Thursday, November 21, 2019

    ULASAN: FROZEN 2



    Film animasi Frozen (2013) dapat dikatakan sebagai masterpiece animasi original Disney di era modern, Frozen merupakan animasi peraih pendapatan gross tertinggi sepanjang masa mencapai 1,2 milliar USD (sebelum akhirnya The Lion King versi 2019 menempati peringkat pertama). Untuk ceritanya Disney mengambil inspirasi cerita Frozen dari dongeng Hans Christian Andersen “the Snow Queen” yang terbit tahun 1845. Dengan karakter-karakter yang kuat serta soundtrack yang “catchy”, Disney berhasil membuat cerita Frozen disukai banyak orang sehingga menjadi hit dan paling banyak dibicarakan di kala itu. Enam tahun berselang, Disney merilis sekuelnya, Frozen 2 yang tentu saja disambut gembira. Dalam sekuelnya kali ini semua pihak yang terlibat dalam film pertamanya kembali seperti sutradara Chris Buck dan Jennifer Lee, produser Peter Del Vecho, penulis lagu Kristen Anderson-Lopez dan Robert Lopez, serta komposer Christophe Beck. Begitu pun para voice cast dalam film pertamanya Idina Menzel, Kristen Bell, Jonathan Groff, Josh Gad, Santino Fontana, Ciarán Hinds, dan Alan Tudyk yang kembali mengisi suara karakter mereka. Kali ini mereka didukung oleh voice cast baru Sterling K. Brown, Evan Rachel Wood, Alfred Molina, Martha Plimpton, Jason Ritter, Rachel Matthews, dan Jeremy Sisto. Frozen 2 ini dirilis oleh Walt Disney Pictures di US pada 22 November 2019 dan ditayangkan di bioskop indonesia pada 20 November 2019.



    Kisah dalam Frozen 2 mengambil setting waktu 3 tahun berselang dari kejadian di film pertamanya, Elsa dan Anna hidup damai bersama segenap rakyat Arendelle. Kristoff, Sven, dan Olaf juga telah tinggal bersama mereka di Arendelle. Suatu malam Elsa mendengar suara misterius dari utara yang memanggilnya dan bertekad untuk menyelidikinya. Hal ini karena ia teringat cerita masa kecil dari ayah dan ibunya yang mengatakan bahwa ada hutan misterius tempat tinggal rakyat Northuldra tetapi akses ke hutan tersebut telah tertutup oleh kabut magis. Bersamaan dengan suara misterius tersebut roh keempat elemen ternyata juga ikut terbangun, mereka lalu mendatangi Pabbie (Ciarán Hinds) sang pemimpin Rock Troll untuk mencari jawaban. Pabbie mengatakan mereka harus pergi ke hutan tersebut dan mencari jawaban di sana yang terkait masa lalu mereka sekaligus untuk membawa keseimbangan kembali bagi keempat roh elemen (air, api, angin, dan tanah/ bumi). Anna yang tidak ingin membiarkan Elsa mencari jawaban itu sendiri karena mengkhawatirkannya menemani Elsa bersama-sama Kristoff, Sen, dan Olaf. Akankah mereka berhasil menemukan jawaban misteri masa lalu mereka dan apa sebenarnya yang menanti mereka di hutan misterius tersebut?



    Frozen 2 adalah sekuel yang memuaskan dan memberikan konklusi yang bagus untuk hal-hal yang belum terjawab dalam film pertamanya. Dari segi cerita benar-benar dikembangkan secara lebih luas walau tetap berpusat pada hubungan adik – kakak antara Elsa dan Anna. Dalam Frozen 2 penonton akan mengetahui mengapa Elsa memiliki kekuatan magis sedangkan Anna tidak, latar belakang orang tua Elsa-Anna yang kali ini dieksplorasi lebih banyak, dan adanya misteri yang harus diungkap oleh Elsa-Anna terkait keberadaan hutan misterius. Ketiga aspek tersebut mampu diramu menjadi cerita yang menarik dan tidak membosankan. Narasi cerita termasuk mudah diikuti mengingat ini adalah film yang targetnya anak-anak walau tema yang dibawakan kali ini lebih kompleks. Sementara itu cerita juga diperkaya dengan adanya subplot Kristoff yang berjuang untuk melamar Anna yang memberi dinamika yang menarik dalam cerita keseluruhan. Nuansa komedi ringan juga tetap hadir sepanjang film berkat kehadiran Olaf (Josh Gad) yang membawa suasana segar dan tidak terlalu kelam dalam film ini. Misteri dalam Frozen 2 seperti yang sudah dihadirkan dalam trailernya merupakan bagian paling menarik dalam film yang tidak bisa saya beberkan karena akan merusak keseruan film ini.



    Semua aktor dan akris yang terlibat sebagai voice cast menampilkan emosi dan ansambel karakter yang sangat baik sepanjang film. Idina Menzel dan Kristen Bell sukses menghidupkan karakter Elsa dan Anna sebagai kakak beradik yang memiliki ikatan yang kuat, yang selalu hadir untuk menguatkan satu-sama lain ketika salah satunya berada dalam masalah. Elsa yang terkadang keras kepala namun punya kepedulian yang besar terhadap orang-orang di sekelilingnya yang ia sayangi dan Anna yang karismatik dan senantiasa mendukung Elsa serta menjadi moral compass bagi Elsa adalah hal yang ditekankan dengan jelas dalam film. Tingkah Olaf sebagai karakter yang lovable dan mencuri perhatian karena tingkahnya yang komikal namun polos, Kristoff yang pemberani namun grogi ketika berhadapan dengan Anna dan Sven sang rusa kutub sebagai sidekick Kristoff yang dapat diandalkan, ketiganya mampu mengimbangi tone serius dan mendukung cerita film ini. Kehadiran karakter-karakter baru yang diperankan oleh Sterling K. Brown, Jason Ritter, dan lainnya juga turut menambah semarak film ini. Sementara itu dari segi visual dan animasi, jeda selama enam tahun memberi dampak perubahan yang sangat kentara. Suasana musim gugur yang meliputi kerajaan Arendelle, animasi hutan misterius dengan warna-warni neon dan pastel yang cantik, hingga detil pada wajah Elsa, Anna, dan Kristoff bahkan pada rambut Elsa yang nampak mengagumkan. Tidak hanya itu saja, adegan-adegan aksi yang dilakukan Elsa kali ini terlihat lebih seru dan kaya warna dibandingkan film pertamanya dan benar-benar mengeksplorasi kemampuannya dalam memanipulasi air dan es. Untuk busana/ gaun yang digunakan Anna dan terutama Elsa terlihat mengagumkan dan sangat indah terutama ketika Elsa bertransformasi setelah mengetahui kebenaran soal jati dirinya yang sebenarnya.



