Showing posts with label Tom Holland. Show all posts
Showing posts with label Tom Holland. Show all posts

Friday, February 18, 2022

ULASAN: UNCHARTED






Setelah No Way Home yang sangat fenomenal dan menggebrak dunia MCU, kini Tom Holland tampil di film barunya yang merupakan adaptasi dari video game video game Sony terkenal dengan nama yang sama yang dikembangkan oleh Naughty Dog yaitu Uncharted. Tom Holland kali ini tampil bukan sebagai Spider-Man tapi sebagai pemburu harta karun Nathan Drake. Film ini disutradarai oleh Ruben Fleischer (Zombieland – 2009; Venom -2018) dari skenario oleh Rafe Lee Judkins, Art Marcum dan Matt Holloway. Dibintangi Tom Holland sebagai Nathan Drake dan Mark Wahlberg sebagai mentornya Victor Sullivan, dengan Sophia Ali, Tati Gabrielle dan Antonio Banderas sebagai peran pendukung. Film ini tayang perdana di Barcelona pada 7 Februari, di Indo sudah tayang per tanggal 16 Februari dan dijadwalkan tayang Jumat 18 Feb di AS.

Dikisahkan, Nathan Drake (Tom Holland) direkrut oleh Victor ‘Sully’ Sullivan (Mark Wahlberg) dalam perlombaan melawan Santiago Moncada (Antonio Banderas) dan Jo Braddock (Tati Gabrielle) untuk menemukan harta karun dari ekspedisi Magellan. Di samping itu Nathan Drake juga berusaha mengungkap keberadaan kakaknya Sam (Rudy Pankow) yang menghilang sewaktu ia masih kecil. Bersama Sully dan pemburu harta karun lainnya, Chloe (Sophia Ali)- salah satu karakter protagonist terkenal di game, mereka memulai petualangan berbahaya untuk mencari harta karun yang tidak pernah ditemukan.




Dengan durasi 1 jam 56 menit, Uncharted membawa kita ke petualangan perburuan harta karun salah satu tokoh protagonis game next consol era, Nathan Drake, layaknya Tomb Raider. Uncharted nampaknya tidak ingin buang waktu terlalu lama pada introduksi karakter, penonton diberi pengenalan seadanya saja soal siapa Nathan dan Sully lalu langsung dibawa ke petualangan tanpa jeda sampai akhir film. Babak kedua sampai konklusi memang sarat aksi dan petualangan tanpa henti untuk memecahkan misteri harta karun, tetapi di sinilah aspek kelemahan film ini yang seharusnya bisa dimanfaatkan lebih baik.

Untuk sebuah origin story movie yang diplot menjadi franchise baru sutradara Ruben Fleischer dan para penulis skenario Rafe Judkins, Art Marcum, dan Matt Holloway mencoba bermain ping-pong antara sebanyak mungkin karakter dari game dan unsur tambahan baru yang mungkin bisa mereka masukkan. Dalam seri gamenya, karakterisasi terasa lebih kompak. Duo Drake-dan-Sully berfungsi sebagai karakter inti pencuri/ pemburu harta di installment pertama, selanjutnya memperluas daftar petualangan dan menyempurnakan latar belakang mereka di entri berikutnya. Versi filmnya terasa seperti para penulis diberi aspek berbeda untuk mengadaptasi formula game Uncharted: pemecahan teka-teki, menyelinap, parkour, dan aksi yang lebih besar dari kehidupan. Cerita yang terfragmentasi dan hanya berupa tempelan aksi-aksi dari video gamenya membuat mereka semakin sulit untuk memperkenalkan dan bergantian di antara begitu banyak karakter yang berbeda. Tetapi di luar beban untuk memperkenalkan begitu banyak karakter, Uncharted nampak repetitif dengan film-film perburuan harta karun sejenis walau aksinya sudah dipenuhi bahaya, aspek sejarah yang menarik, dan petualangan demi petualangan yang memompa adrenalin.




