Showing posts with label Dwayne Johnson. Show all posts
Showing posts with label Dwayne Johnson. Show all posts

Thursday, October 20, 2022

ULASAN: BLACK ADAM






8 tahun setidaknya jarak waktu yang dibutuhkan sejak dari Dwayne Johnson atau yang lebih populer dengan nama The Rock ini diumumkan akan memerankan villain utama Shazam yang itu Black Adam. Hingga akhirnya banyak perubahan terjadi dan hasil final Black Adam akan mempunyai filmnya solo sendiri, alih-alih menjadi villain utama di film pertama Shazam. Gosip yang beredar, nama besar Dwayne Johnson yang punya pengaruh kuat yang membuat  Black Adam mempunyai film solo. Disutradarai oleh Jaume Collet-Serra yang sebelumnya sudah bekerjasama dengan Dwayne Johnson lewat Jungle Cruise, banyak ekspetasi dan harapan pada film antihero ini.


Dibuka dengan adegan  Adrianna (Sarah Shahi) yang memimpin  pencarian sebuah mahkota yang mempunyai kekuatan besar yang sudah menjadi mitos di negara Kahndaq, sebuah negara konflik dan terjajah. Pencarian akan mahkota tersebut secara tidak sengaja membangkitkan seorang pahlawan di negara tersebut setelah tertidur selama 5000 tahu, sang pahlawan tersebut adalah Black Adam. Namun Black Adam bukanlah pahlawan yang menjujung norma-norma kephlawanan. Dia tidak segan-segan untuk membunuh. Segala tindakannya dikendalikan oleh amarahnya karena kejadian tragis yang dia alami di masa lalu. Hal tersebut yang membuat JSA (Justice Society of America) yang terdiri atas Hawkman (Aldis Hodge), Doctor Fate (Pierce Brosnan), Cyclone (Quintessa Swindell), dan Atom Smasher (Noah Centineo) datang untuk menghentikannya..


Film bertema antihero ini tidak perlu waktu berlama-lama dalam bercerita. Alur berlangsung cepat dari pengenalan karakter hingga menuju konfliknya. Hampir pada setiap sequencenya dibarengi dengan adegan-adegan action yang memukau penonton. Sempat ditundanya film ini berkali-kali bisa kita maklumi. Keluhan-keluhan bagaimana buruknya CGI yang kita temukan dalam film-film Marvel Studios akhir-akhir ini tidak akan temukan dalam Black Adam ini.


Namun keterpukauan penonton pada spesial efek dalam setiap sequence actionnya tidak sama dengan keterpukauan dengan plot ceritanya. Karena alurnya yang cepat film ini juga tidak mempunyai kedalaman cerita yang cukup kuat. Terutama pada kedalaman karakter. Pengenalan tokoh-tokoh terutama semua anggota JSA tidkak mempunyai latar belakang yang kuat. Jadi jika kamu mengharapkan sebuah film antihero yang kuat pada sisi ini, maka kamu harus kecewa. 


Untuk sebuah film popcorn atau blockbuster, Black Adam sudah memenuhi segala syarat untuk menjadi film yang snagat menghibur. Bahkan untuk penggemar komiknya akan sangat dimanjakan dengan film ini. Minim eksplorasi naskah pada kedalaman cerita mungkin memang disengajakan karena penulis atau sutradara ingin memberikan film antihero yang cukup ramah karena ratingnya sendiri untuk 13 tahun ke atas. 


Overall: 7/10  

Wednesday, July 27, 2022

ULASAN: DC LEAGUE OF SUPERPETS


Untuk urusan timeline universe Marvel memang sudah meninggalkan jauh DC Comics. Namun untuk bagian animasi bisa dibilang sebaliknya, DC unggul jauh dari Marvel. Walaupun animasi tersebut sebagian rilis secara digital, tapi tidak bisa dipungkiri jika animasi produksi DC jauh lebih berbobot secara kualitas dibandingkan Marvel. Lalu bagaimana dengan animasi yang rilis di bioskop? Marvel sudah berjalan dengan Into the Spider-Verse, DC dengan langkah berbeda lebih mengejar target penonton anak-anak dengan DC League of Superpets yang membawa nama-nama besar sebagai sutradaranya seperti Dwayne Johnson, Kevin Hart, Olivia Wilde, John Krasinski, Kate McKinnon, Diego Luna Luna hingga Keanu Reeves.

