Friday, May 24, 2019

    ULASAN: JOHN WICK "CHAPTER 3: PARABELLUM"



    Melanjutkan kisah di film sebelumnya, John Wick kini harus menjadi buronan dengan bayaran terbuka senilai 14 juta dollar untuk nyawanya setelah High Table menetapkan status “Excommunicado” atas dirinya. Sebagai pengingat di film sebelumnya status tersebut diperolehnya akibat membunuh Santino D'Antonio di Hotel Continental, yang menurut aturan merupakan area netral dan tidak boleh ada pertumpahan darah yang terjadi di tempat tersebut. Winston, sang manajer Hotel Continental menunda memberitahu pengumuman “Excommunicado” selama 1 jam untuk memberi John keuntungan lebih awal. Dengan kemungkinan selamat yang hampir mustahil dan akses terhadap bantuan di Hotel Continental yang kini sudah dilucuti akankah John Wick mampu membalikkan situasi dan lolos lagi dari maut dari para pembunuh bayaran yang sedang memburunya? Ekspektasi untuk film ketiga ini amat besar mengingat popularitas film ini yang cukup tinggi. Fans menantikan bakal segila dan sekeren apa aksi John Wick di film ketiganya kali ini. Film bergenre Neo Noir Action Thriller garapan Sutradara Chad Stahelski ini terbilang sukses dan stabil dari cerita dan aksi yang ditampilkan, Chad tampaknya sangat paham keinginan penonton dan sanggup menyajikannya dengan detail dan kualitas yang memuaskan di setiap filmnya.



    Wajah-wajah lama di film sebelumnya tampil kembali menghiasi film ketiga ini, Keanu Reeves tetap melanjutkan perannya sebagai John Wick, Ian McShane dan Laurence Fishburne juga kembali sebagai Winston, sang manajer Hotel Continental dan Bowery King. Tidak lupa Charon (Lance Reddick) sang Concierge di hotel Continental. Di Film ketiga ini juga muncul beberapa karakter baru yang dibintangi aktor/ artis kawakan, di antaranya ada Sofia (Halle Berry) yang merupakan partner lama dari John, The Director (Anjelica Huston) yang berstatus sebagai “protector” John, dan ada “Sang Adjudicator” (Asia Kate Dillon) yang misterius. Tidak ketinggalan aktor laga veteran Mark Dacascos tampil sebagai penjahat utama di sini. Yang mungkin spesial bagi para penonton khususnya Indonesia adalah kemunculan Yayan Ruhiyan dan Cecep Arif Rahman yang walaupun perannya minor namun sudah kita lihat banyak bersliweran di film aksi berkat film The Raid. Dari sisi karakter, yang paling mencuri perhatian kali ini adalah Halle Berry lewat aksi comebacknya sebagai assassin (pembunuh bayaran) dengan 2 anjing german shepherd yang luar biasa keren. Anjelica Huston sebagai The Director tampil kharismatik sebagai seorang pemilik teater pertunjukan balet yang menjadi penolong John di film ini. Di film ketiga ini Ian McShane dan Charon memiliki screen time cukup banyak karena Hotel Continental berperan krusial pada bagian akhir film ini. Dari segi eksplorasi karakter, Keanu sebagai John masih tampak kaku dan satu-satunya yang membuat kita terhubung dengannya adalah status bahaya dan terdesaknya dia kali ini namun dari segi aksi tidak bisa dipungkiri di situlah kepiawaian dia. Asia Kate Dillon tampil layaknya sosok hakim yang tegas namun cukup membuat kita penasaran, dia menyelidiki orang-orang yang memberi bantuan yang dilabel ilegal terhadap John Wick dan memberi ganjaran yang setimpal. Sementara dari sisi karakter antagonis, Mark Dacascos terasa kurang sebagai villain utama, jika saja karakternya diberi eksplorasi background lewat flashback mungkin akan lebih berkesan. Ada baiknya menonton film kedua untuk mengingat beberapa karakter di sini dan apa yang mereka lakukan agar tidak bingung ketika menonton.



    John Wick sejatinya adalah film aksi yang mengusung konsep gun-fu, suatu teknik memadukan aksi tembak menembak dengan bela diri kungfu, dari segi cerita tidak ada sesuatu yang istimewa karena masih seputar aksi balas dendam seorang mantan pembunuh bayaran yang terpaksa kembali ke dunia lamanya. Premis yang sudah umum kita temui di film bertema sejenis. Tapi John Wick muncul sebagai film aksi yang outstanding dengan latar belakang dunia pembunuh bayaran yang detail dan penuh warna dan intrik. John Wick disukai karena tiga hal, pertama karakter John Wick sebagai sosok antihero mantan pembunuh bayaran yang badass, kedua dunia assassin yang dibangun dalam film John Wick sangat detail dan memiliki konsep mitologi yang misterius dan keren, ketiga aksi tembak-tembakan yang brutal dan keren. Nampak bahwa di film ketiga ini ekploitasi terhadap unsur aksi dilakukan secara habis-habisan.



