Wednesday, April 13, 2016

ULASAN: THE HUNSTMAN WINTER'S WAR




Menonton film ini tentu saja kita menjadi ingat pada film animasi Disney, “Frozen” yang super terkenal itu. Elsa adalah seorang wanita dingin dengan kemampuan 'magic' es yang begitu mempesona, begitu menakjubkan. Selama film berlangsung dia mencari cinta sejati, yang pada akhirnya dia dapatkan dari adiknya sendiri, Ana. Freya (Emily Blunt) juga begitu, pada awalnya dia adalah seorang gadis yang memiliki hati yang lembut hingga dia berubah menjadi ratu es yang dingin dan penuh akan kebencian, terutama kebencian tentang cinta.



A not very long time a go, Freya adalah sisi lembut yang menjadi kelemahan bagi kakaknya sang ratu cantik jelita tetapi sangat licik dan jahat, Ravenna (Charlize Theron). Dia selalu bersanding di sebelah kakaknya yang menaklukan kerajaan demi kerajaan dengan kecantikan dan racun dalam tubuh Ravenna. Dalam perjalanan tersebut, Freya bertemu dengan seorang pria, Duke of Blackwood, mereka saling jatuh cinta dan Ravenna mengetahuinya. Niat Freya untuk segera melepas kedudukannya demi seorang pria dan demi anak yang dia kandung (bersama pria tersebut) membuat Ravenna bertanya-tanya "Benarkah cinta sejati itu ada? Bernarkah cinta dapat menaklukan segalanya?"



Pada akhirnya Ravenna membuktikan kepada Freya, kalau cinta itu tidak ada, pria tersebut telah membuat Freya sangat kecewa dan memunculkan kekuatan supernatural yang sangat kuat dari tubuh Freya. Setelah itu Freya meninggalkan kakaknya dan bermaksud menjadi ratu untuk dirinya sendiri, the Queen of Ice in the north. Kebenciannya akan cinta membuat Freya mengambil semua anak yang dia temukan dan mengajarkan kalau cinta itu dosa dan hukuman mati bagi mereka yang jatuh cinta. Freya membesarkan mereka untuk menjadi The Huntsman dan Huntswoman menaklukan kerajaan bahkan lebih besar dari kerajaan yang dimiliki oleh Ravenna.




Eric (Chris Hemsworth) dan Sara (Jessica Chastain) adalah Huntsman dan Huntswoman terbaik yang Freya miliki. Tetapi Freya juga curiga pada mereka berdua, kalau mereka berdua saling jatuh cinta. Kecurigaan tersebut terbukti, Freya murka dan hukuman mati bagi mereka berdua.



Tujuh tahun kemudian ternyata Eric masih hidup dan bertahan, bahkan Eric membantu Snow White untuk mengambil kerajaannya yang telah direbut oleh Ravenna. Ravenna mati dalam film "Snow White and The Huntsman". Tetapi teror Ravenna masih belum berhenti cermin Ravenna yang merupakan sumber kekuatan dari Ravenna telah hilang, Raja William (Sam Clafin) suami dari Snow White meminta Eric untuk mencari cermin tersebut dan membawanya ke Sanctuary. Eric curiga kalau cermin ini telah diincar oleh Freya, dan kalau benar, Freya akan menjadi Ratu yang tak terkalahkan dan menaklukan semua kerajaan yang ada. Eric dibantu oleh 2 kurcaci pria dan 2 kurcaci wanita untuk mencari cermin tersebut dan merebutnya dari tangan Freya. Dalam perjalanan tanpa disangka ada beberapa kejutan yang dihadapi Eric, dia bertemu dengan Sara yang dia lihat sebelumnya mati terbunuh. Siapakah Sara ini? Apakah Sara masih mencintainya? Apakah dia akan membantu Eric mencari cermin Ravenna? Akankah Eric dan Sara mempu menaklukan Freya dan membuktikan cinta sejati itu ada dan mampu menaklukan segalanya?



Film ini merupakan debut pertama dari sutradara Cedric Nicolas-Troyan yang sebelumnya menjadi supervisor dalam visual effect di banyak film, termasuk Snow White and The Huntsman. Maka dari itu jawara dari film ini adalah visual effect (CGI) yang begitu menakjubkan. Selain itu set produksi dan kostum yang begitu mumpuni dan saling mengisi visual yang menakjubkan. Soundtrack dari Ending credit title juga sangat baik dinyanyikan oleh Hasley. Lagu Castle ini sangat cocok dengan ambience yang 'bitter, dark dan cold' sesuai dengan karakter the Queen of Sisters. Terutama dinginya hati Freya dan kebencian hati Ravenna.





