Saturday, February 8, 2020

    ULASAN: LITTLE WOMEN



    Sejak ditulis pada tahun 1868 oleh Louisa May Alcott, Little Women sudah diadaptasi menjadi film setidaknya sebanyak enam kali, yaitu pada tahun 1917, 1918,1933, 1949, 1994, dan 2019. Film adaptasi terakhir itu baru masuk Indonesia pada Februari 2020, tepatnya akan mulai tayang pada tanggal 7 Februari 2020, dua bulan lebih lambat dibandingkan tanggal penayangan di Amerika Serikat (Desember 2019). Oleh karena itu membuat para penonton menjadi semakin tidak sabar untuk menyaksikan film tersebut. Apalagi beredar berita bahwa film ini menjadi salah satu kandidat peraih Oscar di kategori Best Picture, Best Actress (Saoirse Ronan), Best Supporting Actress (Florence Pugh), Best Adapted Screenplay (Greta Gerwig), Best Original Music Score (Alexandre Desplat), dan Best Costume Design (Jacqueline Durran).



    Keindahan scene dan kostum pada film membuat mata penonton merasa nyaman untuk menyaksikan film ini, bahkan ingin menontonnya berkali-kali. Selain itu para penonton juga akan merasakan kehangatan yang teradapat pada keluarga March. Sehingga wajar film ini meraih banyak nominasi pada Oscar 2020.



    Film ini bercerita tentang empat orang putri Mr. March (Bob Odenkirk) dan Mrs. March/Marmee (Laura Dern), yaitu Meg (Emma Watson), Jo (Saoirse Ronan), Beth (Eliza Scanlen), dan Amy (Florence Pugh), sama seperti di bukunya. Keempat putri pada keluarga March ini memiliki karakter dan bakat yang berbeda-beda. Meg si sulung memiliki karakter keibuan, pengatur dan sangat feminim, dengan bakat acting. Jo atau Josephine merupakan satu-satunya putri keluarga March yang tomboy, ia bahkan ingin sekali menjadi laki-laki, menyingkat namanya seperti nama laki-laki, bertingkah laku seperti laki-laki, benci takdirnya sebagai perempuan, bahkan ingin terjun ke medan perang. Jo merupakan tokoh utama pada film ini. Film ini beralur maju mundur berdasarkan sudut pandang Jo, di mana dikisahkan bahwa film ini berdasarkan cerita yang ditulis Jo mengenai keluarganya. Ya, Jo memang sangat berbakat menjadi penulis, dan itu adalah salah satu caranya mencari nafkah.



    Putri ketiga (Beth), merupakan anak yang paling lemah, sering sakit, namun memiliki hati paling lembut, pendamai bagi saudari-saudarinya ketika mereka bertengkar, dan paling pemalu. Di balik itu semua, Beth sangat berbakat di bidang musik. Karena bakatnya itu, ia dihadiahi tetangganya yang kaya raya, Mr. Lawrence sebuah piano. Amy si bungsu merupakan karakter yang mewakili perempuan pada zaman itu yang ingin menikahi laki-laki kaya untuk meningkatkan taraf hidup dirinya dan keluarganya. Amy selalu berusaha tampil cantik dan menawan. Amy merasa dirinya memiliki bakat melukis.



    Karakter dan bakat yang berbeda-beda itulah yang menjadi kekuatan pada cerita di film ini. Terkadang karena perbedaan-perbedaan itu mereka bertengkar, namun lebih banyak mereka bersatu. Misalnya saja ketika malam perayaan Natal, dengan bakat masing-masing, mereka menggelar drama yang ditonton keluarga dan tetangga.



    Bisa ditebak dari judulnya yang terdapat kata women, film ini memang juga bercerita tentang usaha dan kondisi emansipasi wanita di tahun 1800-an. Perempuan pada zaman itu dituntut untuk mengalah dengan laki-laki (terjadi pada Meg, yang harus mengalah pada suaminya), harus bisa menarik perhatian laki-laki agar mau menikahinya (terjadi pada Amy), bahkan cenderung menyembunyikan namanya sebagai penulis novel, agar tidak terlihat bahwa ia seorang perempuan (dialami oleh Jo). Selain itu juga terjadi cinta segitiga antar kedua saudari (Jo dan Amy) dengan laki-laki tetangga mereka Theodore Laurie Lawrence (Timothée Chalamet)



    Walaupun diadaptasi dari novel dengan judul yang sama, film ini ditulis ulang naskahnya oleh Greta Gerwig, sehingga ada beberapa hal yang tidak sama dengan buku. Jadi walaupun kamu sudah pernah membaca novelnya atau menonton film-film adaptasi Little Women lainnya, film ini masih sangat layak untuk ditonton karena menyajikan banyak hal berbeda dari novel maupun fil-film adaptasi sebelumnya. Penasaran bagaimana cerita film dengan rate 8,1 di IMDB ini ? Ayo segera temui empat bersaudari March di bioskop-bioskop kesayanganmu!

