Showing posts with label Scifi. Show all posts
Showing posts with label Scifi. Show all posts

Thursday, February 3, 2022

ULASAN: MOONFALL





Film-film bertema bencana alam tidak akan pernah usang untuk dibuat, selalu ada film baru setiap beberapa tahun yang bertabur cast bintang A Hollywood untuk mengisi peran utama. Bermodalkan plot cerita yang bombastis dan menarik, penonton pasti penasaran untuk menontonnya di bioskop. Berbicara soal film bertema natural disaster yang terbayang di kepala kita pastilah nama Roland Emmerich. Roland Emmerich terkenal lewat film bencana alamnya yang notable seperti The Day After Tomorrow (2004) dan 2012 (2009) serta Sci-Fi Independence Day (1996) dan sekuelnya Independence Day: Resurgence (2016). Kali ini Roland Emmerich kembali dengan karya terbarunya berjudul Moonfall yang akan rilis di bioskop Indonesia pada 2 Januari 2022 menyusul di bioskop AS pada 4 Januari. Roland bertindak selaku sutradara, co-producer, dan co-writter untuk film ini. Moonfall sendiri bergenre sci-fi disaster movie yang bisa dibilang memiliki banyak unsur kesamaan dengan Independence Day but with a twist. Film ini dibintangi oleh jajaran cast ciamik seperti Halle Berry, Patrick Wilson, John Bradley, Michael Peña, Charlie Plummer, Kelly Yu, dan Donald Sutherland. Diproduksi dengan budget 140 juta USD, film ini menjadi film independent dengan budget terbesar yang pernah dibuat.



Diceritakan sebuah kekuatan misterius menyebabkan Bulan keluar dari lintasan orbitnya dalam mengelilingi Bumi dan mengirimkannya tepat di jalur tabrakan dengan bumi dan mengancam keberadaan kehidupan yang ada di dalamnya. Hanya beberapa minggu sebelum tabrakan dan dunia di ambang kehancuran, eksekutif NASA dan mantan astronot Jo Fowler (pemenang Academy Award® Halle Berry) yakin dia memiliki kunci untuk menyelamatkan umat manusia – tetapi hanya satu astronot dari masa lalunya, Brian Harper (Patrick Wilson yang kita kenal lewat Conjuring, Insidious, dan Midway) dan seorang ahli teori konspirasi KC Houseman (John Bradley, "Game of Thrones") yang mempercayainya. Trio yang tidak terduga ini akan melakukan misi terakhir nan mustahil ke luar angkasa menuju bulan, meninggalkan semua orang yang mereka cintai di bumi untuk menguak misteri bahwa Bulan sama sekali bukan seperti yang kita pikirkan selama ini.



Selama 130 menit durasi film ini, banyak hal yang terjadi dan temponya cukup cepat terutama pengembangan cerita utamanya soal misteri kenapa bulan bisa keluar dari orbitnya dan terjadinya bencana. Pada first act kita diperkenalkan dengan kejadian awal yang misterius di bulan di masa lampau yang melibatkan Brian dan Fowler yang ternyata berlanjut di masa sekarang. Hubungan Brian dan Fowler merenggang semenjak misi di bulan karena pemerintah AS dan NASA tidak mempercayai kesaksiannya. Bumbu konflik sudah ditanamkan dengan baik di sini, untuk pengembangan karakternya hanya terdevelop dengan baik antara para karakter utama namun tidak begitu dengan karakter pendukung yang ada, hanya ada beberapa yang standout seperti Charlie, anak Harper yang dan Tom (Michael Peña) yang diceritakan menjadi ayah tiri Charlie namun dinamikanya dibuat asyik dan tidak stereotype, surprisingly KC yang paling menarik karena di tengah-tengah cerita dia naik kelas dari karakter pendukung menjadi karakter utama. Di second act film ini langsung tancap gas dengan menampilkan adegan-adegan bencana yang bombastis akibat bulan keluar orbit sehingga penonton berpikir manusia tidak mungkin selamat dari bencana semasif ini tapi di sinilah peran 3 karakter kunci kita merangkai misi penyelamatan bumi. Third act dibuat lebih menarik karena ada twist yang tidak akan saya buka di sini yang harus anda saksikan sendiri, ketika misi penyelamatan umat manusia dari kehancuran dilakukan ternyata ada hal tidak terduga yang membuat plot film ini jadi semakin menarik.



Komposisi humor dalam film ini pas dan tidak berlebihan diselipkan lewat dialog-dialog yang cerdas seperti referensi penyebutan SpaceX, Elon Musk, dan referensi lain yang relate dengan eksplorasi luar angkasa terutama bulan. Side plot yang ada untungnya tidak terlalu mengganggu cerita utama karena sebetulnya untuk pengembangan karakter Charlie dan keluarga tirinya, sayangnya tidak terlalu membantu sehingga bisa diabaikan. Moonfall bisa dibilang paket komplit penggabungan Terminator, Independence Day, dan 2012 yang didukung CGI dan visual graphic yang luar biasa. Manusia selalu penasaran dengan bulan, di sini Emmerich akan membeberkan apa sebenernya bulan itu secara fiktif kepada penonton. Teori konspirasi adalah penggerak film ini sama seperti gagasan Area 51 yang jadi ide penggerak film Independence Day.