    Salah satu faktor kesuksesan Frozen adalah lagunya yang menginvasi pikiran penonton, lagu sensasional Let it Go menancap di benak penonton bagaikan rasa manis pada gula. Soundtrack untuk sekuelnya ini sepertinya tidak dapat mencapai keberhasilan yang sama seperti di film pertama tetapi Kristen Anderson-Lopez, Robert Lopez dan scoring oleh Christopher Beck mampu mengintegrasikan setiap lagu dan musik dengan sangat baik ke dalam narasi cerita. Into The Unknown yang kembali dinyanyikan Idina Menzel akan membawa nuansa kehangatan tersendiri ketika menyaksikan film ini. Lagu When I Am Older yang dinyanyikan Josh Gad/ Olaf juga menarik dan memberi kita refleksi mengenai sikap kita menghadapi perubahan dan kedewasaan. Yang juga patut disimak adalah lagu Lost in The Woods karya The Weezer yang dinyanyikan Kristoff dan Sven dengan mengambil setting lagu genre Ballad di mana Kristoff tidak banyak bernyanyi di film pertama.



    Chris Buck dan Jennifer Lee berhasil mengemban tugas mereka dalam melanjutkan cerita animasi musikal yang fenomenal ini. Jika di film pertama, Anna dan Elsa menyelesaikan masalah mereka masing-masing secara terpisah maka di film ini mereka selalu bersama dan harus bekerja sama untuk menghadapi konflik dan misteri yang menyeruak. Benang merah yang menjadi fokus film pertama dan kedua tidak pernah hilang dan selalu tersurat dalam film yaitu mengenai hubungan persaudaraan yang dalam dan kuat antara Elsa dan Anna. Isu soal menghadapi masa lalu dan melakukan hal yang benar adalah dua hal yang menjadi tema utama yang dieksplorasi dengan baik dalam cerita. Melalui film kedua ini, Chris dan Jennifer ingin menekankan bahwa dalam hidup setiap orang akan menghadapi waktu di mana masing-masing kita akan menempuh jalan hidup yang membuat kita tidak bisa selalu bersama orang yang kita kasihi setiap waktu namun tidak berarti kita melupakan hubungan dan kasih sayang kita, itu semua adalah bagian dari proses menuju kedewasaan.


    Overall: 8/10

    (By Camy Surjadi)

    Friday, November 15, 2019

    ULASAN: FORD V FERARRI





    James Mangold sedang dalam jalur yang tepat dalam memilih film-film untuk dia sutradarai selanjutnya. Setelah Logan tahun 2017 yang sukses besar, lalu sekarang James Mangold beralih dengan film adaptasi kisah nyata pertamanya dari total 11 film yang pernah dia sutradarai dalam kariernya, yang mana film dari kisah nyata ini bertema otomotif berjudul 'Ford v Ferrari' yang menceritakan persiangan nama besar 2 brand otomotif dalam ajang lomba balap selama 24 jam dengan nama '24 Hours of Le Mans' pada tahun 1966.



    Di film yang dimana James Mangold juga menjabat produser ini membawa dua nama besar sebagai pemeran utamanya yang menjadi pusat plot cerita film ini Matt Damon (Good Will Hunting, Interstellar) dan Christian Bale (The Dark Knight, The Fighter). Lalu didukung oleh nama lain seperti Jon Bernthal (Fury, The Wolf of Wall Street), Caitriona Balfe (Now You See Me, Money Monster), Josh Lucas (Hulk, Poseidon) dan Tracy Lets (Lady Bird, Indignation).


    Ford v Ferrari berkisah tentang Carrol Shelby (Matt Damon) yang harus pensiun lebih awal sebagai pembalap karena masalah kesehatan jantung pada tahun 1959. Berselang 5 tahun kemudian Shelby dikunjungi oleh Lee lacoca (Jon Bernthal) yang mendapat mandat dari Henry Ford II (Tracy Lets) untuk membetuk tim otomotif yang bisa mengalahkan tim Ferrari setelah Ford merasa dipermalukan setelah ajakan kerjasamanya ditolak oleh Ferrari. Shelby sendiri ditawari untuk memimpin tim dan diberi kebebasan untuk mengkreasi design mobilnya sendiri untuk bisa mengalahkan Ferrari. Sebuah hal yang mustahil dimana Ferrari adalah dewanya kecepatan pada saat itu. Tetapi tantangan itu diambil oleh Shelby dan tidak berapa lama mengajak sahabatnya Ken Miles (Christian Bale) seorang driver yag sangat berbakat tetapi mempunyai masalah temperamental. Shelby, Miles dan tim pun memulai misi tidak mungkin ini yang tidak hanya berjuang mengalahkan Ferrari, tetapi juga  menghadapi campur tangan perusahaan, hukum fisika, dan masalah pribadi mereka sendiri ketika membangun mobil balap revolusioner bagi Ford Motor Company.



    Sebagai salah satu orang yang tidak terlalu melek dengan dunia otomotif, saya sama sekali mempunyai bayangan Ford v Ferrari akan seperti apa meskipun filmnya diangkat dari kisah nyata. Dan untungnya James Mangold memvisualisasikan film ini dengan cara yang mudah dipahami oleh penonton yang awam dengan otomotif. Memang ada bagian dialog-dialog yang masih berhubungan dengan teknis lebih detail mengenai otomotif. Tapi hal itu tidak terlalu membuat kening kita yang tidak mengerti menjadi berkerut, karena hampir sebagian besar teknis yang ada dalam dialog itu divisualisasikan dalam bentuk scene yang membuat kita penonton awam menjadi mengerti maksud dari dialog tersebut.



    Meskipun berjudul Ford v Ferrari, tetapi jangan mengira plot utamanya menceritakan dua karakter utama persaingan dari brand tersebut seperti contoh yang kita temui dalam film 'Rush' (2013) yang disutradarai oleh Ron Howard. FvF lebih memfokuskan  ceritanya pada perjalanan hubungan Shelby dan Miles dalam tujuan mereka mengalahkan Ferrari. Bahkan musuh dalam film ini bukan pada pihak Ferrari, tetapi dalam Ford sendiri yang diwakili oleh Josh Lucas yang berperan dengan baik sebagai Leo Beebe yang menjabat wakil dan tangan kanan dari Henry Ford II yang mempunyai misi tersendiri. Selebih dari hal itu kita akan melihat hubungan surut-pasang antara Shelby dan Miles dalam bekerjasama. Dan disinilah letak kekuatan utama FvF, 152 menit benar-benar tidak melihat kemistri mereka berdua dalam memaikan perannya. Dialog-dialog humor ataupun yang serius dari kedua karakter ini adalah sajian terbaik yang bisa kita nikmati.



    Lalu beralih kepada bagian-bagian adegan ajang balapnya. Jika kamu merasa 'Rush' versi Ron Howard menjadi patokan memvisualisasikan balapan mobil yang seru, maka siap-siap saja kamu akan mendapatkan hal lebih seru lewat FvF yang sinematografi dipegang oleh Phedon Papamichael (The Descendants, Nebraska). Saya tidak akan terkejut lagi jika nanti nama Phedon Papamichel akan banyak muncul dalam nominasi-nominasi di musim award ini dalam kategori sinematografi terbaik tentunya.



