Showing posts with label Marvel. Show all posts
Showing posts with label Marvel. Show all posts

Monday, July 28, 2025

REVIEW FANTASTIC FOUR: THE FIRST STEPS (2025) – AWAL BARU YANG FAMILIAR DALAM SEMESTA MCU


Film Fantastic Four: The First Steps akhirnya hadir sebagai entri terbaru dalam Marvel Cinematic Universe (MCU). Dengan membawa karakter klasik ke dalam dunia Earth-828, film ini menyajikan pendekatan yang berbeda dari tipikal film origin superhero. Alih-alih mengenalkan ulang siapa itu Reed Richards dan kawan-kawan, film ini mengandalkan familiarity—rasa kenal yang sudah dimiliki penonton terhadap keluarga superhero ini.

Bukan Sekadar Superpower, Tapi Tentang Keluarga dan Tanggung Jawab

Berbeda dengan film-film MCU sebelumnya, The First Steps menurunkan fokus dari aksi superpower dan lebih menyoroti dinamika keluarga. Di sini, Fantastic Four diposisikan sebagai simbol harapan bagi Bumi, dengan peran besar sebagai panutan. Hal ini menjadikan chemistry antarpemeran sebagai fondasi utama film ini. Dan untungnya, chemistry itu berhasil dibangun kuat.

Pedro Pascal sebagai Reed Richards tampil karismatik dan emosional, menampilkan konflik batin yang kompleks dengan ekspresi halus namun tajam. Vanessa Kirby (Sue Storm), Joseph Quinn (Johnny Storm), dan Ebon Moss-Bachrach (Ben Grimm/The Thing) melengkapi ensemble cast dengan performa yang meyakinkan sebagai sebuah keluarga yang sudah saling memahami kekuatan dan kelemahan satu sama lain.

Galactus & Silver Surfer: Ancaman Kosmik yang Mengintimidasi

Salah satu daya tarik utama film ini adalah kehadiran Galactus—villain raksasa yang sudah lama dinanti para penggemar Marvel. Meskipun tidak banyak tampil di layar, kehadirannya terasa mengintimidasi dan menegangkan sepanjang film. Visualisasinya sesuai harapan: megah, menyeramkan, dan mengancam.

Ketegangan makin meningkat saat Galactus mengincar anak dari Reed dan Sue, memicu pengejaran yang dipimpin oleh Shalla-Bal alias Silver Surfer (diperankan Julia Garner). Adegan-adegan penuh thrill dan ketegangan pun muncul dari titik ini, memperlihatkan sinergi teknologi dan kekuatan super yang dimiliki Fantastic Four dalam menghadapi ancaman luar angkasa.

Sentuhan Visual Retro-Futuristik & Musik yang Autentik

Salah satu aspek menonjol dari The First Steps adalah desain produksinya. Sentuhan retro-futuristik dari Kasra Farahani memberi warna berbeda yang membuat film ini terasa klasik namun tetap modern. Ada nuansa nostalgia dari film-film seperti Apollo 13, Space Cowboys, bahkan Interstellar yang terasa dalam beberapa adegan.

Pujian juga patut diberikan kepada Michael Giacchino untuk scoring musik tematik yang memberi nuansa vintage. Musiknya menyatu dengan estetika film, memberikan kesan otentik dan memperkuat atmosfer cerita.

Kesimpulan: Awal yang Solid untuk Fantastic Four di MCU

Meskipun konflik yang dihadirkan terasa personal dan skala ceritanya belum sebesar film Avengers, Fantastic Four: The First Steps berhasil menjadi pengantar yang solid. Film ini mengedepankan emosi dan dinamika keluarga ketimbang aksi besar-besaran, membuatnya terasa segar di tengah hiruk-pikuk film superhero saat ini.

Dengan 2 credit scene—meskipun MinGil pribadi menyarankan cukup tunggu yang pertama saja 😉—film ini pantas dinantikan kelanjutannya. Jika kamu penggemar Marvel dan penasaran dengan interpretasi baru Fantastic Four, film ini layak ditonton.

Rating: 8/10

Wednesday, February 26, 2025

REVIEW YOUR FRIENDLY NEIGHBORHOOD SPIDER-MAN: SERIAL SPIDER-MAN TERBAIK DENGAN GAYA KLASIK!





Setelah menonton 10 episode penuh dari YOUR FRIENDLY NEIGHBORHOOD SPIDER-MAN, saya semakin yakin bahwa hero-hero ‘street level’ Marvel memang lebih cocok dikemas dalam format serial dibandingkan film layar lebar. Dengan format ini, cerita dan karakter bisa dieksplorasi lebih dalam, tanpa harus terburu-buru seperti dalam film.

Alur Cerita yang Solid dan Menarik

Awalnya, saya mengira serial ini akan mengikuti format episodik di mana setiap episode memiliki cerita terpisah yang bisa ditonton secara acak. Namun, ternyata YOUR FRIENDLY NEIGHBORHOOD SPIDER-MAN hadir dengan alur yang berkesinambungan sepanjang 10 episode. Ini berarti kita harus mengikuti dari awal hingga akhir untuk mendapatkan pengalaman penuh dari ceritanya.

