Thursday, January 17, 2019

    ULASAN: GLASS












    Untuk sebagian penimat film, M. Night Shyamalan adalah masternya twist atau kejutan. Di setiap fim terbarunya penonton selalu sangat berharap akan ada kejutan seperti yang kita lihat lewat The Sixth Sense, Unbreakable, The Village dan lain-lain. Memang tidak semuanya berjalan sesuai rencana seperti The Happening, After Earth ataupun The Last Airbender, tetapi fans seakan tidak pernah bosan untuk menunggu masterpiece selanjutnya dari seorang Shyamalan ditengah-temgah popularitasnya naik turun. 3 tahun berselang setelah dikejutkan dengan ending Split (2016) yang ternyata mempunyai keterikatan cerita dengan Unbreakable (2000), kita sebagai penonton kembali berekstasi lebih pada bagian ketiga seri ini yang diberi judul 'Glass'. Kejutan apalagi yang bisa diberikan oleh Shyamalan pada Glass ? Rasanya semua sudah dihabiskan lewat Unbreakable dan Split. Tetapi sayangnya pikiran terliar sekalipun tidak akan terlintas dipikiran kita mengenai kejutan yang sudah dipersiapkan oleh Shyamalan lewat Glass.


    3 pemain utama yang terlibat di Unbreakable dan Split kembali terlibat, mulai dari Bruce Willis, Samuel L. Jackson dan James McAvoy. Bahkan pemeran pendukung Anna Taylor-Joy dan yang memerankan putra Bruce Willis di Unbreakable Spencer Treat Clark juga kembali memerankan peran masing-masing. Jajaran cast itu semakin lengkap dengan kehadiran Sarah Paulson (American Horror Story, Oceans 8) yang berperan sebagai pskiater yang menangani pasien-pasien delusional berlebih pada mereka. M. Night Shyamalan menulis dan menyutradarai filmnya sendiri.


    19 tahun setelah ending 'Unbreakable' ,David Dunn (Bruce Willis) yang saat ini sudah duda menjalin hubungan partner dengan putranya Joseph Dunn (Spencer Treat Clark) untuk membersihkan jalanan dari kejahatan. Tindakan yang dilakukan diam-diam yang membuat David menjadi vigilante yang dipanggil 'The Overseer' oleh masyarakat yang tidak pernah melihatnya secara langsung. Hingga pada waktunya David ingin menyelidiki pembunuhan berantai yang belum tertangkap dan mempertemukannya dengan Kevin Wendell Crumb (James McAvoy) yang mempunyai 23 kepribadian yang berbeda, orang dibalik terjadinya pembunuhan berantai. Pertarungan pertama mereka tak terhindarkan, yang membuat mereka berdua tertangkap.


    David dan Kevin dikurung dalam rumah sakit jiwa dengan keamanan ketat, tempat yang sama Elijah Price/Mr Glass (Samuel L. Jackson) dikurung selama 19 tahun. Mereka bertiga direhabilitasi oleh Dr. Ellie Staple (Sarah Paulson) yang meyakinkan mereka bertiga bukanlah orang seperti yang mereka kira. Lalu apakah rehabilitas pada ketiga orang ini berhasil ? Atau hanya sebuah awal dari sesuatu yang besar ? Jawaban yang hanya bisa kamu temukan setelah menonton filmnya.


    Jika kamu sudah menonton Unbreakbale dan Split, maka sudah bisa menebak tone akan hampir sama persis, masih dengan tempo slow-burn meskipun di awal-awal alur cerita berjalan cukup cepat dengan memperkenalkan kembali tokoh utama kita David dan Kevin hingga sampai pada pertarungan mereka berdua. Tetapi setelah itu alur cerita akan berjalan lambat, terlebih setelah Elijah Price/Mr. Glass muncul yang menjadi roda utama jalan cerita film ini. Shyamalan benar-benar memegang kendali, skenario yang sangat rapi membuat fokus penonton tidak teralihkan dan mencoba memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi.


