Thursday, June 11, 2020

    ULASAN: ONLY, DRAMA-ROMANSA DITENGAH-TENGAH PANDEMIC PUNAHNYA SEMUA WANITA DI DUNIA



    Sebuah film yang menceritakan perjuangan sekelompok manusia yang mencoba bertahan di tengah-tengah situasi wabah atau pandemic yang menyerang sudah sering kita temui. Beberapa yang sangat memorable ada seperti Contagion atau Children of Men. Dari kedua film itu yang membuatnya menarik adalah bukan hanya sekedar bertahan hidup, tetapi bagaimana beradaptasi dengan situasi dimana kompas moral kita sebagai manusia juga berubah.  Hal yang sama juga merupakan premis dari film drama-romance berjudul Only ini yang dibintangi oleh  Freida Pinto (Slumdog Millionaire, Knight of Cups) dan Leslie Odom Jr (Murder on the Orient Express, Harriet). Lalu sutradara ada nama Takashi Doscher yang lebih banyak aktif dalam menyutradarai film-film pendek sebelumnya. Only merupakan fim panjang ketiga Takashi sebagai sutradara dan penulis naskah.


    Only bercerita ketika sebuah komet yang hancur sebelum menghantam bumi yang abunya menghujani daratan tanpa diketahui membawa virus yang tidak pernah terduga. Virus mematikan yang hanya berdampak pada wanita yang sangat mudah menular pada wanita lainnya. Dalam waktu yang singkat populasi wanita di dunia mengalami jumlah kematian yang sangat tinggi dan cepat yang juga berarti mengancam kepunahan manusia di bumi. Eva (Freida Pinto) yang sejak hari pertama terlindungi karena tidak berada diluar adalah salah satu yang selamat dan belum terpapar virus. Bersama pacarnya Will (Leslie Odom Jr) yang menjadi sangat protektif dalam melindungi Eva, mereka berdua juga menyaksikan bagaimana dunia perlahan menjadi sekarat ketika populasi wanita semakin dekat kepunahan. Merasa memang tidak punya masa depan yang menunggu, Eva dan Will merencanakan sebuah perjalanan terakhir ke sebuah tempat yang ingin mereka kunjungi sejak dulu ditengah-tengah dimana keberadaan wanita yang masih sehat sangat dicari oleh pemerintah untuk dijadikan penelitian dan mengamankan sisa-sisa wanita terakhir.


    Premis cerita yang cukup menarik bukan ? Dengan premis seperti itu sangat memancing rasa penasaran untuk mencoba menonton. Well, jika kamu mengira Only yang mempunyai struktur cerita drama yang intens dan kuat seperti Children of Men dan Contagion maka sebaiknya singkirkan dulu hal itu. Karena film akan fokus kepada dua karakter utamanya saat menghadapi situasi pandemic yang diceritakan secara back to back saat hari pertama virus menyerang dan saat pasca virus sudah mengubah dunia. Tidak seperti Contagion ataupun Children of Men dimana karakter utama sebagai orang biasa terlibat dalam sebuah masalah yang lebih besar mengenai keberlangsungan kehidupan yang membuat cerita makin kompleks, maka Only jauh lebih dari sederhana dari itu.


    Alur cerita yang yang sangat lambat mungkin sedikit akan menguji kesabaran. Terlebih dialog atau komunikasi antara Eva dan Will padat dengan subteks. Adegan demi adegan mengarahkan penonton untuk mencoba memahami Eva dan Will yang alih-alih membantu pemerintah dalam mencoba mengamankan wanita-wanita yang tersisa untuk dilindungi, Eva dan Will lebih memilih bersembunyi dan melakukan perjalanan terakhir  yang berbahaya.`


    Only mungkin bukanlah film terbaik jika dibandingkan dengan film-film sejenis. Fokus kepada dua karakter utamanya,  film ini ingin menyampaikan sebuah pertanyaan, bagaimana jika pasangan atau salah satu orang yang kamu sayangi adalah satu-satunya wanita yang tersisa di dunia ? apakah kamu rela menyerahkannya kepada orang lain untuk sesuatu yang lebih besar, seperti menyelamatkan dunia yang belum tentu berhasil atau lebih memilih pasrah jika dunia memang sudah mencapai akhirnya dan lebih memilih menghabiskan waktu-waktu terakhir untuk bersama ? Sebuah pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh penonton.

