Friday, October 29, 2021

ULASAN: CANDYMAN (2021)


Salah satu horor yang paling menakutkan di awal 90-an Candyman akhirnya mendapat versi terbarunya. Dengan banyaknya tren reboot/remake film horor populer terutama film-film horor tahun 80-90an, memang hanya tinggal menunggu waktu saja Candyman juga mendapat versi terbarunya. Tidak tanggung-tanggung, Candyman versi terbaru ini membawa nama Jordan Peele (Get Out, Us) sebagai produser dan penulis naskahnya. Ada nama Jordan Peele dibalik layarnya rasanya sudah cukup membuat kita penasaran dengan versi terbaru Candyman ini. Untuk kursi sutradara ada nama Nia DaCosta. Candyman merupakan film panjang keduanya sebagai sutradara. Yang mana setelah menyutradarai Candyman, Nia DaCosta akan menyutradarai sequel dari Captain Marvel yang akan tayang tahun 2023.

Candyman versi terbaru ini bisa disebut reboot sekaligus sequel dari film pertamanya. Disebut sequel karena masih memakai asal-usul yang ada pada film pertamanya, namun juga bisa disebut reboot karena mengubah plot atau motivasi cerita yang sudah kita kenal dalam 3 film sebelumnya. Dibintangi oleh Yahya Abdul Mateen II dan Tayonah Parris, Candyman versi terbaru yang bersetting tahun 2019 kita akan memasuki dunia baru makhluk yang hanya bisa dilihat oleh orang yang menyebutnya sebanyak 5 kali di depan cermin ini.

Alur cerita yang berjalan secara naratif ini kita akan sangat merasakan pengaruh Jordan Peele dalam naskah film ini. Alih-alih film akan memvisualisasikan tentang para survivor-survivor yang ingin coba selamat dari kutukan Candyman, kita akan akan mendapatkan pesan isu sosial yang sangan jelas tersirat.Pesan isu sosial yang masih sama yang pernah kita temukan dalam film-film yang ditulis dan disutradarai oleh Jordan Peele. Namun hal itu disampaikan dengan cara berbeda lewat Candyman. Nia DaCosta sebagai sutradara dapat menangkap hal itu dan cukup berhasil mevisualisasikannya. Tapi sayangnya, terlalu fokusnya ingin mengantarkan pesan isu sosial yang ingin disampaikan membuat kadar horor dalam film ini tidak semenyeramkan versi originalnya. 

Yahya Abdul Mateen yang menjadi poros utama cerita layak diberi kredit lebih. Penampilannya dalam film ini mampu membuat penonton bersimpati pada karakternya. Transformasinya dari karakter yang tidak tahu apa-apa dan hingga menjadi mengetahui rahasia yang membalikan cerita direfleksikan dengan sangat baik. Jadi jangan kaget bagaimana aktor yang satu ini bisa mendapat proyek-proyek film yang besar dengan kualitas aktinya seperti itu.

Dengan ide baru yang cukup kontras dari versi originalnya yang dimasukan dalam plot cerita memang cukup berhasil untuk sebagian. Namun hal itu juga mengorbankan pada sisi horornya yang tidak sekental versi originalnya. Berhasil menyampaikan pesan isu sosialnya? Iya. Bagimana dengan horornya? Tidak terlalu. Mungkin respon yang berbeda akan didapatkan kamu tidak menonton versi originalnya sebelumnya.

Thursday, October 21, 2021

ULASAN: HALLOWEEN KILLS



Sama halnya dengan saudara seangkatannya seperti Freddy Krueger (A Nightmare on Elm Street) dan Jason Voorhees (Friday the 13th), nama Micahel Myers juga sudah untuk kesekian kalinya dibangkitkan ke layar lebar. Dan tahun ini franchise Halloween sudah mencapai seri kedua belas. Sequel dari film tahun 2018 yang mempunyai keterkaitan langsung dengan film pertamanya yang rilis tahun 1978. Seri Halloween Kills sendiri adalah dua dari tiga film yang sekaligus menjadi trilogi yang disutradarai oleh David Gordon Green. Jadi jangan harap teror Michael Myers akan berakhir di Halloween Kills, karena penutup trilogi baru rilis tahun depan.

Masih dibintangi oleh Jamie Lee Curtis yang memerankan Laurie Strode, plot cerita Halloween Kills melanjutkan langsung dari akhir cerita Halloween yang rilis tahun 2018. Setelah berhasil menjebak Michael Myers dalam rubanah tebakar dan melarikan, Laurie Strode bersama anak dan cucunya langsung menuju rumah sakit karena Laurie mengalami luka yang cukup berat. Harapan jika Micahel Myers sudah tewas menjadi sirna ketika lagi-lagi sang psikopat ini berhasil lolos dari rubanah terbakar. Dan teror Micahel Myers pun kembali terjadi dengan banyaknya korban berjatuhan dalam waktu beberapa jam setelah dia lolos. Kabar jika Michael Myers masih hidup menyebar kepada warga Haddonfield. Sudah lelah dengan teror yang mereka alami selama 40 tahun, warga Haddonfield bersepakat unutk memburu dan akan melakukan main hakim sendiri untuk mengakhiri teror Myers. Berhasilkah rencana para warga Haddonfield? Jawaban yang bisa ditemukan dalam filmnya.

