Monday, March 18, 2019

    ULASAN: FIVE FEET APART




    Sejak pertama kali posternya muncul dan terlebih setelah membaca sinopsisnya, banyak yang langsung membanding-bandingkan Five Feet Apart dengan salah satu film drama-romantis populer yang pernah dibintangi Shailene Woodley dan Ansel Elgort berjudul The Fault In Our Stars. Dibanding-bandingkannya kedua film itu tentu bukan tanpa alasan. Kedua film ini mempunyai tema yang sama. Sepasang kekasih yang sama-sama menderita penyakit yang mematikan yang mana hubungan mereka berdua yang menjadi harapan dan warna kehidupan mereka yang setiap saat ajal bisa datang kapan saja. Lalu apakah kesamaan tema ini membuat Five Feet Apart jadi agak sedikit basi ketika ditonton ?



    Dibintangi dua rising star yang saat ini mulai menjadi idola remaja, ada Cole Sprouse yang angkat nama lewat serial Riveldale, lalu ada Haley Lu Richardson yang sebelumnya muncul lewat Split dan Edge of Seventeen. Dan kursi sutradara ditangani oleh Justin Baldoni yang mana Five Feet Apart adalah debutnya sebagai sutrdara.



    Will (Cole Sprouse) dan Stella (Haley Lu Richardson) adalah remaja yang dipertemukan oleh penyakit mereka. Mereka berdua mengidap penyakit langka, yaitu Cystic Fibrosis yang merupakan sebuah penyakit langka, yang menyerang paru-paru dan sistem pencernaan. Lendir di dalam tubuh akan sangat kental sehingga bisa membuat pengidapnya terancam hidupnya. Penyakit ini belum dapat disembuhkan, namun perawatan intensif bisa membantu. Cystic Fibrosis bersifat kronis, dapat bertahan selama bertahun-tahun bahkan seumur hidup, dan selalu membutuhkan uji dan pengawasan yang cukup ketat.


    Penyakit itu seperti tidak menghalangi rasa saling menyukai anatara Will dan Stella yang pada awalnya tidak mempunyai rasa kecocokan yang rasanya tidak mungkin mempunyai hubungan yang lebih personal. Tetapi justru karena penyakit itu mereka berdua bisa saling memahami satu sama lain. Mengidap penyakit yang sama bukanlah satu-satunya penghalang hubungan mereka berdua. Seakan belum cukup, tali kasih antara mereka berdua dihalang oleh jarak 5 kaki. Yap, karena penyakit Cystic Fibrosis membuat sesama pengidapnya tidak boleh melakukan kontak fisik secara langsung. Jika hal itu dilanggar maka penyakit yang mereka derita akan bertambah parah. Dengan halangan seperti itu apakah kedua pasangan ini bisa menjalin hubungan sepasang kekasih dengan semestinya ?


    Memang tidak salah jika Five Feet Apart dibanding-bandingkan dengan The Fault In Our Stars karena memang menceritakan dua karakter utamanya mengidap penyakit yang berat. Tetapi untungnya dengan kemiripan seperti itu ternyata Five Feet Apart bisa berdiri sendiri. Jikapun kamu masih membanding-bandingkannya Five Feet Apart tidak bisa dikatakan berada dibawah The Fault In Our Stars. Semua itu karena peformance yang memukau Cole Sprouse dan Haley Lu Richardson yang memerankan dua karakter utamanya. Kemistri mereka yang sangat kuat membuat penonton merasa sangat peduli dengan nasib dua karakter ini. Mulai dari tersenyum, harap-harap cemas dan terharu mengikuti emosi para karakter-karakternya.


    Sebagai bumbu ditengah-tengah perhatian kita pada karakter Will dan Stella, kehadiran Poe (Moises Arias) sahabat dari Stella dan Barb (Kimberly Hebrt Gregory) sang suster yang sangat menyayangi Will dan Stella lebih dari sekdar pasien memberikan warna tersendiri. Yap benar, Five Feet Apart hidup benar-benar karena bagusnya para pemainnya. Diluar peforma yang sangat solid dari dua pemeran utama, skenario yang ditulis Mikki Daughtry dan Tobias Iaconis juga salah satu kunci kenapa film ini juga sangat menjadi menarik yang dieksekusi dengan secara tepat oleh Justin Baldini yang dengan cerita yang sebenarnya bisa sudah bisa ditebak.


