Thursday, March 19, 2020

    ULASAN: MY SPY



    Formula film keluarga yang memasangkan aktor berotot (biasanya polisi atau mantan anggota militer) dengan anak-anak cukup sering digunakan di Hollywood, untuk role modelnya sendiri dapat kita lihat pada Schwarzenegger (Kindergarten Cop), Hulk Hogan (Mr Nanny, Suburban Commando), Dwayne Johnson (melibatkan hampir sebagian besar filmografinya), bahkan Vin Diesel pun pernah mencoba genre ini (The Pacifier). Formula ini ada yang berhasil mengocok perut tetapi tak sedikit pula yang tidak lucu dan malah cenderung aneh. Kali ini giliran Dave Bautista yang mencoba genre ini dengan lawan mainnya Chloe Coleman sebagai anak kecil yang harus dijaganya dan seringkali menimbulkan kesulitan bagi aksinya. Film action comedy ini disutradarai oleh Peter Segal dan ditulis oleh Jon dan Erich Hoeber untuk ceritanya. Film ini juga dibintangi oleh Kristen Schaal dan Ken Jeong. Film ini dirilis di Australia pada 9 Januari 2020, disusul di UK pada 13 Maret 2020 serta 17 April 2020 di US.



    Alkisah J.J. (Dave Bautista) adalah seorang agen CIA yang lihai dalam menghabisi musuh-musuh berbahaya AS namun meiliki kekurangan dalam social skill sehingga seringkali menimbulkan kerugian besar bagi CIA. Dalam misi terakhirnya semua musuh mati dan bahan plutonium untuk pembuatan senjata nuklir dibawa kabur oleh seorang teroris yang tidak ikut terbunuh. Kim Trang (Ken Jeong) karena kesal masih memberikan kesempatan terakhir untuk J.J. dalam misi domestik untuk mengintai seorang ibu, Kate (Parisa Fitz-Henley) dan anak perempuannya yang berumur 9 tahun Sophie (Chloe Coleman) yang baru saja kembali dari Paris dan diduga memiliki keterkaitan dengan Marquez (Greg Byrk) terduga teroris yang tidak lain adalah paman dari Sophie. Dalam misi pengintaian ini J.J. juga harus menerima dipasangkan dengan partner tech expert Bobbi (Kristen Schaal) yang ceroboh dan gemar menlontarkan humor sarkas. Usaha pengintaian mereka terbongkar oleh Sophie berkat kelihaiannya dan ia mengancam akan membocorkannya ke social media jika J.J. tidak membantunya memberi pengetahuan dan pelatihan menjadi agen rahasia. Akankah J.J. tetap berhasil menuntaskan misinya atau malah terjebak kesulitan yang lebih runyam akibat Sophie?



    Sehabis menonton film ini, saya merasa cukup senang karena film ini berada sedikit di atas ekspektasi saya karena awalnya saya ragu dengan premis film ini serta cast utamanya yang adalah Dave Bautista. Namun stigma saya berubah setelah melihat bahwa dengan sedikit perbaikan cerita sebetulnya film ini punya potensi menjadi film keluarga yang memorable. Durasi 99 menit sudah dimaksimalkan untuk membawakan narasi cerita yang sebetulnya cukup aneh dan tidak masuk logika untuk kategori film mata-mata. Namun kita kesampingkan dahulu logika karena memang jualan utama film ini adalah komedi yang ramah ditonton oleh seluruh keluarga. Kelemahan film ini ada pada cerita yang tidak begitu terstruktur dengan baik dan semua masalah terkesan bisa diselesaikan dengan mudah. Tidak bisa dipungkiri kedalaman hubungan J.J dan Sophie terbangun dengan baik, demikian pula dengan Kate sehingga membuat kita berempati dan terhubung dengan keluarga ini. Begitu pula peran Bobbi yang menambah semarak unsur komedi dalam film ini. Film ini cocok untuk melepas kejenuhan karena ceritanya yang ringan dan cukup straightforward, konklusinya pun ditutup dengan cukup menarik dan cukup menyentuh.



    Melihat kesuksesan Dwayne Johnson (The Rock) bertransformasi menjadi aktor Hollywood kelas A yang sangat sukses, rekan-rekannya dari dunia wrestling (olahraga gulat) yang sama turut mencoba peruntungan. Steve Austin, Kevin Nash, Kane Hodder, Randy Savage, Hulk Hogan, John Cena dan Dave Bautista adalah beberapa nama-nama yang mencoba meraih popularitas terutama di genre action. Dari nama-nama tersebut John Cena perlahan mulai menunjukkan peningkatan dalam setiap film yang ia bintangi dan skala filmnya pun ikut bergerak naik, Steve Austin hanya berhasil menjadi aktor film-film kelas B, Kane lebih dikenal sebagai karakter antagonis dan sekarang sepertinya sudah tidak terdengar lagi. Dave Bautista sendiri sepertinya masih dalam proses mencari bentuk dan formula karakter yang pas untuknya, perannya sebagai Drax di saga marvel cukup melambungkan namanya namun karakter yang ia perankan di film-filmnya masih kurang menampilkan banyak dimensi. Dalam My Spy, nampaknya ia menunjukkan kemampuan aktingnya yang mulai meningkat dan cukup “organik” dengan semua lawan mainnya, baik itu dengan Chloe, Kristen, maupun Parisa. Ia erlihat cukup santai dan seperti menjadi dirinya sendiri. Chloe dan Bobbi adalah dua cast scene stealer dalam film ini karena mereka mampu menghadirkan kelucuan dan hal-hal tak terduga sepanjang film. Untuk karakter antagonis tidak ada yang special karena memang sengaja diadakan untuk pelengkap cerita saja.