Dengan setting kejadian dalam satu malam yang melanjutkan akhir dari film pertama, Halloween Kills menyajikan visual kebrutalan Myers dalam memangsa korban-korbannya melebihi film pertama. Semua kebrutalan dan makin banyaknya jatuh korban itu untuk mengantarkan plot efek kepada warga Haddonfield. Sebuah plot yang menarik sebenarnya, bagaimana kali ini satu warga kota kecil memburu sang psikopat. Tetapi hanya sebatas itu. Jika diitilik secara keseluruhan apa yang ditampilkan Halloween Kills hanyalah pengulangan dari seri-seri sebelumnya yang mana buat saya sendiri tidak berekspetasi apa-apa pada plot ceritanya. Saya hanya ingin melihat apalagi usaha Laurie kali ini untuk bisa selamat atau membunuh Myers. Namun untuk seri terbaru ini peran Laurie di sini sebagian besar seperti hanya sebagai benang merah cerita. Porsi karakternya diambil alih oleh karakter-karakter warga Haddonfield. Mungkin memang disengaja untuk mempersiapkan karakter Laurie untuk film penutupnya yang rilis tahun depan.

Didasari tidak berekspetasi apa-apa pada plot cerita, perhatian saya ditarik dengan karakter-karakter warga yang memburu Myers. Seperti tipikal-tipikal film horor slasher, kita akan banyak menemui adegan-adegan klise bagaimana satu persatu warga yang memburu menjadi korban. Namun segala hal klise dalam film ini dinaikan kadarnya sampai dua kali lipat yang membuat saya sangat gemas sendiri setiap adegan klise itu muncul. Ini cukup unik, karena hal itu mebuat saya perlahan berpindah kubu ke Michael Myers. Setaip adegan pembunuhan yang dilakukan oleh Myers menjadi kepuasan tersendiri.

Tidak seperti film pertama yang saya cukup menikmati ceritanya yang cukup rapi, untuk Halloween Kills hadir seperti sekadar pemanasan untuk film terakhir. Layakanya episode filler dalam sebuah serial, Halloween Kills bisa jadi episode yang menyenangkan ataupun sebaliknya untuk kita. Untuk saya sendiri ada pada kubu ini episode yang meyenangkan.

Friday, October 15, 2021

ULASAN: DON'T BREATH 2





Home Invasion merupakan salah satu modus perampokan yang cukup sering terjadi di Amerika. Peristiwa ini menimpa siapapun mulai dari kalangan biasa sampai selebriti. Premis ini yang coba ditampilkan dalam film pertama namun dengan aspek kejutan yang menarik dan tidak disangka yaitu bagaimana jika yang dirampok adalah seorang veteran yang buta namun memiliki kemampuan bertahan hidup yang luar biasa dan mengerikan. Hal ini dicoba untuk diulang lewat sekuel terbaru di tahun ini mengingat film pertamanya di tahun 2016 yang mendulang kesuksesan. Rodo Sayagues dan Fede Alvarez adalah duo sineas film asal Uruguay yang memiliki andil untuk ide certia Don’t Breathe. Alvarez dan Sayagues ikut menulis naskah untuk "Don't Breathe" pertama dengan penyutradaraan Alvarez; kali ini, mereka berbagi kredit penulisan bersama dengan penyutradaraan Sayagues untuk sekuelnya.



Veteran tunanetra Norman Nordstrom /The Blind Man (Stephen Lang) telah bersembunyi selama beberapa tahun di sebuah pondok terpencil. Dia tinggal bersama seorang gadis muda bernama Phoenix (Madelyne Grace) dan telah menciptakan kembali keluarga yang sempat hilang darinya. Kehidupan tenang mereka bersama segera sirna ketika sekelompok penjahat yang dipimpin Raylan (Brendan Sexton III) menculiknya. Norman sekarang dipaksa sekali lagi untuk memanfaatkan naluri dan kemampuannya dalam upaya menyelamatkannya kali ini hingga keluar rumahnya.



