Sunday, December 25, 2016

ULASAN: ASSASSINS CREED


Seakan menjadi sebuah kutukan, entah kenapa film yang diadaptasi dari game selalu mendapat hasil yang buruk. Coba sebutkan film adaptasi game yang  mendapat respon positif dari penonton atau kritikus dan juga berhasil dalam pemasuka ?. Ingatkan saya jika ada, tetapi memang belum ada film adaptasi yang berhasil mendapat dua hasil itu. Resident Evil mungkin satru-satunya film adaptasi yang masih bisa selamat sampai sekarang yang sudah mencapai enam film, Itupun mendapat krikitikan pedas bertubi-tubi dari penggemar gamenya dan paar kritikus karena filmnya sudah sangat melebar jauh dari konsep plot cerita gamenya.
 

Dan statistik buruk itu juga yang membntuti Assassins Creed ketika kabar gamenya yang sudah menelurkan 13 seri ini akan diproduksi live actionnya. Tetapi sedikit asa harapan jika hasilnya akan memuaskan begitu tinggi ketika diumumkan siapa-siapa saja yang terlibat dalam film ini. Tentu bukan sembarangan jika Michael Fassbender sampai ingin terlibat jauh di film ini, selain sebagai pemeran utama, Fassbender juga merangkap sebagai produser. Lalu ada nama Marion Cotillard Jeremy Irons dan  Brendan Gleeson dijajaran castnya. Lalu ada nama Justin Kurzel didapuk sebagai sutradara yang sebelumnya sudah pernah bekerjasama dengan Fassbender dalam film Machbeth/


Mengambill plot cerita sudut pandang seorang kriminal bernama Callum Lynch (Michael Fassbender), yang diselamatkan dari hukuman mati oleh Abstergo Industries, sebuah perwujudan modern dari organisasi orde templar. Lalu Callum dipaksa untuk berpartisipasi dalam Animus Project dan menyaksikan ingatan leluhurnya, Aguilar de Nerha yang hidup di abad ke 15 Spanyol. Melalui ingatan ini, Callum menyadari bahwa nenek moyangnya adalah bagian dari organisasi rahasia pembunuh bernama Assassin’s society. Ia juga mendapatkan pengetahuan dan keahlian yang akan membantunya untuk melawan musuh terkuat bagi para Assassins, yakni organisasi ksatria templar di masa kini.


Yup, itulah sedikit sipnosis dari 'Assassins Creed' yang menjadi modal saya ketika menonton film ini. Saya sendiri sebelum menonton film ini sama sekali belum pernah memainkan gamenya atau membaca novelnya. Well, hasilnya ? saya sangat menikmati suguhan film berdurasi 110 menit ini. Daya magis utama film ini terletak plot ceritanya tentang pencarian artefak kuno yang disebut 'Apple of Eden' yang bisa menghapus berkehendak bebas umat manusia sangat, sangat, sangat menarik buat saya.

 


Yup, secara garis besar memang film ini sedikit membingungkan untuk penonton yang mengikuti gamenya satu jam pertama. Bahkan sampai akhirpun akan banyak muncul pertanyaan yang sepertinya masih disimpan untuk sequelnya nanti. Tetapi hal itu seperti menjadi bumerang tersendiri bagi penonton lain yang berpendapat Assassins Creed menjadi serba nanggung dalam penyampain ceritanya.


Assassins Creed akan mempunyai banyak pekerjaan rumah yang perlu diperbaiki jika nanti ada sequel. Untuk saat ini review dari kritikus, Assaasins Creed sepeertinya akan melanjutkan kutukan sebagai adaptasi film dari game terburuk. Untuk saya sendiri ?. Film ini membuat saya sangat ingin memainkan gamenya dan mencari tahu lebih banyak lagi tentang perseteruan Asssassins Creed vs Templar (sampai tulisan ini dipublish, saya sudah menyelesaikan Assassins Creed Relevations dalam empat hari dan dalam proses penyelesaian membaca noveel Assassins Creed: Renaisance)

Subscribe to this Blog via Email :