Dari jajaran cast memang sangat menggiurkan 3 aktris dengan kemampuan akting yang sudah teruji dan versatile dalam memerankan semua peran plus 1 aktor yang sudah menjadi ikon lakon pria macho dan hero. Ditambah 2 aktor dan 2 aktris pelengkap yang menjadi para kurcaci, mampu mencairkan suasana dan membawa kelucuan yang tak terbantahkan. Emily Blunt adalah bintang dari semua bintang yang ada di film ini. Dialah penggerak film ini. Dia tetap berada dalam standarnya dalam hal berakting, bagaimana cara dia menerjemahkan dirinya dari seorang wanita lembut dan menjadi ratu yang dingin yang penuh amarah akan cinta. Tapi bukan hanya itu, bagian dari ending ini dia tetap mempesona, dengan konflik yang ada bahwa cinta dalam dirinya masih ada terutama cinta kepada anak-anaknya Eric, Sara dan para the Huntsman. Charlize Theron meningkatkan performanya di film ini dari film sebelumnya. Kalau di film sebelumnya Theron belum belajar banyak bagaimana cara menjadi ratu jahat (karena dia hanya teriak-teriak dan memerintah saja), di film ini dia tau betul bagaimana caranya menjadi ratu yang cantik tetapi penuh duri dan racun dalam tubuh dan sifatnya. Seperti halnya bunga mawar, maka dari itu dia direpresentasikan dengan kostum mawar emas dengan duri dan racun hitam dari tubuhnya.



Chris Hemsworth dan Jessica Chastain adalah yang terlemah, bisa jadi karena script mereka yang memang sangat standar terutama aksen Britic (British – Celtic) mereka yang sangat annoying. Masih ada chemistry yang kurang diantara mereka berdua. Bahkan mungkin, film ini merupakan akting Jessica Chastain yang paling lemah. Ada pemikiran apakah role Chastain dan Blunt itu tertukar? Seperti kita ketahui, Chastain sudah pernah menjadi karakter wanita jahat dan dingin dalam film horor “The Crimson Peak”, sedangkan Emily Blunt sangat menakjubkan sebagai heroine dalam film sci-fi action “Edge of Tomorrow”. Walaupun begitu seperti apapun peran dan karakternya, kau harus bermain total. Di film ini, Chastain tidak sebaik Blunt. Chris Hemsworth adalah Chris Hemsworth, jangan berekspektasi bahwa dia akan melebihi kemampuan aktingnya dari film “Rush” atau aksi heroiknya melebihi karakter superhero Thor.



Tetapi bukan Chastain yang terburuk, narasi (yang sepertinya disuarakan oleh Liam Neeson) yang sangat sederhana dan naskah yang terlalu sederhana membuat film ini terlihat datar. Sangat datar, terlihat begitu mudah dan tergesa-gesa selesai. Pe eR besar bagi sang penulis Craig Mazin dan Evan Spiliotopolous. Bahkan klimaks di akhir film ini tidak mampu terbangun dengan baik. Klimaks yang menjawab Freya bahwa cinta itu masih ada atau tidak?



The Huntsman: Winter's War bukanlah film yang sulit untuk dicerna, maka dari itu para penonton akan mudah menerka bagaimana film ini akan berakhir dan pelajaran apa yang mereka dapatkan. Memang film ini seperti sebuah fairy tale untuk anak-anak yang tampaknya sia-sia bagi orang dewasa. Film ini juga 'galau', tidak mampu menentukan apa yang cocok untuk dikisahkan karena naskah yang begitu mudah dicerna anak-anak tetapi ada beberapa muatan yang kurang cocok bagi anak-anak. Galau, seperti halnya kegalauan dalam hati Freya mengenai cinta.



Benarkah cinta sejati itu masih ada? Dalam film Frozen, Elsa mendapatkan cinta dari adiknya. Dalam film The Huntsman, Freya mendapatkan cinta dari para anak-anaknya yang bertarung untuk cinta. Pada akhirnya Ravenna kalah, dia kalah karena benci dan iri terhadap apa yang telah diraih oleh adiknya. Dia kalah karena telah mempermainkan cinta adiknya yang mencintai Ravenna apa adanya.



My rate: 3/5



Nb: Sorry Stewart fans, walaupun film ini masih kurang baik, tetapi jauh lebih baik dari film sebelumnya. Setidaknya central dari film ini, Freya, sebagai pengganti Snow White bermain lebih apik diperankan.


(By Ibnu Akbar)

Subscribe to this Blog via Email :