    Segal nampaknya ingin menampilkan film keluarga yang tidak sekedar berfokus pada cerita aksi namun memiliki pesan moral mengenai kepercayaan dan persahabatan. Segal juga memasukkan unsur cinta dan bagaimana kehidupan menjadi ibu single parent yang lumayan kuat di sepanjang film ini. Interaksi yang terbangun antara Dave dan Sophie cukup baik dan berimbang, demikian pula chemistry antara Dave dan Parisa yang sayangnya hanya digambarkan sebentar karena Segal lebih ingin berfokus pada dinamika akting Dave dan Sophie. Film ini mengandung pesan kuat soal pentingnya kejujuran dalam membina hubungan apapun yang digambarkan melalui hubungan asmara J.J. dan Kate karena motivasi awal J.J. adalah mencari cara agar dapat dekat dengan keluarga Sophie agar tidak ketahuan motif sebenarnya. Dari sisi persahabatan Segal memberi kontras yang menarik antara hubungan J.J dengan Sophie dan J.J. dengan Bobbi, bahwa persahabatan seharusnya tulus dan tidak pilih-pilih atau karena asas manfaat. Segal berhasil merangkai adegan dan cerita dalam film untuk menyampaikan pesan-pesan tersebut secara santai dengan kadar humor yang pas. Film ini cocok ditonton bersama keluarga dan membuktikan bahwa Dave Bautista layak diberi kesempatan bermain film sejenis ini lagi.

    Overall: 7/10
    (By Camy Surjadi)


    Friday, March 13, 2020

    ULASAN: BLOODSHOT



    Adaptasi dari komik, novel maupun game yang sudah dikenal dan memiliki fanbase yang kuat selalu menarik Hollywood untuk memfilmkannya walaupun kesuksesannya mungkin hanya 1 berbanding 10. Satu lagi film superhero yang diadaptasi dari komik berjudul Bloodshot hadir di layar lebar pada tahun 2020 ini. Bloodshot merupakan karakter superhero dari Valiant Comics yang terbit tahun 1992. Bloodshot direncanakan sebagai film pertama dari shared cinematic universe dari tokoh-tokoh superhero yang berasal dari Valiant Comics. Film ini disutradarai oleh David S. F. Wilson dalam debut awalnya dengan screenplay dari Jeff Wadlow dan Eric Heisserer serta cerita oleh Wadlow. Film ini dibintangi Vin Diesel, Eiza González, Sam Heughan, Toby Kebbell, dan Guy Pearce. Awalnya film ini direncanakan dibintangi oleh Jared Leto hingga awalnya digantikan di Maret 2018 oleh Vin Diesel. Bloodshot dirilis di US pada 11 Maret di Indonesia dan 13 Maret di US oleh Sony Pictures Releasing.



    Ray Garrison (Vin Diesel) adalah seorang prajurit Angkatan Laut (mariner) yang mengalami nasib nahas ketika berlibur bersama istrinya Gina (Talulah Riley). Mereka disiksa dan dibunuh oleh sekelompok orang tak dikenal karena misi terakhir Ray di Mombasa, Kenya. Tidak lama Ray dihidupkan kembali menggunakan nanoteknologi oleh sekelompok ilmuwan yang dipimpin oleh dr. Emil Harting (Guy Pearce). Darah dalam tubuh ray digantikan oleh Nanites (organisme nano) yang memberi kemampuan manusia super pada Ray serta skill lain yang memampukannya mengakses berbagai perangkat teknologi dan database global seluruh organisasi di dunia secara tidak terbatas. Ray dipertemukan dalam tim prajurit super versi Harting yang meliputi KT (Eiza González), Jimmy Dalton (Sam Heughan) dan Tibbs (Alex Hernandez). Masing-masing dari mereka sudah ditingkatkan kemampuannya akibat cacat fisik yang sebelumnya mereka alami. Ray berusaha mengingat masa lalunya sampai akhirnya ingatan nasib nahas yang menimpanya perlahan kembali menghantui. Ray berusaha menyelidiki hal tersebut dan menemukan bahwa ada konspirasi besar di balik ingatan masa lalunya dan motivasi pembangkitan kembali dirinya dari kematian.