Para cast yang terlibat semuanya memiliki dinamika yang sangat baik terutama Bradley yang tampil menghibur dan memecah suasana serius. Patrick Wilson dan Halle Berry juga tampil meyakinkan, hanya Michael Peña yang sepertinya kurang diberdayakan padahal akan jadi perpaduan yang bagus jika karakternya lebih dieksplorasi lagi. Hubungan kekeluargaan baik antara Patrick dengan mantan istri dan anaknya ataupun Halle Berry dengan mantan suami dan anaknya dalam cerita film ini terkesan singkat dan terbatas karena memang film ini tidak punya terlalu punya banyak ruang untuk aspek ini, suatu hal yang harus dimaklumi.



Sinematografi film ini didominasi CGI dan visual effect namun it’s been well developed sesuai budget bombastis film ini. Adegan ketika bumi mulai diserang bencana alam diperlihatkan dengan sangat baik dan intimidatif membuat penonton bisa merasakan dampak yang sama seandainya itu terjadi di bumi kita. Adegan aksi di luar angkasa didukung efek visual yang smooth dan luar biasa setara film Star Wars di film ini cukup memanjakan mata. Salah satu aspek utama film yaitu bulan dikembangkan dengan sangat apik dalam film ini termasuk rahasia tentang apa sebetulnya bulan itu. Imajinatif namun berhasil dibangun dengan detil dan sangat believeable.



Moonfall benar-benar film yang komplit dan menghibur di kala semua film sci-fi terasa begitu-begitu aja, membuat kita berharap para sineas Hollywood bisa punya kreativitas lebih gila lagi dalam membuat film bergenre sci-fi. Emmerich mendapat ide cerita ini dari novel Who Built the Moon karya Christopher Knight dan Alan Butler yang memberikan teori bahwa bulan tidaklah seperti yang kita pikirkan selama ini, bahwa selama ini ada rahasia yang disembunyikan NASA. Teori konspirasi selalu mendapat tempat dan disukai penonton walau terkadang absurd. Eksperimen penggabungan genre yang dibalut teori konspirasi semestinya dibuat lebih beragam sehingga di kemudian hari bisa didapatkan perpaduan mana yang memang klop seperti Moonfall ini. Emmerich terbukti berhasil memikat penonton lewat film ini yang awalnya saya pikir lewat trailer bakal seperti natural disaster movie biasa dan tidak ada sesuatu yang baru. Saya berharap sekuelnya dapat diwujudkan karena masih banyak potensi yang dapat digarap bukan tidak mungkin Moonfall dapat menjadi franchise yang baru penerus Independence Day.



Overall: 8/10
(By Camy Surjadi)











Tuesday, October 12, 2021

ULASAN: DUNE (2021)






Sekali lagi saya merasakan momen "terkadang tidak tahu apa-apa itu adalah emas". Mungkin hal itu gambaran saya untuk film Dune. Film remake atau adaptasi terbaru dari novel klasik berjudul sama dengan filmnya hasil karya tulisan Frank Herbert yang rilis pada tahun 1965. Informasi yang saya ketahui dari latar belakang film ini adalah pernah menjadi sebuah film sebelumnya dengan sutradara David Lynch tahun 1984. Sekarang adaptasi novel mendapat versi terbaru yang didukung oleh teknologi-teknologi visual yang jauh lebih maju tentunya dibandingkan dengan versi tahun 1984. Yang berada di kursi sutradara versi Dune terbaru ini pun adalah sutradara yang cukup ambisius. Itu terbukti dengan banyaknya jajaran pemain dengan predikat bintang 5 yang berpatisipasi di film ini.


Sinopsis: 

Di masa depan manusia yang jauh, Adipati Leto Atreides (Oscar Isaac) menerima penatalayanan planet gurun berbahaya bernama Arrakis, juga dikenal sebagai Dune, satu-satunya sumber zat paling berharga di alam semesta, "rempah-rempah", obat yang dapat memperpanjang hidup manusia, menyediakan tingkat pemikiran manusia yang sangat tinggi dan memungkinkan perjalanan dengan kecepatan cahaya yang sangat tinggi. Meskipun Leto mengetahui bahwa peluang itu adalah jebakan rumit yang dibuat oleh musuh-musuhnya, Leto membawa selir keturunan Bene Gesserit, Lady Jessica (Rebecca Ferguson), putra dan pewaris tahtanya, Paul (Timothée Chalamet), serta beberapa penasihat Arrakis yang paling dipercaya. Leto mengambil alih operasi penambangan rempah-rempah, yang berbahaya karena kehadiran cacing pasir raksasa. Pengkhianatan yang pahit menuntun Paul dan Jessica ke Fremen, sebuah pedalaman padang gurun tempat tinggal penduduk asli Arrakis.