    Hal yang luar biasa adalah dari Glass, ketika kita mengira sudah bisa menebak arah plot cerita kemana, tiba-tiba semuanya diputarbalikan yang membuat kamu hanya sekedar tahu tidak tahu apa-apa. 30 menit terkahir bukti sahihnya. Bahkan pikiran terliar kamu sekalipun tidak akan melintas ending dari Glass akan seperti itu. Kejutan juga tidak hanya sekitar plot ceritanya saja, tetapi juga pada pemeran-pemeran utama yang mengekspos sisi lain dari karakternya. Samuel L. Jackson dan James McAvoy berada posisi terdepan dalam hal ini. Lalu Sarah Paulson  yang  sebagai seorang psikiater yang tidak diduga-duga mempuyai pengaruh kuat pada ending cerita dan Bruce Willis yang memerankan sang hero kita yang kembali mempertanyakan apakah hal yang dia percayai selama hampir dua dekade itu hanya sebuah delusi ? Shyamalan benar-benar membungkus semua itu dengan sangat rapi.


    Shyamalan sadar dia sudah terjebak dengan ekspetasi penonton dengan kata 'twist' dalam setiap filmnya. Dan dia sudah mempersiapkan kejutan yang tak disangka-sangka.Mempermainkan penonton dengan prediksi-prediksinya sendiri ditengah-tengah menikmati alur cerita film. Buat saya personal, Glass sudah masuk dalam daftar film terbaik yang saya tonton tahun ini.

    Overall: 9/10

    (By Zul Guci)

    Monday, January 7, 2019

    ULASAN: ESCAPE ROOM



    Pernah bermain game di smartphone yang dimana user berada dalam satu ruangan tertutup dan mencari jalan keluar dengan petunjuk-petunjuk yang terbatas yang ada dalam ruangan tersebut ? Jika kamu sudah pernah memainkan game tersebut maka kamu akan segera terasa familiar dengan plot cerita yang ada pada film 'Escape Room' ini. Escape Room sebuah film bergenre thriller-horror psikologis yang diproduksi oleh Columbia Pictures ini disutradarai Adam Robitel (The Taking of Debrorah Logan, Insidious: The Last Key) dan diramaikan dengan pemain yang sudah akrab di layar kaca seperti Taylor Russel (Lost In Space), Logan Miller (I'm In The Band), Deborah Ann Woll (Daredevil), Nik Dodani (Atypical), Tyler Labine dan Jay Ellis.



    Enam orang asing tidak mengenal satu sama lain dengan latar belakang yang berbeda dipertemukan dalam sebuah gedung setelah mendapat undangan misterius untuk mengikuti sebuah tantangan yang berhadiah uang 10.000 US Dollar. Mereka berenam adalah Zoey (Taylor Russel) mahasiswa cerdas yang mempunyai masalah dalam bersosialisasi, Ben (Logan Miller) seorang pecandu yang mencoba lepas dari rasa bersalah, Amanda (Deborah Ann Woll) veteran perang Irak yang ingin lepas dari trauma perang, Danny (Nik Dodani) seorang geek yang sangat tertantang dengan permainan 'Escape Room', Mike (Tyler Labine) pekerja lepas dan terakhir Jason (Jay Ellis) pengusaha muda yang menghadiri undangan misterius itu karena merasa itu hadiah dari salah satu klien utamanya.


    Perkenalan singkat enam orang dengan masing-masing karakter yang sangat berbeda itu harus dikesampingkan ketika mereka harus bekerjasama untuk bisa lolos dalam 6 ruangan mematikan dengan waktu yang sangat terbatas di dalamnya. 6 ruangan yang mempunyai 6 tingkat kesulitan yang berbeda pula yang harus dipecahkan agar bisa lolos dan bisa mencari tahu kenapa mereka dijebak dalam permainan mematikan itu. Berhasilkah mereka semua lolos dalam 6 ruangan yang harus dilewati itu ? Lalu siapa sebenarnya orang dibalik yang memberikan undangan misterius kepada mereka berenam ? Jawaban yang bisa kamu ketahui di dalam filmnya.


    Tidak perlu berbasa-basi, Escape Room langsung membawa penonton pada adegan yang cukup intens untuk sebuah adegan pembuka dan mengantungnya dengan meninggalkan penonton dengan pertanyaan 'apa yang sebenarnya terjadi ?' lalu adegan menuju beberapa hari sebelum kejadian yang akan mempertemukan penonton dengan 6 karakter utamanyanya. Benar-benar adegan pembuka yang ampuh untuk menarik perhatian penonton sehingga kita ingin tahu apa yang sedang terjadi.