    Overall: 7/10

    NB: Only bisa ditonton lewat aplikasi Kilk Film yang terdapat di Playstore dan IOS

    Monday, May 11, 2020

    ULASAN: TRUE HISTORY OF KELLY GANG


     

    Pernah menonton film yang dibintangi mendiang Heath Ledger yang berjudul Ned kelly (2003) ? Film semi-biopik yang menceritakan salah satu cerita antihero Ned Kelly dari Australia tahun 1880 yang sering disandingkan dengan legenda Robin Hood. Sebelumnya tahun 1970 Ned Kelly juga sempat diadaptasi ke film yang dibintagi oleh vokalis Rolling Stone Mick Jagger. Tahun ini sang antihero kembali difilmkan dengan menampilkan sisi lain dan mempunyai cerita jauh berbeda dibandingkan 2 film yang disebutkan diatas berjudul True History of the Kelly Gang.


    True History of the Kelly Gang mengambil adaptasi novel berjudul sama yang ditulis oleh Peter Carey. Film yang disutradarai oleh Justin Kurzel (Macbeth, Assasins Creed) dan dibintangi oleh George Mackay (1917, Captain Fantastic) sebagai pemeran Ned Kelly dewasa. lalu pemeran lainnya membawa nama-nama besar seperti Russel Crowe (Robin Hood, American Gangster), Charlie Hunnam (Pacific Rim, The Gentleman), Nicholas Hoult (X-men First Clas, Warm Bodies) dan Thomasin McKenzie (Jojo Rabbit, The King).


    Film dibuka dengan masa kecil Ned Kelly yang sudah merasakan bagaimana kerasnya hidup.Keluarga Ned sendiri adalah rakyat Irlandia yang dipaksa migrasi ke Australia oleh pemerintah Inggris. Tinggal jauh dari kota dan selalu menjadi objek diskriminasi polis-polisi lokal sudah menjadi santapan harian Ned kecil dan keluarga yang ditambah dengan sang ayah yang kehilangan perannya sebagai pemimpin rumah tangga di mata keluarganya sendiri. Melindungi Ibu dan adik-adiknya adalah prioritas utama dari Ned.


    Ned kecil dipertemukan dengan Harry Power (Russel Crowe) seorang perampok dan pencuri yang berpengaruh membentuk Ned dewasa. Ned dewasa yang awalnya hanya ingin hidup tenang untuk menjadi petani makin banyak mendapatkan diskriminasi terlebih setelah perkenalannya dengan polisi Constable Fitzpatrick (Nicholas Hoult) makin memperburuk keadaan yang membuat Ned sangat membenci polisi semakin menjadi-jadi dan berbuah tindakan kriminal dalam bentuk perampoak dan pembunuhan yang dilakukan oleh Ned yang juga pemimpin gang.


    Seperti yang sudah disebut diatas, True History of the Kelly Gang mempunyai cerita yang berbeda dibandingkan dua film sebelumnya. Cerita lebih fokus pada hal apa yang membentuk Ned menjadi orang yang keras dan brutal. Faktor-faktor yang mendorong tindakan kriminal yang dia lakukan. Jadi jangan harap kamu akan melihat sebuah scene perampokan yang keren seperti dua film sebelumnya karena film ini sangat terasa lebih ke drama psikologis yang dibumbui dengan beberapa adegan brutal.


    George Mackay cukup tampil maksimal sebagai Ned dewasa, tapi poin lebih layak diberikan kepada Orlando Schwerdt yang memerankan Ned kecil yang hanya muncul 30 menit pertama tetapi sudah memerlihatkan fondasi karakter Ned yang pemberontak dan pemimpin. Russel Crowe yang juga jauh lebih singkat muncul dalam film ini juga berhasil mencuri perhatian. Dan semua seakan disempurnakan oleh penampilan Nicholas Hoult sang antagonis dalam film ini yang sangat jarang kita melihat dia memerankan karakter sangat memancing emosi penonton untuk mengucap sumpah serapah.


    True History of the Kelly Gang mempunyai alur cerita yang lambat yang tetap memikat. Meskipun kebenaran dalam film ini masih perlu dilakukan riset sendiri, tetapi film ini menampilkan memberikan sudut pandang yang berbeda mengenai sang tokoh legendaris yang tidak kita temui pada dua film sebelumnya.