Ulasan:

Seperti yang sudah sempat disinggung di atas, menonton Dune versi Denis Villeneuve benar-benar pengalaman pertama saya menjamah universe Dune. Tidak pernah membaca novel ataupun menonton versi originalnya. Jadi paruh pertama film ini benar-benar menguras perhatian saya untuk coba mengingat semua karakter ataupun planet-planet yang lebih dari satu diperkenalkan. Bagaimana sangat luasnya universe Dune yang ada dalam plot cerita. Tetapi itu hanya sementara, perlahan berjalannya alur cerita kita sebagai penonton akan mulai teresap dalam cerita dan pelan-pelan akan mengingatkan dengan film atau serial tv yang memakai konsep cerita ini. Yap, sangat mudah bagi kita menghubungkan Dune dengan film atau serial tv yang kita tonton. Dune khalayakanya seperti Game of Thrones dengan universe yang jauh lebih megah dan luas. Dan saya langsung teringat membaca wawancara George RR Martin bahwa Dune adalah salah satu inspirasi terciptanya saga Game of Thrones. Hal itu yang awalnya saya cukup kebingungan pada paruh pertama lalu mulai bisa masuk pada ceritanya.


Setelah paruh pertama yang cukup butuh kesabaran ketika kita diperkenalkan universe Dune dimulailah momen-momen kita sebagai penonton mengalami cinema experience. Sebuah momen di manan kita tidak saja terserap dalam cerita namun juga disuguhkan sebuah visual yang hanya akan mendapatkan esensinya jika kamu menonton film ini di bioskop. Denis Villeneuve benar-benar memaksimalkan teknologi untuk mevisualisasikan Dune. Mulai sequence perperangan, kejar-kejaran di atas udara sampai penampakan sandworm adalah bagian-bagian terbaik dari film ini. Sekarang jadi masuk akal Villeneuve jadi kebakaran jenggot ketika mengetahui film ini akan ditayangkan secara bersamaan di layanan streaming HBO Max karena Villneuve ingin penonton merasakan cinema experience ketika menonton Dune untuk pertama kalinya.


Dengan durasinya yang cukup panjang yang bahkan dibagi menjadi dua part, Denis Villeneuve ingin memaksimalkan mengeksplorasi entitas-entitas dan universe Dune. Dan itu terlihat dengan apa yang disajikan pada bagian pertama ini. Dune versi Denis Villeneuve adalah sebuah perayaaan sekaligus pernyataan bahwa pengalaman nonton di bioskop tidak akan tergantikan dengan secanggih atau makin mudahnya mengakses film lewat streaming. Jadi sekali lagi, rasakan nonton film ini untuk pertama kali di bioskop. Kamu tidak akan menyesalinya.

Rating: 9/10



Friday, April 30, 2021

ULASAN: VOYAGERS

-

Empat tahun pasca film drama persahabatan The Upside, Neil Burger kembali ke kursi sutradara dalam film bergenre thriller-sci-fi berjudul Voyagers yang dijejali oleh aktor-aktor muda yang sedang angkat nama seperti Tye Sheridan (Ready Player One, X-men: Dark of the Phoenix), Fion Whitehead (Dunkirik) dan putri aktor Johnny Depp, Lily Rose-Depp. Sebelum Voyagers, Neil Burger sudah berpengalaman menyutradarai film bertema young adult lewat Divergent yang mendapat respon positif yang tidak mampu diikuti dua sequelnya dimana Neil Burger tidak lagi duduk di kursi sutradara.

Voyagers bercerita tentang di mana bumi sudah dalam masa-masanya sekarat. Manusia butuh tempat baru untuk melanjutkan kehidupan. Lalu para ilmuwan membesarkan anak-anak yang berasal dari proses bayi tabung agar anak-anak ini menjadi bibit premium yang nantinya akan menjadi manusia ras pertama yang akan pergi menuju planet baru. Mereka diharapkan dapat tumbuh dengan kecerdasan dan kepatuhan yang tinggi. Atas dasar keterikatan yang merawat para bayi-bayi bibit unggul hingga menjadi remaja, Richard Alling (Collin Farrell) salah satu kepala peneliti menawarkan dirinya menjadi relawan dan  menjadi satu-satunya orang dewasa yang ikut mengawasi para remaja ini dalam menjalani misinya dalam perjalanan yang akan menempuh waktu 86 tahun.

Semua awak remaja akan diwajibkan meminum cairan obat biru yang mereka sebut The Blue yang dapat menekan hasrat-hasrat manusiawi seseorang. Mulai dari takut, nafsu seksual dan segala macam hasrat naluriah manusia pada umumnya. Namun hal itu hanya terjadi sementara ketika Zac (Fionn Whitehead) dan Christopher (Tye Sheridan) mencoba tidak meminum cairan tersebut lagi. Mereka merasakan hasrat-hasrat yang tidak mereka rasakan sebelumnya yang kemudian diikuti oleh awak lain. Konflik demi konflik mulai terjadi karena dikuasai oleh hasrat sampai memakan korban. Para awak terpecah belah karena terbagi dalam dua kubu disaat perjalanan menuju planet baru masih jauh dari kata selesai. Bisakah para awak yang menjadi harapan untuk melanjutkan ras manusia sampai selamat di tujuan?