    Overall:
    (By Aisyah Syihab)

    Friday, February 7, 2020

    ULASAN: BIRDS OF PREY



    Pada akhir 2019 lalu kita dikejutkan dengan fakta bahwa universe TV dan film DC akhirnya disatukan lewat cerita Crisis on Infinite Earths yang terbilang cukup fantastis karena membawa karakter-karakter lama yang pernah muncul di TV maupun seri terdahulu (beberapa di antaranya seperti Smallville dan Superman Returns). Tahun ini DCEU (DC Cinematic Universe) kembali melanjutkan franchisenya lewat film spin-off berjudul Birds of Prey, yang merupakan film kedelapan dalam DCEU, setelah film Suicide Squad yang flop di tahun 2016 lalu. Karena tema women empowerment sedang gencar maka DC merasa ini saat yang tepat untuk merilis film bertemakan team-up semua tokoh hero wanita dengan berfokus pada karakter Harley Quinn yang merupakan counterpart dari kisah komiknya dengan judul sama. Sempat beredar kabar bahwa tadinya ada opsi untuk membuat Gotham City Sirens selain Birds of Prey. Namun akhirnya Margot Robbie sang bintang utama memilih Birds of Prey dan Gotham City Sirens ditunda sampai ada info lebih lanjut, alasannya Margot Robbie ingin agar para fans-nya lebih mengenal tokoh wanita DC yang ‘kurang dikenal’ ketimbang Catwoman atau Poison Ivy (yang lebih banyak dikenal karena mereka adalah musuh Batman. Birds of Prey disutradarai oleh Cathy Yan dan screenplay-nya ditulis oleh Christina Hodson. Film ini dibintangi oleh Margot Robbie, Mary Elizabeth Winstead, Jurnee Smollett-Bell, Rosie Perez, Chris Messina, Ella Jay Basco, Ali Wong, dan Ewan McGregor. Cerita film ini berfokus mengenai petualangan Harley Quinn yang bergabung bersama Black Canary, Helena Bertinelli, dan Renee Montoya demi menyelamatkan Cassandra Cain dari salah satu penjahat keji di Githam yaitu Black Mask.



    Setelah peristiwa di film Suicide Squad, Harley Quinn (Margot Robbie) kini telah putus dari Joker dan tidak lagi berada dalam pengaruh dan perlindungannya. Setelah putus Harley sempat tenggelam dalam ritual rutin yang biasa dilakukan seseorang sehabis putus yaitu memotong rambutnya, bergabung dalam tim Roller Derby, hingga mencoba bersenang-senang di klub milik seorang bos mafia kejam namun narsis Roman Sionis (Ewan McGregor), yang juga dikenal dengan nama Black Mask. Harley terlindungi dari para penjahat di Gotham berkat statusnya sebagai pacar Joker. Namun hal itu berubah ketika salah seorang anggota roller derby mengolok-oloknya sebagai wanita yang clingy dan pasti akan kembali ke pelukan Joker. Mendengar hal itu Harley memutuskan membuat ‘pengumuman’ dengan menabrakkan truk ke pabrik Ace Chemical tempat dia bertransformasi pertama kali dan menjadi pasangan Joker. Setelah peristiwa tersebut tersebar, semua penjahat di kota Gotham mengejar dan mencoba membuat perhitungan atas hal yang telah dilakukan Harley kepada mereka terutama Roman dan kaki tangannya Victor Zsasz. Namun tanpa disadari, Harley terlibat dalam plot pencurian permata yang diincar oleh Roman karena berisi informasi kekayaan keluarga Bertinelli yang ingin dikuasai oleh Roman. Harley menawarkan diri untuk membantu Roman mendapatkan permata tersebut sebagai jaminan untuk nyawanya. Perburuan permata ini membawanya pada Cassandra Cain (Ella Jay Basco) yang diketahui membawa permata tersebut, ia juga harus berhadapan dengan Dinah Lance/ Black Canary (Jurnee Smollett-Bell) yang bekerja untuk Roman, detektif idealis Renée Montoya (Rosie Perez) yang ingin meringkusnya, serta tidak ketinggalan Helena Bertinelli/ Huntress (Mary Elizabeth Winstead) yang mempunyai dendam pada para penjahat yang telah menghabisi keluarganya. Di tengah kekacauan ini, dapatkah Harley Quinn menunaikan janjinya kepada Roman dengan tetap selamat?



    Melalui Birds of Prey, DC mencoba menampilkan sisi lain dari film-film mereka, yang kali ini cukup terasa unik dan ‘messy’ persis seperti karakter Harley Quinn yang memang menjadi fokus film ini. Sepanjang cerita film banyak diisi narasi suara Harley Quinn sehingga penonton seperti menonton dan mendengar cerita dari POV (Point of View) Harley Quinn yang menjelaskan secara non linear namun maju mundur dan terkesan semaunya. Keputusan untuk tidak membuat film solo namun menempatkan Harley Quinn dalam team-up movie sudah tepat tetapi film ini tidak cocok untuk semua demografi penonton, penonton yang mengharapkan cerita yang kompleks dan aksi yang spektakuler tidak akan mendapatkannya di film ini dan untuk penonton pria pasti akan beda menanggapinya dengan penonton wanita karena tema feminisme yang diusungnya cukup kentara. Istilahnya seperti kita menonton aksi geng cewe yang masing-masing personilnya memiliki basic problem yang cukup kacau dan bagaimana akhirnya karena ketiadaan pilihan mereka bekerja sama untuk mengatasi kekacauan yang lebih besar. Perlu kejelian untuk menangkap maksud dan pesan sang sutradara dalam film ini karena di permukaan film ini terkesan urakan, penuh humor absurd, dan dark comedy tetapi karakter Harley Quinn benar-benar menjadi lebih hidup dan diberi ruang untuk berkembang lagi di film ini sembari penonton diperkenalkan dengan tokoh-tokoh wanita lain. Durasi selama 109 menit benar-benar digunakan Cathy Yan untuk mengeksplorasi karakter Harley Quinn dari aspek yang tidak muncul sebelumnya dalam Suicide Squad. Tone film ini yang fun dan playful sayangnya tidak diimbangi dengan plot cerita di film ini yang sederhana dan mudah tertebak, keadaan ini menjadi salah satu penyumbang permasalahan film ini. Bagi penonton yang senang dengan cerita superhero/ antihero yang berbobot mungkin harus menurunkan ekspektasinya ketika menyaksikan film ini. Film ini cocok sebagai pelepas jenuh cukup nikmati saja ceritanya karena kita tidak perlu banyak berpikir.