Berbekal durasi 99 menit, film ini memang tidak mencoba basa-basi. Adegan pembuka dipergunakan dengan efektif untuk memperkenalkan karakter Phoenix dan bagaimana koneksi yang terjalin antara Phoenix dengan Norman tanpa terlalu menye-menye. Selebihnya kita bakal disuguhkan adegan aksi yang mencekam dan tanpa henti hingga akhir film ini. Kebrutalan para penjahat dalam film ini sebetulnya generik namun memberikan motivasi untuk karakter utama dan relatable untuk penonton kenapa Norman butuh cara ekstrim untuk mengatasi mereka dalam menyelamatkan Phoenix. Karakter Norman adalah magnet utama film ini dan baik penulis serta sutradara tidak mengecewakan penonton dalam aspek tersebut. Adegan aksi Norman dalam menghabisi para penjahat dengan brutal adalah sesuatu yang ditunggu dan tidak boleh dilewatkan, pada titik ini sepertinya Norman layak disebut superhuman dengan daya tahan dan indra luar biasaHal yang cukup di luar nalar dan sukar diterima adalah motivasi para penjahat yang dipimpin oleh Raylan, agak terlalu ‘kartun’ dan untuk sekelas film thriller terlalu mengada-ada. Semestinya para penulis bisa menyusun cerita yang lebih masuk akal tapi okelah hal itu termaafkan dengan adegan aksi dan suasana mencekam yang membuat kita penasaran sampai akhir. Twist film ini yang tentunya tidak akan saya tulis di sini mestinya bisa dimanfaatkan untuk dinamika cerita dan mempengaruhi psikologis penonton tapi setelah terkuak tidak lebih untuk memberikan efek kejutan yang bertahan tidak lebih dari 10 menit.



Untuk akting, dengan rambut putih dan tubuh yang tegap, Lang selalu memberikan kehadiran yang mengintimidasi, dia mampu menampilkan sosok veteran buta yang memiliki masa lalu kelam dan mencoba mencari penebusan. Chemistry yang ditampilkannya dengan Madelyne juga cukup baik dan sebagai penonton kita dapat merasakan hubungan kekeluargaan mereka. Sosok antagonisnya sendiri tidak ada yang special karena terasa generik dan tidak ada nuansa kedalaman karakter yang menarik. Dari segi sinematografi, duo Savagues – Alvarez tahu betul bagaimana memanfaatkan sudut-sudut rumah sehingga membuat aksi Lang dalam menumpas penjahatnya menjadi hal yang tidak boleh dilewatkan. Salah satu sekuen menarik adalah adegan awal di mana para perampok mulai menerobos masuk, sekuen ini merupakan adegan long-shot yang memberikan kita gambaran betapa cukup kompleksnya penataan kamera dalam film ini.



Rodo Sayagues dan Fede Alvarez cukup bijaksana untuk memperluas universe film ini, jika di film pertama terjadi seluruhnya di dalam dan di sekitar rumah karakter Lang dengan ide cerdas bahwa dia buta dan secara teori menjadi sasaran empuk pencuri. Namun mereka tidak tahu bahwa yang dihadapi adalah seorang veteran Perang Teluk yang menakutkan yang sangat hapal dengan setiap inci rumahnya ditambah kemampuan indra lainnya meningkat menjadikannya mesin pembunuh yang menakutkan. Dalam film kedua, hal ini dieksplorasi lebih jauh dan memberikan ambiguitas moral dengan menjadikan Norman sebagai antihero yang masa lalunya tetap tidak dijelaskan sehingga kita masih samar kenapa Norman seakan merasa tersiksa, bagaimana keluarganya di kehidupan sebelumnya. Banyak pertanyaan yang belum terjawab yang mungkin masih disimpan untuk kisah-kisah mendatang.


Overall: 7,5/10

(By Camy Surjadi)
















Tuesday, October 12, 2021

ULASAN: DUNE (2021)






Sekali lagi saya merasakan momen "terkadang tidak tahu apa-apa itu adalah emas". Mungkin hal itu gambaran saya untuk film Dune. Film remake atau adaptasi terbaru dari novel klasik berjudul sama dengan filmnya hasil karya tulisan Frank Herbert yang rilis pada tahun 1965. Informasi yang saya ketahui dari latar belakang film ini adalah pernah menjadi sebuah film sebelumnya dengan sutradara David Lynch tahun 1984. Sekarang adaptasi novel mendapat versi terbaru yang didukung oleh teknologi-teknologi visual yang jauh lebih maju tentunya dibandingkan dengan versi tahun 1984. Yang berada di kursi sutradara versi Dune terbaru ini pun adalah sutradara yang cukup ambisius. Itu terbukti dengan banyaknya jajaran pemain dengan predikat bintang 5 yang berpatisipasi di film ini.


