Wednesday, February 27, 2019

KONTEN DIGITAL JADI FOKUS UTAMA LA INDIE MOVIE 2019





Sejak kemunculannya pada 2007, Lingkar Alumni Indie Movie atau LA Indie Movie (LAIM) telah mewadahi para generasi muda dalam menuangkan ide dan ekspresi dirinya melalui medium film, khususnya film pendek. Serta mengajak generasi muda mengapresiasi dan menyelami proses produksi film dari hulu sampai ke hilirnya, mulai tahap penulisan naskah cerita, penyutradaraan, pengambilan gambar, penyuntingan, hingga eksibisi dan distribusi. Semua ini akan dimentori oleh mereka yang sudah ahli dan berpengalaman di bidangnya.



Selepas vakum selama dua tahun, LAIM kini hadir kembali dengan konsep yang semakin fresh dan kekinian.

“LA Indie Movie kami hadirkan, sejak tahun 2007, kami maksudkan agar menjadi jalan pembuka bagi mereka yang mempunyai passion di dunia perfilman, ingin mengasah skillnya, berkeinginan untuk terus kreatif berkarya menghasilkan film pendek dan terus eksis dengan berani mengekspresikan minatnya di bidang film khususnya untuk kaum muda atau generasi millenials. Hal ini sejalan dengan spirit LAzone.id ,sebagai portal yang memberikan informasi tentang gaya hidup/Lifestyle, kreativitas, entertainment, komunitas, dari sisi See Things Differently“, ujar Novrizal selaku perwakilan dari LAzone.id.

Rangkaian LAIM 2019 telah dimulai sejak November 2018 lalu dengan program LA Indie Movie Meet Up at Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) yang diisi dengan program sharing bersama para filmmaker experts.



Dilanjutkan dengan Story Competition yang mencari ide cerita original dan menarik dengan tema ‘Viral’, cerita yang terpilih akan dikembangkan menjadi skenario film pendek dan diproduksi menjadi film pendek bersama produser-produser ternama tanah air. Pendaftaran Story Competition telah dibuka sejak 27 November 2018 dan ditutup pada 24 Maret 2019 melalui www.lazone.id.



Cerita yang terpilih menjadi pemenang Story Competition akan difilmkan oleh tim filmmaker yang dijaring melalui program FILMMAKER HUNT dan diproduseri langsung oleh produser ternama yaitu Ifa Isfansyah, Ismail Basbeth dan Adhyatmika. Hasil karya ini kelak didistribusikan melalui festival dan platform digital seperti Iflix, Viddsee, dan HOOQ. Pemilihan platform digital sebagai medium distribusi film LA Indie Movie 2019 ini, sejalan dengan tema yang diusung yaitu “Your Movie Goes Digital”.



Rina Damayanti selaku Direktur Festival LA Indie Movie 2019 menyatakan tema ‘Your Movie Goes Digital’ dipilih sebagai respons atas makin terintergrasinya dunia digital dalam keseharian generasi muda, tak terkecuali dalam menonton film.

“Teknologi digital yang terus berkembang membuka peluang dan tantangan baru kreativitas dan medium distribusi film. Bagaimana para pembuat film menangkap tantangan era digital sebagai ruang baru kreativitas dan juga platform distribusi ide dan karya tanpa batas,” ungkap Rina

Mark Francis, iflix Global Director of Original Programming, menambahkan "Film dan serial di Indonesia siap untuk pertumbuhan yang sangat positif berkat proliferasi layanan OTT (Over the Top) seperti iflix dan sebagaimana dibuktikan oleh rencana untuk membuka ratusan bioskop baru di seluruh Nusantara. Penonton lokal semakin tertarik dengan hiburan lokal berkualitas, yang menjadikan wadah seperti LA Indie Movie semakin penting. Anda tidak akan mendapatkan film yang bagus tanpa pembuat film yang hebat, itulah sebabnya kami senang berkontribusi dalam mendorong pengembangan keterampilan."



“Sebagai platform digital untuk konten pendek premium, Viddsee bangga dapat mendukung tujuan Lingkar Alumni Indie Movie 2019 dalam mengembangkan talenta para pembuat film lokal dengan mempromosikan film mereka kepada audience tanpa batas”, ungkap Arie Kartikasari, Content Manager Viddsee Indonesia.

“Dengan begitu banyaknya film atau konten yang bisa kita temukan di dunia digital dan sosial media, kita perlu memilah dan memilih konten yang mempunyai nilai lebih baik itu dari segi cerita maupun segi teknisnya. Seringkali para kreator dunia digital mengesampingkan nilai-nilai itu, maka kita perlu menularkan dan membagi pengetahuan kepada generasi muda agar dapat memproduksi film pendek yang tidak kalah dengan kualitas film bioskop,” ujar Ismail Basbeth selaku produser LA Indie Movie 2019.



