Monday, November 12, 2018

    ULASAN: THE GRINCH





    Setelah live actionnya pernah muncul di tahun 2000 dengan yang cukup sukses sebagai film terlaris di tahun tersebut, sang pencuri natal kembali muncul di tahun 2018 ini. Tidak dalam bentuk live action yang dibintangi oleh Jim Carey itu, versi terbaru ini disajikan dengan format animasi yang diproduksi oleh anak rumah Universal Pictures yaitu Ilumination Entertaiment  yang beberapa tahun belakangan selalu sukses dengan film-film animasinya seperti franchise Despicable Me, The Secret Life Of Pets ataupun Minions. Dan sekarang Illumination Entertaiment hadir bukan dengan cerita yang baru seperti 3 judul yang disebutkan diatas, tetapi mengadaptasi salah satu karya buku cerita Dr. Seuss yang terkenal 'How The Grinch Stole The Christmast' yang mana untuk film animasi ini disingkat menjadi 'The Grinch' saja.



    Masih setia dengan plot cerita originalnya, di suatu kota bernama Whoville dimana semua penduduknya hidup dengan damai dan bahagia. Ditengah-tengah kota yang aman dan tentram itu hiduplah The Grinch (Benedict Cumberbatch). The Grinch orang yang sangat sinis terhadap semua hal hidup menyendiri jauh dari keramaian bersama anjing peliharaannya yang diberi nama Max. The Grinch selalu membawa suasana tidak bahagia kepada semua penduduk desa di Whoville.



    Saat penduduk Whoville memutuskan membuat perayaan natal lebih besar dari biasanya. The Grinch merasa itu adalah musibah terbesar yang dia alami seumur hidupnya. Melihat ekspresi kebahagiaan orang lain adalah penderitaan yang tiada tara untuk The Grinch. Sampai pada akhirnya The Grinch memiliki rencana jahat untuk mengacaukan niat penduduk desa yang cinta damai itu dengan cara mencuri hari natal. Apakah rencana The Grinch berhasil ?


    The Grinch masih setia dengan cerita originalnya yang tidak banyak perubahan besar pada sisi cerita yang tidak memiliki improvisasi berarti. Hal yang membuat penonton yang sudah membaca buku atau menonton versi live actionnya akan merasa kebosanan yang dikarenakan jalan cerita berjalan agak lambat. Terlebih karakter The Grinch dalam animasi ini sangat mengingatkan dengan karakter Gru dalam Despicable Me. Hanya saja The Grinch tanpa memasukan unsur action ataupun komedi yang kental seperti Despicable Me.


    Untuk sebuah film animasi yang diproduksi oleh Illumination Entertiment yang identik dengan keceriaan, The Grinch bisa dikategorikan paling murung. Meskipun pesan moral yang ingin disampaikan begitu kuat, tetapi progres menuju penyampaian pesan moral itu butuh energi ekstra untuk yang pernah menontpn ataupun membaca bukunya. Sebuah animasi yang terlalu setia pada bukunya dan minim improvisasi dalam penceritaan yang mungkin masih bisa berhasil untuk yang belum mengetahui cerita karya Dr. Seuss ini.

    Overall: 6/10

    (By Zul Guci)

    22 KATEGORI DAN PARA NOMINASI FFI 2018 DIUMUMKAN



    Marlina, Si Pembunuh Dalam Empat Babak

    Festival Film Indonesia (FFI) mengumumkan daftar nominasi ajang penghargaan Piala Citra 2018. Digelar di Plaza Indonesia, para nominasi yang masuk ke dalam 18 kategori dari berbagai bidang perfilman yang dianggap kuat secara estetika dan budaya dibacakan ke publik. Malam puncak penghargaan akan digelar di bulan Desember. 

    Aruna Dan Lidahnya

    Menandai penyelenggaraan ke-38 kalinya, Piala Citra mengukuhkan posisinya sebagai otoritas kualitas film Indonesia. Sebagai acara puncak dari program yang diadakan oleh Festival Film Indonesia sepanjang tahun, Piala Citra merangkum perjalanan perfilman Indonesia selama setahun terakhir. Komite Festival Film Indonesia yang dipimpin oleh Lukman Sardi mencari, memilih dan mempromosikan film-film bagus sepanjang tahun yang dapat mewakili pencapaian terbaik perfilman Indonesia di mata penonton dan lingkup dunia. 