Aktor yang memerankan karakter adaptasi video game kadang berusaha keras terlihat atau terdengar persis seperti rekan digital mereka, ada juga yang berimprovisasi, dan yang terakhir tidak terlalu berusaha karena entah kesulitan atau faktor lain. Versi Sully di sini adalah pria yang jauh lebih egois dan serakah yang merekrut Nathan untuk menemukan emas yang hilang dari ekspedisi Ferdinand Magellan yang gagal. Script jarang memberi mereka momen yang lucu, Mark Wahlberg bahkan tampaknya tidak mencoba meniru Sully, kita malah melihatnya tetap sebagai Mark Wahlberg yang membuatnya semakin aneh ketika dia mengubah aksennya. Padahal versi karakter di gim lebih ke tipe Bruce Campbell yang sarkastik. Holland juga tidak sepenuhnya berhasil memerankan versi Nathan Drake yang layak tetapi cukup bisa diterima dan kita tidak akan melihat dia sebagai sosok peter Parker di sini. Di antara karakter permainan lain yang diperkenalkan film, Sophia Ali cukup berhasil membawakan karakter kuat dalam gim, Chloe Frazer. Dalam gim menyiratkan Chloe dan Nathan memiliki masa lalu yang romantis, tetapi film tersebut tidak mengisi celah tersebut. Selain aksi, film Uncharted menggunakan semua karakter untuk membuat cerita tentang kepercayaan dan pengkhianatan, serupa dengan gimnya tetapi ini dijadikan focus utama. Penjahat di seri game tidak pernah menarik, tetapi ada beberapa kepribadian di balik motif seperti mencari Pohon Kehidupan untuk keabadian atau pesulap yang mencoba mematahkan persahabatan Nathan dan Sully yang sudah terjalin erat. Antonio Banderas sangan underused di film ini dan selebihnya cuma penjahat biasa yang juga berusaha merebut harta.


Permainan Uncharted tidak pernah berfokus pada aksi realistis, tetapi beberapa momen dalam adaptasi filmnya masih merentangkan fantasi terlalu jauh (Adegan di Pesawat dan Kapal klasik bisa jadi contoh). Seolah-olah para filmmaker tidak ada yang peduli untuk mempertimbangkan bagaimana aksi yang realita dan mana yang fantasi atau kartun. Untuk adegan aksi dibuat seolah-olah semua mudah bagi Nathan Drake tanpa beban atau unsur emosional padahal untuk yang mengikuti gamenya kita tahu tidak ada yang mudah bagi Nathan Drake dalam petualangannya.




Uncharted is fun and thrilling to watch tapi tidak ada hal yang baru dan inovatif padahal developmentnya sudah lebih dari 1 dekade (pengembangannya sudah dimulai dari tahun 2008 oleh Avi Arad selaku salah satu produser). Meski tidak sepenuhnya jiplakan dari game counterpartnya, yang menyelamatkan film ini tentu adalah akting dan dinamika Holland dan Wahlberg serta Sophia Ali. Kalau tidak ada itu, dipastikan film ini bakal terjun bebas seperti Resident Evil: Welcome to The Racoon City. Film ini kembali menegaskan film adaptasi video game to movie butuh lebih sekedar dari nama franchise game itu sendiri. Formulasi scenario cerita, pemilihan cast, dan unsur inovasi penting untuk menjadikannya tontonan yang seru dan berkesan. Film ini membuka pintu untuk potensi sekuel, setidaknya masih ada harapan untuk menjadikannya lebih baik dan berkualitas dari film pertama tergantung bagaimana performa box office apakah penonton berpendapat sama dengan para filmmaker di balik Uncharted.



Overall: 7/10



Friday, December 17, 2021

ULASAN: SPIDER-MAN "NO WAY HOME"



Sebuah penantian itu akhirnya juga. Hype yang sudah mulai terbentuk setahun yang lalu akhirnya mencapai puncaknya ketika filmnya akhirnya tayang. Tentu saja yang saya maksud Spider-Man: No Way Home. Bahkan saya yang bukan fans Spider-Man sekalipun akhirnya juga masuk pada arus hype film ini. Yang membuat kita sangat menantikan dan terbentuknya hype itu tentu saja konsep "mustiverse" yang diperkenalkan Marvel Studios yang juga menjadi ranah selanjutnya yang akan banyak disinggung dalam film-film Marvel Studios selanjutnya.