Salah satu program unggulan dalam LAIM 2019 adalah event LA MovieLAnd yang akan digelar di :

Jogjakarta, 2 Maret 2019, di Jogja Nasional Museum

Malang 9 Maret 2019, di Taman Krida Malang, dan

Jakarta 16 Maret 2019, di Joglo at Kemang

Mulai Pkl. 10.00 sampai pkl. 21.00 malam, akan diisi dengan berbagai program menarik dalam LA Movieland antara lain : Seri Film Workshop, Meet the Film Expert, Filmmaker Hunt, Casting, dan Open Air Cinema. Banyak filmmaker profesional akan turut hadir sebagai narasumber yang siap membagi ilmu dan pengalaman, antara lain : Angga D Sasongko (Sutradara), Edwin (Sutradara), Mouly Surya (Sutradara), Ifa Isfansyah (Sutradara /Produser), Adhyatmika (Produser), Agung Hapsah (Youtuber), Denis Adiswara (Content Creator), Roy Lolang (Cinematografer), Andhy Pulung (Editor Film), dll. Juga para aktor film Indonesia antara lain; Oka Antara, Vino G Sebastian, Ben Joshua, dan Arifin Putra.



Tentang LA Indie Movie

LA Indie Movie (LAIM) adalah wadah bagi pecinta film di Indonesia yang aktif menyelenggarakan filmmaking workshop dan short movie festival sejak tahun 2007. Kegiatan yang telah banyak menghasilkan profesional di dunia perfilman tanah air ini pada tahun 2018 berkumpul kembali dengan bendera Lingkar Alumni Indie Movie (LAIM). Fokus dari LAIM adalah memperkenalkan pembuatan film, mulai dari pengembangan cerita sampai profesi yang terlibat di dalamnya dan memberikan kesempatan generasi muda untuk terlibat dalam dunia film independen khususnya film pendek serta mempromosikan bakat-bakat yang muncul beserta karya mereka.



Informasi mengenai jadwal acara dan informasi lainnya dapat dilihat di: www.LAZONE.ID/laindiemovie atau follow IG : @LAZONE.ID

Monday, February 25, 2019

BUKAN SEAN BEAN DI POSISI PERTAMA, BERIKUT 10 AKTOR YANG PALING SERING TEWAS KARAKTERNYA DALAM FILM

Sebagian teman-Teman Gila Film pasti pernah mengalami sebuah obrolan tentang film di mana dalam film itu ada Sean Bean ikut bermain, lalu salah satu orang ada yang mengeluarkan kalimat 'Sean Bean sudah matinya kenapa?' atau 'Sean Bean mati di menit keberapa ?' Pertanyaan yang biasanya dijawab tanpa ada yang memprotes bahwa itu adalah sebuah spoiler bagi mereka yang belum menonton. Itu semua terjadi karena sudah saking melekatnya pada Sean Bean bahwa setiap karakter yang dia mainkan dalam sebuah film hampir semuanya berakhir dengan kematian. Tapi apakah teman-teman Gila Film tahu jika catatan kematian Sean Bean belum apa-apa dibandingkan beberapa aktor yang mungkin teman-teman Gila Film tidak menduganya. Dengan ini, GilaFilmID mencoba merangkum daftar 10 aktor yang mencatatkan kematian terbanyak di dalam filmnya.


10. Mickey Rourke



Aktor veteran yang sempat menurun popularitasnya dan kembali bangkit setelah aktingnya di The Wrestler arahan sutradara Darren Aronofsky yang membuahkan nominasi aktor terbaik di academy awards pada tahun 2009 ini telah merasakan 22 kali dari total 77 film yang ia bintangi.

Memorable death scene: Double Team (1997), Sin City (2005)

9. Michael Biehn



Aktor yang menjadi favorit sutradara James Cameron yang hampir selalu diajak untuk bermain di film-filmnya telah merasakan jumlah kematian 24 kali dari total 109 film.

Memorable death scene: The Terminator (1983), The Abbys (1989)

8. Liam Neeson



Siapa sangka bahwa aktor yang sering memerankan tokoh protagonis itu juga termasuk dalam daftar aktor yang paling sering tewas dalam filmnya. Jumlah kematian Liam Neeson sendiri adalah 25 kali dari total 119 film.
Memorable death scene: Batman (2005), The Grey (2011)

7.   Sean Bean



Yap, aktor yang sering mendapat pertanyaan lelucon menit keberapa  karakternya akan tewas hanya di posisi 7 dengan jumlah kematian 25 kali dari total 119 film. Sama dengan Liam Neeson. Tidak menyangka bukan kalau Sean Bean hanya berada pada posisi ke-7 ?