Sinopsis: 

Di masa depan manusia yang jauh, Adipati Leto Atreides (Oscar Isaac) menerima penatalayanan planet gurun berbahaya bernama Arrakis, juga dikenal sebagai Dune, satu-satunya sumber zat paling berharga di alam semesta, "rempah-rempah", obat yang dapat memperpanjang hidup manusia, menyediakan tingkat pemikiran manusia yang sangat tinggi dan memungkinkan perjalanan dengan kecepatan cahaya yang sangat tinggi. Meskipun Leto mengetahui bahwa peluang itu adalah jebakan rumit yang dibuat oleh musuh-musuhnya, Leto membawa selir keturunan Bene Gesserit, Lady Jessica (Rebecca Ferguson), putra dan pewaris tahtanya, Paul (Timothée Chalamet), serta beberapa penasihat Arrakis yang paling dipercaya. Leto mengambil alih operasi penambangan rempah-rempah, yang berbahaya karena kehadiran cacing pasir raksasa. Pengkhianatan yang pahit menuntun Paul dan Jessica ke Fremen, sebuah pedalaman padang gurun tempat tinggal penduduk asli Arrakis.


Ulasan:

Seperti yang sudah sempat disinggung di atas, menonton Dune versi Denis Villeneuve benar-benar pengalaman pertama saya menjamah universe Dune. Tidak pernah membaca novel ataupun menonton versi originalnya. Jadi paruh pertama film ini benar-benar menguras perhatian saya untuk coba mengingat semua karakter ataupun planet-planet yang lebih dari satu diperkenalkan. Bagaimana sangat luasnya universe Dune yang ada dalam plot cerita. Tetapi itu hanya sementara, perlahan berjalannya alur cerita kita sebagai penonton akan mulai teresap dalam cerita dan pelan-pelan akan mengingatkan dengan film atau serial tv yang memakai konsep cerita ini. Yap, sangat mudah bagi kita menghubungkan Dune dengan film atau serial tv yang kita tonton. Dune khalayakanya seperti Game of Thrones dengan universe yang jauh lebih megah dan luas. Dan saya langsung teringat membaca wawancara George RR Martin bahwa Dune adalah salah satu inspirasi terciptanya saga Game of Thrones. Hal itu yang awalnya saya cukup kebingungan pada paruh pertama lalu mulai bisa masuk pada ceritanya.


Setelah paruh pertama yang cukup butuh kesabaran ketika kita diperkenalkan universe Dune dimulailah momen-momen kita sebagai penonton mengalami cinema experience. Sebuah momen di manan kita tidak saja terserap dalam cerita namun juga disuguhkan sebuah visual yang hanya akan mendapatkan esensinya jika kamu menonton film ini di bioskop. Denis Villeneuve benar-benar memaksimalkan teknologi untuk mevisualisasikan Dune. Mulai sequence perperangan, kejar-kejaran di atas udara sampai penampakan sandworm adalah bagian-bagian terbaik dari film ini. Sekarang jadi masuk akal Villeneuve jadi kebakaran jenggot ketika mengetahui film ini akan ditayangkan secara bersamaan di layanan streaming HBO Max karena Villneuve ingin penonton merasakan cinema experience ketika menonton Dune untuk pertama kalinya.


Dengan durasinya yang cukup panjang yang bahkan dibagi menjadi dua part, Denis Villeneuve ingin memaksimalkan mengeksplorasi entitas-entitas dan universe Dune. Dan itu terlihat dengan apa yang disajikan pada bagian pertama ini. Dune versi Denis Villeneuve adalah sebuah perayaaan sekaligus pernyataan bahwa pengalaman nonton di bioskop tidak akan tergantikan dengan secanggih atau makin mudahnya mengakses film lewat streaming. Jadi sekali lagi, rasakan nonton film ini untuk pertama kali di bioskop. Kamu tidak akan menyesalinya.

Rating: 9/10



Friday, October 8, 2021

ULASAN NUSSA




Nussa: “Kapan abah pulang…”


Karena cinta dapat mengusir rasa takut, dan rasa terima kasih dapat menaklukkan kesombongan. Saya menangkap kekuatan utama film ini adalah dua. Cinta yang membuncah dari kedua orangtua, dan rasa terima kasih dari anak. Keduanya dibelitkan dalam nuansa keceriaan. Film anak-anak yang tidak bisa ditonton oleh anak-anak. Sayang sekali. Serial Nussa diperuntuk untuk Semua Umur, label yang sama memang disandang untuk bioskop, tapi faktanya tak semua umur bisa menikmatinya. Sabtu kemarin (2/10) saya membuktikan sendiri, yang menonton penonton dewasa semua, ada label bioskop saat ini untuk 12 tahun ke atas dan itupun yang sudah vaksin. Refleks berujar, “Mengapa tetap rilis?” Sayang aja, film mendidik hingar bingar keceriaanya diredam minus celoteh imut buah hati.



