Friday, March 30, 2018

ULASAN: BLUEBELL



Panorama Pulau Dewata takkan pernah habis menjadi bahan cerita. Latar lautnya yang senantiasa indah, rayuan nyiur di tengah terik mentari, atau gadis-gadis sembahyang berparas cantik, menjadi kekayaan lokal yang dapat dibagi senantiasa bersama para penikmat cerita sinematik.

Adalah Bluebell, salah satu karya lokal yang menghadirkan kearifan lokal Pulau Bali dalam bingkai romantisme anak muda.

Film ini merupakan produksi Ratson Pictures, dan bersama Triple A Film menggandeng Muhammad Yusuf demi menggarap Bluebell,di bangku sutradara.

Selaku pemeran karakter Bluebell, paras Regina Rengganis tampak cantik, unik, dan kokoh; menunjukkan karakter perempuan yang kuat menghadapi ujian hidup. Berpasangan dengan Qausar Harta Yudana (Mario), yang berparas tampan dan melankolis di balik warna kulitnya yang sawo matang, kisah simenatik ini tampak sebagai kisah cinta beda ras. Tetapi, tidak demikian.

Bluebell adalah kisah cinta remaja yang dipertemukan dalam alunan musik dan keindahan pantai kala sore hari.

Pada hari dipertemukannya Bluebell dan Mario, suasana bergerak lamat-lamat. Cinta tumbuh melalui desiran angin, dan petikan gitar yang menghipnotis telinga. Namun, Mario bukanlah tipikal lelaki blak-blakan. Ia pun meminta bantuan sahabat gadis itu yang duduk di seberang meja, Indra (Ncess Nabati). Sayangnya, pendekatan kuno milik Mario direspon negatif oleh Bluebell. Bagi gadis itu, membayar makanan Indra demi berkenalan dengan dirinya adalah tipikal lelaki pengecut.

Beruntung, Mario cepat belajar untuk menentukan sikap. Emosi sesaat Bluebell pun berubah menjadi rasa bersalah dan berkembang menjadi simpati. Hanya saja, ada rahasia yang disimpan Mario yang tak diketahui Bluebell. Rahasia ini nantinya akan mempengaruhi perkenalan serta kisah cinta mereka kelak.

Mario, sebagai pemeran utama pria di film ini bisa saja memiliki rahasia yang tidak bisa sembarangan orang ketahui. Tetapi saya dapat katakan di sini, bahwa kekuatan film ini terletak pada pengambilan gambarnya yang berhasil memanjakan mata saya. Itulah rahasia yang ingin saya sebarkan ke seluruh Indonesia.

Melalui Bluebell, saya tak habis-habisnya mencintai Indonesia, dan Bali, khususnya. Kemampuan teknis kameranya mampu mengeksplor modernisasi bersama kearifan lokal di Bali. Contoh yang paling menarik adalah meluncurnya motor skuter di atas jalanan pasir, dan meluncurnya papan selancar Bluebell di atas ombak pantai.

Padahal, Muhammad Yusuf adalah spesialis film-film horor. Sebut saja beberapa karya yang berjudul Tebus, Angker, Kemasukan Setan, Misterius, The Witness, dan The Curse.

Melalui obsesinya menggarap film bernuansa romantis Bluebell, tampak ia tertantang mengembangkan kemampuan sinematiknya ke tahap berikut. Hal tersebut tampak pada pengakuannya bersama kru Times Indonesia, “Begitu juga cinta yang ada di film ini, terselamatkan di saat-saat terakhir dalam menentukan pilihan cinta, dan orang jatuh cinta diidentikkan dengan warna biru, jadilah Bluebell. Bahwa kemudian saya juga tahu bahwa Bluebell itu nama bunga abadi yang memberi warna di musim semi merupakan metafora yang ingin dihadirkan di film ini, semoga penonton nantinya menerima dengan baik.”

Film bertitel 13+ (berarti dapat dinikmati oleh penonton berusia tiga belas tahun ke atas) ini dimeriahkan pula oleh Rafael Tan, Gibran Marten, Steffi Zamora, Roy Marten, dan lain sebagainya.

(By Sandzarjak, Ikhsan)

DO(S)A, MINI-SERIAL KOLABORASI IFA ISFANSYAH DAN SALMAN ARISTO




Berpisah dari XL, layanan tv streaming Tribe mendapat gandengan baru, yaitu dengan Telkomsel. Tanggal 28 Maret 2018 secara resmi kerjasama mereka berdua diumumkan kepada media. Salah satu bentuk peresmian kerjasama ini adalah di-launchingnya mini seri 'Do(s)a' yang. Kerjasama kedua Ifa Isfansyah dan Salman Aristo sebagai sutradara dan penulis skenario setelah Sang Penari (2011).