Seperti judulnya DC League of Superpets, film ini menceritakan Krypto (Dwayne Johnson) yang ikut dalam pesawat penyalamat bersama Kal-El bayi saat planet Krypton hancur. Sejak itupun Krypto menjadi anjing yang selalu setia sampai akhirnya Kal-El bertransformasi menjadi Clark Kent/Superman (John Krasinski). Bahkan Krypto juga ikut terlibat dalam banyak aksi Superman. Hadirnya Lois Lane (Olivia Wilde) membuat Krypto merasa tersingkirkan. Di saat bersamaan Lex Luthor (Mark Maron) melancarkan serangannya untuk menghancurkan Justice League yang gagal namun berhasil dilanjutkan hewan peliharaanya Lulu (kate McKinnon) yang berhasil melumpuhkan semua anggota Justice League. Dan semua sekarang tergantung dengan Krypto yang dibantu oleh hewan-hewan peliharannya yang tidak sengaja mendapat kekuatan karena Lulu. 

Sama halnya yang kita lihat di trailer, isi cerita DC League of Superpets sangat menonjolkan sisi komedinya yang dibalut dengan tema persahabatab. Sebuah tema yang sudah semacam menjadi cetak biru film-film animasi hollywood tentang hewan yang sudah sangat sering kita jumpai. Yang menjadi perbedaan dan keunggulan dari film ini tentu saja alternatif DC universenya itu sendiri. Segala hal kekonyolan yang tidak akan pernah kita lihat di versi live actionnya ini akan banyak mengundang tawa. Yang paling kental dan sangat ekspresif dari komedinya sendiri adalah jokes dengan refrensi pop culturenya. Sangat sering kita temukan guyonan mengenai karakter-karakter DC lainnya atau bahkan Marvel sekaligus. Di satu sisi penonton yang menangkap refrensi (mayoritas penonton usia remaja ke atas) selalu tertawa ketika jokes itu muncul, namun untuk penonton anak-anak yang menjadi target filmnya sendiri mngkin akan sulit menemukan unsur komedi ini.

Dari pengisi suara sendiri Dwayne Johnson yang sudah mampu memberikan energi karakternya pada  Krypto semakin lebih bernyawa ketika diduetkan Kevin Hart yang mengisi suara Ace. Kemistri Dwayne Johnson dan Kevin Hart yang sudah terjalin di beberapa film sebelumnya semakin terasa dalam film ini. Buat saya sendiri yang paling menarik perhatian dari hal pengisi suara adalah Keanu Reeve yang mengisi suara Batman. Suara Batman yang berat dan dalam dibarengi dengan kekonyolan salah titik tawa terkencang saya keluarkan dalam film ini. Saya tidak kaget jika nanti sampai ada film spin-off dari karakter Batman dalam universe film ini.

DC League of Superpets memang tidak mempunyai hal yang luar biasa dari hal cerita yang bahkan tema seperti ini sudah sangat sering kita jumpai, namun menghadirkannya dalam konsep universe superhero memberika rasa segar tersendiri. Humor atau jokesnya memang terkedang terjebak yang hanya bisa diikuti oleh penggemar pop culture, namun secara keseluruhan ceritanya yang ringan sangat akan mudah diterima penonton anak-anak.

Overall: 7/10

(By Senandika Dalu)



Friday, December 6, 2019

ULASAN: JUMANJI 'THE NEXT LEVEL'



