru untuk berkarya. Juga diharap bisa menjadi bagian penguatan ekonomi pasca pandemi. Karena itu, Disparekraf ikut memberikan dukungan atas berlangsungnya festival berskala internasional ini.


Program Jakarta Film Week

Jakarta Film Week akan dibuka dengan world premiere dari film Indonesia yaitu Ranah 3 Warna, produksi MNC Pictures yang disutradarai Guntur Soeharjanto. Sementara Whether The Weather is Fine karya sutradara asal Filipina, Carlo Francisco Manatad akan menjadi film penutup. Sebelumnya film produksi Globe Studios ini tayang perdana di Locarno Film Festival ke-74 dan berkompetisi di The Script Development Fund, Asian Cinema Fund dari Busan International Film Festival 2014.

Program film lain yang akan hadir yaitu Global Feature yang berisi pemutaran film panjang, Global Short yang berisi pemutaran film pendek, dari Indonesia, FIlipina, Malaysia, Thailand, China, Perancis, Jepang, Myanmar, Italia, Kanada, New Zealand, Hongkong, dan Korea Selatan. Film panjang dan pendek terpilih akan berkompetisi untuk memenangkan Global Feature Award dan Global Short Award. Hadir pula Direction Award, kompetisi khusus untuk film-film Indonesia yang diputar selama festival. Selain itu, para pelaku industri juga berkesempatan untuk memamerkan karya-karya mereka di ruang exhibition dan showcase yang terletak di lokasi utama festival.

Program lain yang fokus pada pendanaan yaitu Jakarta Film Fund. Tim program Jakarta Film Week akan memilih lima ide cerita film pendek yang akan mendapatkan dana dukungan produksi dan mentoring dari pembuat film professional, movielab penyutradaraan, penulisan naskah dan penyuntingan gambar. Semua film yang telah selesai diproduksi akan ditayangkan pada saat festival berlangsung.

Program lain yang diselenggarakan selama Jakarta Film Week antara lain Masterclass untuk pekerja film profesional, Talks untuk diskusi isu terkini dalam industri film, dan juga Community sebagai wadah bertukar pengalaman dan memperkuat jaringan.


Jakarta Film Week diharapkan menjadi wadah bagi para pelaku industri film Indonesia, terutama di Jakarta agar semakin berkembang baik secara wacana, keterampilan juga pengembangan jaringan. Selain itu dapat menjadi pemicu bagi industri film di daerah lain untuk semakin berkembang sehingga bisa meningkatkan kualitas industri film di Indonesia secara keseluruhan. Seluruh program dan informasi terkait Jakarta Film Week sudah dapat diakses di laman www.jakartafilmweek.com.




Opening

1. Ranah 3 Warna / Guntur Soehardianto / Indonesia

Closing

2. Whether the weather is fine / Carlo Mangantad / Philippines

Global Feature

1. Petite Maman / Céline Sciamma / Prancis

2. Black Box / Yann Gozlan / Prancis

3. Barbarian Invasion / Tan Chui Mui / Malaysia, Hong Kong, The Philippines 4. Money Has Four Legs / Maung Sun / Myanmar

5. Me and the Cult Leader / Atsushi Sakahara / Japan

6. Nussa / Bonny Wirasmono / Indonesia

7. Dari Hal Waktu / Agni Tirta / Indonesia

8. Ibu / Jeihan Angga/ Indonesia

9. Kadet 1947 / Rahabi Mandra & Winaldo Artaraya / Indonesia

10. Death Knot / Cornelio Sunny / Indonesia

11. Cinta Bete / Roy Lolang / Indonesia

12. Yowisben 3 / Bayu Skak & Fajar Nugros / Indonesia

13. Shankar’s Fairies / Irfana Majumdar / India

14. Zero / Kazuhiro Soda / Japan, Usa

15. Veyilmarangal / Biju Kumar / India

16. 12x12 Untitled / Gaurav Madan / India

17. Marapu, Fire & Ritual / Andrew Campbell / Indonesia

18. Mang Jose / Raynier F. Brizuela / Philippines

19. The Tales of the Black Saint / Ludovica Fales / Italia

20. You & I / Fanny Chotimah / Indonesia

21. Recalled / Seo You-min / South Korea

22. Everyday is lullaby / Putrama Tuta / Indonesia

Global Short

1. Golden Frames In The Closet / Putri Sarah Amelia / Indonesia

2. The Girls Are Alright / Gwai Lou / Malaysia

3. Diary of Cattle / David Darmadi, Lidia Afrilita / Indonesia, Swiss

4. Develop Viriyaporn Who Dared in 3 Worlds / Kanyarat Theerakrittayakorn / Thailand / Documentary (international premiere)


5. Only If Possible / Kiva Liu / China / Documentary (international premiere) 6. Five Minutes / Meelad Moaphi / Canada / Fiction (World Premiere) 7. Elephantbird / Amir Masoud Soheili / Afghanistan / Fiction

8. Glass Shards / Kyle Barrett / New Zealand / Documentary (Indonesian Premiere) 9. Udin’s Inferno / Yogi S. Calam / Indonesia / Fiction

10. Splish Splash / Andra Fembriarto / Indonesia / Animation

11. The Present / Farah Nabulsi / Palestine

12. Anomaly / Gwai Lou / Malaysia / Fiction

13. Anxietus Domicupus / Gugun Arief / Indonesia / Fiction

14. Before 7 Days / Ivan Padak Demon / Indonesia / Fiction

15. Black Hole Monster / Sim Seow Khee / Malaysia / Fiction

16. Dilemma Maya / Ridho Hisbi Sulaiman / Indonesia / Fiction

17. Diponegoro 1830 / Gata Mahardika / Indonesia / Fiction

18. Don’t be a Stranger / Ariya Sidharta / Indonesia / Fiction

19. End of The Tunnel / Garry Christian / Indonesia / Fiction

20. Fifty Fifty / Rizky Mochammad Rayadi / Indonesia / Documentary 21. Golek Garwo / Wahyu Utami / Indonesia / Documentary