Kembali ke Miniseri “DO(S)A”, serial yang terdiri dari delapan episode ini melibatkan sineas-sineas papan atas tiga negara, Dari Indonesia ada Ifa Isfansyah sebagai sutradara, Salman Aristo sebagai penulis naskah, dan para aktor/aktris, seperti Hannah Al Rashid, Reuben Elishama, Maudy Koesnaedy dan Roy Marten. Dari Malaysia ada Ashraf Sinclair, Remy Ishak, dan Daniella Sya, serta Shenty Feliziana dan Hisyam Hamid dari Singapura.


DO[S}A yang mengambil lokasi syuting di Jakarta dan Kuala Lumpur ini menghabiskan 58 hari untuk proses syuting. Dengan mengambil cerita bertemakan drama action keluarga, DO[S]A berfokus pada kisah sebuah keluarga yang secara tidak sadar memiliki hubungan dengan sebuah geng kriminal dari Indonesia.



Untuk menyaksikan tayangan eksklusif ini, pelanggan Telkomsel hanya perlu mengunduh aplikasi Tribe dengan terlebih dahulu mengaktifkan paket data bulanan melalui menu akses *363# atau aplikasi My Telkomsel dari smartphone. Kenyamanan pelanggan dalam menyaksikan konten video dan film di aplikasi Tribe didukung jaringan broadband berkualitas Telkomsel dengan lebih dari 28.000base transceiver station (BTS) 4G LTE di lebih dari 480 kota kabupaten di seluruh Indonesia.



Informasi lengkap mengenai layanan Tribe dan VideoMAX dapat diakses melalui website www.telkomsel.com/videomax.

Tuesday, March 27, 2018

ULASAN: READY PLAYER ONE




Do You Believe that Fiction Could Become Reality?

Virtual Reality atau lebih popular disebut VR lebih banyak dikenal masyarakat pada tahun 2016, tetapi ternyata VR pertama kali ditemukan jauh sebelum itu. Morton Heilig adalah seorang visioner yang diremehkan ke-brilianannya. Saat itu di tahun 1950an ketika kebanyakan orang-orang masih menggunakan TV hitam putih, dia telah membuat sendiri sebuah mesin video yang berfungsi sepenuhnya merasakan secara virtual dapat mengendarai sepeda motor beserta sensasi suaranya, angin, getaran dan bahkan aroma saat berada di jalan. Dia menyebutnya sebagai simulator Sensorama. Dan alat ini gagal dengan spektakulernya karena tidak adanya rasa percaya dari masayarakat saat itu.



Hingga akhirnya Ernest Cline seorang geek yang sangat menyukai video game dan budaya populer tahun 80an dan 90an membawa kembali keajaiban VR melalui novel yang spektakuler, Ready Player One yang hadir pertama kali di tahun 2011. Semua orang percaya bahwa VR akan booming dan dikembangkan. Kenyataannya sudah banyak perusahaan yang sedang mengembangkan teknologi ini bagi khalayak ramai, kita hanya tinggal menunggu saja.

Ready Player One adalah novel yang menjual sebuah dunia artificial yang akan hadir kalau kita memakai seperangkat alat VR dan pendukungnya. Sebuah dunia di mana kita bisa bermain ski di piramida, nongkrong di kasino seukuran planet, atau mendaki gunung bersama Batman. Dunia ini dinamakan OASIS (Ontologically Anthropocentric Sensory Immersive Simulation). OASIS adalah sebuah MMOSG (massively multiplayer online simulation game) yang dikreasikan oleh James Halliday (Mark Rylance) and Ogden Morrow (Simon Pegg) di sebuah perusahaan bernama Gregarious Simulation Systems (GSS), atau sebelumnya dikenal dengan nama Gregarious Games.



OASIS adalah surga bagi masyarakat pada tahun 2045 yang kenyataannya saat itu dunia dan realita sudah tidak ramah lagi bagi mereka. Hampir seluruh penduduk menghabiskan waktunya di OASIS membuat perusahaan GSS sukses besar dan Halliday adalah Steve Jobs pada saat itu. Mereka menghabiskan waktu di OASIS karena mereka berburu 3 kunci yang ditinggal oleh Halliday. Halliday diketahui telah wafat pada tahun 2040, dan Morrow sudah memisahkan diri dari bisnis OASIS. Halliday tau bahwa OASIS harus dikelola dengan benar dan bagaimana cara dia memberikan warisan tersebut ke tangan yang benar melalui perburuan Easter Egg yang dia ciptakan, dengan menemukan 3 kunci dari tantangan yang Halliday buat. Dia percaya penemu dari Easter Egg yang mampu mengendalikan OASIS adalah orang yang tepat sebagai ahli warisnya.Wade Watts (Tye Sheridan) remaja yang sudah tidak memiliki orang tua dan selalu tidur di atas mesin cuci bibinya adalah salah satu orang yang tidak pernah absen dalam perburuan Easter Egg ini. Dalam OASIS dia adalah seorang Avatar remaja yang mirip sekali dengan Keanu Reeves muda (kalau ingat Keanu Reeves dalam film Point Break) dengan nama Avatar Parzival. Dia merasa ada hal yang harus dikulik lagi untuk dapat memecahkan tantangan pertama yang sangat sulit. Sudah 5 tahun tantangan tersebut berjalan dan belum ada satu pun yang memcahkan. Hingga akhirnya dia bertemu dengan Art3mis (Olivia Cooke) yang memiliki semangat yang sama untuk memecahkan teka-teki ini. Parzival, Art3mis dan teman Gunters lainnya yaitu Aech (Lena Waithe), Sho (Philip Zao) dan Daito (Win Morisaki) akhirnya membuat beberapa kemajuan dalam permainan Halliday.