    Dari segi narasi, film Bloodshot menawarkan cerita adaptasi yang cukup fresh dan berbeda dari komiknya namun permasalahan film ini terletak pada akting Vin Diesel yang tidak dapat memberikan kedalaman untuk karakter Bloodshot yang ia perankan. Kita tidak akan dapat membedakan karakter Ray dan Dominic Toretto dari saga Fast and Furious karena keterbatasan kemampuan Vin Diesel untuk keluar dari stereotipe perannya sebagai karakter jagoan yang hampir sama di setiap film yang ia bintangi. Kualitas akting Vin DIesel nampak seperti berjalan di tempat saja. Durasi 109 menit lebih didominasi pada adegan aksi dan visual efek yang cukup detil dan memanjakan mata, ceritanya pun diberikan sedikit twist yang cukup tidak terduga namun hal ini tidak cukup untuk menyelamatkan film ini karena kualitas akting Vin Diesel yang tidak membuat kita terhubung dengan karakter sang superhero Bloodshot. Chemistry Ray dan Istrinya di awal cerita pun terasa superfisial dan kurang meyakinkan. Dinamika Ray dan para prajurit super lainnya juga dirasa kurang kecuali dengan KT. Karakter Tibbs dan Jimmy begitu under-used dan sekedar lewat saja, padahal jika penonton diberikan background soal masa lalu mereka akan menjadi menarik. Kalaupun ada karakter yang mencuri perhatian dalam film ini, karakter itu adalah Wilfred Wigans (Lamorne Morris) yang baru muncul di pertengahan cerita namun mampu menaikkan antusiasme penonton. Ambisi film ini untuk menjadi genre drama tentang superhero nampaknya masih jauh dari kata berhasil.



    Visual efek dan CGI super keren adalah jualan utama yang patut diapresiasi dalam film ini tetapi sayangnya hal itu saja tidak akan cukup untuk mendongkrak cerita film ini. Terasa sekali kalau tidak ada emosi atau nilai-nilai yang diselipkan dalam film ini. Wiison sebagai sutradara sebetulnya bisa lebih banyak mengangkat isu humanis dan sosial dalam film ini terkait nasib para veteran perang yang mengalami cacat fisik dan PTSD. Isu yang diangkat dalam film ini hampir tidak menyinggung sama sekali soal itu dan hanya berfokus pada pengembangan teknologi sibernetik dan implantasi teknologi augmentasi yang diperlihatkan dapat mengembalikan kepercayaan diri para veteran perang sekaligus meningkatkan kemampuan fisik mereka. Seharusnya teknologi augmentasi tersebut bisa diimbangi dengan dampak secara moral dan psikologis terhadap para veteran perang tersebut sekaligus terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar. Hal ini membuat penonton tidak mendapatkan pesan atau pelajaran yang dapat dipetik ketika menyaksikan film ini selain dari pameran imajinasi kecanggihan teknologi di masa depan semata.


    Overall: 6.5/10

    (By Camy Surjadi)


    Wednesday, March 4, 2020

    ULASAN: ONWARD



    Agenda rutin tahunan yang dilakukan di awal tahun adalh membuat list film-film yang wajib kamu tonton di bioskop di tahun tersebut. Bukan bermaksud sok tahu, tapi saya yakin jika film animasi Pixar pasti ada dalam daftar kamu tersebut. Standard dari animasi Pixar dari penyajian cerita yang lebih terasa unik dan personal untuk penontonnya dan kualitas animasi yang makin meningkat di tiap film terbarunya sudah menjadi acuan utama kita kenapa film animasi Pixar harus dimasukan dalam film yang harus ditonton di bioskop. Untuk tahun 2020 ini ada dua film Pixar yang akan tayang, yang pertama adalah Onward dan Soul. Dan film yang kita ulas kali ini tentu saja Onward, film yang plot ceritanya dengan latar fantasi-modern.



    Onward bercerita ketika sebuah dunia yang pada awalnya dipenuhi dengan kekuatan sihir dan makhluk ajaib yang perlahan menghilang tergerus oleh kemajuan teknologi dan makin malasnya makhluk-makhluk tersebut untuk mempelajari sihir karena sangat sulit untuk dipelajari dan tidak sepraktis teknologi. Lalu cerita berpindah pada karakter utama kita Ian Lightfoot (Tom Holland) yang hidup di masa sekarang yang baru saja berulang tahun ke-16. Sang Elf muda ini mendapatkan hadiah yang sangat luar biasa dari sang Ibu (Julia Louis-Dreyfus). Sebuah tongkat sihir yang merupakan warisan sang Ayah, Wilden Lightfoot (Kyle Bornheimer), yang sudah meninggal sebelum Ian lahir. Dari pesan wasiat yang ditinggalkan, hadiah itu boleh diberikan ketika Ian dan Barley (Chris Pratt) sudah mencapai umur 16 tahun.



    Hadiah tersebut ternyata berupa sebuah tongkat sihir, sebuah Phoenix Gem, dan catatan mantra yang bisa mengembalikan ayah mereka selama satu hari penuh ke dunia nyata. Sebuah mantra yang membuat orang mati kembali lagi ke dunia fana selama 24 jam. Sesuatu hal yang sangat diinginkan oleh Ian, bisa menemui ayahnya yang tidak pernah ditemui seumur hidupnya. Dipandu oeh Barley yang mengetahui seluk beluk “dunia lama”, Barley mencoba tongkat tersebut seharian tanpa hasil. Sampai akhirnya Ian yang secara awalnya sudah pesimis dan menganggap sihir hanyalah sebuah legenda mencoba merapalkan mantra dengan tongkat tersebut yang diluar dugaan berhasil. Tapi sayangnya mantra tersebut hanya berhasil berjalan setengahnya ketika phoenix gem hancur dan tubuh sang ayanh hanya terbentuk setengahnya dari pinggang sampai kaki. Berawal dari sana Barley dan Ian memutuskan mencari phoenix gem lainnya yang terdapat pada suatu tempat dengan panduan peta boardgame yang menurut Barley itu semua berdasarkan fakta. Berpacu dengan waktu dimulailah petualangan mereka berdua untuk mendapatkan phoenix gem tersebut dan bisa menjumpai ayah mereka.