    Jikapun ada hal yang membuat kamu tidak bisa menikmati filmnya hanyalah cerita yang sudah sangat familiar yang membuat kamu sudah kebal dengan cerita-cerita melodramatis ini. Tetapi jika kamu bisa menepiskan hal itu, bisa jadi kamu akan lebih menyukai Five Feet Apart dibandingkan The Fault of Our Stars.

    Overall: 7/10

    (By Zul Guci)

    Sunday, March 17, 2019

    ULASAN: WONDER PARK




    Setelah absen setahun dari layar bioskop setelah terakhir kali muncul lewat Monster Truck, Nickelodeon Movies kembali hadir dengan dua film di tahun 2019 ini. Yang pertama animasi Wonder Park dan yang kedua live action Dora The Explorer. Berbeda dengan Dora The Explorer diadaptasi dari animasi yang sudah lebih populer terlebih dahulu, untuk Wonder Park sendiri sebuah film animasi yang mana nantinya akan menyusul menjadi serial animasi di channel yang memang sudah banyak menelurkan serial-serial animasi yang sangat digemari.


    Mulai berjalan produksi filmnya sejak tahun 2014, Wonder Park diramaikan dengan suara-suara aktor yang sudah sangat familiar, mulai dari Jennifer Garner, Matthew Broderick, Ken Jeong dan John Oliver. Ditengah-tengah penyelesaian produksi film Wonder Park mengahadapi masalah ketika pihak studio memecat sang sutradara Dylan Brown dikarenakan masalah isu pelecehan seksual. Sejak saat pihak studio tetap melanjutkan penyelesaian film ini tanpa ada pengganti sutradara.


    Wonder Park berkisah tentang sebuah taman hiburan yang luar biasa, di mana imajinasi seorang gadis yang sangat kreatif bernama June (Brianna Denski) yang awalnya tidak diketahuinya menjadi hidup. Hingga pada suatu saat June berhenti berimajinasi ketika sang ibu (Jennifer Garner) sakit. Hal yang membuat berpengaruh pada kelangsungan Wonder Park yang tiba-tiba diserang sebuah kegelapan yang akan menghentikan aktifitas Wonder Park selama-lamanya.

    Pada suatu saat dengan secara ketidaksangajaan June tersesat pada sebuah taman hiburan yang tidak terurus yang tidak butuh waktu lama June menyadari jika taman hiburan itu adalah Wonder Park ketika para penghuni dan pengurus taman hiburan itu adalah hewan-hewan yang ada dalam imajinasinya. Bersama-sama mereka mencoba untuk menyelamatkan Wonder Park dari lahapan kegelapan dan membuat Wonder Park kembali beraktfitas lagi seperti dulu.


    Dengan visual yang sangat penuh warna memanjakan mata, Wonder Park akan mudah menarik perhatian penonton, terlebih anak-anak. Plot cerita yang ringan ringan juga akan mudah diikuti seperti halnya dengan film-film animasi Nickelodeon sebelumnya. Dengan plot cerita yang ringan itu sayangnya tidak dibarengi joke-joke pada dialognya yang mungkin hanya dimengerti sebagian penonton. Joke yang bisa saya katakan terlalu pintar untuk kita yang sangat tidak menyukai pelajaran fisika atau matematika sehingga tidak merasakan kelucuannya dimana. Terlebih filmnya sendiri ditujukan untuk anak-anak, jadi berharap saja mereka mengerti joke orang-orang jenius itu.


    Untungnya karakter-karakter hewan yang ada dalam Wonder Park dapat mengisi plotnya dengan baik yang menjadikannya sangat menghibur seperti duo tupai bersaudara yang meributkan segala hal Gus (Kenan Thompson) dan Cooper (Ken Jeong). Lalu ada Steve (John Oliver) sang landak yang jatuh hati pada Greta (Mila Kunis) sang babi liar. Lalu juga ada Boomer (Ken Hudson Campbell)  sang beruang biru yang suka tiba-tiba tertidur ditengah-tengah percakapan. Dan ditengah-tengah sangat menghiburnya karakter pembantu itu tidak diimbangi oleh karakter penting Peanut (Norbert Leo Buzt).