22. Kodakan / Janine Coleen de Villa / Philippines /Fiction

23. Honeymoon Package / Netanya Yemima / Fiction

24. Into the Happiness / Imam Syafi'i / Fiction

25. Joni’s Poster / Adrian Pratama P. W / Indonesia / Fiction

26. Gap / Jun-Yuan Hong / Taiwan / Experimental

27. Please be Quiet / William Adiguna / Indonesia / Fiction

28. Sarikat / Ezra Cecio / Indonesia / Documentary

29. Special Course / Bagas Satrio / Indonesia / Fiction

30. The World of Mindfulness / YING Liang / Hongkong / Fiction

31. Stranger by Fiction / Roufy Nasution / Indonesia / Fiction

32. The Age of Remembrance / Sazkia Noor Anggraini / Indonesia / Documentary 33. Family Story / Rendro Aryo / Indonesia / Fiction

34. The Bookbinder / Brahmastra Bayang Sambadha / Indonesia / Fiction 35. The Last Will / Riandhani Yudha Pamungkas / Indonesia / Fiction

36. The Little Plant / Komeil Soheili / South Korea / Fiction

37. Two Fishes and A Dish / Bani Nasution / Indonesia / Fiction

38. Uphold the Trus / Findo Bramata Sandi / Indonesia / Documentary 39. Heil Raja! / Edelin Wangsa, Perdana Kartawiyudha / Indonesia / Documentary 40. Culas / Sabrina Rochele / Indonesia / Fiction


Special Program

5 film pendek Jakarta Film Fund 

o And that’s what Married is

o Ringroad

o Night in Chinatown

o Sebelum Malam Hari

o Suatu hari di Pemancingan


Monday, March 11, 2019

TAHUN KEEMPAT FESTIVAL SINEMA AUSTRALIA DIGELAR




Festival Sinema Australia Indonesia kembali untuk tahun keempatnya bulan ini dengan menayangkan film-film terbaik dari Australia dan Indonesia kepada penonton di Jakarta, Surabaya, Makassar, dan, untuk pertama kalinya tahun ini, Bandung dan Mataram, Lombok. Berbagai pilihan film Australia dan Indonesia akan diputar secara gratis di festival tahun ini, termasuk film-film pendek pilihan yang ditampilkan di Flickerfest, festival film pendek Australia yang terkenal di dunia. Festival ini akan dibuka dengan pemutaran perdana Ladies in Black di Indonesia, sebuah film berlatar tahun 1959 yang menunjukkan awal mula transformasi Australia menjadi negara multikultural seperti sekarang ini dan kebangkitan kemerdekaan perempuan di masyarakat.



Film dokumenter tentang salah satu seniman Penduduk Asli Australia yang paling terkenal,GURRUMUL, juga akan ditampilkan pada festival tahun ini. Sutradara dan penulis film dokumenter tersebut, Paul Damien Williams, akan menghadiri festival dan menyapa penggemar film di Jakarta dan Mataram dengan dukungan dari mitra berkelanjutan festival ini, Qantas.



Judul-judul film Australia lainnya yang akan diputar termasuk drama keluarga Storm Boy, filmthriller fiksi ilmiah alien Occupation, dan film fitur dokumenter tentang paduan suara perempuan Penduduk Asli Australia The Song Keepers. Kembali tayang karena permintaan khalayak ramai, susunan film pada festival kali ini juga mencakup karya alumni Australia asal Indonesia, termasuk karya film klasik modern Ada Apa Dengan Cinta? dan Ada Apa Dengan Cinta 2 dari produser Mira Lesmana, yang juga merupakan Sahabat FSAI tahun ini.



Penonton juga berkesempatan untuk menonton film pemenang penghargaan karya Kamila Andini,The Seen and Unseen.“Warga Australia dan Indonesia berbagi kecintaan terhadap karya visual, terutama film,” kata Duta Besar Australia untuk Indonesia, H.E. Mr Gary Quinlan.



“Film adalah salah satu media terbaik untuk menumbuhkan pemahaman yang lebih besar tentang negara dan budaya lain. Festival Sinema Australia Indonesia 2019 menawarkan jendela unik ke Australia kontemporer". FSAI 2019 didukung oleh Australia now ASEAN, sebuah inisiatif Pemerintah Australia untuk merayakan inovasi, kreativitas, dan gaya hidup Australia di Asia Tenggara sepanjang 2019. Tiket untuk semua pemutaran film tersedia secara gratis di fsai2019.eventbrite.com.

Wednesday, February 27, 2019

KONTEN DIGITAL JADI FOKUS UTAMA LA INDIE MOVIE 2019





Sejak kemunculannya pada 2007, Lingkar Alumni Indie Movie atau LA Indie Movie (LAIM) telah mewadahi para generasi muda dalam menuangkan ide dan ekspresi dirinya melalui medium film, khususnya film pendek. Serta mengajak generasi muda mengapresiasi dan menyelami proses produksi film dari hulu sampai ke hilirnya, mulai tahap penulisan naskah cerita, penyutradaraan, pengambilan gambar, penyuntingan, hingga eksibisi dan distribusi. Semua ini akan dimentori oleh mereka yang sudah ahli dan berpengalaman di bidangnya.



Selepas vakum selama dua tahun, LAIM kini hadir kembali dengan konsep yang semakin fresh dan kekinian.

“LA Indie Movie kami hadirkan, sejak tahun 2007, kami maksudkan agar menjadi jalan pembuka bagi mereka yang mempunyai passion di dunia perfilman, ingin mengasah skillnya, berkeinginan untuk terus kreatif berkarya menghasilkan film pendek dan terus eksis dengan berani mengekspresikan minatnya di bidang film khususnya untuk kaum muda atau generasi millenials. Hal ini sejalan dengan spirit LAzone.id ,sebagai portal yang memberikan informasi tentang gaya hidup/Lifestyle, kreativitas, entertainment, komunitas, dari sisi See Things Differently“, ujar Novrizal selaku perwakilan dari LAzone.id.

Rangkaian LAIM 2019 telah dimulai sejak November 2018 lalu dengan program LA Indie Movie Meet Up at Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) yang diisi dengan program sharing bersama para filmmaker experts.



Dilanjutkan dengan Story Competition yang mencari ide cerita original dan menarik dengan tema ‘Viral’, cerita yang terpilih akan dikembangkan menjadi skenario film pendek dan diproduksi menjadi film pendek bersama produser-produser ternama tanah air. Pendaftaran Story Competition telah dibuka sejak 27 November 2018 dan ditutup pada 24 Maret 2019 melalui www.lazone.id.