    Diatas saya sudah sempat menyebutkan salah satu alasan kenapa film-film Pixar cukup berkesan bagi kita adalah karena mempunyai plot cerita yang unik dan terasa personal untuk penontonnya. Hal itu kembali berulang lewat Onward. Dengan background dunia fantasi mungkin tidak semua orang bisa relate, tetapi dengan komposisi yang menceritakan hubungan antara dua orang adik-kakak tentu hampir sebagian besar kita mengalaminya. Bahkan jika kamu anak tunggal sekalipun akan mudah terlibat dalam ceritanya. Siap-siap saja merasakan momen-momen dari tawa hingga momen bawang merah yang membuat pengalaman kamu menonton Toy Story, Coco dan film-film Pixar lainnya akan terulang.


    Kekuatan film ini selain dari visual yang sangat memanjakan mata ada pada pengisi suara. Terutama pengisi suara Barley yang diisi oleh Chris Pratt. Buat saya dialah nyawa lain film ini. Bukan berarti saya mengenyampingkan pengisi suara lainnya, hanya saja Chris Pratt memberikan sentuhan lain pada karakternya yang seingat saya belum pernah saya lihat di film lainnya. Padahal karakter ceria dan komikal bukanlah karakter pertama Chris Pratt yang kita lihat. Tapi sekali lagi ada pembeda yang kita rasakan pada karakter Barley yang menurut saya mengendalikan emosi penonton sepanjang film. Sedangkan Tom Holland ? Well, sangat mudah merasakan jika karakter Ian sangat Tom Holland di film-film lainnya. Tetapi hal itu bukan karena Tom Holland yang tidak mendalami karakternya, tetapi lebih kepada karakter Ian yang memang lebih seperti Tom Holland film lain. Mungkin salah satu alasan Tom Holland dipilih mengisi suara Ian adalah karena hal itu.


    Lewat Onward Pixar kembali menyajikan sebuah film yang menghibur dan emosional sekaligus untuk penontonnya. Dengan cerita yang ringan dan personal siapapun bisa menikmatinya. Tontonan yang sangat sayang dilewatkan begitu saja.


    Overall: 9/10

    (By: Starbaq Man)

    Friday, February 28, 2020

    ULASAN: THE INVISIBLE MAN



    Sebagian besar dari kita pasti masih ingat dengan sebuah proyek ambius dengan nama  'The Dark Universe' yang diumumkan tahun 2016 lalu. Yang mana dalam universe tersebut mempertemukan monster-monster klasik dibawah bendera Universal Studio yang mana Dracula, Frakeinstein, The Invisible Man, The Mummy, The Wolfman dan bahkan Van Helsing dipertemukan dalam universe yang sama. Sayang 'proyek itu dibatalkan setelah pembuka universe tersebut yang dimulai dari 'The Mummy'yang dibintangi oleh Tom Cruise tersebut gagal total. Awalnya jika The Mummy sukses, The Invisible Man akan menyusul diproduksi dengan Johnny Depp yang akan memerankan karakter tersebut. 4 Tahun berselang The Invisible Man tetap hadir yang mengambil reboot atau modernisasi versi 1933 yang merupakan film yang berdiri sendiri tanpa terkait dengan 'The Dark Universe' yang disutradarai oleh Leigh Whannel (Insidious Chapter 3, Upgrade), orang dibalik suksesnya franchise Saw dan Insidious dandiproduseri oleh Jason Blum, sang produser film-film horror dengan rumah produksi Blumhouse.


    Cecilia Kass (Elisabeth Moss) melarikan diri dari dari suaminya Adrian Griffin (Oliver Jackson-Cohen). Pelarian diri ini dilakukan karena Cecilia menjalani hubungan toxic dengan Adrian yang sangat posesif dan temperamental dengan latar belakanya seorang ilmuwan kaya dan brilian. Cecilia mencoba kabur ketika Adrian sedang terlelap akibat obat penenang yang secara sengaja dicampur dalam minumannya. Dibantu saudara perempuannya Emily (Harriet Dyer), Cecillia berhasil melarikan diri dan bersembunyi di rumah James (Aldis Hodge), teman Emily yang berprofesi sebagai seorang polisi dan orang tua tunggal dari anak perempuan usia remaja bernama Sydney (Strom Reid).



    2 minggu setelah kabur kondisi Cecilia tidak membaik dan justru dihantui kekhawatiran dan paranoid jika Adrian akan menemukan persembunyiannya. Ia terus menerus dibayangi kegelisahan, hingga tak berani keluar rumah. Sampai pada akhirnya sebuah kabar menyatakan bahwa Adrian telah meninggal dunia. Adrian diduga melakukan bunuh diri. Kabar bunuh dirinya Adrian itu dilanjutkan dengan kejutan lainnya yang ternyata Adrian mewariskan seluruh hartanya yang sangat besar pada Cecilia. Namun, ketenangan dan kelegaan yang didapatkan oleh Cecilia itu hanya bersifat sementara. Cecilia merasakan ada keanehan yang mulai mengkuti sejak kabar Adrian meningal dunia. Cecillia yakin Adrian masih hidup dan masih terus menguntitnya karena teror demi teror yang diterimanya dari sosok yang tak terlihat. Hal yang mebuat kewarasan Cecilia dipertanyakan oleh orang-orang sekitarnya. Berbekal rasa keyakinan, Cecilia bertekad membuktikan jika Adian masih hidup karena keberadaan sosok yang tak terlihat itu mulai mengancam orang-orang yang dia sayangi.