    Ansamble cast yang ada dalam film ini terbilang menarik dan walaupun karakter dalam film cukup banyak namun tetap terlihat bahwa Margot Robbie tetap tampil mempesona dan dominan sebagai Harley Quinn, karakter yang terlemah dalam film ini adalah Mary Elizabeth Winstead yang terkesan sedikit dipaksakan, Ella Jay sebagai Cassandra Cain cukup mencuri perhatian dan sukses memerankan anak perempuan bengal dan nakal, Jurnee Smollett sebagai Black Canary cukup representatif dan mampu menunjukkan dinamika akting yang baik Bersama Margot Robbie, hal senada juga ditunjukkan oleh Rosie Perez yang berperan sebagai Renée Montoya, seorang polisi idealis dengan gaya khas detektif wanita ala 80’an yang akhirnya mau bekerja sama dengan Harley untuk mengatasi Roman. Para karakter antagonis dalam film ini mulai dari yang level preman hingga kakap (Roman dan Victor) tampil “cartoonish” dengan adegan kekerasan yang dibalut dark comedy untuk mengurangi ketegangan penonton dan tetap pada jalur ‘fun and playful” tetapi hal ini tidak berhasil diterapkan pada semua adegan film. Ewan McGregor sebagai aktor yang berbakat kurang begitu dioptimalkan sebagai karakter Black Mask dan terkesan terjebak dalam memerankan stereotipe bos mafia yang gila. Unsur lain yang perlu dikritisi adalah pemilihan wardrobe yang kurang telaten dan sesuai untuk personifikasi karakter Black Canary dan Huntress. Kostum Harley Quinn memang sesuai cirinya yang berwarna, ceria, serta urakan tetapi ketika dibandingkan dengan karakter lain yang notabene karakter DC cukup jomplang padahal seharusnya mereka semua bisa dibuat lebih ‘standout’.



    Terlihat bahwa Cathy Yan bersama Christina Hodson mencoba menampilkan isu feminis dalam film ini dengan menyajikan cerita yang berfokus pada karakter-karakter wanita yang mengalami ketidakadilan dan penindasan dengan gaya cerita yang santai dan ringan. Bagaimana seseorang mencoba melepaskan diri dari judgement dari orang-orang di sekelilingnya dan menjadi independen tergambar lewat karakter Harley Quinn yang dalam cerita berusaha membuktikan bahwa ia bukanlah wanita yang hanya bisa berlindung di balik kuasa seorang pria (Joker). Empowerment of women diperlihatkan lewat karakter Black Canary dan Renee Montoya, polisi wanita yang mengalami konflik dengan atasan di lingkungan kerjanya hingga akhirnya mereka mampu mengambil sikap tegas guna mengakhiri konflik tersebut. Gaya penceritaan yang unik dan tidak biasa dimanfaatkan Cathy Yan, yang juga merupakan debut utamanya dalam menyutradarai film layer lebar, untuk memberikan karakteristik yang unik dan fresh untuk film ini namun penilaian publik mungkin akan terbagi dari yang puas hingga biasa saja. Pesan dalam film Birds of Prey akan relate untuk kalangan tertentu tetapi tidak untuk golongan lainnya, untuk menuntaskan rasa penasaran tidak ada salahnya menyaksikan film ini di bioskop.


    Overall: 7/10

    (Camy Surjadi)





    Wednesday, February 5, 2020

    ULASAN: SECRET ZOO



    Film – film drama komedi Korea Selatan terkenal dengan kreativitasnya dalam mengolah tema yang tidak biasa namun bisa menjadi cerita yang sangat menarik. Kali ini film keluarga bertajuk Secret Zoo yang bernuansa komedi hadir. Film ini diangkat dari adaptasi serial webcomic berjudul Haechijiana karya Hun dan sudah dipublikasikan dari 20 September 2011 hingga 27 April 2012 di Daum Webtoon Company. Film ini disutradarai dan ditulis naskah ceritanya oleh Son Jae-Gon (Villain and Widow-2010; My Scary Girl-2006) dan dibintangi oleh Ahn Jae-Hong (Miss & Mrs Cops -2019) dan Kang So-Ra (Cheer Up Mr.Lee-2013; Sunny-2011) sebagai bintang utama dengan didukung oleh Park Young-Gyu (Happiness for Sale-2013), Kim Sung-Oh (Unstoppable-2018; The Merciless-2017), Jeon Yeo-Bin (Illang: The Wolf Brigade-2018), Park Hyuk-Kwon (Unfinished-2018), Yoon Sung-Woo (Ashfall-2019), dan Jeon Woon-Jong (K-Drama series Chocolate-2018/2019). Film ini sudah dirilis di Korea Selatan pada 15 Januari 2020 dan telah menjadi box office di Korsel dengan menjual lebih dari 813 ribu tiket di 1.216 layar sejak tayang. Film Secret Zoo akan tayang di bioskop Indonesia pada 5 Februari 2020.