Voyagers yang berdurasi 108 menit ini berjalan cukup lambat pada awalnya  Tapi setelah memasuki act kedua saat Zac dan Chrsitopher tidak meminum The Blue narasi film mulai berjalan dengan berbeda. Dengan konsep sangat tipikal film-film dengan setting luar angkasa "In space no one can hear you", yang alih-alih memberikan ancaman pada hal yang berbentuk fisik, Voyagers memunculkan ancaman atau konflik satu-persatu yang bersumber dari hasrat itu sendiri. Sesuatu hal yang cukup saya nikmati. Neil Burger yang juga menulis naskah film ini ingin menunjukan bagaimana sisi naluriah manusia pada dasarnya sifatnya memang ingin menguasai dan merusak.

Dengan tema yang lagi-lagi memang tidak baru, Voyagers masih merupakan sebuah film yang menarik ditengah beberapa adegan  klise yang cukup meganggu dan ending yang mencari aman. tapi proses menuju ending dengan thillernya cukup membuat kita bertahan sampai akhir. 


Overall: 8/10

Thursday, April 8, 2021

ULASAN: CHAOS WALKING




Pernah  ada masanya tren film-film bertema Dystopian Science Fiction yang diadaptasi   dari novel young adult (YA) sehingga akhirnya YA menjadi kategori khusus di perfilman Hollywood dan semua studio berlomba-lomba membuat franchise YA menjadi film blockbuster. Tren ini dimulaidi awal 2000-an dengan Franchise Harry Potter (2001-2011) dan Twilight Saga (2008-2012). Lalu di pertengahan 2010-2020 tren ini kembali naik dengan kemunculan film Hunger Games (Jennifer Lawrence) yang sukses dibuat hingga 4 film (2012-2015), diikuti The Maze Runner (2014-2016),The Divergent Series (2014-2017). (Untuk list lengkap film-film dalamkategori YA yang pernah tayang di bioskop dapat dilihat di sinihttps://www.indiewire.com/2015/11/ranked-every-ya-movie-franchise-since-harry-potter-104593/).
 


Cukup lama waktu berselang kini hadir film adaptasi novel YA “The Knive of Letting Go”karya Patrick Ness. Film ini cukup ditunggu kehadirannya karena dibintangi beberapa aktor papan atas seperti Daisy Ridley, Tom Holland, Mads Mikkelsen, dan Nick Jonas. Film ini sebetulnya sudah diumumkan pada tahun 2011, setelah berganti beberapa penulis dan Doug Liman (The Bourne Identity - 2002, Mr. and Ms. Smith - 2005, Edge of Tomorrow – 2014)diumumkan sebagai sutradara pada 2016 barulah film ini menemukan  titik terang. Awalnya direncanakan rilis pada 2019 namun karena screening test kurang memuaskan digeser hingga rilis di 2021 ini. Rilis perdana di Korea Selatan pada 24 Feb 2021 dan di US pada 5 Maret 2021, di Indonesia sendiri sudah dapat disaksikan di bioskop pada 7 Maret 2021.Secara box office film ini bisa dikatakan flop, karena hanya menghasilkan 20 juta dollar dari biaya produksi 100 juta dollar dan banyak mendapat review negative di Rotten Tomatoes (hingga artikel ini ditulis Chaos Walking hanya mendapat rating 23%).



Chaos Walking merupakan film adaptasi buku pertama dari trilogi novel karya Patrick Ness. Dalam film ini diceritakan Todd Hewitt (Tom Holland) yang tinggal di kota Prentisstown, yang lokasinya berada di planet New World dengan setting waktunya pada 2257 AD, di mana manusia sudah mencari tempat tinggal di luar bumi dan berhasil mendirikank oloni di planet tersebut. Todd telah dibesarkan dengan keyakinan bahwa Spackle (penduduk asli planet) telah membunuh semua wanita di planet itu. Di planet tersebut para pria mengalami fenomena “The Noise” – suatu kondisi yang menampilkan semua nurani/ pemikiran mereka secara gamblang mengakibatkan semua orang bisa saling mendengarkan pikiran dalam bentuk gambar, kata, dan suara. Prentisstown dipimpin oleh Walikota David Prentiss (Mads Mikkelsen), yang punya keahlian kemampuan untuk mengendalikan noise-nya, yang membuat dia tidak dikelilingi oleh kebisingan pemikiran pribadi. Walikota memiliki seorang anak lelaki yang ambisius, Davy Jr. (Nick Jonas) yang ceroboh dan selalu membuat onar.



Suatu hari Todd menemukan Viola (Daisy Ridley), seorang gadis misterius yang jatuh mendarat di planetnya. Kondisi semakin rumit ketika Todd bertemu dengan seorang perempuan bernama Viola (Daisy Ridley) yang ternyata jatuh terdampar di planet New World. Kedatangan Viola pun menimbulkan berbagai pertanyaan dan kebingungan karena ia tidak memiliki the Noise, yang belakangan diketahui bahwa wanita tidak mengalami fenomena The Noise di Planet New World. Kemunculan Viola menimbulkan konflik dengan walikota dan penduduk Prentisstown karena sang walikota menganggap kehadiran Viola adalah awal timbulnya masalah dan kekhawatiran bahwa koloni mereka akan terancam, konflik mulai bermunculan hingga membuat nyawa Viola dalam bahaya, melihat hal itu Todd berusaha menyelamatkan Viola. Apakah mereka berhasil kabur dari walikota dan penduduk Prentisstown? Apakah keputusan menyelamatkan Viola merupakan hal yang tepat? 