Cerita yang terpilih menjadi pemenang Story Competition akan difilmkan oleh tim filmmaker yang dijaring melalui program FILMMAKER HUNT dan diproduseri langsung oleh produser ternama yaitu Ifa Isfansyah, Ismail Basbeth dan Adhyatmika. Hasil karya ini kelak didistribusikan melalui festival dan platform digital seperti Iflix, Viddsee, dan HOOQ. Pemilihan platform digital sebagai medium distribusi film LA Indie Movie 2019 ini, sejalan dengan tema yang diusung yaitu “Your Movie Goes Digital”.



Rina Damayanti selaku Direktur Festival LA Indie Movie 2019 menyatakan tema ‘Your Movie Goes Digital’ dipilih sebagai respons atas makin terintergrasinya dunia digital dalam keseharian generasi muda, tak terkecuali dalam menonton film.

“Teknologi digital yang terus berkembang membuka peluang dan tantangan baru kreativitas dan medium distribusi film. Bagaimana para pembuat film menangkap tantangan era digital sebagai ruang baru kreativitas dan juga platform distribusi ide dan karya tanpa batas,” ungkap Rina

Mark Francis, iflix Global Director of Original Programming, menambahkan "Film dan serial di Indonesia siap untuk pertumbuhan yang sangat positif berkat proliferasi layanan OTT (Over the Top) seperti iflix dan sebagaimana dibuktikan oleh rencana untuk membuka ratusan bioskop baru di seluruh Nusantara. Penonton lokal semakin tertarik dengan hiburan lokal berkualitas, yang menjadikan wadah seperti LA Indie Movie semakin penting. Anda tidak akan mendapatkan film yang bagus tanpa pembuat film yang hebat, itulah sebabnya kami senang berkontribusi dalam mendorong pengembangan keterampilan."



“Sebagai platform digital untuk konten pendek premium, Viddsee bangga dapat mendukung tujuan Lingkar Alumni Indie Movie 2019 dalam mengembangkan talenta para pembuat film lokal dengan mempromosikan film mereka kepada audience tanpa batas”, ungkap Arie Kartikasari, Content Manager Viddsee Indonesia.

“Dengan begitu banyaknya film atau konten yang bisa kita temukan di dunia digital dan sosial media, kita perlu memilah dan memilih konten yang mempunyai nilai lebih baik itu dari segi cerita maupun segi teknisnya. Seringkali para kreator dunia digital mengesampingkan nilai-nilai itu, maka kita perlu menularkan dan membagi pengetahuan kepada generasi muda agar dapat memproduksi film pendek yang tidak kalah dengan kualitas film bioskop,” ujar Ismail Basbeth selaku produser LA Indie Movie 2019.



Salah satu program unggulan dalam LAIM 2019 adalah event LA MovieLAnd yang akan digelar di :

Jogjakarta, 2 Maret 2019, di Jogja Nasional Museum

Malang 9 Maret 2019, di Taman Krida Malang, dan

Jakarta 16 Maret 2019, di Joglo at Kemang

Mulai Pkl. 10.00 sampai pkl. 21.00 malam, akan diisi dengan berbagai program menarik dalam LA Movieland antara lain : Seri Film Workshop, Meet the Film Expert, Filmmaker Hunt, Casting, dan Open Air Cinema. Banyak filmmaker profesional akan turut hadir sebagai narasumber yang siap membagi ilmu dan pengalaman, antara lain : Angga D Sasongko (Sutradara), Edwin (Sutradara), Mouly Surya (Sutradara), Ifa Isfansyah (Sutradara /Produser), Adhyatmika (Produser), Agung Hapsah (Youtuber), Denis Adiswara (Content Creator), Roy Lolang (Cinematografer), Andhy Pulung (Editor Film), dll. Juga para aktor film Indonesia antara lain; Oka Antara, Vino G Sebastian, Ben Joshua, dan Arifin Putra.



Tentang LA Indie Movie

LA Indie Movie (LAIM) adalah wadah bagi pecinta film di Indonesia yang aktif menyelenggarakan filmmaking workshop dan short movie festival sejak tahun 2007. Kegiatan yang telah banyak menghasilkan profesional di dunia perfilman tanah air ini pada tahun 2018 berkumpul kembali dengan bendera Lingkar Alumni Indie Movie (LAIM). Fokus dari LAIM adalah memperkenalkan pembuatan film, mulai dari pengembangan cerita sampai profesi yang terlibat di dalamnya dan memberikan kesempatan generasi muda untuk terlibat dalam dunia film independen khususnya film pendek serta mempromosikan bakat-bakat yang muncul beserta karya mereka.



Informasi mengenai jadwal acara dan informasi lainnya dapat dilihat di: www.LAZONE.ID/laindiemovie atau follow IG : @LAZONE.ID

Monday, December 17, 2018

ARIGATOU GOZAIMASU PEKAN SINEMA JEPANG 2018!





Sudah 10 hari Pekan Sinema Jepang 2018 berlangsung sukses di Jakarta. Terhitung ada 36 judul film pilihan yang mewarnai berbagai genre film Jepang yang berlangsung dari 7 – 16 Desember 2018. Film penutup pada acara tahunan ini, pilihan jatuh kepada film The Man From The Sea (Laut) yang merupakan hasil kerjasama antara Jepang dan Indonesia, serta sebagai simbolis bentuk kerjasama diplomatik antara Jepang dan Indonesia selama 60 tahun.



Pada tanggal 16 Desember 2018 di tampak sekali kemeriahan acara penutupan Pekan Sinema Jepang 2018 di CGV Grand Indonesia, Jakarta. Tampak berjejer 36 poster film Jepang terpilih yang dikurasikan oleh tim dari Agency of Cultural Affairs, VIPO dan Japan International Foundation. Di hari terakhir Pekan Sinema Jepang 2018 ini terhitung ada 7 film yang diputar di CGV Grand Indonesia, termasuk film tambahan Shoplifters (atas atensi dan permintaan dari anemo pecinta film Jepang -bahkan sold out dalam hitungan jam-) dan film penutup The Man From The Sea (Laut). Menariknya sutradara dan para pemain The Man From The Sea (Laut) turut hadir untuk memeriahkan acara penutupan Pekan Sinema Jepang kali ini.



