Showing posts with label Adipati Dolken. Show all posts
Showing posts with label Adipati Dolken. Show all posts

Monday, November 22, 2021

DRAMA-ROMANCE YANG MENGANGKAT PASANGAN BERBEBEDA KEYAKINAN DALAM 'AKHIRAT: A LOVE STORY'




BASE Entertainment bekerja sama dengan Studio Antelope bersiap meluncurkan film debut panjang sutradara dan penulis naskah Jason Iskandar. Film yang dibintangi Adipati Dolken dan Della Dartyan ini menyajikan kisah fantasy romance yang ringan namun mempunyai filosofi mendalam tentang hubungan antar manusia, bukan hanya percintaan tapi juga keluarga. Film cinta dengan sudut pandang unik ini akan tayang 2 Desember di seluruh bioskop Indonesia.



Film bercerita mengenai dua anak manusia, Timur (Adipati Dolken) dan Mentari (Della Dartyan) yang memiliki agama berbeda. Tapi, keduanya jatuh cinta dan berjanji untuk terus bersama. Suatu hari, kecelakaan membuat keduanya berpindah dunia. Di dunia yang baru dan berbeda ini, mereka diberi kesempatan kedua untuk akhirnya bisa bersama tanpa halangan apapun. Apakah akhirat akan memisahkan, atau menyatukan mereka?



Shanty Harmayn, produser dari BASE Entertainment menyatakan, “Melalui film perdananya, Jason berusaha mengajak penonton untuk berpikir mengenai hubungan antar manusia. Diceritakan dengan cara yang menghibur melalui dua orang yang saling jatuh cinta namun harus terhalang oleh keinginan keluarga. Dengan dibalut unsur fantasi dan musik yang membawa penonton masuk ke cerita film.”



Adipati dan Della bermain dengan performa yang baik, keduanya mampu menjadi pasangan yang menggemaskan, meski dalam situasi yang sulit. Mereka sanggup membawakan kisah yang tak biasa ini menjadi sesuatu yang mudah dicerna. Chemistry keduanya menjadi nyawa utama dari film ini.


Menjelang perilisan, para pemeran di film diajak menonton dalam sebuah special screening. Verdi Solaiman yang berperan sebagai Wang mengatakan, “Saya yakin pasangan-pasangan yang nonton film ini kocar-kacir hatinya.” Dari special screening juga banyak yang speechless dan bahkan sampai menangis. Ending yang memuaskan dan tak terduga jadi highlight bagi mereka yang sudah menonton film ini. Bahkan Della yang berperan sebagai Mentari mengatakan, “Tiba-tiba pas nonton kayak berasa orang lain. Aku gak sadar itu, aku… nangis lagi!”



Pada 12 November lalu, “Akhirat: A Love Story” merilis lagu yang terdengar di bagian awal trailer film. Penyanyi muda dengan tipe suara bariton, Adikara Fardy, mengisi salah satu soundtrack film lewat lagu bertajuk “Sayup Menjauh”. Lagu dan video musik soundtrack berikutnya yang dirilis 19 November ini adalah lagu “Jarak” dari Ivan Gojaya dan Agustin Oendari. Keduanya menyumbang 7 lagu untuk original soundtrack dan ada satu lagu dari Kunto Aji berjudul "Pilu Membiru". Ivan Gojaya juga adalah sosok di balik music scoring film "Akhirat: A Love Story".


Film “Akhirat: A Love Story” merupakan produksi BASE Entertainment bekerja sama dengan Studio Antelope. Selain dibintangi Adipati Dolken dan Della Dartyan, film ini juga diisi bintang-bintang muda seperti Windy Apsari, Agnes Naomi, Tubagus Ali, Ravil Prasetya, Farhan Rasyid.


Friday, November 1, 2019

ULASAN: LOVE FOR SALE 2


Saat Love for Sale terpuji di mata penonton, banyak yang merasa relatable dengan apa yang disampaikan. One man show yang dimainkan oleh Gading Marten sukses mengantarkan ke panggung Citra, kemenangan yang hingga saat ini belum dirasakan oleh bapaknya. Setelah melihat Gading di film itu, saya akhirnya teryakinkan kalau darah daging serta bakat Om Roy Marten digunakan oleh Gading pada tempatnya. Karakter Arini pun menjadi tenar, banyak yang memujanya, tetapi tak sedikit yang mengartikan karakter tersebut sebagai si perempuan 'jahanam'. Della Dartyan sekejab naik daun. Mengupas karakter Arini sungguh pelik, dengan tampilan sederhana, Arini mengemban tugas yang terlalu berat untuk dijalani. Love for Sale, dengan sangat hati-hati, membuat Arini menjadi salah satu karakter penting di perfilman Indonesia. Sederhananya lagi, bagi saya karakter Arini mampu menjadi tombak sebagai pemutar nasib dan pola pikir penggunanya.



