Friday, July 19, 2019

    ULASAN: THE LION KING



    Disney dikenal lewat film animasinya yang memiliki nilai-nilai kehidupan yang sanggup menyentuh siapapun yang menontonnya. Film animasi Disney memiliki nilai sentimental tersendiri bagi setiap keluarga karena nilai pendidikan yang terkandung di dalamnya. Beberapa tahun belakangan, Disney gencar membuat ulang cerita animasi mereka yang terkenal ke versi live-action, sebut saja Beauty and The Beast, The Jungle Book, Dumbo, dan Aladdin adalah beberapa contoh di antaranya. Tujuannya selain untuk bernostalgia adalah untuk mempopulerkan kembali cerita-cerita tersebut ke generasi masa kini. The Lion King adalah salah satu film animasi Disney yang paling dikenal pada tahun ‘90an yang merupakan debut film animasi dengan cerita orisinal, bukan reinterpretasi dongeng atau mitos seperti cerita animasi Disney yang lain. Cerita The Lion King merupakan cerita yang paling berpengaruh terhadap budaya pop dan membantu Disney menciptakan film animasi dengan cerita-cerita yang lebih dewasa dan berkarakter. The Lion King juga telah menelurkan pertunjukan Broadway Musical bertajuk sama yang sukses dan piala Grammy dari lagu “Can You Feel The Love Tonight” yang tetap dikenang hingga sekarang. Di bulan Juli ini kita disuguhkan dengan film live-action The Lion King yang telah diriis di bioskop Indonesia pada 17 Juli 2019. Film The Lion King sendiri telah tayang di Hollywood pada 9 Juli 2019 yang lalu dan akan rilis serentak di US pada 19 Juli 2019. Disutradarai oleh Jon Favreau yang sukses lewat penyutradaraan film animasi live-action The Jungle Book dan dibintangi banyak bintang terkenal seperti Donald Glover, Beyonve Knowles, Seth Rogen dan Chiwetel Eijofor, jelas film ini menjadi film yang ditunggu-tunggu terlebih bagi penggemar setia Disney.



    Film The Lion King bercerita tentang seorang singa muda, Simba (JD McCrary/ Donald Glover) yang dibesarkan sebagai pangeran dan pewaris tahta dari Pride Lands, suatu wilayah hutan di Afrika, yang dikuasai oleh ayahnya, raja Mufasa (James Earl Jones) yang arif dan bijaksana. Bersama temannya Nala (Shahadi Wright Joseph/ Beyonce Knowles-Carter) mereka sudah dipersiapkan sebagai raja dan ratu untuk memimpin di masa mendatang. Akan tetapi, tidak semua sependapat dan menyambut hal tersebut dengan baik, Scar (Chiwetel Ejiofor) yang merupakan saudara Mufasa, merasa iri dengan kehadiran Simba karena posisinya sebagai penerus tahta tergeser. Diam-diam Scar sudah merencanakan kudeta bersama dengan para Hyena yang merupakan musuh kawanan singa, Shenzi (Florence Kasumba), Kamari (Keegan-Michael Key), dan Azizi (Eric Andre). Scar menjalankan rencananya dengan membunuh Mufasa dan meyakinkan Simba bahwa ayahnya wafat akibat kelalaiannya, Simba yang dalam keadaan terpuruk melarikan diri dan lolos dari percobaan pembunuhan oleh Mufasa lewat para hyena. Simba lalu berkenalan dengan Timon (Billy Eichner) dan Pumbaa (Seth Rogen) yang hidup jauh dari Pride Lands, Simba kecil tinggal bersama mereka hingga dewasa hingga suatu saat teman dari masa lalunya, Nala, muncul dan mencoba meyakinkan Simba untuk merebut kembali haknya dan mengatasi kekacauan yang terjadi di Pride Lands. Akankah Simba kembali berkumpul bersama keluarganya dan dapat menghadapi Scar yang kini telah menguasai Pride Lands? Demikianlah premis cerita The Lion King versi live action yang sama persis seperti cerita animasi aslinya, jika diperhatikan durasi untuk film ini lebih panjang setengah jam dibandingkan versi aslinya karena ingin lebih mengeksplorasi karakter Sarabi (Alfre Woodard) dan Nala. Dari sisi cerita, Favreau tidak ingin mengubah dan menciptakan kisah baru karena kisah aslinya sendiri sudah sangat bagus dan memiliki kedalaman emosi yang menyentuh. Favreau berkeinginan agar penonton baik yang sudah pernah menonton versi animasinya maupun generasi masa kini tetap merasakan emosi yang sama.



    Sulit menonton film ini tanpa membandingkan dengan versi orisinalnya, jika versi aslinya merupakan animasi 2D yang menggambarkan nuansa Afrika yang penuh warna maka versi 2019 ini betul-betul menggunakan teknologi canggih abad ini untuk membuat semua karakternya seperti binatang asli yang benar-benar hidup dan dapat berbicara seperti di versi 1994. Tidak kurang dari 180 animator handal dipekerjakan untuk menggarap dan menjadikan lebih dari 86 spesies hewan yang mendiami Pride Lands nampak hidup dan memiliki visual yang sangat mengagumkan. Efek visual yang digunakan adalah teknik serupa seperti dalam film The Jungle Book, dalam teknik ini gerakan dan mimik dari hewan-hewan yang ada dalam film dilakukan oleh para aktor dengan teknik motion capture dan digabungkan dengan teknik VR/AR. Moving Picture Company adalah studio yang bertanggung jawab menangani efek visual film ini, yang juga menangani efek The Jungle Book. Hasil akhirnya seperti yang kita saksikan dalam film, semuanya nampak seperti ‘photo-realistic’ seakan menyerupai cuplikan yang terdapat di film dokumenter hewan dalam National Geographic atau Animal Planet baik dari interaksi hewan-hewan maupun visualisasi padang belantara Afrika yang meliputi padang rumput, gurun, dan bebatuan yang sangat mengagumkan. Selama menonton kita akan merasa takjub dan pasti mengalami flashback karena teringat dengan adegan dalam versi animasinya. Otak kita akan butuh waktu untuk memproses bahwa singa, jerapah, zebra, dan kuda nil yang kita lihat adalah hasil rekayasa CGI bukan hewan asli. Yang dilakukan Favreau lewat film ini adalah dia memfokuskan pada sisi realistis dari film ini dengan menampilkan hewan “hyper-realistic” yang dapat berlaku selayaknya hewan sungguhan namun memiliki mimik dan dapat menggerakkan mulutnya untuk berbicara. Ada keterbatasan dalam hewan-hewan dalam film ini yaitu mereka tidak dapat menampilkan emosi selayaknya manusia dan juga tidak bisa bertindak seperti versi animasinya yang membuat film orisinalnya tetap lebih unggul. Keterbatasan inilah yang perlu dijembatani dengan bantuan para voice cast untuk membuat film ini memiliki jiwa dan dinamis ketika ditonton.