    Dari sejak awal film dimulai hingga selesai film ini tidak membuang waktu untuk membuat penonton santai, kita langsung dibombardir dengan banyak aksi yang memacu adrenalin, hal tersebut sudah terihat dari sejak film dimulai. Film ini banyak memiliki momen-momen aksi keren yang terjadi di beberapa lokasi yang sudah ditampilkan di trailernya. Adegan kejar-kejaran dengan motor di mana John Wick melawan para assassin yang mengejarnya dengan katana, adegan John Wick bahu-membahu dengan Sofia dalam menumpas para assassin di Maroko, aksi yang dilakukan Sofia bersama para anjingnya adalah suatu yang tidak boleh dilewatkan dalam film ini. Untuk adegan klimaks film ini yang terjadi di Hotel Continental di mana John Wick bertempur habis-habisan melawan para assassin dieksekusi dengan sangat baik dan tetap menjaga ritme aksi yang sudah terbangun dari awal. Khusus untuk penonton Indonesia dijamin akan terhibur dan bangga dengan penampilan Yayan Ruhiyan, Cecep Arif Rahman, dan Keanu Reeves bisa tampil satu layar dan akan ada kejutan manis di adegan tersebut. Di film ini pun kadang diselipkan komedi satir, hal ini mungkin untuk memberi penonton jeda sejenak dari aksi brutal yang akan berlanjut yang cukup berhasil dan tidak merusak keseruan film ini. Teknik koreografi bela diri di film ini adalah suatu hal yang pantas mendapat pujian luar biasa karena terlihat indah dan meyakinkan apalagi karena teknik kamera close up yang digunakan membuat setiap sesi perkelahian terasa real begitu juga dengan adegan tembak menembak yang tergolong cukup sadis dan brutal berhasil ditampilkan dengan maksimal. Teknik pencahayaan juga digarap optimal sehingga walaupun dalam adegan yang lingkungan sekitarnya gelap, semua pergerakan para aktornya tetap dapat disaksikan dengan jelas. Pengalaman sang sutradara, Chad Stahelsky yang dulunya merupakan Stunt Coordinator nampaknya sangat membantunya dalam mewujudkan aspek aksi di film ini sebagai suatu hal yang sangat outstanding.



    Dunia assassin yang menjadi latar universe John Wick berada nampak digarap dengan sangat detail, ini terlihat dari aturan-aturan yang dipaparkan sepanjang film pertama, mata uang yang digunakan, dan unsur-unsur religius lainnya. Hal ini nampaknya digarap dengan hati-hati karena tidak semuanya dibuka agar tetap menyisakan rasa penasaran untuk para penonton. Proses pengungkapan satu-persatu hal dan orang yang terkait dengan High Table merupakan langkah yang cerdas dan tepat, satu sisi ada efek kejutan sementara di sisi lain penonton semakin dibuat ingin tahu lebih banyak. Ini seperti kata pepatah lama dalam dunia perfilman suatu rahasia akan menarik jika tidak dibuka seluruhnya karena jika diungkap semuanya di mana nanti letak keseruannya. Terbukti formula ini berhasil hingga membuahkan film ketiga. Film ini hanya berfokus menceritakan aksi John Wick dan tidak membuat subplot yang tidak perlu sehingga momentum film ini terjaga dengan baik dari awal hingga akhir.



    Film ini memiliki pesan kuat soal sebab dan akibat dari tindakan yang diambil serta menyampaikan pesan moral soal apa warisan yang akan kita tinggalkan setelah tiada juga mejadi sesuatu yang menggema dan menjadi dilema moral bagi sang tokoh utama sekaligus pengingat bagi kita apakah kita tetap berpegang pada integritas kita, kesetiaan atau kepada kebenaran. John Wick benar-benar menetapkan standar tinggi yang sukar dilampaui film aksi lainnya karena film ini memang sangat keren. Belum tersiar kabar bahwa akan ada film sekuelnya lagi setelah sekuel ketiga, nampaknya masih menunggu performa di Box Office. Universe John Wick sendiri nampaknya akan makin meluas karena serial TV nya berjudul The Continental sedang dalam proses produksi dan akan disiarkan di Channel Starz, juga ada rencana Film Spin off berjudul Ballerina dan bahkan ada rumor bahwa bisa saja film crossover John Wick dan Atomic Blonde diwujudkan mengingat sutradaranya sama-sama terlibat dalam film pertama. Melihat berbagai hal tersebut nampaknya petualangan John Wick masih jauh dari kata berakhir.


    Overall: 8/10 

    (By Camy Surjadi)



    Monday, May 6, 2019

    ULASAN: LONG SHOT





    Pernahkah terpikir bahwa seseorang yang anda sukai sewaktu masih kecil bisa bertemu lagi dan memiliki kesempatan kedua untuk melanjutkan kisah cinta yang dulu tertunda? Kira-kira demikian premise kisah cinta yang ingin dibawakan dalam film ini. Film Long Shot bergenre komedi romantis dan disutradarai Jonathan Levine, yang kita kenal lewat film Warm Bodies dan The Night Before, yang sudah sering bekerja sama dengan Seth Rogen dalam beberapa filmnya.



    Film Long Shot bercerita mengenai seorang jurnalis Fred Flarsky (Seth Rogen) yang agak nekat dan urakan serta gemar membuat tulisan kritik yang berani yang karena suatu kesempatan mempertemukannya dengan Charlotte Field (Charlize Theron), mantan pengasuh sekaligus ‘love crush’ masa kecilnya. Namun wanita tersebut sekarang berstatus sebagai wanita paling berpengaruh di dunia terlebih karena ia sedang mencalonkan diri menjadi presiden selepas jabatannya sebagai Menterl Luar Negeri AS. Alkisah Fred mengundurkan diri dari kantor tabloid tempat dia bekerja karena diakuisi oleh perusahaan media yang selama ini dia kritik, sementara di tempat terpisah Charlotte sedang menghadap presiden untuk meminta dukungan pencalonannya sebagai calon presiden. Fred yang sedang jobless datang ke temannya Lance (O’Shea Jackson Jr.) untuk mencari dukungan dan penghiburan. Merasa simpati Lance berusaha menghiburnya dengan mengajaknya ke sebuah acara pesta di mana Fred tertarik karena ada Boyz II Men yang tampil. Nasib mempertemukan Fred dan Charlotte, setelah melewati serangkaian kejadian yang terbilang kocak, Charlotte meminta Fred untuk menjadi penulis pidatonya guna keperluan kampanye karena backgroundnya sebagai jurnalis. Akankah Fred memiliki kesempatan untuk menyatakan cintanya kepada Charlotte terlepas dari posisi dan status mereka sekarang?



