Saturday, April 18, 2026

IMAJINARI UMUMKAN FILM MUSIKAL BATAK PULANG KAMPUNG



Rumah produksi Imajinari secara resmi mengumumkan film layar lebar terbarunya berjudul PULANG KAMPUNG, sebuah film musikal Batak yang sebelumnya telah diperkenalkan di JAFF Market 2025. Film ini disutradarai oleh bersama ko-sutradara , serta kembali menggandeng musisi sebagai penata musik. Produser menyebut proyek ini sebagai langkah eksplorasi Imajinari ke genre musikal yang dinilai memiliki potensi besar di industri film Indonesia.


Film PULANG KAMPUNG mengisahkan Daniel, pemuda Batak kelahiran Jakarta yang dipaksa orang tuanya mencalonkan diri sebagai caleg di kampung halaman ayahnya. Saat pulang ke tanah Batak, ia bertemu Uli, gadis lokal yang memperkenalkannya pada budaya Batak dan membuatnya jatuh cinta. Peran Daniel dan Uli akan dimainkan oleh dan , dua jebolan Indonesian Idol musim ke-13, yang menjadikan film ini sebagai debut akting layar lebar bagi keduanya.


Selain dua pemeran utama, penyanyi juga diumumkan bergabung dalam jajaran pemain. Bene memilih Axelo dan Vanessa karena dinilai memiliki kemampuan menyanyi lagu-lagu Batak yang baik sekaligus menunjukkan potensi kuat dalam akting. Proses produksi diawali dengan reading, latihan koreografi, serta rekaman lagu sebagai bagian penting dalam pembangunan unsur musikal film ini.


Film ini dijadwalkan mulai syuting pada 23 April 2026 selama 26 hari di wilayah Sumatera Utara, khususnya sekitar dan , serta di Jakarta. Bene menyebut proyek ini memiliki tantangan lebih besar dibanding film-film sebelumnya karena membutuhkan waktu persiapan hingga enam bulan, termasuk melibatkan tim khusus seperti pelatih vokal, koreografer tari, dan komposer lagu.


Sejumlah lagu tradisional Batak akan diaransemen ulang oleh Viky Sianipar dengan memadukan unsur tradisional dan modern agar terasa segar bagi penonton masa kini. Film ini diproyeksikan menjadi film musikal Batak pertama di Indonesia sekaligus wadah untuk memperkenalkan budaya Batak dan membuka peluang bagi talenta baru dari daerah tersebut. Film PULANG KAMPUNG diproduseri oleh Ernest Prakasa dan Dipa Andika, serta menjadi salah satu proyek ambisius Imajinari dalam memperluas ragam genre film Indonesia.

Wednesday, February 11, 2026

DRAMA KELUARGA DAN KONFLIK GENGSTER DALAM JANGAN SEPERTI BAPAK



Film “Jangan Seperti Bapak” merupakan drama action terbaru produksi Amazing Grace Production bersama Jayashree Movie Production dan EM Pictures, disutradarai Daniel Tito Pakpahan. Film berdurasi 100 menit ini dijadwalkan tayang di bioskop mulai 12 Februari 2026, menghadirkan kombinasi aksi intens dan drama emosional bertema keluarga. Ceritanya dirancang penuh ketegangan sekaligus menyentuh, dengan plot twist yang sulit ditebak hingga akhir.

Kisahnya berpusat pada Angel, seorang perempuan muda yang hidupnya berubah drastis setelah ayahnya tewas dibunuh secara tragis tepat di hari ulang tahunnya yang ke-20. Rasa kehilangan mendorong Angel mencari kebenaran di balik kematian tersebut. Namun pencariannya justru menyeretnya ke konflik berbahaya antara dua organisasi besar yang dipenuhi intrik, perebutan kekuasaan, dan pengkhianatan.