    10 menit awal adalah kunci. 10 menit pertama yang dengan vokal saya bisa katakan salah satu best opening scene film yang pernah saya tonton. Rasanya sudah lama tidak merasakan momen opening seperti ini. Kejeniusan Leigh Whannell sebagai sutradara layak dipuji. Disaat kita belum diberi kesempatan untuk mengenal karakter utama film ini, tapi kita sudah dibawa dalam momen yang menegangkan yang dialami karakter Cecilia yang dimainkan dengan apik oleh Elisabeth Moss. Kepiawaian Whannell menempatkan adegan kegelisahan dan ketidaknyamanan Cecilia sangat bisa dirasakan penonton. 10 menit pertama adalah awal dari banyak memen-momen menegangkan yang membuat penonton senam jantung. Percayalaaahhhh.


    Salah satu yang unik dari The Invisible man mengganungkan 3 genre sekaligus dalam satu film dari sci-fi, thriller dan horror yang ketiganya diramu dengan pas oleh Whannell yang juga menulis naskahnya sendiri. Meskipun horror atau thriller dalam film ini tidak bersifat supranatural, tetapi unsur efek merinding dan menyeramkan yang kita temui dalam Insidious terasa sangat kuat. Dengan plot erita yang tidak luar biasa Whannell tahu dengan jelas film ini mempunyai kelebihan dimana. Yaitu menciptakan suasana tidak nyaman ruang atau merasa diawasi seperti kita temui dalam film-film Insidious.


    Lalu untuk pemain, melihat  penampilan Elisabeth Moss yang apik yang mengikuti serial The Handmaids Tale saya yakin tidak akan kaget lagi melihat peformanya di film ini. Kebetulan dua karakter yang diperankan oleh Elisabeth Moss menceritakan wanita yang terjebak pada situasi yang kontrolnya dipegang oleh orang lain. Melihat Cecilia disini semacam pengembangan dari karakter June Osborne di The Hanmaids Tale yang sangat mudah membuat penonton ikut terlibat merasakan yang dirasakan karakter tersebut. 


    Buat saya The Invisible Man adalah salah satu film yang mempunyai adegan pembuka terbaik yang pernah saya tonton. Keputusan Universal menggandeng Blumhouse dengan Jason Blum sebagai kepalanya seakan menjadi keputusan yang mereka buat setelah rencana monster-verse gagal total. Tanpa dibebani dan harus menghubung-hubungkannya dengan film lainnya, duet Blum dan Whannell sudah melakukan tugas mereka dengan baik dalam film ini.

    Overall: 8,5/10

    (By Zul Guci)



    Wednesday, February 26, 2020

    ULASAN: SONIC THE HEDGEHOG



    Tanpa perlu diberitahu sekalipun kita semua sepertinya sudah tahu hal yang umum ini. Ketika holywood mengadaptasi sebuah gim menjadi sebuah film kita sudah tahu hasilnya akan seperti apa. Film tersebut akan berakhir dengan mendapat respon negatif dari penonton yang merupakan fanboy gim tersebut ataupun yang bukan. Tapi belakangan tren buruk itu perlahan mulai bergerak ke arah positif. Dimulai dari Angry Birds dan sequelnya mendapat respon positif, lalu juga ada serial The Witcher yang memang originalnya dari novel, tetapi lebih populer ketika sudah menjadi sebuah gim. Dan sekarang giliran Sonic the Hedgehog yang diangkat ke layar lebar. Karakter yang dimiliki oleh Sega yang sudah sejak tahun 2013 lalu ingin di filmkan.


    Film Sonic the Hedgehog menceritakan alien dengan bentuk seekor landak biru bernama Sonic (Ben Schwartz) yang dapat berlari secepat kilat dan memiliki kekuatan lainnya yang dia sendiri belum tahu. Ia dibesarkan oleh seekor burung bernama Longneck. Kekuatan besar tersebut memancing makhluk lainnya untuk bisa menggunakan kekuatannya. Hal yang membuat Sonic harus meninggalkan planet asalnya dan menuju ke planet lain untuk bertahan hidup hingga akhirnya sampai ke bumi. Di bumi Sonic pun harus terus berlari dan bersembunyi yang berakhir di kota kecil bernama Green Hills. Di sana Sonic hidup tenang dan damai. Hanya saja dia sendirian yang sering membuatnya kesepian, konsekuensi dari pengasingan dirinya.  Untuk mengisi kesepiannya Sonic pun mengakalinya dengan memantau dan mengamati warga Green Hills. Salah satunya ada Tom Wachowski (James Marsden) yang menjadi orang diidolai oleh Sonic, seorang polisi setempat yang biasa berjaga dengan speed gun-nya yang ingin tantangan lebih dari pekerjaanya yang dari sekedar menjaga jalanan. Ia memiliki istri, bernama Maddie (Tika Sumpter) seorang dokter hewan yang juga diidolai oleh Sonic.