Memorable death scene: TLOTR: The Fellowship Of The Ring (2001), Game Of Thrones (2011)

6. Charlize Theron



Satu-satunya wanita di daftar ini. Charlize Theron mencatat jumlah kematian 25 kali dari total 52 film. Jumlah yang sama memang benar dengan Liam Neeson dan Sean Bean. Hanya saja Charlize Theron unggul dalam presentase rata-rata dimana 50% dari total film yang dia mainkan berakhir dengan kematian.

Memorable death scene: The Devil's Advocate (1997), Prometheus (2012)

5. Samuel L. Jackson



Tidak menyangka bahwa catatan kematian Samuel L. Jackson berada di atas Sean Bean? Jumlah kematian aktor pemeran Nick Fury dalam film Marvel Cinematic Universe ini mencapai angka 29 dari total 177 film.

Memorable death scene: Deep Blue Sea (1999), Avengers: Infinity War (2018)

4. Vincent Price



Salah satu aktor legenda hollywood Vincent Price berada pada posisi nomor 4. Aktor yang lebih banyak bermain dalam film horror, noir dan thriller ini sudah mencapai angka kematian 32 kali dari total 201 film selama karier aktingnya.

Memorable death scene: House of Wax (1953), The Haunted Palace (1963)
3. Bela Lugosi



Di posisi urutan 3 kembali aktor yang besar lewat film-film horror yaitu Bela Lugosi. Penggemar film horror ataupun film klasik dipastikan tidak asing dengan nama aktor yang satu ini. Jumlah kematianya mencapai angka 36 r total 116 film.

Memorable death scene: Zombie White (1932), Bride of the Monster (1955)

2. John Hurt




Mendiang aktor kelahiran Inggris yang meninggal pada tahun 2017 yang lalu John Hurt berada pada posisi nomor 2. Aktor yang pernah memerankan sang pembuat tongkat sihir Garrick Ollivander dalam franchise Harry Potter ini telah mengalami kematian sebanyak 45 kali dari total 205 film.

Memorable death scene: Alien (1979), V For Vendetta (2005)

1. Christopher Lee



Terakhir dan berada pada posisi pertama adalah aktor Christopher Lee yang hampir selalu memerankan karakter antagonis dalam film-film frnachise seperti Lord of the Rings Trilogy, The Hobbit Trilogy, James Bond dan Star Wars. Aktor yang satu ini sudah mengalami total 60 kali dari total 205 film.

Memorable death scene: LotR:The Return of The King, Star Wars: Revenge of the Sith

Friday, February 22, 2019

GATOTKACA DALAM SATRIA DEWA UNIVERSE YANG AKAN MENJADI FRANCHISE SUPERHERO TERBESAR PERTAMA DI INDONESIA



SATRIA DEWA STUDIO yang digawangi oleh Rene Ishak telah menyiapkan sebuah kreasi IP (Intellectual Property) yaitu JAGAD SATRIA DEWA (SATRIA DEWA UNIVERSE) yang mencakup film, merchandise, mobile game, komik, dan bahkan ke depannya theme park. Kreasi pertama yang diluncurkan adalah SATRIA DEWA: GATOTKACA. Ini merupakan film pertama dari keseluruhan JAGAD SATRIA DEWA yang terdiri dari 8 (delapan) film yaitu: Gatotkaca, Arjuna, Yudhistira, Bharatayuda, Bima, Nakula Sadewa, Srikandi, dan Kurukshetra. Dalam peluncuran SATRIA DEWA: GATOTKACA yang diselenggarakan di Ballroom XXI Djakarta Theater, para undangan dibuat takjub dengan berbagai display dari mulai potongan mobil hancur dari teaser filmnya, bermacam-macam merchandise film mulai dari notebook sampai helm yang memenuhi ruang lobby Ballroom XXI, hingga berbagai property dari pembuatan teaser filmnya. Gatotkaca menjadi tokoh pertama yang difilmkan karena dari hasil survey yang telah dilaksanakan, tokoh Gatotkaca paling banyak diketahui oleh responden. Selain itu, di dunia game online, tokoh Gatotkaca bukan hanya populer tetapi juga paling banyak diunduh. Hal tersebut mengindikasikan bahwa tokoh Gatotkaca sudah memiliki fansnya tersendiri. Bagi SATRIA DEWA STUDIO, fans penting. Oleh karenanya film ini dibuat, juga untuk menjawab kerinduan para fans terhadap jagoan adidaya Indonesia.