Menurut saya, ini adalah pilihan tepat karena memungkinkan karakter Spider-Man untuk berkembang dengan lebih alami. Setiap episode membangun konflik yang semakin kompleks, membuat kita semakin terikat dengan cerita.

Kekuatan Naskah dan Universe-Building yang Memukau

Salah satu keunggulan utama dari serial ini adalah bagaimana tim penulisnya berhasil menghadirkan cerita yang segar tetapi tetap familiar bagi para penggemar Spider-Man. Bagi mereka yang telah mengikuti berbagai versi Spider-Man dari komik hingga animasi, serial ini tetap terasa menarik dan tidak membosankan.

Universe Spider-Man di serial ini pun digarap dengan detail yang membuatnya terasa kaya dan hidup. Tidak hanya karakter utamanya yang dikembangkan dengan baik, tetapi juga para hero lain yang muncul dalam serial ini mendapat porsi yang pas dan tetap mempertahankan nuansa klasiknya.

Visual dan Gaya Animasi yang Unik

Dari segi visual, YOUR FRIENDLY NEIGHBORHOOD SPIDER-MAN memiliki daya tarik tersendiri. Animasi yang digunakan mengadaptasi gaya strip komik klasik yang bergerak, memberikan nuansa retro yang sangat khas. Bisa dibilang ini adalah Spider-Verse versi klasik, dengan warna-warna yang bold dan desain karakter yang old-school.

Bahkan, hero-hero lain yang muncul dalam serial ini tetap menggunakan kostum klasik mereka, seperti Doctor Strange, Iron Man, dan Daredevil. Hal ini menambah nilai nostalgia yang membuat serial ini semakin istimewa.

Perubahan Gender dan Ras pada Karakter

Salah satu hal yang sempat menjadi perbincangan di kalangan penggemar adalah perubahan gender atau ras pada beberapa karakter yang sudah dikenal. Namun, menurut saya, ini bukanlah masalah besar. Perubahan tersebut dilakukan dengan alasan yang masuk akal dalam alur cerita, sehingga tidak terasa dipaksakan. Daripada berfokus pada perubahan ini, lebih baik menikmati bagaimana karakter-karakter tersebut berkembang dalam cerita.

Kesimpulan dan Skor Akhir

Secara keseluruhan, saya hampir tidak memiliki keluhan tentang serial ini. Dari segi cerita, animasi, hingga pembangunan universe, semuanya terasa matang dan digarap dengan penuh perhatian terhadap detail. Bahkan, saya berani mengatakan bahwa satu musim penuh YOUR FRIENDLY NEIGHBORHOOD SPIDER-MAN ini jauh lebih baik dibandingkan trilogi Spider-Man Tom Holland jika digabungkan sekalipun! Ya, sebagus itu!

Bagi kamu yang belum menonton, serial ini sangat direkomendasikan dan bisa ditonton di Disney Plus. Saya memberikan skor 9,5/10!


Wednesday, February 14, 2024

REVIEW: MADAME WEB



Sony sepertinya masih sangat percaya diri dengan spin-off yang berangkat dari universe Spider-man. Setelah Venom, Morbius, dan sekarang hadirlah Madame Web. Jika kamu sangat asing dengan karakter ini meskipun mengikuti atau membaca komik-komik Marvel, hal itu sangatlah wajar karena karakter Madame Web sendiri bukanlah karakter reguler yang muncul di komik-komik Spider-Man sendiri, namun mempunyai potensi yang menarik untuk diangkat dan dibuatkan film tersendiri.

Cassandra Webb (Dakota Johnson), seorang yaitm-piatu yang bekerja sebagai paramedis di Manhattan. Dipicu oleh kejadian yang hampir merenggut nyawanya, Cassandra tiba-tiba mendapatkan sebuah kekuatan  melihat masa depan, lalu menyadari bahwa dia dapat menggunakan kekuatannya tersebut untuk mengubahnya. Seiring belajar mengontrol kekuatan tersebut, Cassandra harus melihat kembali masa lalunya, yang disaat bersamaan juga harus menyelamatkan dan melindungi tiga remaja perempuan yang secara tak langsung terhubung dengan dirinya dan musuhnya yang ternyata memiliki keterkaitan dengan masa lalunya.


Premis atau modal cerita yang cukup menarik, tetapi sayangnya untuk keseluruhan plot cerita terasa banyak bolong sana-sini meskipun dari sisi narasi film ini masih bisa mampu menarik perhatian penonton hingga film selesai. beberapa bolong sana-sini yang dimaksud seperti mulai dari motif villain utama yang sangat dangkal atau tidak kuat, performa cast dalam akting yang sangat di bawah rata-rata, hingga sangat minimalisnya dalam sequence action yang saangat berbanding terbalik dengan spin-off Spider-Man lainnya seperti Venom dan Morbius.


Di luar segala hal kelemahan-kelemahan yang ditemui, fan service yang dimunculkan setidaknya memberi daya gigit tersendiri seperti kemunculan Ben Parker (Adam Scott) yang merupakan paman dari Peter Parker hingga Mary Parker (Emma Roberts) yang merupakan ibu dari sanga superhero manusia laba-laba yang kita kenal Peter Parker/Spider-Man.