    Film ini dibintangi dua aktor kawakan sebagai bintang utama yaitu Seth Rogen dan Charlize Theron yang tidak perlu diragukan lagi kualitas aktingnya. Seth Rogen tampil meyakinkan sebagai Fred Flarsky, dengan gayanya yang urakan dan cuek namun berhati baik dan memiliki integritas tinggi terhadap pekerjaan dan pandangan hidupnya. Sementara Charlize Theron betul-betul tampil mengesankan di film ini sebagai Charlotte Field, dia benar-benar menampilkan sosok wanita kuat, dominan, anggun dan berjiwa pemimpin. Memang Charlize Theron adalah pilihan yang sangat tepat untuk peran semacam ini. Kita tahu dia seorang aktris multitalenta yang mampu memerankan peran apa saja. O’Shea Jackson Jr. Yang berperan sebagai Lance, teman dari Fred juga cukup mencuri perhatian lewat dialog dan guyonannya yang khas, lucu namun mengena di setiap situasi. June Diane Raphael juga cukup mengesankan sebagai Maggie, asisten Charlotte yang jutek dan awalnya antipati terhadap Fred. Penampilan setiap cast sesuai porsinya baik kedua pemeran utama maupun para pemeran pendukung, dan baik karakter Fred maupun Charlotte benar-benar dieksplorasi dengan cukup mendalam, Chemistry di antara mereka berdua ditampilkan dengan sangat baik. Mungkin hanya Tom (Ravi Patel) yang kurang mendapat pengembangan karakter dan boleh terbilang minor di sepanjang film. Terdapat kejutan juga dari Alexander Skarsgård yang tampil sebagai PM Kanada



    Cerita film ini pada dasarnya adalah mengenai kisah cinta tapi yang membuat menarik adalah di dalamnya terdapat unsur politik dan berbagai isu kekinian yang dibawakan dengan cerdas dan tepat sasaran, “it really hits you on the sweet spot” istilahnya. Film ini menyajikan kisah cinta romantis tapi dengan cara yang kreatif. Alih-alih membosankan, karena kita tahu politik adalah hal yang serius dan materi yang cukup berat, film ini berhasil mengubah pandangan itu. Ramuan ceritanya pas dan tidak terlalu rumit membuat penonton akan terhibur ketika menontonnya. Cara penyampaian ceritanya menarik dan sama sekali tidak terduga, di dalamnya juga terdapat twist yang membuat kita bertanya-tanya akan bagaimana ending film ini. Peletakan konfliknya sangat bagus dan tepat, pembangunan alur cerita mulai dari introduksi, klimaks, dan konklusi diekseskusi dengan rapi dan baik.



    Film ini merupakan tipikal komedi cerdas karena mampu mengemas cerita kisah cinta yang kita sudah terbiasa saksikan namun dibalut dengan tema politis dan isu gender yang kental namun tetap dapat dinikmati tanpa beban pikiran yang berat. Sepanjang film kita akan disuguhkan topik- topik seperti woman empowerment, isu sexist dan gender terhadap wanita, isu pengendalian media, konglomerasi media dalam pemerintahan di US, masalah dukungan suara dan kampanye, isu lingkungan hidup, persepsi negatif terhadap kaum oposisi, dan skandal yang sering menjadi bahan gunjingan untuk menjatuhkan lawan politik dalam perebutan kekuasaan. Semua isu tersebut diramu dengan pas dan tidak tumpang tindih satu sama lain serta tidak mengaburkan alur cerita utama dari film ini. Jokes-jokes yang ditampilkan juga bisa dibilang adalah jokes yang jujur dan lebih membuat kita merefleksikan dengan apa yang sering kita alami di dunia nyata. Sebagian besar jokesnya termasuk jokes nyeleneh khas Seth Rogen yang cukup frontal dan ada juga yang mengambil referensi pop culture seperti Marvel Avengers maupun Game Of Thrones.


    Film ini memiliki pesan moral yang baik soal integritas yang harus dimiliki seseorang terlepas di manapun dia bekerja dan jabatan yang dia emban, juga soal jujur terhadap diri sendiri dan terhadap cinta kepada pasangan. Hal ini tergambar jelas lewat konflik yang terjadi di sepanjang cerita film ini. Konklusi film ini juga cukup memuaskan walau agak nyeleneh tapi sangat dapat diterima. Keberadaan film ini seakan menjadi oase di tengah-tengah film remake maupun superhero yang tengah mendominasi layar bioskop.


    Overall : 8,5/10

    (By Camy Surjadi)



    Sunday, April 28, 2019

    ULASAN: THE CURSE OF WEEPING WOMAN (LA LLORONA)



    Sebagai penikmat film horor, khususnya yang berasal dari The Conjuring Universe, maka film The Curse of The Weeping Woman ini harus kamu tonton. La Llorona (The Weeping Woman atau Wanita yang menangis) merupakan hantu legenda masyarakat Meksiko. Kalau kamu permah menonton film animasi Pixar yang berjudul Coco, kamu tidak asing dengan nama ini.