“Kami melihat bahwa sebagai bangsa Indonesia, kita memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Kami justru ingin menggali lagi potensi budaya kita yang adiluhung ini sebagai inspirasi untuk dibangkitkan kembali dan disebarluaskan nilai-nilainya kepada generasi millennial Indonesia yang sudah memudar pengetahuannya terhadap khasanah budaya kita. SATRIA DEWA: GATOTKACA menjadi film yang pertama kami luncurkan dari rangkaian 8 film karena tokoh ini sangat populer dan relevan dengan kondisi sekarang. Tokoh yang kami buat adalah tokoh masa kini yang hadir di masa sekarang ini (bukan film periodik), yang merupakan titisan sehingga anak muda akan mudah untuk relate dengannya,” jelas Rene. “Sasaran kami memang millennial dan keluarga, bagaimana agar inspirasi budaya adiluhung ini kemudian bisa diterima secara luas dan lebih mudah oleh generasi muda sekarang ini, sehingga kami memang memberikan pendekatan dan sentuhan sangat modern dalam kreasi IP ini. Kita mesti sadar bahwa kita bersaing secara global, jadi memang perlu racikan yang berbeda untuk generasi sekarang. Hal ini bisa dilihat sendiri oleh para undangan yang hadir, bagaimana kami sudah menyiapkan universe atau jagad Satria Dewa, juga merchandise yang itupun baru sebagain kecil ya,” imbuhnya lagi.



Di film pertamanya ini, SATRIA DEWA: GATOTKACA, SATRIA DEWA STUDIO menggandeng Caravan Studio dan MAGMA Entertainment. Chris Lie yang menggawangi Caravan Studio bertanggung jawab terhadap keseluruhan artwork dari film ini. Sementara itu, MAGMA Entertainment dengan sutradara Charles Gozali dan produser Linda Gozali bertanggung jawab untuk memproduksi film ini sehingga siap untuk tayang di Februari 2020.




“Saya sendiri memang suka wayang, makanya bikin komik-komik wayang juga. Ketika Rene menawarkan Caravan Studio untuk bergabung di project ini, bagi saya ini sangat menyenangkan sekaligus menantang. Hal pertama yang jelas adalah, ini bukan memfilmkan wayang atau memindahkan wayang ke film tetapi wayang dan tokoh-tokohnya sebagai inspirasi dimana mereka hadir di masa kini. Sangat menyenangkan dan menantang, kan untuk membuat tokoh Gatotkaca di masa sekarang ini? Berbekal juga dengan ide cerita dari Rene Ishak (SDS), jadilah sosok Gatotkaca seperti yang anda lihat di teaser filmnya dan tempat eksebisi di Balroom XXI Djakarta Theater,” jelas Chris Lie.



“Ketika saya ditawari untuk menyutradarai SATRIA DEWA: GATOTKACA sekaligus MAGMA Entertainment yang memproduksi, tentunya saya sangat senang. Kapan lagi ada kesempatan dimana kita bisa memproduksi sebuah film drama, fantasi, action dengan inspirasi latar budaya kita sendiri yang sangat luar biasa? Justru dengan kesadaran akan budaya adiluhung itulah kami memilih mas Asaf Antariksa dan Bagus Bramanti dari Pabrik Fiksi sebagai penulis skenario di film ini. Bagaimanapun, cerita menjadi titik awal yang penting apalagi dalam menghadirkan sebuah jagad atau universe. Sudah berjalan sampai di titik ini, kolaborasi SATRIA DEWA STUDIO, CARAVAN STUDIO, dan MAGMA ENTERTAINMENT yang pasti akan menghadirkan yang terbaik untuk para fans dan penonton,” tutur Charles Gozali.



Terhitung mulai tanggal 21 Februari 2019 dimulainya hitung mundur sampai film SATRIA DEWA: GATOTKACA tayang di bioskop-bioskop seluruh Indonesia pada FEBRUARI 2020. Dimulai dari hari ini hingga tahun depan, akan ada berbagai rangkaian kegiatan yang telah dirancang dalam rangka kehadiran kreasi IP baru yang akan berkontribusi dalam menetapkan sebuah standar baru mendukung industri perfilman Indonesia yang lebih baik lagi.




Wednesday, February 20, 2019

ULASAN: DRAGON BALL SUPER BROLY



Dragon ball Super Broly adalah film Dragon Ball terbaru setelah Dragon Ball Battle of Gods (2013) dan Dragon Ball Resurrection F (2015) dan kali ini mengambil fokus pada karakter Broly yang sebelumnya permah beberapa kali diperkenalkan namun belum memiliki filmnya sendiri. Disutradarai oleh Tatsuye Nagamine bersama dengan Akira Toriyama sendiri yang turut menuis naskah,



Cerita dalam film kali ini kita kembali dibawa pada masa lalu ke planet manusia Saiya ketika mereka aktif dalam melakukan ekspansinya namun masih dalam kontrol klan Freeza yang keji. Karakter Broly ditunjukkan saat ia masih kecil dan baru diketahui ternyata memiliki kekuatan yang sangat besar, melebihi siapapun termasuk Vegeta yang juga segera akan lahir. Khawatir akan menimbulkan masalah, Raja Vegeta pun memutuskan untuk mengungsikan Broly yang masih balita ke sebuah planet terpencil. keputusannya ini membuat sang ayah murka dan berniat balas dendam pada Raja Vegeta dan anaknya.