    Rilisnya FvF dipenghujung tahun ini sepertinya sangat beralasan untuk bisa bersaing dengan film-film lainnya dalam ajang award yang akan diselanggarakan 4-5 bulan kedepan. Dan melihat hasilnya merilisnya bulan ini adalah keputusan yang tepat. Dan saya sangat berharap ada James Mangold bisa muncul dalam salah satu nominasi sutradara terbaik pada ajang penghargaan itu.

    Overall: 9/10

    (By Zul Guci)



    ULASAN: CHARLIE'S ANGELS




    Film apa lagi yang lebih baik merepresentasikan kekuatan dan kehebatan para wanita dalam menumpas kejahatan selain Charlie’s Angels? Semenjak serial TV hasil kreasi Ivan Goff dan Ben Roberts muncul pada 1976 serial ini begitu digemari dan langsung menjadi referensi kultur pop. Charlie’s Angel sudah diangkat ke layar lebar dan menghasilkan dua film yang cukup sukses pada tahun 2000 dan 2003 dan dibintangi oleh Drew Barrymore, Lucy Liu, dan Cameron Diaz. 16 tahun berlalu, franchise ini dirasa perlu untuk dibangkitkan kembali di era kebangkitan feminisme yang semakin kuat dan Elizabeth Banks ditunjuk sebagai sutradara berkat debut penyutradaraan yang cukup sukses pada Pitch Perfect 2. Banks bertindak sebagai pemain, sutradara, dan penulis naskah sekaligus dengan cerita dari Evan Spiliotopoulos dan David Auburn untuk membawakan film Charlie’s Angel yang menggambarkan situasi zaman yang semakin modern dan bagaimana posisi dan peran wanita di dunia saat ini. Film ini dirilis oleh Sony Pictures melalui label Columbia Pictures pada 15 November 2019 dan sudah ditayangkan di bioskop indonesia pada 13 November 2019. 



    Setelah berkiprah selama lebih dari 40 tahun dalam membantu menyediakan keamanan dan menyelesaikan tugas untuk para kliennya diceritakan Townsend Agency telah melakukan ekspansi global dan memiliki banyak cabang yang tersebar di seluruh dunia lengkap dengan para angels terlatih di tiap negara. Dalam cerita kali ini, kita dikenalkan dengan Elena Houghlin (Naomi Scott) seorang ahli teknologi dan ilmuwan yang menciptakan Calisto, teknologi sumber energi terbarukan yang akan merevolusi industri listrik dan energi. Saat atasan Elena, Peter Fleming (Nat Faxon) mendesaknya untuk segera merilisnya ke pasar, Elena memberitahu bahwa ada cacat pada sistem operasi Calisto yang bisa digunakan sebagai celah oleh para penjahat untuk dijadikan senjata EMP yang fatal. Namun Peter menolaknya dan meminta Elena tidak membuka mulut soal itu kepada Alexander Brock (Sam Claflin) sang founder perusahaan tempat Elena bekerja. Merasa khawatir dan menemui jalan buntu, Elena akhirnya menghubungi Townsend Agency dan bertemu Edgar Bosley (Djimon Honsou). Edgar bersedia membantu Elena dalam mengungkap masalah cacat dalam teknologi Calisto bersama tim Angels yang sudah dibentuknya, yaitu Jane (Ella Balinska) seornang mantan agen MI-6 yang sangat cekatan dan terampil dan Sabina (Kristen Stewart) seorang angel yang energik dan pemberani. Bersama Rebekah Bosley (Elizabeth Banks) yang juga turut membantu Elena, mereka semua kini harus bahu-membahu mencegah teknologi Calisto jatuh ke tangan pihak yang salah agar tidak digunakan untuk menimbulkan kekacauan.



    Untuk sebuah film remake, film ini tidak menawarkan hal yang spektakuler dibandingkan film versi awalnya di tahun 2000-an. Dari segi cerita tergolong biasa dan mudah ditebak arah film ini akan ke mana. Twist dan misteri yang diberikan tidak menantang penonton untuk berpikir walau penyajiannya dalam film agak berputar-putar dan kurang rapi. Narasi cerita film tergolong straight forward dari awal hingga akhir film, klimaks film ini tergolong flat karena konflik yang ditampilkan tidak membuat penonton merasakan ancaman global seperti yang disampaikan di awal film. Penampilan dan chemistry ketiga Angels yaitu Jane, Sabina, termasuk Elena sebagai Angel yang baru direkrut merupakan kelebihan film ini yang bisa dibilang cukup menyelamatkan karena dari segi aksi juga termasuk medioker seperti yang biasa kita saksikan dalam film-film aksi spionase sejenis. Aksi yang ditampilkan bukan termasuk aksi yang brutal namun lebih aksi yang defensif ketimbang ofensif sehingga ada beberapa yang mungkin tidak believable ketika para angels ini mengalahkan penjahat, contohnya ketika Jane melawan Hodak (Jonathan Tucker). Humor yang digunakan dalam film termasuk cukup cerdas dan menghibur dan digunakan pada momen yang tepat. Bagi penonton akan terhibur karena film ini cenderung bersifat sebagai eye-candy yang memanjakan penonton lewat penampilan para angels yang cantik dan keren dalam balutan busana mereka yang spektakuler pada setiap adegan. Ketika menonton film ini sebaiknya tidak memasang ekspektasi terlalu tinggi, nikmati saja filmnya dengan santai karena film ini tipikal film yang mudah dicerna tanpa perlu berpikir keras.




    Ketika film ini diumumkan publik menyambut gembira dengan kehadiran wajah-wajah segar yang mewakili aktris generasi abad ini. Para aktris yang berperan sebagai angels dalam film ini adalah “nyawa” untuk film ini dan untungnya penampilan ketiga aktris, yaitu Kristen Stewart, Ella Balinska, dan Naomi Scott tidak mengecewakan. Masing-masing aktris mampu menampilkan karakter yang solid dan chemistry yang asyik. Pujian pantas diberikan kepada Kristen Stewart yang tampil energik, fun, dan punya selera humor yang unik sepanjang film. Ella mampu menampilkan sosok angel yang badass, mahir bela diri dan serius namun masih memiliki keanggunan. Sementara Naomi Scott yang sudah lebih dulu kita saksikan sebagai Putri Jasmine dalam Aladdin versi terbaru juga dapat menampilkan transisi karakter yang bagus mulai dari ilmuwan yang cenderung pasrah hingga akhirnya ia perlahan ikut ambil bagian dan bertranformasi menjadi angel ketiga. Banks sebagai Bosley wanita turut memberi dinamika pada film ini lewat dialog dan perannya yang elegan dan cerdas. Walau cuma berperan kecil dalam film namun Noah Centineo yang berperan sebagai Langston memberikan kesan yang cukup memorable. Karakter-karakter lain tampil tidak begitu menonjol begitupun dengan karakter antagonisnya yang cenderung bersifat satu dimensi. Sinematografi film termasuk biasa namun mampu membawa penonton mengeksplorasi negara-negara di eropa dalam perjalanan misi para Angels seperti Rio, Hamburg, dan Istanbul. Salah satu aspek lain yang cukup digarap serius adalah sountrack film ini yang menampilkan kolaborasi 3 artis musisi yaitu Lana Del Rey, Ariana Grande, dan Miley Cyrus. Soundtrack film Charlie’s Angel dikenal cukup memiliki impact terhadap penggemarnya maka keputusan memilih ketiga artis ini sangat tepat. Mereka mampu memberikan musik yang merepresentasikan energi dan semangat para Angels dengan irama dan melodi yang catchy.



