Sunday, April 7, 2019

ULASAN: SHAZAM!




Berbenah, itulah yang coba dilakukan Warner Bros/DC Comics dalam menata timeline atau superhero mana lagi yang akan diproduksi filmnya dalam DC Universe di layar lebar. Meskipun dari  film superhero yang dimunculkan seperti mengabaikan film sequel Man of Steel yang seharusnya mendapat prioritas karena keinginan fans, sampai saat ini tidak mendapatkan kejelasan. Lalu film solo Batman yang awalnya simpang-siur akhirnya mendapatkan film solonya  sendiri harus dibayar dengan perginya Ben Affleck dari peran Bruce Wayne/Batman. Seakan belum lengkap, sequel Justice League yang seharusnya menjadi puncak karakter-karakter superhero DC juga hanya tinggal di awang-awang. WB/DC seperti makin menjauh dari Justice League. Sepertinya WB/DC makin berhati-hati setelah hasil film Justice League pertama yang tidak memuaskan dan fokus pada film solo superhero mereka. Strategi itu mulai berhasil dimulai dari Wonder Woman (2017), lalu diikuti oleh Aquaman (2018) dan sekarang Shazam! akan mencoba peruntungan selanjutnya.



Untuk perjalanannya di komik, Shazam bisa dikatakan sudah cukup populer yang bisa disandingkan dengan trinity DC seperti Superman, Batman dan Wonder Woman. Tapi sayangnya peruntungannya di layar lebar tidak semulus Superman dan Batman. Mungkin itu yang menjadi salah satu alasan WB/DC menunda sequel MoS, Batman atau Justice League agar memberikan karakter lainnya yang tidak kalah menarik, dan Shazam adalah satunya. Disutradarai oleh David F. Sandberg (Lights Out, Annabelle: Creation) film layar Shazam membawa nama-nama aktor cilik yang akan menjadi pondasi plot cerita yang dipimpin oleh dua aktor dewasa Zachary Levy dan Mark Strong.



Seorang anak yatim piatu bernama Billy Batson (Asher Angel) yang sering berpindah-pindah orang tua asuh karena bermasalah. Dan perhentian orang tua asuh selanjutnya Billy diasuh oleh pasangan suami-istri Victor (Cooper Andrews) dan Rosa Vasquez (Marta Millians) dan memperkenalkannya pada anak-anak asuh lainnya mulai dari Freddy (Jack Dylan Grazer), Mary (Grace Fulton), Eugene (Ian Chen), Pedro (Jovan Armand), dan Darla (Faithe Herman). Suatu hari pada sebuah kejadian misterius, Billy bertemu dengan seorang penyihir yang sudah melemah mencari penerusnya dan memilih Billy karena memenuhi persyaratan yang membuatnya memiliki kekuatan super dan berubah dalam tubuh orang dewasa dengan hanya menyebutkan kata 'Shazam'.



Billy yang masih mencoba beradaptasi dengan kekuatan barunya didampingi oleh Freddy mencoba mencari tahu sampai mana batas dari kekuatan yang dimiliki oleh tubuh dewasa Shazam (Zachary Levi). Sebuah kesenangan yang  mewarnai hari-hari mereka berdua mulai menarik perhatian ketika Dr. Thaddeus Sivana (Mark Strong) muncul untuk mengejar kekuatan yang dimiliki Billy. Dr. Sivana terobsesi dan sangat ingin memiliki kekuatan Shazam itu tidak hanya mengancam nyawa Billy sendiri, tetapi juga mulai mengancam semua nyawa keluarga barunya. Bisa kah Billy yang dibantu Freddy memaksimalkan kekuatan besar yang dimilikinya untuk melindungi nyawa-nyawa keluarga asuhnya ? Dan kenapa Dr. Sivana sangat ingin memiliki keuatan Shazam ? Jawaban yang bisa ditemui lewat filmnya secara langsung.



Film keluarga, itulah yang pertama kali kata yang muncul untuk mendeskripsikan setelah menonton 'Shazam'. Sesuatu hal yang baru dari film-film universe superhero DC yang a  oleh Man of Steel (2013). Dan karena memang karena kentalnya dengan film keluarga meskipun cerita dibuka dengan prolog masa lalu Dr. Sivana, film Shazam! yang berjalan secara naratif ini akan mudah dipahami oleh anak-anak sekalipun. Dari plot cerita makin menarik sejak a kali munculnya transformasi Billy ke tubuh Shazam. Bahkan untuk penggemar komiknya sekalipun akan bisa menikmati plot cerita karena hampir 90% plot cerita mengadaptasi origin Shazam pada komiknya di reboot semua karakter DC Comics yang disebut dengan New 52. Bisa dibilang Shazam! adalah film adaptasi yang sangat mendekati komiknya. Yang menjadi pembeda adalah jika pada komik Shazam langsung menghadapi musuh bebuyutannya Black Adam, maka posisinya untuk film pertama diganti ke Dr. Sivana. Hal yang mungkin sangat disayangkan mungkin untuk sebagian fans komiknya.



Jika plot cerita tidak ada masalah, maka untuk para pemain sangat mudah sedikit merasa mengganjal. Transformasi karakter Billy ke Shazam salah satunya. Seperti yang kita tahu Billy dan Shazam adalah orang yang sama dengan tubuh yang berbebeda yang harusnya mempunyai karakter yang sama, tetapi hal itu sangat terasa sangat kontras berbeda. Billy yang masih dengan kepribadian bermasalah mengontrol emosi menjadi sangat menjadi karakter yang terlalu kanak-kanak pada tubuh Shazam yang diperankan Zachary Levy. Jika kamu tidak mempermasalahkan itu, maka kamu akan sangat terhibur dengan penampilan Zachary Levy yang sangat komikal.



Lalu jika kamu mengharpkan sebuah adegan final pertarungan yang seru seperti film kebanyakan maka sebaiknya menurunkan ekspetasi. Duel Shazam versus Dr Sivana dan wujud 7 dosa besarnya seperti ala kadarnya saja yang bisa dibandingkan dengan film-film serial tv DC seperti The Flash. Agak mengecewakan memang meskipun ada sedikit kejutan ketika 5 anak asuh lainnya mencoba memantu Shazam melawan Dr. Sivana.



WB/DC sepertinya ingin sedikit melunak dalam hal menampilkan visual para superheronya yang diidentikan dengan tone dark dan serius seperti film-film sebelumnya yang dimulai lewat Aquaman yang terbukti sukses. Dan sekarang diikuti oleh Shazam yang mempunyai potensi cukup besar di sequelnya nanti yang mungkin bisa membayar segara kekurangan di film pertama ini yang budgetnya sendiri jauh dibawah Man of Steel, Wonder Woman, BvS dan Aquaman sekalipun. Untuk saat ini kita cukup berdoa film pertama ini akan sukses, karena dengan segala kekurangannya Shazam! masih sangat menghibur untuk ditonton bersama keluarga.


Overall: 7,5/10

(By Zul Guci)

Subscribe to this Blog via Email :