    Setelah 15-20 menit pengenalan para karakternya, maka bersiap-siaplah dengan sisa durasi yang memacu adenalin melewati 6 ruangan. Kekuatan utama Escape Room ada pada ruangan itu sendiri dan teka-teki yang harus dipecahkan dalam setiap ruangannya. Seiring berjalannya durasi disaat pertanyaan 'apa yang sebenaarnya terjadi ?' belum terjawab, pertanyaan lainnya akan muncul, kenapa harus mereka berenam yang terjebak, lalu siapa orang dibalik permainan ini ? Escape Room berhasil mengemas itu semua dengan sangat menarik, terlebih ketika misteri terjawab satu-persatu. 


    Tema cerita mengumpulkan beberapa orang asing dijebak pada satu tempat dan lalu berjuang untuk bisa hidup memang bukanlah sesuatu yang baru. Sudah banyak refrensi film bertema sejenis ini, tetapi untungnya 'Escape Room' mempunyai daya tarik tersendiri. Hanya saja memang seakan menjadi tipikal film sejenis, banyak hal klise akan penonton temui, mulai dari pemecahan teka-teki terasa sangat klise dengan secara ketidaksengajaan yang mungkin untuk kamu yang suka teka-teki sedikit membuat gregetan, lalu sampai pada endingnya sendiri jadi seperti berlebihan yang terlalu ingin berlanjut ke sebuah sequel yang sedikit bisa merubah penilaian penonton pada filmnya secara keseluruhan, Jika kamu tidak masalah dengan hal-hal klise seperti itu, bisa jadi ini adalah salah satu film thriller-horror terbaik yang kamu tonton di tahun 2019 ini.

    Overall: 7/10

    (By Zul Guci)





    KERJA SAMA BRANDING ESCAPE ROOM MOVIE DI AREA PANDORA ALAM SUTRA & CITRALAND


    Berkaitan dengan pemutaran film Escape Room (Sony Pictures) pada tanggal 11 Januari 2019 serentak di Indonesia. Pihak Sony Picture bekerja sama dengan pihak Pandora Experience dalam project branding film Escape Room. Adapun cabang yang akan dibranding adalah cabang Mall Alam Sutera & Mall Ciputra.



    Pandora experience adalah sebuah area wahana permainan petualangan meloloskan diri dari sebuah misteri dengan cara memasuki ruangan-ruangan permainan. Di sepanjang permainan yang memacu adrenalin ini, pengunjung akan menemukan kejutan-kejutan, lorong rahasia, ruangan rahasia, dan teka-teki yang membingungkan namun sangat seru. Pandora Escape Room Indonesia menyediakan waktu selama 60 menit dan 120 menit dengan teknologi tinggi dan terbaru dalam setting ruangan permainan, serta didukung dengan efek suara dan efek visual yang mumpuni. Tersedia unlimited clue bagi pemain untuk memecahkan kode, teka-teki, dan berbagai tantangan untuk menemukan ruang tersembunyi, jalan rahasia, hingga jawaban atas teka-teki yang dimainkan. Permainan ini menguji keberanian, strategi, kerja sama tim, dan pengambilan keputusan yang tepat untuk ‘lolos’ hingga ke pintu keluar.



    Pandora memiliki 8 outlet cabang yang tersebar di kota Jakarta, Bandung, Bali, Surabaya dan Tangerang dengan 33 tema permainan. Tema permainan diambil dari berbagai legenda misteri yang terkenal dari seluruh dunia, dan diceritakan kembali dengan jalan cerita yang sudah disesuaikan dengan permainan. Setiap outlet memiliki episode yang berbeda dengan outlet lain, juga dengan tingkat kesulitan, sensasi, dan aktivitas fisik yang berbeda pula.