    Tae Soo (Ahn Jae Hong), seorang pengacara yang sedang berusaha meraih kesuksesan di tempat ia bekerja mendapat kesempatan menjadi direktur di sebuah kebun binatang setelah menyelamatkan bosnya CEO Hwang (Park-Hyuk Kwon) dari amukan para demonstran. Tae Soo diberi waktu 3 bulan untuk mengurus kebun binatang tersebut agar ramai kembali sebelum perusahaannya akan menjual kembali ke pihak pembeli Min Chae-Ryung (Han Ye-Ri). Akan tetapi sesampainya di lokasi, Tae Soo terkejut mendapati kebun binatang tersebut hampir mengalami kebangkrutan dan akan ditutup. Semua hewan di kebun binatang habis terjual, dan hanya menyisakan sangat sedikit binatang serta seekor beruang kutub bernama Black Nose. CEO Hwang rutin mengecek Tae Soo untuk memastikan apakah ia mampu melaksanakan tugas yang diberikan, Tae Soo selalu menjawab dengan yakin. Karena terdesak, Tae Soo akhirnya memiliki sebuah ide yang sangat tidak biasa bahkan agak gila untuk menyelamatkan kebun binatang tersebut. Tae Soo mengajak para pegawainya untuk menggunakan hewan palsu sebagai pengganti hewan-hewan asli karena mereka tidak mungkin mendatangkan hewan-hewan asli dalam waktu singkat. Tae So dan para karyawannya mendatangi tempat pembuatan kostum untuk film yang digawangi oleh Tuan Ko (Kim Ki-Cheon), guna mendapatkan kostum yang terlihat ‘nyata’. Kostum yang disarankan adalah singa, beruang kutub, kukang, dan gorila, serta jerapah yang akan disusulkan. Para pegawai kebun binatang diminta oleh Tae Soo untuk berpura-pura menjadi hewan-hewan tersebut. Han So Won (Kang Sora) diminta menjadi singa, direktur Seo (Park Young Gyu), yang merupakan direktur kebun binatang sebelumnya, diminta menjadi beruang kutub, Kim Gun Wook (Kim Sung Oh) diminta menjadi gorilla, dan Kim Hae Kyung (Jeon Yeo Bin) menjadi kukang. Tae Soo yang menggantikan direktur Seo menyamar sebagai beruang kutub suatu ketika merasa Lelah dan meminum Coca-Cola. Hal tersebut ternyata dilihat oleh pengunjung dan akibat kelucuan itu kebun binatang tersebut akhirnya menjadi ramai dan viral di media sosial. Akan tetapi berbagai rintangan sudah menunggu Tae Soo dan para pegawai kebun binatang. Berhasilkah Tae Soo meraih kesuksesan dan posisi yang dijanjikannya setelah kebun binatang yang dipimpinnya menjadi viral atau malah ‘kepalsuan’ yang dia rencanakan terkuak?



    Adaptasi cerita webtoon Haechijiana ini terbilang berhasil karena mampu menghadirkan cerita yang lucu namun tetap memiliki emosi dan pesan yang mengena untuk para penonton. Dengan durasi 117 menit narasi cerita mengalir dengan baik di bagian awal dan pertengahan cerita namun agak tergesa-gesa di bagian konklusinya. Pada bagian introduksi dan pengenalan karakter apa yang dilakukan dalam film ini sudah sangat baik, penonton diperkenalkan secara perlahan dan detil mengenai keseharian hidup Tae Soo sehingga memberi penonton waktu untuk terhubung dengannya. Lalu di bagian berikutnya penonton diperkenalkan dengan karakter-karakter pegawai kebun binatang yang cukup beragam namun mereka semua mampu memberikan dinamika yang menarik di sepanjang cerita film berkat interaksi mereka dengan Tae Soo ataupun di antara mereka satu sama lain. Unsur komedi film ini adalah aspek yang paling menarik karena mampu ditempatkan pada adegan-adegan yang tepat dan dijamin memancing gelak tawa. Selingan kisah percintaan juga turut diselipkan antara Tae Soo dan Han So serta Kim Gun Wook dan Kim Hae Kyung tetapi sayangnya terlalu dangkal padahal akan menarik jika dieksplorasi karena chemistry di antara kedua pasangan tersebut mampu ditampilkan dengan baik dan organik. Momen-momen dramatis juga disajikan dengan baik dan mampu membuat penonton berempati dan merefleksikan masalah dan konflik yang terjadi di kebun binatang. Akting Ahn Jae Hong sebagai karakter utama sangat baik terutama di momen-momen dia mengalami konflik batin dan moral atas keputusan yang harus ia buat terkait kebun binatang yang ia pimpin. Ahn Jae Hong juga terlihat lebih berakting dominan dibandingkan Kang Sora kemungkinan karena jalan cerita yang kurang memberi mereka momen untuk bersama padahal hubungan di antara mereka akan sangat menarik untuk dieksplorasi. Jalan cerita film ini mudah ditebak ketika kita menuju pertengahan film namun dinamika akting para pemainnya dalam memancing gelak tawa penonton mampu menarik penonton untuk menantikan seperti apa adegan final film ini.