Melanjutkan apa yang sudah terjadi dalam pada event Spider-Man: Far From Home ketika akhirnya identitas Peter Parker (Tom Holland) sebagai Spider-Man terungkap. Sejak saat itu hidup Peter Parker tidak pernah sama lagi. Terungkapnya identitas itu tidak hanya berdampak pada Peter Parker sendiri, namun juga orang-orang terdekatnya. Mencoba jalan pintas, Peter meminta tolong kepada Doctor Strange (Benedicth Cumberbatch) agar bisa membantunya membuat orang-orang mengetahui identitasnya bisa melupakan dia adalah Spider-Man. Namun permintaan yang disanggupi oleh Doctor Strange itu tidak berjalan lancar yang berimbas mengundang musuh-musuh Spider-man dari semesta lain. 

Sejak trailernya muncul pertama kali rasanya hampir semua dari kita merasa sangat antusias dengan banyaknya villain yang akan muncul di seri ketiga Spider-man versi Tom Holland ini, namun di sisi lain juga muncul kekhawatiran jika kejadian pada Spider-Man 3(2007) dan juga The Amazing Spider-Man 2 (2014) kembali terulang. Dan di sini kejelian Jon Watts sebagai sutradara yang naskahnya ditulis oleh Chris McKenna dan Erik Sommers yang juga menulis naskah dua film Spider-Man sebelumnya. Secara hati-hati memunculkan satu-persatu karakter villain tanpa terasa dipaksakan. Bahkan dari dialog-dialog villain yang muncul, naskahnya memberikan informasi-informasi asal-usul villian untuk penonton yang tidak menonton 5 film Spider-Man sebelum Homecoming.

Menuju 3/4 durasi film, plot cerita makin membesar sampai akhirnya tiba pada sesuatu yang benar-benar ditunggu penonton. Ketika hal yang ditungu-tungu itu muncul, rasa penasaran dan hype itu terbayar dengan tuntas. Betapa kita sebagai penonton tidak diberi berhenti untuk meberikan kekaguman dan memberikan tepuk tangan sampai akhir film. Sebuah final act dengan sequence action terbaik yang pernah kita lihat. Jika Endgame memberikan kita sensasi rasa takjub, maka untuk No Way Home memberikan sensasi euforia nostalgia. Bukan konsep multiverse yang membuat film ini sangat terlihat luar biasa, bukan itu. Karena konsep multiverse sudah pernah kita lihat lewat Into the Spider-Verse. No Way Home jauh lebih besar dari itu yang tidak bsia saya gambarkan dalam bentuk tulisan. Kamu harus menontonnya sendiri.

Spider-Man No way Home memberikan jawaban ekspetasi penggemar. Mengabulkan semua keinginan  penggemar yang bahkan saat trailernya muncul hal itu masih terasa sangat mustahil yang sekaligus menutup lubang pada dua generasi film Spider-Man sebelum Homecoming. Untuk hal ini kita harus berterima kasih pada pihak studio yang bisa membuat apa yang tidak mungkin menjadi kenyataan dalam bentuk visual. Damn, I love movies.

Overall: 9,5/10

Thursday, November 18, 2021

ULASAN: VENOM "LET THERE BE CARNAGE"









Setelah tertunda beberapa kali dan bahkan sempat dijadwalkan rilis tahun 2022, akhirnya sequel musuh bebuyutan Spider-Man ini sudah bisa kita saksikan di bioskop-bioskop. Masih dibintagi oleh Tom Hardy yang kembali memerankan Eddie Brock/Venom. Lalu ada Michelle Williams sebagai Anne, dan untuk villain utama ada Naomi Harris dan Woody Harrelson yang memerankan pasangan psikopat. Andy Serkis sang spesialis aktor CGI bertindak di kursi sutradara, melanjutkan yang sudah dikerjakan oleh Ruben Fleischer yang menyutradarai film pertama.

Melanjutkan yang sudah tertuang pada film pertama, Eddie Brock (Tom Hardy) yang masih kesulitan  mengontrol Venom yang ada dalam dirinya harus berhadapan masalah baru ketika Cletus Kasady (Woody Harrelson) seorang tahanan hukuman mati ingin menjumpainya sebelum hari hukuman mati baginya tiba. Pertemuan itu secara tidak sengaja membuat berpindah dan bermutasinya simbiot yang ada dalam diri Cletus setelah didapatkan dengan cara menggigit Eddie. Situasi makin memburuk ketika Cletus akhirnya bisa melarikan diri dari penjara dengan kekuatan barunya dan mulai meneror seisi kota. Hanya tinggal menunggu waktu bagi Eddie ditemukan oleh Cletus yang mutasi simbiot dalam dirinya menjadi lebih kuat dari Venom dan menamai dirinya Carnage.