    Overall: 8/10

    NB: True History of the Kelly Gang  sudah bisa ditonton lewataplikasi Klik Film

    Thursday, May 7, 2020

    ULASAN: START-UP



    Jika di Indonesia adaptasi cerita dari wattpad ke media film sedang menjadi tren, maka di Korea adaptasi serial webtoon ke media film atau tv serial juga sudah menjadi tren yang cukup lama bertahan. Bahkan adaptasi webtoon ke film yaitu dwilogi Along wih Two Gods sukses mencatatkan sebagai salah satu film tersukses dalam mendulang pemasuakn atau penonton. Dan kali ini peruntungan dicoba oleh Start Up yang sudah populer terlebih dahulu lewat serial webtoon-nya. Serial yang bergenre komedi ini diadaptasi menjadi film dibintangi oleh Park Jung-min (The King, Unforgettable),  Ma Dong-seok (Train to Busan, Ashfall), dan Jung Hae-in (Salute D'Amour, The Age of Blood).



    Star-Up bercerita dari tentang Taek-Il (Park Jung-Min) pemuda berusia 18 tahun pemberontak yang masih mencari jati diri. Tinggal bersama ibunya yang memintanya untuk melanjutkan sekolah yang selalu ditolak Taek-Il dan melawan apa yang diinginkan ibunya. Hari-hari perdebatan mereka berdua sudah menjadi kebiasan di rumah mereka. Satu-satunya yang bisa memahami Taek-Il adalah sahabatnya Sang-Pil (Jung Hae-In). Suatu hari, Taek-Il tiba-tiba meninggalkan rumah dan pergi ke Gunsan, Provinsi Jeolla Utara. Sebuah keputusan yang diambil secara impulsif.


    Di kota yang dipilih secara acak itu Taek-Il mendapat pekerjaan pengiriman di restoran Cina. Di sana, dia mulai berhubungan dengan orang-orang baru yang mengisi hari-harinya, dimulai dari atasannya tempat Taek-Il bekerja Owner Kong (Kim Jong-Soo), Bae Gu-Man (Kim Kyung-Duk) partner Taek-Il mngantarkan pesanan pelanggan, lalu juru masak Geo-Seok (Ma Dong-Seok) pria yang menyembunyikan dan kekuatan masa lalunya dengan gaya nyentriknya. Lalu juga Taek-Il juga secara tidak sengaja berhubungan dengan gadis seusianya yang juga melarikan diri Kyung-Joo (Choi Sung-Eun). Sementara itu, Sang-Pil mulai bekerja di kantor pinjaman swasta dan Ibu Taek-Il (Yum Jung-Ah) memulai usaha barunya tanpa sang anak yang melibatkannya pada masalah yang lebih berat.


    Start-Up disajikan sederhana dengan beberapa subplot yang muncul ditengah-tengah plot utama Taek-Il dalam mencari jati dirinya. Subplot yang menceritakan latar belakang karakter-karakter lainnya yang punya permasalahn tersendiri. Sayangnya banyaknya subplot membuat plot utama terasa tidak fokus yang seperti kebingungan. terlalu banyak yang ingin disampaikan dengan durasi yang kurang dari 2 jam.


    Untungnya dengan dengan durasi yang cukup singkat Start-Up masih sangat menghibur dengan komedinya dan drama yang makin kental terasa 30 menit terakhir yang buat saya bagian terbaik dari filmnya. Sementara untuk penampilan Ma Dong-seok yang paling mencuri perhatian yang sering kita lihat memainkan karakter keras, di film ini ma Dong-seok menampilkan sisi lainnya dalam berakting yang belum pernah kita lihat sebelumnya meskipun masih belum bisa terlepas dari peran keras seutuhnya.


    Start-Up film komedi ringan yang memang tida terlalu luar biasa, tetapi masih mampu menghibur penonton. Raihan jutaan penonton di negara asalnya adalah satu bukti kenapa Start-Up masih sangat menghibur, terlebih kapan lagi kita bisa melihat Ma Dong-seok memerankan karakter yang menggemari k-pop dan melakukan gerakan-gerakan dance girld band ?

    Overall: 7/10

    NB: Start-Up sudah bisa ditonton lewat aplikasi klik Film yang terdapat di Playstore dan IOS 

    Friday, May 1, 2020

    ULASAN: WHITE SNAKE



    Sebelum menonton film animasi White Snake ini saya tidak ingat pernah menonton film animasi yang diproduksi oleh tiongkok. Paling jauh film dari negeri tersebut film fantasi dengan balutan CGI yang tidak terlalu memukau bagi saya. Dan ketika melihat info mengenai film ini juga tidak terlalu memancing minat saya. Sampai saya akhirnya melihat trailernya sendiri dan mengubah menjadi ketertarikan untuk coba menonton.


