Thursday, March 19, 2020

ULASAN: MY SPY



Formula film keluarga yang memasangkan aktor berotot (biasanya polisi atau mantan anggota militer) dengan anak-anak cukup sering digunakan di Hollywood, untuk role modelnya sendiri dapat kita lihat pada Schwarzenegger (Kindergarten Cop), Hulk Hogan (Mr Nanny, Suburban Commando), Dwayne Johnson (melibatkan hampir sebagian besar filmografinya), bahkan Vin Diesel pun pernah mencoba genre ini (The Pacifier). Formula ini ada yang berhasil mengocok perut tetapi tak sedikit pula yang tidak lucu dan malah cenderung aneh. Kali ini giliran Dave Bautista yang mencoba genre ini dengan lawan mainnya Chloe Coleman sebagai anak kecil yang harus dijaganya dan seringkali menimbulkan kesulitan bagi aksinya. Film action comedy ini disutradarai oleh Peter Segal dan ditulis oleh Jon dan Erich Hoeber untuk ceritanya. Film ini juga dibintangi oleh Kristen Schaal dan Ken Jeong. Film ini dirilis di Australia pada 9 Januari 2020, disusul di UK pada 13 Maret 2020 serta 17 April 2020 di US.



Alkisah J.J. (Dave Bautista) adalah seorang agen CIA yang lihai dalam menghabisi musuh-musuh berbahaya AS namun meiliki kekurangan dalam social skill sehingga seringkali menimbulkan kerugian besar bagi CIA. Dalam misi terakhirnya semua musuh mati dan bahan plutonium untuk pembuatan senjata nuklir dibawa kabur oleh seorang teroris yang tidak ikut terbunuh. Kim Trang (Ken Jeong) karena kesal masih memberikan kesempatan terakhir untuk J.J. dalam misi domestik untuk mengintai seorang ibu, Kate (Parisa Fitz-Henley) dan anak perempuannya yang berumur 9 tahun Sophie (Chloe Coleman) yang baru saja kembali dari Paris dan diduga memiliki keterkaitan dengan Marquez (Greg Byrk) terduga teroris yang tidak lain adalah paman dari Sophie. Dalam misi pengintaian ini J.J. juga harus menerima dipasangkan dengan partner tech expert Bobbi (Kristen Schaal) yang ceroboh dan gemar menlontarkan humor sarkas. Usaha pengintaian mereka terbongkar oleh Sophie berkat kelihaiannya dan ia mengancam akan membocorkannya ke social media jika J.J. tidak membantunya memberi pengetahuan dan pelatihan menjadi agen rahasia. Akankah J.J. tetap berhasil menuntaskan misinya atau malah terjebak kesulitan yang lebih runyam akibat Sophie?



Sehabis menonton film ini, saya merasa cukup senang karena film ini berada sedikit di atas ekspektasi saya karena awalnya saya ragu dengan premis film ini serta cast utamanya yang adalah Dave Bautista. Namun stigma saya berubah setelah melihat bahwa dengan sedikit perbaikan cerita sebetulnya film ini punya potensi menjadi film keluarga yang memorable. Durasi 99 menit sudah dimaksimalkan untuk membawakan narasi cerita yang sebetulnya cukup aneh dan tidak masuk logika untuk kategori film mata-mata. Namun kita kesampingkan dahulu logika karena memang jualan utama film ini adalah komedi yang ramah ditonton oleh seluruh keluarga. Kelemahan film ini ada pada cerita yang tidak begitu terstruktur dengan baik dan semua masalah terkesan bisa diselesaikan dengan mudah. Tidak bisa dipungkiri kedalaman hubungan J.J dan Sophie terbangun dengan baik, demikian pula dengan Kate sehingga membuat kita berempati dan terhubung dengan keluarga ini. Begitu pula peran Bobbi yang menambah semarak unsur komedi dalam film ini. Film ini cocok untuk melepas kejenuhan karena ceritanya yang ringan dan cukup straightforward, konklusinya pun ditutup dengan cukup menarik dan cukup menyentuh.