Tanpa berbasa-basi, sequel ini mempunyai alur yang cukup cepat. Perkenalan karakter villain utama film ini Cletus Kasady hingga dia mendapat kekuatan seperti hanya sekadar mengisi posisinya sebagai villain klasik. Jadi jika kamu berekspetasi sesuatu pada karakter ini yang lebih dari sekadar villain sebaiknya kubur saja eksptasi kamu. Tidak ada nilai lebih yang diberikan karakter Carnage. Bahkan karakter Riot yang menjadi villain utama masih lebih berisi dibandingkan Carnage. Miskinnya penggalian karakter Carnage untungnya dapat ditutup dari sisi lain, yaitu hubungan antara Venom dan Eddie Brock yang banyak memancing tawa. Hubungan mereka sudah layaknya seperti bromance. Sangat menarik bagaimana Tom Hardy berakting beradu argumen dengan dirinya sendiri.

Jika dari sisi cerita tidak terlalu banyak berubah dengan film pertama, tidak dengan sisi actionnya. Andy Serkis sepertinya snagat memaksimalkan pada bagian ini. Sequence action pada sequel ini jauh lebih massive dibandingkan film pertama. Jikapun ada hal yang kurang memuaskan dari action ini tidak disajikan dalam rating semestinya. Untuk fans komiknya tahu persis bagaimana brutalnya Carnage yang sayang belum mendapat visual yang maksimal karena mengejar rating yang cocok untuk PG13.

Secara keseluruhan Venom: Let There Be Carnage hadir dengan elemen-elemen seperti film pertamanya. Seri ini yang tidak memberikan peningkatan dari plot cerita yang kuat, namun masih akan memberikan kepuasan jika kamu mengharapkan action yang jauh lebih besar dibandingkan film pertama





Thursday, April 8, 2021

ULASAN: CHAOS WALKING




Pernah  ada masanya tren film-film bertema Dystopian Science Fiction yang diadaptasi   dari novel young adult (YA) sehingga akhirnya YA menjadi kategori khusus di perfilman Hollywood dan semua studio berlomba-lomba membuat franchise YA menjadi film blockbuster. Tren ini dimulaidi awal 2000-an dengan Franchise Harry Potter (2001-2011) dan Twilight Saga (2008-2012). Lalu di pertengahan 2010-2020 tren ini kembali naik dengan kemunculan film Hunger Games (Jennifer Lawrence) yang sukses dibuat hingga 4 film (2012-2015), diikuti The Maze Runner (2014-2016),The Divergent Series (2014-2017). (Untuk list lengkap film-film dalamkategori YA yang pernah tayang di bioskop dapat dilihat di sinihttps://www.indiewire.com/2015/11/ranked-every-ya-movie-franchise-since-harry-potter-104593/).
 


Cukup lama waktu berselang kini hadir film adaptasi novel YA “The Knive of Letting Go”karya Patrick Ness. Film ini cukup ditunggu kehadirannya karena dibintangi beberapa aktor papan atas seperti Daisy Ridley, Tom Holland, Mads Mikkelsen, dan Nick Jonas. Film ini sebetulnya sudah diumumkan pada tahun 2011, setelah berganti beberapa penulis dan Doug Liman (The Bourne Identity - 2002, Mr. and Ms. Smith - 2005, Edge of Tomorrow – 2014)diumumkan sebagai sutradara pada 2016 barulah film ini menemukan  titik terang. Awalnya direncanakan rilis pada 2019 namun karena screening test kurang memuaskan digeser hingga rilis di 2021 ini. Rilis perdana di Korea Selatan pada 24 Feb 2021 dan di US pada 5 Maret 2021, di Indonesia sendiri sudah dapat disaksikan di bioskop pada 7 Maret 2021.Secara box office film ini bisa dikatakan flop, karena hanya menghasilkan 20 juta dollar dari biaya produksi 100 juta dollar dan banyak mendapat review negative di Rotten Tomatoes (hingga artikel ini ditulis Chaos Walking hanya mendapat rating 23%).