    Pada satu kejadian Sonic benar-benar kesepian dan berlari sungguh cepat hingga mengeluarkan energi kuat dan mengakibatkan listrik satu kota padam. Insiden itu pun membuat pemerintah berasumsi jika negara mereka diserang ssuatu dan mencari tahu apa penyebabnya. Ditunjuklah Dr. Ivo Robotnik (Jim Carrey) yang jenius dan aneh untuk menelusuri insiden tersebut. Sonic menjadi terancam dan dia menjadi incaran Dr. Ivo Robotnik setelah keberadaanya terungkap. Satu-satunya orang yang ia percaya di Green Hills adalah Tom Wachowski. Dan akhirnya petualangan mereka berduapun dimulai.



    Mendengarkan suara fans dan menunda jadwal rilis untuk merevisi visual karakter Sonic menjadi sebuah keputusan tepat. Sangat disayangkan jika film yang sudah cukup mempunyai cerita yang solid ini mendapat cela karna satu cela (ingat kumis Henry Cavill di Justice League). Yap, plot cerita Sonic the Hedgehog sudah mempunyai fondasi yang solid dan ringan yang memang dibuat untuk bisa diterima penonton anak-anak.


    Untuk sebuah cerita origin di film pertama, pengenalan karakter pada pembuka film bisa dibilang berjalan cukup cepat yang membuat penonton yang tidak mengikuti gim-nya sedikit kebingungan. Terlebih informasi yang pada pembuka adegan itu cukup penting seperti siapakah Sonic sebenarnya, mengapa dia dirawat oleh seekor burung tidak terungkap sampai akhir film. Sepertinya plot ini disimpan untuk sequelnya nanti yang memang cukup membuat penasaran.


    Cerita yang solid dipadu dengan penampilan ikonik dari Jim Carey yang sangat ekspresif dan komikal membuat jalan cerita berwarna. Tanpa bermaksud mengenyampingkan pemain lainnya, tapi bisa dibilang karakter Dr. Robotnik yang diperankan Jim Carey yang paling mencuri perhatian dalam film ini selain Sonic itu sendiri.


    Sonic the Hedgehog bisa dimasukan dalam daftar adaptasi gim yang berhasil memuaskan ekspetasi para fans ataupun penonton yang baru mengenal karakter universe Sonic. Hanya menunggu waktu kita mendengar berita film ini resmi mendapatkan sequel karena  masih banyak plot cerita yang bisa ekplorasi dari universe Sonic ataupun karakter ikonik lainnya yang belum muncul difilm pertama ini.

    Overall: 8/10

    (By Zul Guci)

    Friday, February 21, 2020

    ULASAN: BRAHMS 'THE BOY 2'



    Sebagai salah satu properti yang cukup sering digunakan dalam film horor, boneka dipercaya memiliki unsur misteri dan mistis yang sanggup membuat bulu kuduk berdiri terlebih apabila boneka tersebut memiliki sejarah yang menyeramkan. Film horor bertemakan boneka yang sudah tidak asing bagi para panggemar film seperti Chucky (Child’s Play -1988) dan Annabelle (Annabelle – 2014)



    sanggup menghadirkan kengerian dan menimbulkan trauma bagi beberapa orang terhadap boneka. Sebuah film yang mencoba mengeksplorasi keseraman dan teror sebuah boneka kembali disajikan lewat film Brahms: The Boy II yang merupakan sekuel tidak langsung dari film The Boy (2016). Film ini dibintangi oleh Katie Holmes, Ralph Ineson, Owain Yeoman, dan Christopher Convery. Untuk film sekuelnya tetap disutradarai oleh William Brent Bell dengan naskah yang ditulis oleh Stacey Menear. Film ini direncanakan rilis 21 Februari 2020 di US dan telah dirilis di bioskop Indonesia pada 19 Februari 2020 lalu.



    Liza (Katie Holmes), Sean (Owain Yeoman), dan anak mereka Jude (Christopher Convery) adalah sebuah keluarga kecil dan bahagia yang hidup di daerah perkotaan di Inggris. Tetapi kejadian perampokan tragis di suatu malam yang menimpa Liza dan Jude merubah hidup mereka, Liza diserang oleh perampok dan Jude menjadi ketakutan setelah peristiwa itu. Mereka berdua menjadi trauma, Liza sering mengalami mimpi buruk dan tidak pernah mau membicarakan hal tersebut dengan Sean sementara Jude mengalami selective mutism dan selalu berkomunikasi lewat buku gambar yang selalu ia bawa ke mana-mana. Sean lalu menawarkan mereka untuk pindah ke pedesaan guna mencari suasana baru dan ternyata mereka pindah ke rumah Heelshire. Setibanya di sana, Jude berkeliling dan menemukan boneka berbentuk seorang anak yang sudah kotor. Katie dan Sean melihat bahwa Jude menyukai boneka tersebut dan mempersilahkannya untuk menyimpannya. Lambat laun Jude terikat dengan boneka yang dinamainya Brahms tersebut. Tanpa disadari banyak peristiwa aneh mulai bermunculan sejak boneka itu dibawa oleh Jude. Katie menemukan fakta bahwa rumah Heelshire dan boneka Brahms tersebut memiliki sejarah kelam dan mengerikan. Sanggupkah Katie dan Sean menguak misteri boneka Brahms tersebut dan menyelamatkan diri mereka sebelum terlambat?