    Hal utama yang patut diapresiasi dalam film ini adalah penggunaan kostum yang sangat baik kualitasnya sehingga penampilan para aktor/ aktris dalam ksotum binatang terlihat meyakinkan dan mampu menunjang keseluruhan cerita dengan sangat baik. Mereka juga mampu tampil kocak lewat dialog-dialog dan tingkah konyol selagi berada dalam kostum binatang. Kekurangan yang sekaligus menjadi tantangan dalam film ini adalah karakter beruang kutub Black Nose yang full CGI tetap terlihat kentara di beberapa adegan dan sangat sulit untuk menampilkan gerakan atau interaksi yang realistis dari beruang kutub tersebut. Akan tetapi untungnya hal tersebut tidak mengganggu jalan cerita namun bagi penonton dewasa yang detil pasti akan menyadari kekurangan ini. Minimnya kehadiran hewan juga menjadi pertanyaan karena dalam film diceritakan para pegawai kebun binatang masih mengurus beberapa binatang kecil yang tersisa, penonton tidak akan melihat interaksi para pegawai kebun binatang tersebut dengan para hewan. Ide penggunaan kostum binatang sekaligus merefleksikan pertanyaan dan ironi apakah manusia mengeksploitasi para hewan hanya untuk objek tontonan semata.



    Son Jae-Gon berusaha menyampaikan isu seputar permasalahan yang kerap terjadi di kebun binatang lewat serangkaian peristiwa-peristiwa dan dialog para pemainnya dalam film dengan tepat dan mengena bagi penonton khususnya mengenai nasib-nasib para binatang yang ada di kebun binatang. Jae-Gon mengajak para penonton untuk ikut berpikir tentang apakah manfaat dari kebun binatang itu sepadan dengan hewan-hewan yang ‘dikondisikan’ bukan di habitat asli mereka dan menunjukkan bahwa yang dapat manusia lakukan adalah merawat para binatang itu sebaik mungkin. Karena sebaik apapun kebun binatang dirancang tetap tidak akan dapat meyamai habitat asli mereka, hal inilah yang kerap menjadi pertentangan bagi organisasi pencinta hewan terhadap kebun binatang. Selain itu isu penindasan korporasi besar, dalam film ini properti, yang mencaplok kebun binatang untuk dijadikan area perumahan seakan menyindir praktik yang sering terjadi di kota-kota besar yang lebih mementingkan keuntungan ketimbang preservasi lingkungan dan kekayaan alam. Dilema moral tentang bagaimana seharusnya kita memilih hal yang benar untuk dilakukan dalam hidup digambarkan dengan sangat baik dalam film ini. Jae-Gon pandai merangkai adegan dan cerita dalam film guna menyampaikan pesan-pesan tersebut secara santai namun tepat sasaran. Seusai menyaksikan film ini semoga anda mendapatkan pesan bahwa kita memiliki peran dalam menjaga kelangsungan hidup hewan-hewan di dunia sekaligus memiliki perspektif baru terhadap kebun binatang dan para pekerja yang terlibat di dalamnya.

    Overall: 8/10
    (By Camy Surjadi)



    Wednesday, January 29, 2020

    ULASAN: ENTER THE FAT DRAGON



    Film action-comedy merupakan genre yang cukup digemari asalkan kombinasi aksi dan komedinya pas dan tidak berlebihan, jika di film-film Hollywood mereka menggabungkan aksi tembak-menembak dengan selipan humor maka di film-film Asia umumnya aksi tembak-menembak diganti dengan aksi bela diri. Jika anda besar dengan film-film mandarin bergenre kungfu komedi yang cukup berjaya di era 90-an maka pasti anda tidak asing dengan nama-nama Jackie Chan, Sammo Hung, dan Stephen Chow. Nah di awal tahun 2020 ini kita akan disuguhkan dengan film komedi yang merupakan terinspirasi dari film berjudul sama di tahun 1978 yang dibintangi oleh Sammo Hung. Film ini ditulis dan disutradarai oleh Wong Jing. Donnie Yen selain berlaku sebagai produser juga berperan dalam film ini bersama dengan Sandra Ng, Teresa Mo, Niki Chow, dan Wong Jing sendiri yang tampil di beberapa adegan. Film ini dirilis pada 23 Januari 2020 di Hongkong dan tanggal 28 Januari 2020 di bioskop Indonesia.



    Fallon Zhu (Donnie Yen) merupakan polisi berdedikasi yang juga adalah anggota satuan Hong Kong Police Special Task Force, ia menguasai teknik bela diri dan sangat bertekad dalam aksinya menangkap pelaku kriminal. Namun seringkali kerusakan yang ditimbulkan sewaktu ia beraksi membawa kesulitan dalam karirnya di kepolisian sampai akhirnya atasannya mendemosinya ke Divisi pengawasan barang bukti akibat suatu kejadian yang tidak mengenakan. Belum cukup sampai di situ, kekasihnya Chloe (Niki Chow) memutuskannya karena menganggap Fallon lebih mementingkan menangkap kriminal daripada urusan percintaan mereka. Putus asa karena kedua hal tersebut, Fallon menjadikan makanan sebagai pelarian dari masalahya ditambah dengan dirinya yang belakangan hanya diam menjaga kumpulan barang bukti maka Fallon dalam waktu tiga bulan tanpa disadari sudah menambah bobotnya menjadi 150 kg. Suatu waktu Fallon mendapat kesempatan dari rekannya untuk mendampingi saksi kunci penyelundupan narkoba sindikat Yakuza Jepang untuk menjadi saksi di pengadilan Tokyo tetapi hal ini sudah diketahui oleh para Yakuza dan mereka berencana untuk menghabisi saksi tersebut. Akankah Fallon berhasil kembali ke divisi Special Task Force dan tidak tenggelam dalam kesedihannya serta mampu bangkit kembali untuk membuktikan cintanya terhadap Chloe?