    Berikut detail lokasi outlet 'Escape Room' di beberapa kota besar Indonesia:

    Jakarta :

    Puri Indah : Shutter Asylum, Dawn Of Ripper, Secrets of The Lost Tribe, Devil’s

    Triangle, The Hollow

    Mall Ciputra : S.S Poisedon, Ravensbruck Biohazard, The Descent, Legends El

    Dorado

    Mall Alam Sutera : The Chernobyl Diaries , Alcatraz, Amityville

    Baywalk Mall : The Tomb of Osiris, Sanatorium, The Count of Monte Cristo

    Kelapa Gading : King Solomon Mines, Forest of The Dead, Alcatraz



    Bali :

    Kuta : Shutter Asylium, Alcatraz, Area 51, Legends El Dorado

    Bandung :

    Sukajadi : The Dutchan Ghost of The Seven Seas, Amityville New Orleans

    Horror, Temple of Doom, The Howling Catacomb

    Surabaya :

    Marvell City Mall : Shutter Asylum, Secrets of The Lost Tribe, The Hollow, The

    Descent, Alcatraz, The Chernobyl Diaries

    Sunday, January 6, 2019

    NOMINASI DAN VOTING GILA FILM CHOICE KEDUA DIMULAI

    Respon yang cukup baik dari sobat Gila Film di Gila Film Choice (GFC) pertama tahun lalu, membuat tim admin sangat termotivasi untuk kembali mengadakan Gila Film Choice untuk kedua kalinya. Perbaikan dan penambahan kategori nominasi dilakukan pada GFC2 ini. Jika pada GFC pertama hanya ada 12 kategori nominasi, maka pada GFC kedua ini total ada 20 kategori nominasi. Penambahan kategori yang terlihat sangat kontras ada pada tv series yang tahun lalu tidak ada, padahal tv series sudah menjadi bahan diskusi yang bahkan menjadi salah satu agenda nonton bareng Gila Film. Lalu juga ada 2 kategori tambahan untuk kegiatan rutin Gila Film, yaitu nonton bareng yang bermasudkan untuk sekaligus menjadi bayangan atau patokan konsep nonton bareng Gila Film agar lebih seru kedepannya.


    Apa saja sih kategori dan nominasi-nominasi di Gila Film Choice 2 ini ? Berikut kategori dan nominasinya. Dan jangan lupa, setelah melihat nominasinya jangan lupa voting yang ada pada link dibawah.


    1. Favorite Film Of The Year



    2. Favorite Indonesia Film Of The Year



    3. Favorite Animated Film Of The Year



    4. Favorite Foreign Film Of The Year



    5. Guilty Pleasure Film Of The Year



    6. Most Over Expectation Film Of The Year



    7. Favorite Actor In Film Of The Year



    8. Favorite Actress In Film Of The Year



    9. Ensemble Cast Of The Year



    10. Original Film For TV Or Legal Streaming Of The Year



    11. Duo Combo In Film Of The Year



    12. Favorite Original Song For Film Of The Year



    13. Favorite Memorable Scene Of The Year



    14. Favorite West TV Series Of The Year



    15. Favorite New West TV Series Of The Year



    16. Favorite Asian TV Series Of The Year



    17. Favorite Actor In TV Series Of The Year



    18. Favorite Actress In TV Series Of The Year



    19. Favorite Nobar Gila Film Of The Year



    20. Nobar Gila Film Yang Paling Ditunggu Di Tahun 2019



     Bagaimana ? Ada film-film unggulan sobat Gila Film yang masuk nominasi pada 20 kategori yang sudah disebutkan diatas ? Jika ada dan yakin, segera voting pilihan sobat Gila Film yang ada pada link ini. Voting ini akan dibuka sampai tanggal 11 Januari 2019, pukul 23.59. Akan ada 3 orang peserta voting yangberuntung yang akan diundi secara acak yang akan mendapatkan t-shirt eksklusif Gila Film Choice. Ingat, voting sebagai penikmat film, bukan pengamat film.

    https://goo.gl/forms/tzMQR2qniHOiLvqO2

    (By Zul Guci)


    Wednesday, January 2, 2019

    ULASAN: MASTER Z 'THE IP MAN LEGACY'



    Ingat master Wing Chun yang menantang Ip Man di akhir Ip Man 3? Rupanya dia cukup populer sebagai karakter di film tersebut sehingga dia mendapatkan film spin-off sendiri.


    Master Z: The Ip Man Legacy ditetapkan setelah pertarungan yang mendebarkan di akhir Ip Man 3, tentu saja bercerita mengenai kisah hidup Master Wing Chun Cheung Tin Chi (Zhang Jin) setelah dia dikalahkan oleh grandmaster Wing Chung Yip Man. Dia menutup akademi Wing Chun lalu meninggalkan dunia seni bela diri untuk menjalani kehidupan yang tenang sebagai penjaga toko kelontong. Dia bahkan memutuskan untuk menyerah menggunakan Wing Chun sama sekali, menurunkan boneka pelatihan kayunya menjadi gantungan baju belaka.