    Sekala Niskala

    Misi tersebut tertuang melalui tema besar Piala Citra tahun ini: Film Bagus, Citra Indonesia. Pandangan ini sesuai dengan visi mencari mahakarya yang selama ini menjadi landasan penyelenggaraan Piala Citra. Film Bagus, Citra Indonesia tercermin melalui tiga kriteria yang digunakan sebagai dasar penilaian yaitu gagasan dan tema kualitas estetika, serta profesionalisme. Untuk mencapainya dilakukan dua tahap penilaian: seleksi nominasi oleh asosiasi yang terkait lalu pemilihan pemenang oleh juri independen dan anggota FFI. Proses ini dikawal oleh Komite Penjurian yang dikepalai oleh Nia Dinata. 

    Sultan Agung

    Masing-masing asosiasi perfilman yang resmi terdaftar telah mengirimkan wakilnya untuk menentukan nominasi. Suara yang masuk kemudian direkapitulasi oleh akuntan publik independen yang ditunjuk pemerintah yaitu Deloitte Consulting. Film-film yang dianggap layak seleksi adalah film yang tayang di bioskop berbayar dari akhir September 2017 - akhir September 2018. Setelah daftar nominasi diumumkan ke publik, tahap selanjutnya yang dijalani adalah pemilihan pemenang yang melibatkan 80 orang yang terdaftar sebagai FFI Member. FFI Member adalah setiap orang yang pernah mendapatkan nomine atau menang Piala Citra sejak tahun 1955. Selain itu, ada juga 9 orang lainnya yang merupakan juri independen. Mereka adalah budayawan, pengamat film, maupun jurnalis senior. Dan berikut 22 daftar kategori nominasi dan para nominatornya:


    1. NOMINASI FILM CERITA PANJANG TERBAIK 

    1. ARUNA & LIDAHNYA - Produksi: Palari Films - Produser: Meiske Taurisia, Muhammad Zaidy 

    2. MARLINA SI PEMBUNUH DALAM EMPAT BABAK - Produksi: Cinesurya, Kaninga Pictures, HOOQ Originals - Produser: Rama Adi, Fauzan Zidni 

    3. SEKALA NISKALA - Produksi: Tree Water Productions, fourcolours films - Produser: Kamila Andini, Gita Fara 

    4. SULTAN AGUNG: TAHTA, PERJUANGAN, CINTA - Produksi: Mooryati Soedibyo Cinema - Produser: BRA Mooryati Soedibyo, RA Putri Kuswisnuwardhani, Haryo Tedjo Baskoro.


    2. NOMINASI SUTRADARA TERBAIK 

    1. Edwin - ARUNA & LIDAHNYA 

    2. Kamila Andini - SEKALA NISKALA 

    3. Mouly Surya - MARLINA SI PEMBUNUH DALAM EMPAT BABAK


    3. NOMINASI PENULIS SKENARIO ASLI TERBAIK 

    1. Andibachtiar Yusuf, M. Irfan Ramli - LOVE FOR SALE 

    2. Gina S Noer, Mira Lesmana, Riri Riza, Arie Kriting - KULARI KE PANTAI 

    3. Kamila Andini - SEKALA NISKALA 

    4. Mouly Surya, Rama Adi - MARLINA SI PEMBUNUH DALAM EMPAT BABAK 

    5. Vera Varidia - KOKI-KOKI CILIK 


    4. NOMINASI PENULIS SKENARIO ADAPTASI TERBAIK 

    1. Johanna Wattimena, Upi - TEMAN TAPI MENIKAH, adaptasi Novel #TemanTapiMenikah karya Ayudia Bing Slamet & Ditto Percussion 