41 tahun berlalu, kini karakter favorit kita yang sudah belalui banyak pertarungan di Bumi, Goku dan Vegeta dipertemukan dengan Broly yang sudah besar, dan sangat kuat. Pertarungan besar dan seru pun kembali tidak dapat dihindari.



Sebagai seorang yang tumbuh besar menyaksikn tayangan Dragon Ball pada masa lalu, menyaksikan film ini merupakan sebuah fan service dan nostalgia yang begitu menyenangkan untuk diikuti. Film menyajikan cerita dengan penokohan yang begitu mendalam dan memikat penonton dengan efektif, bukan semata-mata karena kita sudah mengeal berbagai karakter di sini sejak lama, namun karena memang dari pembangunan dan jalinan ceritanya yang dibangun rapi.



Segmen flashback yang disaikan pada awal film, meskipun cukup singkat namun dututur dengan rapi dan efektif, tidak terkesan terburu-buru. Film juga memberikan backstory yang cukup bahkan pada beberapa karakter baru yang diperkenalkan juga mendapatkan jatahnya. Berbagai humor yang dilontarkan begitu efektif memancing tawa, kemudian soal aksi, tidak perlu ditanya lagi, kita akan disajikan pertarungan tingkat tinggi dari para karakter legendaris berpengalaman melawan seorang Saiya yang terkuat, semuanya dikemas seru dan, berisik.



Apabila tidak terbiasa dengan gaya animasi produksi Jepang, mungkin akan merasa sedikit tergangu dengan banyaknya adegan-adegan berteriak yang terkadang dirasa berlebihan, yah, sekali lagi mungkin ini hanya soal preference subjektif namun memang itulah yang saya rasakan.



Menyambung cerita dari yang sudah sangat jauh berjalan, tidak bisa dipungkiri bahwa film ini akan menjadi cukup membingungkan bagi penonton secara general yang tidak terlalu mengikutinya, seperti berbagai referensi, karakter yang tidak lagi dijelaskan soal itu siapa, hingga termasuk berbagaiinside joke yang banyak dilontarkan. Namun di luar semua itu, saya dapat menekankan bahwa ini adalah salah satu film animasi terbaik yang dirilis dalam beberapa waktu terakhir. Sangat direkomendasikan, terutama untuk para fans Dragon Ball itu sendiri.


(By Arief Noor Iffandy)

Monday, February 18, 2019

ULASAN: EXTREME JOB





Bukan hanya sukses lewat K-pop dan dramanya, industri film Korea, tepatnya Korea Selatan sudah tidak bisa dianggap sebelah mata. Nyatanya, banyak film Korea yang diadaptasi oleh Hollywood, contoh suksesnya adalah My Sassy Girl dan Tale of Two Sisters. Di 2019, sineas yang sudah terkenal lewat Sunny (2011), Love Forecast (2014) dan Twenty (2014), Lee Byeong-Heon menelurkan Extreme Job dan ditayangkan 25 Januari 2019 secara internasional dan sudah ditonton 14juta kali penonton sampai 16 Februari kemarin. Di Indonesia, film ini akan ditayangkan mulai 20 februari 2019.



Extreme Job dengan judul original Geukhanjikeob, bercerita tentang 5 polisi yang dikelompokkan dalam 1 regu. Regu ini dibawahi oleh kapten Ko diperankan oleh Ryu Seung-Yong (Miracle in Cell No. 7, The Target), dengan 2 polisi senior Detective Jang (Lee Hanee – Deranged, Fabricated City) dan Detective Ma (Jin Sun-Kyu – The Mayor), serta 2 anak baru Young-Ho (Lee Dong-Hwi – Reply 1988) dan Jae Hoon (Gong-Myoung – A Girl at My Door). Regu ini dianggap “payah” dan budget kepolisian mereka selalu terbatas karena sudah dalam waktu lama tidak berprestasi.



Namun, dengan bantuan kapten dari regu lainnya, mereka mendapat kasus baru. Yaitu, untuk menangkap gembong narkoba Lee Moo-Bae (Shin Hya Kun – Save The Green Planet!). Setiap hari mereka mengintai gedung yang dipakai untuk markas narkoba. Sayangnya, mereka tidak dapat masuk secara sembarangan, dan muncullah ide untuk membeli gedung di sebrangnya, yaitu restoran ayam.



Dan dimulailah petualangan 5 detective konyol ini. Fokus mereka adalah mengintai dan menyamar, namun, karena suksesnya restoran ayam, mereka menjadi lupa tujuan utama. Restoran tersebut menjadi viral di sosial media, sehingga setiap hari yang mereka lakukan hanya menjual dan melayani pelanggan yang membeludak. Sampai mereka tidak sadar kalau markas narkoba Moo-Bae sudah pindah.