    Tentu saja, bahkan ketika dia tidak mencarinya, masalah tentu saja datang kepadanya. Saat mengirimkan barang pesanan orang lain, ia terseret ke dalam pertarungan. Dia tak sengaja membantu pecandu opium Nana (Chrissie Chau) dan sahabatnya, Julia (Liu Yan), melarikan diri dari sekelompok gangster yang dipimpin oleh Kit (Kevin Cheng).



    Setelah itu, Kit memutuskan untuk membuat hidup Master Cheung Tin Chi bagaikan di neraka. Bersama putranya, Master Cheung Tin Chi berusaha mencari perlindungan, lalu kembali bertemu dengan Julia dan saudara lelakinya Fu (Shi Yanneng), seorang pemilik bar.


    Namun, kehidupan barunya sekali lagi terganggu oleh Kit. Sebagai bentuk kemarahan Kit yang muak diabaikan oleh kakak perempuannya Kwan (Michelle Yeoh) pemimpin triad Lok Cheung karena selalu merendahkannya. Kit dan kroconyamemutuskan untuk menjual narkoba di daerah Bar Street. Master Cheung Tin Chi mengetahui hal ini dan dilandasi oleh keinginan mendasar untuk saling menjaga satu sama lain dia pun kembali memakai jubah Wing Chun-nya dan membela kebenaran. Lalu bagaimana nasib Master Cheung Tin Chi beserta anaknya? Akankah mereka menemukan kehidupan damai di tempatnya yang terbaru?



    Dari segi plot cerita, tidak ada yang terlalu spesial di film ini. Mantan seniman bela diri melepaskan kehidupan pertempuran untuk kehidupan yang normal, tetapi dipaksa kembali beraksi untuk bertahan hidup? Kami telah melihat itu di banyak film kungfu Hong Kong sebelumnya. Tetapi jelas sekali tujuan kita menonton film Ip Man (bahkan tanpa Ip Man itu sendiri) bukan karena jalan ceritanya, terutama ketika disutradarai oleh sutradara plus koreografi bela diri terbaik satu-satunya Yuen Woo-ping.



    Seperti yang diharapkan, aksi bela diri adalah tujuan utama dari menyaksikan Ip Man, dan hasilnya Zhang Jin yang diarahkan oleh Yuen mampu menjaga pertarungan yang menegangkan. Kita akan dibuat terpana dan menahan napas begitu adegan pertarungan bela diri berlangsung. Salah satu adegan baru dalam dunia bela diri adalah pertarungan sengit di atas papan merek neon Hong Kong yang dieksekusi dengan apik tanpa canggung. Sementara itu harus diakui puncaknya adalah perkelahian langsung di kantor Kwan karena kita akan melihat duel langsung antara Zhang Jin dengan Michelle Yeoh yang menawan. Adegan laganya mengingatkan kita kembali ke film-film laga tua Hong Kong yang sangatbagus pada 1980-an.



    Sangat menyenangkan melihat Michelle Yeoh kembali beraksi dalam film seni bela diri Hong Kong yang baik, dan dia jelas tidak kehilangan sentuhan kungfu-nya. Michelle Yeoh memang bagaikan Meryll Streep Asia (dengan tambahan mampu bela diri sangat baik), karena selain melakukan sendiri bela diri melawan Zhang, beliau juga memancarkan charisma dan akting yang sangat kuat sebagai pemimpin dari mafia Hongkong dan mencoba untuk melegalkan bisnisnya.



    Lalu bagaimana dengan Zhang? Kita tentunya sudah tau bahwa Zhang bisa bertarung, dia tunjukkan dalam film Ip Man 3bahwa dia bisa melakukan peran master seni bela diri yang tersiksa dengan sempurna (bahkan melawan Donnie Yen). Diamemang bukan Donnie Yen, tetapi dia memiliki karisma tertentu yang menjadikannya pahlawan (idola) baru di dunia bela diri.