Chaos Walking merupakan film adaptasi buku pertama dari trilogi novel karya Patrick Ness. Dalam film ini diceritakan Todd Hewitt (Tom Holland) yang tinggal di kota Prentisstown, yang lokasinya berada di planet New World dengan setting waktunya pada 2257 AD, di mana manusia sudah mencari tempat tinggal di luar bumi dan berhasil mendirikank oloni di planet tersebut. Todd telah dibesarkan dengan keyakinan bahwa Spackle (penduduk asli planet) telah membunuh semua wanita di planet itu. Di planet tersebut para pria mengalami fenomena “The Noise” – suatu kondisi yang menampilkan semua nurani/ pemikiran mereka secara gamblang mengakibatkan semua orang bisa saling mendengarkan pikiran dalam bentuk gambar, kata, dan suara. Prentisstown dipimpin oleh Walikota David Prentiss (Mads Mikkelsen), yang punya keahlian kemampuan untuk mengendalikan noise-nya, yang membuat dia tidak dikelilingi oleh kebisingan pemikiran pribadi. Walikota memiliki seorang anak lelaki yang ambisius, Davy Jr. (Nick Jonas) yang ceroboh dan selalu membuat onar.



Suatu hari Todd menemukan Viola (Daisy Ridley), seorang gadis misterius yang jatuh mendarat di planetnya. Kondisi semakin rumit ketika Todd bertemu dengan seorang perempuan bernama Viola (Daisy Ridley) yang ternyata jatuh terdampar di planet New World. Kedatangan Viola pun menimbulkan berbagai pertanyaan dan kebingungan karena ia tidak memiliki the Noise, yang belakangan diketahui bahwa wanita tidak mengalami fenomena The Noise di Planet New World. Kemunculan Viola menimbulkan konflik dengan walikota dan penduduk Prentisstown karena sang walikota menganggap kehadiran Viola adalah awal timbulnya masalah dan kekhawatiran bahwa koloni mereka akan terancam, konflik mulai bermunculan hingga membuat nyawa Viola dalam bahaya, melihat hal itu Todd berusaha menyelamatkan Viola. Apakah mereka berhasil kabur dari walikota dan penduduk Prentisstown? Apakah keputusan menyelamatkan Viola merupakan hal yang tepat? 



Selama 109 menit durasi film ini,tenaga film ini cuma ada di seperempat awal film sisanya seakan terjun bebas dan ditutup dengan konklusi yang tidak memuaskan sama sekali. Introduksi karakter dan konflik sudah baik di awal tetapi tensinya terus menurun bahkan saat adegan klimaks di sinilah masalah terbesar muncul. Konflik sekaligus twist terbesar film ini (akan tersingkap jawaban  tentang mengapa tidak ada wanita di planet New World) seakan mengecoh penonton yang sebenarnya sudah dapat ditebak dari awal film tapi tanpa kejelasan yang menjawab secara gamblang, penonton masih disuruh membayangkan sendiri.Padahal adanya adegan flashback masa-masa kehidupan awal koloni di Prentisstown sewaktu para wanita masih hidup akan cukup membantu. Humor yang disisipkan juga tidak banyak membantu memperkaya cerita, terlebih dialog-dialog yang repetitif dan agak membosankan. Fenomena The Noise adalah satu-satunya hal menarik dalam film ini yang gagal dimanfaatkan dengan optimal dan kreatif sehingga hasil akhirnya film ini jadi seperti film kejar-kejaran antara karakter protagonis dan antagonis saja. Konklusinya pun terkesan buru-buru dan dipaksakan sehingga kita yang menonton mungkin mengernyitkan dahi koq bisa penyelesaiannya semudah itu?(Seakan penulisnya ingin cepat-cepat selesai dan malas berpikir lagi)



Dalam hal cast yang terlibat  semuanya termasuk aktor dan aktris kelas A (A-list casts) yang sudah tidak perlu diragukan kualitasnya karena kita sudah sering melihat mereka tampil di film-film blockbuster. Akan tetapi di film ini mereka sepert idisia-siakan dan terjebak dalam plot cerita yang buruk. Chemistry Tom Holland dan Daisy Ridley dalam cerita ini terasa hambar dan kurang greget apalagi dengan tidak adanya adegan romance sama sekali di film ini. Nick Jonas yang tampil sebagai anak walikota bahkan tidak penting dan bisa ditiadakan saja karakternya karena tidak akan mengganggu esensi cerita. Mads Mikkelsen termasuk aktor kharismatik yang perannya sebagai villain di film ini sangat tidak menarik penceritaan karakternya hanya di awal-awal saja kita diberi harapan bahwa ia bisa menjadi villain yang mengancam dan akan membawa kesulitan untuk Todd. Akan tetapi, seiring cerita menuju akhir karakter Mads menjadi tidak menarik dan tidak memiliki tujuan serta kharisma yang diamiliki di awal cerita. Karakter Todd dan Viola tidak dieksplorasi sama sekali dan cukup membingungkan bagaimana akhirnya Viola bisa mempercayai Todd.