Tantangan mereka bukan hanya memecahkan teka teki Halliday, tetapi juga harus menghindari OASIS jatuh ke tangan Nolan Sorrento (Ben Mendelsohn) mantan intern Halliday yang juga seorang CEO perusahaan Innovative Online Industries (IOI). Sorrento akan melakukan apa pun untuk mendapatkan OASIS dan mengendalikannya agar IOI menjadi perusahaan yang paling maju jika dibandingkan dengan GSS. Dalam OASIS Sorrento berwujuk Clark Kent yang dipadupadankan dengan Bruce Waynen dan selalu dibantu oleh seorang bounty hunter yang bernama i-R0k (T. J. Miller). Belum lagi pasukan IOI yang disebut dengan Sixers yang berjumlah ratusan akan selalu membantu Sorrento dalam perburuan Easter Eggs. Mampukah Wade beserta kelompoknya yang dinamakan “High Five” mendapatkan Easter Eggs tersebut? Atau justru Sorrento dan perusahaannya lah yang mendapatkan? Lalu bagaimana masa depan OASIS selanjutnya? Benarkah Halliday sudah meninggal?



Pertama kali Ernest Cline menyutujui bahwa buku ini akan dijadikan film oleh Warner Brothers bayangan sutradara yang cocok untuk menangangi film ini bagi Ernest Cline adalah sang maestro Sci-fi film, Steven Spielberg. Dia percaya bahwa Ready Player One akan menjadi lebih hidup dan lebih terlihat populer di tangan Spielberg. Alhasil WB menyutujui ide ini dan juga disambut baik oleh sang sutradara. Menariknya lagi ketika Spielberg memiliki ide gila nan brilian yang ingin membawa begitu banyak franchise dunia game dan dunia perfilman dalam satu film, dalam satu dunia bernama OASIS.



Seperti dalam buku, Ready Player One memberikan penghormatan kepada budaya populer terutama pada 1980-an, 1990-an, 2000-an, dan 2010-an. Spielberg, Producer Kristie Macosgo Krieger, tim proyek khusus yang dikepalai Deidre Backs membantu memasukkan banyak lisensi agar ide gila ini tercapai. Semua franchise dalam bentuk penokohan, tagline bahkan gerakan tubuh yang digambarkan dalam Ready Player One.



Di antara karakter berlisensi dalam film ini adalah karakter judul dari The Iron Giant, RX-78-2 Gundam dari Mobile Suit Gundam, Mechagodzilla, berbagai karakter dari alam semesta DC Comics dan seri film The Lord of the Rings, Freddy Krueger dari A Nightmare at Elm Street, Duke Nukem, Tracer dari Overwatch, Ryu, Blanka dan Chun-Li dari Street Fighter, Sonic the Hedgehog, Lara Croft dari Tomb Raider, Kratos dari God of War, Nathan Drake dari Uncharted, Sackboy dari LittleBigPlanet, serta karakter Knack and Chucky dari Child's Play. Sebuah balapan mobil dalam game besar-besaran termasuk kendaraan seperti mesin waktu DeLorean dari Back to the Future yang dilengkapi dengan KITT dari Knight Rider (digunakan oleh Parzival), Mach 5 dari Speed ​​Racer, mobil '58 Plymouth Fury yang dimiliki oleh Christine, van dari The A-Team, Ford Falcon yang dimodifikasi digunakan di Mad Max, truk monster Bigfoot, dan sepeda motor Kaneda dari Akira. Referensi tambahan untuk Robocop, Jurassic Park, King Kong, 2001: A Space Odyssey dan Halo juga telah diidentifikasi dalam materi promosi. Klein juga meminta Industrial Light & Magic untuk memasukkan referensi ke The Last Action Hero, salah satu skenario pertama Penn, dan Star Trek yang merupakan lisensi yang dipinjamkan oleh Simon Pegg selaku producer dari Star Trek. Tidak lupa atribut franchise The Shining yang akan berperan besar dalam film ini.

Tidak salah apabila selama 140 menit ke depan penonton akan bersorak sorai seperti menyaksikan aksi panggung konser Aerosmith atau Queen di tahun 90an awal.