    La Llorona merupakan salah satu lagu yang muncul di film Coco, berikut liriknya untuk menyegarkan ingatan kalian:

    “Ay de mí, llorona
    Llorona de azul celeste
    Ay de mí, llorona, llorona
    Llorona de azul celeste
    Y aunque la vida me cuesta llorona
    No dejare de quererte”



    La Llorona dinyanyikan oleh Imelda, Ibu dari Coco, dan nenek canggah dari Miguel (anak laki-laki keturunan Meksiko yang merupakan tokoh utama film ini). Imelda yang menyanyikan lagu itu merupakan salah satu arwah yang ditemui Miguel. Sebagai arwah, dia mengetahui tentang La Llorona, lagu yang dinyanyikannya terdengar begitu sedih dan membuat merinding.



    Kembali ke film The Curse of The Weeping Woman, ya, The Weeping Woman (La Llorona) memang begitu terkenal di kalangan masyarakat Meksiko. La Llorona meerupakan hantu wanita yang suka menculik anak-anak. Sepintas dari karakteristiknya, La Llorona mirip dengn Wewe Gombel, hantu perempuan dari legenda di pulau Jawa, yang juga seuka menculik anak kecil.



    Dikarenakan suka menculik anak kecil, La Llorona sering dijadikan bahan untuk orangtua mengancam anak-anaknya yang tidak menuruti perintahnya dan keluar lewat dari matahari terbenam atau keluar terlalu jauh dari rumah. Jika mereka melakukan hal-hal tersebut, maka La Llorona akan menculik dan membunuh mereka.



    Kisah La Llorona juga bukan untuk pertama kalinya diangkat menjadi sebuah film. Menurut IMDb, La Llorona sudah pernah difilmkan di tahun 2012 dan tahun 2018. Kedua film ini memiliki kisah yang berbeda. Persamaannya hanyalah karakter hantu perempuan yang menyeramkan itu.

    Lalu bagaimanakah dengan film The Curse of La Llorona? Bagaimanakah La Llorona bisa masuk ke The Conjuring Universe? Berikut kisahnya.



    Film ini seakan dibuat berdasarkan kisah nyata tentang sebuah keluarga kecil yang tinggal di suatu pedesaaan Meksiko pada tahun 1600-an. Keluarga yang terdiri dari seorang ibu yang cantik, ayah peternak yang tampan, dan dua orang anak laki-laki. Keluarga ini cukup bahagia, sampai akhirnya sang ibu membunuh kedua anak laki-lakinya (dengan menenggelamkan mereka ke sungai) karena merasa kesal diselingkuhi suaminya. Namun dia akhirnya menyesal setelah membunuh kedua anaknya, ia pun bunuh diri. Setelah bunuh diri, dia tidak juga bertemu dengan anaknya, maka ia kembali ke dunia manusia dengan menjadi hantu. Ia terus mencari anak-anaknya dengan menangis lirih: Ay mis hijos (Di mana anak-anakku)?.



    Kalau ada yang mendengar suara tangisannya, terutama anak kecil, maka akan terancam bahaya. Itulah yang dialami oleh Anna Tate-Garcia (Linda Cardellini) dan kedua anaknya. Anna adalah seorang pekerja sosial yang menangani kasus anak-anak yang mengalami masalah. Salah satu kasus yang ditangani Anna adalah keluarga Alvarez. Sang Ibu, Patricia Alvarez (Patricia Velasquez) mengurung kedua anaknya di dalam suatu ruangan gelap. Pada lengan anak-anaknya, Carlos (Oliver Alexander) dan Tomas (Aiden Lewandowski) terdapat luka-luka. Patricia pun diduga menyiksa kedua anaknya, oleh karena itu Carlos dan Tomas dipindahkan ke tempat penampungan anak. Namun belum semalam mereka berada di tempat itu, kedua anak itu ditemukan tewas tenggelam. Ibu mereka pun menjadi tersangka pembunuhan.



    Akan tetapi, ada banyak kejanggalan pada kasus tersebut, kedua anak Anna: Chris (Roman Christou) dan Samantha (Jaynee-Lynne Kinchen), yang ikut pada malam penyelidikan pun mulai terkena terror seorang hantu perempuan. Kejanggalan dan terror yang dialami keluarga ini pun membuat Anna menyadari akan kehadiran sosok hantu perempuan yang mengincar nyawa kedua anaknya. Hantu ini sering terdengar menangis, dialah La Llorona (The Weeping Woman). Berbagai upaya dilakukan Anna dan kedua anak nya unuk terlepas dari terror hantu tersebut, salah satunya adalah menemui Father Perez (Tony Amendola). Pertemuan inilah yang membuat film ini menjadi bagian dari The Conjuring Universe. Kalau kamu ingat, Father Perez adalah pastur yang sama pada kisah Annabelle. Berhasilkah Anna dan putra-putrinya lepas dari teror La LLorona? Silahkan menyaksikan langsung film horror ini.



    The Curse of The Weeping Woman merupakan film horror yang sangat menegangkan, jauh lebih seram dari The Nun (berasal dari universe yang sama). La Llorona bisa datang kapan saja, di mana saja, dengan wajah yang menakutkan, sulit dikalahkan, dan memiliki motif yang kuat untuk menghantui. La Llorona juga bisa menyentuh tubuhmu, sehingga kamu tidak menyadari bahwa ia adalah hantu. Walaupun nilai rating di IMDb dan Rotten Tomatoes cukup kecil (IMDb: 5,8 sedangkan Rotten Tomatoes 31%), namun angka 7/10 cukup layak diraih oleh film karya Michael Cavez dari Warner Bross Studio ini. Silahkan tonton film ini sebelum turun layar!