Secara keseluruhan, Madame Web tampil sedikit lebih baik dari narasinya dibandingkan spin-off Spider-Man sebelumnya Morbius, namun tidak maksimal memanfaatkan potensi dari premisnya yang cukup menarik yang sangat besar punya peluang untuk mendapatkan sequel karena masih banyak yang dieksplorasi dari 4 karakter utama wanita dalam film ini.

Overall: 5/10


Saturday, May 7, 2022

ULASAN: MOON KNIGHT (SERIES)




Semesta Marvel Cinematic universe sudah memasuki babak baru setelah Endgame yang dimulai dari Black Widow untuk film dan WandaVision untuk seriesnya. Dan sejak Marvel Studios memegang kendali seriesnya yang dipimpin oleh Kevin Feige, sejak itu pula kita bisa melihat series-seriesnya mempunyai standar demi memperluas semesta Marvel Cinematic Universe yang alih-alih terpisah seperti series-series sebelum dipegang oleh Marvel Studios, phase 4 yang dibuka oleh WandaVision, lalu dilanjutkan The Falcon & Winter Soldier, Loki dan Hawkeye berhasil mendapatkan respon positif yang tidak hanya dari fans saja tapi juga penonton baru. Sekarang tongkat estafet itu coba dilanjutkan oleh Moon Knight yang dibintangi oleh Oscar Isaac, Ethan Hawke dan May Calamawy.

 
Karena ini review series yang tayang mingguan saya asumsikan buat kamu yang membaca review ini sudah menonton beberapa episode seriesnya yang membuat saya tidak harus menjelaskan sinopsis panjang seriesnya. Penjelasan sederhananya Moon Knight adalah series superhero berkepribadian ganda dengan balutan mitologi dan kultur Mesir yang kental. Kita akan mengikuti perjalanan Marc Spector/Steven Grant (Oscar Isaac) yang merupakan avatar dari sang dewa bulan, Khonsu. Dibantu oleh Layla (May Calamawy) mereka berusaha mencegah usaha Arthur Harrow (Entah Hawke) untuk membangkitkan dewa Ammit, sang pelahap jiwa manusia. Kurang lebih seperti sinospsis singkat dari Moon Knight. Terlihat sederhana bukan? Eits, nanti dulu. Dari sinopsisnya memang terlihat sederhana, namun isi series berjumlah 6 episode ini jauh lebih rumit dari sinopsisnya, setidaknya untuk saya.



Kerumitan series ini sudah mulai bisa kita lihat sejak episode pertama dan berlanjut sampai episode ke-5. Lalu Episode ke-6 adalah klimaks dan konklusi dari 5 episode sebelumnya dan itupun masih banyak meninggalkan pertanyaan. Kerumitan series ini berputar pada pusaran pergantian kepribadian yang muncul antara Marc dan Steven. Belum kita mengerti atau menyerap sepenuhnya konflik antara Marc dan Steven, kita juga disuguhi kebingungan hubungan antara Marc dengan Khonsu yang lagi-lagi kita harus bersabar ketika masuk pelan-pelan ke dalam plot ceritanya. Dan plot cerita seperti ini yang suka. Mengupas pelan-pelan seperti mengupas bawang merah yang makin dalam ketika dikupas maka akan masih terasa efeknya. Seakan belum cukup rumit kita juga diajak ke 3 realitas yang ada dalam series ini. Saya sangat serius, jika premis series ini bisa diceritakan dengan sangat mudah, tapi tidak dengan isi series 6 episode ini. Tidak ada cara sederhana menjelaskan isi cerita series ini. Menontonnya sendiri adalah satu-satunya cara mengerti 'serumit' apa yang saya maksud.



Tapi tenang dulu, di tengah-tengah kerumitan saat kita mencoba menyerap plot cerita, sepanjang 6 episode kita juga akan disuguhi adegan aksi yang intens. Yag paling menarik ada pada bagian transisi pertukaran kepribadian Marc dan Steven di tengah-tengah sequence. Lebih dari sekadar teknis, namun transisi itu juga punya sisi penceritaan. Penonton bisa menangkap sisi penceritaan yang ada pada transisi itu sendiri. Lalu dari hal visual, series ini mempunyai visual estetik yang memukau mata. Mohamed Diab yang secara bergantian menyutradarai Aaron Morhead dan Justin Benson sangat memaksimal visual 3 realitas yang ada dalam series ini terutama realitas alam bawah sadar Marc Spector dan juga dunia mitologi Mesir yang dimunculkan.. Sinematografi dalam series ini adalah yang terbaik dari semua series MCU sebelumnya. Yap, saya berani menobatkan yang terbaik karena memang sebagus itu.



Dengan mengisi bensin cerita dengan segala kerumitannya, Moon Knight juga bisa dibilang mempunyai plot cerita yang lebih 'dark' jika dibandingkan dengan series-series sebelumnya. Oscar Isaac adalah pengendali series ini. Komitmen dia memerankan karakter ini benar-benar layak diacungi jempol. Puncaknya ada pada episode ke-5 saat misteri karakter Marc dan Steven terungkap sekaligus menjadi episode terkuat pada series ini. Dengan ending yang masih terbuka dan mash banyaknya pertanyaan yang belum terjawab, kita masih ingin melihat Moon Knight melanjutkan kiprahnya di semesta sinema Marvel.