Sutradara Daniel Tito Pakpahan menegaskan bahwa film ini bukan sekadar tontonan action, melainkan juga cerita tentang keluarga, luka yang diwariskan, serta pilihan hidup yang menentukan masa depan. Ia ingin penonton merasakan ketegangan aksi sekaligus membawa pulang emosi mendalam setelah menyaksikan perjalanan karakter dan konflik yang dihadapi.

Film ini dibintangi Zee Asadel, Verdi Solaiman, Donny Damara, Aulia Sarah, Zack Lee, Irwan Chandra, Hendric Shinigami, Max Metino, Damara Finch, Marsyel Ririhena, Mongol Stres, Milen Cyrus, serta penampilan spesial Coach Justin yang debut di layar lebar. Selain menyoroti hubungan keluarga, film ini juga mengangkat isu sosial seperti judi online dan premanisme, didukung production value visual yang kuat. Diproduseri Nico Rosto bersama para eksekutif produser, film ini diharapkan menjadi tontonan emosional menjelang Valentine dan Imlek.

Thursday, January 29, 2026

SUNDA EMPEROR: KISAH KETURUNAN RAJA SUNDA DIBALUT KOMEDI DAN PETUALANGAN


Sunda Emperor adalah film panjang pertama dari rumah produksi Sapawave Films yang dijadwalkan tayang di bioskop pada 2026. Film ini mengangkat premis unik tentang seorang pemuda Sunda oportunis yang mendapati dirinya merupakan keturunan Raja Sunda. Dari gagasan tersebut, Sunda Emperor menawarkan kisah petualangan yang berakar pada sejarah dan budaya lokal, namun dikemas untuk penonton masa kini.

Diproduseri, disutradarai, sekaligus ditulis oleh Angling Sagaran, film ini memadukan unsur drama, komedi, dan petualangan dalam balutan budaya Sunda yang autentik. Ceritanya berfokus pada tiga sahabat yang melakukan perjalanan pencarian jati diri dan sejarah, dipicu oleh sebuah koin peninggalan Kerajaan Sunda. Narasi disajikan secara ringan, tetapi sarat makna tentang identitas, persahabatan, dan relevansi nilai budaya di masa sekarang.

Sebagai film yang sepenuhnya menggunakan bahasa Sunda, Sunda Emperor juga melibatkan sejumlah kreator Sunda yang diperkenalkan melalui video first look dan cast reveal. Strategi ini ditujukan untuk membangun kedekatan dengan audiens, khususnya generasi muda, sekaligus memperluas jangkauan promosi di ranah digital. Angling Sagaran menegaskan bahwa film ini ingin membuktikan cerita daerah mampu tampil modern di layar lebar tanpa kehilangan akar budayanya.

Film ini dibintangi oleh Laura Moane, Bilal Fadh, Maghara Adipura, Vansa Be, Itings Meledax, dan Yujeng Hensem, dengan latar visual panorama alam Sukabumi yang sinematik. Dukungan visual dan performa para pemain diharapkan memberi pengalaman menonton yang kuat dan menghibur. Melalui Sunda Emperor, Sapawave Films menegaskan komitmennya menghadirkan film berbahasa daerah yang relevan, kompetitif secara nasional, sekaligus menjadi apresiasi terhadap kekayaan cerita lokal Indonesia.

SURAT UNTUK MASA MUDAKU: KISAH PERSAHABATAN, TRAUMA, DAN HARAPAN DI FILM TERBARU NETFLIX


Netflix menggelar konferensi pers dan special screening film orisinal Indonesia terbarunya, Surat untuk Masa Mudaku, di Jakarta pada 28 Januari 2026. Film ini menjadi kolaborasi perdana Netflix dengan sutradara Sim F. dan rumah produksi Buddy Buddy Pictures. Dijadwalkan tayang mulai 29 Januari 2026, film ini dibintangi Theo Camillo Taslim, Fendy Chow, Agus Wibowo, Aqila Herby, Cleo Hanura Nazhifa, dan Halim Latuconsina.