Melihat kesuksesan Dwayne Johnson (The Rock) bertransformasi menjadi aktor Hollywood kelas A yang sangat sukses, rekan-rekannya dari dunia wrestling (olahraga gulat) yang sama turut mencoba peruntungan. Steve Austin, Kevin Nash, Kane Hodder, Randy Savage, Hulk Hogan, John Cena dan Dave Bautista adalah beberapa nama-nama yang mencoba meraih popularitas terutama di genre action. Dari nama-nama tersebut John Cena perlahan mulai menunjukkan peningkatan dalam setiap film yang ia bintangi dan skala filmnya pun ikut bergerak naik, Steve Austin hanya berhasil menjadi aktor film-film kelas B, Kane lebih dikenal sebagai karakter antagonis dan sekarang sepertinya sudah tidak terdengar lagi. Dave Bautista sendiri sepertinya masih dalam proses mencari bentuk dan formula karakter yang pas untuknya, perannya sebagai Drax di saga marvel cukup melambungkan namanya namun karakter yang ia perankan di film-filmnya masih kurang menampilkan banyak dimensi. Dalam My Spy, nampaknya ia menunjukkan kemampuan aktingnya yang mulai meningkat dan cukup “organik” dengan semua lawan mainnya, baik itu dengan Chloe, Kristen, maupun Parisa. Ia erlihat cukup santai dan seperti menjadi dirinya sendiri. Chloe dan Bobbi adalah dua cast scene stealer dalam film ini karena mereka mampu menghadirkan kelucuan dan hal-hal tak terduga sepanjang film. Untuk karakter antagonis tidak ada yang special karena memang sengaja diadakan untuk pelengkap cerita saja.



Segal nampaknya ingin menampilkan film keluarga yang tidak sekedar berfokus pada cerita aksi namun memiliki pesan moral mengenai kepercayaan dan persahabatan. Segal juga memasukkan unsur cinta dan bagaimana kehidupan menjadi ibu single parent yang lumayan kuat di sepanjang film ini. Interaksi yang terbangun antara Dave dan Sophie cukup baik dan berimbang, demikian pula chemistry antara Dave dan Parisa yang sayangnya hanya digambarkan sebentar karena Segal lebih ingin berfokus pada dinamika akting Dave dan Sophie. Film ini mengandung pesan kuat soal pentingnya kejujuran dalam membina hubungan apapun yang digambarkan melalui hubungan asmara J.J. dan Kate karena motivasi awal J.J. adalah mencari cara agar dapat dekat dengan keluarga Sophie agar tidak ketahuan motif sebenarnya. Dari sisi persahabatan Segal memberi kontras yang menarik antara hubungan J.J dengan Sophie dan J.J. dengan Bobbi, bahwa persahabatan seharusnya tulus dan tidak pilih-pilih atau karena asas manfaat. Segal berhasil merangkai adegan dan cerita dalam film untuk menyampaikan pesan-pesan tersebut secara santai dengan kadar humor yang pas. Film ini cocok ditonton bersama keluarga dan membuktikan bahwa Dave Bautista layak diberi kesempatan bermain film sejenis ini lagi.

Overall: 7/10
(By Camy Surjadi)


Friday, March 13, 2020

ULASAN: BLOODSHOT



Adaptasi dari komik, novel maupun game yang sudah dikenal dan memiliki fanbase yang kuat selalu menarik Hollywood untuk memfilmkannya walaupun kesuksesannya mungkin hanya 1 berbanding 10. Satu lagi film superhero yang diadaptasi dari komik berjudul Bloodshot hadir di layar lebar pada tahun 2020 ini. Bloodshot merupakan karakter superhero dari Valiant Comics yang terbit tahun 1992. Bloodshot direncanakan sebagai film pertama dari shared cinematic universe dari tokoh-tokoh superhero yang berasal dari Valiant Comics. Film ini disutradarai oleh David S. F. Wilson dalam debut awalnya dengan screenplay dari Jeff Wadlow dan Eric Heisserer serta cerita oleh Wadlow. Film ini dibintangi Vin Diesel, Eiza González, Sam Heughan, Toby Kebbell, dan Guy Pearce. Awalnya film ini direncanakan dibintangi oleh Jared Leto hingga awalnya digantikan di Maret 2018 oleh Vin Diesel. Bloodshot dirilis di US pada 11 Maret di Indonesia dan 13 Maret di US oleh Sony Pictures Releasing.