    Perhatian khusus juga harus ditujukan kepada Dave Bautista, yang melakukan yang terbaik dengan peran stereotip yang diberikan kepadanya. Pertarungan satu lawan satu dengan Zhang adalah salah satu sorotan utama film ini, dan ia bahkan dapat melakukan gerakan WWE yang khas, yaitu Bom Batista. Sungguh menarik melihat mereka berduel bagaikan melihat duel Daud melawan Goliath.



    Film ini diproduksi oleh Donnie Yen, dengan naskah oleh tim yang sama yang menulis trilogi Ip Man sehingga eksekusinya mulus dan tidak pernah ada momen yang membosankan, namun sederhana. Kesederhanaan adalah yang terbaik, dan memungkinkan aksi beladiri yang sangat natural sehingga penonton dibuat percaya dan terkesima bahkan dapat dinikmati sepanjang masa.



    Master Z: The Ip Man Legacy membuktikan bahwa franchise Ip Man masih jauh dari selesai. Di tahun 2019, akan ada kisah Ip Man selanjutnya, tentunya dengan cerita dan pertarungan epik untuk menghibur penonton. Lalu apakah Franchise ini akan semakin besar lagi dan semakin dicintai oleh pecinta film bela diri?


    Overall: 9/10

    (By Ibnu Akbar)

    Friday, December 28, 2018

    ULASAN: MARY POPPINS RETURNS





    Mary Poppins Returns! Kabar gembira bagi seluruh anak di dunia, bahkan juga untuk yang kini bukan anak-anak lagi. Siapa yang tidak kenal Mary Poppins? Pengasuh anak berkekuatan magis, tokoh ciptaan Pamela Lyndon Travers, yang kemudian hak ciptanya dibeli oleh Walt Disney, dan dibuat filmnya pertama kali pada tahun 1964. Julie Andrews sangat sukses memerankan nanny ajaib anak-anak Mr Banks pada film tersebut. Film ini identik dengan banyak lagu indah yang membuat penonton ingin ikut bernyanyi dan menari, serta perpaduan antara tokoh manusia dan karakter animasi. Mary Poppins kembali hadir untuk menyambut natal 2018!



    Apa kabar anak-anak keluarga Banks? Apakah Michael dan Jane Banks sudah menjadi manusia dewasa yang sukses, sesuai didikan Mary Poppins? Mary Poppins (kini diperankan oleh Emily Blunt ) datang kembali ke Jalan Cherry no. 17, untuk menengok anak-anak asuhnya yang kini telah dewasa, setelah 20 tahunan berpisah dari mereka. Michael Banks (Ben Whishaw) sudah memiliki 3 orang anak (John - Nathanael Saleh, Annabel – Pixie Davies, dan George – Joel Dawson), sementara istrinya sudah wafat. Kepergian sang istri membuat hidup Michael tidak karuan. Untungnya, sang adik, Jane (Emily Mortimer) bersedia membantu merawat para ponakan.



    Peristiwa yang dihadapi keluarga Banks yang paling berat adalah ancaman penyitaan rumah mereka, jika Michael tidak berhasil melunasi hutangnya. Satu-satunya cara untuk melunasi hutang tersebut adalah dengan menjual sertifikat saham yang dimiliki oleh Mr Banks (ayah Michael). Sayangnya sertifikat itu tidak berhasil ditemukan, walaupun Michael dan Jane sudah membongkar gudang. Hasil pembongkaran gudang tersebut membuat Michael membuang beberapa barang yang sudah tidak terpakai. Salah satunya adalah laying-layang yang dulu dimainkan Michael dan Jane. George (anak bungsu Michael) menemukan laying-layang itu dan mencoba memainkannya di taman. Saat George mencoba menerbangkan layang-layang, angin bertiup kencang, dari ujung layang-layang itupun turun seorang wanita membawa payung dan koper, dialah Mary Poppins. Kehadiran Mary Poppins dikenali oleh Jack (Lin-Manuuel Miranda), seorang penyuluh (orang yang bertugas menyalakan dan mematikan lampu di jalan-jalan London). Mary Poppins pun kembali mengurusi anak-anak keluarga Banks dengan melakukan berbagai keajaiban. Akankah Mary Poppins tinggal bersama keluarga Banks selamanya? Apakah permasalahan keluarga Banks berhasil teratasi dengan kehadiran Mary Poppins? Silahkan nikmati dunia magis yang dibawa pengasuh cantik ini.