    Elizabeth Banks ingin menunjukkan bahwa wanita bisa mencapai dan menjadi yang mereka inginkan asalkan diberi kesempatan namun dia tidak begitu banyak menampilkan mengenai isu feminisme di film kecuali adegan awal ketika Sabina sedang dirayu oleh Jonny Smith (Chris Pang) atau ketika Elena ditekan oleh atasannya Peter. Selebihnya sisa film lebih diisi dengan adegan kejar-kejaran dan baku tembak yang klise. Sebagai film yang disutradai oleh wanita terlihat sentuhan wanita dalam film ini begitu kental terutama dari segi fashion, musik, dan dialognya. Namun isu peran wanita, women empowerment, dan feminisme dalam era modern ini tidak begitu berhasil dibawakan. Elizabeth Banks terlihat ingin bermain aman dan menghasilkan film action flick yang dapat dinikmati tanpa menyentuh isu sosial. Padahal ini kesempatan bagi Banks untuk memberi warna baru untuk fanchise ini. Terlepas dari semua itu film Charlie’s Angels versi 2019 ini masih layak disaksikan di bioskop untuk melepas penat dan menikmati tontonan yang menghibur.


    Overall: 6.5/10

    (By Camy Surjadi)

    Wednesday, November 13, 2019

    ULASAN: LOVE AT SECOND SIGHT



    Beberapa bulan belakangan ini genre film romantis mulai dari film lokal karya anak bangsa, film Hollywood, ataupun film-film dari Korea yang cukup mendominasi di kalangan generasi muda kerap menghiasi layar bioskop kita. Hadir sebagai alternatif di antara pilihan yang itu-itu saja, film dari negara Perancis berjudul Love at Second Sight (Judul Perancisnya: Mon Inconnue) layak untuk disimak mengingat Perancis adalah kiblat segala hal yang terkait romantisme dan film-filmnya yang terkenal memiliki representasi luar biasa soal cinta. Saya berkesempatan menyaksikan film ini terlebih dahulu sebagai film Pembuka dalam Festival Sinema Perancis ke-6 (6-10 Nov 2019). Film Love at Second Sight dirilis pertama kali di Perancis pada 3 April 2019 dan dirilis di bioskop CGV dan Cinemaxx pada 13 November 2019. Film ini disutradarai dan ditulis oleh Hugo Gélin. Film ini dibintangi oleh François Civil (As Above, So Below - 2014), Joséphine Japy (Respire – 2014), dan Benjamin Lavernhe (C'est la vie ! – 2017).



    Cerita dimulai dari masa sekolah dimana Raphaël (François Civil) seorang siswa yang gemar menulis novel fiksi ilmiah tentang karakter Zoltan yang sangat jago dan digandrungi banyak wanita. Namun Raphaël tidak pernah menunjukkan karya novelnya kepada siapapun sampai ia bertemu Olivia secara tidak sengaja ketika ia mendengarnya bermain piano di salah satu ruangan di sekolah. Raphaël terkesan dan memuji permainan Olivia karena ia sangat berbakat tetapi momen pertemuan tersebut harus diinterupsi oleh petugas sekolah yang memergoki mereka. Mereka berdua berhasil kabur namun buku catatan draft novel Raphaël secara tidak sengaja terbawa Olivia. Keesokan harinya Olivia bertemu kembali dengan Raphaël untuk mengembalikan buku catatan tersebut, sejak itu Raphaël memutuskan memasukkan karakter Shadow yang terinspirasi dari Olivia. Seiring waktu berjalan hubungan keduanya pun turut berkembang hingga akhirnya mereka menikah. Berkat bantuan dan dukungan Olivia, Raphaël berhasil menjelma menjadi penulis novel fiksi ilmiah yang terkenal sementara Olivia mengubur impiannya menjadi pianis terkenal dan menjadi guru sekolah musik.



    Setelah beberapa waktu menikah, Raphaël menjadi semakin sibuk dengan karirnya sebagai penulis terkenal dan mulai menjauhkan dirinya dari Olivia. Pada suatu hari ketika menulis cerita untuk novel terbarunya, Raphaël memutuskan untuk mematikan karakter Shadow. Di malam pada hari yang sama, Raphaël bertengkar hebat dengan Olivia terkait situasi hubungan mereka. Setelah semalaman dilanda badai salju, Raphaël terbangun dan terkejut menemukan dirinya berada di dunia paralel. Di dunia ini ia tidak pernah bertemu Olivia dan menikah dengannya, hal mengejutkan lainnya adalah ia bukan lagi penulis novel terkenal melainkan seorang guru sastra dan novel fiksi Zoltannya tidak pernah diselesaikan sementara Olivia adalah pianis terkenal dan sukses. Di tengah kebingungan tersebut, ia meminta bantuan sahabatnya Felix (Benjamin Lavernhe) untuk membantunya kembali ke dunia asalnya. Setelah berdiskusi dengan Felix, Raphaël berkesimpulan bahwa ia harus membuat Oliva jatuh cinta kembali kepadanya agar semua kembali ke keadaan semula. Akankah Raphaël berhasil merebut hati Olivia kembali dan berhasilkan Raphaël kembali ke dunianya dan melanjutkan hidupnya sebagai penulis novel sukses?



    Film mengalir dengan sangat baik dan tidak membosankan sama sekali untuk ditonton selama durasi 117 menit, genre rom-com yang dipilih sangat efektif dibawakan dalam menunjang narasi cerita film. Awalnya saya berpikir dari sinopsisnya film ini akan jatuh ke drama menye-menye yang bisa membuat hati mengharu-biru namun ternyata tidak demikian, aspek komedi menjadikan film ini lebih dinamis dan hidup. Walau ide ceritanya pernah kita saksikan dalam film-film sejenis tapi berkat akting para pemainnya yang meyakinkan membuat penonton akan terhubung sekaligus tersentuh. Film ini mengambil pendekatan yang sangat bagus dengan berfokus pada perjuangan Raphaël dalam mendapatkan cinta Olivia kembali lewat serangkaian kejadian yang romantis dan terkadang diselingi kekonyolan. Aspek time travel dan parallel universe hanyalah plot device yang digunakan sebagai motivasi sang karakter utama, Raphaël dan bagusnya lagi film ini tidak mencoba memberi penjelasan terlalu rumit soal hal tersebut atau menambah kompleksitas time travel sebagai subplot dalam cerita. Sementara untuk babak akhirnya adalah bagian penting dari kisah ini yang cukup emosional dan ditutup dengan sangat indah. Kalau beberapa Film Perancis memiliki akhir yang absurd namun untuk cerita film ini konklusinya akan memuaskan anda ketika menontonnya.