Surat untuk Masa Mudaku mengisahkan persahabatan tak terduga antara seorang remaja pemberontak dan pengurus panti asuhan lansia, saat keduanya berusaha berdamai dengan luka masa lalu. Dalam konferensi pers, Sim F. menjelaskan bahwa ceritanya terinspirasi dari kehidupan nyata di panti asuhan, terutama tentang perjuangan, rasa kehilangan, dan harapan anak-anak di sana. Meski terinspirasi pengalaman pribadi, Sim menegaskan film ini bukan biopik, melainkan hasil peramuannya bersama penulis Daud Sumolang dengan tema besar kehilangan yang dialami lintas usia.

Para pemeran berbagi proses pendalaman karakter yang intens. Theo Camillo Taslim menggambarkan Kefas remaja sebagai sosok keras kepala yang menyimpan kekecewaan mendalam, sementara Fendy Chow sebagai Kefas dewasa menyoroti bagaimana trauma masa kecil tetap membekas hingga berkeluarga. Keduanya berusaha menyelaraskan gestur dan logat agar transisi karakter terasa organik. Agus Wibowo, yang memerankan Pak Simon, melihat kemiripan pahit antara karakternya dan Kefas, sosok yang telah kehilangan kepercayaan pada kehidupan akibat masa lalu yang keras.

Produser Wilza Lubis mengungkap tantangan produksi, terutama dalam riset periode masa lalu dan pencarian pemeran yang tepat, termasuk proses casting berulang untuk peran-peran kunci. Ia juga menekankan pentingnya menciptakan suasana syuting yang aman dan nyaman bagi pemeran anak-anak, lengkap dengan fasilitas pendidikan di lokasi. Film ini diharapkan menyuguhkan kisah emosional tentang persahabatan, trauma, dan harapan, dan dapat disaksikan mulai 29 Januari 2026, eksklusif di Netflix.

Thursday, January 15, 2026

ANGGA YUNANDA JAJAL GENRE HOROR-KOMEDI LEWAT SEBELUM DIJEMPUT NENEK

Menjelang penayangan di bioskop Indonesia pada 22 Januari 2026, Sebelum Dijemput Nenek mencuri perhatian publik. Diproduksi oleh Rapi Films dan disutradarai oleh Fajar Martha Santosa, film horor-komedi ini memadukan teror berbasis mitos lokal dengan komedi karakter yang dekat dengan keseharian, menghadirkan pengalaman menonton yang tegang sekaligus menghibur.

Antusiasme meningkat sejak trailer resmi dirilis dan dibanjiri komentar positif di media sosial. Banyak warganet menilai film ini lucu dan seru, bahkan membandingkan vibe horor-komedinya dengan film-film Thailand. Sorotan utama tertuju pada duet Angga Yunanda dan Dodit Mulyanto sebagai saudara kembar Hestu dan Akbar, yang memicu perbincangan soal kemiripan hingga julukan-julukan unik dari warganet.

Perbedaan karakter keduanya menjadi sumber dinamika utama cerita: Hestu yang dingin dan menyimpan amarah berhadapan dengan Akbar yang lugu, polos, dan sangat dekat dengan Nenek. Angga mengaku antusias menjajal genre horor-komedi untuk pertama kalinya, sementara Dodit menekankan bahwa humor muncul alami dari benturan karakter, bukan dari lelucon yang dipaksakan.

Sang sutradara menegaskan keseimbangan horor dan komedi sebagai pendekatan utama, didukung jajaran pemain pendukung serta cameo yang dipilih selektif agar menyatu dengan narasi. Produser Sunil Samtani menyebut film ini sebagai wujud komitmen Rapi Films mengembangkan horor-komedi berakar budaya lokal sekaligus debut penyutradaraan Fajar. Dengan respons positif sejak trailer dan kejutan yang disiapkan, Sebelum Dijemput Nenek siap menjadi tontonan horor-komedi yang paling dinantikan di awal 2026.