    Julie Andrews sebagai Mary Poppins pada tahun 1964 menolak untuk ikut serta pada film ini, karena ia tidak ingin mencuri perhatian penonton. Dia ingin Emily Blunt menguasai panggungnya sendiri sebagai Mary Poppins. Namun, jika ingin mengenang Mary Poppins tahun 1964, penonton masih bisa menyaksikan acting Dick van Dyke yang dulu berperan sebagai Bert (teman Mary Poppins yang membawa anak-anak ke dunia penuh fantasi). Kali Ini kita akan tetap melihat Dick van Dyke menyanyi dan menari, sebagai Mr. Dawes Jr. Jangan lewatkan juga aksi Meryl Streep pada film ini. Dia berperan sebagai Topsy, sepupu Mary Poppins yang juga tidak kalah ajaib. Memasuki lorong tempat rumah Topsy berada, akan membuat para penggemar Harry Potter merasa memasuki Diagon Alley.



    Dari awal hingga akhir film, penonton akan diajak bernyanyi. Lagu-lagu indah pada film ini di antaranya: Can You Imagine That?; (Underneath the) Lovely London Sky; A Cover is not the Book; The Place Where Lost Things Go; dan Turning Turtle.

    Overall: 9/10

    (By Aisyah Syihab)

    ULASAN: ELLIOT 'THE LITTLEST REINDEER'



    Sebagai film natal, “Elliot: The Littlest Reindeer” akan membawa penonton mengunjungi Santa dan melihat kehidupan di sekitarnya. Film animasi ini bercerita tentang seekor kuda poni bernama Elliot (diisi vokal oleh Josh Hutcherson- Hunger Games sebagai Peeta Mellark), di suatu perternakan bernama North Dakota reindeer farm/petting zoo yang memiliki mimpi yang besar. Elliot ingin menjadi reindeers (kawanan rusa yang membawa kereta Santa keliling dunia untuk mengantarkan hadiah pada anak-anak).



    Keinginan Elliot ini menjadi bahan ejekan teman-temannya, baik sesama kuda, maupun para rusa peliharaan Walter (Rob Tinkler – Dig to China). Walaupun begitu, Elliot memiliki satu supporter yang sangat membantunya untuk mewujudkan keinginannya itu, yaitu Hazel (Samantha Bee – Full Frontal with Samantha Bee), seekor kambing yang menjadi teman dekat Edlliot. Hazel bahkan juga menjadi pelatih dan “manajer” Elliot. Tiap hari Elliot berusaha berlatih agar dapat mengimbangi kelincahan para rusa. Sampai pada suatu hari, tersiar berita dari reporter bernama Corkie (Morena Baccarin – Deadpool, sebagai Vanessa), bahwa Santa membutuhkan reindeer baru (George Buza – A Christmast Horror Story, sebagai Santa). Maka diadakanlah audisi untuk mencari seekor reindeer. Perternakan milik Walter pun mengirimkan rusa terbaik untuk mengikuti audisi tersebut, yaitu DJ (Christopher Jacot – Manhattan Undying). DJ merupakan rusa angkuh dan ambisius, dia sangat berambisi menjadi reindeers, karena ayahnya pun adalah seekor reindeer. Elliot dan Hazel tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, mereka pun ikut pergi secara diam-diam. Pada audisi, berbagai konflik terjadi, akankah Elliot berhasil mencapai cita-citanya?



    Film animasi berdurasi 1 jam 29 menit ini hanya ringan dinikmati pada beberapa menit awal. Selanjutnya, konflik-konflik pada film terasa berat, terutama jika harus tonton anak-anak. Konflik yang diangkat misalnya mengenai rasis (rasis pada spesies tertentu) dan berbagai tindakan curang. Namun, bagi orang dewasa yang sudah memahami konflik-konflik tersebut, alur cerita dirasa sangat lambat dan menimbulkan rasa kantuk. Bagaimanapun filmnya, tapi seperti film natal pada umumnya, banyak nilai yang bisa dipetik dari film ini, dan masih bisa dinikmati bersama keluarga.



    Selamat mengunjungi Santa melalui film karya Jennifer Westcott, yang diproduksi oleh Awesometown Entertainment, Double Dutch International, dan Elgin Road!

    Overall: 6/10

    (By Aisyah Syihab)