Dari segi cerita kalau dalam dunia film Sci-fi, penonton akan percaya bahwa Spielberg memang sang maestro budaya Pop. Penonton tidak akan disuguhkan cerita dengan teori sci-fi berat seperti Insterstellar atau Inception, bahkan tidak juga dengan Sci-fi horror macam saga Alien. Film ini murni sebuah kisah persahabatan, kisah seorang anak yang mengejar mimpinya dan berkelana dalam dunia maya. Ringan dengan eksekusi yang mengasyikan. Secara visual dan editing? Masih meragukan Steven Spielberg?



Bagaimana dengan soundtrack? Di luar dari lagu yang dikomposisikan oleh Alan Silvestri, penonton akan merasakan lagu tahun 80-90an seperti Take On Me dari A-HA, Jump dari Van Hallen, World In My Eyes dari Depeche Mode dan Tom Sawyer dari Tom Rush. Lagu-lagu tersebut sangat pas dan membawa nuansa nostalgia yang tak terelakan.



Ready Player One adalah sebuah film yang tidak diragukan lagi adalah karya Spielberg yang sudah lama hilang, film dengan nuansa petualangan dan aksi yang memukau, sebuah film untuk bersenang-senang, sebuah film yang memang cocok ditonton sambil makan popcorn. Bahkan sebuah film yang membawa perasaan penonton seperti menonton bersama sang maestro, tertawa dan berteriak bersamanya.



Ready Player One menjadi sebuah film pertemuan karakter favorit (film atau game) yang mungkin dahulu hanya akan menjadi mimpi di siang bolong belaka. Lagu-lagu nostalgia yang sangat populer dengan cerita ringan yang akan dicintai banyak orang. Sebuah film festival bagi para geek dan game maniak. Sebuah mimpi besar Ernest Cline yang akhirnya terwujudkan karena dia PERCAYA.



Dia percaya bahwa VR akan populer dan Ready Player One menjadi salah satu penggerak bagi para pengembang teknologi untuk menghidupkan teknologi VR. Dia mungkin juga percaya bahwa cerita fiksi saat ini akan menjadi kenyataan. PERCAYA adalah faktor utama dan terpenting dalam mewujudkan sebuah mimpi bahkan sebuah fiksi. Apabila sebuah rasa percaya tersebut benar-benar diwujudkan dan rasa percaya tersebut didukung juga oleh orang banyak. Bisa jadi apa yang ditulis dalam buku “Ghost Fleet” akan menjadi kenyataan, kalau realitanya sudah mengarah kesana dan kalau kita banyak yang percaya. Tetapi bisa jadi malah tidak akan terjadi kalau kita PERCAYA bahwa Indonesia justru akan maju dan kita berusaha mewujudkan untuk memajukan Indonesia.



Yang jelas Ernest Cline percaya bahwa Ready Player One akan menjadi sebuah tonggak film populer yang akan terus diingat banyak orang. Dia Percaya, Spielberg pun juga percaya dan saya pun percaya

(By Ibnu Akbar)

























ULASAN: HURRICANE HEIST




Pernah menonton film 'Hard Rain' yang dibintangi oleh Cristian Slater dan Morgan Freeman yang rilis tahun 1998 lalu ?. Film yang bercerita tentang sebuah penyergapan dan perampokan yang memanfaatkan cuaca buruk untuk menjalankan aksinya. Kurang lebih seperti itu jugalah yang coba ditawarkan oleh Hurricane Heist. Film terbaru dari sutradara Rob Cohen (The Fast & The Furious, Stealth). Dibintangi oleh Toby Kebbel (Rock N Rolla, Kingkong: Skull Island), Maggie Grace (Taken, Lost) dan Ryan Kwanten (True Blood Series)



Will (Toby Kebbel) berkunjung kembali ke kota asalnya untuk menyelidiki kemungkinan kembalinya badai 'Tammy' yang lebih besar dari pada serangan badai 25 tahun lalu yang telah merenggut nyawa Ayah-nya dan membuatnya sering berselisih paham dengan sang kakak Breeze (Ryan Kwanten). Disaat bersamaan kantor departemen keuangan yang berada di kota yang sama akan segera memusnahkan pecahan uang lama sebanyak 600 juta dollar yang dikawal oleh perwakilan FBI Casey (Maggie Grace). Tanpa diduga ekelompok penjahat berniat merampok uang yang akan dimusnahkan tersebut. Namun karena terjadi badai, rencana yang sudah disusun dengan baik menjadi kacau. Dan pertemuan Will dan Breeze dengan Casie yang tidak direncanakan tersebut membuat mereka ikut terlibat dalam bahaya besar. Bertiga mereka bahu-membahu mencoba menggagalkan aksi kejahatan tersebut ditengah-tengah badai besar yang juga mengancam nyawa mereka.