Film Jumanji (1995) yang dahulu sempat digemari di era 90-an karena tema petualangannya yang seru dan heboh dan dilanjutkan film keduanya Zathura: A Space Adventure (2005) sempat redup namun berkat performa film sekuelnya di tahun 2017 lalu Jumanji: Welcome to The Jungle nampaknya membuat franchise movie ini berjaya kembali. Keputusan menghidupkan kembali franchise ini rupanya memang tepat didukung cerita yang fresh dan para aktor yang mumpuni. Film Jumanji: Welcome to The Jungle menduduki peringkat box office di peringkat 5 film terlaris sepanjang 2017 dengan penghasilan total 962.1 juta USD. Dua tahun berselang kali ini kita disuguhkan dengan film lanjutannya dengan judul Jumanji: The Next Level. Film ini kembali disutradarai oleh Jake Kasdan yang juga bertindak sebagai penulis dibantu Jeff Pinkner, dan Scott Rosenberg. Para aktor dari film Jumanji 2017 juga kembali hadir, yaitu Dwayne Johnson, Kevin Hart, Jack Black, Karen Gillan, Nick Jonas, Alex Wolff, Morgan Turner, Ser'Darius Blain, dan Madison Iseman serta pendatang baru Awkwafina, Danny Glover, dan Danny DeVito. Film ini dirilis oleh Sony Pictures lewat label Columbia Pictures di US pada 13 Desember 2019 dan sudah dirilis di bioskop Indonesia pada 4 Desember 2019.



Diceritakan bahwa keempat karakter dari Brantford High School seusai film pertamanya kini sedang memasuki masa perkuliahan. Spencer (Alex Wolff) berkuliah di New York dan sedang memiliki hubungan tarik-ulur dengan Martha (Morgan Turner). Martha sendiri sedang menemukan kepercayaan dirinya dan sibuk berkuliah, Bethany aktif terlibat dalam kegiatan humanisme dan berkeliling dunia membantu orang-orang, dan Anthony "Fridge" Johnson (Ser'Darius Blain) sibuk dalam pertandingan-pertandingan American Football di kampus. Suatu waktu mereka bersepakat untuk melakukan reuni kecil di kota Brantford, New Hampshire sembari berlibur. Spencer tinggal di rumah nya dan mendapati kakeknya Eddie (Danny DeVito) juga tinggal di sana sambal menjalani pemulihan dari operasi pinggul. Walau permainan video game Jumanji sudah dihancurkan oleh di film pertamanya tetapi Spencer rupanya masih menyimpan permainan video game tersebut dengan tidak diketahui teman-temannya yang lain di ruang bawah tanah rumah kakeknya. Ketika Martha, Fridge, dan Bethany mendatangi rumah Spencer karena tidak ada kabar dari Spencer, mereka turun ke ruang bawah tanah dan dengan terkejut menemukan bahwa Game Jumanji sedang menyala dan Spencer tidak ada. Mereka menduga Spencer kembali masuk ke dalam Game dan memutuskan untuk ikut masuk guna menolong Spencer. Eddie dan sahabatnya Milo (Danny Glover) yang sedang berkunjung mencoba mngecek karena mendengar suara dentuman aneh di ruang bawah tanah dan sebelum mereka semua sempat memilih avatar, mereka semua ikut masuk ke dalam game. Namun karena game tersebut rusak menyebabkan banyak hal yang tidak terduga, kali ini Bethany tertinggal sedangkan Eddie dan Milo ikut terhisap masuk bersama Fridge, dan Martha. Kehebohan berikutnya adalah avatar mereka yang tidak sama seperti sebelumnya, Eddie menjadi Dr. Smolder Bravestone (Dwayne Johnson), Fridge menjadi Professor Sheldon "Shelly" Oberon (Jack Black), Milo menjadi Franklin "Mouse" Finbar (Kevin Hart), dan Martha tetap menjadi Ruby Roundhouse (Karen Gillan). Dengan keadaan yang serba kacau dan membingungkan ini mereka semua harus bekerjasama untuk menemukan Spencer dan menghadapi bahaya yang jauh berbeda dibandingkan sebelumnya agar dapat menang dan keluar dari Game Jumanji.