Film ini akan membuat anda happy, saya tidak ingat kapan saya tidak tertawa. Setiap adegannya sangat mengocok perut. Kelakuan mereka berlima sangat membuat penonton gemas. Mereka adalah detektif senior, namun, sikap mereka sangat jauh dari keren, tetapi (bukan bermaksud spoiler), aksi mereka di akhir film ini akan membuat penonton terkagum-kagum.



Dan yang jelas, saya tidak merekomendasikan menonton ini dalam keadaan lapar. Sepanjang film, anda akan disuguhkan ayam goreng dengan saus yang menggiurkan. Namun, sudah makan pun, saya jamin, anda tetap ingin makan ayam sesudah nonton. Saya sangat menikmati Extreme Job dan tidak aneh menurut saya saat 3 hari dari perilisannya, sudah ditonton oleh 1juta penonton dan memecahkan rekor sebagai film komedi yang menjadi box office tercepat dan sudah dipastikan akan mendapat keuntungan lebih dari 200juta dollar. Sampai saat ini, Extreme Job melejit ke puncak kedua menjadi film yang paling banyak ditonton di Korea, dibawah The Admiral : Roaring Currents.


Menurut saya pribadi, lelucon yang dilontarkan pas dan tidak berlebihan, walau terlihat berlebihan pun, tidak mengganggu dan tidak bisa dianggap “receh”. Setiap adegannya mengundang tawa dan tepuk tangan. Film ini jelas harus ada dalam daftar tontonan wajib bulan Februari anda. Selamat menikmati dan selamat ngiler ayam!


Overall 8/10

(By Vanda Deosar)



Thursday, February 14, 2019

ULASAN: HAPPY DEATH DAY 2U





Hadir sebagai kuda hitam di tahun 2017, siapa sangka Happy Death Day bisa mendapatkan respon positif lewat kritik maupun pemasukan box officenya. Film bertema thriller-slasher dengan bumbu komedi ini tidak membutuhkan waktu lama mendapatkan lampu hijau untuk segera bisa mendapatkan sequelnya untuk diproduksi oleh pihak studio yang dipimpin langsung produser Jason Blum, sang maestro franchise horror yang selalu bisa memanfaatkan sebuah potensi film tanpa memerlukan nama-nama besar untuk membuat film ini sukses. Paranormal Activity, The Purge, Sinister atau Get Out yang menjadi bukti sahihnya.


Happy Death Day 2U kembali dengan hadir dengan sebagian besar film pertamanya Jessica Roethe, Israel Broussard, Phi Vu, Ruby Modine dan Rachel Matthews. Untuk sebuah penyegaran ada nama Suraj Sharma (Life of Pi) yang ikut bermain film ini. Sementara untuk kursi sutradara Christopher Landon kembali untuk menyutradarai film seperti film pertamanya.


Mengambil cerita hanya beberapa saat setelah ending pada film pertama Tree Gelbman (Jessica Rothe) harus kembali terjebak mengulang hari yang sama setelah pembunuhan yang dilakukan kepadanya. Masalah makin rumit dibalik kejadian itu ternyata berawal dari percobaan ilmiah yang dilakukan Ryan (Phi Vu), Samar (Suraj Sharma) dan Dre (Sarah Yarkin) yang mengirim Tree pada kehidupan yang bukan realitasnya. Tree berada dalam realitas yang di satu sisi mendapatkan kebahagiaan yang tidak dia dapatkan sebelumnya, di sisi lain ada ancaman bahaya baru yang tidak hanya mengancam dirinya, tetapi juga orang lain. Dibantu oleh kembali oleh Carter (Israel Broussard) untuk mencari jalan keluar dari permasalan kali ini hingga sampai pada akhirnya Tree dihadapkan pada keputusan sulit  antara  mengutamakan kebahagiannya terlebih dahulu atau orang lain.


Perubahan yang cukup drastis terjadi pada film kedua Happy Death Day ini. Rasanya sangat jarang kita menemui sebuah film yang tidak konsisten pada genre filmnya sendiri pada film kedua. Jika pada film pertama Happy Death Day (HDD) sangat jelas bergenre thriller-slasher komedi, maka bersiap-siap saja untuk film kedua ini genrenya berubah menjadi thriller-scifi yang membuat sebagian penonton akan mengerutkan kening. Entah memang sudah direncanakan sejak awal atau tidak tentunya perubahan genre yang memasukan unsur sci-fi menghilangkan esensi misteri dari film pertamanya. Dan hal ini akan membuat menjadi dua kubu yang memberikan pendapat berbeda. Pertama kubu yang merasa penjelasan kenapa Tree terjebak di waktu yang sama sangat bisa diterima dan kubu kedua sebaliknya.