    Ketika menonton film ini kebetulan saya belum menonton film pertamanya jadi keesokannya saya baru menonton film pertamanya untuk mengetahui apa kaitan film kedua ini dengan yang pertama dan bagaimana kualitas sekuelnya ini dibanding dengan yang terdahulu. Di kisah film sebelumnya Brahms adalah boneka yang dititipkan kepada seorang pengasuh bernama Greta. Mr dan Mrs Heelshire menitipkan boneka (yang katanya adalah anak mereka) dengan segala peraturan yang harus ditaati untuk mencegahnya marah. Belakangan diketahui bahwa Brahms asli yang dikira sudah tewas ternyata masih hidup dalam sekat dan tembok di rumah keluarga Heelshire dan meneror sang pengasuhnya. Nah di film keduanya ini, yang tidak bisa dibilang sekuel langsung, benang merahnya hanya pada boneka Brahms yang juga digunakan sebagai plot device dalam film, lengkap dengan backstory boneka tersebut. Secara narasi film ini tidak terlalu istimewa karena pengembangan ceritanya yang tetap mengandalkan keseraman boneka Brahms dalam mengganggu kondisi pikiran dan psikis orang-orang yang mengambilnya, adegan horornya pun masih menggunakan metode jumpscare yang sama dan cenderung repetitif seperti di film pertamanya. Yang membedakan sekuel dari film pertama adalah genrenya yang lebih ke horor supranatural kali ini. Alur film ini cenderung lambat dan intensitas ketegangan tidak begitu dibangun dengan baik. Bagian awal banyak diisi adegan yang kurang penting dan adegan klimaks yang menegangkan dalam film baru dimunculkan pada penghujung cerita. Teror yang dilakukan oleh sang boneka pun masih dalam level yang kurang mengerikan karena lebih ke permainan psikologis dan tidak terlalu sadis jika mau dibandingkan dengan Annabelle atau pun Chucky, penonton niscaya akan merasa bosan ketika menonton film ini.



    Lewat film kedua ini, Bell mencoba bereksperimen dengan mengubah genre film ini menjadi benar-benar horor yang dipenuhi unsur mistis ketimbang horor thriller, saya tidak paham mengapa Bell mengambil tindakan ini karena genre yang dipilihnya pada film The Boy sudah tepat dan potensial untuk dilanjutkan hanya scriptnya perlu lebih ‘dipoles’ saja. Di film keduanya malah penonton dibuat bingung mengapa bisa boneka Brahms tersebut jadi “berhantu” padahal twist cerita di film pertama akan membuat kita sadar bahwa gangguan yang ditimbulkan boneka tersebut tidaklah nyata. Tidak ada penjelasan lebih jauh mengapa boneka tersebut akhirnya “berhantu” dan selalu menyebabkan anak kecil yang tinggal di rumah Heelshire menjadi psikopat. Inilah letak kesalahan Bell (plot hole) yang menurut saya akan membingungkan penonton yang menonton kedua filmnya. Dari segi akting, praktis hanya Katie Holmes yang dikenal, pemain lainnya adalah pemain yang terkenal di serial TV. Akting semua cast dalam film cukup meyakinkan baik Katie Holmes sebagai Ibu yang berusaha pulih dari trauma, Jude sebagai anak yang bermasalah sehabis melihta kejadian traumatis di depan matanya sendiri, dan Sean sebagai tipikal ayah yang rasional dan tetap berusaha mencari jalan keluar terbaik untuk seluruh anggota keluarganya. Namun sayangnya karakter mereka tidak dapat berkembang lebih dinamis karena plot cerita yang kurang solid.



    Terlihat bahwa William Brent Bell dan Stacey Menear mencoba menampilkan masalah domestik keluarga pasca trauma lewat film The Brahms: Boy II ini. Jika di film pertamanya yang lebih banyak disorot adalah bagaimana menjalani kehidupan setelah kehilangan anak maka di film keduanya penonton lebih banyak diperlihatkan soal kondisi keluarga sehabis peristiwa house raid (penyusupan dan perampokan rumah). Sang anak yang mengalami Selective Mutism serta sang ibu yang selalu bermimpi buruk menjadi fokus cerita di sepanjang film yang bertema horor ini. Namun sayangnya proses pemulihan kedua karakter ini cenderung terlalu disederhanakan dan tidak begitu terlihat, kesulitan yang dialami sang ibu tidak terlihat lagi di penghujung bagian akhir film padahal kondisi sang ibu tidak kalah serius dibandingkan sang anak. Pemulihan sang anak terlihat mendapat porsi lebih banyak dan krang berimbang dengan kondisi sang ibu. Kondisi mereka sebetulnya bisa membuat film ini lebih ‘membumi” untuk penonton tetapi sayangnya sisi psikologis tidak begitu banyak digali dan dimanfaatkan untuk memperkaya cerita yang berfokus pada keluarga ini. Film ini cukup efektif sebagai pengingat bahwa trauma dapat memberikan dampak buruk dan merusak jika tidak ditangani dengan baik tetapi untuk solusinya penonton perlu mencari sendiri lebih lanjut.