    2. H. Rano Karno - SI DOEL THE MOVIE, adaptasi karakter Serial Televisi “Si Doel Anak Sekolahan” karya H. Rano Karno 

    3. Titien Wattimena - ARUNA & LIDAHNYA, adaptasi Novel Aruna & Lidahnya karya Laksmi 


    5. NOMINASI PENGARAH SINEMATOGRAFI TERBAIK

    1. Anggi Frisca - SEKALA NISKALA 

    2. Batara Goempar - SEBELUM IBLIS MENJEMPUT 

    3. Hani Pradigya - WAGE 

    4. Ipung Rachmat Syaiful - WIRO SABLENG: PENDEKAR KAPAK MAUT NAGA GENI 212 

    5. Yunus Pasolang - MARLINA SI PEMBUNUH DALAM EMPAT BABAK 


    6. NOMINASI PENGARAH ARTISTIK TERBAIK 

    1. Adrianto Sinaga - WIRO SABLENG: PENDEKAR KAPAK MAUT NAGA GENI 212 

    2. Allan Sebastian, Edy Wibowo - SULTAN AGUNG: TAHTA, PERJUANGAN, CINTA 

    3. Frans XR Paat - WAGE 

    4. Frans XR Paat - KAFIR 

    5. Frans XR Paat - MARLINA SI PEMBUNUH DALAM EMPAT BABAK 


    7. NOMINASI PENATA EFEK VISUAL TERBAIK 

    1. Canary Project - KAFIR 

    2. Danny S. Kim, Teguh Raharjo - MARLINA SI PEMBUNUH DALAM EMPAT BABAK 

    3. Geppetto Animation - 22 MENIT 

    4. Keliek Wicaksono - WIRO SABLENG: PENDEKAR KAPAK MAUT NAGA GENI 212 

    5. x.Jo, Hery Kuntoro - SULTAN AGUNG: TAHTA, PERJUANGAN, CINTA 


    8. NOMINASI PENYUNTING GAMBAR TERBAIK 

    1. Cesa David Luckmansyah - HUJAN BULAN JUNI 

    2. Dinda Amanda, Dwi Agus Purwanto - SEKALA NISKALA 

    3. Kelvin Nugroho - MARLINA SI PEMBUNUH DALAM EMPAT BABAK 

    4. Teguh Raharjo - SEBELUM IBLIS MENJEMPUT 

    5. W. Ichwandiardono - ARUNA & LIDAHNYA 


    9. NOMINASI PENATA SUARA TERBAIK 

    1. Aria Prayogi, M. Ichsan Rachmaditta - WIRO SABLENG: PENDEKAR KAPAK MAUT NAGA GENI 212 

    2. Khikmawan Santosa, Yusuf A Patawari - MARLINA SI PEMBUNUH DALAM EMPAT BABAK 

    3. Satrio Budiono, Krisna Purna - SULTAN AGUNG: TAHTA, PERJUANGAN, CINTA 

    4. Trisno, Hadrianus Eko, Yasuhiro Morinaga - SEKALA NISKALA 


    10. NOMINASI PENATA MUSIK TERBAIK 

    1. Aghi Narottama, Bemby Gusti, Tony Setiaji - KAFIR 

    2. Aksan Sjuman - KULARI KE PANTAI 

    3. Aria Prayogi - WIRO SABLENG: PENDEKAR KAPAK MAUT NAGA GENI 212 

    4. Ken Jenie, Mar Galo - ARUNA & LIDAHNYA 

    5. Zeke Khaseli, Yudhi Arfani - MARLINA SI PEMBUNUH DALAM EMPAT BABAK


    11. NOMINASI PENCIPTA LAGU TEMA TERBAIK 

    1. Ade Avery, Jessilardus Mates, Ayudia Bing Slamet (Judul Lagu “Teman tapi Menikah") - TEMAN TAPI MENIKAH 

    2. Mhala Numata, Tantra Numata (Judul Lagu "Juara") - NAURA & GENK JUARA 

    3. Rayi Putra, Astono Andoko, Anindyo Baskoro (Judul Lagu "Kulari ke Pantai") - KULARI KE PANTAI 

    4. Tarapti Ikhtiar Rinrin, Muhammad Abbidzar Nur Fauzan (Judul Lagu “Rindu Sendiri”) - DILAN 1990

    12. NOMINASI PENATA BUSANA TERBAIK 

    1. Adrianto Sinaga, Nadia Adharina - WIRO SABLENG: PENDEKAR KAPAK MAUT NAGA GENI 212 

    2. Bambang Sugiarto - WAGE 

    3. Gemailla Gea Geriantiana - CHRISYE 

    4. Meutia Pudjowarsito - MARLINA SI PEMBUNUH DALAM EMPAT BABAK


    13. NOMINASI PENATA RIAS TERBAIK 

    1. Darto Unge - SULTAN AGUNG: TAHTA, PERJUANGAN, CINTA 

    2. Didin Syamsudin - MARLINA SI PEMBUNUH DALAM EMPAT BABAK 

    3. Jerry Octavianus - WIRO SABLENG: PENDEKAR KAPAK MAUT NAGA GENI 212 

    4. Novie Ariyanti - SEBELUM IBLIS MENJEMPUT 

    5. Retno Astuti - WAGE


    14. NOMINASI PEMERAN UTAMA PRIA TERBAIK 

    1. Adipati Dolken - TEMAN TAPI MENIKAH 

    2. Ario Bayu - SULTAN AGUNG: TAHTA, PERJUANGAN, CINTA 