Overall: 8,5/10













Friday, April 1, 2022

ULASAN: MORBIUS



Setelah memasuki era Spider-Man Homecoming sepertinya Sony makin percaya diri memperluas universe Spider-Man. Itu terbukti dengan suksesnya spin-off Venom dan sequelnya terlepas dari kurang memuaskan respon kritkus dan juga fans akan ceritanya yang lemah. Sekarang hadir Morbius, film spin-off dari villain Spider-Man lainnya yang sempat berkali-kali diundur dan bahkan sampai syuting ulang beberapa kali. Dibintangi Jared Leto, Matt Smith, Adria Arjona, Jared Harris dan Tyrese Gibson. Sementa ada nama Daniel Espinosa (Safe House, Life) di kursi sutradara.



Seperti yang terlihat di trailer, Morbius menceritakan Dr. Michael Morbius  (Jared Leto) yang berubah menjadi vampir setelah eksperimennya untuk bisa menyembuhkan penyakit genetika yang dia derita tidak berbuah hasil yang diharapkan. Efek samping dari eksperimen yang dilakukan itu memang membuat Morbius menjadi sehat dan juga mendapatkan kekuatan-kekuatan yang tidak terbayangkan, namun itu hanya bersifat sementara. Untuk bisa bertahan hidup Morbius harus mengkosumsi darah manusia yang membuat jatuhnya korban jiwa. Kejadian yang membuat Morbius menjadi buron dan dikejar-kejar oleh pihak berwajib. Di saat yang bersamaan, Milo (Matt Smith) sahabat Morbius mengambil kesempatan menyuntik serum yang sama dengan Morbius. Dan persimpangan dua sahabat ini untuk menyikapi serum sangat berbeda dan membuat mereka yang tadinya sahabat, lalu menjadi musuh yang saling membunuh. Kurang lebih seperti itu rangkuman plot cerita Morbius.


Tidak banyak basa-basi, film yang berdurasi 104 menit ini mempunyai alur yang cukup cepat. Perpindahan dari adegan pembuka saat Morbius menemukan sarang kelelawar vampir, lalu adegan flashback masa kecil Morbius sampai akhirnya yang menjadi konflik utama berlangsung sangat cepat. Tetapi jangan khawatir, bahkan ketika kamu tinggal buang air kecil sekalipun kamu tidak akan melewatkan apa-apa. Karena dari adegan manapun kamu menontonnya kamu akan bisa menangkap isi keseluruhan cerita. Kamu tidak perlu takut tidak mendapatkan emosi film ini, karena menontonnya secara keseluruhannya pun kamu tidak mendapatkan emosi apa-apa dari film ini. Masalah utama dalam film Morbius memang terletak pada naskahnya yang tidak punya kedalaman cerita. Naskahnya divisualkan bagaimana filmnya bisa cepat selesai.


Seburuk itu kah Morbius? Jika ditanya dari sisi plot cerita jawabannya iya. Tapi dari sisi lain seperti penampilan pemain Jared Leto cukup mampu menghidupkan karakternya, tetapi lagi-lagi semua itu tidak didukung naskah yang solid yang membuat penampilan yang cukup bagus itu serta spesial efek yang cukup mumpuni jadi terasa hambar. Jika Jared Leto mampu menghidupkan karakternya tetapi tidak dengan yang lainnya. Banyak karakter yang ada sekadarnya atau tempelan belaka. Sangat disayangkan talenta seorang Jared Harris terasa tersia-siakan di film ini. Belum lagi fungsi karakter-karakter agen FBI yang cukup penting dalam plot cerita namun ditelantarkan ketika menuju klimaks akhir dan tidak diberikan konklusi sama sekali.


Jika kamu berpendapat DCEU milik Warner tertatih-tatih menyusun timeline yang lebih ke berantakan, maka kesan yang jauh lebih buruk akan kamu dapatkan pada Sony lewat Spider-Man Universenya. Bahkan after credit scenenya yang dimaksudkan ingin memancing antusias penonton untuk film selanjutnya jadi terasa aneh dan justru menjadi plot hole. Kenapa menjadi plot hole? Harus kamu tonton sendiri terlebih dahulu. Secara keseluruhan materi dari universe villain-villain Spider-Man memang punya potensi yang kuat. Namun sejauh ini sama halnya seperti 2 film Venom, Morbius hadir hanya untuk diadakan, tidak ada hati dalam cerita yang bisa dipersembahkan kepada penonton.


Friday, December 17, 2021

ULASAN: SPIDER-MAN "NO WAY HOME"



Sebuah penantian itu akhirnya juga. Hype yang sudah mulai terbentuk setahun yang lalu akhirnya mencapai puncaknya ketika filmnya akhirnya tayang. Tentu saja yang saya maksud Spider-Man: No Way Home. Bahkan saya yang bukan fans Spider-Man sekalipun akhirnya juga masuk pada arus hype film ini. Yang membuat kita sangat menantikan dan terbentuknya hype itu tentu saja konsep "mustiverse" yang diperkenalkan Marvel Studios yang juga menjadi ranah selanjutnya yang akan banyak disinggung dalam film-film Marvel Studios selanjutnya.