    Dari sisi voice cast, banyak talenta mumpuni yang sudah dipilih untuk memerankan karakter-karakter ikonik dalam film ini. Mufasa tetap diperankan oleh voice cast aslinya yaitu James Earl Jones dan ia tetap mampu menampilkan Mufasa sebagai raja berkharisma dan bijaksana, untuk Simba muda diperankan dengan baik oleh McCrary karena mampu menampilkan singa anak-anak yang sok tahu dan masih lugu secara proporsional, sementara Donald Glover tampil agak biasa dan kurang dimaksimalkan ketika mengisi suara Simba dewasa. Sisi komedi film ini ditampilkan dengan sangat baik oleh John Oliver, Billy Eichner, dan Seth Rogen sebagai Zazu, Timon, dan Pumba. Mereka mampu membawakan karakter dengan nuansa komedi yang hidup dan dinamis yang disesuaikan dengan masa sekarang. Chiwetel sebagai Scar tampil cukup meyakinkan tapi tidak cukup memorable untuk menggantikan Scar versi animasi yang sudah sangat lekat di ingatan.



    Scoring musik dari film ini kembali ditangani Hans Zimmer seperti versi orisinalnya sedangkan untuk lagu-lagu soundtrack film ini kembali diaransemen ulang seperti “Circle of Life”, “Hakuna Matata”, “I Just Can’t Wait to be King”, dan “Can You Feel The Love Tonight”. Beyonce turut mengaransemen ulang lagu “Can You Feel the Love Tonight” bersama Elton John dan menampilkan lagu baru “Spirit”. Elton John dan John Rice sendiri turut menyumbangkan lagu baru ‘Never Too Late” untuk lagu bagian penutup film ini.



    Cerita The Lion King terinspirasi dari drama tragedi Hamlet karya Shakespeare dengan beberapa penyesuaian. Film Lion King memperkenalkan cerita konspirasi, pengkhianatan, dan keberanian berlatar kerajaan hewan yang dapat dianalogikan dengan manusia yang sangat ikonik. Versi animasinya dapat dianggap sebagai fabel karena menampilkan karakter hewan yang dapat berbicara dan menghadapi kondisi layaknya manusia. Dalam proses adaptasi ke versi live-action Disney memegang kendali atas hal yang diubah atau tetap sama seperti versi animasinya. Langkah ini tidak 100% berhasil karena banyak faktor yang terlibat untuk membuat penonton tetap antusias dan terhubung dengan ceritanya. Ambil contoh Dumbo yang rilis beberapa waktu lalu, Disney mengambil langkah untuk membuat versi live-actionnya lebih manusiawi dengan membuat karakter hewan dalam film tersebut tidak berbicara sama sekali, akibatnya film tersebut kehilangan esensi cerita dan karakter Dumbo yang sudah dikenal penonton. Dalam The Lion King usaha tersebut bisa dibilang kurang berhasil karena level emosional yang diciptakan tidak sedalam versi animasinya. Penonton masih merasa canggung untuk menerima hewan asli yang dapat berbicara dan memiliki emosi layaknya manusia. Namun dasar cerita yang kuat dan visual yang mengagumkan tetap membuat film ini menarik untuk diikuti.



    Lewat The Lion King tersirat pesan bahwa keseimbangan alam akan rusak jika manusia serakah dan tidak menjaganya dengan baik, ini digambarkan lewat kepemimpinan Scar yang menggunakan prinsip kekuasaan dan kekerasan daripada kebijaksanaan. Pesan-pesan moral demikian banyak kita temukan dalam film Disney yang sangunp mengajarkan nilai-nilai baik kepada anak-anak maupun orang dewasa dengan tidak bersifat menggurui. Teknologi animasi yang berkembang pesat seperti yang kita saksikan dalam The Lion King sangat menjanjikan untuk masa depan perfilman. Teknologi ini selayaknya dimanfaatkan Disney dengan medium dan penyampaian cerita yang tepat lewat film-film orisinal di masa mendatang ketimbang mendaur ulang film animasinya dengan berbagai penyesuaian. Penonton termasuk saya masih percaya kalau Disney sanggup menciptakan keajaiban lewat film-filmnya.

    Overall: 6,5/10

    (By: Camy Surjadi)

    Sunday, July 14, 2019

    ULASAN: CRAWL




    Film yang bercerita tentang petualangan manusia bertahan hidup dari bencana alam ataupun hewan predator selalu menarik karena keduanya merupakan kondisi yang sangat mungkin dialami oleh setiap individu tergantung lokasi di mana ia berada. Nah apa jadinya jika kedua aspek bahaya tersebut dipadukan menjadi satu dalam film, dalam hal ini ancaman buaya dan banjir sekaligus, hal inilah yang menjadi premis yang ingin dibawakan dalam film Crawl. 