    Untuk sebuah porgress, animasi terbaru Nickelodeon ini tidak terlalu banyak keistimewaan dengan film-film animasi sebelumnya. Menghibur, tapi hanya sebatas itu. Dengan pesan moral yang cukup kental mengenai jangan berlarut-larut dalam sebuah kesedihan, Wonder Park memang lebih cocok jika ditonton bersama keluarga dan mungkin lebih sangat menyenangkan menjelaskan maksud pesan yang ada di film ini kepada anak-anak jika menurut kamu film ini sangat biasa.

    Overall: 6,5/10

    (By Zul Guci)



    Wednesday, March 13, 2019

    5 EPISODE PERTAMA FINALIS HOOQ FILMMAKERS GUILD MUSIM KEDUA TELAH HADIR DI HOOQ



    HOOQ - Layanan video on demand terbesar di Asia Tenggara - kembali menggelar ajang pencarian cerita dan talenta terbaik di bidang film dan serial. Tahun ini, HOOQ Filmmakers Guild telah menyeleksi dan memproduksi lima naskah cerita terbaik dari penjuru Asia dan ditayangkan pada aplikasi HOOQ mulai 1 Maret 2019.



    Lima cerita tersebut antara lain, Klenix dari Indonesia, Babi! dari Malaysia, She’s a Terrorist and I Love Her dari Singapura, dan dua cerita dari Thailand yaitu Lucky Girl dan Split Second.



    Jennifer Batty, Chief Content Officer HOOQ mengatakan, “Kami sangat senang menghadirkan project episode pertama HOOQ Filmmakers Guild di musim kedua ini! Proses pemilihan yang sangat selektif dalam memilih lima naskah terbaik untuk diproduksi menjadi episode pertama dan sekarang akan lebih sulit untuk memutuskan satu naskah terbaik! Sangat menyenangkan dapat bekerjasama dengan tim HOOQ Filmmakers Guild dan juga peserta terpilih. Saya ingin menekankan bahwa HOOQ sangat berkomitmen untuk mendukung sineas berbakat di seluruh Asia tahun 2019.”



    Pertama kali digelar pada Juni 2017, HOOQ Filmmakers Guild membuka kesempatan bagi para sineas kreatif dan berbakat di Asia untuk mewujudkan ide cerita terbaik mereka ke dalam sebuah film atau serial. Lima finalis dengan naskah cerita terbaik tersebut masing-masing mendapatkan USD 30,000 untuk merealisasikan cerita mereka ke dalam satu episode perdana. Satu dari lima episode perdana yang telah melewati proses penjurian serta berdasarkan popularitas, akan diproduksi menjadi serial penuh dan ditayangkan di HOOQ.





    Lima finalis dari HOOQ Filmmakers Guild musim pertama telah berhasil memenangkan beragam penghargaan sepertiGrand Prize untuk Best Television Pilot dalam ajang 22nd Annual Rhode Island International Film Festival (RIIFF), Program Komedi Terbaik untuk Indonesia dan Pemeran Utama Wanita Terbaik untuk Singapura dalam ajang Asian Academy Creative Awards.



    Kelima naskah terbaik diseleksi oleh barisan juri dari sineas ternama Asia, yaitu Mouly Surya dan Joko Anwar dari Indonesia, Manet Dayrit dan Agot Isidro dari Filipina serta asal Thailand, Adisorn Tresirikasem dan Banjong Pisanthanakun.



    Juri asal Thailand Banjong Pisanthanakun, yang dikenal dengan karyanya dan kesuksesan film box office berjudul Shutter mengatakan, “Saya merasa terhormat mendapatkan kesempatan menjadi juri di kompetisi ini. Hari ini, kami telah melihat naskah-naskah yang menginspirasi dan berkualitas dari sineas pemula berbakat yang dimiliki Asia Tenggara.”



    Juri asal Thailand lainnya Adirson Tresirikasem mengatakan, “Saya merasa semua finalis tahun ini melebihi dari harapan saya. Sineas muda ini melebihi dari standar, ketika karyanya hadir untuk melibatkan penonton melalui film. Saya percaya bahwa penonton di rumah akan menyukai karya-karya ini seperti saya.”



