Tuesday, March 27, 2018

ULASAN: READY PLAYER ONE




Do You Believe that Fiction Could Become Reality?

Virtual Reality atau lebih popular disebut VR lebih banyak dikenal masyarakat pada tahun 2016, tetapi ternyata VR pertama kali ditemukan jauh sebelum itu. Morton Heilig adalah seorang visioner yang diremehkan ke-brilianannya. Saat itu di tahun 1950an ketika kebanyakan orang-orang masih menggunakan TV hitam putih, dia telah membuat sendiri sebuah mesin video yang berfungsi sepenuhnya merasakan secara virtual dapat mengendarai sepeda motor beserta sensasi suaranya, angin, getaran dan bahkan aroma saat berada di jalan. Dia menyebutnya sebagai simulator Sensorama. Dan alat ini gagal dengan spektakulernya karena tidak adanya rasa percaya dari masayarakat saat itu.



Hingga akhirnya Ernest Cline seorang geek yang sangat menyukai video game dan budaya populer tahun 80an dan 90an membawa kembali keajaiban VR melalui novel yang spektakuler, Ready Player One yang hadir pertama kali di tahun 2011. Semua orang percaya bahwa VR akan booming dan dikembangkan. Kenyataannya sudah banyak perusahaan yang sedang mengembangkan teknologi ini bagi khalayak ramai, kita hanya tinggal menunggu saja.

Ready Player One adalah novel yang menjual sebuah dunia artificial yang akan hadir kalau kita memakai seperangkat alat VR dan pendukungnya. Sebuah dunia di mana kita bisa bermain ski di piramida, nongkrong di kasino seukuran planet, atau mendaki gunung bersama Batman. Dunia ini dinamakan OASIS (Ontologically Anthropocentric Sensory Immersive Simulation). OASIS adalah sebuah MMOSG (massively multiplayer online simulation game) yang dikreasikan oleh James Halliday (Mark Rylance) and Ogden Morrow (Simon Pegg) di sebuah perusahaan bernama Gregarious Simulation Systems (GSS), atau sebelumnya dikenal dengan nama Gregarious Games.



OASIS adalah surga bagi masyarakat pada tahun 2045 yang kenyataannya saat itu dunia dan realita sudah tidak ramah lagi bagi mereka. Hampir seluruh penduduk menghabiskan waktunya di OASIS membuat perusahaan GSS sukses besar dan Halliday adalah Steve Jobs pada saat itu. Mereka menghabiskan waktu di OASIS karena mereka berburu 3 kunci yang ditinggal oleh Halliday. Halliday diketahui telah wafat pada tahun 2040, dan Morrow sudah memisahkan diri dari bisnis OASIS. Halliday tau bahwa OASIS harus dikelola dengan benar dan bagaimana cara dia memberikan warisan tersebut ke tangan yang benar melalui perburuan Easter Egg yang dia ciptakan, dengan menemukan 3 kunci dari tantangan yang Halliday buat. Dia percaya penemu dari Easter Egg yang mampu mengendalikan OASIS adalah orang yang tepat sebagai ahli warisnya.Wade Watts (Tye Sheridan) remaja yang sudah tidak memiliki orang tua dan selalu tidur di atas mesin cuci bibinya adalah salah satu orang yang tidak pernah absen dalam perburuan Easter Egg ini. Dalam OASIS dia adalah seorang Avatar remaja yang mirip sekali dengan Keanu Reeves muda (kalau ingat Keanu Reeves dalam film Point Break) dengan nama Avatar Parzival. Dia merasa ada hal yang harus dikulik lagi untuk dapat memecahkan tantangan pertama yang sangat sulit. Sudah 5 tahun tantangan tersebut berjalan dan belum ada satu pun yang memcahkan. Hingga akhirnya dia bertemu dengan Art3mis (Olivia Cooke) yang memiliki semangat yang sama untuk memecahkan teka-teki ini. Parzival, Art3mis dan teman Gunters lainnya yaitu Aech (Lena Waithe), Sho (Philip Zao) dan Daito (Win Morisaki) akhirnya membuat beberapa kemajuan dalam permainan Halliday.



Tantangan mereka bukan hanya memecahkan teka teki Halliday, tetapi juga harus menghindari OASIS jatuh ke tangan Nolan Sorrento (Ben Mendelsohn) mantan intern Halliday yang juga seorang CEO perusahaan Innovative Online Industries (IOI). Sorrento akan melakukan apa pun untuk mendapatkan OASIS dan mengendalikannya agar IOI menjadi perusahaan yang paling maju jika dibandingkan dengan GSS. Dalam OASIS Sorrento berwujuk Clark Kent yang dipadupadankan dengan Bruce Waynen dan selalu dibantu oleh seorang bounty hunter yang bernama i-R0k (T. J. Miller). Belum lagi pasukan IOI yang disebut dengan Sixers yang berjumlah ratusan akan selalu membantu Sorrento dalam perburuan Easter Eggs. Mampukah Wade beserta kelompoknya yang dinamakan “High Five” mendapatkan Easter Eggs tersebut? Atau justru Sorrento dan perusahaannya lah yang mendapatkan? Lalu bagaimana masa depan OASIS selanjutnya? Benarkah Halliday sudah meninggal?



Pertama kali Ernest Cline menyutujui bahwa buku ini akan dijadikan film oleh Warner Brothers bayangan sutradara yang cocok untuk menangangi film ini bagi Ernest Cline adalah sang maestro Sci-fi film, Steven Spielberg. Dia percaya bahwa Ready Player One akan menjadi lebih hidup dan lebih terlihat populer di tangan Spielberg. Alhasil WB menyutujui ide ini dan juga disambut baik oleh sang sutradara. Menariknya lagi ketika Spielberg memiliki ide gila nan brilian yang ingin membawa begitu banyak franchise dunia game dan dunia perfilman dalam satu film, dalam satu dunia bernama OASIS.