    Bergenre disaster-horror, Crawl sendiri bercerita soal seorang gadis bernama Haley Keller (Kaya Scodelario) yang berusaha mencari keberadaan ayahnya, Dave (Barry Pepper) setelah mendapat kabar dari kakak perempuannya Beth (Moryfydd Clark) bahwa ayah mereka mungkin berada dalam situasi berbahaya mengingat peringatan badai besar disertai banjir (Hurricane Level 5) sedang melanda Florida. Status evakuasi yang diumumkan pemerintah setempat membuat Haley bergegas menuju rumah masa kecil mereka tempat ayah mereka kemungkinan besar berada. Walau sudah ditetapkan larangan melintas menuju area yang akan dituju akibat kondisi badai besar yang makin memburuk, Haley tetap menerjang dengan fokus utama mencari dan menyelamatkan ayahnya. Sesampainya di rumah mereka, Haley akhirnya menemukan anjing mereka, Sugar dan ayahnya yang terluka parah di ruang bawah tanah. Bersamaan dengan itu banjir mulai memasuki rumah mereka, tetapi Haley akhirnya sadar bahwa banjir hanyalah masalah kecil dibanding dengan penemuan sekawanan buaya dari rawa yang sudah memasuki ruang bawah tanah mereka lewat gorong-gorong dan sedang mengintai mereka. Berpacu dengan waktu yang semakin terbatas, akankah Haley dan ayahnya bisa meloloskan diri dari banjir dan ancaman buaya-buaya yang kelihatannya mustahil tersebut? Film ini disutradarai oleh Alexandre Aja yang sudah dikenal lewat penyutradaraan film-film horor-thriller seperti The Hills Have Eyes (2006), Mirrors (2008), Piranha 3D (2010), dan Horns (2013). Sementara di kursi produser adalah Sam Raimi yang merilis film ini lewat Rumah Produksinya Ghost House Pictures.


    Dibandingkan film-film sejenis yang mengusung bencana alam, Crawl memiliki kelebihan cerita dan kondisi yang lebih bisa diterima logika. Plotnya sederhana, peletakan adegan klimaksnya pas dan tidak berlebihan, pemakaian unsur konflik atau ancaman berlapis (banjir dan buaya) sukses membuat penonton terjaga sampai akhir film. Kekurangannya mungkin hanya pada pengembangan karakter yang kurang dan lebih berfokus kepada aksi Haley bersama ayahnya dalam upaya lolos dari maut. Untungnya suguhan aksi yang ditampilkan dalam film bisa menutupi kekurangan tersebut. Premis yang diusung Crawl memang memiliki magnet tersendiri, karena dari trailer penonton sudah diberi teaser gambaran bahaya yang dihadapi oleh tokoh protagonis sehingga membuat rasa penasaran di benak penonton. Suasana mencekam berhasil diciptakan lewat setting lokasi dan pencahayaan yang tepat. Haley sebagai tokoh protagonis senantiasa ditempatkan dalam posisi sulit dan terjebak sepanjang film namun selalu bisa menemukan solusi dengan cara yang masuk akal. Walau hampir semua sebagian besar film ini mengandalkan CGI namun situasi badai dan banjir digambarkan dengan cukup realistis, demikian pula dengan buaya yang ada dalam film ini. Adegan yang melibatkan buaya dalam film ini murni menggunakan CGI dan bukan animatronik dibantu efek praktikal dari para kru yang bertujuan agar pergerakan buaya benar-benar luwes dan menggambarkan interaksi antara para tokoh manusia dengan buaya secara utuh. Dengan mengusung gaya gore, efek luka yang dialami para pemain dalam film ini turut menambah level realisme dari film ini, seperti ketika tangan dan kaki Haley diterkam oleh buaya atau ketika Dave mengalami patah tulang demikian pula ketika para buaya menyerang polisi dan penduduk yang sedang merampok toko kelontong.



    Kaya Scodelario, yang sudah kita kenal lewat trilogi The Maze Runner tampil meyakinkan sebagai Haley karakter gadis pemberani dan cekatan yang tidak mudah menyerah. Sementara Barry Pepper cenderung tampil biasa dan agak kurang dalam menciptakan chemistry antara ayah dan anak dengan Haley, hubungan antara mereka hanya ditampilkan lewat flashback dan interaksi Haley dengan kakaknya Beth. Dengan cerita yang hanya berfokus pada dua cast utama semestinya dapat dimanfaatkan untuk mengeksplorasi karakter Haley dan Dave lebih mendalam misalnya dengan menampilkan cerita ketika mereka masih bersatu dalam satu keluarga bersama ibu mereka dan Beth ketimbang hanya menampilkan flashback dan mengandalkan penjelasan lewat dialog antara Haley dan Dave. Background Haley sebagai perenang yang ulung ditampilkan cukup baik namun seharusnya bisa lebih mengeksplor sisi lain yang menunjukkan Haley sebagai wanita mandiri dan tangguh karena ini bisa menjadi modal penting untuk memperkaya karakternya.



    Alexander Aja nampaknya paham menciptakan momen-momen mencekam dan memacu adrenalin sepanjang film. Tone horor dipadukan dengan baik bersama aspek bencana dalam film. Penonton senantiasa diberi kejutan baru yang tidak berulang dalam momen-momen penting di film ini. Salah satu adegan klimaks ketika Haley berusaha melawan buaya dalam kamar mandi merupakan adegan yang paling seru dan menarik. Alexander Aja mahir membuat penonton percaya bahwa situasi yang sulit dan hampir mustahil tetap bisa diatasi oleh karakter protagonis dengan cara yang logis. Lewat film ini Alexander berupaya menampilkan dari dekat seperti apa rasanya bagi orang yang mengalami secara langsung berada dalam badai topan Hurricane Level 5 dan separah apa kerusakan yang ditimbulkan lewat perspektif Haley dan Dave. Unsur ancaman buaya hanyalah tambahan untuk membuat daya jual film ini meningkat.



    Lewat film ini Alexander mengusung pesan bahwa skill bertahan hidup wajib dimiliki siapapun dan ini tercermin lewat karakter Haley sebagai wanita yang kuat, berani, dan tidak mudah menyerah serta Dave yang senantiasa mendukung Haley. Demikian pula dengan isu lingkungan seperti banjir dan badai topan yang mengajak kita untuk berempati bahwa kita wajib melindungi keluarga dan hal yang kita sayangi dengan sekuat tenaga. Film ini termasuk film yang kreatif dan seru untuk ditonton, karena memadukan dua hal yang belum pernah ada sebelumnya. Asalkan masuk akal, potensi kreatif film bergenre disaster masih sangat terbuka lebar.