Tetapi untungnya, dikubu manapun kamu berada diantara penonton itu selama film berlangsung dua kubu itu akan sama-sama terhiburnya dengan sequel ini. Komedi dalam film ini untuk sesaat akan sedikit akan mengalihkan perhatian kamu yang terganggu dengan unsur sci-fi didalamnya. Dan Jessica Rothe kembali memerankannya dengan baik. Bukan hanya itu unsur drama yang ada pada karakter Tree juga cukup lebih kental pada film kedua ini dan lebih baik dari pada film pertama.


Dengan makin kentalnya komedi pada sequel ini dan unsur sci-fi yang dimasukan mengorbankan sense thriller yamg kita temukan pada film pertama. Tidak ada lagi momen-momen menengangkan seperti film pertama. Bahkan ketika pada akhirnya kedok pembunuh di film kedua sudah terbuka tidak ada rasa antsiasa atau efek kejutan seperti pada film pertama karena pusat perhatian kita sudah tertuju bagaimana Tree bisa kembali realitas sebenarnya. Masih sangat menghibur secara keseluruhan, tetapi hanya sebatas itu. Setidaknya buat kamu yang tidak menyukai unsur sci-fi pada sequel ini tidak akan merutuk-rutuk selama dalam bioskop.

Overall: 6/10

(By Zul Guci)

Wednesday, February 13, 2019

ULASAN: THE LEGO MOVIE 2 'THE SECOND PART'




Setelah hampir 5 tahun lamanya, sekuel kedua dari The Lego Movie akhirnya tayang serempak pada 8 februari 2019. Cerita tentu saja masih seputar Emmet (Chris Pratt) dan Lucy (Elizabeth Banks), dimana kota mereka Bricksburg berubah menjadi Apocalypseburg karena serangan bertubi-tubi dari lego duplo, yang penuh warna dan kekanak-kanakan, dari dunia systar system.



Dunia penuh warna Emmet harus hancur karena serangan terus terjadi apabila melihat sesuatu yang berkilau, akhirnya Bricksburg menjadi kelam, dunia ini menjadi seperti apa yang kita lihat pada Mad Max atau Mortal Engines. Seluruh lego telah berubah beradaptasi untuk menjadi kelam, tetapi tidak dengan Emmet, Ia tetap beroptimis dan ceria dengan lagunya “Everything is Awesome”.



Suatu hari, Emmet membuatkan rumah untuk Lucy, karena rumah tersebut berwarna dan berkilau, datanglah General Mayhem (Stephanie Beatriz), dengan maksud menyulik leader Apocalypseburg, Emmet. Namun, justru yang diculik adalah Batman (Will Arnett), Lucy dan Unikitty (Alison Brie), Benny (Charlie Day) dan Metalbeard (Nick Offerman). Emmet tidak tinggal diam dan berjuang untuk mendapatkan kembali teman-temannya. Dan dibantu oleh karakter baru, Rex Dangervest, yang pemberani dan sangat mengidolakan Emmet.



Visual The Lego Movie : secondpart patut di puji. Dua dunia yang bertolak belakang ini benar-benar dibuat sangat kontras. Kita bisa lihat dunia kelam dan gelap Apocalypseburg namun “hangat” dan dunia penuh warna-warni Systar System dan terkesan “dingin”. Visual diperkuat saat banyaknya adegan close up. Banyak lelucon yang dilontarkan oleh para lego, seperti sindirian kepada dunia-dunia marvel, DC, serta Twilight. Lelucon diperkuat oleh lagu-lagu yang mengisi setiap adegan. Dan, percayalah, lagu ini tidak akan mudah terlupakan, tanpa sadar pun, penonton akan ikut mendengarkan sampai film sudah selesai dan setengah credit scene sudah terlewati.



Isu yang ingin dibangun oleh sang sutradara, Mike Mitchell (Monster vs Aliens, Shrek) adalah tentang krisis kepercayaan diri. Terutama pada karakter utama, Emmet. Disini Emmet akan diuji untuk menjadi lebih dewasa, berani dan tentunya percaya diri itu sendiri. Kepercayaan Emmet kepada teman-temannya juga akan diuji ketika mengetahui bahwa Ia percaya teman-temannya sudah “dicuci otak” oleh Queen Watevra Wa’Nabi (Tiffany haddish) dengan lagu Catchy Song : This songs is gonna stuck in your head!



Disamping kemewahan yang diberikan The Lego Movie, ada adegan yang menurut saya mengganggu ketika lego tersebut dapat bergerak sendiri. Sejujurnya, Lego disini dapat “bergerak” seolah-olah bernyawa dan seharusnya mereka hanya bergerak karena imajinasi dari sang pemain seperti apa yang ditekankan dalam film pertamanya.



Secara keseluruhan, pesan yang ingin disampaikan adalah ikatan persaudaraan untuk bermain bersama, tak peduli berapapun umurnya, tidak apa-apa jika dunia sudah “tidak awesome” lagi dan tentu saja, kepercayaan antara sahabat. Sulit melihat The Lego Movie 2 untuk sebagus film pertamanya, namun, kejutan di akhir sepertinya menjadi prospek menarik untuk film lanjutannya.