    “Ini merupakan tahun kedua saya menjadi juri dan saya terkesima dengan standar yang sangat tinggi dari para peserta. Di tahun 2018, kami telah memproduksi pilot episode yang luar biasa, dan tahun ini juga sama. Asia Tenggara memiliki banyak talenta kreatif dan saya sangat bangga menjadi bagian dari proses dari ajang yang memberikan kesempatan untuk mereka menunjukkan talenta dan karya orisinal mereka.”, ujar juri asal Indonesia Mouly Surya, sutradara yang mendapatkan banyak pujian dan penghargaan melalui film Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak.



    Sutradara peraih penghargaan asal Indonesia lainnya, Joko Anwar menambahkan, “Saya yakin penonton dari penjuru Asia Tenggara akan menyukai dan menikmati episode perdana dari 5 naskah ini. Ini adalah bukti nyata dari ramainya industri film kreatif di Asia Tenggara.”

    Juri asal Filipina Agot Isidro yang merupakan aktris peraih penghargaan menambahkan, “Episode perdana ini adalah bukti nyata bagi eksistensi sineas berbakat di seluruh Asia. Mereka berani melakukan pendekatan mereka, mengambil inspirasi dari nuansa sosial untuk menceritakan kisah-kisah menarik yang memberikan pengaruh untuk penonton.”



    Penilaian naskah berdasarkan pada relevansi dan daya tarik terhadap penonton di Asia, kreativitas dalam alur cerita dan yang paling penting, cerita mengenai Asia yang teruraikan dengan baik dengan sudut pandang yang orisinal

    Rekan juri dari Filipina Manet Dayrit, aktris senior peraih penghargaan di industri film Filipina, terkesan dengan naskah yang masuk, “Ini menginspirasi dan saya bangga menjadi bagian dari proses ini. Hanya dalam waktu yang singkat para finalis mampu menghasilkan karya luar biasa. Mereka dapat menggambarkan semangat penggiat film berbakat Asia dan kami tidak sabar untuk menonton episode perdana.”



    Apa yang dikembangkan oleh para pendatang ini dalam waktu sesingkat itu bukanlah hal yang luar biasa. Mereka benar-benar menangkap semangat penceritaan Asia di film dan kami tidak sabar menunggu penonton untuk melihatnya

    ULASAN: A PRIVATE WAR




    Sejak kemunculannya pertama kali di layar lebar sebagai Bond girls lewat Die Another Day nama Rosamund Pike identik dengan peran-peran wanita cantik dan anggun yang bisa dibilang tidak ada yang spesial. Sampai pada akhirnya aktris kelahiran tahun 1979 ini bermain dalam film arahan David Fincher lewat Gone Girl yang sangat menarik perhatian yang membuahkan nominasi aktris terbaik pada ajang Academy Awards 2014. Dan sekarang Rosamund Pike mencoba sampai mana batasnya mendalami sebuah peran. Kali ini Rosamund Pike bermain dalam film biopik wartawan perang Marie Colvin.



    Selain Rosamund Pike, film A Private War juga didukung oleh aktor-aktor yang sudah sangat familiar untuk mata penonton. Ada nama Jamie Dornan (Fifty Shade of Grey Trilogy), Stanley Tucci (Captain America: First Avengers, The Hunger Games) dan Tom Hollander (Bohemian Rhapshody, Bird Box). Matthew Heineman ada pada kursi sutradara yang sebelumnya lebih dikenal sebagai sutradara film dokumenter yang sudah banyak memenangi penghargaan seperti Cartel Land (2015) dan City of Ghost (2017). A Private War sendiri merupakan debut penyutradaraan film naratif bagi Matthew Heineman.


    Diangkat dari kisah nyata, A Private War akan mengisahkan tentang sosok Marie Colvin (Rosamund Pike). Salah satu wartawan perang paling terkenal dan berani yang mengidap PTSD (Post Traumatic Stress Disorder) yang tidak pernah kenal kata takut, Marie meliput perang langsung di garis depan. Dalam tugasnya Marie selalu ditemani oleh photographer Paul Conroy (Jamie Dornan). Berdua mereka memasuki negara yang mengalami konflik atau perang. Semuanya untuk memberikan suara kepada orang yang tidak bersuara. Film ini akan menceritakan hubungan Marie dengan orang-orang disekitar sepanjang 11 tahn kariernya sebagai jurnalis perang yang diadaptasi dari tulisan artikel "Marie Colvin’s Private War" di Vanity Fair yang ditulis oleh Marie Brenner.