    Overall: 7/10
    (By Camy Surjadi)


    Monday, July 8, 2019

    ULASAN: YESTERDAY




    Tanpa perlu mencari tahu lebih banyak lagi, siapapun kamu yang menggemari lagu-lagu The Beatles pasti sudah merasa tertarik untuk menonton 'Yesterday' ketika melihat trailernya pertama kali. Terlebih premisnya cukup menarik dari yang ditampilkan. Apa yang terjadi jika The Beatles tidak pernah terlahir ? Tidak ada yang mengenal nama grup legendaris tersebut ataupun lagu-lagu mereka ? Masalahnya hanya kamu satu-satunya orang di muka bumi ini yang masih mengingat The Beatles dan lagu-lagunya. Premis cerita itulah yang ditawarkan oleh Yesterday yang judul filmnya sendiri diambil dari salah satu judul lagu The Beatles.



    Jack Malik (Himesh Patel) adalah seorang musisi yang sedang berjuang mewujudkan mimpinya. Didampingi sahabat setia sekaligus manajernya Ellie (Lily James) yang selalu mendukungnya ditengah-tengah rasa pesimis karirnya pada musik berjalan ditempat. Jack bahkan berpikir ingin berhenti menjadi musisi. Hingga pada suatu malam kejadian tidak terduga terjadi. Sebuah kejadian misterius membuat Jack sebagai satu-satunya orang di dunia yang mengingat karya-karya The Beatles.


    Menjadi satu-satunya orang di dunia yang mengingat jika The Beatles pernah ada membuat Jack memmanfaatkan situasi itu untuk menyanyikan lagu-lagu populer The Beatles dan mengaku menciptakan semua lagu itu. Situasi yang membuat Jack populer dalam waktu singkat. Tetapi segala tindakan Jack tersebut memiliki konsekuensi dimulai dari renggangnya hubungannya dengan Ellie yang mana orang satu-satunya memahami luar-dalam Jack dan lalu dikejar rasa bersalah karena mengaku-ngaku menciptakan semua lagu The Beatles yang dia nyanyikan. Begitulah garis besar plot cerita yang ada dalam Yesterday.


    Auto fokus sudah penonton dapatkan sejak adegan pertama kita mengenal karakter Jack Malik. Lalu selanjutnya kepada adegan lainnya memperlihatkan kesulitan yang dihadapi oleh Jack dalam meniti karir musiknya dan semua semakin seru ketika seluruh penduduk dunia tidak pernah mengingat The Beatles dan lagu-lagunya pernah ada tanpa harus dijelaskan secara spesifik apa penyebab hal itu terjadi. Dan itu tidak terlalu masalah bagi penonton yang sudah masuk ke dalam cerita Yesterday.


    Sayangnya sampai paruh pertama yang sudah menarik ini, film seperti berubah arah yang yang mengesankan Yesterday seperti film romcom kebanyakan. Alih-alih tetap memusatkan ceritanya pada Jack Malik dengan konflik batinnya yang sebenarnya sudah cukup menarik untuk menjadi satu film utuh. Sesuatu hal yang bisa merubah penilaian penonton mengenai filmnya.


    Untungnya semua hal minus bisa terkikis dikarenakan faktor lain sampai durasi film berakhir. Faktor pertama dari beberapa pemeran pembantu yang cukup menarik perhatian, selain Lily James ada nama penyanyi Ed Sheeran yang menjadi dirinya sendiri yang beberapa kali memancing tawa penonton. Faktor kedua tentu saja lagu-lagu The Beatles yang dinyanyikan oleh Himesh Patel sendiri yang membuat penonton mengerti kenapa Danny Boyle memakai aktor pendatang baru untuk memerankan Jack Malik. Sepanjang film ketika Jack Malik menyanyikan lagu-lagu The Beatles seraya penontonpun akan ikut bernyayi tanpa ada nada keberatan penonton yang ada duduk disampingmu.


    Danny Boyle sepertinya ingin bersantai dengan cerita ringan dalam film terbarunya ini yang membuat kita tidak terlalu minus yang ada separuh terakhir film yang dirasakan penonton. Terakhir kita melihat Danny Boyle dalam film bertema ringan tahun 2004 lalu di film Millions.

    Overall 7/10

    (By Zul Guci)

    Saturday, July 6, 2019

    ULASAN: SPIDER-MAN 'FAR FROM HOME'



    Sehabis perhelatan akbar para superhero dalam Avengers: Endgame yang masih sangat berbekas di ingatan kita film yang paling dinantikan sebagai penutup Marvel Cinematic Universe fase 3 di tahun ini adalah Spiderman: Far From Home, kembali disutradarai oleh Jon Watts dengan cast lama yang sebagian besar kembali bermain ditambah dengan beberapa pemain baru seperti Jake Gyllenhaal, JB Smoove, Angourie Rice, dan Colbie Smulders. Film ini dirilis di US pada 2 Juli 2019 disusul Indonesia pada 4 Juli 2019. Dengan jadwal rilis Film Marvel yang menargetkan 3 judul film dalam setahun maka film ini sekaligus merupakan film Marvel terakhir di tahun 2019 ini sebelum kita mulai memasuki MCU fase 4 yang sepertinya merupakan era baru yang akan berbeda. Hingga artikel ini ditulis, film ini mendapat rating 92% di Rotten Tomatoes sama dengan film pertamanya. Jika di film pertama kita lebih dikenalkan pada dinamika kehidupan Peter Parker dan peran barunya sebagai Spiderman, maka di film kedua semua dibuat lebih meningkat dari segi masalah yang dihadapi dan tanggung jawab Peter Parker sebagai superhero terkait dengan posisinya sebagai bagian dari Avenger.