Selama 109 menit durasi film ini,tenaga film ini cuma ada di seperempat awal film sisanya seakan terjun bebas dan ditutup dengan konklusi yang tidak memuaskan sama sekali. Introduksi karakter dan konflik sudah baik di awal tetapi tensinya terus menurun bahkan saat adegan klimaks di sinilah masalah terbesar muncul. Konflik sekaligus twist terbesar film ini (akan tersingkap jawaban  tentang mengapa tidak ada wanita di planet New World) seakan mengecoh penonton yang sebenarnya sudah dapat ditebak dari awal film tapi tanpa kejelasan yang menjawab secara gamblang, penonton masih disuruh membayangkan sendiri.Padahal adanya adegan flashback masa-masa kehidupan awal koloni di Prentisstown sewaktu para wanita masih hidup akan cukup membantu. Humor yang disisipkan juga tidak banyak membantu memperkaya cerita, terlebih dialog-dialog yang repetitif dan agak membosankan. Fenomena The Noise adalah satu-satunya hal menarik dalam film ini yang gagal dimanfaatkan dengan optimal dan kreatif sehingga hasil akhirnya film ini jadi seperti film kejar-kejaran antara karakter protagonis dan antagonis saja. Konklusinya pun terkesan buru-buru dan dipaksakan sehingga kita yang menonton mungkin mengernyitkan dahi koq bisa penyelesaiannya semudah itu?(Seakan penulisnya ingin cepat-cepat selesai dan malas berpikir lagi)



Dalam hal cast yang terlibat  semuanya termasuk aktor dan aktris kelas A (A-list casts) yang sudah tidak perlu diragukan kualitasnya karena kita sudah sering melihat mereka tampil di film-film blockbuster. Akan tetapi di film ini mereka sepert idisia-siakan dan terjebak dalam plot cerita yang buruk. Chemistry Tom Holland dan Daisy Ridley dalam cerita ini terasa hambar dan kurang greget apalagi dengan tidak adanya adegan romance sama sekali di film ini. Nick Jonas yang tampil sebagai anak walikota bahkan tidak penting dan bisa ditiadakan saja karakternya karena tidak akan mengganggu esensi cerita. Mads Mikkelsen termasuk aktor kharismatik yang perannya sebagai villain di film ini sangat tidak menarik penceritaan karakternya hanya di awal-awal saja kita diberi harapan bahwa ia bisa menjadi villain yang mengancam dan akan membawa kesulitan untuk Todd. Akan tetapi, seiring cerita menuju akhir karakter Mads menjadi tidak menarik dan tidak memiliki tujuan serta kharisma yang diamiliki di awal cerita. Karakter Todd dan Viola tidak dieksplorasi sama sekali dan cukup membingungkan bagaimana akhirnya Viola bisa mempercayai Todd.



Sinematografi dan efek visual film inicukup memanjakan mata, terlebih setting tempatnya yang banyak berlatarkan alam. Efek Noise yang dimiliki tiap orang ditampilkan secara unik yang sebetulnya menarik jika bisa dieksplorasi lebih jauh  terlebih pada karakter Todd dan Walikota. Karakter Todd kurang  dijelaskan bagaimana akhirnya dia bisamenguasai Noisenya demikian dengan background story sang walikota yang menjelaskan bagaimana ia bisa menjadi mahir mengendalikan noisenya.



Chaos Walking sebetulnya memiliki potensi untuk meneruskan tren genre YA menjadi film yang sukses secara box office namun interpretasi kedalam adaptasi filmnya tergolong payah dan merusak esensi cerita aslinya. Hal ini sepertinya terjadi karena naskahnya mengalami banyak revisi oleh beberapa penulis (Charlie Kaufman, Jamie Linden, John Lee Hancock, Gary Spinelli, Lindsey Beer, Christopher Ford, dan Ness sendiri).Esensi ceritanya sebetulnya ingin menyampaikan berbagai konflik yang dihadapi seorang remaja yang sedang menuju kedewasaan, ketidaksiapan seseorang akan hal-hal dan info baru yang belum pernah dihadapi yang terkadang menyebabkan kebingungan. Bertolak belakang dengan filmnya, novelnya sendiri telah memenangkan hampir semua kategori penghargaan fiksi anak bergengsi di Inggris, di antaranya Guardian Award pada tahun2008, James Tiptree, Jr. Award, dan Costa Children's Book Award. Buku ketiganya, Monsters of Men memenangkan Medali Carnegie ditahun 2011. Ceritanya dipuji karena penceritaan tema-tema seperti politik gender, perang, dan konflik moral antara yang baik dan yang jahat yang disajikan dengan gaya penceritaan yang cepatd an membuat penasaran untuk diikuti. Awal yang kurang baik ini membuat genre YA sepertinya bakal sulit untuk bisa populer kembali. Cukup berisiko bagi para produser dan studio film untuk menggarap film segmentasi YA karena penonton di usia ini akan beralih menjadi orang dewasa dalam kurun waktu yang relatif cepat serta karakter tiap generasi sangat ditentukan oleh periode  waktu/ dekade film itu dirilis. Naskah yang prematur dan kecenderungan untuk tidak digarap serius membuat banyakjudul film adaptasi novel YA yang akhirnya gagal dan terlupakan, sayangnya Chaos Walking termasuk ke dalam kategori tersebut.