Koji Fukada selaku Sutradara, Dean Fujioka dan Taiga selaku pemain film The Man From The Sea (Laut) dari Jepang sangat bahagia atas atensi dari para penonton film ini yang memenuhi satu studio penuh di auditorium 1. Adipati Dolken dan Sekar Sari sebagai aktor dan aktris ternama di Indonesia berharap bahwa penonton Indonesia bisa terhibur dan melaut bersama Laut.


RANGKAIAN ACARA LAINNYA SELAIN PENAYANGAN FILM JEPANG


Event ini tidak hanya menayangkan 36 film Jepang pilihan, tetapi ada beberapa workshop / talk events untuk mengenal lebih dekat mengenai film-film Jepang. Seperti talk event mengenai animasi film Jepang setelah pemutaran film kumpulan animasi Ponoc Short Film Theatre, Volume 1: Modest Heroes. Talk event mengenai film Tokusatsu (mengambil kisah kesuksesan Kamen Rider) setelah pemutaran film Kamen Rider X Super Sentai Cho Super Hero Taisen. Tidak lupa workshop menarik bagi anak-anak yang mengajarkan bagaimana membuat awan dari kapas untuk menimbulkan spesial efek dalam film-film Tokusatsu.

Selain beberapa kegiatan di luar penayangan film, satu hal yang sangat menarik bagi penggemar film Jepang adalah penukaran merchandise dengan tiket film di Pekan Sinema Jepang 2018. Hanya dengan 2 tiket film penonton dapat menukarnya dengan stiker, 5 tiket film penonton dapat menukarnya dengan tote bag dan 10 tiket penonton dapat menukarnya dengan kaos. Semua merchandise tersebut merupakan official merchandise dari Pekan Sinema Jepang 2018.

Sajian utama dari Pekan Sinema Jepang 2018 tentunya adalah suguhan 36 film dari 6 kategori film yang berbeda. Kategori-kategori tersebut adalah New J-Director, New J-Film, "Samurai" Historical, "Kira-Kira" Teen, "Tokusatsu" Special Effects dan Documentary. Dari 36 film yang ditayangkan, Gila Film akan memberikan referensi 5 film yang paling menarik di Pekan Sinema Jepang 2018. Mau tau apa saja film-film tersebut? Simak ulasannya di bawah ini!


5 FILM PEKAN SINEMA JEPANG 2018 PILIHAN GILA FILM

1. Tremble All You Want



Mau merasakan film absurd nan kocak tetapi dengan sajian yang berbeda dan tidak lupa dengan unsur “nyeni” dalam sebuah film? Tremble All You Want adalah jawabannya. Sebuah film berdasarkan novel monolog berjudul “Katte ni Furuetero” oleh Risa Wataya.

Film ini menceritakan seorang perempuan bernama Yoshioka (diperankan sangat apik oleh Mayu Matsuoka) yang bekerja sebagai akuntan di sebuah kantor di Tokyo, Jepang. Dia mengalami dilema karena 10 tahun jatuh cinta dengan pria yang sama bernama Ichi (satu, diperankan oleh Takumi Kitamura) dan berfantasi kalau mereka adalah sepasang kekasih. Dilema-fantasi tersebut terusik dengan kehadiran pria lain, Kirishima (Daichi Watanabe) yang dijuluki “Ni” (dua) ini menyatakan cintanya kepada Yoshioka, sebuah pernyataan cinta pertama yang diterima Yoshioka sepanjang 24 tahun selama hidupnya. Lalu siapakah yang akan dia pilih, Ichi atau Ni? Terlebih Yoshioka akhirnya bertemu dengan Ichi setelah bertahun-tahun tidak berjumpa. Akankah dia memilih cinta pertama atau cinta kedua? Fantasi atau realita?

Adegan favorit: ketika Yoshioka menyadari bahwa Ichi tidak mengetahui (mengingat) namanya setelah bertahun-tahun lamanya. Sebuah titik balik dari Yoshioka untuk segera mengakhiri fantasinya dan memulai kehidupan sesuai realitas yang ada.

Rating dari kami: VERY RECOMMENDED

2. One Cut Of The Dead



Sebagai film pembuka Pekan Sinema Jepang 2018, One Cut of the Dead adalah pilihan yang sangat cocok yang mampu membangkitkan anemo keinginan para penonton untuk menyaksikan film-film pilihan Pekan Sinema Jepang yang lain. Sebuah film komedi yang sangat unik dan sangat orisinil yang sudah menorehkan sukses di Jepang serta beberapa negara di Asia. Dibuka dengan pengambilan gambar sepanjang 37 menit yang tidak terputus dari sebuah kisah datangnya zombie yang mengacaukan proses syuting sebuah film bertemakan zombie. Hingga akhirnya film berganti menjadi sindiran lucu pembuatan film bergenre zombie dengan anggaran rendah - dan film ini diakhiri menjadi drama komedi keluarga yang sangat menawan.

One Cut of the Dead adalah sebuah permata yang selama ini dicari oleh para penonton terutama sineas film. Hanya dengan anggaran yang sangat minim, mampu menghasilkan sebuah film yang sangat maksimal, sebuah tamparan nyata bagi sineas film Hollywood yang sudah mulai mati ide dan inovasi dalam hal cerita.

Adegan favorit: Adegan terakhir membentuk piramida manusia, dimana akhirnya sang ayah mampu memperbaiki hubungan dengan anaknya yang sama-sama mencintai film. Lucu namun sangat menyentuh.

Rating dari kami: VERY RECOMMENDED.


3. Teiichi-Battle Of Supreme High




Drama politik namun kocak, komikal dan absurd? Maka jangan lupakan film Teiichi -Battle of Supreme High-. Sebuah film yang mensatirisasi langkah-langkah ekstrem yang dilakukan oleh politisi dan birokrat Jepang agar naik pangkat dan mampu berkuasa, dapat digambarkan dengan apik dengan drama pemilihan ketua OSIS di masa SMA. Ingat film ini adalah film komedi satir yang overacting, tetapi bukan berarti overacting ini menjadi nilai minus dalam film Teiichi, justru para penonton akan dibuat terpingkal-pingkal dengan ciri khas film ini yang sangat komikal. Film ini diadaptasi oleh sutradara Akira Nagai dari manga terlaris karya Usamaru Furuya berjudul “Teeichi no Kuni”.