Melanjutkan apa yang sudah terjadi dalam pada event Spider-Man: Far From Home ketika akhirnya identitas Peter Parker (Tom Holland) sebagai Spider-Man terungkap. Sejak saat itu hidup Peter Parker tidak pernah sama lagi. Terungkapnya identitas itu tidak hanya berdampak pada Peter Parker sendiri, namun juga orang-orang terdekatnya. Mencoba jalan pintas, Peter meminta tolong kepada Doctor Strange (Benedicth Cumberbatch) agar bisa membantunya membuat orang-orang mengetahui identitasnya bisa melupakan dia adalah Spider-Man. Namun permintaan yang disanggupi oleh Doctor Strange itu tidak berjalan lancar yang berimbas mengundang musuh-musuh Spider-man dari semesta lain. 

Sejak trailernya muncul pertama kali rasanya hampir semua dari kita merasa sangat antusias dengan banyaknya villain yang akan muncul di seri ketiga Spider-man versi Tom Holland ini, namun di sisi lain juga muncul kekhawatiran jika kejadian pada Spider-Man 3(2007) dan juga The Amazing Spider-Man 2 (2014) kembali terulang. Dan di sini kejelian Jon Watts sebagai sutradara yang naskahnya ditulis oleh Chris McKenna dan Erik Sommers yang juga menulis naskah dua film Spider-Man sebelumnya. Secara hati-hati memunculkan satu-persatu karakter villain tanpa terasa dipaksakan. Bahkan dari dialog-dialog villain yang muncul, naskahnya memberikan informasi-informasi asal-usul villian untuk penonton yang tidak menonton 5 film Spider-Man sebelum Homecoming.

Menuju 3/4 durasi film, plot cerita makin membesar sampai akhirnya tiba pada sesuatu yang benar-benar ditunggu penonton. Ketika hal yang ditungu-tungu itu muncul, rasa penasaran dan hype itu terbayar dengan tuntas. Betapa kita sebagai penonton tidak diberi berhenti untuk meberikan kekaguman dan memberikan tepuk tangan sampai akhir film. Sebuah final act dengan sequence action terbaik yang pernah kita lihat. Jika Endgame memberikan kita sensasi rasa takjub, maka untuk No Way Home memberikan sensasi euforia nostalgia. Bukan konsep multiverse yang membuat film ini sangat terlihat luar biasa, bukan itu. Karena konsep multiverse sudah pernah kita lihat lewat Into the Spider-Verse. No Way Home jauh lebih besar dari itu yang tidak bsia saya gambarkan dalam bentuk tulisan. Kamu harus menontonnya sendiri.

Spider-Man No way Home memberikan jawaban ekspetasi penggemar. Mengabulkan semua keinginan  penggemar yang bahkan saat trailernya muncul hal itu masih terasa sangat mustahil yang sekaligus menutup lubang pada dua generasi film Spider-Man sebelum Homecoming. Untuk hal ini kita harus berterima kasih pada pihak studio yang bisa membuat apa yang tidak mungkin menjadi kenyataan dalam bentuk visual. Damn, I love movies.

Overall: 9,5/10

Thursday, November 18, 2021

ULASAN: VENOM "LET THERE BE CARNAGE"









Setelah tertunda beberapa kali dan bahkan sempat dijadwalkan rilis tahun 2022, akhirnya sequel musuh bebuyutan Spider-Man ini sudah bisa kita saksikan di bioskop-bioskop. Masih dibintagi oleh Tom Hardy yang kembali memerankan Eddie Brock/Venom. Lalu ada Michelle Williams sebagai Anne, dan untuk villain utama ada Naomi Harris dan Woody Harrelson yang memerankan pasangan psikopat. Andy Serkis sang spesialis aktor CGI bertindak di kursi sutradara, melanjutkan yang sudah dikerjakan oleh Ruben Fleischer yang menyutradarai film pertama.

Melanjutkan yang sudah tertuang pada film pertama, Eddie Brock (Tom Hardy) yang masih kesulitan  mengontrol Venom yang ada dalam dirinya harus berhadapan masalah baru ketika Cletus Kasady (Woody Harrelson) seorang tahanan hukuman mati ingin menjumpainya sebelum hari hukuman mati baginya tiba. Pertemuan itu secara tidak sengaja membuat berpindah dan bermutasinya simbiot yang ada dalam diri Cletus setelah didapatkan dengan cara menggigit Eddie. Situasi makin memburuk ketika Cletus akhirnya bisa melarikan diri dari penjara dengan kekuatan barunya dan mulai meneror seisi kota. Hanya tinggal menunggu waktu bagi Eddie ditemukan oleh Cletus yang mutasi simbiot dalam dirinya menjadi lebih kuat dari Venom dan menamai dirinya Carnage.