    3. Gading Marten - LOVE FOR SALE 

    4. Iqbaal Ramadhan - DILAN 1990 

    5. Oka Antara - ARUNA & LIDAHNYA 

    6. Vino G. Bastian - CHRISYE 

    15. NOMINASI PEMERAN UTAMA WANITA TERBAIK 

    1. Della Dartyan - LOVE FOR SALE 

    2. Dian Sastrowardoyo - ARUNA & LIDAHNYA 

    3. Marsha Timothy - MARLINA SI PEMBUNUH DALAM EMPAT BABAK 

    4. Prisia Nasution – LIMA

    5. Putri Ayudya – KAFIR 


    6. NOMINASI PEMERAN PENDUKUNG PRIA TERBAIK 

    1. Egi Fedly - MARLINA SI PEMBUNUH DALAM EMPAT BABAK 

    2. Ence Bagus - GURU NGAJI 

    3. Marthino Lio - SULTAN AGUNG: TAHTA, PERJUANGAN, CINTA 

    4. Nicholas Saputra - ARUNA & LIDAHNYA 

    5. Teuku Rifnu Wikana - WAGE 

    6. Yoga Pratama - MARLINA SI PEMBUNUH DALAM EMPAT BABAK


    17. NOMINASI PEMERAN PENDUKUNG WANITA TERBAIK 

    1. Ayu Laksmi - SEKALA NISKALA 

    2. Dea Panendra - MARLINA SI PEMBUNUH DALAM EMPAT BABAK 

    3. Dewi Irawan - AYAT-AYAT CINTA 2 

    4. Hannah Al Rashid - ARUNA & LIDAHNYA 

    5. Karina Suwandi - SEBELUM IBLIS MENJEMPUT 

    6. Ruth Marini - WIRO SABLENG: PENDEKAR KAPAK MAUT NAGA GENI 212


    18. NOMINASI PEMERAN ANAK TERBAIK 

    1. Alifa Lubis - KOKI-KOKI CILIK 

    2. Bima Azriel - PETUALANGAN MENANGKAP PETIR 

    3. Fatih Unru - PETUALANGAN MENANGKAP PETIR 

    4. Ida Bagus Putu Radithya Mahijasena - SEKALA NISKALA 

    5. Lil’li Latisha - KULARI KE PANTAI 

    6. Maisha Kanna - KULARI KE PANTAI 

    7. Ni Kadek Thaly Titi Kasih - SEKALA NISKALA


    19. NOMINASI FILM PENDEK TERBAIK 

    1. ELEGI MELODI - Jason Iskandar 

    2. HAR - Luhki Herwanayogi 

    3. JOKO - Suryo Wiyogo 

    4. KADO - Aditya Ahmad 

    5. MELAWAN ARUS - Eka Saputri 

    6. SIKO - Manuel Alberto Maia 7. TOPO PENDEM - Imam Syafi’i 


    20. NOMINASI FILM ANIMASI TERBAIK 

    1. KELUARGA SATU SETENGAH - Michaela Clarissa Devi 

    2. KNIGHT KRIS - William Fajito, Antonius 

    3. SI JUKI THE MOVIE - Faza Meonk 

    4. TERRORVISION 3000 - Percelote Galactic 

    5. THANK YOU - Benvenuto Lucano A 

    6. THE AWAKENING LULLABY - Sendika R 


    21. NOMINASI FILM DOKUMENTER PANJANG TERBAIK 

    1. LAKARDOWO MENCARI KEADILAN - Linda Nursanti 

    2. NYANYIAN AKAR RUMPUT - Yuda Kurniawan 

    3. SEMESTA - Chairun Nissa


    22. NOMINASI FILM DOKUMENTER PENDEK TERBAIK 

    1. ANDREAS: MELAWAN REALITAS - Protus Hyasintus Asalang, Handrianus Koli Basa Belolon

    2. ANGIN PANTAI SALENKO - Rahung Nasution, Yogi Fuad 

    3. DEATHCROW 48 - Saul Manurung 

    4. DI BAWAH LANGIT YANG SAMA - Adih Saputra 

    5. LAHIR DI DARAT, BESAR DI LAUT - Steven Vicky Sumbodo 

    6. NERAKA DI TELAPAK KAKI - Sarah Adilah 

    7. OJEK LUSI - Winner Wijaya 

    8. O-SEPIG - Agnes Michelle 

    9. PAGI YANG SUNGSANG - Pingkan Persitya Polla 

    10. RISING FROM SILENCE - Shalahuddin Siregar

    ULASAN: THUGS OF HINDOSTAN







    Azaad. Adalah salah satu nama dari bangsa Arab yang berarti merdeka, independen, atau bebas. Bisa diartikan bahwa Azaad adalah kebebasan yang tidak dipengaruhi atau dikendalikan oleh orang lain dalam hal pendapat, perilaku, dll. Beberapa kali Azaad dilontarkan di film ini, baik merujuk ke salah satu karakter, atau merujuk ke sebuah sifat. Ya, dalam Thugs of Hindostan, kemerdekaan adalah sebuah mimpi yang harus diraih. Mimpi inilah yang dipercayai oleh Khudabaksh bahwa suatu kelak bangsanya akan merdeka dari para penjajah di masa tahun 1790 - 1805.