Diperankan oleh banyak “ikemen” (pria muda dan tampan) menjadi daya tarik oleh penonton para gadis Jepang dan turut menyukseskan film ini di sana. Tetapi, bukan para “ikemen” tersebut yang bersinar, melainkan para karakter yang dieksekusi sangat baik oleh sutradara dan para pemainnya. Penggambaran para karakter dan juga akting komikal mereka yang membuat para penonton terbahak-bahak. Bahkan tokoh ‘jahat’ dalam film ini tetap masih disukai karena mampu dimainkan sangat lucu dan menghibur.

Adegan favorit: Saat Teiichi dan kawan-kawan menyajikan salah satu lagu tradisional mereka untuk mengumpulkan masa di lapangan sekolah. Sebuah lagu yang indah dan berakhir dengan klimaks.

Rating dari kami: VERY RECOMMENDED.

4. The Crimes That Bind




Film ini adalah salah satu jajaran film dengan tema drama – thriller – kriminalitas yang serius dan membuat orang akan berpikir bahkan ketika kita selesai menontonnya. Seperti halnya ketika kita selesai menonton buah karya film Christopher Nolan, The Crimes That Bind adalah film yang penuh misteri, penuh intrik dan berlapis-lapis. Menonton film ini seperti menemukan sebuah padang ilalang ditengah hutan yang indah yang menantang kita untuk melewatinya dan menebak jalan ceritanya.

Jajaran para pemain The Crimes That Bind adalah para aktor dan aktris top dan banyak meraih penghargaan di Jepang. Katsuo Fukuzawa sudah tidak asing lagi dalam merangkai cerita yang sangat megah adaptasi dari novel karya Keigo Higashino ini. Dia sudah berkali-kali meyutradarai serial drama Jepang dengan genre yang sama. Dan di film ini adalah kerjasama ketiga antara Katsuo Fukuzawa sebagai sutradara dengan Abe Hiroshi sebagai aktor (berperan sebagai dektektif Kaga) dalam film ini. Film ini juga film ke 5 kisah Detektif Kaga dalam laga serial film Kasus Polisi Detektif Kaga.

Adegan favorit: pecahan-pecahan ingatan Detektif Kaga tentang masa lalu ibu-nya yang ternyata berelasi dengan kejahatan yang dia ingin ungkapkan.

Rating dari kami: VERY RECOMMENDED.

5. The 8 Year Engagement




Adalah sebuah film drama romantis yang mengharu biru, penuh ketulusan akan cinta dan pengorbanan yang diambil dari kisah nyata novel autobiografi sepasang suami isteri Hisashi dan Mai Nakahara. Sebuah kisah cinta tanpa putus yang terjalin dari semenjak Hisashi yang lugu, dan pekerja keras bertemu dengan Mai yang selalu mempunyai keinginan kuat untuk mencapai kebahagiannya. Pertemuan tanpa terduga sehingga mereka akhirnya memutuskan untuk menikah. Tetapi beberapa hari sebelum pernikahan Mai terkena musibah yang mengubah cerita cinta mereka dan mempertaruhkan ketulusan cinta Hisashi.

Takeru Satoh lagi-lagi mampu memperlihatkan sisi lugu namun pastinya akan disukai oleh banyak perempuan. Aktingnya untuk bersikap tulus dan ulet dalam menjaga Mai sepanjang 8 tahun perjalanan kisah mereka sungguh membuat orang terkagum-kagum. Begitu juga dengan Tao Tsuchiya yang tau caranya berperan sebagai Mai yang dilanda masalah kesehatan kronis dan menderita karena cinta yang tidak diingatnya. Satoh dan Tsuchiya mempu menampilkan kemistri pasangan yang sangat memorable sepanjang pemutaran film Pekan Sinema Jepang 2018.

Adegan favorit: ketika Mai menerima sebanyak 500-an pesan video dari Hisashi yang menunjukkan ketulusan cintanya yang sangat besar. Bersiap-siaplah untuk membawa tisu untuk adegan ini.

Rating dari kami: RECOMMENDED.

5 FILM LAINNYA YANG TIDAK KALAH MENARIK UNTUK DITONTON


6. Lu Over The Wall


Sebuah film animasi yang sangat colorfull, jalinan cerita yang unik dan sajian musikalitas yang ciamik. Film animasi dengan tema yang berat akan penemuan jati diri dan memenuhi harapan yang ditentukan diri sendiri bukan orang lain.

Rating dari kami: RECOMENDED

7. Yakiniku Dragon 




Sebuah film hasil kolaborasi sineas Jepang dan Korea yang mampu menghasilkan opera sabun yang dramatis mengenai kehidupan keluarga miskin di masa akhir tahun 60an. Film keluarga yang penuh canda tawa tetapi mampu membuat orang menangis akan kisahnya yang lugu dan menyentuh hati.

Rating dari kami: SHOULD WATCH.

8.Shoplifters



Lagi-lagi sebuah film bertemakan keluarga yang telah memenangkan penghargaan utama Festifal film Cannes tahun 2018. Mengenai perjuangan hidup para anggota keluarga yang miskin dengan cara mencuri agar tetap hidup, hingga akhirnya mereka menghadapi musibah yang tak terduga.

Rating dari kami: SHOULD WATCH.



9. Samurai's Promise




Ketika seorang samurai berjanji, maka janjinya itu harus ditepati walaupun nyawa taruhannya. Sebuah kisah indah dengan kecepatan bertutur cerita yang slow burn menjadi sajian utama dalam film Samurai’s Promise. Sebuah film karya Daisaku Kimura yang terkenal dengan tembakan-tembakan kameranya yang indah dan natural. 

Rating dari kami: GOOD MOVIE.

10. The Tokyo Sky Is Always The Densetst Shade Of Blue 



Penggambaran kisah yang depresif tentang sepasang manusia dalam menghadapi kehidupan di Tokyo dengan permainan mempertanyakan cinta. Apa itu cinta? Cinta itu datang saat apa dan bagaimana? Film ini merupakan sebuah kisah yang menarik dari 2 karakter yang sangat bertolak belakang.

Rating dari kami: GOOD MOVIE.