    ULASAN: AVENGERS 'ENDGAME'




    Bagi para penggemar film superhero, terutama yang berasal dari Marvel Cinematic Universe, film Avengers: Endgame adalah film yang paling ditunggu di tahun 2019 ini. Hal ini dibuktikan dengan membludaknya jumlah penonton, termasuk di bioskop-bioskop di Indonesia. Banyak penonton yang seakan berlomba menjadi yang pertama menyaksikan film ini, terlihat dari beberapa bioskop yang sampai menayangkan film ini 24 jam non stop! Sungguh suatu fenomena yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Aapkah yang membuat banyak orang ingin menonton Avengers: Endgame? Berikut ulasannya.



    Seperti yang sudah diketahui di akhir film Avengers: Infinity War, para pahlawan kita mendapatkan kekalahan telak dari Thanos, The Mad Titan. Thanos (Josh Brolin) berhasil mengumpulkan keenam infinity stones dan memasangnya pada gauntlet-nya, lalu melakukan finger snap (menjentikkan jarinya). Akibatnya, separuh populasi dari seluruh alam semesta punah serentak menjadi debu. Termasuk beberapa sueprhero seperti Dr. Strange, Spider-Man, Black Panther, Scarlet Witch, Bucky, Falcon, Star Lord, Groot, Mantis, dan Drax. Iron Man (Robert Downey Jr.) berhasil selamat dan berada di planet Titan (tempat kelahiran Thanos) bersama Nebula (Karen Gillan), sementara para pahlawan yang selamat lainnya berada di bumi. Kisah inilah yang langsung berlanjut di Avengers: Endgame.



    Para penonton dibuat penasaran dengan beberaap pertanyaan: Apakah Tony Stark a.k.a Iron Man berhasil bertahan hidup di luar angkasa dan dapat kembali ke bumi? Apakah ada superhero lainnya yang selamat selain superhero yang muncul di Avengers: Infinity War? Apakah yang akan terjadi selanjutnya? Berhasilkan para Avengers membalaskan dendam untuk mengalahkan Thanos? Pertanyaan-pertanyaan itu akan terjawab dalam film berdurasi 3 jam ini! Ya, ini adalah film superhero dengan durasi tayang terlama. Namun jangan khawatir, kamu tidak akan bosan menonton film ini, 3 jam jadi tidak terasa karena penonton akan sangat terbawa suasana dan kisah pada film.



    Film Avengers: Endgame ini mengisahkan bagaimana para superhero yang berhasil selamat mencoba bertahan dan melanjutkan kehidupan mereka, walau sebenarnya mereka merasa sangat kegilangan dan masih dipenuhi perasaan bersalah karena gagal mengalahkan Thanos. Oleh karena itu beberapa upaya ditempuh untuk membalaskan dendam atas kekalahan dan kehilangan orang-orang yang dicintai. Akan tetapi, tidak semudah itu. Ada banyak hal yang harus dipertaruhkan dan dikorbankan, termasuk nyawa mereka sendiri. Avengers yang tersisa: Iron Man, Captain America a.k.a Steve Rogers (Chris Evans), Thor (Chris Hemsworth), Hulk a.k.a Bruce Banner (Mark Ruffalo), Black Widow a.k.a Natasha Romanoff (Scarlett Johansson), dan Hawkeye a.k.a Clint Barton (Jeremy Renner) mengeluarkan segenap daya upaya untuk melakukan hal tersebut. Mereka tidak sendirian, seperti terlihat di poster film, terlibat juga superhero lainnya yang masih hidup: Captain Marvel a.k.a Carol Danvers (Brie Larson), Ant-Man a.k.a Scott Lang (Paul Rudd), Rocket Raccoon (Bradley Cooper), bahkan oleh anak perempuan Thanos yang kemudian beralih melawan ayahnya: Nebula. Bagaimanakah cara mereka membalas dendam? Sebaiknya kamu tonton sendiri, karena pada ulasan ini tidak akan ada spoiler (bocoran cerita), sesuai arahan para pemeran dan sutradara Avengers: Endgame.



    Judul film ini berasal dari perkataan Dr. Strange (Benedict Cumberbatch) pada Tony Stark di planet Titan: “We’re in the endgame now” (pada film Avengers: Infinity War). Walaupun sebenarnya kata endgame sudah pernah diucapkan oleh Tony Stark di film Avengers: Age of Ultron. Ya sesuai judulnya, bagaimanakah mengakhiri permainan melawan Thanos ini adalah suatu hal yang sangat menarik dan membuat penasaran, sehingga wajar kalau banyak orang berlomba-lomba menjadi penonton pertama. Selain itu, film ini layak ditonton lebih dari satu kali. Disarankan untuk menonton film ini di layar IMAX, karena kamu akan mendapatkan gambar 26% lebih besar, ya, film ini menggunakan teknologi terbaru untuk hal tersebut. Untuk merasakan langsung keseruan adegan-adegan penuh aksi dalam film ini, maka kamu juga harus menonton film ini dengan format 4DX.