    Film ini mengikuti sekelompok Thugs atau bandit India yang dipimpin oleh pria yang bernama Khudabaksh Azaad (Amitabh Bachchan) bersama Zafira (Fatima Sana Shaikh) yang menimbulkan ancaman serius kepada kekuasaan Perusahaan di India, sebab Khudabaksh Azaad bercita-cita untuk dapat membebaskan negara India dari Penjajah (British East India Company) yang telah menguasai sebagian besar negara India.



    Merasa khawatir akan Bandit India, seorang komandan Inggris yang bernama John Clive (Lloyd Owen) mengirim pria yang bernama Firangi Mallah (Aamir Khan) yang merupakan seorang preman kecil dari Awadh. Firangi Mallah diminta untuk menyusup dan melawan ancaman itu. Akankah Firangi mampu melaksanakan keinginan Komandan Clive? Atau justru Khudabaksh malah berhasil merebut kembali bangsanya dan meraih kemerdekaan?



    Film yang dibuat berdasarkan novel karya Philip Meadows Taylor yang berjudul Confessions of a Thug ini memang memiliki daya magnet yang sangat kuat terutama bagi penggemar film Bollywood. Hanya mengandalkan 2 aktor besar Aamir Khan dan Amitabh Bachchan, film ini dipercayai akan meraup sukses secara komersil. Apalagi dengan ramuan rilis film di hari libur Dilwali yang sangat disukai oleh keluarga India untuk liburan dan menonton film bersama. Serta daya tarik aktris yang sedang naik daun, Fatima (berkat kesuksesannya di film Dangal, bersama Aamir Khan) akan memperjelas kesuksesan dari film ini.



    Konsep cerita sederhana sangat mudah diikuti, tetapi karakterisasi dari 3 pemeran utama Aamir Khan, Amitabh Bachchan dan Fatima memang yang paling menarik untuk diikuti dari awal film sampai akhir. Aamir Khan lagi-lagi bisa menjadi bunglon yang mampu memberikan nuansa komedi komikal, dan melakukan banyak aksi. Karakternya sebagai seorang preman dan penipu handal sangat menarik perhatian. Para penonton sepert ingin menebak apa yang akan Firangi lakukan selanjutnya? Apakah dia menipu lagi? Ataukah ada niat lain yang terselubung?



    Amitabh Bachan dengan keterbatasan usia yang sangat sepuh, mampu memberikan performa yang sangat maksimal. Semua kata-katanya adalah gambaran kebijakasanaan, sifat yang heroik yang mampu menyejukkan serta membakar semangat untuk berjuang. Belum lagi arahan dari sutradara agar beliau juga melakukan aksi (walaupun terlihat cukup kaku) patut diapresiasi mengingat usianya yang sudah 76 tahun.



    Fatima, memberikan nuansa segar gadis tomboy yang hampir sama seperti dalam film Dangal. Kalau dalam film Dangal dia harus bergulat, di film ini dia harus pandai memanah dan berbagai macam aksi lainnya. Thugs of Hidostan adalah film kedua kalinya Fatima bekerja sama dengan Aamir Khan, di Dangal mereka menjadi ayah dan anaknya. Di film ini mereka menjadi 2 karakter yang bertemu untuk bersama-sama memerdekakan rakyatnya dari tangan penjajah. Kemistri mereka bisa dibilang teman tetapi juga naksir.



    Bagaimana dengan aspek lainnya? Bukan murni sebuah film India kalau tidak ada nyanyian dan tarian. Dan disinilah Katrina Kaif berperan dan menjadi magnet yang tak tertandingi. Tubuhnya begitu elastis meliuk-liuk dengan koreografi tarian yang sulit untuk ditiru. Begitu mewahnya tarian di film ini dengan set produksi yang gila-gilaan ketika menuju klimaks film, lagu Manzoor-e-Khuda divisualisasikan agar menjadi tontonan yang memuaskan dahaga. Dibutuhkan 400 orang lebih untuk memvisualisasikan lagu ini (di depan layar) dan 20 musisi lebih yang membuat lagu ini hidup (belakang layar). Hasilnya, sungguh mempesona, hampir menyamai sebuah opening ceremony perhelatan acara akbar tingkat negara (cek pembuatannya di https://www.youtube.com/watch?v=ZHWHe3CqC88). Bahkan lagu ini bisa menjadi daya tarik sendiri untuk ditonton berkali-kali dalam bioskop.