Overall: 5.5/10

(By Camy Surjadi)




















Wednesday, October 30, 2019

ULASAN: TERMINATOR 'DARK FATE'





Kata kapok bukanlah kata yang cocok untuk hollywood jika jatuh beberapa kali ke lubang yang sama. Terlebih jika lubang itu adalah sebuah franchise masih punya potensi yang menguntungkan. Franchise yang dimaksud dalam tulisan ini tentu saja adalah franchise Terminator. Tidak adanya nama James Cameron terlibat di tiga film terakhirnya setelah Terminator 2: Judgment Day (1991) benar-benar membuat filmnya seakan jauh dari akarnya. Mungkin dikarenakan merasa terpanggil James Cameron kembali terlibat dalam film ke-6 Terminator ini. Tidak tanggung-tanggung, 3 film sebelumya setelah film kedua dianggap tidak ada. Terminator 'Dark Fate' adalah sequel langsung dari Jugment Day.



Keterlibatan James Cameron dalam Dark Fate memang bukan sebagai sutradara, tetapi semua cerita yang disajikan dalam Dark Fate dijamin hasil kreasi sang sepuh sendiri yang dibantu oleh David S. Goyer, Justin Rhodes dan Billy Ray sebagai penulis naskahnya. Sementara untuk kursi sutradara ada nama Tim Miller yang sukses besar lewat debut feature filmnya Deadpool (2016). Dan setelah 3 tahun, akhirnya Tim Miller menyutradarai film panjang keduanya Terminator: Dark Fate. Untuk pemain, sang ikon Terminator Arnold Schwarzenegger kembali terlibat yang juga menajdi ajang reuni dengan veteran Terminator lainnya Linda Hamilton yang berperan sebagai Sarah Connor. Nama pemain lainnya yang terlibat adalah Mackenzie Davis, Natalia Reyes dan Gabriel Luna.



Setelah dua dekade lebih telah berlalu sejak Sarah dan John Connor mencegah Judgment Day, mengubah masa depan, dan menulis ulang nasib umat manusia. Tetapi sayangnya hal itu mengubah takdir ibu dan putra ini ketika John Connor akhirnya tewas oleh T-800 (Arnold Schwarzenegger) susulan. Sarah Connor (Linda Hamilton) pun menghilang setelah kejadian itu. Lalu Dani Ramos (Natalia Reyes) hidup sederhana di Mexico City bersama saudara laki-lakinya (Diego Boneta) dan ayahnya ketika datang Rev-9 (Gabriel Luna), sebuahTerminator baru yang sangat canggih dan mematikan, yang melakukan perjalanan melintasi waktu untuk memburu dan membunuhnya. Kelangsungan hidup Dani bergantung pada dua orang pelindung, yakni Grace (Mackenzie Davis), seorang prajurit super dari masa depan yang telah ditingkatkan fisiknya, serta sang veteran Sarah Connor yang kembali muncul. Ketika Rev-9 dengan kejam menghancurkan segala sesuatu dan semua orang yang menghalanginya untuk berburu Dani, ketiganya bergabung dengan T-800 dari masa lalu Sarah yang mungkin menjadi harapan terbaik terakhir mereka.



Hadirnya James Cameron bukan hanya sekedar untuk branding untuk menarik fans original Terminator. 30 menit pertama sangat terlihat kita langsung dibawa dengan nostalgia berpacu adrenalin seperti saat kita menonton Judgment Day. Dalam 30 menit itu semua karakter 3 utama muncul dalam sebuah adegan kejar-kejaran yang seru. Percayalah, 30 menit pertama benar-benar membuatmu tidak berpaling dari layar. Jadi pastikan kamu tidak telat sama sekali masuk studio. Setelah 30 menit pertama itu barulah pelan-pelan kita akan mengenal tokoh-tokoh utama kita.



Dari yang disajikan Dark Fate, sangat terlihat para kreator franchise ini ingin melepas trademark cerita yang sangat bergantung pada karakter John Connor. Keputusan menghilangkan 3 film sebelumnya merupakan sebuah keputusan tepat yang membuat franchise Terminator menjadi lebih segar. Well, walaupun dari keseluruhan plot cerita tidak ada yang istimewa, tetapi semua ditutup dengan kehadiran tokoh-tokoh yang menarik. Pertama adalah kehadiran Grace, karakternya perpaduan antara Kyle Reese yang muncul di Terminator pertama dan Marcus Wright di Terminator Salvation yang disini tidak hanya menghindari Rev-9 yang sangat kuat, tetapi juga berhadapan satu lawan satu. Kedua ada pada karakter T-800. Jujur sedikit agak geli ketika Terminator yang satu ini menjalani mendapat proses hidayah dan membuatnya membelot menjadi pembela umat manusia. Tetapi justru hal itu yang mebuat Dark Fate jauh lebih berwarna.