Ini tentang kompetisi dan rencana-rencana, harapan dan kekhawatiran juga terhadap ayah mereka, serta peristiwa-peristiwa paling menarik di dunia masa kecil. Kisahnya tentang Nussa (disuarakan oleh Muzakki Ramdhan), siswa berbakat yang tiap tahun langganan juara lomba sains di sekolah SD Nusantara. Ia merancang pesawat luncur dari barang bekas. Dari botol, dirakit dengan dinamo untuk menggerakkan baling-baling, didorong oleh tekanan tenaga kayuh sepeda, menghasilkan luncur seru ke atas, ditabur konveti menunjang kemeriahan dan mendarat dengan gaya bersama parasut. Untuk sebuah karya anak SD jelas ini menarik dan tampak aduhai. Proses pembelajaran dan perkembangannya bertahap dan masuk di akal karena memang penciptaan sesuatu tak bisa serta merta.


Seperti di serial, Nussa tinggal sama Umma (Fenita Arie) dan adiknya yang imut Rarra (Aysha Raazana Ocean Fajar). Abah yang tak pernah muncul, kali ini sosoknya diperlihatkan. Dengan video call, abah kerja di luar negeri tak bisa mendampingi anak-istri. Selalu janji untuk pulang dan mendukung proses kreatifnya, di sini nantinya ia bisa memenuhi janjinya. Sweet, terjawab, tuntas.



Bersahabat karib dengan Abdul (Malka Hayfa Asy’ari) dan Syifa (Widuri Puteri), mengarungi keseharian belajar dan bermain dengan antusias. Kedigdayaan Nussa runtuh saat muncul siswa baru Joni (Ali Fikry), siswa kaya raya yang membawa koper sekolah canggih, bisa berjalan sendiri, bisa jadi tempat duduk, bisa mengeluarkan roket. Bak little Iron Man dengan jam tangan sebagai kendali, canggih memang dengan kucuran uang melimpah hal-hal luar biasa bisa dicipta. Maka saat saring lomba sains sekolah internal, Nussa tergeser ke posisi kedua. Abdul dan Syifa dirasa menjauh, dan itu memberinya rasa pedih. Karena selalu menyenangkan, ketika dipercaya dan pujian seorang teman lebih manis dari sanjungan berlebihan orang asing. Keputusan menjauh sementara itu ditampilkan dalam kemurungan, ia tidak kesepian, hanya menyendiri saja. Namun sebuah ‘bencana’ di laboratorium yang mencipta Nussa dan Joni terkunci malah menjelma keakraban, dan mengeratkan persahabatan. Ini bisa jadi landasan kuat eksekusi akhir. Keduanya yang maju ke tingkat yang lebih tinggi mewakili sekolah Nusantara di Sains Fair menjalin kerjasama.


Lombanya sendiri berjalan timpang, dalam arti harfiah untuk dramatisasi keadaan dan juga arti sebenarnya untuk pengorbannya. Keputusan itu sepenuhnya improvisasi, perpicu keadaan mendesak dan kerelaan untuk tak dielukan. Dunia anak dengan segala keceriaannya. Menarik rasanya melihat ulah anak-anak kreatif, menengok ke masa kecil, kali ini kemewahan dan kesederhanaan disatukan, kalian tak perlu pusing menebak juara atau tidak, garisnya sudah sangat jelas dan kelas.

Ambisi Nussa adalah melakukan sesuatu yang hebat. Tak perlu khawatir bakat atau kebaikan akan diabaikan; bahkan kalau diabaikan pun, kesadaran bahwa kau memiliki dan memanfaatkannya dengan baik sudah akan memuaskan hati. Tepuk tangan untuk kita semua.



Suara Maudy Koesnaedy yang jelas sekali, bahkan tak perlu sampai kredit title untuk tahu ibunya Mama Joni bersuara merdu. Saya sendiri hanya menyaksi Nussa serial sesekali menemani Hermione, terutama dulu pas makan sahur jadi hanya sepenggal-sepenggal ikuti. Sementara anak malah hampir tiap hari ikuti. Jadi segala cast and crew saya tak tahu, makanya saat tahu film ini akan diadaptasi ke layar lebar, yang paling antusias adalah Hermione.


Nussa sendiri ditampilkan dalam pasang surut perasaan. Membuncah, bahagia, lantas dalam beberapa menit langsung berubah murung dan muram. Sulit memang menerima kekalahan, susah menghadapi kekuatan baru yang membuatmu tersingkir atau setidaknya menyingkir. Namun kembali lagi, keluarga adalah segalanya. Karena betapa pun buruknya suasana hatinya, kelebatan terakhir wajah keibuan Umanya dan suara semangat abahnya pasti akan memengaruhi seperti cahaya matahari.



Ada banyak tawa, ciuman, dan cerita dengan cara sederhana dan penuh kasih sayang, yang membuat perayaan ini begitu menyenangkan serta begitu manis untuk dikenang sesaat sesudah ‘Kejutanku’ berkumandang. Nussa, Rara, dan sobar-sobatnya menjelajah semesta tak berbatas dengan baju astonot pesawat ulang-aling, alien, meteor, dst. Hal-hal yang terdengar fantastis, maka cukup layak disaksikan. 