Plot cerita seperti itulah yang coba disajikan oleh Hurricane Heist. Meskipun premis ceritanya hampir sama persis dengan yang ada dalam film 'Hard Rain', tetapi apa visual action Hurricane Heist jauh lebih besar dibandingkan pendahulunya itu. Lalu bagaimana dengan faktor lainnya selain action ? Jawaban itu kembali pada penonton, jika mengharapkan sebuah film disasster/action dengan mempunyai cerita yang kuat, maka film ini bukanlah film yang tepat. Jadikan film-film Rob Cohen sebelumnya sebagai refrensi.



Tidak tanpa alasan kenapa menjadikan film-film Rob Cohen sebelumnya juga kamu masih mempertimbangkan ingin menonton film ini apa tidak. Hal yang sangat terasa adalah pada dialog-dialog karakternya yang sangat hambar dan klise. Itu belum termasuk chemistri antara Will dan Breeze yang seharusnya menjadi daya pikat film ini sama sekali tidak terasa. Semuanya diperburuk dengan joke atau adegan komedi yang tidak pada tempatnya.



Jika kamu bisa menghiraukan plot cerita yang solid, chemistri yang kuat antar pemain dan joke yang garing, percayalah kamu akan bisa menikmati film yang satu ini seperti yang saya lakukan. Cukup duduk manis dan habiskan popcorn-mu. Jadikan film-film Rob Cohen sebelumnya sebagai refrensi adalah 'kunci'.

SERENDIPITY SIAP MENYUSUL KESUKSESAN DEAR NATHAN





Serendipity memiliki arti ‘berkah baik’ atau mendapatkan sesuatu yang bernilai. Film Serendipity bertutur tentang berkah barkah baik yang dialami tokoh Rani dalam film ini. Penjelasan itu yang coba dituturkan oleh pemain-pemainnya seperti Maxime Boutier dan Mawar Eva De Jongh saat launching poster, trailer, cover novel dan soundtrack dari film Serendipity.



Film Serendipity masih mengangkat tema remaja putih abu-abu yang masih dalam proses pencarian jati diri yang tak jarang menghadirkan masalah yang sulit mereka atasi sendiri. Tidak mau terjebak dengan pakem film remaja kebanyakan yang akan diketahui setelah menonton filmnya.

Film ini sendiri memiliki tugas berat untuk bisa memuaskan penggemar novelnya yang sudah tidak sabar menunggu hasil visualisasi hasil tulisan tangan Erisca Febriani ini. Sang sutrdara Indra Gunawan menuturkan, ”Jujur, kami tidak ingin mengecewakan fans dari Serendipity, baik yang sudah baca novel maupun webtoon-nya. Cuma ada beberapa proses kreatif yang harus kami rapikan sebelum filmnya memenuhi harapan penonton. Contohnya adalah soundtrack yang pas dan dilantunkan oleh penyanyi yang tepat salah satunya”.



Acara launching yang juga dihadiri oleh Ipang Lazuardi selaku penyanyi dari soundtrack berjudul ‘Mau Tau’ ini mengatakan jika proses pembuatan single ini dilakukan dalam bentuk video klip. baru bisa dilakukan akhir bulan Maret. Selain soundtrack juga diadakan launching rilis ulang novel Serendipity dengan edisi cover poster filmnya. Perlu diketahui cetakan pertama Serendipity 20.000 eksemplar habis terjual, lalu cetakan keduanya 15.000 eksemplar dan cetakan ketiga 5.000 eksemplar. Untuk edisi cover film sendiri dicetak sebanyak 5.000 eksemplar.

Dengan track record novel karya Erisca Febriani yang sebelumnya ‘Dear Nathan’ sukses besar dalam bentuk novel dan film, rasanya tak salah jika nanti Serendipity akan mengikuti jejak seniornya yang sukses disambut pembaca maupun penonton.

Monday, March 26, 2018

ULASAN: SHERLOCK GNOMES









7 tahun waktu yang dibutuhkan untuk Gnomeo & Juliet untuk mempunyai sebuah sequel. Film yang diproduksi secara koalisi Paramount Animation, Metro Goldwyn Mayer dan Rocket Pictures ini kembali mengadirkan James McAvoy dan Emily Blunt sebagai pengisi suara utama Gnomeo dan Juliet. Selain itu ada nama-nama besar lainnya yang juga ikut meramaikan film ini dengan suara mereka seperti Johnny Depp, Chiwetel Ejiofor, Maggie Smith, Michael Caine dan Ashley Jensen. Sementara posisi sutradara ada nama John Stevenson (Kungfu Panda).


Jika pada film pertama plot utama ceritanya yang mengambil adaptasi tulisan William Shakespeare, maka untuk sequel ini, para kreator mengambil plot utama ceritanya mengadaptasi buah tulisan Sir Arthur Conan Doyle lewat karakter terkenalnya yaitu Sherlock Holmes.