Tanpa berbasa-basi, sequel ini mempunyai alur yang cukup cepat. Perkenalan karakter villain utama film ini Cletus Kasady hingga dia mendapat kekuatan seperti hanya sekadar mengisi posisinya sebagai villain klasik. Jadi jika kamu berekspetasi sesuatu pada karakter ini yang lebih dari sekadar villain sebaiknya kubur saja eksptasi kamu. Tidak ada nilai lebih yang diberikan karakter Carnage. Bahkan karakter Riot yang menjadi villain utama masih lebih berisi dibandingkan Carnage. Miskinnya penggalian karakter Carnage untungnya dapat ditutup dari sisi lain, yaitu hubungan antara Venom dan Eddie Brock yang banyak memancing tawa. Hubungan mereka sudah layaknya seperti bromance. Sangat menarik bagaimana Tom Hardy berakting beradu argumen dengan dirinya sendiri.

Jika dari sisi cerita tidak terlalu banyak berubah dengan film pertama, tidak dengan sisi actionnya. Andy Serkis sepertinya snagat memaksimalkan pada bagian ini. Sequence action pada sequel ini jauh lebih massive dibandingkan film pertama. Jikapun ada hal yang kurang memuaskan dari action ini tidak disajikan dalam rating semestinya. Untuk fans komiknya tahu persis bagaimana brutalnya Carnage yang sayang belum mendapat visual yang maksimal karena mengejar rating yang cocok untuk PG13.

Secara keseluruhan Venom: Let There Be Carnage hadir dengan elemen-elemen seperti film pertamanya. Seri ini yang tidak memberikan peningkatan dari plot cerita yang kuat, namun masih akan memberikan kepuasan jika kamu mengharapkan action yang jauh lebih besar dibandingkan film pertama





Saturday, July 6, 2019

ULASAN: SPIDER-MAN 'FAR FROM HOME'



Sehabis perhelatan akbar para superhero dalam Avengers: Endgame yang masih sangat berbekas di ingatan kita film yang paling dinantikan sebagai penutup Marvel Cinematic Universe fase 3 di tahun ini adalah Spiderman: Far From Home, kembali disutradarai oleh Jon Watts dengan cast lama yang sebagian besar kembali bermain ditambah dengan beberapa pemain baru seperti Jake Gyllenhaal, JB Smoove, Angourie Rice, dan Colbie Smulders. Film ini dirilis di US pada 2 Juli 2019 disusul Indonesia pada 4 Juli 2019. Dengan jadwal rilis Film Marvel yang menargetkan 3 judul film dalam setahun maka film ini sekaligus merupakan film Marvel terakhir di tahun 2019 ini sebelum kita mulai memasuki MCU fase 4 yang sepertinya merupakan era baru yang akan berbeda. Hingga artikel ini ditulis, film ini mendapat rating 92% di Rotten Tomatoes sama dengan film pertamanya. Jika di film pertama kita lebih dikenalkan pada dinamika kehidupan Peter Parker dan peran barunya sebagai Spiderman, maka di film kedua semua dibuat lebih meningkat dari segi masalah yang dihadapi dan tanggung jawab Peter Parker sebagai superhero terkait dengan posisinya sebagai bagian dari Avenger.





Spiderman: Far From Home bercerita tentang adanya gangguan di sejumlah lokasi di Eropa oleh makhluk yang dinamakan The Elementals hasil penyelidikan Nick Fury (Samuel L Jackson) dan Maria Hill (Cobie Smulders) dan kemunculan Superhero misterius, Quentin Beck/ Mysterio (Jake Gyllenhall) yang tampaknya berada di pihak yang baik karena membantu melawan The Elementals. Melihat hal tersebut Nick Fury meminta bantuan Spiderman/ Peter Parker agar dapat membantu mengatasi masalah tersebut bersama Mysterio. Peter (Tom Holland) sendiri sebetulnya sedang ingin lepas sejenak dari tugas superhero karena ia dan teman-temannya Ned (Jacob Batalon), MJ (Zendaya), serta gengnya sedang menjalani liburan ke Eropa, tetapi akhirnya setuju untuk membantu Nick Fury dalam melawan The Elementals karena keberadaan The Elementals juga turut mengancam keselamatan teman-temannya dan penduduk sekitar. Akankah Peter berhasil mengatasi ancaman The Elementals, siapa dan apakah motif Mysterio dalam melawan The Elementals, serta berhasilkah Peter dalam menjalani dualisme hidupnya di antara teman-temannya dan sebagai superhero? Poin-poin inilah yang menjadi inti dari cerita sekuel film Spider-Man: Far From Home.





Jika di film pertama, hubungan Peter dan MJ tidak terlalu disorot tapi di film kali ini cukup mendapat porsi lebih banyak dan berhasil ditampilkan dengan baik dan tidak mengganggu keseluruhan cerita. Plot utamanya tetap terjaga dengan baik, selingan-selingan komedi khas remaja disematkan pada momen yang tepat dan membuat kita terhibur. Interaksi Peter dengan teman-temannya menjadi salah satu kelebihan film ini selain dari aksi utama Spider-Man dalam melawan karakter antagonis. Seperti film pertamanya, film ini juga menyimpan twist yang sebenarnya sudah bisa ditebak sejak dari trailer yang ditampilkan dan buat para pembaca setia Komik Spider-Man karena terkait dengan karakter Mysterio yang ternyata adalah dalang dari semuanya. Baru pada pertengahan film kita dibukakan pada masalah sesungguhnya dan fakta bahwa Mysterio adalah mantan pegawai Tony Stark yang sakit hati yang punya obsesi menjadi superhero sekaligus membalas dendam. Klimaks film ini adalah pertarungan antara Spider-Man dan Mysterio yang merupakan momen paling keren di film ini karena menyajikan trik Mysterio yang membuat Spider-Man cukup kewalahan, persis seperti di komiknya. CGI yang digunakan secara keseluruhan mampu menampilkan visualisasi aksi Spider-Man dan pertarungan antara Mysterio dan Spider-Man dengan sempurna dan sangat baik. Bukan Marvel namanya jika tidak memberikan kejutan, bagian akhir film ini memberikan kita kejutan yang sangat besar terhadap nasib Spider-Man yang harus kita tunggu setelah memasuki MCU fase 4 nanti.



