Thursday, May 31, 2018

ULASAN: TULLY




Wanita dan kemampuan mereka untuk melakukan beberapa pekerjaan dalam satu waktu adalah memang sebuah anugrah, yang kemampuannya mulai benar-benar diuji saat sudah berkeluarga dan memiliki buah hati. To do all multitasking stuff really consume their energy, that most women become exhausted. Itu pun terjadi pada protagonis kita, Marlo, yang diperankan oleh Charlize Theron. Ibu dari dua anak yang sekarang juga baru saja melahirkan anak ketiganya.



Kehadiran anak ketiga membuat suasana di rumah menjadi begitu berat bagi Marlo. Bertambahnya anak tentu saja harus disertai sokongan uang yang lebih, hal ini membuat Drew, sang suami, yang diperankan oleh Ron Livinston, harus bekerja lebih keras. Satu-satunya hiburan bagi Drew adalah bermain videogame setelah pulang kerja. Melihat demikian, Marlo memilih mengurus rumah tangga sendiri, enggan meminta tolong pada suami yang sudah kelelahan.



Film ini dengan ramahnya menceritakan kisah mengenai persoalan yang familiar mengenai motherhood, juggling terhadap waktu dalam memberikan porsi memperhatikan setiap hal kecil untuk masing-masing anak, dan juga untuk suami, hingga keadaan membuat si ibu harus mengesampingkan kebutuhannya untuk memenuhi ‘kehidupannya pribadinya’ sendiri. Beruntungnya script yang ditulis oleh Diablo Cody tak men-judge betapa menyebalkannya berada dalam situasi tersebut.



Melihat keadaan Marlo yang semakin lama semakin tertekan, adiknya menawarkan untuk menghadirkan pengasuh untuk meringankan beban Marlo, sehingga ia dapat tidur nyenyak di malam hari. Kehadiran Tully, sang pengasuh khusus di malam hari diperankan oleh Mackenzie Davis, justru menggugah pemikiran Marlo, bahwa ia ternyata membutuhkan pertolongan. Mengingatkan pada sebuah scene dalam episode crossover dari serial tv How to Get Away with Murder dengan Scandal, bahwa kesalahan yang sering kali dilakukan oleh orang yang sedang mengalami krisis adalah tidak mengetahui dirinya berada dalam keadaan kritis.



Bukan hanya itu, ‘baterai’ Marlo seperti telah diisi ulang kembali. Hubungan Marlo-Tully tak dibuat berada dalam hubungan intim percintaan, namun hubungan mengenai wanita yang lebih berumur yang gamang atas hidupnya dan mengagumi sosok wanita yang lebih muda. Sosok yang membuatnya rindu pada sosok diri mereka sendiri di masa keemasan. Screen-time antara Marlo dan Tully sesungguhnya bisa dikatakan cukup untuk membangun ikatan mereka, namun rasanya kurang sedikit lagi dalam menguatkan ikatan kebutuhan Marlo akan kehadiran Tully.



Sayangnya pada babak akhir yang mengungkap lapisan plot justru membuat film ini menurun. Belum lagi pengungkapan tersebut justru dapat menghancurkan plot yang sudah dibangun dengan apiknya. Tully, menceritakan kisah sederhana yang beruntuknya disokong oleh performa yang sangat baik.

(By Anissa Anugra






Subscribe to this Blog via Email :