Ray Garrison (Vin Diesel) adalah seorang prajurit Angkatan Laut (mariner) yang mengalami nasib nahas ketika berlibur bersama istrinya Gina (Talulah Riley). Mereka disiksa dan dibunuh oleh sekelompok orang tak dikenal karena misi terakhir Ray di Mombasa, Kenya. Tidak lama Ray dihidupkan kembali menggunakan nanoteknologi oleh sekelompok ilmuwan yang dipimpin oleh dr. Emil Harting (Guy Pearce). Darah dalam tubuh ray digantikan oleh Nanites (organisme nano) yang memberi kemampuan manusia super pada Ray serta skill lain yang memampukannya mengakses berbagai perangkat teknologi dan database global seluruh organisasi di dunia secara tidak terbatas. Ray dipertemukan dalam tim prajurit super versi Harting yang meliputi KT (Eiza González), Jimmy Dalton (Sam Heughan) dan Tibbs (Alex Hernandez). Masing-masing dari mereka sudah ditingkatkan kemampuannya akibat cacat fisik yang sebelumnya mereka alami. Ray berusaha mengingat masa lalunya sampai akhirnya ingatan nasib nahas yang menimpanya perlahan kembali menghantui. Ray berusaha menyelidiki hal tersebut dan menemukan bahwa ada konspirasi besar di balik ingatan masa lalunya dan motivasi pembangkitan kembali dirinya dari kematian.



Dari segi narasi, film Bloodshot menawarkan cerita adaptasi yang cukup fresh dan berbeda dari komiknya namun permasalahan film ini terletak pada akting Vin Diesel yang tidak dapat memberikan kedalaman untuk karakter Bloodshot yang ia perankan. Kita tidak akan dapat membedakan karakter Ray dan Dominic Toretto dari saga Fast and Furious karena keterbatasan kemampuan Vin Diesel untuk keluar dari stereotipe perannya sebagai karakter jagoan yang hampir sama di setiap film yang ia bintangi. Kualitas akting Vin DIesel nampak seperti berjalan di tempat saja. Durasi 109 menit lebih didominasi pada adegan aksi dan visual efek yang cukup detil dan memanjakan mata, ceritanya pun diberikan sedikit twist yang cukup tidak terduga namun hal ini tidak cukup untuk menyelamatkan film ini karena kualitas akting Vin Diesel yang tidak membuat kita terhubung dengan karakter sang superhero Bloodshot. Chemistry Ray dan Istrinya di awal cerita pun terasa superfisial dan kurang meyakinkan. Dinamika Ray dan para prajurit super lainnya juga dirasa kurang kecuali dengan KT. Karakter Tibbs dan Jimmy begitu under-used dan sekedar lewat saja, padahal jika penonton diberikan background soal masa lalu mereka akan menjadi menarik. Kalaupun ada karakter yang mencuri perhatian dalam film ini, karakter itu adalah Wilfred Wigans (Lamorne Morris) yang baru muncul di pertengahan cerita namun mampu menaikkan antusiasme penonton. Ambisi film ini untuk menjadi genre drama tentang superhero nampaknya masih jauh dari kata berhasil.



Visual efek dan CGI super keren adalah jualan utama yang patut diapresiasi dalam film ini tetapi sayangnya hal itu saja tidak akan cukup untuk mendongkrak cerita film ini. Terasa sekali kalau tidak ada emosi atau nilai-nilai yang diselipkan dalam film ini. Wiison sebagai sutradara sebetulnya bisa lebih banyak mengangkat isu humanis dan sosial dalam film ini terkait nasib para veteran perang yang mengalami cacat fisik dan PTSD. Isu yang diangkat dalam film ini hampir tidak menyinggung sama sekali soal itu dan hanya berfokus pada pengembangan teknologi sibernetik dan implantasi teknologi augmentasi yang diperlihatkan dapat mengembalikan kepercayaan diri para veteran perang sekaligus meningkatkan kemampuan fisik mereka. Seharusnya teknologi augmentasi tersebut bisa diimbangi dengan dampak secara moral dan psikologis terhadap para veteran perang tersebut sekaligus terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar. Hal ini membuat penonton tidak mendapatkan pesan atau pelajaran yang dapat dipetik ketika menyaksikan film ini selain dari pameran imajinasi kecanggihan teknologi di masa depan semata.


Overall: 6.5/10

(By Camy Surjadi)


Wednesday, March 4, 2020

ULASAN: ONWARD



Agenda rutin tahunan yang dilakukan di awal tahun adalh membuat list film-film yang wajib kamu tonton di bioskop di tahun tersebut. Bukan bermaksud sok tahu, tapi saya yakin jika film animasi Pixar pasti ada dalam daftar kamu tersebut. Standard dari animasi Pixar dari penyajian cerita yang lebih terasa unik dan personal untuk penontonnya dan kualitas animasi yang makin meningkat di tiap film terbarunya sudah menjadi acuan utama kita kenapa film animasi Pixar harus dimasukan dalam film yang harus ditonton di bioskop. Untuk tahun 2020 ini ada dua film Pixar yang akan tayang, yang pertama adalah Onward dan Soul. Dan film yang kita ulas kali ini tentu saja Onward, film yang plot ceritanya dengan latar fantasi-modern.