Mengambil event setelah film pertama, Gnomeo (James McAvoy) dan Juliet (Emily Blunt) sekarang sudah hidup berbahagia. Tetapi ditengah-tengah hal itu, sebuah kejadian misterius terjadi dilingkungan Gnomeo dan Juliet, ketika semua anggota keluarga dan teman-teman mereka menghilang secara tiba-tiba. Pertemuan secara tidak sengaja pasangan ini dengan seorang detektif terkenal bernama Sherlock Gnomes (Johnny Depp) dan partnernya Dr. John Watson (Chiwetel Ejiofor) membawa mereka ke sudut-sudut kota London yang tersembunyi dan pada akhirnya mempertemukan mereka dengan musuh bebuyutan Sherlock, yaitu Moriarty.


Bukan tanpa alasan kenapa judulnya 'Sherlock Gnomes', bukannya 'Gnomes & Juliet 2'. Meskipun Gnomeo dan Juliet masih memegang peranan penting dalam jalinan cerita, tetapi roda pengantar cerita ada pada Sherlock yang membuat Gnomeo dan Juliet jadi seperti karakter pendukung. Jadi tidak masalah jika kamu langsung menonton film sequel ini tanpa harus menonton film pertama, karena 'Sherlock Gnomes' seperti film yang berdiri sendiri.


Untuk kita yang sudah khatam semua novel ataupun adaptasi novelnya sangat mudah mengenali banyak-nya refrensi-refrensi dari novelnya yang divisualisasikan dan menjadi suatu hiburan tersendiri, terlebih semua refrensi itu ditampilkan dengan jenaka. Tetapi sayangnya dengan banyaknya refrensi itu membuat gap tersendiri untuk sebagian penonton yang memang tidak mengikuti ataupun mengenal universe Sherlock, terutama bagi penonton dibawah umur yang merupakan target utama film ini sendiri. Ekspresi bingung akan sering muncul untuk sebagian penonton karena penonton lainnya tertawa (contoh: adegan jatuhnya Sherlock dan Moriarty jatuh dari air terjun).


Sherlock Gnomes sebuah film animasi yang masih menyisipkan pesan moral yang cocok ditonton dengan keluarga. Tetapi banyaknya refrensi universe 'Sherlock Holmes' hanya memuaskan penonton sebagian saja yang membuat penonton awam bertanya kepada kita, kenapa tertawa pada adegan tertentu, padahal adegan itu tidak lucu sama sekali.

Wednesday, March 21, 2018

ULASAN: PACIFIC RIM 'UPRISING'





Berselang lima tahun dari film pertamanya, Pacific Rim (2013), para pecinta Jaeger dan Kaiju pasti sudah tidak sabar menonton lanjutan dari film yang digarap oleh Guillermo Del Toro, sutradara kondang yang baru saja mendapatkan piala Oscar 2018 itu. Pacific Rim Uprising (2018) yang kini disutradarai oleh Steven S. DeKnight masih menampilkan para robot raksasa Jaeger yang siap memberantas monster raksasa Kaiju.



Cerita bermula dari sudut pandang Jake Pentecost (John Boyega), putra dari Stacker Pentecost (Idris Elba), pemimpin Pan Pacific Defense Corps yang juga mantan pilot Jaeger. Pasca kematian ayahnya, Jake hidup luntang-lantung tidak jelas, ditangkap dan dipenjara sudah seperti kegiatan sehari-hari karena sifatnya yang suka mencuri suku cadang dari bangkai Jaeger. Sudah 10 tahun bumi kembali damai sejak Kaiju dikalahkan oleh Gipsy Avenger, salah satu Jaeger terjago, tapi markas Pan Pacific tidak tutup begitu saja. Beberapa pilot muda dari penjuru dunia dikumpulkan sebagai Kadet untuk menjadi pilot Jaeger, tak terkecuali Amara (Cailee Spaeny), gadis kecil yang ditangkap bersama Jake karena secara ilegal merakit robot Scrapper mini. Berbeda dengan Amara yang ingin menjadi pilot Jaeger, Jake terpaksa harus melatih para Kadet sebagai konsekuensi dari perbuatan kriminalnya.



Di sisi lain, perusahaan teknologi Shao Industries yang dipimpin oleh Liwen Shao akan meluncurkan robot drone setara Jaeger yang bisa dikontrol dari jarak jauh. Sejak ada campur tangan dari Shao Industries, muncul Jaeger pengacau dari bawah laut yang menyerang markas dan menghancurkan kota. Jadi, kita akan melihat dua Jaeger kembar saling bertarung dan memamerkan kebolehan senjata masing-masing, sebelum pada akhirnya kita bertemu Kaiju yang super besar.


Karena ini dilihat dari sudut pandang Jake yang masih berusia remaja, keseriusan cerita dari film pertamanya sedikit dikurangi. Sebaliknya, sense of comedy lebih ditonjolkan, apalagi antara Jake dan Amara yang seringkali bertengkar tapi saling melindungi. Dalam sekuel ini, cerita tidak terlalu menjadi masalah karena sangat sederhana tapi mudah diterima serta tidak membawa suasana terlalu mellow, sehingga energi filmnya akan terus terasa dari awal hingga akhir.