    Film ini hanya berpusat pada 3 karakter utama yaitu Raphaël, Olivia, dan Felix sehingga membuat penonton lebih mudah untuk fokus dan terhubung, penonton dibawa untuk ikut menyaksikan metamorfosis karakter Raphaël dan Olivia dari sejak mereka di bangku sekolah hingga mereka dewasa dan menikah. Ketiga aktor dan aktris yang memerankan karakter mereka mampu menghidupi karakter mereka dengan penjiwaan yang sangat baik. François dan Joséphine tampil meyakinkan sebagai pasangan yang lovable dan sweet, sebagai penonton kita dibuat percaya akan kemesraan dan kedekatan mereka yang ditunjukkan dalam film ini. François sebagai tokoh utama mampu membuat penonton berpihak pada karakternya dalam serangkaian perjuangan yang dilakukannya dan Josephine sebagai love interest sang karakter utama mampu mengimbangi penampilan François dengan karakternya yang sama-sama kuat. Josephine dapat menampilkan transisi karakter di dua dunia paralel sebagai istri Raphaël dan sebagai seorang yang tidak pernah mengenal Raphaël dengan sangat bagus. Namun pujian juga harus diberikan pada Benjamin Lavernhe yang menjadikan film ini lebih hidup, karakter Felix yang diperankannya sukses menjadikan film ini lebih berwarna dan hidup lewat serangkaian adegan komedi bersama karakter Raphaël. Duo François dan Benjamin terbukti bakal mengocok perut penonton lewat dialog kocak mereka ataupun setiap kali mereka bersama dalam satu frame adegan. Fakta bahwa di dunia paralel mereka adalah pemain ping pong pro begitupun fakta bahwa Raphaël adalah seorang womanizer di dunia paralel dieksplorasi dengan sangat menghibur.



    Sinematografi dan musik dalam film ini juga patut digarisbawahi. Nicolas Massart menampilkan sinematografi kota Paris yang indah baik di perkotaan maupun di pedesaan, ia mampu menangkap momen-momen romantis antara kedua karakter Raphaël dan Olivia dengan sangat baik. Adegan awal film di mana kita diberikan kilasan-kilasan momen penting dalam perjalanan cinta Raphaël dan Olivia terbukti powerful dan memorable. Cara pengambilan momen yang tediri dari shot-shot singkat tersebut mampu bercerita banyak tanpa bertele-tele sekaligus memperlihatkan pengembangan karakter dengan cukup efektif. Sesuatu hal yang sulit dilakukan namun hal ini mampu dibawakan dengan sempurna di film ini. Apalah artinya film romantis tanpa musik yang mumpuni, scoring dan soundtrack yang dipakai dalm film, yang kebanyakan berbahasa Inggris, terasa hangat dan dekat bagi penonton. Soundtrack film ini dibawakan oleh Sage yang kebanyakan berirama instrumental piano menjadi daya tarik tersendiri sekaligus menambah keindahan cerita film ini.



    Melalui film ini, Hugo Gélin berusaha menampilkan isu soal ambisi pribadi versus cinta dan kebersamaan dalam kehidupan pernikahan. Jawaban definitif untuk isu tersebut tidak ditampilkan eksplisit dalam film dan sepenuhnya diserahkan kepada penonton karena tidak akan ada jawaban yang 100% ideal untuk kondisi ini. Hugo Gélin bersama Igor Gotesman (Five) dan Benjamin Parent menulis naskah cerita dengan menggunakan pendekatan komikal untuk karakter Raphaël hingga akhirnya mau tidak mau ia harus menerima kondisinya di dunia paralel yang baru dan mulai berjuang untuk merebut hidup dan cintanya kembali. Film ini juga menggambarkan permasalahan pernikahan di abad modern dengan sangat baik di mana terkadang ambisi mengejar karir menimbulkan jarak dan masalah dalam hubungan itu sendiri. Sejauh mana kita mau berkorban demi keutuhan hubungan ataupun kesuksesan pribadi adalah tantangan yang pasti dihadapi semua pasangan dalam fase hidup mereka. Tema serupa juga dieksplorasi dalam La La Land dengan pendekatan dramatis dan lebih sentimental namun film ini seperti mengkombinasikan cerita dalam 50 First Dates dan Eternal Sunshine of The Spotless Minds dengan hasil akhir yang captivating dan memorable. Kisah dalam film ini juga mengajarkan untuk tidak menyia-nyiakan seseorang yang sudah memberikan hidupnya untuk bersama dengan kita. Tontonlah film ini baik untuk yang sedang sendiri ataupun bersama pasangan tercinta sebagai pengingat mengenai apa sebenarnya prioritas kita dalam menjalin hubungan sekaligus belajar bagaimana mengatasi ego kita.


    Overall: 8.5/10

    (By Camy Surjadi)



    Monday, November 11, 2019

    ULASAN: MIDWAY




    Genre film perang termasuk genre yang cukup sering dan banyak diproduksi di Hollywood, dengan beragam sub-genre mulai dari dokumenter, propaganda, biopik hingga drama. Namun di antara ratusan judul mungkin hanya beberapa yang berkesan dan memorable bagi penonton. Kali ini bertindak sebagai sutradara sekaligus produser, Roland Emmerich yang terkenal dengan saga Independence Day dan film-film bencana hadir menyajikan film Midway yang merupakan pertempuran terpenting dalam sejarah perang di laut dan bagi Angkatan Udara dan Laut AS ketika PD II terjadi. Cast yang tergabung di dalamnya pun bertabur banyak bintang mulai dari Ed Skrein, Patrick Wilson, Luke Evans, Aaron Eckhart, Nick Jonas, Mandy Moore, Dennis Quaid, dan Woody Harrelson. Film ini merupakan proyek yang sudah cukup lama digadang Emmerich sejak 2017 namun karena kesulitan mendapatkan dukungan finansial dari sponsor akhirnya film ini baru dapat diproduksi di tahun 2018. Film ini didistribusikan oleh Lionsgates dan tayang di bioskop AS dan Indonesia pada 8 November 2019.


    Sesuai judulnya, film ini mengangkat pertempuran Midway yang terjadi pada 4 dan 7 Juni 1942 dan serangkaian peristiwa penting dalam medan Perang Pasifik PD II yang akhirnya membawa kemenangan di pihak AS. Sikap netral yang diambil AS saat awal PD II dimanfaatkan oleh Jepang untuk memulai serangan kejutan di Pearl Harbor pada 7 Desember 1941. Pada hari itu banyak korban jiwa berjatuhan dan cukup mempengaruhi moral pasukan AS. Serangan tersebut dimaksudkan untuk melenyapkan AS dalam rangka mendirikan Lingkungan Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya yang meliputi Jepang, Manchukuo, Tiongkok, dan negara-negara di Asia Tenggara. Film ini berpusat pada kisah para pelaut dan penerbang Angkatan Laut dan Udara AS dalam bertahan sejak serangan di Pearl Harbor. Serangan Doolitle, hingga puncaknya Perang di Midway. Sejak gempuran di Pearl Harbor, Angkatan Udara dan Laut mulai menyusun strategi setelah mendapat info dari hasil penyadapan bahwa Jepang akan menyerang Midway. Edwin T. Layton (Patrick Wilson) adalah anggota badan intelijen AS yang berjasa dalam meretas info penyerangan Jepang selanjutnya. Layton membantu Admiral Chester Nimitz (Woody Harrelson) mensuplai informasi yang dibutuhkan dalam merencanakan strategi  perlawanan Jepang setelah peristiwa Pearl Harbor Dick Best (Ed Skrein) adalah pilot pengebom AS yang pembangkang namun sangat lihai dalam menjalankan tugasnya. Bersama Letkol Wade McClusky (Luke Wilson) dan Wakil Admiral William “Bull” Halsey (Dennis Quaid) mereka bertindak di garis depan dalam melawan pasukan Jepang.