Onward bercerita ketika sebuah dunia yang pada awalnya dipenuhi dengan kekuatan sihir dan makhluk ajaib yang perlahan menghilang tergerus oleh kemajuan teknologi dan makin malasnya makhluk-makhluk tersebut untuk mempelajari sihir karena sangat sulit untuk dipelajari dan tidak sepraktis teknologi. Lalu cerita berpindah pada karakter utama kita Ian Lightfoot (Tom Holland) yang hidup di masa sekarang yang baru saja berulang tahun ke-16. Sang Elf muda ini mendapatkan hadiah yang sangat luar biasa dari sang Ibu (Julia Louis-Dreyfus). Sebuah tongkat sihir yang merupakan warisan sang Ayah, Wilden Lightfoot (Kyle Bornheimer), yang sudah meninggal sebelum Ian lahir. Dari pesan wasiat yang ditinggalkan, hadiah itu boleh diberikan ketika Ian dan Barley (Chris Pratt) sudah mencapai umur 16 tahun.



Hadiah tersebut ternyata berupa sebuah tongkat sihir, sebuah Phoenix Gem, dan catatan mantra yang bisa mengembalikan ayah mereka selama satu hari penuh ke dunia nyata. Sebuah mantra yang membuat orang mati kembali lagi ke dunia fana selama 24 jam. Sesuatu hal yang sangat diinginkan oleh Ian, bisa menemui ayahnya yang tidak pernah ditemui seumur hidupnya. Dipandu oeh Barley yang mengetahui seluk beluk “dunia lama”, Barley mencoba tongkat tersebut seharian tanpa hasil. Sampai akhirnya Ian yang secara awalnya sudah pesimis dan menganggap sihir hanyalah sebuah legenda mencoba merapalkan mantra dengan tongkat tersebut yang diluar dugaan berhasil. Tapi sayangnya mantra tersebut hanya berhasil berjalan setengahnya ketika phoenix gem hancur dan tubuh sang ayanh hanya terbentuk setengahnya dari pinggang sampai kaki. Berawal dari sana Barley dan Ian memutuskan mencari phoenix gem lainnya yang terdapat pada suatu tempat dengan panduan peta boardgame yang menurut Barley itu semua berdasarkan fakta. Berpacu dengan waktu dimulailah petualangan mereka berdua untuk mendapatkan phoenix gem tersebut dan bisa menjumpai ayah mereka.


Diatas saya sudah sempat menyebutkan salah satu alasan kenapa film-film Pixar cukup berkesan bagi kita adalah karena mempunyai plot cerita yang unik dan terasa personal untuk penontonnya. Hal itu kembali berulang lewat Onward. Dengan background dunia fantasi mungkin tidak semua orang bisa relate, tetapi dengan komposisi yang menceritakan hubungan antara dua orang adik-kakak tentu hampir sebagian besar kita mengalaminya. Bahkan jika kamu anak tunggal sekalipun akan mudah terlibat dalam ceritanya. Siap-siap saja merasakan momen-momen dari tawa hingga momen bawang merah yang membuat pengalaman kamu menonton Toy Story, Coco dan film-film Pixar lainnya akan terulang.


Kekuatan film ini selain dari visual yang sangat memanjakan mata ada pada pengisi suara. Terutama pengisi suara Barley yang diisi oleh Chris Pratt. Buat saya dialah nyawa lain film ini. Bukan berarti saya mengenyampingkan pengisi suara lainnya, hanya saja Chris Pratt memberikan sentuhan lain pada karakternya yang seingat saya belum pernah saya lihat di film lainnya. Padahal karakter ceria dan komikal bukanlah karakter pertama Chris Pratt yang kita lihat. Tapi sekali lagi ada pembeda yang kita rasakan pada karakter Barley yang menurut saya mengendalikan emosi penonton sepanjang film. Sedangkan Tom Holland ? Well, sangat mudah merasakan jika karakter Ian sangat Tom Holland di film-film lainnya. Tetapi hal itu bukan karena Tom Holland yang tidak mendalami karakternya, tetapi lebih kepada karakter Ian yang memang lebih seperti Tom Holland film lain. Mungkin salah satu alasan Tom Holland dipilih mengisi suara Ian adalah karena hal itu.


Lewat Onward Pixar kembali menyajikan sebuah film yang menghibur dan emosional sekaligus untuk penontonnya. Dengan cerita yang ringan dan personal siapapun bisa menikmatinya. Tontonan yang sangat sayang dilewatkan begitu saja.


Overall: 9/10

(By: Starbaq Man)