Film ini berhasil menepis asumsi saya bahwa sekuel terhadap film tahun 2017 akan biasa saja dan tidak menarik seperti film sebelumnya karena ternyata masih ada hal baru yang dapat digali dan memberikan cerita yang fresh berkat naskah ceritanya yang cerdas dan kreatif. Jake dan tim penulis cerita berhasil memberikan unique spin terhadap cerita Jumanji dengan tetap berfokus pada cerita petualangannya dan bukan pada aksi dan efek visual semata. Alih-alih berfokus pada karakter yang sama dan mengulang petualangan seperti di film pertama kali ini penonton dihadapkan dengan pertukaran masing-masing karakter utama di antara keempat avatar dalam game dan setting lokasi yang benar-benar baru yang tidak ada dalam film sebelumnya. Para karakter kali ini harus berpetualang di gurun pasir, gunung es, dan Winter Fortress (sebuah banteng besar untuk aksi final mereka dalam film). Memikul beban berat dari film tahun 2017 membuat Jake benar-benar meningkatkan scope dan skala film ini ke tingkatan selanjutnya sehingga membuat penonton tetap penasaran dengan cerita film kali ini. Durasi sepanjang 123 menit tidak terasa membosankan, narasi ceritanya memberikan porsi yang seimbang untuk drama, aksi, dan komedi dalam film. Kali ini penonton dibawa ke dalam konflik yang berbeda dan lebih berwarna, yaitu konflik antara Eddie dan Milo serta kerenggangan hubungan Martha dan Spencer. Penonton dibawa ikut menyusuri cerita para karakter menyelesaikan misi utama mereka dengan tidak melupakan penyelesaian konflik personal yang merupakan subplot yang membuat cerita film menjadi lebih dinamis dan sama sekali tidak mengganggu plot utama. Kekurangannya mungkin ada pada hubungan Eddie dan Milo di masa lalu yang tidak terlalu banyak dieksplorasi dan detil hubungan Martha dan Spencer yang menyebabkan hubungan mereka renggang. Jangan lewatkan adegan sesudah after credit yang pastinya akan semakin memancing rasa penasaran kita terhadap arah film ini selanjtunya.



Dalam film keduanya ini, kembali bermainnya semua cast yang merupakan nama-nama besar merupakan kelebihan tersendiri karena chemistry dan kekompakan yang telah terjalin memudahkan mereka untuk melanjutkan peran mereka seperti film sebelumnya. Kehandalan Dwayne Johnson menirukan persona Danny DeVito dan Kevin Hart menirukan persona Danny Glover menimbulkan kelucuan tersendiri karena benar-benar menunjukkan kehandalan akting mereka begitu pula Jack Black yang berperan sebagai Fridge yang kali ini juga dibawakan dengan kelucuan yang tetap mengena soal keterbatasan fisik. Karen Gillan kali ini meski tetap berperan sebagai avatar dari Martha namun mampu menampilkan sosok yang dapat memimpin menggantikan posisi Spencer di film sebelumnya. Awkwafina yang merupakan karakter baru tampil sebagai kejutan dalam film dan membawakan setiap adegan dengan kocak. Semua aktor ini mampu mengimbangi satu sama lain dan mereka semua diberi tempat untuk memiliki momen mereka masing-masing. Sementara itu dari segi karakter antagonis, Rory McCann (The Hound – Game of Thrones) tampil solid sebagai tokoh antagonis baru Jurgen The Brutal yang cenderung barbar. Semua adegan aksi dalam film ini pun juga ditingkatkan mulai dari skala bahaya hingga tantangannya. Adegan aksi dalam film kedua ini terlihat lebih variatif dan visual CGI-nya pun digarap dengan rapi. Walau adegan aksi yang ada cenderung ekstrim namun Wade Eastwood (Mission Impossible: Fallout & Rogue Nation, MIB) sebagai Director/ Stunt Coordinator mampu menghadirkan adegan-adegan tersebut tetap seru dan ramah ditonton keluarga. Mark Breakspear sebagai VFX Supervisor dan J.D. Schwalm sebagai SFX Supervisors mampu mendeliver efek-efek CGI mulai dari hewan-hewan dalam game Jumanji hingga pada lanskap lingkungan dengan sangat meyakinkan.



Jake Kasdan nampaknya merupakan sutradara yang tepat untuk franchise Jumanji karena ia mampu memberikan film follow-up yang dapat dinikmati seluruh keluarga dengan tidak mengabaikan nilai-nilai dan pesan yang ingin ia sampaikan. Penonton khususnya generasi muda dapat memetik pesan dan pelajaran berharga dari film Jumanji kedua ini. Berbekal pengalaman dalam film sebelumnya, ia tahu betul bagaimana membawa film Jumanji ke level selanjutnya seperti yang tercermin dalam judul film ini. Isu mengenai persahabatan dan rekonsiliasi hubungan ditampilkan Jake lewat cerita Eddie-Milo dan Martha-Spencer sepanjang film, yang mengajarkan penonton tentang pentingnya keterbukaan dan kebesaran hati untuk memaafkan. Isu soal kepercayaan diri dan belajar menerima keberadaan diri juga dieksplorasi kembali seperti dalam film tahun 2017 yang dapat kita lihat ketika karakter mereka kembali dalam game Jumanji namun dalam kondisi yang berbeda. Penonton juga diingatkan untuk belajar bagaimana menghadapi perubahan-perubahan dalam hidup dan tidak berhenti untuk mengembangkan diri dalam proses menjadi versi diri yang terbaik. Sebagai film di penghujung tahun 2019 ini Jumanji: The Next Level merupakan salah satu film yang tidak boleh anda lewatkan.