    Pengalaman Matthew Heineman dalam film-film dokumenter pada daerah-daerah konflik menjadi daya kuat A Private War. Gambaran dari efek perang dengan segala kengeriannya yang tidak hanya berdampak pada kerugian infrasttrukturnya, tetapi juga kepada manusia-manusianya sendiri. Refleksi dari kengerian itu yang diwakili oleh Rosamund Pike yang memerankan Marie Colvin yang benar-benar sangat luar biasa yang setelah menonton membuat kita mempertanyakan dengan peforma luar biasa seperti masih belum cukup menembus jajaran a aktris terbaik pada ajang oscar beberapa waktu yang lalu.



    Sangat luar biasanya performa Rosamund Pike memang menjadikan A Private War sebagai panggung aktris tersebut. Tetapi bukan berarti performa pemain lain seadanya saja, yang ada justru memperkuatnya. Jamie Dornan sebagai Paul Conroy salah satunya, hubungan pertemanannya dengan Marie menjadi bumbu dalam plot cerita. Tanpa bermaksud menyepelekan pilihan film-film sebelumnya, Jamie Dornan kedepannya harus sering mencoba bermain dalam film-film yang mengeluarkan semua potensinya sebagai aktor yang bagus seperti dalam film ini.


    A Private War sebuah biopik naratif yang sudah menarik perhatian sejak adegan pertamanya. Pesan positif yang disampaikan lewat kengerian-kengerian pada daerah konflik yang mungkin akan membuat kamu memikirkannya setelah menontonnya. Dan sebuah apresiasi layak diberikan kepada wartawan-wartawan perang yang menyampaikan pesan para korban yang tidak terdengarkan.


    Overall: 8,5/10

    (By Zul Guci)



    Monday, March 11, 2019

    TAHUN KEEMPAT FESTIVAL SINEMA AUSTRALIA DIGELAR




    Festival Sinema Australia Indonesia kembali untuk tahun keempatnya bulan ini dengan menayangkan film-film terbaik dari Australia dan Indonesia kepada penonton di Jakarta, Surabaya, Makassar, dan, untuk pertama kalinya tahun ini, Bandung dan Mataram, Lombok. Berbagai pilihan film Australia dan Indonesia akan diputar secara gratis di festival tahun ini, termasuk film-film pendek pilihan yang ditampilkan di Flickerfest, festival film pendek Australia yang terkenal di dunia. Festival ini akan dibuka dengan pemutaran perdana Ladies in Black di Indonesia, sebuah film berlatar tahun 1959 yang menunjukkan awal mula transformasi Australia menjadi negara multikultural seperti sekarang ini dan kebangkitan kemerdekaan perempuan di masyarakat.



    Film dokumenter tentang salah satu seniman Penduduk Asli Australia yang paling terkenal,GURRUMUL, juga akan ditampilkan pada festival tahun ini. Sutradara dan penulis film dokumenter tersebut, Paul Damien Williams, akan menghadiri festival dan menyapa penggemar film di Jakarta dan Mataram dengan dukungan dari mitra berkelanjutan festival ini, Qantas.



    Judul-judul film Australia lainnya yang akan diputar termasuk drama keluarga Storm Boy, filmthriller fiksi ilmiah alien Occupation, dan film fitur dokumenter tentang paduan suara perempuan Penduduk Asli Australia The Song Keepers. Kembali tayang karena permintaan khalayak ramai, susunan film pada festival kali ini juga mencakup karya alumni Australia asal Indonesia, termasuk karya film klasik modern Ada Apa Dengan Cinta? dan Ada Apa Dengan Cinta 2 dari produser Mira Lesmana, yang juga merupakan Sahabat FSAI tahun ini.



    Penonton juga berkesempatan untuk menonton film pemenang penghargaan karya Kamila Andini,The Seen and Unseen.“Warga Australia dan Indonesia berbagi kecintaan terhadap karya visual, terutama film,” kata Duta Besar Australia untuk Indonesia, H.E. Mr Gary Quinlan.