     

    Sebagai film yang seharusnya menunjukkan sejarah penting dalam PD II dan khususnya bagi AS, film ini terasa biasa dan cukup hambar. Sepanjang film seperti visualisasi buku sejarah ke dalam format film dengan balutan CGI dan pertempuran udara/ laut yang kurang memiiki emosi. Film ini mencoba menggambarkan setiap kejadian secara kronologis dan akurat dengan adanya petunjuk timestamp untuk setiap peristiwa penting dalam sejarah yang terjadi sepanjang film. Midway tidak berhasil menggambarkan dampak traumatis dan kerugian yang diderita akibat perang namun terlihat film ini berusaha menunjukkan heroisme dan ketangguhan pelaut dan penerbang AS dalam mengalahkan pasukan Jepang yang menurut saya berlebihan tetapi itu memang menjadi ciri Emmerich dalam film-filmnya. Film ini banyak diisi adegan perang udara-laut skala besar yang cukup memanjakan mata namun terkesan repetitif di sepanjang film. Kematian para perwira dalam pertempuran di kapal perang maupun pasukan penerbang menghiasi sepanjang film tetapi hal tersebut tidak terlalu dieksplorasi padahal itulah cost of war yang harus ditanggung setiap negara yang terlibat dalam perang hebat apalagi sekelas PD II. Emmerich membuat film ini dengan mentalitas video gim di mana penonton ditempatkan dalam kokpit menyaksikan para pilot menyelesaikan setiap misi menantang maut yang diberikan dalam mengalahkan musuh-musuhnya hingga sampai ke misi utama melawan big boss di Pertempuran Midway. Screenplay yang ditulis oleh Wes Tooke sejujurnya bukanlah jualan utama namun adegan pertempuran udara final di Midway yang direka ulang secara akuratlah yang dimaksudkan menjadi pertunjukan utama film ini.

     

    Dikarenakan film ini adalah film sejarah maka nama-nama di dalam film berdasarkan para tokoh nyata yang memang terlibat dalam perang Midway. Terlihat dari cast yang terlibat bahwa film ini mencoba ‘menjual’ lewat penampilan para aktornya yang tampan dan gagah yang sepertinya akan percuma jika tidak didukung cerita dan performa yang baik dalam film. Ed Skrein sebagai dan Patrick Wilson merupakan dua tokoh yang mendapat porsi cukup dominan sepanjang film. Ed Skrein tampil sebagai pahlawan dengan skill terbang mumpuni yang cukup meyakinkan walau aksennya terkesan dipaksakan dalam film. Woody Harrelson, Dennis Quaid, Luke Evans tampil biasa saja dan cenderung satu dimensi tanpa penekanan dalam karakter mereka. Begitu pula dengan kebanyakan aktor muda seperti Nick Jonas (Jumanji), Darren Criss (Glee), Keean Johnson (Notorious, Nashville) yang tampil sebagai pemanis di film ini. Mandy Moore sebagai Anne Best sebagai satu-satunya aktris wanita juga jatuh ke dalam peran stereotipe istri perwira yang tidak begitu menampilkan dinamika dalam film. Untuk peran yang standout pada film ini ada pada karakter yang diperankan Patrick Wilson, karakternya mungkin satu-satunya yang menarik dalam film karena mampu menampilkan kegelisahan dan emosi yang tepat terkait beban yang ditanggungnya dalam menyediakan informasi intelijen.




    Jika anda sudah banyak menonton film perang, terhitung sudah ada lebih dari 400 judul film perang dengan periode waktu 80 tahun sudah dirilis oleh Hollywood, sebetulnya tidak banyak hal baru dalam film Midway kecuali special effect dan tampilan CGI yang lebih canggih dalam adegan pertempuran. Emmerich memperlakukan film ini tanpa ‘soul’ dan semangat seperti sutradara lain yang mampu membuat film perang yang berkesan (contoh Mel Gibson dan Christopher Nolan).  Dikatakan film ini merupakan passion project Emmerich sejak lama namun hasil akhirnya tidak menunjukkan bahwa Emmerich benar-benar mencurahkan perhatiannya untuk film ini. Tidak banyak hal yang dapat kita ingat dari film ini dan terasa seperti sia-sia menggunakan banyak cast dan setting cerita penting dalam sejarah jika hasil akhirnya tidak mengesankan secara luar biasa.



    Overall: 6/10

    (By Camy Surjadi)

    MEMASYARAKATKAN LAYAR TANCAP MELALUI OPEN AIR CINEMA JAFF 14





    Masyarakat Yogyakarta kembali menikmati sajian sinema layar tancap bersama JAFF 14 ‘Revival’. Setelah sukses diselenggarakan pada tanggal 2 November 2019 lalu di Daratan 3, Minggir, Sleman, perhelatan Open Air Cinema kembali digelar dalam rangka menyambut perayaan sinema Asia Pasifik. Open Air Cinema seri kedua diselenggarakan di Joglo Bebana, Gang Pangkur, Jogonalan Lor RT 4, Tirtonirmolo, Bantul dengan menayangkan dua film karya sineas muda Indonesia. Antusiasme penonton yang membludak mengiringi penayangan Ranam - Looking for Land (2019) karya David Richard dan Doremi & You (2019) karya BW Purbanegara. Antusiasme ini menjadi semangat JAFF 14 ‘Revival’ untuk melestarikan budaya menonton di kalangan masyarakat. 


    Penyelenggaraan Open Air Cinema diawali dengan sambutan oleh Christine Subiyanto selaku Koordinator Open Air Cinema JAFF 14 'Revival' tepat pukul 19.20 WIB. Beliau menyampaikan ucapan terima kasih kepada segenap masyarakat Yogyakarta yang hadir dan Joglo Bebana yang telah membantu dan menyediakan tempat untuk penyelenggaraan Open Air Cinema yang seri kedua ini. "Terima kasih kepada Bu Dukuh, Warga Jogonalan Lor, serta seluruh penonton yang tetap setia untuk hadir dan menyaksikan sinema di Open Air Cinema bersama-sama", ujar Christine. Melalui konsep layar tancap, JAFF datang dan memutarkan film ke desa-desa untuk membangkitkan semangat warga paska tragedi gempa Yogyakarta pada tahun 2006 silam. “Open Air Cinema yang awalnya menjadi sarana trauma healing kini menjadi kegiatan rutin JAFF untuk akhirnya ikut serta menumbuhkan budaya menonton di kalangan masyarakat”, tambahnya. Pembukaan Open Air Cinema kemudian dilanjutkan dengan sambutan kepala dukuh Jogonalan Lor yang menyambut antusias acara ini. ”Terima kasih kepada JAFF yang sudah ikut melestarikan budaya misbar, mirsani bareng," ujar Yayim Sugianti selaku kepala dukuh Jogonalan Lor menanggapi Open Air Cinema sambil bercanda.