Overall: 8/10

(By Camy Surjadi)




Saturday, August 3, 2019

ULASAN: HOBBS AND SHAW




Tidak ada yang menyangka bahwa film Fast & Furious yang awalnya hanya berpusat pada aksi kejar-kejaran balapan jalanan oleh polisi yang menyamar dapat menjadi mega franchise blockbuster yang masih terus menelurkan sekuel-sekuelnya. Film yang dimulai sejak 2001 ini akan memasuki babak baru dengan munculnya film spin-off pertama kalinya dalam sejarah franchise saga Fast & Furious pada tahun 2019. Spin-off ini memusatkan ceritanya pada karakter Luke Hobbs (Dwayne Johnson) dan Deckard Shaw (Jason Statham) dari seri utama filmnya dan diberi judul Hobbs & Shaw. Walau film ini sempat mengalami masalah dalam produksinya karena perselisihan antara Dwayne Johnson dengan Vin Diesel Dan Tyrese Gibson yang sempat ramai beberapa waktu lalu di sosial media tetapi Dwayne Johnson akhirnya mampu meloloskan film ini hingga mampu rilis dua tahun setelah film The Fate of The Furious. Gibson kesal dengan Dwayne Johnson karena menurutnya ia egois bermain film Lepas padahal Dwayne termasuk yang.belakangan baru bergabung dalam saga Fast and Furious. Nampaknya perselisihan tersebut sudah berhasil diatasi dan franchise ini tetap sukses dilanjutkan. Film ini disutradarai oleh David Leitch yang sudah kita kenal lewat Deadpool 2 dan Atomic Blonde serta John Wick (co-director bersama Chad Stahelsky), skenarionya ditulis oleh Chris Morgan dan Drew Pearce. Baik Jason Statham dan Dwayne Johnson juga bertindak sebagai produser selain sebagai pemain dalam film. Film ini dirilis di Indonesia pada hari Rabu, 31 Juli 2019 sedangkan di US sendiri dirilis pada 2 Agustus 2019, hingga artikel ini ditulis film ini sudah mendapat rating 71% di Rotten Tomatoes.



Dalam Hobbs & Shaw diceritakan bahwa Hattie Shaw (Vanessa Kirby) yang merupakan adik Deckard Shaw adalah anggota MI6 dan sedang dalam proses mengamankan virus pemusnah massal 'Snowflake' dari organisasi teroris Eteon. Tanpa diduga Eteon mengirimkan Brixton Lore (Idris Elba), seorang mantan tentara yang memiliki implan cybernetic yang canggih Yang memampukannya memiliki kekuatan super. Brixton membunuh semua rekan Hattie dalam upaya merebut virus tersebut dengan mudah. Melihat hal tersebut Hattie menginjeksikan virus 'Snowflake' yang dorman ke dalam dirinya dan berhasil kabur dari Brixton. Brixton lalu menjebak Hattie dengan menempatkannya sebagai agen MI6 yang berkhianat terhadapt timnya sehingga membuat Hattie harus terus lari dan bersembunyi. Deckard dan Hobbs masing-masing dihubungi oleh agen-agen yang bekerja untuk Mr. Nobody, yang sudah Kita kenal sejak Furious 7, untuk bekerja Sama mengambil kembali virus tersebut dan menyelamatkan Hattie. Deckard dan Hobbs yang awalnya enggan bekerja sama mengingat sejarah di antara mereka berdua perlahan mengesampingkan perbedaan mereka Karena ada bahaya global yang lebih besar jika mereka tidak bisa bekerja sama. Hobbs yang akhirnya menemukan Hattie, mendapatkan fakta bahwa virus 'Snowflake’ harus segera dikeluarkan dari tubuh Hattie sebelum terlepas dan membunuh Hattie dan menyebabkan bencana genosida massal. Akankah Hobbs dan Shaw berhasil menyelamatkan Hattie sebelum Eteon berhasil mewujudkan rencananya dan keadaan berbalik memburuk lalu bagaimana mereka harus menghadapi Brixton yang sangat tangguh dan sulit untuk dikalahkan?