    “Film adalah salah satu media terbaik untuk menumbuhkan pemahaman yang lebih besar tentang negara dan budaya lain. Festival Sinema Australia Indonesia 2019 menawarkan jendela unik ke Australia kontemporer". FSAI 2019 didukung oleh Australia now ASEAN, sebuah inisiatif Pemerintah Australia untuk merayakan inovasi, kreativitas, dan gaya hidup Australia di Asia Tenggara sepanjang 2019. Tiket untuk semua pemutaran film tersedia secara gratis di fsai2019.eventbrite.com.

    Wednesday, February 27, 2019

    KONTEN DIGITAL JADI FOKUS UTAMA LA INDIE MOVIE 2019





    Sejak kemunculannya pada 2007, Lingkar Alumni Indie Movie atau LA Indie Movie (LAIM) telah mewadahi para generasi muda dalam menuangkan ide dan ekspresi dirinya melalui medium film, khususnya film pendek. Serta mengajak generasi muda mengapresiasi dan menyelami proses produksi film dari hulu sampai ke hilirnya, mulai tahap penulisan naskah cerita, penyutradaraan, pengambilan gambar, penyuntingan, hingga eksibisi dan distribusi. Semua ini akan dimentori oleh mereka yang sudah ahli dan berpengalaman di bidangnya.



    Selepas vakum selama dua tahun, LAIM kini hadir kembali dengan konsep yang semakin fresh dan kekinian.

    “LA Indie Movie kami hadirkan, sejak tahun 2007, kami maksudkan agar menjadi jalan pembuka bagi mereka yang mempunyai passion di dunia perfilman, ingin mengasah skillnya, berkeinginan untuk terus kreatif berkarya menghasilkan film pendek dan terus eksis dengan berani mengekspresikan minatnya di bidang film khususnya untuk kaum muda atau generasi millenials. Hal ini sejalan dengan spirit LAzone.id ,sebagai portal yang memberikan informasi tentang gaya hidup/Lifestyle, kreativitas, entertainment, komunitas, dari sisi See Things Differently“, ujar Novrizal selaku perwakilan dari LAzone.id.

    Rangkaian LAIM 2019 telah dimulai sejak November 2018 lalu dengan program LA Indie Movie Meet Up at Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) yang diisi dengan program sharing bersama para filmmaker experts.



    Dilanjutkan dengan Story Competition yang mencari ide cerita original dan menarik dengan tema ‘Viral’, cerita yang terpilih akan dikembangkan menjadi skenario film pendek dan diproduksi menjadi film pendek bersama produser-produser ternama tanah air. Pendaftaran Story Competition telah dibuka sejak 27 November 2018 dan ditutup pada 24 Maret 2019 melalui www.lazone.id.



    Cerita yang terpilih menjadi pemenang Story Competition akan difilmkan oleh tim filmmaker yang dijaring melalui program FILMMAKER HUNT dan diproduseri langsung oleh produser ternama yaitu Ifa Isfansyah, Ismail Basbeth dan Adhyatmika. Hasil karya ini kelak didistribusikan melalui festival dan platform digital seperti Iflix, Viddsee, dan HOOQ. Pemilihan platform digital sebagai medium distribusi film LA Indie Movie 2019 ini, sejalan dengan tema yang diusung yaitu “Your Movie Goes Digital”.



    Rina Damayanti selaku Direktur Festival LA Indie Movie 2019 menyatakan tema ‘Your Movie Goes Digital’ dipilih sebagai respons atas makin terintergrasinya dunia digital dalam keseharian generasi muda, tak terkecuali dalam menonton film.

    “Teknologi digital yang terus berkembang membuka peluang dan tantangan baru kreativitas dan medium distribusi film. Bagaimana para pembuat film menangkap tantangan era digital sebagai ruang baru kreativitas dan juga platform distribusi ide dan karya tanpa batas,” ungkap Rina

    Mark Francis, iflix Global Director of Original Programming, menambahkan "Film dan serial di Indonesia siap untuk pertumbuhan yang sangat positif berkat proliferasi layanan OTT (Over the Top) seperti iflix dan sebagaimana dibuktikan oleh rencana untuk membuka ratusan bioskop baru di seluruh Nusantara. Penonton lokal semakin tertarik dengan hiburan lokal berkualitas, yang menjadikan wadah seperti LA Indie Movie semakin penting. Anda tidak akan mendapatkan film yang bagus tanpa pembuat film yang hebat, itulah sebabnya kami senang berkontribusi dalam mendorong pengembangan keterampilan."