Film ini benar-benar menonjolkan keseruan dari pertempuran monster melawan robot atau robot melawan robot sebelum monster kembali datang. Paruh kedua hingga paruh ketiga dihabiskan hanya untuk bersenang-senang, full of battle. Dimulai dari pelepasan drone, pembangkitan Kaiju, hingga para pilot muda yang mau tidak mau harus siap mengendalikan beberapa Jaeger warna-warni, mendampingi Gipsy Avenger, si robot jagoan. Desain Kaiju dalam film ini adalah yang terbaik di antara banyak Kaiju yang pernah muncul di seri Pacific Rim. Tiga Kaiju dalam satu bentuk memberikan kengerian tersendiri karena kekuatannya yang sangat sulit dikalahkan dan punya tujuan yang sangat jelas. Sepertinya Kaiju punya misi yang lebih solid dan rencana yang lebih matang sehingga para Jaeger hampir tidak mungkin menaklukannya.
 



Para karakternya begitu menyegarkan. Selain John Boyega dan Jing Tian, saya jarang melihat pemain lainnya di film-film lain sehingga ini awal yang baik untuk mengenal bakat akting mereka, menjadi satu ensemble cast yang baik dan kompak. Duo Newton (Charlie Day) dan Hermann (Burn Gorman) juga tidak luput dari jajaran cast. Mereka selalu memberikan kejutan-kejutan baru yang kadang diremehkan oleh karakter lain di film tapi ternyata sangat bermanfaat untuk memberantas Kaiju. Tentu saja, beberapa karakter di film sebelumnya juga disebutkan untuk sekedar mengobati rindu atau untuk menghormati jasa mereka.


Pacific Rim Uprising adalah salah satu dari sekian banyak sekuel yang memang sudah sepantasnya dibuat. Tidak akan ada penyesalan setelah menontonnya karena film ini benar-benar total menyuguhkan hiburan dalam pertempuran sengit antara para Jaeger dan Kaiju.

(By: Balda Fauziyyah )

Thursday, March 15, 2018

NOBAR READY PLAYER ONE DI 3 KOTA JAKARTA, MAKASSAR DAN SOLO



Holaaaa teman-teman Gila Film. Udah lama nih gak nobar barengan kota-kota lain dengan mempunyai konsep yang sama. Terakhir sih nobar Filosofi Kopi tahun lalu. Dan kali ini Gila Film kembali mengadakan nobar di 3 kota. Untuk saat ini ada Jakarta, Makassar dan Solo. Film yang kita jadikan nobar kali ini adalah nobar 'Ready Player One'. Film terbaru dari sutradara Steven Spielberg. Nama sutradara yang saya yakin salah satu sutradara terfavorit teman-teman Gila Film.



Seperti biasa, kalau udah nobar seperti ini gak mau yang biasa. Tersedia paket-paket tiket nobar yang bisa teman-teman Gila Film pilih. Detail paket-paketnya ada di poster ya. Untuk info lebih jelas lagi bisa teman-teman kontak CP masing-masing kota yang ada pada poster. Jadi, yuk kita nobar dan kopdar lagi. Nobar ini didukung oleh Gramedia dan media partner kita Novel Addict, PNFI, Cinemania dan Layar Tancep.

ULASAN: WINCHESTER



Film horror tidak akan pernah kehilangan penggemarnya. Untuk hollywood, minimal ada 2-3 film horror tiap tahunnya yang cukup menarik perhatian. Untuk Winchester sendiri sudah mendapat perhatian terlebih dahulu sebelum rilis karena pemain yang terlibat. Ada aktris peraih oscars Helen Mirren, lalu Jason Clarke yang bebberapa tahun belakangan sering kita lihat dalam film-film berkategori box office (White House Down, Dawn Of The Planet Of The Apes, Terminator Genisys). Untuk sutradara ada duo The Spierg Brothers yang angkat nama lewat film fiksi ilmiah Predestination.



Terinspirasi dari kejadian nyata, Sarah Winchester (Helen Mirren) pewaris kekayaan Winchester Repeating Arms Company membangun sebuah rumah terpencil diluar San Fransisco. Dibangun selama puluhan tahun dan berdiri dengan banyak ruangan yang tidak dimengerti orang awam sehingga pihak perusahaan mengirim Eric Price (Jason Clarke) seorang psikiater yang mempunyai masa lalu yang gelap untuk menilai kewarasan dari Sarah Winchester. Di rumah yang sangat besar itu juga tinggal keponakan Sarah, Marian (Sarah Snook) dan anaknya Henry (Finn Scicluna-O'Prey).