Pilihan Marvel terhadap Tom Holland untuk menjadi karakter Peter Parker/ Spider-Man tidak mengecewakan, Tom merupakan representasi Spider-Man versi remaja yang kadang canggung dalam menyeimbangkan tanggung jawabnya sebagai siswa yang masih bersekolah dan superhero namun selalu punya harapan positif terhadap setiap masalah yang dihadapi. Tom Holland memerankan karakter Peter dengan sangat baik, emosinya sebagai remaja yang terkadang bingung dalam menempatkan prioritas diaktualisasikan dengan sangat baik dan membuat penonton sangat terhubung dengan karakternya. Hal tersebut terlihat setiap kali Peter dihadapkan pada posisi sulit antara memilih menjalani hidup normal dan menjalankan tugasnya sebagai superhero dalam beberapa kejadian dalam film seperti dipanggil tiba-tiba saat sedang dalam momen bersama MJ dan berbagai momen lain. Sebagai love interest Peter, Zendaya mampu menampilkan pesona yang unik dibanding karakter-karakter MJ di film Spider-Man sebelumnya dan itu terlihat dari interaksi dan chemistry mereka yang cukup membekas di pikiran dan hati kita. Ned dan Betty (Angourie Rice) juga sukses mencuri perhatian lewat interaksi mereka yang lucu sebagai sepasang kekasih yang dimabuk asmara. Di sini kita juga diberikan interaksi lebih jauh antara Peter dan Bibi May (Marisa Tomei) dan Happy (Jon Favreau). Marisa Tomei benar-benar memberikan penampilan yang fresh dan hubungannya dengan Happy memberi warna tersendiri dalam dinamika film ini. Dari segi karakter antagonis, Mysterio yang diperankan Jake Gyllenhall tidak mengecewakan namun berada sedikit di bawah Michael Keaton dalam hal intimidasi. Jake Gyllenhall tampil meyakinkan sebagai con-artist yang membuat penonton awalnya percaya sampai momen yang menguak siapa sebenarnya Mysterio.





Jon Watts berhasil membawakan konsep Teen action-comedy ke dalam film sekuel Spider-Man ini dengan sangat baik. Dia tetap bisa membawa tone film remaja secara konsisten seperti di film pertamanya dan di film keduanya dia meningkatkannya dengan konflik khas remaja yang dialami oleh Peter Yang notabene juga adalah superhero. Aspek interaksi Peter dan teman-temannya digarap dengan detail dan mengena selayaknya remaja pada umumnya. Formula Yang digunakan Watts hampir mirip seperti di film pertama namun naskah Yang baik dan eksekusinya yang sempurna membuat film ini sukses dan berkesan bagi penonton. Watts menyajikan isu khas remaja seperti keegoisan terhadap diri sendiri dan apa artinya memikul tanggung jawab yang besar. Kita tahu jargon dibalik kekuatan Yang besar tersimpan tanggung jawab Yang besar selalu terngiang dalam tiap Film Spider-Man dan versi Spider-Man Yang baru pun melanjutkan pesan tersebut dengan impresif. Lewat film ini Jon Watts sekali lagi membuktikan kepada Kita kenapa Spider-Man adalah karakter Marvel yang paling digemari..

Overall : 8,5/10

(By Camy Surjadi)



Sunday, June 16, 2019

ULASAN: X-MEN 'DARK PHOENIX'



20 tahun sudah perjalanan universe X-men di layar lebar yang dibangun oleh 20th Century Fox. Bisa dibilang X-men adalah pelopor yang membangkitkan kembali film bertema superhero di awal milenium yang sampai saat ini masih membanjiri layar-layar bioskop setiap tahunnya. Jatuh bangunnya universe X-men sudah mempunyai banyak cerita. Dan sekarang universe X-men yang dibangun oleh 20th Century Fox sudah mencapai babak akhir lewat Dark Phoenix (tanpa memasukan New Mutant yang rilis tahun 2020) sebelum akhirnya akan dipegang kendali oleh Disney yang 99% akan direboot yang menyesuaikan dengan universe Marvel Cinematic Universe. Lalu bagaimanakah hasil babak terakhir X-men ini ?