    Sebagai film action-comedy yang sarat aksi perkelahian film ini tidak terlalu meninggalkan kesan yang berarti untuk saya, lebih kepada unsur nostalgianya saja yang membuat saya dan sebagian besar penonton tertarik untuk menonton film ini di samping faktor bahwa Donnie Yen adalah bintang utama di film ini. Dari segi narasi film ini cukup simpel dan mudah diikuti, tidak perlu berpikir terlalu keras ataupun serius karena tidak ada teka-teki atau pun misteri yang dilibatkan dalam ceritanya namun integrasi plot cerita terkesan tidak kohesif mulai dari motivasi Fallon sendiri yang kurang dibahas dengan jelas kenapa dia menjadi polisi, bahkan kondisi fisik yang juga menjadi judul film ini tidak dimanfaatkan sama sekali dalam cerita selain sebagai bahan ejekan saja, begitu pun soal penyelesaian konflik antara dia dengan Chloe yang terkesan dangkal padahal hal ini bisa dimanfaatkan lebih baik untuk memperkaya cerita. Durasi 96 menit memang sudah pas untuk tipe film seperti ini walau ketika klimaks film ini agak melempem. Hal yang cukup disayangkan adalah proporsi komedi yang serba nanggung dan kurang cocok untuk penonton generasi sekarang karena komedinya menggunakan formula dan koreografi yang sama dengan yang digunakan di film-film Jackie Chan ataupun Sammo Hung. Gaya komedi komikal yang digunakan hanya sanggup membuat kita hanya sampai pada level tersenyum tidak sampai tertawa terbahak-bahak dan ada beberapa yang cenderung aneh. Untuk sinematografi terbilang ada hal baru dan fresh yang coba ditampilkan di film ini, setting lokasi di Tokyo memberi nuansa unik tersendiri karena biasanya film-film bela diri Hong Kong jarang yang menggunakan lokasi di luar negeri. Beberapa setting lokasi untuk adegan perkelahian cukup representatif untuk memperlihatkan sisi -sisi kota Tokyo terlebih adegan final yang menggunakan Tokyo Tower. Penggunaan CGI sayangnya cukup kentara di beberapa adegan yang cukup mengganggu ketika menonton.



    Tidak dapat dipungkiri bahwa Donnie Yen adalah faktor kunci yang membuat film ini menarik khalayak. Selepas citra Ip Man yang begitu melekat pada dirinya bisa jadi film ini adalah usahanya agar ada persona lain yang dapat mendongkrak kesuksesannya di film-film mendatang tetapi usahanya ini sepertinya kurang berhasil. Sebagai penonton yang menyaksikan film ini bakal sulit untuk terhubung dengan karakter-karakter dalam film ini kecuali Donnie Yen sendiri, tidak ada karakter yang melekat dikarenakan tidak ada ekplorasi dan pengembangan karakter yang digarap dengan serius. Untuk para cast, tidak begitu ada yang menonjol dari segi performance, Wong Jing dan Teresa Mo seharusnya bisa lebih dihidupkan karakternya namun kehadiran mereka nampaknya bisa diabaikan, Niki Wong yang berperan sebagai kekasih Donnie Yen juga tidak mampu menampilkan chemistry sebagai pasangan sehingga terkesan flat. Begitu pun dengan Joey Tee sebagai karakter antagonis dalam film ini tidak dapat menampilkan kedalaman karakter dan motivasinya melakukan tindakan kejahatan. Penggunaan reference jokes ke film-film Donnie Yen sebelumnya (SPL dan Flash Point) terbilang cerdas dan menjadi nilai lebih tersendiri yang jarang ada dalam film laga mandarin. 



    Wong Jing sebagai sutradara yang sudah lama berkecimpung dalam film Action Comedy seharusnya dapat mengangkat tema bela diri dalam film ini dengan lebih kaya khususnya karena film ini sama-sama terinspirasi dari Bruce Lee. Namun di film pun hal-hal terakit Bruce Lee hanya ditampilkan dalam bentuk poster-poster yang terpampang di dinding rumah Fallon padahal bisa diceritakan lebih dari sekedar poster. Penonton sama sekali tidak akan mendapat kesan kalau Fallon benar-benar mengidolakan Bruce Lee sehingga ia menjadi seorang polisi yang jago bela diri. Isu berat badan juga sama sekali tidak digunakan dan dibahas di film ini padahal ini bisa menjadi tema yang sangat menarik karena bisa dikaitkan dengan motivasi sang karakter utama dan apakah hal tersebut memang dapat mempengaruhi performa seseorang dalam melakukan aksi bela diri mengingat perannya sebagai polisi. Sayang aktor sekelas Donnie Yen kurang dioptimalkan dengan film yang potensial seperti ini. Secara overall film ini masih layak untuk dinikmati untuk melepas kejenuhan dan melihat sisi lain Donnie Yen di film yang bersetting di abad modern.