    Penonton disuguhkan dengan film Ranam - Looking for Land (2019) sebagai film pembuka Open Air Cinema. Selanjutnya, penayangan Doremi & You (2019) menutup Open Air Cinema dengan manis. Pemilihan kedua film tersebut sebagai sajian Open Air Cinema didasari oleh gagasan tentang perjuangan dan keberagaman. Kedua film tersebut memiliki semangat yang sama; mengenai anak-anak dan remaja yang bergelut dengan impiannya. Berbagai tantangan internal maupun eksternal dilalui demi menggapai apa yang dicitakan. Topik tersebut seringkali berhubungan dengan kehidupan sehari-hari dan sangat dekat dengan masyarakat. Melalui kedua film ini, JAFF 14 ‘Revival’ ingin menyuguhkan pemahaman mengenai keberhasilan yang pada akhirnya diperoleh atas perjuangan yang keras.


    Pantulan cahaya penuh bulan menemani masyarakat menyaksikan harunya perjuangan para remaja dalam kedua film tersebut. Bercampur dengan riuh tawa penonton yang turut menghangatkan sepanjang jalan gang depan rumah kepala dukuh Jogonalan Lor. Seperti semangat para remaja meraih impiannya turut tercurah dalam antusias masyarakat yang memadati Joglo Bebana, Bantul. Total sekitar 450 orang bersinema bersama dalam Open Air Cinema seri kedua JAFF 14 ‘Revival’. Bila digabungkan dengan Open Air Cinema seri pertama yang berjumlah 350 orang, maka jumlah penonton Open Air Cinema pra-event JAFF 14 ‘Revival’ telah mencapai 800 orang. Masyarakat dapat bersua kembali dengan sinema Asia dan menonton bersama saat perhelatan JAFF 14 ‘Revival’ yang akan dilangsungkan pada 19- 23 November 2019 di Empire XXI dan LPP Yogyakarta. Total 111 film dengan beragam perspektif, genre, dan gaya tutur dari seluruh penjuru Asia dipersembahkan dalam JAFF 14 ‘Revival’. (2019)

    Friday, November 8, 2019

    ULASAN: DOCTOR SLEEP



    Hollywood nampaknya sedang gemar memproduksi film entah itu sekuel atau remake dari film terkenal di masa lampau, tujuannya untuk mendaur ulang properti lama agar lebih dikenal oleh penonton generasi sekarang. Publik dikejutkan dengan munculnya berita rilis film Doctor Sleep di akhir tahun 2019 ini dari Novel berjudul sama, pasalnya film ini merupakan lanjutan cerita/ sekuel dari The Shining. The Shining merupakan film horor legendaris karya Stanley Kubrick, yang juga diadaptasi dari novel Stephen King yang cukup fenomenal di tahun 1980, film ini dinobatkan sebagai film horor terbaik sepanjang masa banyak mempengaruhi film-film horor yang muncul kemudian. Bahkan beberapa adegan ikonik dalam film yang melibatkan Room 237 sempat dijadikan referensi dalam film Ready Player One. Untuk adaptasi Doctor Sleep, Mike Flanagan yang sudah berpengalaman berkecimpung dalam penyutradaraan film horor (Absentia-2011, Oculus-2013, Hush; Before I Wake; Ouija: Origin of Evil- semua pada tahun 2016, dan Gerald’s Game-2017) dipercaya untuk menangani skenario sekaligus menyutradarai film ini. Cerita Doctor Sleep akan menyorot karakter Danny Torrance yang sudah dewasa dan trauma masa lalu yang menghantuinya sejak peristiwa dalam film The Shining. Film ini dibintangi Ewan McGregor, Rebecca Ferguson, dan Kyliegh Curran sebagai bintang utamanya dan didukung oleh Carl Lumbly, Zahn McClarnon, Emily Alyn Lind, Bruce Greenwood, Jocelin Donahue, Alex Essoe, dan Cliff Curtis. Film ini didistribusikan oleh Warner Bros Pictures dan dirilis di AS pada 8 November 2019, di Indonesia sendiri dirilis pada 6 November 2019.



    Melanjutkan cerita dalam film The Shining, setelah peristiwa mengerikan di Overlook Hotel tahun 1980, Danny (Roger Dale Floyd berperan sama Danny kecil) hidup bersama ibunya Wendy (Alex Essoe) di Florida. Danny kecil sudah diajari oleh hantu Dick Halloran (Carl Lumbly) untuk membuat peti-peti imajiner dalam pikirannya guna mengurung hantu-hantu dari Overlook Hotel yang senantiasa menghantuinya. Sementara itu grup pemujaan yang dikenal dengan True Knot yang dipimpin oleh Rose The Hat (Rebecca Ferguson) senantiasa memburu anak-anak atau orang-orang dengan kemampuan The Shining untuk mengonsumsi uap/ energi kehidupan mereka guna menjaga mereka tetap muda. Cerita berlanjut ke tahun 2011 di mana Danny (Ewan McGregor), selanjutnya lebih dikenal dengan Dan, yang telah dewasa masih trauma dengan pengalamannya di Overlook hotel sewaktu kecil mencoba menekan kemampuan shining-nya dan terjerumus dalam kecanduan alkohol. Dan pindah dari kota ke kota mencoba kabur dari masa lalunya hingga akhirnya ia tiba di Frazier, New Hampshire dan berteman dengan Billy Freeman (Cliff Curtis) yang membantunya sembuh dari kecanduan alkohol dalam grup terapi yang dipimpin oleh dr. John Dalton (Bruce Greenwood).