    White Snake sebuah animasi hasil kerjasama antara Light Chaser Animation Studios, perusahaan animasi yang berpusat di China dengan Warner Bross. Untuk cerita sendiri buat generasi 90-an mungkin sangat familiar dengan cerita legenda siluman ular putih yang menceritakan kisah cinta terlarang antara manusia dang siluman ular putih. Legenda yang sudah sering diadaptasi menjadi film, yang salah satunya The Sorcerer and the White Snake (2011) yang dibintagi oleh Jet Li.


    Dalam film animasi ini sendiri kembali menceritakan kisah cinta pertemuan antara sang tokoh utama pria Ah Xuan (Yang Tianxiang) seorang pria biasa yang mempunyai banyak keinginan pada suatu saat menemukan Blanca (Zhang Zhe) yang pingsan di suatu tempat disaat Ah Xuan sedang berburu ular. Setelah sadar Blanca mengalami hilang ingatan. Dalam proses mencoba mengingat kembali siapa dirinya Ah Xuan selalu menemani Blanca yang perlahan ada perasaan romansa yang tumbuh pada mereka berdua.


    Lambat laun Blanca yang mulai mengingat dirinya mendapat serangan demi serangan dari siluman dan menjadi buruan pengawal kerajaan. Atas bantuan wanita rubah pembuat barang-barang mistis dengan wujud rubah (Xiaopu Zheng) akhirnya Blanca kembali mengingat dirinya. Sekarang kisah cinta Ah Xuan dan Blanca diuji ketika mereka menyadari jika mereka berasal dari dua dunia yang berbeda yang tidak akan bersatu. Semua makin memburuk ketika Verta (Tang Xiaoxi) kakak dari Blanca muncul untuk mengingatkan tugas yang harus diselesaikan Blanca, yaitu membunuh jendral kerajaan yang mendalami ilmu hitam yang mengambil sumber energi dari ular-ular yang mengancam klan siluman-siluman ular. Perang antar manusia dan siluman tidak terelak dan kisah cinta Ah Xuan dan Blanca berada di tengah-tengahnya.


    Dari tidak tertarik menjadi sebaliknya saat melihat trailernya dibayar lunas ketika menonton keseluruhan filmnya. Jujur saya cukup suprise dengan visual animasi White Snake. Visual yang tidak kalah dari film animasi-animasi hollywood yang kita lihat kebanyakan. Salah satu hal yang paling saya suka darivisual adalah detail dari fisik karakter asia.


    Ketika visual sudah mendukung, plot cerita yang dalam White Snake meskipun sedkit terkesan terasa agak buru-buru tapi masih cukup rapi dalam penyampaian ceritanya. Untuk yang sudah tahu seperti apa cerita legenda ini pun masih akan sangat terhibur dengan momen-momen pertarungan yang ada dalam filmnya yang jauh lebih banyak memasukan unsur fantasi yang tidak pernah kita temui di film-film adaptasi lainnya. Jika yang sudah mengetahui cerita legenda ini sangat terhibur apalagi yang baru mengetahuinya dari film ini.


    Dengan visual yang tidak kalah dengan animasi-animasi dari hollywood yang menjadi kiblat saat ini, White Snake berhasil memberikan tontonan yang sangat menghibur. Sangat berharap Light Chaser Animation Studios akan jauh lebih aktif lagi meproduksi film-film animasi lainnya. sehingga kita makin banyak mendapat alternatif tonton animasi selain dari hollywood.


    Overall: 8,5/10


    NB: Film nimasi White Snake terdapat secara secara ekslusif dan ditonton melalui aplikasi Klilk Film.


    Thursday, April 16, 2020

    ULASAN: THE BEATLES EIGHT DAYS A WEEK-THE TOURING YEARS



    Masukan saya dalam list sebagai salah satu orang dalam daftar generasi 90-an yang tidak terlalu banyak tahu mengenai The Beatles. Tumbuh di desa akses saya pada penyanyi-penyanyi luar saat kecil hanya dari album-album Bryan Adams dari kepunyaan Tante. Perkenalan pertama saya pada The Beatles saat lagunya 'Hey Jude' diparodikan dalam bahasa minang. Dari sana saya mulai mengenal lagu-lagu mereka lainnya yang juga sering saya dengar di cover oleh banyak penyanyi lain.. Tapi lagi-lagi, hanya sekedar tahu saja. Dan The Beatles Eight Days a Week (TBEDAW) film dokumenter pertama mengenai band ini yang saya tonton.