    “Sebagai platform digital untuk konten pendek premium, Viddsee bangga dapat mendukung tujuan Lingkar Alumni Indie Movie 2019 dalam mengembangkan talenta para pembuat film lokal dengan mempromosikan film mereka kepada audience tanpa batas”, ungkap Arie Kartikasari, Content Manager Viddsee Indonesia.

    “Dengan begitu banyaknya film atau konten yang bisa kita temukan di dunia digital dan sosial media, kita perlu memilah dan memilih konten yang mempunyai nilai lebih baik itu dari segi cerita maupun segi teknisnya. Seringkali para kreator dunia digital mengesampingkan nilai-nilai itu, maka kita perlu menularkan dan membagi pengetahuan kepada generasi muda agar dapat memproduksi film pendek yang tidak kalah dengan kualitas film bioskop,” ujar Ismail Basbeth selaku produser LA Indie Movie 2019.



    Salah satu program unggulan dalam LAIM 2019 adalah event LA MovieLAnd yang akan digelar di :

    Jogjakarta, 2 Maret 2019, di Jogja Nasional Museum

    Malang 9 Maret 2019, di Taman Krida Malang, dan

    Jakarta 16 Maret 2019, di Joglo at Kemang

    Mulai Pkl. 10.00 sampai pkl. 21.00 malam, akan diisi dengan berbagai program menarik dalam LA Movieland antara lain : Seri Film Workshop, Meet the Film Expert, Filmmaker Hunt, Casting, dan Open Air Cinema. Banyak filmmaker profesional akan turut hadir sebagai narasumber yang siap membagi ilmu dan pengalaman, antara lain : Angga D Sasongko (Sutradara), Edwin (Sutradara), Mouly Surya (Sutradara), Ifa Isfansyah (Sutradara /Produser), Adhyatmika (Produser), Agung Hapsah (Youtuber), Denis Adiswara (Content Creator), Roy Lolang (Cinematografer), Andhy Pulung (Editor Film), dll. Juga para aktor film Indonesia antara lain; Oka Antara, Vino G Sebastian, Ben Joshua, dan Arifin Putra.



    Tentang LA Indie Movie

    LA Indie Movie (LAIM) adalah wadah bagi pecinta film di Indonesia yang aktif menyelenggarakan filmmaking workshop dan short movie festival sejak tahun 2007. Kegiatan yang telah banyak menghasilkan profesional di dunia perfilman tanah air ini pada tahun 2018 berkumpul kembali dengan bendera Lingkar Alumni Indie Movie (LAIM). Fokus dari LAIM adalah memperkenalkan pembuatan film, mulai dari pengembangan cerita sampai profesi yang terlibat di dalamnya dan memberikan kesempatan generasi muda untuk terlibat dalam dunia film independen khususnya film pendek serta mempromosikan bakat-bakat yang muncul beserta karya mereka.



    Informasi mengenai jadwal acara dan informasi lainnya dapat dilihat di: www.LAZONE.ID/laindiemovie atau follow IG : @LAZONE.ID

    Monday, February 25, 2019

    BUKAN SEAN BEAN DI POSISI PERTAMA, BERIKUT 10 AKTOR YANG PALING SERING TEWAS KARAKTERNYA DALAM FILM

    Sebagian teman-Teman Gila Film pasti pernah mengalami sebuah obrolan tentang film di mana dalam film itu ada Sean Bean ikut bermain, lalu salah satu orang ada yang mengeluarkan kalimat 'Sean Bean sudah matinya kenapa?' atau 'Sean Bean mati di menit keberapa ?' Pertanyaan yang biasanya dijawab tanpa ada yang memprotes bahwa itu adalah sebuah spoiler bagi mereka yang belum menonton. Itu semua terjadi karena sudah saking melekatnya pada Sean Bean bahwa setiap karakter yang dia mainkan dalam sebuah film hampir semuanya berakhir dengan kematian. Tapi apakah teman-teman Gila Film tahu jika catatan kematian Sean Bean belum apa-apa dibandingkan beberapa aktor yang mungkin teman-teman Gila Film tidak menduganya. Dengan ini, GilaFilmID mencoba merangkum daftar 10 aktor yang mencatatkan kematian terbanyak di dalam filmnya.