    Avengers: Endgame sudah berada pada posisi 5 besar IMDB (rate 8.9) pada seminggu penayangannya, dan diakui sebagai film superhero paling epic. Meskipun begitu, bukan berarti film garapan Russo Brothers (Anthony dan Joseph Russo) ini tidak memiliki kekurangan. Ada beberapa plothole dan jalan cerita yang membingungkan para penonton, namun hal tersebut bisa saja dijelaskan pada film-film selanjutnya dan justru memancing banyak diskusi pada fans. Oh ya, film ini sangat memanjakan fans (banyak fans service) baik bagi para penonton MCU maupun pembaca komik Marvel. Film ini juga memperlihatkan sisi lain para superhero. Seorang superhero tidak selamanya sempurna, banyak sisi humanis mereka yang terlihat, inilah yang membuat para penggemar semakin mencintai superhero favorit mereka masing-masing.



    Setelah menonton Avengers: Endgame, bukan berarti tidak ada lagi pertanyaan, justru akan memunculkan pertanyaan baru: Apakah yang akan terjadi di film berikutnya? Mau dibawa ke mana MCU phase 4? Marvel dan Disney sepertinya sudah menyiapkan film-film selanjutnya dengan baik, inilah yang membuat fans Marvel setia. Ya, setelah film ini, kita tunggu film MCU selanjutnya, dimylai dari yang terdekat waktu penayangannya: Spider-Man Far From Home!


    Friday, April 19, 2019

    ULASAN: AFTER


    Kisah percintaan remaja tidak akan pernah habis dibahas dalam film yang sudah sering kita lihat dalam berbagai genre, mulai dari yang normal hingga beratmosfer supranatural. Maklum dalam usia ini kondisi jiwa sedang labil dan seakan tidak ada yang bisa memahami. Kali ini giliran film After yang diangkat dari Novel Fiksi Dewasa berjudul sama yang ditulis oleh Anna Todd di tahun 2014, yang akan mewarnai kancah perfilman Indonesia. 



    Film ini merupakan kisah ‘fan fiction’ romantis terhadap personil One Direction, Harry Styles sebagai tokoh sentral prianya. Kisah ini tadinya ditulis Anna di Wattpad, semacam platform komunitas online untuk segala jenis cerita, sebelum akhirnya diangkat menjadi film. Kisah After terdiri atas 5 novel dan cerita dalam film mengambil jalan cerita dari novel pertamanya. Film After menceritakan soal Tessa Young (Jessica Langford), gadis lugu yg tertarik dengan pemuda yang urakan dan tipikal 'bad boy' Hardin Scott (Hero Fiennes- Tiffin) di kampusnya. Tessa adalah tipikal gadis yang teratur dan hidupnya tidak pernah menyimpang dari peraturan ataupun hal-hal yang tidak baik, Tessa juga memiliki ibu yang suportif dan pacar yang baik. Tessa dikisahkan sedang memasuki kehidupan di asrama kampus dan harus berpisah dari ibu dan pacarnya. Di kampus inilah dia bertemu dengan Hardin, pria yang bertolak belakang dengannya namun tanpa disadari Tessa, pertemuannya dengan Hardin inilah yang akan mengubah kehidupannya. Walau terkesan kasar dan urakan namun sisi misterius Hardin membuat Tessa diliputi rasa penasaran. Akankah Tessa tetap teguh pada pendiriannya untuk menjalani kehidupan yang normal atau jatuh cinta pada pesona Hardin.



    Dari segi cast, kedua pemain utama baik Jessica maupun Hero Fiennes sudah memberikan penampilan yang apik dan chemistry yang meyakinkan, mereka berhasil terjun ke dalam karakter Tessa dan Hardin dan membuat kita terhubung dengan mereka seiring berjalannya film. Jessica merupakan adik dari Katherine Langford, yang kita kenal lewat penampilannya di serial 13 Reasons Why sebagai Hannah, sedangkan Hero Fiennes merupakan keponakan dari aktor Ralph dan Joseph Fiennes, yang pernah memerankan Tom Riddle muda di film Harry Potter and Half Blood Prince. Kita dapat melihat Tessa sebagai gadis lugu yang berambisi yang perlahan berubah sepanjang jalannya film sebagai akibat dari ketertarikannya terhadap Hardin. Hardin sukses menampilkan sisi pemuda berandal namun tetap memiliki sisi manis dan gentle terhadap Tessa. Sayangnya sisi background mereka terkait masa lalu kurang begitu dieksplorasi secara mendalam di film ini, itu membuat dinamika mereka dengan orang tua masing-masing, Tessa dengan ibunya dan Hardin dengan ayahnya, terkesan biasa saja dan kurang bisa ditangkap dengan sepenuhnya oleh kita yang menonton. Seandainya ada sedikit adegan flashback di bagian ini tentu akan lebih baik. Film ini benar-benar berfokus pada karakter mereka dan kurang memberikan porsi ke hal lain yang tentu dapat memberi nilai tambah terhadap film ini. Karakter teman-teman mereka terkesan sekedar lewat saja, apalagi Landon yang diceritakan menjadi saudara Hardin sebagai akibat pernikahan kedua ayahnya dengan ibu Landon, padahal di awal Landon diperkenalkan sebagai karakter yang kita kira cukup penting.



    Kisah gadis baik-baik yang jatuh cinta terhadap pemuda ‘bad boy’ cukup klise sebenarnya karena tentu ada banyak film sejenis, tinggal bagaimana cast utamanya piawai memainkan karakter mereka agar tetap diingat oleh penonton. Walau film After memiliki pacing yang lambat untuk menuju konflik utamanya tapi penampilan Jennifer dan Hero Fiennes mampu membuat kita penasaran untuk mengikuti alur film ini hingga selesai. Aspek lain yang juga patut diapresiasi adalah sinematografi film ini, adegan-adegan romantis mampu ditangkap dan ditampilkan dengan utuh baik dari shot close up maupun long shot ketika berada di tempat-tempat yang sengaja diset untuk efek romantis, seperti adegan di danau ataupun di Akuarium Laut, dukungan skor musik juga menambah efek . Pengambilan adegan-adegan romantis dan intim antara Tessa dan Hardin juga terlihat lebih ke arah seni ketimbang seks-eksploitatif.