    Jika dilihat dari set produksi dan visualisasi, jelas film ini adalah salah satu film dengan budget terbesar yang pernah ada, bahkan mengalahkan Bahubaali 2. Maka dari itu tidak perlu diragukan lagi dari segi visualisasi yang memanjakan mata. Justru dari segi naskah dan plot cerita yang terlalu sederhana, mudah tertebak dan kurang rasa mengambil ‘kepercayaan’ penonton yang membuat film ini memiliki banyak kekurangan. Film ini tidak terlihat nyata dan dengan penonton. Hanya sebuah suguhan hiburan film mewah, tetapi seperti tidak bernyawa. Ada beberapa momen baik dari tengah film pertama (sebelum intermission), selanjutnya film menjadi sebuah film aksi wow dengan minimnya naskah yang bagus. Para aktor bermain maksimal tetapi pihak yang dibelakang layar yang kurang percaya dengan apa yang mereka miliki.



    Harga dari sebuah kepercayaan sangat dibutuhkan di film ini. Pihak rumah produksi film telah berani dan percaya menggelontorkan budger yang besar senilai sekitar ₹ 300 crore (US $ 42 juta) kepada Vijay Khrisna Acharya. Mereka percaya dengan kekuatan esembel aktor yang ikut bergabung. Mereka percaya dengan waktu pemutaran film yang ditayangkan saat liburan rakyat India. Tetapi apakah rakyat India membalas kepercayaan tersebut? Apakah film ini mampu meraih kesuksesan? Seperti halnya Khudabaksh yang mempercayai Zafira kepada Firangi untuk menjaganya. Atau saat Khudabaksh percaya bahwa kemerdekaan rakyatnya akan muncul hanya dengan mempercayai pada orang yang tepat untuk meraih kebebasan tersebut. Hanya dengan menonton film Thugs of Hindostan kita akan mendapatkan jawabannya. Sebuah harga dari kepercayaan.

    Overall: 7/10

    (By Ibnu Akbar)

    Wednesday, November 7, 2018

    ULASAN: OVERLORD





    Nama J.J Abrams di dunia perfilman sudah menjadi magnet tersendiri. Entah apapun posisinya jika terlibat dalam sebuah film, dipastikan namanya akan muncul di poster dengan posisi yang sangat jelas terlihat. Termasuk dalam film 'Overlord' ini. Bisa dikatakan menjual nama J.J Abrams pada produk sebuah film adalah sebuah strategi marketing tersendiri. Dan untuk sebagian penikmat film mengamini hal itu. Rasanya bukan saya saja yang langsung tertarik menonton sebuah film ketika melihat ada nama J.J Abrams di poster tanpa perlu membaca sinopsis ataupun melihat trailernya terlebih dahulu, termasuk untuk Overlord ini.



    Mengambil setting pada malam pertempuran D Day di perang dunia kedua. Sekelompok pasukan terjun payung Amerika Serikat yang berperang di belakang garis musuh ditugaskan untuk menghancurkan sebuah menara gereja yang mengacaukan sinyal komunikasi yang sangat mempengaruhi pergerakan sekutu. Misi penting diemban demi kesuksesan invasi. 


    Namun ketika mereka mendekati target, para tentara mulai menyadari ada hal lain yang terjadi pada desa yang dikuasai Nazi itu. Sesuatu yang lebih besar dibanding operasi militer. Yang awalnya hanya bertugas untuk mengahncurkan menara yang akan memperlancar sinyal, menjadi sebuah misi bunuh diri ketika mereka harus masuk ke gereja dan mengetahui sebuah fakta yang ingin mereka kubur selamanya yang tidak boleh diketahui oleh pihak lain, termasuk negara mereka sendiri.


    Film ini sudah memegang kendali penonton sejak adegan pembuka yang sangat intens, sang sutradara Julius Avery (Son Of A Gun) tidak memberikan jeda terlalu lama kepada penonton untuk bisa bernafas secara normal karena adegan demi adegan dipenuhi momen-monen intens yang diwakili oleh karakter Boyce (Jovan Adepo), seorang prajurit yang masih naif dan belum bisa menerima betapa sangat kejamnya sebuah perang yang mengharuskan dia bertindak ekstrim yang dipimpin oleh Kopral Ford (Wyatt Russel).


    Seperti halnya di film-film J.J Abrams sebagai produser, jika kamu memperhatikan kita akan menemui tipikal sang produser dan sutradara ini dalam setiap film ataupun serial tv. Menyimpan misteri utama cerita sampai akhir dan plot cerita menuju akhir dikemas dengan membangun emosi penonton pada karakter-karakter yang ada pada filmnya. Masih ingat dengan monster terakhir yang muncul di Cloverfield pertama atau bunker yang ditemukan para survivor di ending serial tv Lost di season pertama ? Hal itu akan kamu rasakan di fiilm ini. Plot yang sangat sering diulang-ulang oleh J.J Abrams dalam setiap film-film yang dia produseri ataupun sutradarai termasuk Overlord ini. Dan penonton tidak akan pernah bosan dengan hal seperti ini jika pengemasan cerita memang sangat rapi.