    Dan akhirnya bekerja di pusat perawatan untuk lansia setelah membantu dr. Dalton dengan kemampuan shining-nya. Dan menggunakan kemampuannya untuk membantu menenangkan para pasien sebelum meninggal dengan bantuan Azzie, seekor kucing yang mampu memprediksi kematian. Di sinilah Dan mendapat julukan Doctor Sleep akibat jasanya yang mampu memberi kedamaian pada para pasien lansia. Dan juga mulai berkomunikasi dengan Abra Stone (Kyliegh Curran) seorang gadis cilik yang memiliki kemampuan shining yang sangat kuat. Pada saat yang sama grup True Knot berhasil merekrut seorang gadis berjulukan Snakebite Andi (Emily Alyn Lind) yang memiliki kekuatan telepatik untuk mengontrol pikiran yang membuat grup ini semakin berbahaya. Pada tahun 2019, grup True Knot mulai kesulitan mendapatkan mangsa dan mereka mulai kelaparan. Ketika grup ini menculik seorang anak bernama Bradley (Jacob Tremblay), Abra mampu merasakan hal tersebut dan hal ini diketahui oleh Rose sehingga ia dan tangan kanan/pacarnya Crow Daddy (Zahn McClarnon) merencanakan untuk memburu Abra karena mereka percaya Abra mampu memberi makan untuk seisi grup dalam jangka waktu lama. Abra memberitahu Dan soal hal tersebut, Dan yang awalnya enggan karena tidak mau berurusan lagi dengan hal-hal supranatural akhirnya mau membantu Abra. Dan bersama Abra harus bahu membahu menggunakan kekuatan shining mereka untuk melawan grup True Knot sekaligus menuntaskan urusan masa lalu Dan dengan Overlook Hotel yang belum selesai.



    Durasi sepanjang 2 jam 31 menit dimanfaatkan dengan sangat baik oleh Mike sebagai sutradara untuk memberikan cerita yang kuat dan memorable. Film tidak terasa melelahkan untuk ditonton dan ceritanya yang menggabungkan elemen horor, misteri, dan action dengan pas sanggup membuat penonton untuk terus menyaksikan hingga akhir film ini. Cara Mike membawa penonton melihat peristiwa-peristiwa penting dalam hidup Dan dari ia kecil hingga dewasa membantu penonton untuk terhubung dengan karakternya didukung oleh performa Ewan McGregor yang brilian. Tone horor dalam film ini dibangun dengan sangat baik lewat serangkaian penampakan yang dialami Dan di sepanjang film didukung dengan scoring apik oleh The Newton Brothers. Adegan ketika grup True Knot menculik dan membunuh Bradley dengan sadis memberi penonton gambaran betapa mengerikan dan jahatnya grup True Knot. Duo Dan dan Abra yang bahu membahu melawan grup True Knot merupakan bagian terbaik film ini terutama menjelang konklusi film. Menjelang babak akhir film ini merupakan bagian yang tidak boleh dilewatkan sekaligus menjadi catatan penting mengapa penonton wajib menonton The Shining untuk merefresh ingatan. Tentunya saya tidak bisa membocorkan terlalu detil mengapa namun bisa dipastikan akan sangat worth untuk menyaksikan ulang The Shining agar mendapat gambaran utuh cerita Doctor Sleep sekaligus mengapa film ini merupakan follow up kejadian dalam The Shining seperti tagline dalam Judulnya “Dare to Come Back”.



    Para cast di film ini bermain sangat cemerlang dan mampu mengimbangi satu sama lain, kekurangannya mungkin para anggota grup True Knot yang kurang dieksplorasi para karakternya dan sejarah mereka yang tidak begitu diceritakan. Ewan McGregor berhasil menghidupkan sosok Dan dewasa yang awalnya depresi dan traumatis akibat pengalaman masa kecilnya yang penuh teror hingga menjadi sosok yang peduli kepada orang lain, Ewan tampil sebagai sosok protagonis yang sangat relate dengan kehidupan penonton lewat transformasi hidupnya sepanjang jalannya film terutama pada bagian awal cerita. Kyliegh Curran tampil sangat mencuri perhatian di sini sebagai Abra dalam debut pertamanya setelah sebelumnya tampi di pertunjukan Boradway The Lion King. Ia mampu menampilkan sosok gadis kecil pemberani yang mneyadari kekuatannya harus digunakan untuk membantu orang lain dan memandang Dan sebagai paman sekaligus mentornya. Duet Dan dan Abra yang organik sepanjang film membuat dua karakter ini begitu lovable dan favorit. Rebecca Fergusson juga tampil apik sebagai karakter antagonis yang cantik namun keji sekaligus mematikan. Karakter Rose menjadi lebih multidimensi dan menarik sebagai pemimpin kelompok True Knot yang hanya peduli pada nasib grupnya dan tidak segan memanipulasi orang lain untuk mencapai tujuannya. Cliff Curtis juga bermain bagus sebagai Billy, sahabat Dan lewat pembawaannya yang hangat dan baik namun sayang tidak begitu dieksplorasi lebih mendalam. Carl Lumbly sanggup menghidupkan karakter Dick Hallorann yang berperan penting dalam hidup Dan seperti karakter dalam film The Shining.



    Doctor Sleep tidak akan menjadi menarik jika tidak didukung oleh sinematografi dan scoring yang kuat dan bagus. Untuk sinematografi dan scoring Mike kembali bekerja sama dengan Michael Fimognari dan The Newton Brothers yang sudah bekerja dengannya sejak film Oculus. Bersama Michael, mereka berhasil menampilkan estetika horor yang sama ketika menonton The Shining dipadu dengan sentuhan shot-shot horor modern. Bagian scoringnya ditangani dengan sangat mengagumkan oleh The Newton Brothers. Mereka menggunakan bunyi-bunyi alam dan melodi dari instrumen tradisional dan alternatif sehingga menghasilkan suasana gelisah dan tidak nyaman. Banyak momen dalam film yang diisi dengan suara demikian sehingga akan membuat penonton merasa takut dan memunculkan stress sendiri. Momen hening dalam film terkadang diisi suara angin yang telah dimodifikasi dengan synthesizer khusus untuk memunculkan kesan seram. Tidak ada soundtrack atau musik dalam film sehingga penonton harus cukup mempersiapkan mental ketika menonton film ini.



    Mike bisa dikatakan merupakan sutradara yang tepat karena ia mampu menghasilkan karya adaptasi yang setia pada novelnya namun tetap memberikan twist dan sentuhan baru yang berbeda dari cerita novelnya. Mike sangat mengagumi karya Stephen King, setelah sukses menyutradarai Gerald’s Game (2017), ia melanjutkan hasratnya untuk menyutradarai film ini karena ia sangat menyukai novel dan film The Shining. Pengalamannya dalam penyutradaraan film horor yang berkualitas dan cukup berpengaruh sangat membantunya dalam menampilkan cerita yang juga kuat secara emosional. Jika The Shining bercerita tentang kejatuhan seseorang dalam sisi gelap maka Doctor Sleep bercerita tentang pemulihan dan penebusan lewat karakter Dan yang menjadi benang merah dalam kedua cerita tersebut. Isu menghadapi dan menyelesaikan masa lalu yang ditampilkan lewat cerita begitu kuat dan dekat dengan penonton. Stephen King pun mengakui lewat wawancara bahwa Mike Flanagan telah melakukan dua hal yang menakjubkan dalam adaptasi ini yaitu berhasil mengadaptasi novelnya menjadi film yang bagus, dan sebagai sekuel mampu menampilkan cerita yang walau berbeda dengan novelnya menjadi sesuatu hal dan pengalaman baru yang unik dan sangat menarik. Jadi jangan sampai anda melwatkan penayangan Doctor Sleep di bioskop terdekat di sekitar anda.





    Overall: 8.5/10

    (By Camy Surjadi)