    Menonton film ini akan membuat penonton merasakan suasana kehidupan remaja, khususnya di US, yang penuh lika-liku dan tantangannya sendiri mulai dari pertemanan, kehidupan di kampus yang terkenal bebas dan diwarnai pesta (house party), pengaruh obat-obatan sampai hubungan asmara yang semuanya akan berdampak pada perkembangan karakter remaja itu sendiri. Dari segi konteks sosial, film ini ingin memberi pesan bagi orang tua untuk lebih memperhatikan kehidupan anak-anak mereka khususnya ketika mereka beranjak remaja dan lingkungan sosial mereka semakin luas. Sekaligus mengingatkan bahwa sebagai orang tua, segala didikan dan hal yang terjadi di rumah turut membentuk sifat dan perilaku mereka.



    Film ini potensial untuk menjadi hit sebenarnya karena masih banyak hal yang bisa digali dari karakter Tessa dan Hardin termasuk teman-teman dan orang tuanya tapi film pertama ini sepertinya penulis cerita memutuskan untuk bermain aman dan berfokus pada kedua pasangan ini sepenuhnya. Mungkin hal-hal lain masih disimpan dan baru akan dibahas di sekuelnya jika film pertama ini sukses. Kita berdoa saja agar film pertamanya ini sukses sehingga film ini punya kesempatan untuk menebusnya di film sekuelnya


    Overall: 7/10

    (By Camy Surjadi)




    ULASAN: HOTEL MUMBAI




    Peristiwa terorisme Yang terjadi pada 26 - 29 November 2008 Di beberapa pusat kegiatan Di India
    Yang dikenal sebagai Mumbai Attack merupakan peristiwa kelam dalam sejarah India. Salah Satu bangunan historis yang terkena dampak adalah The Taj Mahal Palace Hotel, sebuah hotel prestisius bintang 5 di jantung kota Mumbai. Kisah terorisme dan penyelamatan yang terjadi pada waktu serangan inilah yang dijadikan tema film ini. Hotel Mumbai merupakan film bergenre biopic-thriller yang dibuat berdasarkan film dokumenter Surviving Mumbai yang dirilis tahun 2009 karya sutradara Victoria Midwinter Pitt. Cerita film ini berfokus pada sudut pandang 5 protagonis utama yang semuanya bersinggungan ketika mereka sama-sama berada pada hotel Taj Mahal di mana nasib
    mereka mempertemukan satu sama lain ketika hotel mereka diinvasi oleh sekelompok teroris
    sebagai bagian dari serangan jihad terencana dari dalang teroris, Laskhar-e-Taibaa, yang dipimpin
    oleh seseorang bernama The Bull.



    Film ini dibintangi oleh banyak bintang terkenal dan semua memainkan karakternya dengan sangat baik. Penampilan gemilang di film ini layak diberikan untuk Arjun (Dev Patel) dan Kepala Chef Hermant Oberoi (Anupam Kher) yang benar-benar tampil meyakinkan sebagai pegawai hotel yang berani dan memegang filosofi bahwa tamu adalah raja, Armie Hammer tampil cukup mengesankan sebagai David, ayah yang pemberani yang berani mengambil risiko demi keselamatan keluarganya. Zahra (Nazanin Boniadi) berperan sebagai istri David yang membuat kita bersimpati terhadap karakternya yang berada dalam tekanan karena memikirkan keselamatan anak, suami, dan asistennya Sally. Kalaupun ada karakter yang underdeveloped di film ini yaitu Jason Isaacs, yang berperan sebagai mantan agen Spetznaz, Vasili, seperti dibuat berkharisma di awal tapi seiring berjalannya film seperti kurang dieksplorasi karakternya. Sementara dari sisi karakter antagonis, semua pemeran teroris tampil meyakinkan sebagai karakter yang brutal dan di saat yang sama berada dalam keadaan frustrasi dan kebingungan dalam menjalankan aksinya.



    Walau awalnya terlihat tenang tapi film ini secara perlahan membangun ketegangan dengan terstruktur dan rapi, ketika adegan sudah berubah menjadi tegang dan masuk dalam situasi penyanderaan kita sebagai penonton seperti tidak diberikan waktu untuk bernafas lega.



    Menyaksikan film yang berdurasi 2 jam ini seperti berada dalam situasi teror itu sendiri di mana kita pun bertanya-tanya kapan akan berakhir dan bagaimana berakhirnya. Kita merasakan simpati terhadap para korban-korban yang disandera dan emosi kita terhadap para pelaku teroris juga benar-benar bergejolak. Terlihat film ini benar-benar memaksimalkan penggunaan setting tempat di hotel Taj Mahal, baik dari kamar, dapur, Lobi hotel, maupun Lounge rahasia hotel. Film ini juga ingin memberikan garis bawah terhadap humanisme yang diciptakan sangat baik oleh sang sutradara, Anthony Maras, terlihat lewat keteguhan para pelayan Hotel yang tetap tinggal untuk melindungi para tamu mereka.