Rating: 8/10

(By Lazione Budy) 










Monday, October 4, 2021

ULASAN: MALIGNANT


Bisa dibilang untuk saat ini James Wan adalah salah satu sutradara favorit dari Warner Bros (WB). Semua itu karena sumbangsih James Wan dengan universe The Conjuring-nya yang menjadi besar dan menjadi pundi-pundi box office WB. Dan itu belum termasuk Aquaman. Jadi sah-sah saja jika apapun permintaan James Wan pada studio untuk mendanai film terbarunya yang merupakan ajang James Wan untuk berimprovisasi akan sangat mudah dikabulkan. Karena seperti Christopher Nolan, nama James Wan sudah mempunyai reputasi yang cukup bagus di mata penonton, di mana  film apapun yang disutradarai oleh James Wan terlebih itu horor akan membuat penonton berbondong-bondong untuk menontonnya.

Perlu diketahui universe Malignant sendiri tidak berhubungan sama sekali dengan universe The Conjuring.. Jadi apa yang dihadirkan dalam film ini benar-benar universe baru. Bercerita tentang seorang istri dan calon ibu Madisson Mitchell (Annabelle Wallis) yang selalu mendapat perlakuan kasar dari suaminya. Hingga pada puncaknya kekerasan itu membuat bagian belakang kepala Madisson mengalami luka karena benturan karena didorong oleh suaminya. Dan sejak benturan itu Madisson mulai mengalami kejadian aneh. Dimulai dengan terbunuhnya sangat suami oleh sosok yang tidak dia kenal. 

Kematian suaminya hanyalah awal. Sejak saat itu Madisson mengalami penglihatan pembunuhan demi pembunuhan yang dilakukan sosok tersebut. Kejadian itu sampai membawa Madisson dicurigai mendalangi pembunuhan tersebut. Pelan-pelan Madisson mulai menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Dibantu oleh adiknya Sydney (Maddie Hasson) berpacu dengan waktu mencoba mencari jawaban kenapa dia bisa mendapat penglihatan pembunuhan-pembunuhan tersebut yang ternyata Madisson menemukan fakta jika masa lalunya punya kaitan erat dengan apa yang dia alami sekarang. Siapakah sosok itu sebenarnya? Kenapa Madisson mendapat penglihatan itu baru-baru ini? Jawaban yang bisa ditemukan  dalam filmnya.

Improvisasi mungkin kata yang tepat jika diminta menggambarkan Malignant dalam satu kata. James Wan seperti mencoba segala hal dalam film ini, terutama dalam mengeksplorasi narasi plot cerita. Paruh pertama film ini menggunakan pendekatan film horor, lalu di tengah-tengah cerita menjadi thriller. Lalu di 30 menit terakhir dengan sebuah twist yang menjadi bagian terbaik film ini berubah menjadi fiksi ilmiah-action. Benar-benar gila sekaligus menyenangkan. Improvisasi yang sangat beresiko jika seandainya tidak diekseskusi dengan pas. Namun untuk kasus Malignant, James Wan benar-benar tahu apa yang dilakukan. 

Malignant yang menitikberatkan pada plot cerita ini memang tidak membawa nama-nama besar di jajaran castnya. Tapi pemeran utama Annabelle Wallis yang memerankan karakter utama layak diacungi jempol. Perannnya yang memerankan karakter wanita rapuh, tidak stabil dan menderita trauma ditampilkan dengan maksimal. Penonton sangat mudah bersimpati dengan karakter yang dia perankan. Namun sayangnya penampilan maksimal Annabelle Wallis tidak diimbangi dengan pemeran lainnya. Ya mungkin itu memang dimaksudkan agar penonton fokus kepada karakter Madisson. 

Malignant sebuah percobaan dan improvisasi yang cukup berani dengan menggabungkan beberapa genre menjadi satu. Untungnya di tangan James Wan improvisasi dan percobaan itu sangat berhasil. Sebuah pengalaman menonton yang menyenangkan. 

Rating: 8/10



Saturday, October 2, 2021

ULASAN: SINKHOLE




Pada titik ini hampir semua genre film sudah pernah dieksplor di perfilman Korsel namun genre bencana alam cukup menarik untuk diikuti mengingat Korsel kerap menggunakan tema bencana untuk menyindir kesenjangan yang terjadi di masyarakat dan keresahan social serta kegagalan pemerintah dalam mengatasi krisis di negara itu. Beberapa film berlatar belakang bencana yang cukup terkenal yaitu Haeundae (2009), Pandora (2016), Exit (2019), dan Ashfall (2019). Film Sinkhole (1996) merupakan film bencana dengan genre tragicomedy (perpaduan drama tragis dan komedi) karya sutradara Kim Ji-Hoon yang juga pernah menyutradarai The Tower (2012). Film ini sesuai judulnya mengangkat fenomena sinkhole sebagai tema utamanya. Sinkhole sendiri adalah kejadian depresi atau turunnya permukaan tanah secara alami akibat erosi atau drainase air. Film ini merupakan salah satu film yang ditayangkan di Locarno Film Festival dan sudah dirilis di Korea pada 11 Agustus yang lalu. Sinkhole akan tayang di layar bioskop kita pada 30 September