Sinematografi dan efek visual film inicukup memanjakan mata, terlebih setting tempatnya yang banyak berlatarkan alam. Efek Noise yang dimiliki tiap orang ditampilkan secara unik yang sebetulnya menarik jika bisa dieksplorasi lebih jauh  terlebih pada karakter Todd dan Walikota. Karakter Todd kurang  dijelaskan bagaimana akhirnya dia bisamenguasai Noisenya demikian dengan background story sang walikota yang menjelaskan bagaimana ia bisa menjadi mahir mengendalikan noisenya.



Chaos Walking sebetulnya memiliki potensi untuk meneruskan tren genre YA menjadi film yang sukses secara box office namun interpretasi kedalam adaptasi filmnya tergolong payah dan merusak esensi cerita aslinya. Hal ini sepertinya terjadi karena naskahnya mengalami banyak revisi oleh beberapa penulis (Charlie Kaufman, Jamie Linden, John Lee Hancock, Gary Spinelli, Lindsey Beer, Christopher Ford, dan Ness sendiri).Esensi ceritanya sebetulnya ingin menyampaikan berbagai konflik yang dihadapi seorang remaja yang sedang menuju kedewasaan, ketidaksiapan seseorang akan hal-hal dan info baru yang belum pernah dihadapi yang terkadang menyebabkan kebingungan. Bertolak belakang dengan filmnya, novelnya sendiri telah memenangkan hampir semua kategori penghargaan fiksi anak bergengsi di Inggris, di antaranya Guardian Award pada tahun2008, James Tiptree, Jr. Award, dan Costa Children's Book Award. Buku ketiganya, Monsters of Men memenangkan Medali Carnegie ditahun 2011. Ceritanya dipuji karena penceritaan tema-tema seperti politik gender, perang, dan konflik moral antara yang baik dan yang jahat yang disajikan dengan gaya penceritaan yang cepatd an membuat penasaran untuk diikuti. Awal yang kurang baik ini membuat genre YA sepertinya bakal sulit untuk bisa populer kembali. Cukup berisiko bagi para produser dan studio film untuk menggarap film segmentasi YA karena penonton di usia ini akan beralih menjadi orang dewasa dalam kurun waktu yang relatif cepat serta karakter tiap generasi sangat ditentukan oleh periode  waktu/ dekade film itu dirilis. Naskah yang prematur dan kecenderungan untuk tidak digarap serius membuat banyakjudul film adaptasi novel YA yang akhirnya gagal dan terlupakan, sayangnya Chaos Walking termasuk ke dalam kategori tersebut.


Overall: 5.5/10

(By Camy Surjadi)




















Wednesday, March 4, 2020

ULASAN: ONWARD



Agenda rutin tahunan yang dilakukan di awal tahun adalh membuat list film-film yang wajib kamu tonton di bioskop di tahun tersebut. Bukan bermaksud sok tahu, tapi saya yakin jika film animasi Pixar pasti ada dalam daftar kamu tersebut. Standard dari animasi Pixar dari penyajian cerita yang lebih terasa unik dan personal untuk penontonnya dan kualitas animasi yang makin meningkat di tiap film terbarunya sudah menjadi acuan utama kita kenapa film animasi Pixar harus dimasukan dalam film yang harus ditonton di bioskop. Untuk tahun 2020 ini ada dua film Pixar yang akan tayang, yang pertama adalah Onward dan Soul. Dan film yang kita ulas kali ini tentu saja Onward, film yang plot ceritanya dengan latar fantasi-modern.