Seperti dalam buku, Ready Player One memberikan penghormatan kepada budaya populer terutama pada 1980-an, 1990-an, 2000-an, dan 2010-an. Spielberg, Producer Kristie Macosgo Krieger, tim proyek khusus yang dikepalai Deidre Backs membantu memasukkan banyak lisensi agar ide gila ini tercapai. Semua franchise dalam bentuk penokohan, tagline bahkan gerakan tubuh yang digambarkan dalam Ready Player One.



Di antara karakter berlisensi dalam film ini adalah karakter judul dari The Iron Giant, RX-78-2 Gundam dari Mobile Suit Gundam, Mechagodzilla, berbagai karakter dari alam semesta DC Comics dan seri film The Lord of the Rings, Freddy Krueger dari A Nightmare at Elm Street, Duke Nukem, Tracer dari Overwatch, Ryu, Blanka dan Chun-Li dari Street Fighter, Sonic the Hedgehog, Lara Croft dari Tomb Raider, Kratos dari God of War, Nathan Drake dari Uncharted, Sackboy dari LittleBigPlanet, serta karakter Knack and Chucky dari Child's Play. Sebuah balapan mobil dalam game besar-besaran termasuk kendaraan seperti mesin waktu DeLorean dari Back to the Future yang dilengkapi dengan KITT dari Knight Rider (digunakan oleh Parzival), Mach 5 dari Speed ​​Racer, mobil '58 Plymouth Fury yang dimiliki oleh Christine, van dari The A-Team, Ford Falcon yang dimodifikasi digunakan di Mad Max, truk monster Bigfoot, dan sepeda motor Kaneda dari Akira. Referensi tambahan untuk Robocop, Jurassic Park, King Kong, 2001: A Space Odyssey dan Halo juga telah diidentifikasi dalam materi promosi. Klein juga meminta Industrial Light & Magic untuk memasukkan referensi ke The Last Action Hero, salah satu skenario pertama Penn, dan Star Trek yang merupakan lisensi yang dipinjamkan oleh Simon Pegg selaku producer dari Star Trek. Tidak lupa atribut franchise The Shining yang akan berperan besar dalam film ini.

Tidak salah apabila selama 140 menit ke depan penonton akan bersorak sorai seperti menyaksikan aksi panggung konser Aerosmith atau Queen di tahun 90an awal.



Dari segi cerita kalau dalam dunia film Sci-fi, penonton akan percaya bahwa Spielberg memang sang maestro budaya Pop. Penonton tidak akan disuguhkan cerita dengan teori sci-fi berat seperti Insterstellar atau Inception, bahkan tidak juga dengan Sci-fi horror macam saga Alien. Film ini murni sebuah kisah persahabatan, kisah seorang anak yang mengejar mimpinya dan berkelana dalam dunia maya. Ringan dengan eksekusi yang mengasyikan. Secara visual dan editing? Masih meragukan Steven Spielberg?



Bagaimana dengan soundtrack? Di luar dari lagu yang dikomposisikan oleh Alan Silvestri, penonton akan merasakan lagu tahun 80-90an seperti Take On Me dari A-HA, Jump dari Van Hallen, World In My Eyes dari Depeche Mode dan Tom Sawyer dari Tom Rush. Lagu-lagu tersebut sangat pas dan membawa nuansa nostalgia yang tak terelakan.



Ready Player One adalah sebuah film yang tidak diragukan lagi adalah karya Spielberg yang sudah lama hilang, film dengan nuansa petualangan dan aksi yang memukau, sebuah film untuk bersenang-senang, sebuah film yang memang cocok ditonton sambil makan popcorn. Bahkan sebuah film yang membawa perasaan penonton seperti menonton bersama sang maestro, tertawa dan berteriak bersamanya.



Ready Player One menjadi sebuah film pertemuan karakter favorit (film atau game) yang mungkin dahulu hanya akan menjadi mimpi di siang bolong belaka. Lagu-lagu nostalgia yang sangat populer dengan cerita ringan yang akan dicintai banyak orang. Sebuah film festival bagi para geek dan game maniak. Sebuah mimpi besar Ernest Cline yang akhirnya terwujudkan karena dia PERCAYA.



Dia percaya bahwa VR akan populer dan Ready Player One menjadi salah satu penggerak bagi para pengembang teknologi untuk menghidupkan teknologi VR. Dia mungkin juga percaya bahwa cerita fiksi saat ini akan menjadi kenyataan. PERCAYA adalah faktor utama dan terpenting dalam mewujudkan sebuah mimpi bahkan sebuah fiksi. Apabila sebuah rasa percaya tersebut benar-benar diwujudkan dan rasa percaya tersebut didukung juga oleh orang banyak. Bisa jadi apa yang ditulis dalam buku “Ghost Fleet” akan menjadi kenyataan, kalau realitanya sudah mengarah kesana dan kalau kita banyak yang percaya. Tetapi bisa jadi malah tidak akan terjadi kalau kita PERCAYA bahwa Indonesia justru akan maju dan kita berusaha mewujudkan untuk memajukan Indonesia.



Yang jelas Ernest Cline percaya bahwa Ready Player One akan menjadi sebuah tonggak film populer yang akan terus diingat banyak orang. Dia Percaya, Spielberg pun juga percaya dan saya pun percaya

(By Ibnu Akbar)

























Subscribe to this Blog via Email :