    Overall: 7/10
    (By Camy Surjadi) 


    Monday, January 20, 2020

    ULASAN: BAD BOYS FOR LIFE



    Nama Jerry Bruckheimer sebagai produser bisa dibilang salah satu produser yang sukses di Hollywood. Kariernya yang sedang menuju 5 dekade sudah banyak melahirkan film-film yang kebanyakan action ini  yang meninggalkan kesan bagi penontonnya seperti Top Gun, Beverly Hills Cop, The Rock, Con Air, Armagedon dan termasuk Bad Boys semua ada dibawah arahan produser yang satu ini. Hanya saja belakangan beberapa film yang dia produseri mendapatkan hasil yang kurang memuaskan secara kritik maupun pemasukan. Gemini Man adalah kasus terakhir bagaimana film yang disutradarai oleh Ang Lee dan dibintagi Will Smith hancur lebur pada dua sektor itu. Dan merasa pasar penonton mengarah dengan berbau nostalgia, Bruckheimer juga tidak mau ketinggalan untuk mengikuti tren ini. Saat ini ada waralaba tahun 80 dan 90-an yang akan coba kembali diangkat oleh Bruckheimer ada Top Gun, Beverly Hills Cop dan Bad Boys. Pada daftar pertama yang yang tayang saat ini tentu saja Bad Boys, seri ketiga yang berjarak 17 tahun dari film sebelumnya.



    Bad Boys for Life kembali dibintangi 2 aktor utama pada dua film sebelumnya Will Smith dan Martin Lawrence yang memang menjadi kekuatan waralaba film ini. Hanya saja sayang Michael Bay tidak bisa terlibat lagi sebagai sutradara karena masalah bujet untuk film ketiga ini yang belum bisa mebiayai keterlibatan Will Smith dan Michael Bay sekaligus. Posisi sutradara diduduki oleh duet nama baru di industri hollywood yaitu Adil El Arbi dan Bilall Fallah yang justru mendapat rekomendasi dari Michael Bay sendiri. Lalu pemeran-pemeran lainnya Vanessa Hudgens, Alexander Ludwig, Charles Melton, Paola Nunez dan Joe Pantoliano.



    Seri ketiga film Bad Boys ini akan melanjutkan tentang aksi pasangan detektif Mike Lowrey (Will Smith) dan detektif Marcus Burnett (Martin Lawrence) yang sudah memasuki yang tidak muda lagi. Disaat Marcus sudah berpikiran bulat jika pensiun adalah pilihan tepat tetapi tidak dengan Mike yang justru masih ingin jadi polisi sampai kapanpun dia mau. Hingga pada saat yang tidak terduga Mike ditembak oleh orang yang tidak dikenal. Penembakan yang hampir merengggut nyawa Mike untuk selamanya.



    Kejadian penembakan yang berbuntut panjang yang membuat Mike ingin terlibat dalam penyelidikan penembakan dibawah komando AMMO (Advanced Miami Metro Operations) yang dpimpin oleh Rita (Paola Nunez). Penyelidikan yang dilakukan Mike mengerahkannya pada masa lalunya yang dia kubur selama ini dan membawa korban jiwa. Hal yang membuat Marcus pun harus turun gunung dari masa pensiunnya dan membantu Mike untuk menangkap orang dibalik semua kejahatan yang dilakukan.



    17 tahun jarak film terakhir dan yang terbaru bukanlah waktu yang sebentar. Dengan banyaknya kegagalan franchise tahun 80 dan 90-an yang coba dibangkitkan lagi seperti Rambo, Poltergeist, Robocop, Terminator, Power Ranger dan Ghostbusters, jadi hal yang wajar jika Bad Boys for Life diprediksi akan mengikuti jejak kegagalan para suksesornya. Terlebih Michael Bay tidak berada di kursi sutradara. Saya salah satu yang berada pada sisi yang skeptis dengan film ketiga ini. Dan ternyata prediksi gagal atau skepstis berhasil dijungkalkan. Adil dan Billal yang memang masih hijau di hollywood mampu membayar kepercayaan pihak studio di proyek besar film pertama mereka berdua. Rekomendasi dari Michael Bay untuk menggunakan jasa mereka berdua benar-benar keputusan tepat. Meskipun tidak ada Bay lagi terlibat, Adil dan Billal justru tidak menghilangkan unsur yang menjadi ciri khas pada dua film sebelumnya, yang paling kentara tentu saja slow motion dan actionnya. Karena saking kentaranya dua hal tersebut membuat kamu akan menjadi bertanya 'Ýakin nih bukan Michael Bay sutradaranya ?' 



    Lalu pada bagian dramanya, pengembangan karakter Mike dan Marcus adalah salah satu poin penting Bad Boys for Life. Meskipun digambarkan tidak terhentikan dalam setiap misinya, tetapi penulis naskah masih memanusiakan dua karakter ini. Memanusiakan disini ketika mereka membicarakan umur yang sudah makin tua dan ingin menikmati masa tua dan mulai kepayahan dalam beraktifitas. Coba bandingkan dengan karakter Ethan Hunt dalam semua film Mission Impossible yang makin tua makin super yang sama sekali tidak pernah mempermasalahkan umur.



    Untuk plot utama cerita bisa dibilang tidak mempunyai sesuatu yang luar biasa. Kita sudah banyak menemui film dengan plot cerita yang sama. Hanya saja Bad Boys for Life berhasikan memberikan momen nostalgia pada film-film bertema buddy cop yang akhir-akhir ini jarang kita temukan. Daya magis duet Will Smith dan martin Lawrence benar-benar makin kuat di film ini yang membuat kita tidak akan keberatan jika film ini masih memiliki sequel selanjutnya.