Nah itu adalah 10 film yang sudah kami referensikan dan rangkum dalam Pekan Sinema Jepang 2018. Ada banyak sekali pesan yang didapat dari beragam film yang ditayangkan, terutama Jepang sangat ingin menampilkan sebuah keorisinlitasan cerita dan budaya mereka yang masih terjaga sampai sekarang. Apabila teman-teman tertinggal acara ini, jangan khawatir, One Cut of the Dead masih tayang di bioskop-bioskop kesayangan dan The Man From the Sea (Laut) akan tayang beberapa hari lagi di bioskop Indonesia. Jadi jangan sampai tertinggal film-film Jepang berikutnya di bioskop Indonesia ya.

Pekan Sinema Jepang, “Doumo arigatou gozaimasu!”

Thursday, December 6, 2018

“27 STEPS OF MAY” MENANGKAN GOLDEN HANOMAN AWARD DI JOGJA-NETPAC ASIAN FILM FESTIVAL




Film drama “27 Steps of May” karya sutradara Ravi Bharwani dari Indonesia keluar sebagai pemenang Golden Hanoman award di acara penutupan Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) yang dilaksanakan di Jogja National Museum, hari Selasa (4/12). Golden Hanoman adalah penghargaan yang diberikan oleh dewan juri JAFF terpilih untuk film terbaik dari kategori kompetisi film panjang Asian Feature. Drama yang dibintangi oleh Raihaanun, Lukman Sardi dan Verdi Solaiman ini bercerita tentang trauma seorang perempuan yang diperkosa ramai-ramai ketika masih menjadi siswi sekolah menengah. Ini adalah film terbaru Ravi setelah membuat “Jermal” sepuluh tahun lalu. 


peringkat kedua dalam kategori Asian Feature diraih oleh “Nervous Translation” karya sutradara Shireen Seno dari Filipina. Film yang bercerita tentang kondisi Filipina pasca kediktatoran di tahun 1988 ini dianugerahi Silver Hanoman award. Film ini adalah satu dari 15 proyek inagurasi Biennale College Cinema di Venice International Film Festival 2013. Film dokumenter karya Yuda Kurniawan yang berjudul “The Song of Grassroots” memenangkan NETPAC award, sebuah penghargaan untuk sutradara Asia yang dinilai berhasil memberi kontribusi sinematik untuk gerakan sinema baru Asia. Film ini bercerita tentang Fajar Merah, putra bungsu penyair Wiji Thukul yang hilang setelah kerusuhan 1998. Fajar yang awalnya enggan dihubung-hubungkan dengan sosok ayah yang tidak pernah ia ingat, kini melanjutkan perjuangan ayahnya dengan melakukan musikalisasi puisi-puisi Wiji Thukul dengan kelompok musiknya, Merah Bercerita. 


JAFF juga memiliki Geber award, yakni penghargaan yang diberikan doleh komunitas film dari berbagai kota di Indonesia untuk film Asia terpilih. Tahun ini, Geber award jatuh ke film “Passage of Life” karya Akio Fujimoto yang merupakan produksi Jepang dan Myanmar. Film ini bercerita tentang sebuah keluarga beranggotakan empat orang Burma yang tinggal di Jepang. Cerita ini ditulis berdasarkan kisah nyata mengenai cinta yang melintasi perbatasan. 


Film pendek terbaik di kategori Light of Asia diberikan kepada “Facing Death with Wirecutter” karya Sarwar Abdullah dari Irak. Film berdurasi 36 menit ini bercerita tentang tim teknisi militer dari pasukan Kurdistan Peshmerga yang mempertaruhkan nyawa untuk melaksanakan tugas mereka sebagai penjinak bom dan ranjau yang ditanamkan oleh ISIS. 


JAFF Indonesian Screen Awards terdiri dari empat penghargaan, yakni Skenario Terbaik, Sinematografi Terbaik, Penampilan Terbaik, Sutradara Terbaik dan Film Terbaik. Tahun ini, Skenario Terbaik jatuh kepada “Love for Sale” karya Andibachtiar Yusuf. Sinematografi Terbaik dimenangkan oleh Amalia T.S. untuk “Aruna dan Lidahnya.” Reza Rahadian yang berperan di dalam film terbaru Djenar Maesa Ayu dan Kan Lume, “If This is My Story,” memenangkan Penampilan Terbaik. Hanung Bramantyo dianugerahi Sutradara Terbaik untuk karyanya di film “Sultan Agung: Tahta, Perjuangan dan Cinta.” Sementara itu, Film Terbaik jatuh kepada “Petualangan Menangkap Petir” karya Kuntz Agus yang bercerita tentang sekelompok anak kecil yang berusaha membuat sebuah film.


Film pendek terbaik yang dipilih oleh murid sekolah film di Yogyakarta jatuh kepada “Grandma's Home” karya Nguyen Hoang Bao Anh dari Vietnam. Film berdurasi 32 menit ini diberi penghargaan Jogja Film Student award. Malam penghargaan JAFF ditutup dengan penayangan film “Thundenek (Her.Him.The Other)” karya Prasanna Vithanage, Vimukthi Jayasundara dan Asoka Handagama dari Sri Lanka. Film ini bercerita tentang seorang videograger mantan militan Liberation Tigers of Tamil Eelam (LTTE) dalam perjalanannya ke Selatan untuk mencari seorang perempuan dan juga ujian terkait kepercayaan yang ia anut. 



JAFF ke-13 berlangsung selama delapan hari dan berhasil menayangkan 148 film dari berbagai negara di Asia. Festival yang berlangsung di Jogja National Museum, Empire XXI dan Cinemaxx ini mengusung tema “Disruption” dengan harapan dapat membawa para penontonnya kepada sejumlah perspektif baru dan segar terkait identitas orang Asia. JAFF mengucapkan terima kasih kepada sejumlah pihak yang telah mendukung dilaksanakannya festival tahun ini. Sampai jumpa di JAFF ke-14 di tahun 2019!

Tuesday, December 4, 2018

OMNIBUS PERJALANAN LINTAS BATAS NEGARA DALAM 'ASIAN THREE FOLD MIRROR'





Tiga sutradara Asia membawa penonton Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) ke-13 ke dalam sebuah perjalanan lintas budaya melalui film pendek mereka yang tergabung dalam omnibus “Asian Three-Fold Mirror 2018” yang tayang di Empire XXI Yogyakarta di hari Senin siang (03/12). Omnibus berdurasi 83 menit dari eksekutif produser Satoru Iseki ini .merupakan proyek bersama Japan Foundation Asia Center dan Tokyo International Film Festival. Edisi tahun ini yang bertemakan Journey atau Perjalanan menjadi kali kedua omnibus tersebut diproduksi.