Tim Miller yang terhitung masih baru terjun dalam layar lebar sekali lagi berhasil memberikan sebuah tontonan yang sangat menghibur. Jika Deadpool pertama dengan budget minimal tetapi mampu diramu dengan hasil maksimal, maka lewat Dark Fate dengan budget yang jauh lebih besar, Tim Miller tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Terlebih langsung didampingi oleh James Cameron sebagai produser.



Secara keseluruhan Terminator: Dark Fate seakan membayar kekecewaan fans pada tiga film sebelumnya. Sulit tentunya bisa melampaui Judgment Day yang masih terbaik dari semua seri Terminator. Tetapi setidaknya Dark Fate kembali pada akarnya Terminator. Sebuah tontonan yang sayang untuk dilewatkan ditonton di bioskop.



Overall: 7,5/10

(By Zul Guci)




Thursday, October 10, 2019

ULASAN: GEMINI MAN




Pernahkah anda terpincut oleh suatu trailer film action yang terlihat sangat keren dan menjanjikan, dari cuplikan aksi-aksi yang ditampilkan dan cast yang akan bermain anda sudah memiliki ekpektasi bahwa film tersebut harus anda tonton karena cukup memukau dan membuat penasaran. Nah kira-kira hal tersebut yang terjadi ketika anda menonton film Gemini Man ini. Apa yang ada di benak anda tampak sangat berbeda ketika disaksikan. Dilabel dengan genre action thriller, film ini ternyata ide awal pembuatannya sudah berkeliaran sejak tahun 1997 namun sempat mengalami kebuntuan 20 tahun lamanya. Hingga akhirnya pada Oktober 2017 Ang Lee didapuk menjadi sutradara setelah hak cipta film ini dibeli oleh Skydance Pictures dan distribusinya dipegang oleh Paramount. Film ini dibintangi oleh Will Smith, Mary Elizabeth Winstead, Clive Owen, dan Benedict Wong. Untuk screenplaynya sendiri ditulis oleh David Benioff (GoT), Billy Ray (Volcano), and Darren Lemke (Shrek Forever After; Lost). Gemini Man dirilis di bioskop AS pada tanggal 11 Oktober 2019 dan akan dirilis di Indonesia pada 9 oktober 2019.



Gemini Man bercerita tentang Henry Brogan (Will Smith), seorang pembunuh bayaran terlatih serupa anggota Black Ops (detail organisasi tidak pernah disebutkan dengan jelas sepanjang film) yang ingin pensiun setelah menyelesaikan misi terakhirnya. Dalam misi terakhirnya Henry diperintahkan membunuh target dalam kereta super cepat, targetnya berhasil dibunuh oleh Henry walau meleset dari kepala tapi mengenai leher targetnya. Hal tersebut terjadi karena ada gadis kecil yang sempat mendekati targetnya. Semenjak itu Henry merasa dihantui dan memutuskan untuk berhenti. Dalam proses pengurusan pensiunnya, Henry berkenalan dengan Danny (Mary Elizabeth Winstead) di galangan kapal dan bertemu dengan kawan lamanya Jack (Douglas Hodge) yang memberitahu bahwa target dalam misi terakhir yang dibunuhnya adalah orang yang tidak bersalah. Henry lalu mengatur pertemuan dengan informan Jack yang bernama Yuri (Ilia Volok) untuk memastikan hal tersebut.



Agensi yang menugaskan Henry mengetahui pertemuan tersebut dan berusaha melenyapkan Henry karena telah mengetahui fakta yang seharusnya tidak boleh diketahui. Henry pun bergegas menyelamatkan Danny karena ternyata mereka berdua sekarang menjadi target agensi mereka. Henry dengan mudah menghabisi semua agen yang ditugaskan untuk melenyapkan mereka dan bersama Danny mereka pergi ke arah timur mencari kawan lama Henry yaitu Baron (Benedict Wong). Bersama Baron mereka berusaha mencari Yuri untuk mencari kebenaran dari situasi yang mereka hadapi. Sementara itu Clay Varris (Clive Owen) mengaktifkan program Gemini dengan tujuan untuk menghabisi Henry karena dia meyakini hanya proyek Gemini yang mampu menandingi kehebatan Henry. Dalam misi bertemu Yuri, Henry bertemu dengan pembunuh yang diutus Clay Varris yang belakangan diketahui bernama Junior (Will Smith). Henry kewalahan dan sekaligus kebingungan karena Junior memiliki penampilan yang mirip namun lebih muda dan kehalian yang sama hebatnya dengan Henry. Berbekal tes DNA dari sampel hasil konfrontasinya dengan Junior, Henry menemukan fakta mengejutkan bahwa Junior adalah klonnya yang lebih muda sekaligus fakta bahwa target terakhirnya terkait erat dengan proyek Gemini. Bersama Danny dan Baron, mereka bertiga berusaha menghentikan Clay Varris dan proyek Gemini sebelum Junior yang memiliki kehebatan sama seperti Henry menghabisi mereka terlebih dulu.