    Overall 8,5/10

    (By Zul Guci)

    Friday, January 17, 2020

    ULASAN: DOLITTLE




    Butuh waktu 5 tahun bagi Robert Downey Jr (RDJ) bisa lagi membintangi film diluar karakternya sebagai Tony Stark di Marvel Cinematic Universe. Terakhir RDJ bermain diluar karakternya sebagai Tony Stark pada tahun 2014 lalu lewat film The Judge. Kali ini tidak tanggung-tanggung, RDJ terlibat sebagai pemeran utama dan eksekutif produser untuk fim petualangan fantasi seorang dokter yang bisa berbicara pada hewan, film ini berjudul 'Dolittle'. Perlu diketahui film ini tidak ada berhubungan dengan Dr. Dollitle versi Eddie Murphy yang mempunyai 2 film yang rilis tahun 1998 dan 2001. Dolittle versi terbaru ini mengambil cerita dalam buku The Voyages of Doctor Dolittle karya Hugh Lofthing yang rilis tahun 1922.



    Film ini disutradarai Stephen Gaghan (Syriana, Gold), film dengan konsep live action ini didukung oleh pengisi-pengisi suara yang namanya sudah sangat kita kenal seperti rami malek, Ralph Fiennes, Emma Thompson, John Cena, Tom Holland, Octavia Spencer, Slena Gomez, Marion Cotillard, Kumail Nanjiani dan Craig Robinson. Smentara untuk naskah, Stephen Gaghane dibantu oleh Dan Gregor dan Doug Mand.



    Setelah kehilangan istri tercinta, Dr. John Dolittle (Robert Downey Jr.) yang eksentrik mengasingkan dirinya di balik rumahnya dan hanya ditemani hewan-hewan peliharaannya yang eksotis.Tapi saat ratu (Jessie Buckley) jatuh sakit parah, Dolittle yang awalnya tidak tergugah untuk membantu akhirnya terpaksa harus keluar dari pengasingannya untuk mencari sebuah obat di sebuah pulau yang dianggap tidak pernah ada. Perjalanan Dolittle dan hewan-hewan kesayangannya membawanya pada petulalangan tak terduga, saat ia menemukan mahkluk menakjubkan, keberaniannya, kecerdasannya dan bertemu musuh lamanya.


    Seperti yang sudah disebut diatas, Dolittle sama sekali jauh berbeda dengan versi Eddie Murphy. Yang paling kentara tentu saja setting tahun cerita. Dolittle juga mempunyai cerita yang jauh lebih luas dan besar. Walaupun lebih luas dan besar Dolittle dikemas dengan cerita sangat ringan yang berjalan secara naratif. Tema cerita yang memang dikonsep untuk film keluarga juga banyak menyampaikan pesan moral. Terkesan menasehati, tetapi bukannya sudah menjadi tipikal film keluarga bukan ?


    Tanpa kita cari tahu sekalipun kita sudah tahu jika Dolittle versi RDJ ini jauh lebih mahal dari sisi budget dibandingkan versi Eddie Murphy. Dengan budget yang cukup besar itu terlihat dengan maksimalnya setiap spesial efek yang ada dalam film yang diwakilkan oleh hewan-hewannya. Hanya saja maksimalnya spesial efek dari semua visual tidak dibarengi dengan pengisi suara. Yang saya maksud saya disini bukan tidak cocoknya para aktor-aktor pengisi suara hewan, bahkan sebaliknya pengisi-pengisi suara menjadi poin lebih film ini. Tetapi tidak pasnya antara suara dan gerakan mulut hewan sedikit terasa meganggu. Seakan belum cukup, yang terburuk dari semua itu adalah suara Doctor Dolittle yang memang seperti berbisik itu tidak didubing dengan halus, yang arti kata lain terasa sangat kasar. Dan itu terjadi sepanjang film. Sangat disayangkan memang.


    Dengan cerita ringan dan sangat cocok untuk keluarga ini, Dolittle adalah pembuka film fantasi yang cukup menghibur. Jika kamu tidak berekspetasi cerita yang kompleks dan mengindahkan sound editing yang sangat buruk, bisa jadi inimerupakan salah satu film terbaik yang kamu tonton di bulan Januari ini.

    Overall: 7,5/10

    (By Zul Guci)

    Wednesday, January 15, 2020

    VOTING GILA FILM CHOICE 2020 DIBUKA




    Yay, agenda rutin awal tahun yang udah diselenggarakan sejak dua tahun yang lalu Gila Film Choice kembali diadakan. Kali ini merupakan tahun penyelenggarakan tahun ketiga. Atas dasar respon dari sobat-sobat Gila Film pada Gila Film Choice kedua yang naik 200% total voting yang masuk dibandingkan Gila Film Choice pertama membuat admin-admin Gila Film sangat bersemangat untuk penyelenggaraan Gila Film Choice tahun ini. Total ada 18 kategori nominasi tahun ini yang akan dibuka votingnya. Para nominasi perkategori sudah Gila Film umumkan di media sosial beberapa hari yang lalu. Tapi buat yang belum tahu siapa aja nominasinya jangan khawatir, bisa langsung klik aja link yang di bawah ini sekaligus bisa berpatisipasi untuk ikutan voting. Sama seperti pergelaran Gila Film Choice 2019, akan banyak hadiah menarik untuk sobat-sobat Gila Film yang beruntung yang sudah berpatisipasi ikutan voting. jadi sekarang langsung klik link votingyang ada dibawah ini ya.