    Spiderman: Far From Home bercerita tentang adanya gangguan di sejumlah lokasi di Eropa oleh makhluk yang dinamakan The Elementals hasil penyelidikan Nick Fury (Samuel L Jackson) dan Maria Hill (Cobie Smulders) dan kemunculan Superhero misterius, Quentin Beck/ Mysterio (Jake Gyllenhall) yang tampaknya berada di pihak yang baik karena membantu melawan The Elementals. Melihat hal tersebut Nick Fury meminta bantuan Spiderman/ Peter Parker agar dapat membantu mengatasi masalah tersebut bersama Mysterio. Peter (Tom Holland) sendiri sebetulnya sedang ingin lepas sejenak dari tugas superhero karena ia dan teman-temannya Ned (Jacob Batalon), MJ (Zendaya), serta gengnya sedang menjalani liburan ke Eropa, tetapi akhirnya setuju untuk membantu Nick Fury dalam melawan The Elementals karena keberadaan The Elementals juga turut mengancam keselamatan teman-temannya dan penduduk sekitar. Akankah Peter berhasil mengatasi ancaman The Elementals, siapa dan apakah motif Mysterio dalam melawan The Elementals, serta berhasilkah Peter dalam menjalani dualisme hidupnya di antara teman-temannya dan sebagai superhero? Poin-poin inilah yang menjadi inti dari cerita sekuel film Spider-Man: Far From Home.





    Jika di film pertama, hubungan Peter dan MJ tidak terlalu disorot tapi di film kali ini cukup mendapat porsi lebih banyak dan berhasil ditampilkan dengan baik dan tidak mengganggu keseluruhan cerita. Plot utamanya tetap terjaga dengan baik, selingan-selingan komedi khas remaja disematkan pada momen yang tepat dan membuat kita terhibur. Interaksi Peter dengan teman-temannya menjadi salah satu kelebihan film ini selain dari aksi utama Spider-Man dalam melawan karakter antagonis. Seperti film pertamanya, film ini juga menyimpan twist yang sebenarnya sudah bisa ditebak sejak dari trailer yang ditampilkan dan buat para pembaca setia Komik Spider-Man karena terkait dengan karakter Mysterio yang ternyata adalah dalang dari semuanya. Baru pada pertengahan film kita dibukakan pada masalah sesungguhnya dan fakta bahwa Mysterio adalah mantan pegawai Tony Stark yang sakit hati yang punya obsesi menjadi superhero sekaligus membalas dendam. Klimaks film ini adalah pertarungan antara Spider-Man dan Mysterio yang merupakan momen paling keren di film ini karena menyajikan trik Mysterio yang membuat Spider-Man cukup kewalahan, persis seperti di komiknya. CGI yang digunakan secara keseluruhan mampu menampilkan visualisasi aksi Spider-Man dan pertarungan antara Mysterio dan Spider-Man dengan sempurna dan sangat baik. Bukan Marvel namanya jika tidak memberikan kejutan, bagian akhir film ini memberikan kita kejutan yang sangat besar terhadap nasib Spider-Man yang harus kita tunggu setelah memasuki MCU fase 4 nanti.



    Pilihan Marvel terhadap Tom Holland untuk menjadi karakter Peter Parker/ Spider-Man tidak mengecewakan, Tom merupakan representasi Spider-Man versi remaja yang kadang canggung dalam menyeimbangkan tanggung jawabnya sebagai siswa yang masih bersekolah dan superhero namun selalu punya harapan positif terhadap setiap masalah yang dihadapi. Tom Holland memerankan karakter Peter dengan sangat baik, emosinya sebagai remaja yang terkadang bingung dalam menempatkan prioritas diaktualisasikan dengan sangat baik dan membuat penonton sangat terhubung dengan karakternya. Hal tersebut terlihat setiap kali Peter dihadapkan pada posisi sulit antara memilih menjalani hidup normal dan menjalankan tugasnya sebagai superhero dalam beberapa kejadian dalam film seperti dipanggil tiba-tiba saat sedang dalam momen bersama MJ dan berbagai momen lain. Sebagai love interest Peter, Zendaya mampu menampilkan pesona yang unik dibanding karakter-karakter MJ di film Spider-Man sebelumnya dan itu terlihat dari interaksi dan chemistry mereka yang cukup membekas di pikiran dan hati kita. Ned dan Betty (Angourie Rice) juga sukses mencuri perhatian lewat interaksi mereka yang lucu sebagai sepasang kekasih yang dimabuk asmara. Di sini kita juga diberikan interaksi lebih jauh antara Peter dan Bibi May (Marisa Tomei) dan Happy (Jon Favreau). Marisa Tomei benar-benar memberikan penampilan yang fresh dan hubungannya dengan Happy memberi warna tersendiri dalam dinamika film ini. Dari segi karakter antagonis, Mysterio yang diperankan Jake Gyllenhall tidak mengecewakan namun berada sedikit di bawah Michael Keaton dalam hal intimidasi. Jake Gyllenhall tampil meyakinkan sebagai con-artist yang membuat penonton awalnya percaya sampai momen yang menguak siapa sebenarnya Mysterio.





    Jon Watts berhasil membawakan konsep Teen action-comedy ke dalam film sekuel Spider-Man ini dengan sangat baik. Dia tetap bisa membawa tone film remaja secara konsisten seperti di film pertamanya dan di film keduanya dia meningkatkannya dengan konflik khas remaja yang dialami oleh Peter Yang notabene juga adalah superhero. Aspek interaksi Peter dan teman-temannya digarap dengan detail dan mengena selayaknya remaja pada umumnya. Formula Yang digunakan Watts hampir mirip seperti di film pertama namun naskah Yang baik dan eksekusinya yang sempurna membuat film ini sukses dan berkesan bagi penonton. Watts menyajikan isu khas remaja seperti keegoisan terhadap diri sendiri dan apa artinya memikul tanggung jawab yang besar. Kita tahu jargon dibalik kekuatan Yang besar tersimpan tanggung jawab Yang besar selalu terngiang dalam tiap Film Spider-Man dan versi Spider-Man Yang baru pun melanjutkan pesan tersebut dengan impresif. Lewat film ini Jon Watts sekali lagi membuktikan kepada Kita kenapa Spider-Man adalah karakter Marvel yang paling digemari..