    Sinematografi film ini juga turut memberikan andil menciptakan suasana mencekam dan penuh ketegangan. Situasi dramatis pun terasa di film ini pada adegan klimaks di mana teroris mulai menghabisi nyawa para sandera sementara bantuan kepolisian terhambat akibat sulitnya akses dan kurangnya sumber daya keamanan di kota tersebut. Yang menjadi kunci suksesnya film biopik selain dari para aktor pemerannya juga adalah seberapa akurat situasi yang digambarkan dengan kejadian sebenarnya. Film ini menggambarkan aksi terorisme dengan cukup detil dan terkadang brutal. Walau ada beberapa selipan humor tapi cenderung kurang tepat sasaran dan bisa dihilangkan sebenarnya, film ini bisa tetap serius dan tidak memerlukan humor seperti demikian.



    Menurut berita, film ini dibuat berdasarkan dokumenter, semua berita dan rekaman yang terjadi di waktu peristiwa ini terjadi dan melihat hasil akhirnya di film yang kita tonton, kita patut mengacungkan jempol terhadap penulis cerita, sutradara dan semua cast Yang terlibat. Film ini jelas akan selalu berada di ingatan saya sebagai film biopik yang berkesan. Namun perlu diingat menonton film biopik seperti ini kita perlu menelaah lebih dalam mengenai fakta terhadap kejadian sebenarnya karena apa yang digambarkan dalam film tidak mencakup seluruh aspek secara menyeluruh.



    Overall: 8/10

    (By Camy Surjadi)

    Sunday, April 14, 2019

    ULASAN: AVE MARYAM





    Begitu mendengar Ave Maryam, mungkin yang terbersit dalam pikiran kita adalah Bunda Maria. Ya, ave adalah kata dari bahasa Latin yang berarti ibu atau bunda, Maryam merupakan nama Maria dari bahasa Arab. Berdasarkan hal tersebut, pemikiran kita bisa langsung mengarah ke cerita Bunda Maria begitu mendengar film dengan judul Ave Maryam. Namun ternyata pemikiran itu salah, Ave Maryam bukanlah cerita mengenai Bunda Maria, melainkan cerita mengenai suster/biarawati bernama Maryam.


    Maryam (diperankan oleh Maudy Koesnaedi) adalah seorang suster yang bertugas merawat suster-suster yang sudah lanjut usia di kota Semarang, bersama beberapa suster muda lainnya seperti Suster Mila (diperankan Olga Lydia). Suster tua yang dirawat oleh Maryam adalah Suster Monik (diperankan oleh Tutie Kirana). Suster Monik berbeda dari suster-suster tua lainnya, ia cenderung pendiam dan seperti menyimpan rahasia. Berbagai cara pendekatan yang dilakukan Maryam untuk akrab dengannya tidak berhasil. Sampai suatu hari datang seorang pastur muda bernama Pastur Yosef (Chicco Jerikho). Selain muda dan tampan, Romo Yosef merupakan pastur yang sangat berbakat di bidang musik serta mampu menghibur para suster tua. Ia pun sangat dekat dengan Suster Monik.  Suster Maryam pun tertarik dengan Romo Yosef, begitu pula sebaliknya. Akan tetapi, mereka berdua harus mematuhi Kaul (janji sukarela mengabdi kepada Tuhan). Salah satu kaul yang mereka ucapkan adalah Kaul Kemurnian, yaitu tidak boleh menikah atau menjalin hubungan cinta. Film ini bercerita tentang dilema yang dirasakan Suster Maryam dan Romo Yosef: mematuhi kaul atau mencintai satu sama lain. Apakah yang kemudian dipilih oleh keduanya? Silahkan cari tahu jawabannya dengan menonton film yang sangat artistik ini.


    Ave Maryam memang film festival, sebelum tayang resmi di April 2019, film ini sudah tayang di beberapa ajang festival film. Sebagai film festival, Ave Maryam dikemas dengan sangat artistik, baik dari sinematografi, musik, sampai isi dialog. Layaklah kalau menjadi nominasi arau menggondol Piala Citra 2019, maupun penghargaan lain yang sejenis. 


    Sayangnya ada beberapa kekurangan pada film tersebut. Pertama, latar belakang tahun Ave Maryam adalah tahun 1998, namun tidak mengungkap era ini sama sekali selain satu percakapan yang bisa membuat penonton menduga itu tahun 1998. Ada beberapa flop yang membuat film ini jelas terlihat bukan di era 1990an, tapi jauh lebih modern. Selain itu, sebetulnya tidak ada esensinya untuk film ini berlatar tahun 1998, tidak ada hubungan aappun dengan tahun itu. Jadi akan lebih baik tidak usah diceritakan bahwa latar film ini adalah tahun 1998.

     
    Kekurangan lainnya adaah film ini seperti berusaha mengangkat tema toleransi antar agama, namun penggambaran toleransi tersebut kurang terlihat. Jadi aeakan memaksakan tema tersebut. Terakhir, kalau Anda adalah penikmat film dengan banyak dialog, maka jangan terlalu banyak berharap untuk menyukai film ini, karena film ini minim dialog.


    Di luar dari semua kekurangannya, film karya Robby Ertanto ini layak dinikmati bukan hanya oleh para penganut Katolik, namun oleh penganut agama lain, karena sebetulnya tema besar dari film ini sangatlah sederhana dan cocok untuk seluruh kalangan, yaitu CINTA. Jadi ayo tonton film Ave Maryam yang akhirnya mendapat jadwal rilis (seharusnya sudah tayang tahun 2018), di tanggal 11 April 2019. Film ini memang agak sensitif dan banyak film yang bersaing memperebutkan penonton di bulan April ini, jadi segeralah tonton selama masih ada kesempatan tayang!

    Overall: 8/10

    (By Aisyah Syihab)