    Overall: 6.5/10

    (By Camy Surjadi)

    Saturday, February 8, 2020

    ULASAN: LITTLE WOMEN



    Sejak ditulis pada tahun 1868 oleh Louisa May Alcott, Little Women sudah diadaptasi menjadi film setidaknya sebanyak enam kali, yaitu pada tahun 1917, 1918,1933, 1949, 1994, dan 2019. Film adaptasi terakhir itu baru masuk Indonesia pada Februari 2020, tepatnya akan mulai tayang pada tanggal 7 Februari 2020, dua bulan lebih lambat dibandingkan tanggal penayangan di Amerika Serikat (Desember 2019). Oleh karena itu membuat para penonton menjadi semakin tidak sabar untuk menyaksikan film tersebut. Apalagi beredar berita bahwa film ini menjadi salah satu kandidat peraih Oscar di kategori Best Picture, Best Actress (Saoirse Ronan), Best Supporting Actress (Florence Pugh), Best Adapted Screenplay (Greta Gerwig), Best Original Music Score (Alexandre Desplat), dan Best Costume Design (Jacqueline Durran).



    Keindahan scene dan kostum pada film membuat mata penonton merasa nyaman untuk menyaksikan film ini, bahkan ingin menontonnya berkali-kali. Selain itu para penonton juga akan merasakan kehangatan yang teradapat pada keluarga March. Sehingga wajar film ini meraih banyak nominasi pada Oscar 2020.



    Film ini bercerita tentang empat orang putri Mr. March (Bob Odenkirk) dan Mrs. March/Marmee (Laura Dern), yaitu Meg (Emma Watson), Jo (Saoirse Ronan), Beth (Eliza Scanlen), dan Amy (Florence Pugh), sama seperti di bukunya. Keempat putri pada keluarga March ini memiliki karakter dan bakat yang berbeda-beda. Meg si sulung memiliki karakter keibuan, pengatur dan sangat feminim, dengan bakat acting. Jo atau Josephine merupakan satu-satunya putri keluarga March yang tomboy, ia bahkan ingin sekali menjadi laki-laki, menyingkat namanya seperti nama laki-laki, bertingkah laku seperti laki-laki, benci takdirnya sebagai perempuan, bahkan ingin terjun ke medan perang. Jo merupakan tokoh utama pada film ini. Film ini beralur maju mundur berdasarkan sudut pandang Jo, di mana dikisahkan bahwa film ini berdasarkan cerita yang ditulis Jo mengenai keluarganya. Ya, Jo memang sangat berbakat menjadi penulis, dan itu adalah salah satu caranya mencari nafkah.



    Putri ketiga (Beth), merupakan anak yang paling lemah, sering sakit, namun memiliki hati paling lembut, pendamai bagi saudari-saudarinya ketika mereka bertengkar, dan paling pemalu. Di balik itu semua, Beth sangat berbakat di bidang musik. Karena bakatnya itu, ia dihadiahi tetangganya yang kaya raya, Mr. Lawrence sebuah piano. Amy si bungsu merupakan karakter yang mewakili perempuan pada zaman itu yang ingin menikahi laki-laki kaya untuk meningkatkan taraf hidup dirinya dan keluarganya. Amy selalu berusaha tampil cantik dan menawan. Amy merasa dirinya memiliki bakat melukis.



    Karakter dan bakat yang berbeda-beda itulah yang menjadi kekuatan pada cerita di film ini. Terkadang karena perbedaan-perbedaan itu mereka bertengkar, namun lebih banyak mereka bersatu. Misalnya saja ketika malam perayaan Natal, dengan bakat masing-masing, mereka menggelar drama yang ditonton keluarga dan tetangga.



    Bisa ditebak dari judulnya yang terdapat kata women, film ini memang juga bercerita tentang usaha dan kondisi emansipasi wanita di tahun 1800-an. Perempuan pada zaman itu dituntut untuk mengalah dengan laki-laki (terjadi pada Meg, yang harus mengalah pada suaminya), harus bisa menarik perhatian laki-laki agar mau menikahinya (terjadi pada Amy), bahkan cenderung menyembunyikan namanya sebagai penulis novel, agar tidak terlihat bahwa ia seorang perempuan (dialami oleh Jo). Selain itu juga terjadi cinta segitiga antar kedua saudari (Jo dan Amy) dengan laki-laki tetangga mereka Theodore Laurie Lawrence (Timothée Chalamet)



    Walaupun diadaptasi dari novel dengan judul yang sama, film ini ditulis ulang naskahnya oleh Greta Gerwig, sehingga ada beberapa hal yang tidak sama dengan buku. Jadi walaupun kamu sudah pernah membaca novelnya atau menonton film-film adaptasi Little Women lainnya, film ini masih sangat layak untuk ditonton karena menyajikan banyak hal berbeda dari novel maupun fil-film adaptasi sebelumnya. Penasaran bagaimana cerita film dengan rate 8,1 di IMDB ini ? Ayo segera temui empat bersaudari March di bioskop-bioskop kesayanganmu!

    Overall:
    (By Aisyah Syihab)