Film terakhir ini awalnya akan disutradarai dua film sebelumnya oleh Bryan Singer, sutradara yang tahu betul seluk beluk X-men karena sudah menyutradarai 4 dari 13 film universe X-men. Tetapi sayangnya dikarenakan sebuah kasus, kursi sutradara dijabat oleh Simon Kinberg yang juga sudah kenyang pengalaman dalam universe X-men sebagai penulis naskah, dua film terbaik X-men (X2, Days of Future Past) ditulis olehnya. Dark Phoenix adalah film pertama Simon Kinberg sebagai sutradara yang juga sekaligus menjabat sebagai penulis naskah dan produser film ini. Tugas yang cukup berat tentunya untuk film pertama sebagai sutradara yang langsung memimpin sebuah film dengan budget besar.


Melanjuti dari ending X-Men Apocalypse (2016), mutant sudah bisa diterima dan hidup berdampingan dengan manusia biasa. Bahkan Charles Xavier (James McAvoy) sudah mempunyai posisi tersendiri di mata presiden yang bisa menghubungi presiden secara langsung hanya dengan satu tombol pada telepon. Masalah muncul ketika pada misi terakhir X-men dalam sebuah misi penyelamatan yang mengakibatkan Jean Grey (Sophie Turner) mengalami sebuah kecelakaan yang harusnya membuatnya kehilangan nyawa tetapi tanpa diduga Jean selamat dan mendapat sebuah yang kekuatan yang sangat besar dari kecelakaan tersebut. Kekuatan besar yang  tidak bisa dikontrol Jean yang bisa berakibat membahayakan orang lain. Disaat bersamaan Jean mengetahui masa lalunya yang tidak pernah diketahuinya yang disembunyikan oleh Charles Xavier. Hal yang membuat Jean makin tidak stabil lalu membuat salah satu anggota X-men menjadi korban.


Disaat bersamaan sekelompok makhluk yang berasal dari luar bumi mengincar kekuatan kekuatan yang dimiliki Jean Grey. Kekuatan besar yang bisa membantu mereka untuk menjalankan misi utama yang dipimpin oleh Vux (Jessica Chastain). Lalu pemerintah merasa perlu mengambil tindakan atas kejadian yang hasilkan oleh tidak stabilnya Jeaan yang mengancam banyak orang dan mengancam hubungan baik dengan para mutant yang sudah terjalin.Seakan belum cukup, Beast atau Hank McCoy (Nicholas Hoult) untuk pertama kalinya bekerjasama dengan Magneto (Michael Fassbender) menyatukan kekuatan untuk membunuh Jean yang didasari sara dendam. Sebuah hal yang ditentang oleh Charles Xavier dan untuk kesekian kalinya akan berselisih dengan mantan sahabatnya itu. Well, lalu bagaimana dengan akhir kisah yang sebenarnya sudah cukup menarik dari premisnya ini ?


Keteteran dan terburu-buru itu yang sangat dirasakan setelah menonton X-Men: Dark Phoenix. Kesalahan yang terjadi pada X-men: The Last Stand yang juga mengangkat cerita yang sama kembali terulang, yaitu banyaknya karakter tetapi tidak mendapatkan porsi yang pas. Hal itu berakibat karakter-karakter penting dalam film ini terasa kosong. Sebagai contoh Magneto yang hampir selalu menjadi pengendali cerita dengan Charles Xavier dalam setiap film X-men, untuk Dark Phoenix kehadirannya seperti dipaksakan diadakan yang motivasinya untuk ikut andil karena motif balas dendam tidak terasa kuat jika dibandingkan dengan film-film sebelumnya. Belum cukup dengan karakter-karakter yang datar, jika kamu mengikuti kisah X-men, ada beberapa kontinuitas yang tidak berkesinambungan tanpa ada petunjuk penjelasan dari plot cerita dengan film-film X-men yang sebelumnya. Seperti yang kita tahu, X-men generasi First Class adalah prequel dari trilogi film pertamanya. Contoh, kematian salah satu karakter dalam Dark Phoenix yang di timeline tahun ada di tahun 1992, tetapi di tahun 2000 di film X-men pertama diceritakan hidup. Entah ini ada pengaruh dari Days of Future Past yang mempengaruhi timeline cerita, tetapi lagi-lagi tidak penjelasan sama sekali pada Dark Phoenix.


Untungnya ditengah-tengah flatnya cerita dan karakter, Dark Phoenix masih mampu menghibur kita. CGI atau spesial efeknya yang sangat detail dan memanjakan mata. Setiap duel atau atau sequence pertarungan dalam Dark Phoenix bisa dibilang menyajikan adegan-adegan terbaik dalam film ini. Puncaknya ada pada duel terakhir di dalam kereta yang membuat kamu ingin menonton ulang film ini hanya untuk melihat adegan itu.


Dengan materi dan komposisi yang ada, Dark Phoenix terlihat sudah sangat menjanjikan, setidaknya bisa sedikit lebih baik dibandingkan Apocalypse. Tetapi sayangnya semua hal itu tidak mampu dimanfaatkan secara maksimal. Naiknya tugasnya Simon Kinberg sebagai sutradara yang sekaligus penulis naskah dan produser seaakan membebankan semua faktor penting pada pundaknya membuat hasilnya jauh dari yang diharapkan. Film dengan plot cerita yang besar yang mungkin memang tidak bisa diselesaikan dengan satu film saja.

Overall: 5/10

(By Zul Guci)