    Overall : 8,5/10

    (By Camy Surjadi)



    Thursday, July 4, 2019

    ULASAN: PARASITE










    Dua tahun berselang dari film terakhirnya Okja, Bong Joon-ho kembali menggebrak dunia perfilman lewat film terbarunya yang berjudul Parasite, film ini ditayangkan pertama kali di Festival film Cannes pada 21 Mei 2019, menyusul di Korea Selatan sendiri pada 30 Mei 2019 lalu. Film ini telah mendapat banyak sambutan positif dan merupakan satu-satunya film Korea Selatan pertama yang memenangkan penghargaan palem emas (Palme d’Or), penghargaan tertinggi di Festival Film Cannes, di tahun 2019 ini. Hingga artikel ini ditulis, film ini bertahan dengan rating 98% di Rotten Tomatoes. Jika film pemenang Palme D’Or tahun 2018 lalu, Shoplifter, cenderung bersifat satu dimensi dan setia pada genre drama maka Parasite terasa lebih superior karena mengusung genre dark comedy, drama, dan thriller yang semuanya dipadukan dengan sangat apik dalam cerita dan karakter-karakternya.



    Parasite bercerita tentang Kim Ki- taek (Song Kang-ho), seorang ayah yang berprofesi sebagai supir pengangguran yang hidup bersama istrinya Choong Sook (Jang Hye-jin) dan kedua anak mereka yang berusia sepantaran anak kuliah, Ki-woo (Choi Woo-shik) dan Ki-jeong (Park So-Dam), yang menjalani keseharian mereka di ruangan semi-basement apartemen yang kumuh dan mencari penghasilan dengan melipat kotak pizza. Suatu hari Ki-woo dimintai tolong oleh temannya Min (Park Seo-joon) untuk menjadi guru Bahasa Inggris dari menggantikan dirinya mengajar seorang putri keluarga kaya raya karena ia akan kuliah di luar negeri dan harus fokus untuk ujian masuk. Ki-woo yang awalnya ragu lalu mengiyakan tawaran tersebut karena Min percaya akan keahlian Ki-woo yang sudah sering ikut wajib militer. Keesokan harinya Ki-woo mendatangi rumah keluarga Park yang putrinya diajar oleh Min, Ki-woo tampak terperangah ketika memasuki rumah keluarga tersebut yang sangat besar dan mewah. Ki-woo diterima oleh Nyonya Park (Jo Yeo-jeong) dan tanpa kesulitan berhasil membuktikan kepiawaiannya mengajar sang putri, Da-hye (Jeong-Ji-so) sehingga diterima. Sebelum berpamitan pulang, Ki-woo memandang lukisan di dinding yang dibuat oleh putra bungsu keluarga Park, Da-song (Jeong Hyun-joon) dan mendapat informasi bahwa nyonya Park memiliki pemikiran bahwa sang putra butuh guru seni yang dapat mengarahkan potensinya namun kesulitan menemukan pengajar yang sesuai. Melihat kesempatan itu Ki-woo segera mereferensikan guru seni yang menurutnya handal untuk melakukan tugas tersebut, guru seni tersebut dikatakan bernama Jessica yang tidak lain adalah adiknya Ki-jeong. Lewat bualan yang meyakinkan, nyonya Park segera meminta Ki-woo untuk membawa Jessica menemui dirinya. Tidak butuh waktu lama, Jessica pun berhasil diterima untuk menjadi guru seni Da-song. Proses invasi berantai lewat fitnah terstruktur ini pun berlanjut di mana Jessica berusaha mencari kesempatan untuk mengganti supir pribadi keluarga Park (Lee Sun-gyun) dengan sang ayah Ki-taek dan pembantu keluarga mereka Moon-kwang (Lee Jeung-Eun) dengan ibu mereka Choong Sook. Invasi mereka berhasil dan kini mereka sekeluarga hidup bekerja untuk keluarga Park tanpa keluarga Park mengetahui bahwa sebetulnya mereka saling mengenal satu sama lain. Akankah rencana mereka untuk hidup makmur berjalan dengan mulus atau bakal terbongkar oleh keluarga Park? Bagaimana taktik mereka agar rencana invasi ini tidak hancur berantakan? Premis inilah yang menjadi nafas dari cerita film Parasite yang dibawakan dengan sangat tidak biasa dan penuh kejutan di dalamnya.



    Walau tema yang diusung awalnya terkesan biasa tapi film ini memiliki gaya penceritaan yang sangat unik karena mampu menarik cerita ini jauh berkembang di luar pemikiran penonton. Seiring berjalannya cerita genre film juga ikut berubah mengikuti ceritanya, hal ini lah yang membuat kita sebagai penonton terkejut dan penasaran akan seperti apa akhir ceritanya. Bagian awal film ini yang tadinya bersifat komedi berubah menjadi thriller dan perlahan berubah menjadi drama tragedi di bagian konklusinya. Hebatnya “genre switching” ini berjalan mulus dan berhasil menggiring kita terbenam dalam cerita yang dibawakan. Di pertengahan film ini, kita disajikan dengan kejutan yang tidak disangka yang berhubungan dengan ruang bawah tanah (bunker) yang dimiliki keluarga Park. Faktor inilah yang memicu genre switching dan membuat film ini semakin menarik. Bong Joon-ho sangat piawai dalam membuat cerita dan mengarahkan fokus penonton, detil cerita dikupas secara perlahan seiring berjalannya film. Sedikit kesalahan dalam timing dan susunan cerita akan membuat cerita film ini berantakan karena film ini tidak bermain dalam genre tunggal. Plot dan subplot dipadukan dengan baik dan tidak tumpang tindih dalam film ini. Tokoh-tokoh utama senantiasa dihadapkan pada masalah dan kemalangan yang tidak terduga sehingga membuat penonton merasa gemas. Detil-detil yang kita kira tidak berarti dan hanya simbolisme ternyata menyumbang peran penting dalam perjalanan cerita sehingga akhir cerita yang berujung tragedi.