Perjalanan dalam omnibus ini tidak selalu bermakna perjalanan fisik, namun juga penggambaran bagaimana karakter manusia merespon perubahan. Perubahan, atau Disruption, adalah tema besar yang diusung JAFF tahun ini. Karena itu, perpaduan dari kedua tema besar tersebut membuat omnibus ini menarik untuk disimak. Sebanyak 151 orang memadati Studio 4 di Empire XXI pada pemutaran internasional perdana dari omnibus tersebut.


Rangkaian omnibus ini dimulai dengan “The Sea” karya sutradara dari China, Degena Yun yang bercerita tentang perjalanan seorang ibu dan putrinya menuju pesisir pantai di timur dari Beijing. Percakapan yang terjadi selama perjalanan terus mengalir hingga akhirnya menyentuh topik mengenai si ayah dan kerabat lainnya yang baru saja meninggal. Kesedihan ini kemudian menyebabkan kemarahan yang menggebu-gebu. 


Film kedua adalah “Hekishu” karya sutradara asal Jepang, Daishi Matsunaga, yang bercerita soal seorang lelaki Jepang bernama Suzuki yang bermukim sementara di tengah Yangon, Myanmar. Sebagai karyawan untuk sebuah perusahaan kereta api, ia menjadi simbol perubahan yang cepat dan dinamis. Sementara itu, Su Su, gadis yang tak sengaja Suzuki temui di pasar dan kemudian menarik perhatiannya, adalah penggambaran Yangon, atau daerah manapun yang sesungguhnya tidak perlu berubah terlalu cepat. Melalui pertemuan tersebut, Suzuki pun kembali mempertanyakan tujuan hidupnya. 


Omnibus ini ditutup dengan “Variable No. 3” dari Edwin yang berasal dari Indonesia. Sutradara yang telah melahirkan berbagai karya seperti “Blind Pig Who Wants to Fly,” “Postcard from the Zoo,” “Posesif” dan “Aruna dan Lidahnya” kerap bermain dengan cara bertutur yang unik. Film pendek ini bercerita tentang pasangan suami istri Edi dan Sekar, diperankan oleh Oka Antara dan Agni Pratistha, yang tengah berlibur ke Jepang. Di sana, mereka tinggal di sebuah penginapan milik Kenji, seorang keturunan Indonesia dan Jepang yang juga seorang peneliti soal hubungan pernikahan kontemporer. Mengetahui tamunya adalah pasangan suami istri yang tengah menghadapi masalah keintiman, Kenji pun berbagi hasil penelitiannya dengan Edi dan Sekar. Kenji kemudian hadir dengan sebuah solusi yang cukup kontroversial untuk sebuah hubungan pernikahan.



Bagi Edwin, “Variable No 3” adalah sebuah eksplorasi terhadap keintiman dan zona tidak nyaman yang cukup jarang ditemui di sinema Indonesia. Edwin bercerita bahwa proses pembuatan film ini pertama kali dilakukan melalui rapat via Skype. Ia membahas tema Perjalanan dengan dua sutradara lainnya melalui Skype. Setelah itu, mereka lanjut untuk menulis skrip masing-masing. "Saya rasa bekerja dengan kru yang berbeda masalahnya ada di komunikasi. Ini menjadi lebih kompleks karena keterbatasan bahasa. Saya pribadi ada semacam pengalaman syuting yang cukup repot di Tokyo ketika ada adegan intim dan privasi. Di Jepang, perizinan syuting sangat susah dan harus detail," cerita Edwin. 


Sineas Mai Sai yang mewakili sutradara Degena Yu mengatakan bahwa pertamakali bertemu dengan semua crew, ikut project ini, dan bekerja dengan Tokyo International Film Festival menambah pengalaman baru. "Project ini menambah pengalaman dari berbagai negara yang berbeda cerita, dan berbeda budaya," ungkap Mai Sai. Setelah penayangan di Yogyakarta, film ini kemungkinan akan rilis di tahun 2019 untuk penonton di Indonesia. Selain itu, ada juga rencana untuk membaca film ini ke China dan Myanmar, tempat di mana dua cerita di dalam omnibus ini berasal.

Monday, December 3, 2018

4 NOMINASI FILM TERBAIK FFI 2018 DIPUTAR ULANG DI BIOSKOP SECARA GRATIS




Menjelang malam anugerah Piala Citra 2018 yang akan digelar pada 9 Desember, empat film yang masuk daftar nominasi Film Panjang Terbaik akan diputar secara khusus. Pemutaran akan digelar di Senayan City XXI selama dua hari pada 4 dan 5 Desember 2018. Jadwal pemutaran film adalah 4 Desember, ‘Sekala Niskala’ pada jam 7 malam dan ‘Aruna dan Lidahnya’ pada jam 9 malam. Sedangkan 5 Desember, ‘Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak’ pada jam 7 malam dan ‘SULTAN AGUNG: Tahta, Perjuangan dan Cinta’ pada jam 9 malam. Semua film akan diputar di Teater 3 Senayan City XXI. Pemutaran film terbuka untuk publik dan bisa ditonton secara gratis. Pendaftaran dibuka 30 menit sebelum jam pemutaran. Tempat terbatas.


‘Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak’ mendapatkan 15 nominasi di 14 kategori yaitu Film Terbaik, Sutradara Terbaik untuk Mouly Surya, Penulis Skenario Asli Terbaik untuk Mouly Surya & Rama Adi, Pemeran Utama Wanita Terbaik untuk Marsha Timothy, Pemeran Pendukung Wanita Terbaik untuk Dea Panendra, Pemeran Pendukung Pria Terbaik untuk Egi Fedly dan Yoga Pratama, Pengarah Sinematografi Terbaik untuk Yunus Pasolang, Pengarah Artistik Terbaik untuk Frans XR. Paat, Penata Suara Terbaik untuk Khikmawan Santosa & Yusuf A. Patawari, Penyunting Gambar Terbaik untuk Kalvin Nugroho, Penata Efek Visual Terbaik untuk Denny S. Kim & Teguh Raharjo, Penata Musik Terbaik untuk Zeke Khaseli & Yudhi Arfani, Penata Rias Terbaik untuk Didin Syamsudin, Penata Suara Terbaik untuk Meutia Pudjowarsito.