Onward bercerita ketika sebuah dunia yang pada awalnya dipenuhi dengan kekuatan sihir dan makhluk ajaib yang perlahan menghilang tergerus oleh kemajuan teknologi dan makin malasnya makhluk-makhluk tersebut untuk mempelajari sihir karena sangat sulit untuk dipelajari dan tidak sepraktis teknologi. Lalu cerita berpindah pada karakter utama kita Ian Lightfoot (Tom Holland) yang hidup di masa sekarang yang baru saja berulang tahun ke-16. Sang Elf muda ini mendapatkan hadiah yang sangat luar biasa dari sang Ibu (Julia Louis-Dreyfus). Sebuah tongkat sihir yang merupakan warisan sang Ayah, Wilden Lightfoot (Kyle Bornheimer), yang sudah meninggal sebelum Ian lahir. Dari pesan wasiat yang ditinggalkan, hadiah itu boleh diberikan ketika Ian dan Barley (Chris Pratt) sudah mencapai umur 16 tahun.



Hadiah tersebut ternyata berupa sebuah tongkat sihir, sebuah Phoenix Gem, dan catatan mantra yang bisa mengembalikan ayah mereka selama satu hari penuh ke dunia nyata. Sebuah mantra yang membuat orang mati kembali lagi ke dunia fana selama 24 jam. Sesuatu hal yang sangat diinginkan oleh Ian, bisa menemui ayahnya yang tidak pernah ditemui seumur hidupnya. Dipandu oeh Barley yang mengetahui seluk beluk “dunia lama”, Barley mencoba tongkat tersebut seharian tanpa hasil. Sampai akhirnya Ian yang secara awalnya sudah pesimis dan menganggap sihir hanyalah sebuah legenda mencoba merapalkan mantra dengan tongkat tersebut yang diluar dugaan berhasil. Tapi sayangnya mantra tersebut hanya berhasil berjalan setengahnya ketika phoenix gem hancur dan tubuh sang ayanh hanya terbentuk setengahnya dari pinggang sampai kaki. Berawal dari sana Barley dan Ian memutuskan mencari phoenix gem lainnya yang terdapat pada suatu tempat dengan panduan peta boardgame yang menurut Barley itu semua berdasarkan fakta. Berpacu dengan waktu dimulailah petualangan mereka berdua untuk mendapatkan phoenix gem tersebut dan bisa menjumpai ayah mereka.


Diatas saya sudah sempat menyebutkan salah satu alasan kenapa film-film Pixar cukup berkesan bagi kita adalah karena mempunyai plot cerita yang unik dan terasa personal untuk penontonnya. Hal itu kembali berulang lewat Onward. Dengan background dunia fantasi mungkin tidak semua orang bisa relate, tetapi dengan komposisi yang menceritakan hubungan antara dua orang adik-kakak tentu hampir sebagian besar kita mengalaminya. Bahkan jika kamu anak tunggal sekalipun akan mudah terlibat dalam ceritanya. Siap-siap saja merasakan momen-momen dari tawa hingga momen bawang merah yang membuat pengalaman kamu menonton Toy Story, Coco dan film-film Pixar lainnya akan terulang.


Kekuatan film ini selain dari visual yang sangat memanjakan mata ada pada pengisi suara. Terutama pengisi suara Barley yang diisi oleh Chris Pratt. Buat saya dialah nyawa lain film ini. Bukan berarti saya mengenyampingkan pengisi suara lainnya, hanya saja Chris Pratt memberikan sentuhan lain pada karakternya yang seingat saya belum pernah saya lihat di film lainnya. Padahal karakter ceria dan komikal bukanlah karakter pertama Chris Pratt yang kita lihat. Tapi sekali lagi ada pembeda yang kita rasakan pada karakter Barley yang menurut saya mengendalikan emosi penonton sepanjang film. Sedangkan Tom Holland ? Well, sangat mudah merasakan jika karakter Ian sangat Tom Holland di film-film lainnya. Tetapi hal itu bukan karena Tom Holland yang tidak mendalami karakternya, tetapi lebih kepada karakter Ian yang memang lebih seperti Tom Holland film lain. Mungkin salah satu alasan Tom Holland dipilih mengisi suara Ian adalah karena hal itu.


Lewat Onward Pixar kembali menyajikan sebuah film yang menghibur dan emosional sekaligus untuk penontonnya. Dengan cerita yang ringan dan personal siapapun bisa menikmatinya. Tontonan yang sangat sayang dilewatkan begitu saja.