    Song Kang-ho sebagai aktor yang sudah langganan berkolaborasi dalam sebagian besar film Bong Joon-ho sangat cocok berperan sebagai ayah di sini, demikian pula aktor dan aktris yang berperan sebagai Ki-woo dan Ki-jeong serta ibu mereka Choong Sok, semuanya memerankan karakter mereka dengan pas dan punya pesona masing-masing. Demikian pula nyonya Park yang paranoid dan naif serta Tuan Park (Lee Sun-kyun )sebagai kepala keluarga yang karismatik namun agak sombong. Karakter Ki-woo dan keluarganya berada di area abu-abu dan bukan sebagai antagonis, lewat kehidupan mereka yang miris dan dalam kemiskinan kita bersimpati terhadap mereka, ketika mereka berhasil mendapat kesempatan untuk mengubah nasib mereka, penonton ikut dalam kegembiraan mereka dan terhubung dengan mereka. Penonton dibuat lebih berpihak ke keluarga Ki-woo dibandingkan keluarga Park yang notabene adalah korban di film ini. Gaya komedi yang dipilih alih-alih dramatisasi berlebihan dalam menceritakan keseharian hidup keluarga Ki-woo turut menyumbang faktor plus film ini. Ketika film berjalan, kita menyadari bahwa sistem tatanan sosial yang menciptakan kesenjangan antara keluarga miskin dan sangat kaya adalah faktor antagonis di film ini



    Sinematografi film ini terjamin secara visual berkat kepiawaian Hong Kyung-pyo, salah satu sinematografer korea terbaik saat ini yang dikenal lewat film The Wailing (2016) dan Burning (2018) yang menuai pujian dari para kritikus dan masuk nominasi film terbaik Cannes. Kita bisa melihat dari tone dan warna film ini yang indah dan soft namun mampu menampilkan kekuatan adegan dan cerita yang ingin disampaikan dari film ini.



    Bong Joon-ho sebetulnya ingin menyampaikan isu kesenjangan sosial dan kemiskinan sistematis yang dialami di berbagai tempat bahkan di negara maju sekalipun dan ketidakberdayaan pemerintah dalam mencari solusi yang efektif sehingga berujung pada celah sosial-ekonomi yang ekstrem yang direpresentasikan lewat keluarga Park dan keluarga Ki-Taek. Ketika menonton, kita sebagai penduduk Jakarta pun tidak sulit untuk merefleksikan keadaan yang sama di kota kita sendiri dan di berbagai pelosok wilayah indonesia. Selain isu kesenjangan sosial, sentilan masalah sosial yang dialami oleh keluarga menengah ke atas pun turut digambarkan dengan sindiran yang jenaka namun mengena lewat tingkah polah keluarga Park. Isu konflik antara Korut dan Korsel pun tidak lupa disematkan lewat ruang bawah tanah yang dimiliki tanah keluarga Park sebagai sindiran terselubung.



    Film ini membuktikan bahwa ide cerita sederhana yang kreatif namun fresh mampu menarik penonton, tidak perlu ide cerita yang rumit dan dramatisasi berlebihan. Bong Joon-ho sekali lagi membuktikan kepiawaiannya dalam menyajikan cerita yang penuh kejutan dan keajaiban tetapi tetap menohok isu-isu sosial kemanusiaan.


    Overall: 9,5/10

    (By Camy Surjadi)


    Sunday, June 30, 2019

    ULASAN: ANNA



    Dua tahun berselang sejak Valerian and the City of a Thousand Planets, Luc Besson kembali hadir dengan film terbarunya. Bukan lagi fantasi, kali ini Luc Besson kembali dengan film action dengan tema favoritnya yang mengedepankan seorang wanita tangguh yang pernah dia tampilkan lewat  La Femme Nikita (1990), Leon: The Professional (1994) The Messenger: The Story of Joan of Arc (1999) dan Lucy (2014). Untuk kali ini Luc Besson membawa model asal Rusia Sasha Luss yang langsung naik kelas sebagai pemeran utama setelah sebelumnya tampil sebagai pemeran pembantu di Valerian and the City of a Thousand Planets (2017) di film pertamanya.



    Mengambil setting saat masa perang dingin antara Amerika dan Rusia pertengahan 80-an, Anna (Sasha Luss) yang merasa tidak mempunyai motivasi hidup lagi ditawari menjadi seorang agen KGB yang terlatih oleh Alexander "Alex" Tchenkov (Luke Evans) yang merasa Anna mempunyai potensi yang belum dia sadari. Tawaran yang dia terima dan akhirnya menjadi agen terlatih yang diawasi langsung oleh Alex dan atasannya Olga (Helen Mirren).



    Melompat ke tahun 1990, Anna yang sudah terlatih sebagai agen menyamar berprofesi sebagai model untuk sebuah misi. Tanpa sepengetahuan dirinya, gerak-gerik Anna ternyata sudah diawasi oleh CIA yang dipimpin oleh Leonard Miller (Cillian Murphy) yang sampai akhirnya Anna terjebak pada situasi untuk memilih keberpihakan yang mana pihak manapun dia pilih sama-sama akan mengancam nyawanya sendiri. Lalu tindakan apakah yang akan diambil Anna ketika semua pilihan tidak berpihak dengan dirinya sama sekali ? Jawaban akan kita temukan di dalam filmnya.



    Tema perang dingin ataupun agen rahasia yang menyandang agen ganda bukanlah tema yang bisa dibilang sesuatu yang baru. Bahkan tema ini terasa terlalu sering dipakai yang bisa menimbulkan efek jenuh untuk sebagian penonton. Tetapi untungnya Luc Besson menyiasati hal ini dengan gaya penceritaan yang sedikit berbeda. Alur cerita maju dan mundur yang menyimpan twist atau kejutan sampai akhir konklusi akhir cerita. Selebihnya ? Hampir sebagian besar tidak ada lagi yang baru. Bahkan twist yang disimpan sangat mudah ditebak karena sudah sangat banyak kita menemui film sejenis.