    Dengan judul diambil dari salah satu judul lagu populer band asal Liverpool ini, film dokumenter yang disutradarai oleh Ron Howard (Rush, Inferno)  merangkai footage-footage perjalanan 4 tahun pertama (1962-1966) band ini dalam mendapatkan popularitasnya. Footage-footage yang sebagian besar belum pernah dipublis sebelumnya. Dalam film dokumenter ini kita akan diperlihatkan tapak tilas perjalanan band yang digawangi oleh John Lennon, Paul McCartney, George Harrison, dan Ringo Starr menuju puncak popularitas.



    Pada 15 menit pertama kita akan diperlihatkan bagaimana mula terbentuk The Beatles yang hanya awalnya mengisi acara dari bar ke bar lokal kecil lalu ditemukan oleh Brian Epstein dan kelakmenjadi manajer The Beatles yang sangat bisa mencium potensi yang sangat besar pada band ini. Insting yang sangat kuat Berian Epstein itu terbukti benar ketika The Beatles dengan waktu yang tidak lama membuat dunia musik atau hiburan sangat heboh pada itu. 4 tahun pertama (1962-1966) perjalanan The Beatles adalah waktu tersibuk untuk mereka yang menyanyi dari panggung ke panggung dan tiket selalu terjual habis.



    Dokumenter ini mengambil dari sudut pandang dari 4 punggawa The Beatles yang menceritakan perkenalan mereka masing-masing, proses dalam penciptaan lagu, cerita-cerita di belakang panggung saat mereka akan konser di suatu tempat hingga masalah-masalah yang mereka hadapi. Dua anggota The Beatles yang masih hidup Paul McCartney dan Ringgo Starr tentunya bisa dihadirkan sebagai narasumber secara langsung yang menceritakan sudut pandang mereka. Untuk sudut pandang John Lennon dan George Harrison diambil dari kumpulan rekaman interview media radio/televisi yang pernah dilakukan.



    Semua anggota The Beatles juga hampir tidak percaya jika musik mereka membawa mereka pada puncak popularitas yang bahkan tidak mereka bayangkan. Di film ini juga kita akan melihat bagaimana perlahan popularitas membuat mereka berempat jenuh dan merebut masa muda mereka hingga terciptanya sebuah lagu 'The Help'. Saya sendiri sampai ulang-ulang mendengarkan lagi ini setelah menonton film (saya pernah dengar lagu ini, tetapi tidak pernah memperhatikan isi liriknya) dan bagaimana lirik lagunya benar-benar terasa sangat dalam dan kuat yang tersembunyi rasa penyesalan.  Harga sebuah popularitas yang harus mereka bayar.



    Selain itu Ron Howard juga memperlihatkan bagaimana pengaruh musik The Beatles pada dunia. Kenapa semua orang pada masa itu sangat menyukai musik mereka yang diwakili oleh Whoopi Goldberg dan Sigourney Weaver yang juga menjadi salah satu saksi kejayaan The Beatles di tahun itu sebagai penggemar.



    Untuk saya yang memang tidak tahu banyak mengenai The Beatles, film dokumenter sangat banyak memberikan informasi baru pada saya dan mulai memahami kenapa The Beatles sangat digilai dan kenapa lagu-lagu mereka sampai sekarang masih sering kita dengar.

    Overall: 8/10

    NB: The Beatles: Eight Days A Week - The Touring Years bisa sobat-sobat Gila Film tonton lewat aplikasi Klik Film

    Tuesday, April 14, 2020

    ULASAN: THE BATTLE 'ROAR TO VICTORY



    Penonton Indonesia bisa dibilang cukup beruntung. Menjamurnya layar bioskop juga membawa angin segar lewat film-fim luar yang tayang makin beragam. Salah satu negara yang sudah sangat sulit untuk dipisahkan dari penonton Indonesia dengan film-filmnya adalah Korea yang dari semua genre sudah pernah tayang di layar bioskop kita. Untuk film bertema sejarah perjuangan rakyat Korea saat penjajahan Jepang juga sudah banyak yang tayang. Yang paling kita ingat salah satunya Battleship Island yang sempat menduduki posisi pertama film Korea terlaris sepanjang masa di Indonesia sebelum akhirnya digeser oleh Parasite. Dan saat ini ada lagi film bertema sejarang perjuangan berjudul The Battle: Roara to Victory. Film yang disutradarai oleh Won Shin-yun yang membuat kita terpukau lewat film action yang dia sutradarai berjudul The Suspect (2013) dan dibintangi Gong Yoo.