Overall: 9/10

(By: Starbaq Man)

Wednesday, December 25, 2019

ULASAN: SPIES IN DISGUISE



Dipenghujung tahun 2019 satu lagi film animasi yang rilis yang diproduksi oleh Blue Sky Studios setelah absen di tahun 2018 yang sebelumnya biasanya merilis satu film tiap tahunnya. Terakhir animasi produksi studio yang sudah melahirkan franchise Ice Age ini adalah Ferdinand di akhir tahun 2017. Kali ini Blue Sky Studios yang juga masih dibawah bendera 20th Century Fox ini merilis film animasi yang sudah menarik perhatian sejak merilis trailer pertamanya yang menceritakan agen rahasia sebagai sentral ceritanya berjudul 'Spies in Disguise'



Lance Sterling (Will Smith) seorang agen mata-mata yang tinggi akan jam terbang dan pengalaman yang selalu bisa diandalkan. Semua tugas dia selesaikan sendiri tanpa perlu bantuan partner. Sesuatu hal yang memang dihindarinya. lance lebih suka bertugas sendiri. Lalu ada seroang ilmuwan muda cerdas dengan sifat “anehnya”, Walter Beckett (Tom Holland) yang selalu diremehkan dalam lingkungan perkerjaannya karena alat-alat ciptaanya. Motivasi Walter bekerja dalam bidang teknologi (seperti Q di franchise james Bond) di kantor Lance Sterling bertugas sangat sederhana, yaitu bisa membuat dunia jauh lebih baik.


Hingga pada suatu hari, Lance dihadapkan dengan sebuah tantangan yang membuatnya harus bekerja sama dengan Walter. Lance difitnah melakukan sebuah sabotase yang tidak pernah dilakukannya. Semua hal itu didalangi oleh seorang teroris bernama Killian (Ben Manelsohn). Hal itu membuat Lance menjadi buronan. Seakan belum lebih buruk dengan apa yang dialami, Lance berubah menjadi burung merpati karena sebuah minuman yang diciptakan Walter. Dengan keadaan terpaksa Lance butuh bantuan Walter untuk bahu-membahu untuk bisa menemukan Killian dan membersihkan nama baiknya kembalib meskipun harus melanggar salah satu prinsipnya sendiri, yaitu berkerja sendiri, tanpa partner.

Layaknya filn animasi keluarga, Spies in Disguise menawarkan cerita yang sangat ringan tanpa perlu membuat berpikir keras mengenai alur ceritanya. Jadi jangan sampai pikiran skeptis atau sinis kamu dengan betapa sangat naifnya pandangan karakter Walter terhadap dunia meganggu kamu menikmati filmnya. Terlebih jika kamu menontonnya bersama anak-anak. Komedi adalah jualan utama fim ini yang akan membuat kita tertawa dalam setiap adegan komedinya. Jika kamu menontonnya bersama anak-anak, siap-siap saja suara tawa meraka akan jauh lebih keras dibandingkan dengan suara tawa kamu. Diluar komedi, ada sisipan pesan moral yang lagi-lagi mudah diserap oleh anak-anak.


Will Smith kembali memberikan kejutan untuk saya, setelah membalikkan prediksi skeptis mengenai karakternya sebagai Genie di film Aladdin, suaranya yang mengisi karakter Lance Sterling yang menjadi nilai hiburan paling atas dalam film ini. Entah disengaja atau tidak,karakter Lance Serling seakan diciptakan untuk Will Smith 


Sementara dari sisi visual, Blue Sky Studios makin memperlihat peningkatannya setelah absen selama tahun 2018. Animasi yang makin halus yang sangat memanjakan mata dengan penuh warna. Memang standard tertinggi sebuah animasi di hollywood masih dipegang oleh Pixar, tetapi Blue Sky Studios mempunyai ciri khas tersendiri dengan animasi-animasi produksi mereka yang membuat tidak perlu menyaingi Pixar karena sudah mempunyai identitas sendiri enah itu dengan cerita yang ringan ataupun visual karakter-karakter animaisnya.


Spies in Disguise sebuah animasi yang memang tidak mempunyai cerita yang luar biasa. Tetapi komedi dalam film ini akan menghibur siapapun. Cerita yang sangat ringan dengan pesan moral yang mudah diserap penonton anak-anak. Sebuah tontonan yang memang layak untuk ditonton beramai-ramai dengan keluarga.

Overall: 7,5/10