    Nilai plus lainnya ditengah-tengah cerita yang sudah sangat familiar, Luc Besson menyajikan adegan laga  memukau yang ditampilkan oleh Sasha Luss dalam setiap adegan aksinya. Dan peforma Sasha juga layak diberi nilai plus sendiri yang bisa memvisualisasikan kuat dan rapuhnya karakter Anna secara bersamaan. Salah satu hal yang membuat penonton bertahan sampai akhir film jika merasa jenuh dengan plot utama ceritanya.



    Anna sebuah film action yang menampilkan ciri khas seorang Luc Besson. Hanya saja tema ceritanya seperti template dari film lain dengan menambahkan action laga yang keren. Mungkin akan berbeda penilaiannya jika kamu memang belum pernah menonton film-film bertema perang dingin sejenis dan merasakan sesuatu yang baru dari film Anna.

    Overall: 6/10

    (By Zul Guci)

    ULASAN: ANNABELLE COMES HOME



    Meskipun Warner Bross (WB) tertatih-tatih dalam membangun universe superhero DC dan rasanya sangat sulit bisa menyamai prestasi Disney dengan Marvel-nya, tetapi WB patut bisa berbangga dengan universe horrornya yang dibangun dimulai dari The Conjuring (2013). Total sudah 7 film yang dirilis dan semuanya mendapatkan keuntungan box office yang tidak sedikit. Dan sekarang hadir film bagian ketiga dari boneka menyeramkan Annabelle yang mana dua film sebelumnya jika laris manis ketika tayang di Indonesia.



    Untuk seri ketiga Annabelle kembali jarak timeline waktunya cukup jauh dengan film sebelumnya Annabelle pertama di tahun 1967, yang kedua Annabelle: Creation tahun tahun 1955 dan lalu untuk yang ketiga mengambil setting tahun 1972. Annabelle Comes Home justru mengambil setting setahun setelah kejadian The Conjuring pertama di tahun 1971. Dan untuk pertama kalinya kita akan melihat pasangan suami-istri Ed dan Lorraine Warren muncul diluar film The Conjuring. Tidak tanggung-tanggung untuk plot utama yang diangkat Annabelle Comes Home adalah apa yang terjadi jika kamu masuk ke kamar koleksi artefak-artefak berkekuatan jahat yang di rumah keluarga Warren ? Pertanyaan yang akan dijawab lewat Annabelle Comes Home.



    Cerita dibuka dengan prolog ketika Ed (Patrick Wilson) dan Lorraine (Vera Varmiga) yang membawa boneka Annabelle dari asrama putri yang sempat muncul di The Conjuring pertama. Dalam perjalanan pulang itu Ed dan Lorraine sadar jika Annabelle mempunyai kekuatan jahat yang cukup kuat yang membuatnya mendapat tempat khusus sendiri di dalam kamar koleksi artefak mereka berdua.


    Disisi lain putri mereka Judy (McKenna Grace) menghadapi situasi sulit disekolah yang tidak ingin dia ceritakan pada kedua orang tuanya. Satu-satunya teman berbagi cerita Judy ada pada pengasuhnya Marry Ellen (Madison Grace) yang mana hubungan mereka sudah seperti hubungan adik-kakak. Pada suatu ketika Ed dan Lorraine kembali harus berpergian dan meningggalkan Judy bersama Marry Ellen. Hari yang cukup berjalan normal ketika Daniela (Katie Sarife) sahabat dekat Marry datang berkunjung dengan maksud tertentu. Tanpa sepengetahuan Judy dan Mary, Daniela menerobos masuk ke kamar koleksi artefak magis keluarga Warren yang akhirnya tanpa disengaja mengeluarkan boneka Annabelle dari tempat seharusnya yang akhirnya menjadi pemicu kejadian-kejadian aneh yang mereka alami dan mengancam nyawa mereka tanpa ada pertolongan dari Ed dan Lorraine yang sedang berpergian.



    Gary Dauberman sang sutradara yang sebelumnya lebih banyak terlibat dalam penulisan skenario sedikit membawa ke arah berbeda untuk Annabelle Comes Home ini. Tidak seperti seri-seri sebelumnya yang sarat jumpscare yang sudah dirasakan dalam 30 menit pertama, Gary Dauberman menahan semua itu dengan tempo yang cukup lambat untuk memberi porsi dan menguatkan para background karakter-karakter utamanya. Strategi yang cukup berhasil, pengembangan karakternya berjalan tepat sasaran. Contoh karakter Daniela yang merupakan karakter tipikal film-film karakter bodoh dalam film horror yang melakukan hal bodoh yang menjadi biasanya pemicu sumpah serapah penonton, tetapi Dauberman mampu meramunya yang membuat penonton cukup memahami tindakan yang dilakukan oleh Daniela.


    Dalam satu sisi dengan temponya yang lambat yang memang dimaksudkan untuk memperkuat karakternya, di satu sisi juga bisa memberikan efek bosan pada penonton yang sudah terbiasa dengan tone film-film universe Conjuring sebelumnya, terlebih penonton awam. Dauberman seperti ingin menduplikasi ritme James Wan dalam setiap film-film horrornya mengeksplorasi nuansa horror dengan suasana ruangan, tetapi sayangnya Dauberman harus masih banyak belajar lagi dari sang maestro tersebut. Hal itu terlihat dari kamar koleksi barang-barang magis terlewatkan begitu saja yang memancing rasa takut atau was-was penonton ketika hantunya muncul.


    Annabelle Comes Home hadir dengan cara yang berbeda dengan film-film universe The Conjuring sebelumnya, hanya saja untuk Annabelle hanya kuat dipembangunan karakter tetapi kurang menggali potensi lainnya yang ada pada film ini yang harusnya bisa menjadikan Annabelle Comes salah satu seri yang terbaik dari universe The Conjuring.

    Overall: 7/10

    (By Zul Guci)