    The Battle: Roar to Victory yang dibintangi Yu Hae-jin, Ryoo Joon-yeol, dan Jo Woo-Jin yang
    Jumlah penonton film The Battle: Roar to Victory berhasil memecahkan rekor box office di Korea Selatan  The Attorney dan Ode to My Father bercerita tentang penjajahan Jepang di Korea pada 1920an di kawasan Bongo-dong dimana saat itu Korea tunduk pada Jepang. Kelompok-kelompok perlawanan mulai muncul untuk memperjuangkan kemerdekaan. Kelompok-kelompok dengan bermacam stastus sosial berbeda tetapi mempunyai satu keinginan yang sama yaitu kemerdekaan.



    Salah satu kelompok perjuangan yang dipimpin Hae-chul (Yoo Hae-jin) bersama bawahannya melakukan operasi pengiriman dana kepada Pemerintahan Sementara Korea di Shanghai. Dalam operasi itu, Hae-chul bertemu dengan Jang-ha, seorang komandan pasukan muda dan merupakan ahli penembak jitu yang misinya membela kawasan Samdunja. Pertemuan tersebut membuat mereka bekerja sama untuk menjebak tentara Jepang di Samdunja. Sebuah strategi yang sepertinya menjadi sebuah strategi jitu untuk menyudutkan Jepang itu ternyata harus banyak mengorbankan banyak hal dan makin terlihat mustahil berhasil. Satu-satunya misi itu bisa berjalan adalah yang mengancam nyawa semua pasukan.



    Lewat adegan pembuka yang yang sudah berhasil menarik perhatian, berlanjut penonton akan dibawa mengenali karakter-karakternya ditengah plot cerita yang sedang berjalan. Tetapi pastikan perhatian kamu tidak teralih, karena pengenalan karakter ini cukup berjalan cepat karena akan lebih banyak adegan pertempuran yang akan memacu adrenalin penonton. Kita akan banyak menyaksikan visual bagaimana kekejaman Jepang dan bagaimana keterbatasan dan tersudutnya para pejuang dalam pertempuran. 


    Tipikal film perjuangan kemerdekaan dari negara manapun, antagonis yang ada pada penjajah digambarkan sangat tidak manusiawi. Untuk yang sudah banyak menonton film sejenis ini akan sangat mudah menebak plotnya akan ke arah mana. Tetapi untungnya film lebih fokus pada visual pertempuran ala David vs Goliath. Hampir satu jam lebih kita disajikan pertempuran demi pertempuran dan kejar-kejaran antar pejuang dan Jepang yang membuat penonton banyak menahan nafas. Jika kamu menyukai film-film sejenis Taegukgi, Battleship Island atau My Way, maka The Battle: Roar to Victory salah satu yang tidak boleh dilewatkan.

    Overall: 7,5/10

    NB: The Battle: Roar to Victory bisa ditonton secara streaming memalui aplikasi Klik Film











    Saturday, April 11, 2020

    ULASAN: THE PEANUT BUTTER FALCON



    Tidak bisa dipungkiri kalau kita semua setuju jika Shia Labeouf adalah salah satu aktor berbabakat hollywood. Ketika di usia yang masih belasan tahun, Shia sudah bermain dan beradu akting dengan aktor-aktor seperti Will Smith (I, Robot), Keanu Reeves (Constantine). Tidak hanya itu, Shia juga pernah bekerjasama dengan sutradara yang sudah mempunyai nama besar juga sempat memakai jasanya seperti Michael Bay (Trilogy pertama Transformers) David Ayer (Fury) bahkan Steven Spielberg (Indiana Jones and the Kingdom of the Crystal Skull). Sayangnya karena masalah kepribadian dan temperamen membuatnya sering jadi objek negatif media dan membuat kariernya naik-surut di hollywood. Untungnya Shia selalu bisa menemukan cara untuk bangkit lagi yaitu lewat berkarya. Tahun 2019 bisa dibilang salah satu tahun terbaik Shia. Karena di tahun itu ada dua film yang dia bintangi mendapat respon positif. Yang pertama The Peanut Butter Falcon dan yang kedua adalah Honey Boy. Dalam film Honey Boy, Shia bahkan menulis naskahnya sendiri. Hal itu tentu saja makin menguatkan dia sebagai salah satu aktor yangmempunyai talenta lain selain berakting yang membuat kariernya lebih panjang. Dan untuk film yang kita ulas kali ini adalah The Peanut Butter Falcon.