    Menyisipkan sebuah kisah fiksi ditengah kejadian bersejarah bukanlah hal baru dalam sebuah film, tetapi pengemasan cerita dan eksekusi yang tepat filmnya akan berjalan sangat menarik. Dan Overlord memenuhi semua hal itu.

    Overall: 8/10

    (By Zul Guci)

    Friday, November 2, 2018

    DRAMA SEJARAH GRESIK DALAM SERIAL HBO ASIA TERBARU 'GRISSE'




    Serial drama sejarah original terbaru dari HBO Asia, Grisse (#Grisse @HBOAsia), sebanyak delapan episode berdurasi satu jam, yang mengambil setting pertengahan 1800an pada masa kolonial Hindia Belanda. Serial berbahasa Inggris ini menceritakan kisah sekelompok masyarakat yang memimpin pemberontakan melawan gubernur yang bengis dan dalam waktu singkat mengambil alih kendali di markas tentara Belanda bernama Grisse. Kisahnya berkisar pada sejumlah karakter unik, masing-masing dengan latar belakang dan keyakinan berbeda, yang bersatu untuk memperbaiki keadaan dan nasib mereka dari penjajahan. GRISSE tayang perdana pada Minggu, 4 November jam 20.00 WIB eksklusif di HBO. Episode baru selanjutnya tayang pada jam yang sama setiap Minggu. Serial ini juga dapat diakses streaming di HBO GO dan akan tersedia di HBO On Demand.



    Dikembangkan dan diproduksi oleh HBO Asia bersama dengan Infinite Studios yang berlokasi di Singapura, GRISSE akan menghadirkan sejumlah pemain yang berasal dari Indonesia, Jepang, Malaysia, Singapura, Eropa, Australia dan Amerika Serikat. Mereka antara lain Adinia Wirasti (serial HBO Asia “Halfworlds Season 1”), Marthino Lio (“Sayang You Can Dance”), Michael Wahr (“City Homicide”), Edward Akbar (“Air Terjun Pengantin”), Jamie Aditya (“Sync or Swim”), Toshiji Takeshima (serial HBO “True Blood”), Joanne Kam (“Kopitiam”), Zack Lee (“The Raid 2”), Tom Dejong (“Medisch Centrum West”), Ully Triani (“Stay With Me”), Rick Paul Van Mulligen (“A’dam E.V.A.”), Alexandra Gottardo (“Tanah Air”), Hossan Leong (“The Forbidden City”) and Jimmy T (“Robocop 3”). Pencipta dan showrunner GRISSE adalah Mike Wiluan (“Buffalo Boys”) yang juga menjadi sutradara bersama Tony Tilse (serial HBO Asia “Serangoon Road”, “Miss Fisher’s Murder Mysteries”) dan Ler Jiyuan (“Gone Case”, “The Love Machine”).



    HBO Asia telah memulai produksi Original pada 2012 dan sejak itu telah mengembangkan sejumlah produksi Original Asia seperti serial, film dan dokumenter. GRISSE menandai produksi Original Asia ke tiga-belas dari hingga hari ini, dengan lebih banyak lagi serial yang dijadwalkan tayang pada tahun depan dan lebih memperkuat komitmen untuk memproduksi konten lokal yang memukau dan relevan bagi pemirsa di Asia dan dunia.



    GRISSE diproduksi sebagai bagian dari kerjasama dua setengah tahun dengan Infocomm Media Development Authority (IMDA). Melalui sejumlah pelatihan dan kolaborasi dengan perusahaan dan talen lokal dalam memproduksi HBO Asia Original, kerjasama ini bertujuan untuk mengembangkan kemampuan produksi konten dari industri media Singapura.

    Thursday, November 1, 2018

    ULASAN: A SIMPLE FAVOR




    Paul Feig, sutradara kondang yang acap kali mengangkat genre komedi, selalu mengajak aktor wanita sebagi penunggang film-filmnya. Bridemaids, The Heat, Spy, dan Ghostbusters adalah bukti nyata Feig meraup dolar dan hati para kritikus dengan bantuan cerita yang segar sekaligus lelucon yang ampuh. Hanya saja, di A Simple Favor kali ini Feig tidak melakukan apa yang biasa ia lakukan di keempat film sebelumnya; yakni mengajak Melissa McCarthy.