Dong-won (KIM Sung-kyun) dan keluarganya pindah ke Seoul di rumah yang dibeli setelah bertahun-tahun bekerja keras. Dipenuhi dengan kebahagiaan, ia mengundang rekan-rekan kerjanya untuk pesta pindah rumah, tetapi hujan deras malam sebelumnya menciptakan lubang pembuangan raksasa (sinkhole), dan hanya dalam satu menit, sinkhole tersebut menelan seluruh bangunan apartemen dan orang-orang di dalamnya. Ratusan meter di bawah lubang, Dong-won, tetangganya Man-su (CHA Seung-won), dan para tamu yang malang harus menemukan jalan keluar. Hujan deras mulai turun, mengisi sinkhole dengan air. Kini mereka kehabisan waktu dan harus berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan diri mereka. Akankah mereka semua selamat dan bisakah petugas penyelamat menyelamatkan mereka semua?



Selama durasi 113 menit, saya merasa sangat terhibur dengan keseluruhan cerita yang disajikan film ini. Awalnya dimulai dengan perkenalan tokoh utama kita Dong-won sebagai keluarga dari golongan middle class yang dieritakan setelah bersusah payah hanya mampu membeli apartemen yang ternyata bermasalah. Seiring cerita berjalan kita diperkenalkan dengan tokoh-tokoh lain dari circle sang protagonis mulai dari tetangga-tetangga di apartemennya dan kolega-koleganya dari tempat kerja. Konflik dan perseteruan kecil namun kocak antara Dong-Won dan Man-soo memberi dinamika yang menarik hingga puncak Konflik Ketika peristiwa bencana sinkhole muncul. Pemilihan drama komedi untuk film ini sangat tepat dan mampu menampilkan porsi komedi dan drama yang sesuai. Ada saatnya kita dibuat merasakan depresi yang dialami para tokoh yang terjebak dalam situasi yang sepertinya mustahil. Pemanfaatan set dan lingkungan sekitar juga membantu dramatisasi cerita film ini. Bisa dibilang film ini dapat dipisahkan menjadi dua bagian di mana bagian pertama lebih ke sisi drama social tentang kehidupan kelas pekerja dan situasi perumahan di Seoul sedangkan bagian kedua lebih ke bagian survival dari bencana alam. Walau 2 bagian ini sangat berbeda namun di bagian akhir kita akan mendapat konklusi yang memuaskan dan menjawab semua pertanyaan.



Berbicara akting, Cha Seung-won bersinar sebagai Man-soo, dengan kejengkelannya yang cukup menghibur di bagian pertama, namun transformasi karakter yang ia alami selama bagian kedua mampu menarik hati penonton walau diwarnai melodrama lewat kejadian yang ada di adegan puncak film ini. Kim Sung-kyun tampil kocak sebagai Park Dong-won, sedangkan Lee Kwang-soo yang kita sudah kenal lewat Reality Show Running Man dan Kim Hye-jun sebagai rekannya memberikan sejumlah momen yang cukup berkesan. Overall semua karakter mampu menampilkan porsi yang sesuai dan berkesan serta mampu menghibur lewat kejenakaan mereka di tengah situasi sulit. Hal lain yang patut dipuji adalah bagaimana sinematografi film ini mampu menangkap situasi baik dari sisi vertikal maupun horizontal dan pengaruh gravitasi dengan sangat baik sehingga penonton dapat ikut merasakan situasi bencana yang mencekam.



Selain mengandung sindiran terhadap pemerintah terhadap makin menurunnya daya beli masyarakat terhadap perumahan di Korsel dan protes terhadap manajemen krisis keuangan akibat pandemi di negara itu, film ini juga mengajak kita untuk terus berjuang dalam hidup karena hal paling berbahaya di balik runtuh/ amblasnya rumah ke dalam tanah adalah hilangnya keinginan untuk hidup. Lewat Sinkhole, penonton dapat merefleksikan bahwa untuk mencapai tujuan bersama kita harus bisa menerima perbedaan-perbedaan dan menyatukan visi. Jika dikaitkan dengan situasi pandemic, film ini juga berpesan supaya kita bisa bekerja sama untuk bisa keluar dari krisis Selain itu dari segi hubungan antar manusia sinkhole dapat diartikan juga bahwa hubungan yang kita jalin dengan orang-orang selama hidup kita bisa membawa ke kebahagiaan atau bencana tergantung dari kejelian kita melihat watak dan karakter seseorang. Setidaknya setelah selesai menonton film ini anda akan dapat memikirkan hal-hal tersebut sebagai bahan perenungan.