    Zak (Zack Gottsagen), pria dengan down sindrom berusia 22 tahun yang tinggal di panti jompo karena tak memiliki siapapun lagi. Zak sangat menyukai gulat bebas yang sering dia tonton dan menginspirasinya bercita-cita menjadi seorang pegulat seperti sang idola, The Salt Water Neck (Thomas Haden Church). Hal yang membuatnya ingin melarikan diri dari panti untuk mengejar cita-cita tersebut. Setelah beberapa kali gagal, Zak akhirnya berhasil melarikan diri seorang diri untuk menuju ke tempat The salt Walter Neck untuk bisa berlatih gulat.



    Dalam pelarian tersebut, Zak bertemu dengan Tyler (Shia LaBeouf), seorang nelayan yang juga dalam pelarian setelah terlibat masalah dengan nelayan lokal lainnya yang membuat Tyler diburu untuk dihakimi. Tyler yang hidupnya berantakan pasca meninggalnya sang kakak (Jon Bernthal) terpaksa harus melarikan diri yang akhirnya mempertemukannya dengan Zak. Dengan dua kepribadian yang berbeda mereka berdua melakukan sebuah perjalanan, petualangan dan menemukan arti sebuah ikatan pertemanan dan keluarga.



    Film yang disutradarai oleh duo Tyler Nilson and Michael Schwartz yang juga menulis naskah merupakan film debut mereka berdua sebagai sutradara film panjang. Membawa nama-nama besar ikut terlibat dalam film dengan cerita yang sangat sederhana ini. Selain Shia LaBeouf ada Dakota Johnson (Suspiria, Bad Times at the El Royale), John Hawkes (Contagion, Lincoln), Jon Bernthal (The Punisher,The Walking Dead) dan Thomas Haden Church (Spider-man 3, John Carter)


    The Peanut Butter Falcon menawarkan plot cerita yang tidak baru. Kita sudah banyak menjumpai film dengan cerita sejenis ini. Yang membuatnya istimewa adalah karakter-karakter dalam film ini, terutama 2 karakter utama Zak dan Tyler. Dua karakter yang sudah kalah sebelum bertarung dengan dunia karena situasi yang menempatkan pada posisi itu. Tetapi alih-alih makin terpuruk atau tenggelam dalam keadaan tersebut, mereka berdua mencoba untuk keluar pada kondisi tersebut yang mereka temukan pada seorang 'teman'.


    Sutradara dan penulis Tyler Nilson dan Michael Schwartz juga menampilkan karakter Zak dan Tyler dalam film ini dengan amat baik. Jika Shia LaBeouf yang memerankan Tyler adalah emas dalam film ini, maka Zack Gottsagen yang memerankan Zak adalah berliannya. Kita tidak meragukan talenta Shia, tetapi melihat Zack yang memang benar pengidap down sindrom berakting dan mengimbangi Shia yang sudah sangat berpengalaman dalam berakting, memberikan pengalaman berbeda tersendiri bagi kita yang menonton yang jarang menjumpai hal ini. Dan disini kenapa duo sutradara layak diberikan pujian tersendiri yang bisa menemukan Zack Gottsagen untuk memerankan Zak. Penampilan Shia dan Zack yang sangat baik juga didukung oleh karakter-karakter lainnya yang memberikan lebih dari sekedar pemeran pendukung. Dakota Johnson, John Hawkes dan Thomas Haden Church juga berhasil manarik perhatian.


    The Peanut Butter Falcon sebuah film biasa dengan cerita biasa dan dengan karakter-karakter dari orang-orang  biasa meninggalkan kesan yang tidak biasa pada penontonnya. Film yang ingin kamu tonton lagi ketika butuh sesuatu yang memotivasi. Dalam keadaan terburuk sekalipun ada hal sesuatu yang baik disana.

    Overall: 9/10

    The Peanut Butter Falcon saat ini bisa dionton lewat layanan streaming Klik Film yang bisa di download di playstore dan appstore.