Friday, January 9, 2026

ALGOJO: AKSI, MORAL ABU-ABU, DAN WAJAH JAKARTA AKAR RUMPUT


Vidio membuka tahun 2026 dengan Algojo, Original Series bergenre action-comedy yang memadukan aksi intens, drama emosional, dan humor khas kehidupan marjinal Jakarta. Disutradarai Rahabi Mandra dan diproduksi Screenplay Films, serial delapan episode ini menjadi salah satu produksi action terbesar Vidio sekaligus debut Arya Saloka dalam action series, menghadirkan dunia jalanan Jakarta sebagai arena pertarungan nasib, moral, dan kemanusiaan.

Cerita berfokus pada Zar, seorang anjelo yang hidup sederhana hingga sebuah insiden membuat ayahnya menjadi target organisasi gelap setelah tanpa sengaja menyaksikan pembunuhan seorang podcaster. Dalam usahanya mencari jalan keluar, Zar justru terjebak semakin dalam ke dunia kriminal dan harus berhadapan dengan Frengky, algojo dingin dan taktis, serta Sadino, pemimpin organisasi yang menekan dari balik layar.

Ide cerita Algojo lahir dari riset langsung para penulis ke kawasan “underground” Jakarta, menggali sisi unik dan tabu yang jarang disorot. Riset tersebut menegaskan bahwa para tokohnya bukan sekadar hitam-putih, melainkan manusia biasa dengan pilihan hidup yang dibentuk oleh tekanan keadaan. Pendekatan ini kemudian diramu Rahabi dengan struktur cerita yang seimbang antara drama kuat, komedi organik, dan aksi yang menyatu dengan narasi.

Di balik ketegangan, serial ini menampilkan dinamika persahabatan Zar dan Panjul yang menghadirkan humor sekaligus luka emosional. Jakarta Utara diposisikan sebagai karakter hidup—keras, tanpa kompromi, namun tetap hangat. Dengan tema moral abu-abu, loyalitas, dan pilihan sulit, Algojo terus membalikkan ekspektasi penonton hingga episode terakhir, mengajak mereka bertanya: apakah mungkin tetap menjadi orang baik di dunia yang serba abu-abu?

Monday, January 5, 2026

JEJAK MISTIS ALAS ROBAN, DARI BISIKAN PELINTAS HINGGA LAYAR LEBAR


Alas Roban mengangkat Alas Roban di Batang, Jawa Tengah, sebagai ruang penuh cerita dan ingatan kolektif, bukan sekadar jalur penghubung. Kawasan ini lama dikenal lewat kisah turun-temurun para sopir dan pelintas tentang hutan rapat, kabut mendadak, serta rasa tidak nyaman yang kerap muncul tanpa penjelasan logis, hingga melahirkan urban legend yang terus hidup.

Mitos Alas Roban tumbuh bukan karena semua orang mengalami hal yang sama, melainkan karena banyak orang pulang dengan perasaan serupa. Bagi sebagian pelintas, tempat ini identik dengan “aturan tak tertulis” yang dipercaya harus dihormati, menjadikan perjalanan malam sebagai pengalaman mental yang penuh kewaspadaan.

Sutradara Hadrah Daeng Ratu menilai Alas Roban memiliki latar yang kuat karena sejarah dan misterinya yang panjang, serta reputasinya sebagai salah satu jalur paling angker di Jawa. Film ini merangkum berbagai larangan mistis yang sering dibicarakan masyarakat, seperti menghindari melintas tengah malam, tidak singgah di warung pinggir jalan, hingga tidak menanggapi suara misterius atau bayangan di pepohonan.

Ketegangan cerita dipertegas melalui karakter Tika yang diperankan Taskya Namya, terutama saat ia menyadari perubahan janggal pada sosok Gendis. Digarap oleh kolaborasi Unlimited Production, Narasi Semesta, dan Legacy Pictures, film ini dijadwalkan tayang 15 Januari 2026 dengan deretan pemain seperti Michelle Ziudith, Rio Dewanto, Imelda Therinne, dan Fara Shakila.