    A Simple Favor bercerita tentang seorang Ibu muda, Stephanie, pemilik vlog yang secara kebetulan 'bersahabat' dengan salah satu ibu dari teman anaknya di sekolah, Emily. Emily sosok gambaran wanita sempurna secara kasat mata, cantik, tinggi, mantan model, pekerjaan bagus, rumah besar, suami penulis kondang dan tampan, persahabatan singkat mereka berjalan mulus dan transparan. Hingga tiba pada saat Emily meminta bantuan kecil kepada Stephanie yang mengubah jalan hidup keduanya.



    Beruntung Feig sudah memiliki materi seunik dan semenarik A Simple Favor yang berasal dari buku bertajuk sama ini. Kendati skrip dari Jessica Sharzer tidak membuahkan sesuatu yang mewah, tetapi film ini masih berjalan mulus dan membuka kejutan-kejutan seru menuju filmnya berakhir. Naskahnya cukup. Feig tentu saja berperan besar atas keberhasilan A Simple Favor, melemparkan kejenakaan dengan disisipi beberapa klu yang mungkin saja membuat penonton terkecoh. Transisi yang diambil Feig dari film komedi ke ranah misteri juga terbilang rapi.



    A Simple Favor tidak akan sedramatis ini bila tidak disokong permainan akting aktornya. Anna Kendricks adalah Anna Kendricks yang sering kita lihat di film-film dia sebelumnya, Blake Lively-lah bintang di film ini. Lively sukses membangun karakter yang culas, ignoran, congkak. Apa yang keluar dari mulutnya adalah umpatan, tetapi di situlah letak menariknya karakter Emily ini. Sementara Stephanie adalah contoh baik seorang wanita yang terjebak di kemewahan semu, Emily adalah contoh buruk seorang wanita yang tidak bisa lepas dari kukungan kemewahan. Semua dibawakan Kendricks dan Lively dengan amat piawai.



    Verdict: A Simple Favor bisa saja akan menjadi cliché twisted ending movie, dan patut disyukuri film ini berada di tangan orang-orang yang tepat.

    Overall: 7/10

    (By Aditya Saputra)

    Wednesday, October 31, 2018

    ULASAN: HUNTER KILLER




    “Did we just start a war?”

    Pertanyaan itu diajukan XO Brian Edwards (Carter MacIntyre) kepada Kapten Joe Black (Gerard Buttler) saat kapal selam Angkatan Laut Amerika Serikat terpaksa berhadapan dengan Angkatan Laut Rusia di tengah situasi genting di Samudera Arktik.



    Berawal ketika kapal selam kedua negara tersebut tenggelam secara misterius dengan selang waktu singkat, Admiral Charles Donnegan (Gary Oldman) dari Angkatan Laut Amerika Serikat menugaskan kapal selam perang jenis ‘hunter-killer’ dengan Kapten Joe Black untuk menyelidiki kasus itu. Di sisi lain, pihak Rusia yang dipimpin oleh Admiral Dmitri Durov (Michael Gor), sangat berambisi untuk melakukan serangan balik terhadap pihak Amerika Serikat. Kepemimpinan Kapten Joe Glass diuji untuk memecahkan dan menemukan penyebab konflik yang dapat memicu Perang Dunia III.



    Hunter Killer menggambarkan ketegangan dan situasi penuh tekanan yang hadir dalam dunia kapal selam dalam angkatan laut. Peperangan dalam lautnya sedikit banyak mengingatkan pada The Hunt of Red October (1990) dan mengobati kerinduan pada film aksi perang yang berbeda dari biasanya. Beban berat sebagai pengambilan keputusan diperankan baik oleh Gerard Butler (Olympus Has Fallen, RocknRolla). Ia dapat menghadirkan karakter Kapten Joe Glass yang penuh pengalaman dan mengenali seluk-beluk kapal selam serta laut sepanjang hidupnya, juga idealisme untuk melakukan hal yang benar. Akting meyakinkan juga terlihat dari mendiang aktor Swedia, Michael Nyqvist (John Wick, Mission Impossible - Ghost Protocol) dalam salah satu peran terakhirnya, sebagai Kapten Sergei Andropov. Sayangnya, aktor kaliber Oscar Gary Oldman (Darkest Hour, The Dark Knight Rises)hanya mendapatkan sedikit screen timedalam film ini.



    Film besutan Donovan Marsh (Avenged, Spud) ini diangkat dari novel karya George Wallace dan Don Keith, Firing Point (2012). Hunter Killer memfokuskan pada aksi peperangan dalam laut yang terbangun seru dan menegangkan. Konflik yang semakin memanas juga menghadirkan twist yang menarik. Jika menggemari film aksi perang, film ini bisa jadi sajian yang seru untuk dinikmati.

    Overall: 7,5/10

    (By Ayumurti)