Premis tersebut dituangkan dalam film berdurasi 2 jam 16 menit ini dengan sangat baik, David Leitch tahu bagaimana memanjakan penonton lewat aksi perkelahian yang memukau dan ia juga sanggup menginkorporasikan aksi kejar-kejaran kendaraan ke dalam cerita dengan spektakuler. Adegan kejar-kejaran menggunakan kendaraan bisa dikatakan adegan terbaik dalam film ini. Walau ceritanya menggunakan formula yang mudah tertebak, dua jagoan yang awalnya berselisih paham namun akhirnya sepakat bekerjasama untuk menyelamatkan dunia dan orang yang mereka sayangi Dari organisasi jahat yang memiliki teknologi dan berbagai kelebihan. Untungnya aksi penuh adrenalin tinggi yang membuat penonton serasa berolahraga sanggup membuat penonton terjaga untuk tetap antusias menyaksikan film ini hingga usai. Adegan klimaks yang terletak Di bagian akhir film merupakan adegan Yang tidak boleh dilewatkan karena semua Yang penonton inginkan dari film Fast n Furious terwakili Di sana. Penggunaan banyak lokasi dalam film seperti LA, London, Rusia, dan Samoa turut menambah semarak dan dinamika film ini. Eteon sebagai organisasi teroris yang berpengaruh sayangnya kurang diceritakan lebih mendalam soal sejarah dan latar belakang mereka padahal organisasi ini adalah dalang utama dari semua masalah yang terjadi dalam film, kemungkinan hal ini sengaja disimpan dan baru akan dibahas dalam sekuelnya. Walau ada beberapa adegan dalam film yang menentang logika penonton seperti karakter jagoan yang tidak terluka parah walau terlibat kecelakaan hebat dan sesekali ledakan yang cukup ekstrim tetapi hal ini nampaknya sudah jamak dalam film-film Fast and Furious dan mega action sejenis. Dari sisi komedi film ini sudah berusaha cukup baik, menyaksikan perselisihan duo Hobbs dan Shaw yang saling mengejek merupakan hiburan tersendiri apalagi ditambah Kehadiran dua secret character yang semakin menambah dinamika humor dalam film. Sayangnya baik Dwayne maupun Statham Masih terlihat kaku dalam beradegan komedi terlihat dari dialog mereka yang cukup panjang dan kadang agak dipaksakan namun Chemistry di antara mereka terlihat cukup berhasil. Hal ini wajar mengingat keduanya adalah bintang aksi bukan spesialis komedi kecuali Dwayne Yang sudah berpengalaman dalam film komedi-aksi. David Leitch merupakan Sutradara yang sangat tepat dikarenakan pengalaman dan kemahirannya dalam menyutradarai film aksi bertempo cepat dan memiliki ciri komedi yang unik.