Overall 7/10

(By Vanda Deosar)

Friday, February 8, 2019

ULASAN: ALITA 'BATTLE ANGEL'





Menjadi perjalanan yang sangat Panjang untuk Alita akhirnya dapat dinikmati melalui film live-action. Pasalnya, di tahun 2003 James Cameron sudah berbicara di depan media bahwa akan menggarap manga ini. Alita sudah “duduk diam” di hak adaptasi selama hampir 2 dekade, tepatnya 16 tahun. Sampai kemarin, 5 februari 2019, akhirnya penonton Indonesia dapat menikmati mahakarya yang megah, brutal dan menghibur.



Alita : Battle Angel disutradarai oleh Robert Rodriguez yang sebelumnya telah berhasil dengan Spy Kid dan Desperado. Alita diadaptasi dari manga berjudul Battle Angel : Alita oleh Yukito Kishiro. Film dengan budget $200jt ini berhasil membawa angin segar dan dikategorikan sebagai live-action dari manga terbaik, sejauh ini.



Robert Rodriguez membawa Rosa Salazar sebagai Alita yang sebelumnya menjadi wanita Tangguh, bernama Brenda di trilogi The Maze Runner, lalu Christoph Waltz (Spectre, Inglorious Bastards) sebagai Dr. Ido, Ed Skrein (Deadpool, Transporter) bounty hunter bernama Zapan dengan Damaskus Bladenya, serta nama-nama lain seperti Mahershala Ali (Green Book) sebagai Victor, Eiza Gonzales (Baby Driver), Jennifer Connely (Blood Diamond, Hulk) dan Michelle Rodriguez (Fast and Furious).



Film ini bercerita tentang bumi yang sudah hancur dan berlatar di tahun 2563, dimana manusia yang bertahan dari seluruh dunia ditempatkan di kota bernama Iron City. Di atas mereka, ada kota terapung yang megah, Zalem. Satu-satunya kota yang berhasil selamat dari ledakan postapocalyptic. Impian seluruh manusia di bawah adalah untuk dapat pergi ke Zalem dan tinggal disana. Karena di Iron City, “jika tidak makan, maka kau dimakan”. Iron city adalah tempat para pemburu, kriminal dan pejuang yang menginginkan Zalem.


Suatu hari, Dr. Ido menemukan sebuah cyborg dengan otak manusia di tumpukan rongsokan. Dr. Ido membawanya pulang dan memberi cyborg tersebut tubuh baru, tubuh yang tadinya untuk dipakai anak semata wayangnya yang mati karena serangan pemburu. Cyborg tersebut “lahir” kembali dan diberi nama sama dengan anak sang dokter, Alita. Namun sayangnya, Alita mengalami amnesia, dan satu-satunya cara yang dapat mengembalikan ingatannya adalah dengan bertarung.



Pertemuan Dr. Ido dengan 3 cyborg pembunuh mengeluarkan jati diri Alita sesungguhnya. Alita mengeluarkan jurus yang sudah lama terlupakan, Martian-Arts. Kedua cyborg tersebut terbunuh, dan satunya, Grewishka kabur yang ternyata ia adalah anak buah nomor 1 Vector, penguasa yang menginginkan Iron City berada dalam genggamannya dan sekarang, menginginkan Alita mati.


Saya, yang tidak tahu apa-apa sebelumnya tentang Alita sangat terhibur dan terpukau, terlebih lagi sang sutradara sangat memanjakan penonton dengan CGI dan visualnya yang keren. Tidak ada pertarungan layar hijau dan adegan muraha. Yang ada hanya adegan perkelahian cyberpunk dan brutalnya perlombaan motorball. Menonton Alita, seperti menonton pertarungan yang tidak ada habisnya. Selama 2 jam lebih, Alita menantang siapapun yang menghalangi jalannya. Sayangnya, Robert Rodriguez dan James Cameron kurang mengeksplorasi emosi penonton. Hubungan anak Dr. Ido – Alita kurang memberikan kesan yang membekas. Apalagi percintaan remaja Alita-Hugo yang menurut saya mengganggu.



Di era kekuasaan dengan film superhero dari Marvel/DC, film keluarga dari Pixar serta film luar angkasa dari Star Wars, menonton Alita membawa sesuatu yang berbeda, Alita : Battle Angel memberi tahu dunia bahwa film dengan nuansa dystopia serta utopia masih bisa sukses. Kisah Alita, membawa imajinasi anak 90-an menjadi nyata. 30 tahun sudah Alita pernah dibuat, dan sekarang, Alita ada, dan itu adalah sesuatu yang patut dihargai.

Overall: 8/10

(By Vanda Deosar)