Dirasa ada kemungkinan baru yang bisa diharapkan dari Arini, akhirnya Visinema memberikan dana segar untuk dibuatkan kelanjutannya. Masih dipegang Andibachtiar Yusuf sebagai sutradara, namun mengganti peran Gading ke Adipati Dolken sebagai 'user' selanjutnya. Dolken sebagai Ican, bujangan 32 tahun, dicecar tiada henti oleh ibunya untuk segera melepas masa lajang. Keinginan sang ibu untuk memiliki menantu 'baik-baik' sudah di ubun-ubun kepala. Si ibu tak puas dengan hasil pernikahan anak pertama dan ketiganya. Putus asa, Ican di sini akhirnya memanfaatkan jasa aplikasi kencan Love.inc. Bukan sulap bukan sihir, Arini sekejab muncul di depan rumah, tanda awal serangan bertubi-tubi untuk memenuhi kriteria keinginan Ican serta menaklukan hati sang calon mertua. Mengekor film pertama, lambat laun cinta bersemi di antara dua insan beda arah ini. Di saat semua sudah kembali ke poros, si wanita pun juga sudah mendekati tenggang waktu untuk mengakhiri asmara pahit tersebut.



Arini masih dimanfaatkan sebagai setan cinta yang siap pergi bila masa kadaluwarsa sudah dekat. Arini adalah setan cinta yang tidak diajarkan manajemen perusahaan untuk memiliki hati dan menetap di satu rasa. Arini adalah setan cinta yang secara lantang mendeklarasikan dirinya sebagai wanita kejam walaupun secara keseharian ditampilkan dengan sangat elok. Ican adalah korban pesakitan berikutnya. Pengulangan inilah yang tidak meninggalan kesan mewah untuk kedua kalinya bagi Arini. Walaupun pada akhir film penonton diberikan sekelebat adegan pelega pilu, tetap saja Love for Sale 2 hanya copypaste yang tidak ingin kehilangan fans-nya. Syukurlah, Della Dartyan tidak menurunkan kualitasnya, dan Adipati Dolken berhasil menunjukkan rasa sabar dan ikhlasnya lewat kekuatan akting yang dia punya. Yang sangat mengganggu bagi saya adalah Bastian Steel sebagai Buncun, adik Ican.



Ratna Riantiarno pun bermain cakap, hanya saja karakter Ibu di film ini sangat tidak mengayomi. Sebagai sosok wanita yang memegang teguh keagamaan, apa yang ditampilkan di layar tidak jauh hanyalah seorang Ibu yang takut anaknya membujang tua, bukan sosok Ibu yang ikhlas. Saya sangat tidak menyukai bagaimana film ini menopengi isi ceramahnya soal pernikahan dengan menggunakan adegan kematian. Begitu, saya menjadi kasihan dengan karakter bapak tetangga Ican yang saya pikir akan menjadi ekstra penghibur. Karakter tersebut hanya menjadi umpan kosong guna untuk menyantuni bahwa menikahlah atau kamu akan segera dijemput maut sebelum kamu duduk di pelaminan. Perkuliahan tadi disodorkan tepat saat sang tokoh tetangga tadi diceritakan meninggal. Kalau saya, kerabat dekat ada yang meninggal, saya akan ikut melayat, bukan malah lanjut ke kantor dan galau di halte memikirkan hasutan orang tua untuk segera menilah. Tidakkah aneh? Adegan itu menjadi pemicu utama saya semakin tidak begitu antusias dengan kelanjutan filmnya. Benar saja, sifat Ibu semakin menjadi dan banyak kesan sinis yang kurang beralasan. Ican tidak seperti Richard. Ican badung, gonta-ganit wanita dan diam-diam memulangkan mereka sebelum pagi, tetapi di sisi lain sangat menghargai Arini. Saya mungkin akan suka film ini bila kebadungannya juga dipraktikkan ke Arini sehingga keduanya memang hanyalah pasangan ranjang dan tidak bermain hati dan tetaplah demikian. Di kehidupan percintaan yang gagal akan selalu meninggalkan korban dan kali ini karakter Ibu juga ikut menjadi tumbal. Bisa jadi itu cambukan terbaik, dan tumbal akan semakin pedih bila Ican tidak menceritakan kebohongannya ke Ibu.



Saya suka cara film ini mengontrol gerak kameranya. Sangat efektif dan membangun momen. Long take di awal film pun menjadi perkenalan yang ampuh untuk menjelaskan kalau Love for Sale 2 akan dipenuhi dengan keseruan di ruang lingkup keluarga Ibu. Musiknya mengalun indah, walaupun kadang ada beberapa part malah menutupi suara aktor yang berdialog. Tidak mengganggu, tapi cukup terasa. Terakhir, bila Arini ingin ditunjukkan sisi humanisnya lewat film ini, jelas sekali tidak ada yang patut dibanggakan. Tidak seperti film pertama yang menghancurkan hati satu orang, di sekuelnya ini Arini selain mengecewakan pelanggan, juga meretakkan keinginan dan harapan seorang ibu yang sebelumnya sudah melihat masa depan anaknya di tangan seorang Arini. Pada akhirnya, Arini hanyalah sebuah contoh lelucon kecil yang terjadi pada kehidupan percintaan anak manusia. Musuh terberat bukanlah mengapa kita gagal menuju cinta yang membahagiakan, tetapi bagaimana cara mendapatkannya. Arini adalah umpan untuk yang salah, dan Arini sendiri (baca: aplikasi penyedia jasanya) adalah suatu kesalahan. Lalu, apakah wanita tetap selalu benar? Selamat menonton.

Overall: 5/10

(By Ruttastratus)