Duo Dwayne Johnson dan Jason Statham terbilang kompak dan mampu menampilkan ciri khas karakter mereka dengan baik di sepanjang film. Hobbs tampil sebagai sosok yang mengandalkan kekuatan dan sanggup berkelahi dengan tanpa kesulitan demkian pula Shaw tampil sebagai sosok yang memiliki kecepatan dan kecerdikan dibanding lawan-lawannya. Baik Dwayne maupun Statham mampu menampilkan adegan aksi dengan lancar karena keduanya memiliki Latar belakang Bela diri. Duo tersebut juga berhasil membuat penonton lupa bahwa karakter mereka pernah berada dalam kubu yang berseberangan dan jangan lupa Shaw adalah karakter yang menewaskan Han dalam timeline seri Fast and Furious. Vanessa Kirby pun tampil dengan sangat baik sebagai sosok wanita tangguh dan agen MI6 yang juga pandai bela diri, ia sanggup memberikan citra partner yang sepadan dengan Hobbs dan Shaw. Hal ini turut menjadikannya karakter favorit Yang baru Dalam seri Fast and Furious. Helen Mirren sebagai Queenie Shaw ibu dari Deckard dan Hattie juga tampil baik dan memberi warna tersendiri hanya minim penjelasan mengapa dirinya berada di balik jeruji. Dari pihak karakter antagonis, karakter ini diperankan dengan baik oleh Idris Elba lewat karakternya Brixton. Elba mampu menampilkan sosok penjahat super yang sukar dihentikan yang sanggup memberikan kesulitan untuk Hobbs dan Shaw. Elba sanggup memperlihatkan karakternya sebagai teroris yang sanggup melakukan segala cara demi mencapai tujuan Eteon. Latar belakang Muay Thai juga membantu Elba dalam melakukan aksi perkelahian melawan Dwayne dan Statham. Brixton merupakan karakter antagonis terfavorit sejauh ini dalam saga Fast dan Furious.



Untuk membuat film spin-off sukses dibutuhkan formulasi yang tepat karena di satu sisi film spin off harus memiliki signaturenya (ciri khasnya) sendiri namun tetap memiliki benang merah dengan film utamanya. David Leitch termasuk sukses dalam menggarap spin off ini karena ia berhasil memberikan nuansa yang fresh lewat paduan aksi-komedi antara dua karakter Yang sudah dikenal dengan tipikal buddy cop Action. Benang merahnya terletak pada tema core yang selalu ada dalam film Fast and Furious yaitu ikatan keluarga. Dalam film baik Hobbs maupun Shaw dieksplor lebih mendalam dari sisi keluarga mereka masing-masing seperti hubungan Hobbs dengan putrinya dan masa lalunya sementara Shaw lebih kepada apa yang menyebabkan hubungannya dengan adiknya Hattie renggang dan juga masa lalunya. Kelebihan lain film ini adalah masa lalu Hobbs yang berhubungan dengan latar belakang keluarganya yang berasal dari suku Samoa betul-betul mendapat spotlight. Hal ini terasa istimewa terlebih untuk Dwayne Johnson yang aslinya memang berlatar suku Samoa. Semua unsur etnik dan setting di rumah dan garasi Custom Shop milik keluarga Hobbs betul-betul digarap dengan sangat baik dan detil. Keputusan David Leitch dan Dwayne Johnson untuk meletakkan adegan klimaks sekaligus babak penutup di Samoa sangatlah tepat. Banyak adegan khas Fast and Furious disematkan di bagian klimaks ini seperti adegan kejar-kejaran Mobil dan penggunaan nitro yang memang disengaja dan bersifat fan service namun dijamin bakal membekas dan berkesan bagi penonton. Penggunaan soundtrack musik hip hop khas Fast and Furious turut menambah semarak film ini ketika adegan kejar-kejaran maupun ketika adegan klimaks Di Samoa. Hal ini semakin membuat David Leitch sebagai Sutradara film aksi yang semakin diperhitungkan di Hollywood.



Dalam Film Hobbs and Shaw, isu teknologi yang akan menggantikan kehidupan manusia menjadi suatu refleksi yang cukup mengena terhadap situasi zaman yang semakin canggih dan bergantung pada mesin dan AI (artificial intelligence). Mengingatkan manusia agar jangan sampai menjadi korban dari teknologi yang diciptakannya sendiri. Ciri khas film Fast and Furious yang berpusat pada keluarga kembali ditampilkan sebagai kekuatan film yang merupakan Spin off ini. Hal ini senada dengan pesan Yang ingin disampaikan bahwa pada dasarnya kita berasal dari Keluarga dan dalam keluarga terkandung identitas dan nama baik yang mencirikan karakter kita sebagai individu. Menyaksikan film ini dijamin akan memenuhi ekspektasi anda sekaligus membuktikan bahwa banyak hal yang dapat digali dari saga Fast n Furious asalkan level aksinya bisa semakin ditingkatkan dan ditunjang dengan ceritanya yang juga berkualitas. Melihat hal tersebut, saga Fast and Furious masih jauh dari kata usai.

Overall: 8,5/10

(By Camy Surjadi)