    10. Mickey Rourke



    Aktor veteran yang sempat menurun popularitasnya dan kembali bangkit setelah aktingnya di The Wrestler arahan sutradara Darren Aronofsky yang membuahkan nominasi aktor terbaik di academy awards pada tahun 2009 ini telah merasakan 22 kali dari total 77 film yang ia bintangi.

    Memorable death scene: Double Team (1997), Sin City (2005)

    9. Michael Biehn



    Aktor yang menjadi favorit sutradara James Cameron yang hampir selalu diajak untuk bermain di film-filmnya telah merasakan jumlah kematian 24 kali dari total 109 film.

    Memorable death scene: The Terminator (1983), The Abbys (1989)

    8. Liam Neeson



    Siapa sangka bahwa aktor yang sering memerankan tokoh protagonis itu juga termasuk dalam daftar aktor yang paling sering tewas dalam filmnya. Jumlah kematian Liam Neeson sendiri adalah 25 kali dari total 119 film.
    Memorable death scene: Batman (2005), The Grey (2011)

    7.   Sean Bean



    Yap, aktor yang sering mendapat pertanyaan lelucon menit keberapa  karakternya akan tewas hanya di posisi 7 dengan jumlah kematian 25 kali dari total 119 film. Sama dengan Liam Neeson. Tidak menyangka bukan kalau Sean Bean hanya berada pada posisi ke-7 ?

    Memorable death scene: TLOTR: The Fellowship Of The Ring (2001), Game Of Thrones (2011)

    6. Charlize Theron



    Satu-satunya wanita di daftar ini. Charlize Theron mencatat jumlah kematian 25 kali dari total 52 film. Jumlah yang sama memang benar dengan Liam Neeson dan Sean Bean. Hanya saja Charlize Theron unggul dalam presentase rata-rata dimana 50% dari total film yang dia mainkan berakhir dengan kematian.

    Memorable death scene: The Devil's Advocate (1997), Prometheus (2012)

    5. Samuel L. Jackson



    Tidak menyangka bahwa catatan kematian Samuel L. Jackson berada di atas Sean Bean? Jumlah kematian aktor pemeran Nick Fury dalam film Marvel Cinematic Universe ini mencapai angka 29 dari total 177 film.

    Memorable death scene: Deep Blue Sea (1999), Avengers: Infinity War (2018)

    4. Vincent Price



    Salah satu aktor legenda hollywood Vincent Price berada pada posisi nomor 4. Aktor yang lebih banyak bermain dalam film horror, noir dan thriller ini sudah mencapai angka kematian 32 kali dari total 201 film selama karier aktingnya.

    Memorable death scene: House of Wax (1953), The Haunted Palace (1963)
    3. Bela Lugosi



    Di posisi urutan 3 kembali aktor yang besar lewat film-film horror yaitu Bela Lugosi. Penggemar film horror ataupun film klasik dipastikan tidak asing dengan nama aktor yang satu ini. Jumlah kematianya mencapai angka 36 r total 116 film.

    Memorable death scene: Zombie White (1932), Bride of the Monster (1955)

    2. John Hurt




    Mendiang aktor kelahiran Inggris yang meninggal pada tahun 2017 yang lalu John Hurt berada pada posisi nomor 2. Aktor yang pernah memerankan sang pembuat tongkat sihir Garrick Ollivander dalam franchise Harry Potter ini telah mengalami kematian sebanyak 45 kali dari total 205 film.

    Memorable death scene: Alien (1979), V For Vendetta (2005)

    1. Christopher Lee



    Terakhir dan berada pada posisi pertama adalah aktor Christopher Lee yang hampir selalu memerankan karakter antagonis dalam film-film frnachise seperti Lord of the Rings Trilogy, The Hobbit Trilogy, James Bond dan Star Wars. Aktor yang satu ini sudah mengalami total 60 kali dari total 205 film.

    Memorable death scene: LotR:The Return of The King, Star Wars: Revenge of the Sith