Friday, March 13, 2020

ULASAN: BLOODSHOT



Adaptasi dari komik, novel maupun game yang sudah dikenal dan memiliki fanbase yang kuat selalu menarik Hollywood untuk memfilmkannya walaupun kesuksesannya mungkin hanya 1 berbanding 10. Satu lagi film superhero yang diadaptasi dari komik berjudul Bloodshot hadir di layar lebar pada tahun 2020 ini. Bloodshot merupakan karakter superhero dari Valiant Comics yang terbit tahun 1992. Bloodshot direncanakan sebagai film pertama dari shared cinematic universe dari tokoh-tokoh superhero yang berasal dari Valiant Comics. Film ini disutradarai oleh David S. F. Wilson dalam debut awalnya dengan screenplay dari Jeff Wadlow dan Eric Heisserer serta cerita oleh Wadlow. Film ini dibintangi Vin Diesel, Eiza González, Sam Heughan, Toby Kebbell, dan Guy Pearce. Awalnya film ini direncanakan dibintangi oleh Jared Leto hingga awalnya digantikan di Maret 2018 oleh Vin Diesel. Bloodshot dirilis di US pada 11 Maret di Indonesia dan 13 Maret di US oleh Sony Pictures Releasing.



Ray Garrison (Vin Diesel) adalah seorang prajurit Angkatan Laut (mariner) yang mengalami nasib nahas ketika berlibur bersama istrinya Gina (Talulah Riley). Mereka disiksa dan dibunuh oleh sekelompok orang tak dikenal karena misi terakhir Ray di Mombasa, Kenya. Tidak lama Ray dihidupkan kembali menggunakan nanoteknologi oleh sekelompok ilmuwan yang dipimpin oleh dr. Emil Harting (Guy Pearce). Darah dalam tubuh ray digantikan oleh Nanites (organisme nano) yang memberi kemampuan manusia super pada Ray serta skill lain yang memampukannya mengakses berbagai perangkat teknologi dan database global seluruh organisasi di dunia secara tidak terbatas. Ray dipertemukan dalam tim prajurit super versi Harting yang meliputi KT (Eiza González), Jimmy Dalton (Sam Heughan) dan Tibbs (Alex Hernandez). Masing-masing dari mereka sudah ditingkatkan kemampuannya akibat cacat fisik yang sebelumnya mereka alami. Ray berusaha mengingat masa lalunya sampai akhirnya ingatan nasib nahas yang menimpanya perlahan kembali menghantui. Ray berusaha menyelidiki hal tersebut dan menemukan bahwa ada konspirasi besar di balik ingatan masa lalunya dan motivasi pembangkitan kembali dirinya dari kematian.



Dari segi narasi, film Bloodshot menawarkan cerita adaptasi yang cukup fresh dan berbeda dari komiknya namun permasalahan film ini terletak pada akting Vin Diesel yang tidak dapat memberikan kedalaman untuk karakter Bloodshot yang ia perankan. Kita tidak akan dapat membedakan karakter Ray dan Dominic Toretto dari saga Fast and Furious karena keterbatasan kemampuan Vin Diesel untuk keluar dari stereotipe perannya sebagai karakter jagoan yang hampir sama di setiap film yang ia bintangi. Kualitas akting Vin DIesel nampak seperti berjalan di tempat saja. Durasi 109 menit lebih didominasi pada adegan aksi dan visual efek yang cukup detil dan memanjakan mata, ceritanya pun diberikan sedikit twist yang cukup tidak terduga namun hal ini tidak cukup untuk menyelamatkan film ini karena kualitas akting Vin Diesel yang tidak membuat kita terhubung dengan karakter sang superhero Bloodshot. Chemistry Ray dan Istrinya di awal cerita pun terasa superfisial dan kurang meyakinkan. Dinamika Ray dan para prajurit super lainnya juga dirasa kurang kecuali dengan KT. Karakter Tibbs dan Jimmy begitu under-used dan sekedar lewat saja, padahal jika penonton diberikan background soal masa lalu mereka akan menjadi menarik. Kalaupun ada karakter yang mencuri perhatian dalam film ini, karakter itu adalah Wilfred Wigans (Lamorne Morris) yang baru muncul di pertengahan cerita namun mampu menaikkan antusiasme penonton. Ambisi film ini untuk menjadi genre drama tentang superhero nampaknya masih jauh dari kata berhasil.



Visual efek dan CGI super keren adalah jualan utama yang patut diapresiasi dalam film ini tetapi sayangnya hal itu saja tidak akan cukup untuk mendongkrak cerita film ini. Terasa sekali kalau tidak ada emosi atau nilai-nilai yang diselipkan dalam film ini. Wiison sebagai sutradara sebetulnya bisa lebih banyak mengangkat isu humanis dan sosial dalam film ini terkait nasib para veteran perang yang mengalami cacat fisik dan PTSD. Isu yang diangkat dalam film ini hampir tidak menyinggung sama sekali soal itu dan hanya berfokus pada pengembangan teknologi sibernetik dan implantasi teknologi augmentasi yang diperlihatkan dapat mengembalikan kepercayaan diri para veteran perang sekaligus meningkatkan kemampuan fisik mereka. Seharusnya teknologi augmentasi tersebut bisa diimbangi dengan dampak secara moral dan psikologis terhadap para veteran perang tersebut sekaligus terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar. Hal ini membuat penonton tidak mendapatkan pesan atau pelajaran yang dapat dipetik ketika menyaksikan film ini selain dari pameran imajinasi kecanggihan teknologi di masa depan semata.


Overall: 6.5/10

(By Camy Surjadi)


Subscribe to this Blog via Email :