Dalam masa tugasnya di rumah Sarah Winchester, Eric menemui banyak hal yang diluar akal sehat, terlebih Eric tidak percaya segala hal yang berhubungan dengan hal ghaib. Tapi perlahan hal itu membuat Eric makin terlibat dalam masa lalu keluarga Winchester dan ada sesuatu yang kasat mata mengancam sisa-sisa keluarga Winchester.



Dengan jajaran cast yang kuat dan trailernya yang menjanjikan, rasanya tidaklah salah jika kita memasang ekspetasi berlebih pada film ini. Film ini masih dengan ciri khas film horror kebanyakan yang sangat dominan akan adegan 'jump-scare'. Tetapi hanya sebatas itu. Satu jam pertama hal itu cukup berhasil, lalu setelah itu penonton akan menjadi kebal. Sangat disayangkan dengan premis yang sangat menjanjikan film ini hanya bisa melangkah sejauh itu. Untungnya penggiringan cerita sampai terungkapnya rahasia misteri kenapa keluarga Winchester dihantui cukup membuat kita penasaran.



Winchester adalah tipikal film horror yang kurang maksimal dalam eksekusi akhir. Masih mampu membuat penonton berteriak karena adegan-adegan jump-scare, tetapi ketika keluar dari bioskop tidak akan sampai membuat kamu membicarakannya pada orang-orang seperti yang kita alami setelah menonton film-film horror dari James Wan.




Wednesday, March 14, 2018

ULASAN: GAME NIGHT




Menyatukan ide dari dua otak berbeda bukanlah sesuatu yang mudah. Ada ego didalam masing-masing ide tersebut. Tetapi hal itu sepertinya tidak berlaku untuk duo sutradara John Francis Daley dan Jonathan Goldstein yang belakangan menjadi headline media-media hiburan ketika nama mereka berdua diumumkan sebagai sutradara film solo The Flash (Flashpoint) yang dijadwalkan rilis tahun 2019.



Kali ini duo sutradara yang angkat nama lewat 'Horrible Bosses', film bergenre black-comedy yang cukup disambut baik oleh penonton maupun kritikus ini kembali dengan sebuah film bergenre sama bejudul 'Game Night'. Dibintangi oleh Jason Bateman, Rachel McAdams, Kyle Chandler, Michael C. Hall dan Jesse Plemons.



Max (Jason Bateman) dan Annie (Rachel McAdams) pasangan yang dipertemukan karena mempunyai kesamaan yang sama, kompetitif dalam segala hal, terlebih untuk sebuah permainan. Sampai mereka menikah karakter yang kompetitif tidak berkurang. Sampai pada suatu hari adik Max, bernama Brooks (Kyle Chandler) datang berkunjung. Brooks yang sukses selalu menjadi bayang-bayang Max. Satu-satunya orang yang tidak bisa dikalahkan dalam segala hal mengundang Max, Annie dan 4 teman lainnya untuk memainkan permainan dengan sebuah imbalan yang tidak bisa mereka tolak. Namun tanpa mereka sadari permainan yang dimainkan membawa mereka pada penyelidikan sebuah misteri pembunuhan dan mengantarkan mereka pada pada malam permaianan yang tidak akan pernah terlupakan.


Sejak dari awal adegan tidaklah sulit bagi penonton untuk bisa ikut masuk dalam cerita, terlebih jika kamu adalah salah satu maniak dalam permaianan boardgame. Meskipun film ini tidak secara eksplisit menunjukan pada permainan boardgame tertetentu, tetapi tetap terasa menyenangkan ketika permainan boardgame demi boardgame disini. Kembali pada cerita, plotnya semakin menarik ketika konflik utama muncul. Dan dijamin kamu tidak akan berhenti tertawa sampai film berakhir. Refrensi-refrensi film demi film yang dimasukan dalam dialog menjadi suatu nilai plus tersendiri.


Bintangnya dalam film ini bukan hanya Jason Bateman dan Rachel McAdams. Setiap Karakter-karakter pembantu dalam film ini selalu mencuri perhatian mulai dari 4 teman Max dan Annie, mulai dari pasangan Kevin (Lamorne Morris) dan Michelle (Kylie Bunbury) yang mempertanyakan hubungan mereka kembali setelah berhubungan sejak umur 14 tahun, lalu ada pasangan Ryan (Billy Magnusen) dan Sarah (Sharon Horgan) pasangan berbeda IQ. Lalu ada sang tetangga yang terpinggirkan Gary (Jesse Plemons) yang mempunyai kejutan dalam plot cerita.


Jika kamu menyukai film black-comedy seperti 'Horrible Bosses' yang bertema plot sebuah rencana yang tidak berjalan dengan semestinya, hal itu sudah cukup untuk menjadi refrensi kamu untuk bisa menyukai 'Game Night'. Sangat direkomendasikan untuk ditonton bersama teman-teman ngumpul sesuai dengan esensi dari film'Game Night' sendiri.