Rating: 8/10

(By Camy Surjadi)












ULASAN: NO TIME TO DIE



Akhirnya, setelah tertunda setahun lebih dari jadwal awal karena pandemi, film ke-25 atau film terakhir Daniel Craig sebagai James Bond bisa kita tonton . Film yang awalnya Daniel Craig tolak untuk membintanginya sampai akhirnya kembali. Untuk seri terbaru James Bond kali ini dipegang oleh Cary Joji Fukunaga sebagai sutradaranya, dengan naskah yang ditulis oleh Fukunaga sendiri dan dibantu oleh Neal Purvis, Robert Wade dan Phoebe Waller-Bridge, sang penulis naskah serial drama komedi populer Fleabag. Dan selain Daniel Craig film ini juga didukung oleh Rami Malek, Lea Seydoux, Lashana Winshaw, Ben Whishaw, Naomi Harris, Jeffrey Wright, Christoph Waltz, Ralph Fiennes dan Ana De Armas. 

Melanjutkan langsung apa yang sudah terjadi pada film sebelumnya di Spectre, James Bond menikmati masa-masa pensiun bersama kekasihnyanya Madeleine Swann (Lea Seydoux). Namun ketenangan itu hanya sementara ketika James Bond mendapat serangan dari komplotan Spectre yang membuat Bond harus berpisah dengan Madeleine. 

Lalu cerita melompat 5 tahun  kemudian saat Bond melanjutkan kehidupannya dan bertemu dengan kolega lamanya Felix Leiter (Jeffrey Wright) yang memberi informasi jika ada organisasi kriminal yang mempunyai atau mengembangkan teknologi senjata pembunuh yang sangat canggih dimana bisa membunuh korban hanya cukup mengetahui DNA saja. Informasi yang membuat Bond kembali beraksi dan mengetahui fakta jika kekasihnya Madeleine punya hubungan kuat dengan organsasi tersebut, dan akhirnya mempertemukannya Bond dengan  kepala gembong organisasi Lyutsifer Safin (Rami Malek). 

No Time to Die berdurasi 163 menit. Durasi dengan terpanjang dari keseluruhan film-film James Bond sebelumnya. Namun percayalah, durasi yang cukup panjang itu terasa cukup padat. 163 menit yang menetikberatkan pada unsur drama dan menggali sisi lain dari James Bond bagaimana pada dasarnya dia manusia biasa yang ingin mendapatkan ketenangan dengan pasangannya. Unsur drama pada film ini adalah poin terkuat pada seri James Bond terbaru ini yang buat saya sendiri terbaik setelah Casino Royale untuk perbandingan film-film Bond pada era Daniel Craig. Selain drama yang cukup kuat pada seri ini, hadirnya Phoebe Waller-Bridge yang menulis naskahnya menambah kesegaran tersendiri. Untuk penggemar Fleabag akan merasakan fan service tersendiri ketika ada dialog-dialog komikal-sarkastik pada karakternya dan kita akan bisa menebak jika itu Phoebe yang menulisnya. 

Untuk sequence action masih akan membuat kita terpukau seperti seri-seri lainnya, mulai dari adegan kejar-kejaran dengan mobil, baku tembak, sampai pertarungan fisik yang menjadi ciri khas James Bond era Daniel Craig kembali tersaji di No Time to Die ini. Sedangkan untuk karakter-karakter Spectre sebagian besar kembali. Yang menjadi perhatian saya sendiri ada pada dan karakter baru. Yang pertama karakter Nomi (Lashana Lynch) , sang penyandang agen 007 yang seorang wanita. Sesuatu yang cukup baru dengan karakternya yang cukup memberi warna dan menarik perhatian. Sangat disayangkan jika kita hanya melihat karakter hanya di satu film saja. Semoga siapun yang memerankan karakter James Bond selanjutnya, karakter Nomi masih akan dilibatkan. Yang kedua villain utama film ini yaitu Lusytfer Safin (Rami Malek) yang sayangnya tidak terlalu impresif. Kehadirannya hanya seperti roda penyambung cerita tanpa meninggalkan kesan berarti. Penampilannya masih kalah ikonik dengan Bond villain lainnya di era Craig seperti Javier Bardem di Skyfall dan Bolfeld di Spectre. 

Secara kesuluruhan film terakhir Daniel Craig ini menjadi film perpisahan yang manis. Setelah kita menonton No Time to Die kita menjadi mengerti kenapa Daniel Craig kembali memerankan Bond setelah sesumbar tidak ingin kembali. Karena memang sangat terarasa jika naskah No Time to Die tercipta untuk Daniel Craig. Akan sangat aneh jika Bond versi No Time to Die diperankan oleh aktor selain No Time to Die. 

Rating 9/10