Seperti yang sudah saya sampaikan di awal, film ini sama sekali tidak menarik karena semuanya serba tanggung, porsi drama dan aksi dalam Gemini Man membuat kita bertanya-tanya mau dibawa ke mana arah film ini. Seandainya film ini berfokus ke drama saja ataupun aksi saja, hasilnya mungkin akan berbeda. Ang Lee adalah sutradara yang piawai dalam film bertema filosofis dan drama kehidupan tetapi nampaknya spesialisasi Ang Lee tersebut tidak dimanfaatkan dengan optimal dalam aktualisasi cerita film ini, kesalahan tidak sepenuhnya berada di tangan Ang Lee, naskah cerita yang buruk juga menjadi penyebabnya. Selama berjalannya film berdurasi 117 menit ini, terlihat momen aksi dan drama tidak dibangun dengan solid untuk menunjang cerita, cerita yang awalnya sudah dipenuhi dengan adegan aksi yang cukup memacu adrenalin tiba-tiba bisa menjadi drama penuh dialog di tengah-tengah hingga menjelang penghujung cerita, upaya membangun momen klimaks seakan menjadi sia-sia. Aksi-aksi yang ditampilkan bisa dibilang cuma adegan pelengkap yang mungkin tidak diperlukan jika ingin menampilkan konflik batin antara tokoh utama dan klonnya yang tidak ingin saling membunuh. Tidak dijelaskan dengan jelas juga mengapa Junior sang klon tiba-tiba memiliki keraguan dan kesadaran moral, bahkan detil proyek Gemini pun tidak dieksplorasi selama film ini. Satu-satunya petunjuk adalah pernyataan Clay bahwa dia terinspirasi memiliki banyak prajurit seperti Henry yang tidak memiliki emosi/ keraguan dan bisa diperintah sesuai keinginan yang akan sangat membantu militer AS. Jika di beberapa film dengan premis yang mirip terasa dualisme yang saling bertolak belakang antara klon dan tokoh aslinya di mana salah satunya berkarakter sangat jahat, sebut saja Replicant (Van Damme, 2001), maka keputusan untuk membuat klon yang punya ambiguitas moral menjadi bumerang tersendiri dalam Gemini Man.



Dari segi cast, Will Smith nampak berusaha keras menghidupi kedua karakternya baik versi muda maupun versi dewasanya namun naskah cerita yang kurang baik membuat penjiwaan dan eksplorasi karakter Junior terlihat janggal. Sebagai Henry, motivasi yang mendorong tindakannya jelas namun sebagai Junior dengan backgroundnya yang kabur, saya sebagai penonton menjadi bingung mengapa karakternya seperti mudah disetir dan terbawa situasi ketika berhadapan dengan versi dewasanya, Henry. Mary Elizabeth Winstead hanya menonjol pada beberapa bagian dalam film ini namun sebetulnya dia bisa tampil lebih dari itu sedangkan Benedict Wong terlihat sebagai “third wheel” / pelengkap saja yang sangat minim dieskplorasi. Clive Owen tampil mengecewakan di sini karena perannya sebagai pimpinan organisasi Black Ops dan pencetus proyek Gemini tidak mengintimidasi sama sekali, ingin tampil sebagai karakter antagonis multidimensi tapi akhirnya terkesan sebagai tukang gertak saja.



Sinematografi dan efek visual dalam film ini diharapkan menjadi komponen “Wow” karena film ini dishot dengan format 3D dengan resolusi 4K dan 120 FPS. Efek visualnya pun ditangani oleh Weta Digital. Komponen yang digadang-gadang menjadi pemicu kekaguman adalah melihat Will Smith berusia 51 tahun berinteraksi secara ‘real time’ dengan versi mudanya yang berusia 23 tahun. Namun efek spektakuler ini terkesan mubazir ketika saya menyaksikan cerita yang ditampilkan karena tidak banyak adegan dalam film yang memanfaatkan efek 3D demikian pula resolusi dan frame rate yang tinggi terlihat agak berlebihan setelah menonton cerita yang serba tanggung ini. Ada beberapa adegan yang terlihat bahwa klon Will Smith adalah bantuan efek digital. Penggunaan set lokasi di Savannah, Budapest, dan Cartagena murni hanya untuk efek sinematografi agar lebih beragam dan memanjakan mata. Padahal tidak akan ada masalah jika hanya berfokus di satu negara saja.



Gemini Man mencoba menampilkan isu rekayasa genetika dan kloning serta bahayanya jika digunakan sebagai senjata dalam militer. Ang Lee mencoba mendramatisasi hal ini lewat konflik etis dan dilema yang dialami oleh sang klon dan individu aslinya. Namun pendekatannya dengan menggabungkan genre drama dan aksi dengan porsi yang tidak pas menjadikan pesan moral film ini tidak tersampaikan dengan efektif. Sebagai penonton saya tidak bisa menangkap kegelisahan sang tokoh utama dan level bahaya yang ditampilkan lewat aspek kloning terhadap khalayak ramai karena film ini hanya berpusat pada Henry, Junior, dan Danny serta Clay sebagai bayang-bayang sepanjang film. Kloning sebagai ancaman dalam dunia militer terhadap keamanan atau perdamaian global nyaris tidak pernah ada dalam film ini. Film ini lebih terlihat sebagai balas dendam Clay terhadap Henry dengan memakai teknologi kloning ketimbang menunjukkan konflik besar yang seharusnya bisa digambarkan lewat cerita film Gemini Man ini.

Overall: 6/10 

(By Camy Surjadi)