‘Aruna dan Lidahnya’ mendapatkan 9 nominasi di 9 kategori yaitu Film Terbaik, Sutradara Terbaik untuk Edwin, Penulis Skenario Terbaik untuk Titien Wattimena, Pemeran Utama Wanita Terbaik untuk Dian Sastrowardoyo, Pemeran Utama Pria Terbaik untuk Oka Antara, Pemeran Pendukung Wanita Terbaik untuk Hannah Al Rashid, Pemeran Pendukung Pria Terbaik untuk Nicholas Saputra, Penyunting Gambar Terbaik untuk W. Ichwandiardono, Penata Musik Terbaik untuk Ken Jenie & Mar Galo. 


‘Sekala Niskala’ mendapatkan 9 nominasi di 8 kategori yaitu Film Terbaik, Sutradara Terbaik untuk Kamila Andini, Penata Sinematografi Terbaik untuk Anggi Frisca, Penulis Skenario Asli Terbaik untuk Kamila Andini, Penyunting Gambar Terbaik untuk Dinda Amanda & Dwi Agus Purwanto, Penata Suara Terbaik untuk Trisno, Hadrianus Eko & Yasuhiro Morinaga, Pemeran Anak Terbaik untuk Ni Kadek Thaly Titi Kasih dan Ida Bagus Putu Raditya Mahijasena, Pemeran Pendukung Wanita Terbaik untuk Ayu Laksmi.


‘SULTAN AGUNG: Tahta, Perjuangan dan Cinta’ mendapatkan 6 nominasi di 6 kategori yaitu Film Terbaik, Pemeran Utama Pria Terbaik untuk Ario Bayu, Pemeran Pendukung Pria Terbaik untuk Marthinus Lio, Penata Rias Terbaik untuk Darto Unge, Penata Suara Terbaik untuk Satrio Budiono & Krisna Purna, Penata Efek Visual Terbaik untuk x.Jo & Herry Kuntoro. 


Piala Citra 2018 digelar di Teater Besar Taman Ismail Marzuki pada 9 Desember dan ditayangkan secara langsung oleh Metro TV.

Friday, November 30, 2018

PENGUMUMAN KATEGORI-KATEGORI FILM YANG AKAN TAYANG DAN PROGRAM DI PEKAN SINEMA JEPANG 2018





Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, Pekan Sinema Jepang 2018 merupakan rangkaian perayaan 60 tahun hubungan diplomatik Jepang-Indonesia. Seiring dengan hal tersebut, penyelenggaraan Pekan Sinema Jepang 2018 diharapkan bisa meningkatkan pemahaman masyarakat Indonesia terhadap kebudayaan Jepang, memperbesar peluang diputarnya film-film Jepang di Indonesia, dan berkontribusi terhadap perkembangan cultural tourism di Jepang.



Total ada 36 film yang siap ditampilkan di Pekan Sinema Jepang 2018. Film-film tersebut terbagi menjadi enam kategori: New J-Director, New J-Film, “Samurai” Historical, “Kira-Kira” Teen, “Tokusatsu” Special Effect & Documentary. Beberapa judul yang akan ditayangkan antara lain: One Cut of the Dead, Pieta in the Toilet, Miss Hokusai, Let Me Eat Your Pancreas, GAMERA: The Guardian of the Universe, dan GODZILLA (1954). Seluruh film tersebut merupakan hasil kurasi yang dilakukan oleh tim dari Agency of Cultural Affairs, VIPO, dan Japan International Foundation.



Dalam acara press conference Pekan Sinema Jepang 2018, diperkenalkan perwakilan-perwakilan yang akan mengiringi festival film ini, seperti  Ms. Katsura Toda - Senior Specialist for The Arts (Japan Government), Mr. Norihisa Tsukamoto - Director General (Japan Foundation), Mr. Kenichi Takeyama - Counselor (Embassy of Japan - Indonesia), Hiroaki Kato (Festival Host & Guest) dan terkahir aktris Velove Vexia dipilih sebagai #PSJ2018 Festival Ambassador.


Tidak hanya menayangkan banyak film, pihak penyelenggara juga menyiapkan berbagai kegiatan menarik lainnya untuk publik dan filmmakers selama Pekan Sinema Jepang 2018 berlangsung. Kegiatan-kegiatan tersebut antara lain adalah workshop mengenai special effect (Tokusatsu), diskusi dengan produser dan aktor dari Jepang, serta simposium oleh filmmakers dari kedua negara. Kegiatan-kegiatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kualitas industri film di Indonesia dan Jepang.



Informasi lebih lanjut terkait Pekan Sinema Jepang 2018 akan disampaikan dalam konferensi pers yang akan diselenggarakan di CGV Grand Indonesia, Jakarta, pada 27 November 2018. Ada pun hal-hal yang akan diumumkan antara lain line-up lengkap Pekan Sinema Jepang 2018, kegiatan workshop, daftar bintang tamu dari Jepang, dan sosok yang dipilih sebagai event ambassador.

Berikut daftar kategori film-film yang akan tayang di Pekan Sinema Jepang 2018:


3 Film Unggulan Pekan Sinema Jepang 2018:
The Man From The Sea
One Cut of the Dead
The Tokyo Night Sky Is Always the Densest Shade of Blue

Movie Festival Line Up

Kategori : New J-Director
Kategori : New J-Film
Kategori : "Samurai" Historical
Kategori : "Kira-Kira" Teen
Kategori : "Tokusatsu" Special Effects
Kategori : Documentary

Informasi mengenai penyelenggaraan #PSJ2018 dapat diakses di Official Website Pekan Sinema Jepang 2018 https://www.jcinema2018.id/

Monday, November 26, 2018

JADWAL PROGRAM DAN PEMUTARAN FILM JOGJA-NETPAC ASIAN FILM FESTIVAL 2018

Kurang dari 24 jam lagi penyelenggraan tahun ke-13 Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF) digelar. Selain 138 film yang akan diputar ataupun yang ikut berkompetisi di JAFF 2018 ini, akan banyak program-program festival yang bisa diikuti oleh penonton. Program-program yang diisi oleh narasumber-narasumber yang sudah mempunyai nama di bidangnya masing-masing yang bisa teman-teman Gila Film ikuti. Berikut jadwal lengkap JAFF 2018: