Sunday, September 8, 2019

    ULASAN: IT 'CHAPTER 2'





    Setelah berhasil memikat pecinta film dan meraih predikat box office horor terlaris peringkat pertama (versi majalah Forbes), sekuel IT yang sudah dinantikan kembali hadir di tahun 2019 ini dengan judul IT: Chapter Two. Film pertamanya (IT – 2017) merupakan kesuksesan besar karena menyajikan cerita adaptasi terbaik, karakter badut Pennywise yang menyeramkan sekaligus ikonik, serta jajaran cast anak-anak yang bermain gemilang. Bahkan Stephen King sang penulis novelnya pun memberikan pujian untuk adaptasi novelnya ke dalam bentuk film karena ia tidak menyangka hasilnya akan sangat bagus. Film IT Chapter Two melanjutkan kisah petualangan The Losers Club kembali ke Derry 27 tahun kemudian setelah mereka menjadi dewasa. Film ini sekaligus merupakan konklusi dari Novel IT yang sebagian kisahnya sudah difilmkan dalam film pertamanya. Untuk sekuelnya ini Andi Muschietti kembali duduk di kursi sutradara dan naskah cerita juga kembali ditulis oleh Gary Dauberman yang juga menulis screenplay untuk film IT pertama. 



    Setelah berselang 27 tahun dari petualangan The Losers Club mengalahkan Pennywise/IT (Bill Skarsgård), sang badut Pennywise kembali melancarkan terornya di kota Derry. Anak-anak anggota The Losers Club kini sudah beranjak dewasa dan mereka telah terpisah satu sama lain untuk menjalani kehidupannya masing-masing. Hanya ada satu anak yang tetap tinggal di kota tersebut, yaitu Mike (Isaiah Mustafa) dan Mike menghubungi semua teman-teman masa kecilnya kembali karena anak-anak kembali menghilang pertanda Pennywise kembali beraksi. Awalnya baik Bill (James McAvoy), Beverly (Jessica Chastain), Ben (Jay Ryan), Ritchie (Bill Hader), Eddie (James Ransone), dan Stan (Andy Bean) enggan untuk kembali ke kota Derry namun karena Mike mengingatkan akan sumpah mereka dan bahaya yang mengancam mengusik batin mereka akhirnya satu persatu mereka setuju melakukan perjalanan menuju Derry untuk berkumpul. Dihantui oleh ketakutan dan trauma masa kecil mereka di kota Derry, sekali lagi mereka harus mempersiapkan diri melawan Pennywise yang kali ini sudah menanti mereka dengan penuh dendam. The Losers Club yang kini telah dewasa harus bekerja sama untuk menghentikan teror Pennywise / IT agar tidak kembali berulang sekaligus memusnahkan Pennywise untuk selamanya. Premis ini merupakan adaptasi dari Novel IT (1986) karya Stephen King tetapi untuk versi film cerita lebih difokuskan kepada The Losers Club versi dewasa dengan memakai adegan flashback masa kecil mereka sebagai benang merah pendukung cerita dan tidak mengambil style dari novelnya yang cenderung bolak balik antara masa lalu dengan masa sekarang.



    Satu hal yang perlu dikritisi dari IT Chapter Two adalah faktor run time (durasi) film ini yang cukup panjang yaitu 169 menit, cukup melelahkan untuk penonton yang tidak biasa menonton dengan durasi panjang. Hal ini terjadi karena IT Chapter Two memiliki kompleksitas dari segi cerita selain itu sang sutradara juga ingin menyajikan cerita yang lebih kaya tentang persahabatan dan bagaimana akhirya The Losers Club mampu menaklukkan ketakutan terbesar mereka. Semua hal tersebut dibangun secara perlahan dalam cerita dan terlihat sekali bahwa Muschietti memberikan porsi lebih dominan terhadap kisah kekompakan dan persahabatan para personil the Losers Club. Secara keseluruhan film ini merupakan konklusi yang memuaskan dari adaptasi Novel IT dan berhasil memberikan warna berbeda di genre horor namun level horor dan kengeriannya cukup berkurang dibandingkan film pertamanya. Alur ceritanya boleh dibilang lambat dan cukup kental dengan unsur drama ketika menceritakan masa lalu masing-masing personil The Losers Club. Cerita baru mulai menarik ketika mereka mulai bertemu kembali dengan Pennywise dan berbagai wujudnya sebagai hasil manifestasi ketakutan mereka masing-masing. Untuk adegan horornya sendiri ketika Pennywise muncul dan memangsa anak-anak tetap menakutkan dan memiliki efek kejut yang tidak terduga karena seakan memaksa penonton menyaksikan kengerian tersebut tanpa bisa berbuat apa-apa selain hanya menjadi saksi nasib tragis para korban.



    Ada baiknya menonton ulang kembali film pertama untuk dapat mengingat karakter-karakter kunci dalam film. Namun usaha yang dilakukan Muschietti lewat introduksi karakter The Losers Club dan latar belakang mereka cukup membantu penonton mengingat karakter-karakternya walau pada kenyataannya tidak semua karakter menonjol dalam cerita. Momen flashback disertai detil penting soal karakter ketika mereka berpetualang mencari artefak masa lalu untuk mengalahkan Pennywise adalah bagian paling menarik dalam cerita film. Karena pada bagian ini kita melihat kepiawaian Muschietti menampilkan cerita lewat transisi dari masa lalu ke masa sekarang. Walau tidak bergenre komedi, Kehadiran Bill Hader lewat karakter Ritchie dewasa di film ini yang bekerja sebagai stand-up comedian mampu menghibur penonton di kala situasi mencekam. Cameo Stephen King dalam salah satu adegan di film merupakan kejutan yang menarik dan tidak boleh dilewatkan.



    Untuk desain produksi dan sinematografi film ini patut diberi acungan jempol karena Muschietti merupakan sutradara yang benar-benar memperhatikan aspek visual dalam film-filmnya. Bersama dengan tim kreatifnya yang terdiri dari Checco Varese (Director of Photography), Luis Sequira (Costume Designer), Paul Austerberry (Production Designer), dan Benjamin Wallfisch (Composer), mereka bekerja keras untuk menampilkan visualisasi cerita yang mendukung jalannya cerita dengan samgat baik. Cara Muschietti menampilkan transisi dari tahun 1989 ke masa kini secara back to back sangat berkesan lewat pemilihan line dialog yang terhubung antara karakter dewasa dengan versi muda mereka, dan penggunaan lokasi penting dalam film yang juga ditampilkan lewat flashback serupa cermin masa lalu sesekali dengan metamorfosa wajah karakternya dari versi anak-anak ke dewasa. Transisi ini didukung sinematografi yang apik karena tone warna dan ciri khas masing-masing era ditampilkan dengan tidak kehilangan ciri khasnya. Port Hope, Ontario digunakan sebagai setting lokasi Kota Derry untuk Kedua film IT. Beberapa lokasi penting yang cukup mencuri perhatian dalam film adalah markas bawah tanah tempat berkumpulnya The Losers Club sewaktu mereka kecil, Jade of The Orient tempat the Losers dewasa reuni bersama untuk pertama kali di awal film, dan Karnaval Canal Day Festival di Kota Derry. Scoring musik yang diaransemen oleh Benjamin Wallfisch mampu mendukung setiap momen dalam film secara efektif baik ketika situasi horor maupun ketika momen dramatis yang dialami para karakter saat mengingat hal buruk yang terjadi pada masa lalu mereka. Efek CGI dalam film ini tidak begitu merata karena masih ada yang terasa kasar seperti adegan horor kemunculan monster dari kue keberuntungan di Restoran Jade of The Orient.



    Dari segi jajaran cast, Jessica Chastain, Bill Hader, Isaiah Mustafa, Jay Ryan, James Ransone, James McAvoy, dan Andy Bean memainkan karakter mereka dengan baik. Akting mereka sebagai karakter Beverly, Ritchie, Mike, Ben, Eddie, Bill, Stan, Beverly, dan Eddie versi dewasa cukup menarik dan masing-masing memiliki kepribadian sendiri namun kekurangan 'charm' sebagaimana akting para aktor anak-anak yang terlihat lebih kompak dan menghidupi karakter mereka. Untuk karakter The Losers dewasa, karakter Bill, Beverly, dan Ritchie adalah yang paling menonjol sedangkan Stan dan Eddie kurang begitu dieksplorasi. Karakter Ben dewasa kurang menampilkan konflik yang dialami karakternya ketika masih anak-anak. Karakter anak-anak The Losers Club yang kembali diperankan Jaeden Martell (Bill), Sophia Lillis (Beverly), Finn Wolfhard (Richie), Jack Dylan Grazer (Eddie), Jeremy Ray Taylor (Ben), Chosen Jacobs (Mike), and Wyatt Oleff (Stanley) walau hanya bersifat sebagai pendukung namun bertindak sebagai bayang-bayang di sepanjang film. Mereka mengisi adegan-adegan yang tidak tampil dalam film pertamanya yang sekaligus berfungsi sebagai pengingat dan benang merah juga untuk penonton. Kehadiran cast anak-anak ini sangat membantu penonton mengingat detil dan kejadian di film pertamanya dengan tetap menampilkan kehangatan persahabatan di antara mereka. Bill Skarsgård kembali tampil gemilang sebagai Pennywise sang badut jelmaan iblis, seakan peran ini memang tercipta untuknya. Mimik dan ekspresinya sebagai badut Pennywise merupakan salah satu karakterisasi terbaik tokoh jahat dalam film bergenre horor.



    Lewat IT Chapter Two, Muschietti mencoba mengangkat isu penting seputar trauma masa kecil, perundungan (bully), dan kekerasan anak-anak khususnya seperti yang dialami oleh Ben dan Beverly yang kerap dialami oleh anak-anak seusia mereka akibat penampilan fisik dan kelakuan mereka yang dianggap tidak dapat menyesuaikan diri dengan komunitas sekitar. Perundungan memang marak terjadi di kehidupan anak-anak dan apa yang digambarkan Muschietti mengingatkan kita bahwa efek hal tersebut dapat menetap menjadi karakter hingga dewasa. Rasa bersalah di masa lalu seperti yang dialami Bill lewat kematian adiknya Georgie seperti sebuah refleksi buat penonton bahwa terkadang kejadian buruk di masa lalu akan selalu menghantui selama Kita belum bisa berdamai dengan kejadian itu. Bagaimana cara kita menyikapi rahasia di masa lalu juga ditampilkan lewat cerita karakter Ritchie. Lewat IT sebetulnya terkandung pesan bahwa setiap pribadi kita punya ketakutan terbesar yang harus dihadapi agar kita dapat bergerak maju. Hal lain yang cukup menonjol dalam cerita yang direpresentasikan dengan sangat baik adalah indahnya persahabatan yang dapat bertahan hingga dewasa dan semua efek nostalgia yang mengikutinya. Menyaksikan bagian ini pastinya akan membawa penonton kembali menyusuri memori tentang sahabat masa kecil dan semua cerita manis di baliknya. Pertanyaan sederhana pun muncul setelah menonton apakah ada sahabat masa kecil yang kita masih berhubungan baik? Mungkin reuni bisa menjadi jawaban untuk mengobati rasa rindu sekaligus mengupdate kabar terkini soal sahabat di tengah dunia yang semakin individualis.

    Overall: 7,5/10

    (By Camy Surjadi)




    Thursday, August 29, 2019

    ULASAN: ONCE UPON A TIME IN HOLLYWOOD




    Eksklusif, satu kata dari saya yang mewakili film-film Quentin Tarantino. Eksklusif yang saya maksud adalah bagaimana penyajian visual setiap film-filmnya yang mempunyai ciri khas tersendiri. Dimulai dari plot cerita yang mendobrak cara peceritaan film pada umumnya, teknik pengambilan gambar, hingga tingkat kekerasan yang ada dalam filmya mempunyai ciri khas sendiri. Meskipun Tarantino sendiri mengatakan jika setiap teknik pengambilan ataupun plot cerita hanyalah terinspirasi dan bahkan menduplikasikan dari film-film yang dia tonton, tapi tetap saja film-film Tarantino seakan punya nyawanya sendiri yang tidak ada di film lain. 8 film yang dia sutradarai makin menguatkan pendapat itu. Dan sekarang Quentin Tarantino hadir dengan film ke-9 berjudul Once Upon a Time in Hollywood.



    Bersetting tahun 1969 di masa kejayaan hollywood benar-benar menjadi pusat hiburan untuk film ataupun televisi. Film mengikuti 2 karakter utama yang menjadi roda cerita film ini. Rick Dalton (Leonardo DiCaprio) seorang aktor yang sedang mengalami penurunan karier. Lalu ada Cliff Booth (Brad Pitt) stuntman yang bekerja untuk Rick Dalton dan sangat loyal dengan majikannya. Penonton akan diajak mengikuti hari-hari mereka menjalani aktifitas di hollywood dan mempertemukan mereka tokoh atau sineas yang besar di tahun itu, seperti Bruce Lee, Steve McQueen, Roman Polanski, Sharon Tate dan bahkan Charles Manson dengan para pengikutnya yang menggucang hollywood di era itu.



    Tarantino seperti yang sudah kita tahu selalu memberikan sentuhan yang unik pada filmnya yang kembali dia tampilkan lewat OUATIH. Dari pergerakan kamera yang dinamis, warna gambar hingga musik. Jadi buat yang pertama kali menonton film Tarantino lewat film ini maka bersiap-siaplah tingkat kesabaran anda diuji karean alurnya ceritanya yang sangat lambat. Belum cukup dengan alur yang sangat lambat, sepanjang film kamu akan bertanya-tanya akan dibawa kemana kah plot cerita filmnya ? Tetapi itulah Tarantino, selalu menyisipkan diksi dan detail-detail pada karakter yang membuatnya seperti membaca novel. Tidak bisa disalahkan jika sebagian penonton tidak bisa menikmati gaya penceritaan seperti ini yang membuatnya menjadi eksklusif untuk penonton lainnya, terutama untuk yang sudah akrab dengan film-film Tarantino sebelumnya yang tidak mugkin memutuskan menonton OUATIH hanya sekedar para aktor-aktor yang bermain dalam film ini.



    Tidak seperti film-film Tarantino sebelumnya yang juga menggunakan banyak karakter dan biasanya setiap karakter mempunyai jalan cerita yang akan mempunyai pengaruh pada akhir cerita. Untuk OUATIH banyak karakter yang muncul yang sama sekali tidak ada memiliki esensi apapun jika karakter itu tidak ada dalam cerita. Sepertinya Tarantino sedang ingin sedikit bersenang-senang dengan para penontonnya yang mana dibayar tuntas oleh sebuah ending yang lagi-lagi membuat penonton memberikan applause untuk sang sutradara diluar Leonardo DiCaprio dan Brad Pitt yang juga memberikan performa dan kemistri yang kuat di film ini. Hanya pastikan saja kamu tahu latar belakang dari mana adaptasi film ini diangkat agar bisa merasakan sensasi yang luar biasa pada endingnya.



    OUATIH sudah pasti bisa memberikan kepuasan untuk para penggemarnya dan mungkin sebagian penonton awam yang belum pernah menonton film-film Tarantino sebelumnya. Bagaimana ternyata kamu tidak bisa menikmati film ini ? Well, seperti yang saya bilang diatas, filmnya memang terasa eksklusif.

    Overall: 7,5/10

    (By Zul Guci)



    ULASAN: READY OR NOT




    Film bertema thriller dengan berbagai sub-genrenya selalu mendapat tempat tersendiri di hati penggemarnya. Faktor ketegangan dan petualangan yang memacu adrenalin ketika menonton merupakan hal yang dicari oleh penonton walau terkadang banyak dipenuhi adegan sadis dan berdarah-darah. Kali ini giliran film Ready or Not yang dijamin akan menambah deretan film favorit di genre ini. Ready or Not hadir dengan formula yang fresh dan mengusung beberapa genre sekaligus yaitu adventure thriller, horror, dan dark comedy. Film ini dirilis perdana di Fantasia Film Festival pada 27 Juli lalu dan ditayangkan di Layar sinema AS pada 21 Agustus. Sementara di Indonesia baru ditayangkan pada 28 Agustus 2019. Film ini dibuat oleh trio filmmaker yang dikenal dengan nama Radio Silence (Matt Bettinelli-Olpin dan Tyler Gillet sebagai sutradara sedangkan Chad Villella sebagai produser eksekutif) yang telah kita kenal lewat Southbound, Devil's Due, dan V/H/S. Film ini dibintangi oleh Samara Weaving sebagai bintang utama dan didukung oleh Adam Brody, Mark O'Brien, Henry Czerny, dan Andie MacDowell.



    Keluarga Le Domas adalah keluarga kaya raya yang mendapatkan kekayaannya dari penjualan Board Games dan beberapa permainan klasik. Mereka memiliki tradisi memainkan permainan pada malam pernikahan sebagai bagian dari penerimaan anggota keluarga baru. Pada kejadian flashback di masa kecil Alex (Mark O’Brien) dan saudaranya Daniel (Adam Brody)menyaksikan penangkapan dan pembunuhan pengantin pria yang baru saja menikahi salah satu anggota keluarga mereka. Film lalu menuju ke masa sekarang di mana diceritakan Alex akan menikah Grace (Samara Weaving) di rumah keluarga besar mereka. Grace bercerita kepada Alex bahwa sebagai anak yatim piatu, memiliki keluarga adalah hal yang penting sekaligus kerinduan baginya. Grace pun sempat bertemu Becky (Andie MacDowell) sebelum prosesi pernikahan yang berterima kasih padanya karena sudah membawa Alex kembali ke rumah. Setelah resepsi pernikahan selesai, Alex bercerita pada Grace bahwa dia harus ikut serta dalam permainan yang akan dilangsungkan pada tepat tengah malam pada malam pernikahan sebagai bagian dari tradisi, awalnya Grace bingung namun dia mengikuti saja karena tidak menyadari ada hal yang aneh. Malamnya seluruh anggota keluarga dipanggil ke dalam ruang permainan dan memulai permainan ketika jam menunjukkan tepat pukul 12 tengah malam. Untuk memulai permainan, Grace diminta menarik kartu dari sebuah box kayu misterius di mana kartu tersebut akan menunjukkan permainan yang akan dimainkan. Grace menarik kartu dan mendapatkan kartu Hide and Seek (petak umpet), dalam permainan ini Grace harus bersembunyi sedangkan anggota keluarga yang lain akan mencarinya. Namun ada hal yang tidak diberitahukan Alex kepada Grace bahwa kakek buyut mereka Victor Le Domas membuat perjanjian dengan Justin Le Bail setelah berhasil mengungkap misteri kotak kayu tersebut adalah setiap kali kartu Hide and Seek terpilih maka keluarga Le Domas harus memberikan pengorbanan sebelum matahari terbit atau mereka semua akan mati. Ketika permainan dimulai, Alex diminta untuk tinggal dalam kamar dan adik iparnya Charity (Elyse Levesque) bertugas menjaganya.



    Grace baru menyadari bahwa permainan ini bukanlah permainan biasa dan hidupnya berada dalam bahaya setelah menyaksikan salah satu pelayan mereka tertembak oleh saudara perempuan Alex, Emilie (Melanie Scrofano). Alex menemukan Grace dan berjanji untuk menyelamatkannya. Setelah menyadari bahwa Grace mengetahui kebenaran dari permainan yang mereka lakukan, seluruh keluarga Alex berpencar untuk memburunya sebelum fajar tiba. Grace berusaha lari menuju kebebasan sementara Alex berusaha untuk membuka kunci pintu mansion mereka agar Grace bisa lolos. Akankah Grace berhasil meloloskan diri dari permainan maut keluarga Le Domas dan bisa hidup bahagia bersama dengan Alex yang ia cintai sebagai satu-satunya anggota keluarga yang menurutnya waras?



    Untuk film berdurasi 95 menit, alur film ini dibawakan dengan rapi dan cepat namun tetap mampu menampilkan momen-momen seru dan tegang dengan sangat efektif. Cerita film tidak dibuat bertele-tele untuk hal yang bukan menjadi fokus cerita, penonton diberi sedikit pemanasan di awal sebelum digiring ke konflik dan inti cerita walau sebetulnya bagian introduksi ini dapat dipakai untuk lebih mengenalkan penonton terhadap sosok Grace yang merupakan tokoh protagonis film ini. Karena di bagian awal film ini kita hanya diberi kilasan mengenai masa kecil Alex dan latar belakang keluarganya yang menyimpan rahasia kelam sementara Grace hanya melalui percakapan dengan Alex dan ibunya Becky. Walau agak kurang dalam introduksi karakter Grace namun akting Samara sebagai Grace yang sangat bagus dan meyakinkan sebagai calon pengantin yang ingin kehidupan yang normal dan bahagia tapi terjebak dalam situasi yang tidak menguntungkan berhasil membuat penonton terhubung dengan karakternya hingga akhir cerita film ini. Penulis cerita film pandai menciptakan momen cerita di mana berulang kali Grace sebagai protagonis dibuat berada dalam keadaan terdesak dan hampir mustahil untuk bisa lolos namun Grace selalu menemukan cara untuk bangkit dan melawan kembali. Belum lagi beberapa adegan pengejaran keluarga Le Domas terhadap Grace yang menegangkan baik di hutan sekitar rumah maupun di dalam rumah yang memacu adrenalin karena kita tidak tahu bagaimana akhirnya, apa yang akan dilakukan Grace, apa yang akan dilakukan anggota keluarganya. Kelebihan lain film ini adalah adanya unsur humor gelap/ dark comedy yang menjadikan pengalaman menonton Ready or Not menjadi menarik. Adanya unsur humor memberi warna tersendiri di sela-sela situasi tegang dan sadis, proses shifting tone dari suasana tegang ke komedi cukup berhasil lewat dialog-dialog dan penempatan di adegan yang tepat. Porsi humor hanya dimunculkan secara minimal untuk mengurangi ketegangan penonton dan tidak medominasi dalam film. Untungnya mix genre dalam film ini terbilang berhasil dan tidak garing karena banyak film yang gagal memadukan unsur dark comedy dalam film thriller.




    Setting lokasi yang digunakan dalam film ini merupakan salah satu hal yang perlu digaris bawahi. Terdapat 3 lokasi yang digunakan untuk menciptakan kesan seram dan kemewahan dari keluarga aristokrat Le Domas, yaitu Grand Estate di Oshawa, Ontario – Kanada yang dahulu merupakan residen bekas pendiri General Motors di Canada, R.S. McLaughlin, rumah yayasan YWCA, dan yang terakhir di Casa Loma, salah satu kastil terakhir di Amerika Utara yang populer menjadi objek wisata turis. Lokasi Grand Estate di Oshawa digunakan untuk sekuens adegan pernikahan di awal-awal film, ke 55 ruangan di dalamnya diijinkan untuk digunakan untuk keperluan shot interior film. Sementara Kastil Casa Loma digunakan untuk adegan pengejaran dengan memanfaatkan lorong-lorong dan kamar-kamar dalam kastil. Ornamen dan artifak kastil yang terpampang di dinding merupakan peninggalan asli kastil tersebut. Selain penggunaan lokasi yang asli, penggunaan efek practical tanpa mengandalkan efek visual juga menjadi kekuatan film ini. Vibe permainan klasik yang menjadi ciri keluarga Le Domas juga ditampilkan lewat desain board games dan poster-poster vintage yang menarik di dalam film. Sinematografi film ini juga patut mendapat pujian karena mampu menampilkan setiap detil adegan dengan jelas walau setting waktu dalam film ini adalah malam hari. Close up adegan luka dan kecelakaan yang dialami Grace juga dijamin bakal membuat penonton meringis ketika menyaksikannya. Pemilihan kostum sang portagonis juga sangat tepat, penampilan Grace yang bad-ass didukung oleh wedding dress yang didesain praktikal serta sepatu converse kuning menjadikannya karakter yang sangat ikonik.



    Grace Weaving (Three Billboards Outside Ebbing,Missouri; Babysitter) yang merupakan next rising star adalah aktris asal Australia yang juga merupakan keponakan dari Hugo Weaving yang terkenal (The Matrix, Trilogi LOTR, V for Vendetta) mampu tampil sebagai karakter protagonis yang kuat di film Ready or Not. Dia sanggup menjadi fokus perhatian penonton sepanjang film lewat aktingnya sebagai wanita yang pantang menyerah dan terkadang punya respon nyeleneh ketika menghadapi situasi sulit. Andie MacDowell (Four Weddings and A Funeral, Groundhog Day, Bad Girls) sebagai aktris veteran juga tampil baik sebagai ibu dari Alex dan Daniel yang selalu rasional dan mengutamakan keluarga. Mark O’Brien (The Front Runner, Bad Times at The El Royale) sebagai Alex juga mampu memerankan sosok kekasih Grace yang gentleman namun memiliki misteri terselubung. Anggota keluarga lainnya yang diperankan oleh Adam Brody (Daniel), Henry Czerny (Tony), Melanie Scrofano (Emilie), Kristian Bruun (Fitch), Elyse Levesque (Charity – Istri Daniel), Nicky Guadagni (Helene – nenek keluarga Le Domas) berhasil menciptakan dinamika keluarga yang kompak namun ternyata psikopat dan suka membunuh.



    Radio Silence dikenal lewat film-film mereka yang merupakan perpaduan unik antara komedi, petualangan, dan horor dengan naskah cerita yang original. Melalui Ready or Not, ide permainan klasik dipadukan dengan unsur mistis menjadi background cerita yang sangat menarik. Mereka juga menginkorporasikan isu general yang jamak dihadapi semua orang soal memasuki lingkungan keluarga baru untuk pasangan yang baru menikah dengan selipan twist yang cerdas. Di akhir penghujung film penonton pun diuji dengan pertanyaan psikologis apakah orang yang kita cintai akan menjadi orang yang sanggup menyakiti atau mencelakakan kita? Menyaksikan film ini seperti menemukan oase di antara serbuan sekuel, reboot dan saga superhero yang membanjiri Hollywood akhir-akhir ini






    Overall: 8,5/10

    (By Camy Surjadi)



    Monday, August 26, 2019

    ULASAN: 47 METERS DOWN UNCAGED






    Film eksploitasi hewan buas yang menyerang manusia bisa dikatakan tidak terbilang jumlahnya mulai dari hewan berukuran kecil, sedang, maupun besar sekalipun. Film jenis ini termasuk genre Animal Horror (Creature Features). Keganasan hiu terbilang yang paling sering dijadikan materi film berkat popularitas film Jaws (1975) yang menjadi sumber inspirasi untuk film-film sejenis bahkan sampai yang tidak masuk akal sekalipun (Sharknado 1-6). Di tahun 2019 ini kita disuguhkan kembali dengan film bertema hiu berjudul 47 Meters Down: Uncaged yang merupakan sekuel dari film berjudul sama di tahun 2017. Film ini sebetulnya tidak terkait langsung secara cerita dengan film pertamanya namun hanya meminjam segi lokasi dan setting cerita para karakternya yang terperangkap dari kepungan hiu.



    Film ini kembali disutradarai Johannes Roberts dan dibintangi oleh John Corbett, Nia Long, Sophie Nelisse, Corinne Foxx (putri Jamie Foxx), Sistine Stallone (Putri Sylvester Stallone), Brianne Tju, Davi Santos, Kyhlin Rhambo, dan Brec Bassinger. Film ini dirilis pada 16 Agustus di AS dan.dirilis di Indonesia pada 23 Agustus.



    47 Meters Down: Uncaged menceritakan kisah 4 remaja wanita Mia (Sophie Nelisse), Sasha (Corinne Foxx), Nicole (Sistine Stallone), dan Alexa (Brianne Tju) yang memutuskan melakukan scuba diving di Salah satu situs reruntuhan kota bawah laut. Ketika menyusuri reruntuhan kota, Salah satu dari mereka tidak sengaja menyebabkan runtuhnya pilar penyangga bangunan. Seketika petualangan mereka berubah menjadi teror karena ternyata runtuhnya pilar menyebabkan munculnya hiu-hiu ganas yang telah berevolusi yang walaupun buta namun memiliki indera pendengaran yang sangat tajam. Dalam upaya mereka meloloskan diri, satu-satunya akses keluar tertimbun reruntuhan mengakibatkan mereka terjebak. Dengan sisa oksigen yang menipis dan ancaman hiu-hiu ganas, keempat remaja ini harus berjuang sekuat tenaga dan bekerja sama untuk bisa selamat dan menghirup kebebasan sekali lagi.



    Cerita film ini sederhana dan sudah banyak dipakai di film-film terir hiu sejenis, hal yang istimewa dalam film ini adalah close shot dari adegan scuba diving yang dilakukan 4 karakter utamanya dan unsur ketegangan yang sangat terasa. Roberts sebagai sutradara paham betul bagaimana memakai moment of surprise karena banyak momen-momen yang tidak terduga yang mampu mengejutkan dan membuat penonton menahan nafas seraya membuat penonton tetap penasaran bagaimana dengan nasib para karakter – karakter yang terjebak hiu-hiu ganas ini dapat meloloskan diri. Setting gua dan reruntuhan bawah laut memunculkan suasana claustrophobic yang secara tidak langsung juga mempengaruhi psikologis para penonton. Adegan final dalam film yang mengejutkan juga digarap cukup baik walau agak didramatisir. Penonton juga diberi kejutan mengenai siapa saja karakter yang selamat sampai akhir film.



    Dari segi akting dan karakter dalam film ini boleh dikatakan tidak ada yang istimewa selain dari hiu-hiu yang menjadi karakter antagonis. Film ini merupakan debut 2 putri dari 2 aktor terkenal yaitu Corinne Foxx dan Sistine Stallone. Nia Long sebagai Ibu dari Mia dan Sasha tidak terlalu banyak punya ruang untuk tampil. Sophie dan Corinne kurang dapat menampilkan chemistry yang meyakinkan sebagai dua saudara. John Corbett yang berperan sebagai ayah Corinne dan Sasha sangat disia-siakan di film ini, karakternya seharusnya dapat lebih dimaksimalkan lagi Karena dalam film ini kehadirannya seakan tidak begitu berperan penting padahal karakternya adalah penyelam berpengalaman. Film ini juga seharusnya lebih dapat menggali latar belakang yang menjadikan Corinne dan Sasha sebagai keluarga, apakah mereka berasal dari adopsi atau masing-masing adalah anak bawaan dari pernikahan sebelumya yang menjadikan hubungan mereka tidak begitu dekat. Sistine dan Brianne sebagai teman-teman Sasha juga tampil biasa dan tidak ada yang istimewa.



    Yang membuat genre Animal Horror menarik adalah suasana tegang yang ditimbulkan dan cerita penyelamatan yang menarik, bagaimana para karakter protagonis menemukan cara mengatasi masalah hewan-hewan tersebut secara tidak terduga namun dapat dipercaya. Genre ini selalu menarik sebagai komoditi film karena ketidaktahuan manusia terhadap perilaku hewan walau ada juga yang terkadang dibuat hiperbolis untuk keperluan skenario film. Hiu dalam film ini dimodifikasi agar berbeda dari hiu-hiu di kebanyakan film sejenis, yaitu tidak memiliki penglihatan namun pendengarannya sangat tajam. Level bahaya yang diciptakan juga sudah meyakinkan namun penonton tentu juga ingin kualitas cerita yang baik bukan hanya sekedar mengandalkan kejutan dan ketegangan semata.


    Overall : 6,5/10 

    (By Camy Surjadi)





























    ULASAN: ANGEL HAS FALLEN




    Dikenal di US sebagai The Fallen Series, tahun 2019 ini kita disuguhkan dengan sekuel selanjutnya dari petualangan Mike Banning sebagai pasukan pengamanan Presiden AS yang diberi judul Angel Has Fallen. The Fallen Series ini diciptakan oleh duo penulis Creighton Rothenberger dan Katrin Benedikt. Judul Angel has Fallen diberikan karena dalam film ini fokus cerita ada pada Banning yang dijebak sebagai dalang upaya pembunuhan terhadap Presiden AS. Banning dianggap sebagai simbol malaikat pelindung Presiden AS namun kali ini sang malaikat mengalami keterpurukan dan berubah statusnya menjadi penjahat yang paling dicari di AS. Untuk Film ketiga ini, Gerard Butler juga bertindak sebagai produser, Ric Roman Waugh duduk di kursi Sutradara sekaligus sebagai tim penulis naskah. Film ini dirilis di Indonesia pada 21 Agustus 2019 sementara di US menyusul pada 23 Agustus 2019.



    Dalam Angel Has Fallen, Mike Banning (Gerard Butler) melanjutkan tugasnya sebagai anggota pasukan paspampres AS di mana kali ini Allan Trumbull (Morgan Freeman) telah menjadi Presiden setelah di film sebelumnya menjabat sebagai Wakil Presiden. Suatu ketika dalam kegiatan memancing, Banning mendapati bahwa sang presiden mendapat ancaman dari serangan kawanan Drone yang dilengkapi alat peledak. Kawanan Drone ini ternyata sudah dilengkapi dengan facial recognition terhadap semua anggota paspampres sehingga satu persatu rekan Banning tewas diserang drone mematikan tersebut. Banning dengan sigap segera menyelamatkan Presiden Allan dengan menyelam ke dalam air sebelum akhirnya keduanya tidak sadarkan diri. Setibanya di rumah sakit ternyata Presiden Allan mengalami koma sedangkan Banning divonis sebagai dalang percobaan pembunuhan terhadap Presiden akibat bukti-bukti yang menyudutkan Banning sebagai terduga bersalah. Dalam perjalanan ke penjara, Banning berhasil meloloskan diri dan menjadi buronan paling dicari di seantero AS. Terdesak oleh situasi dikejar oleh FBI dan timnya, Banning harus berusaha memulihkan nama naiknya sekaligus mencari dalang yang sebenarnya yang telah menjebaknya.




    Boleh dibilang tidak ada yang istimewa dalam sekuel lanjutan petualangan Mike Banning Kali ini, semuanya predictable dan klise khas film action. Dari awal film petunjuk-petunjuknya sudah jelas bahwa Banning akan dikhianati oleh siapa, yaitu rekan baiknya semasa perang Wade Jennings (Danny Huston). Bagian awal film ini memberi porsi lebih banyak untuk memberi kita perkembangan karakter Banning tentang kehidupan keluarga kecilnya, istrinya yang selalu pengertian terhadap Banning walau Banning selalu sibuk luar biasa lalu bagian berikutnya kita langsung disuguhkan ke inti cerita yang berfokus pada aksi Banning sebagai action hero yang kali ini harus menyelamatkan dirinya, sang presiden dari dalang kejahatan misterius yang juga telah menjebaknya. Bagian terbaik film ini mungkin adalah ketika Banning bertemu ayahnya Carl (Nick Nolte) sebagai harapan terakhir dan dinamika mereka berdua yang menarik seharusnya bisa lebih dimaksimalkan. Adegan aksi dalam film ini terlihat bombastis namun terkadang tidak masuk akal seperti bagaimana mungkin anggota tim Banning yang terkena ledakan maha dahsyat dari serangan Drone jasadnya bisa tetap utuh dan tidak hancur berantakan terkena ledakan. Begitupun pasukan tentara yang dikirim Jennings ketika dibombardir oleh ladang ranjau bom milik Carl, jasad mereka hanya nampak berdarah dan kotor berserakan tanah. Kehadiran karakter baru dalam cerita, Kali ini Jada Pinket Smith (istri dari Will Smith) sebagai agen FBI, sangat tidak dimaksimalkan padahal introduksi karakter ini sudah meyakinkan dan membuat penonton berpikir bahwa perannya dalam film akan penting entah mungkin akan bersekutu dengan Banning atau membantunya dengan cara lain. Level suspense dan misteri dari cerita film kali ini juga tergolong biasa saja dan cenderung mudah dilupakan. Namun aksi penutup film ini yang berfokus pada penyelamatan presiden di rumah sakit cukup rapi dan penuh perhitungan.



    Karakter dalam film yang cukup menarik perhatian adalah Nick Nolte, aktor senior yang berperan sebagai ayah Carl yang menampilkan karakter penuh konflik batin dan mengalami trauma pasca perang. Gerard Butler tetap memerankan karakter Banning namun tanpa perkembangan berarti di film ketiga ini, diceritakan dirinya sedang mengalami konflik pribadi antara sakit kepala yang dialaminya akibat bertugas yang penuh risiko tinggi dan apakah dia lebih memilih pekerjaan dibanding hidup tenang bersama keluarganya. Konflik itu ada namun kita sebagai penonton tidak akan melihat kedalaman konflik tersebut. Piper Perabo kali ini tampil menggantikan Radha Mitchell sebagai Leah, istri Mike. Piper tampil sebagai istri yang pengertian dan selalu mendukung suaminya serta sangat sayang pada putri mereka, tidak ada yang istimewa namun juga tidak mengecewakan. Sementara Jada Pinket Smith sebetulnya sudah sangat bagus dan meyakinkan sebagai agen Thompson yang cerdas dan tangguh namun entah mengapa porsi perannya hanya demikian di cerita film ini. Dari sisi pemeran antagonis, Danny Huston sebagai Wade kurang meyakinkan karena motivasinya yang terkesan mengada-ngada dan tidak memiliki kedalaman karakter sama sekali. Morgan Freeman tampil karismatik Sebagai presiden AS setelah naik jabatan dari wakil presiden AS walau seharusnya bisa diberi screen time lebih banyak tentang bagaimana dinamika dia setelah menjabat menjadi presiden AS.



    Ric sebagai sutradara juga mencoba mengangkat isu trauma yang ditimbulkan akibat perang baik dari segi psikologis maupun fisik namun hanya sebatas menyentuh permukaan saja, demikian pula dengan konflik AS-Rusia yang cenderung agak dipaksakan untuk mengubah subjek setelah di film sebelumnya memakai Korut dan Pakistan. Ric pun meminjam formula dari film The Fugitive yang sangat terasa saat Banning melakukan pelarian namun tanpa adanya inovasi baru, adegan ini terasa membosankan dan generik. Namun ada pengalaman baru ketika menonton film ini yaitu kehadiran mid credit scene yang sedikit aneh namun menghibur. Saga The Fallen Series ada karena penonton senang dengan aksi penyelamatan tokoh penting di antara situasi super genting dan penuh ancaman yang bisa diterima logika dan cerita yang menarik namun semakin sekuel film ini sering dibuat unsur logika semakin dikesampingkan demikian pula dengan kualitas ceritanya. Sudah saatnya studio dan penulis cerita fokus ke hal lain ketimbang melibatkan Mike Banning dalam petualangan lain yang tidak masuk akal dan terlupakan.



    Overall : 6,5/10

    (By Camy Surjadi)

    Wednesday, August 21, 2019

    ULASAN: PERBURUAN



    Malam Agustus yang tenang, udara keemasan, dan tak berembun bisa terasa sangat indah, hujan sudah lama tak menyapa ke Karawang. Perburuan adalah tentang peristiwa masa lalu menyedihkan di Jawa bagian Tengah, serta pertempuran yang terjadi di masa pendudukan Jepang. Terjadinya beriringan dengan Perang Dunia Kedua, sebelum Indonesia merdeka di Blora, tempat banyak peristiwa menarik terjadi. Hardo, lari atau mati. Tampak seperti penjelmaan syair, dongeng dan mimpi. Penonton bisa saja menyebut keputusan Hardo menyepi adalah aneh, tapi kita bisa sebut itu adalah eksentrik. Kisahnya sedih dan indah – dan tampak nyata. Kita sedang menyaksikan sebuah film tragedi.



    Sejatinya saya menanti tanggal 15 Agustus 2019 untuk menyaksikan Bumi Manusia, sampai ambil cuti tahunan. Malah siang acara penuh, sore ketiduran sehingga menyisakan jam malam untuk menikmati adaptasi buku karya Pramoedya Ananta Toer. Bumi Manusia paling malam selepas Isya, maka tak ada opsi yang lebih ideal selain menikmati Perburuan ketika jelang tengah malam.

    Cerita merentang enam bulan dari tanggal 14 Februari 1945 sampai Proklamasi berkumandang, bahwa pasukan bentukan Jepang, PETA (Pembela Tanah Air) melakukan perlawanan. Adalah Shondanco Hardo (Adipati Dolken) dan kawan-kawan yang muak atas penjajahan ini. Misi kudeta mereka gagal, pasukan yang kocar-kacir itu melarikan diri ke hutan, sebagian akhirnya menyerah ke Jepang ketika utusan datang bahwa tak akan melakukan hukuman bagi pasukan yang mau kembali, janji memberi kemerdekaan secepatnya kembali digulir.



    Raden Hardo adalah anak wedana, ia diburu Jepang karena berbahaya. Dipimpin Shidokan (Michael Kho) yang kejam, dengan kaki tangannya yang jua sahabat Hardo, Karmin (Khiva Ishak). Adegan kejar-tangkap di hutan disajikan dengan tensi lambat, ketika rasanya rasa frustasi muncul, si Jepang memutuskan menangkap orang-orang terdekatnya. Ningsih (Ayushita) tunangannya, ayahnya yang berkhianat yang memberitahu. Dan pada puncaknya, kita tahu semanis impian kemerdekaan, hal itu harus dibarengi dengan harga yang sangat mahal. Saat Si Jepang membuka mulut, seolah kata-katanya menjadi hukum.

    Tautan kasih dengan Ningsih, sejatinya dituturkan dengan nada optimis nan kuat. Selama pelarian, di antara mereka terbentang jurang tak berdasar yang tak bisa diseberangi dan itu jelas adalah cinta. Hanya jembatan bernama kemerdekaanlah yang bisa menyatukan mereka. Hardo merindukan sang tunangan dengan segenap kesetian dan angan.



    Alurnya maju terus secara linier, tak banyak tanya yang menggantung. Ada empat adegan bagus dalam Perburuan. Pertama ketika di kebun kala Hardo ngobrol sama daun lalu muncul pejabat baru dan mereka bercengkrama. Di tengah hamparan kebun jagung yang cantik dan rapuh menjelang subuh, di jalan setapak transpotasi desa tempat angin semilir mendesah, menghembus kencang lalu menyapu wajah mereka, selembut tanaman bunga sepatu, seakan dipenuhi gambaran indah nukilan ilustrasi kartu pos lokal yang sering kita terima kala itu dari kekasih yang jauh. Subuh itu indah dan tampak cokelat keemasan, kebun jagung dan tanah pertanian di belakangnya disirami cahaya merah dan bayang-bayang yang berpagutan, dengan suara jangkrik yang dijubelkan ke telinga. Ayo tenangkan diri, dan hitung sampai seratus sebelum adegan lain. Saya duduk tenang dan memulai hitung, tak sampai separuhnya, suara gerobak muncul dan mengakhirinya.




    Kedua saat di kolong jembatan. Ketika para kere, para tuna wisma ini membunuh waktu dalam rumpian harap akan masa depan Indonesia, Hardo dan pelarian lain menyatu. Well, Tuhan mungkin akan lebih mendengarkan orang-orang teraniaya, kalau kita tidak mengganggu-Nya setiap saat. Sayangnya, malah disusupkan latar gelandang lain main wayang merusak kenikmatan. Seolah ada kelabu yang mengganggu.

    Ketiga, pembacaan puisi dalam goa yang dimainkan dengan korek api dan senyum ngeri. Suara bagai dentingan harpa ditiup angin, dan mata yang memancarkan keabadian. Ketika batang api meredup dan kembali menyulut api lain, perenungan dengan jeda seperti ini selalu membuatku terpana. Hardo terlihat sangat sentimental dan romantis. Pernahkah kalian membaca cerita yang tak begitu adil? Kejadian lalu memang tak membunuhnya, tapi senyumnya telah mati. Namun Hardo seolah akan terus bercerita selama masih punya lidah untuk berujar, atau ‘seseorang’ untuk mendengar. Mendengarkan dia bercerita dengan korek api sesaat nyala sesaat kejap mati, sama asyiknya dengan mendengarkan seorang penyair menyenandungkan karyanya tepat di depanmu.

    Keempat dan ini yang terbaik, adalah saat pertemuan ayah-anak dalam gubuk di malam hari dengan penggambaran aneh. Gubuk tua itu dengan rahasia yang tersamarkan dirajut, diambil gambar dari langit-langit, dialog menawan tersaji. Nada-nada emas dalam suara mereka disusupi ketakutan dan permohonan. Saat itu bulan belum muncul, tapi cahayanya malah memperburuk keadaan. Bayang-bayang yang sebelumnya bergeming kini bergerak dan menari-nari saat angin malam meniup dahan dan ranting.



    Sejatinya memang ini adalah kisah menanti kebebasan. Oh mengerikan sekali, rasanya jika kau hanya bisa menunggu dan seolah tak bisa melakukan apapun. Seandainya Hardo tak bisa bermain puisi, pasti rasanya waktu berjalan bergitu lambat. Keyakinan bahwa Sangkakala keruntuhan Nippon akan berbunyi suatu hari nanti. Kekalahan Jepang itu, awalnya terasa mustahil karena Belanda yang menancapkan belenggu selama ratusan tahun saja bisa disepak dalam waktu singkat, mereka tak percaya, maka rasanya wajar ada gemetar ketakutan menyelingkupi. Namun selama ada kehidupan maka harapan selalu ada.

    Perjalanan di hutan dalam pelarian yang indah melewati dunia hijau, dahan-dahan berbisik, pohon trembesi beraroma asam, serta petak-petak sinar matahari yang menyusup ke bawah rimbunan pepohonan. Saya sejatinya berharap akan banyak adegan sunyi di dalamnya, harapan itu hanya sedikit terkabul. Hutan asing yang menawarkan pesona liar, samar dan tak bernama membalutnya bagai pakaian. Suara jangkrik yang seharusnya dominan, semilir angin yang menempa wajah. Di hutan, Hardo memikirkan tanah air (dengan menggenggam tanah), berkhayal bahwa suatu hari nanti dia akan memiliki umur panjang dan menyaksikan bumi merdeka, memiliki rumah mungil yang nyaman di lembah bersama Ningsih guna hidup bersama.

    Penerungan yang dikitari itu tampak sentimental. Sekali lagi, waktu terasa lama saat kau sedang menunggu. Tempo mengiris udara dengan derik jangkrik bersahut-sahutan, makhluk lain pasti sudah lari saat itu juga seandainya ada tempat yang dituju, tapi tak ada tempat lain, di sekeliling Hardo hanya ada kebun gelap, tanah basah dan sapaan sunyi.

    Sayangnya, semua itu runtuh oleh skoring. Sial, jelek banget iringan Purwacaraka, merusak mood. Saat sedang asyik merenung, mencoba menikmati keintiman dengan keheningan, musik dimunculkan di waktu tak tepat. Dan suara alat musiknya itu kontinu, duh! Sulit sekali menjelaskan makian yang pas untuk disampaikan, mungkin gabungan antara momen khidmat dan riuh lalu tepok jidat. Alamak.

    Ketika film usai, rasanya ingin segera menikmati angin pagi. Dengan kepulan kopi duduk nyaman di teras, hanya gumam “Ayo kita ke kebun jagung dan menunggu, saya pengen ngobrol sama daun.” Lalu bercerita, rerumputan menulis jejak langkah kepergiannya dengan tetesan embun, di atas lembah serta bukit menggantung asap biru tebal, seakan alam sedang memuja altar dalam hutan. Jangkrik bernyanyi sisa semalam, suaranya merdu. Perlahan, matahari menggelincir naik di tengah awan gelap kelabu berubah menjadi bayang-bayang ungu dan merah garang di pagi itu. Enggak muncul rintik kok, Karawang masih kemarau di Agustus tandus. Memang, ada banyak hal yang tidak kumengerti.

    Endingnya khas novel Pram. Saya sudah membaca empat buku beliau, Bumi Manusia yang getir, Midah yang berakhir tragis, Gadis Pantai yang menyesakkan dan Perawan Dalam Cengkraman Militer (bukan sepenuhnya tulisan Pram). Letusan itu, sejatinya tak sepenuhnya membuatku terlalu terkejut, sayang ditampilkan buruk, seolah itu adalah adegan tambahan bloppers, dalam credit title film-film Jackie Chan. Setelah usai rasanya ingin protes, mengapa? Yah, hal semacam ini memang mungkin, dan saya dilanda kengerian baru yang sebelumnya tak terpikirkan.



    Bukankah merdeka adalah kata yang indah? Sangat ekspresif, M.E.R.D.E.KA. sambil mengepalkan tangan ke atas penuh antusias. Dan terasa damailah seluruh tanah yang berbunga dan segar ini, serta damailah hati kecil kami.

    Terberkatilah hati sepimu Hardo, kau benar-benar manusia hebat.

    Overall: 6/10

    (By Lazione Budy)

    Saturday, August 17, 2019

    ULASAN: BUMI MANUSIA




    Saat kali pertama berita akan diangkatnya novel Bumi Manusia ke layar lebar, para pemuja Pram mengeluarkan respon kekhawatirannya karena bagi mereka biarlah novel terkemuka ini menjadi peninggalan sejarah dalam bentuk sastra. Masalah tidak usai di sana, setelah akhirnya Falcon memegang penuh hak produksinya dengan Hanung Bramantyo duduk di kursi sutradara, para pemuja Pram kembali kebakaran jenggot. Tidak berhenti sampai di sana, pemilihan Iqbaal Ramadhan sebagai Minke, para pemuja Pram memicingkan mata tanda kecemasan baru akan filmnya yang pada saat itu, syuting pun belum dimulai. Reaksi yang wajar untuk para fans yang cinta mati akan Bumi Manusia dan Pramoedya Ananta Toer pada khususnya, merasa was-was apakah saduran ini akan membawa kerusakan atau penghargaan terhadap bukunya.




    Sederhananya, Bumi Manusia menceritakan Minke seorang pribumi yang jatuh hati ke Annelies, seorang gadis berdarah campuran dari seorang Belanda dan pribumi yaitu Hendra dan Nyai Ontosoroh, hasil dari jual beli yang nantinya akan diceritakan sendiri oleh filmnya. Lika-liku kehidupan di mana Indonesia belum berhak merdeka, segala sesuatu mulai dari edukasi dan hukum semua berlandaskan parlemen Belanda, dan pribumi tidak ada kuasa atas haknya. Begitupun untuk hal harta dan tahta. Minke harus bersikukuh membela Annalies mengatasnamakan cinta, di sisi lain dia hanyalah patung hidup di depan kekuasaan Belanda. Ontosoroh yang tak tinggal diam ingin bertarung mempertahankan kekayaan yang ia pupuk sendiri, mau tak mau harus tunduk di bawah kedigdayaan mereka.



    Secara mengejutkan, dua tokoh yang diduga akan menjadi perusak konversi ini, Hanung Bramantyo dan Iqbaal Ramadhan, ternyata bisa membungkam mulut siapapun yang menaruh rasa pesimis terhadap mereka. Pemilihan Iqbaal ternyata sungguh jitu. Dengan image Dilan yang sudah melekat di dirinya, perombakan menjadi Minke menjadi tidak begitu sulit dan kentara. Pelafalan bahasa Belanda dan sikap percaya dirinya pun terbentuk dengan fasih. Iqbaal bukan satu-satunya aktor yang bermain bagus, hampir keseluruhan cast sungguh luar biasa, terkhusus Ine Febriyanti sebagai Nyai Ontosoroh yang menggelagar di setiap adegan, dan Donny Damara yang memaksimalkan performanya walaupun bagian durasinya sedikit.



    Semua dipikirkan matang-matang oleh Hanung dan tim. Kendati keotentikan sejarah pada saat itu masih bisa didebatkan, Hanung tetap tidak membiarkan hidangannya menjadi tidak sedap disantap. Production value begitu serius, tampak pemandangan yang begitu indah, dan bantuan musik yang begitu mengalun merdu. Satu poin yang ingin saya sanjung adalah di teritori penulisan naskahnya. Tidak ada satupun kalimat yang saya rasa sungguh berlebihan dan bergaya puitis. Semua berjalan natural dan sebagaimana mestinya. Bagian Minke dan Annelies saling memadu kasih di pelararan rumput juga ditampilkan sungguh indah dengan bujuk rayu khas Dilan yang tepat sasaran.



    Memunculkan sosok sekarismatik namun lemah secara lapangan seperti karakter Nyai Ontosoroh gampang-gampang susah. Sebagai wanita tegar korban gundik peradaban Belanda, Ontosoroh di film ini tidak ditanggalkan begitu saja. Kalau Hanung dan tim tidak berhati-hati, Ontosoroh bisa jadi hanya karakter wanita patriotik sekali lewat yang akan mudah dilupakan. Namun, dengan polesan yang tajam dan berkat performa cemerlang Ine Febriyanti, Ontosoroh menjadi salah satu tokoh penting di film ini, dan bisa saja menjadi contoh ke depan bagaimana menghidupi karakter wanita kuat tanpa rasa takut dengan bentakan pria.



    Sebagai penonton yang tidak membaca bukunya, dan hanya mendengar fakta bahwa Bumi Manusia adalah salah satu novel yang sulit dibawa ke ranah layar lebar. Dari sana saya bisa menyimpulkan bahwa tugas dan tanggung jawab Hanung memegang kendali novel ini sungguh sangat besar. Bagaimana ia harus menyenangkan produser membuat film yang ringan tapi penuh nilai positif, dan bagaimana ia bertaruh untuk menyenangkan hati para pembaca novel beserta penyanjung Pram. Bagi saya, Hanung sudah sangat berhasil minimal memenuhi salah satu tugasnya. Mungkin saja para pembaca tidak sepenuhnya setuju dengan apa yang dipaparkan di hadapan mereka, namun Hanung, sekali lagi, berhasil membawa sejarah menjadi suatu yang indah dan mudah ditangkap untuk kalangan anak muda yang belum mengenal bentuk karya sastranya.


    Overall: 8/10

    (By Ruttastratus)