Thursday, November 7, 2019

ULASAN: RATU ILMU HITAM



Tidak bisa dipungkiri semenjak film Pengabdi Setan sukses bahkan hingga mancanegara, film horor karya Joko Anwar selalu ditunggu, bahkan menjadi standar bagi film horor lain yang mencoba mengekor kesuksesan film tersebut. Pengabdi Setan menyadarkan dunia perfilman Indonesia bahwa genre horor masih memiliki “nyawa” dan penggemarnya tidak sedikit asal digarap dengan serius. Setelah merilis Perempuan Tanah Jahanam pada 17 Oktober lalu, pada 7 November ini ada satu lagi karya Joko Anwar yang kali ini bertindak sebagai penulis screenplay sedangkan untuk kursi sutradara dipegang oleh Kimo Stamboel. Duet dua orang ini tentunya sangat ditunggu karena Kimo terkenal dengan signature “gore” dalam film-filmnya, perpaduan maut dua sineas ini tentu menjadi magnet kuat bagi pecinta horor Indonesia.



Ratu ilmu Hitam versi 2019 ini merupakan remake dari film horor legendaris berjudul sama tahun 1981 yang dibintangi sang ratu horor Suzanna dan disutradarai Imam Tantowi. Untuk versi remake ini meski berjudul sama namun sudah disesuaikan dengan masa sekarang dan juga mengakomodir generasi milenial mengingat rentang waktu yang cukup jauh namun inti ceritanya tidak diubah. Para pemain dalam Ratu Ilmu Hitam versi 2019 ini banyak bertabur bintang, yaitu Ario Bayu, Hannah Al Rashid, Imelda Therinne, Miller Khan, Tanta Ginting, Zara JKT48, Ade Firman Hakim, Yayu Unru, Putri Ayudya, Shenina Cinnamon, Giulio Parengkuan, Gisellma, dan Sheila Dara Aisha. Sebagai info Film Ratu Ilmu Hitam versi 1981 mendapatkan 5 nominasi di FFI untuk Pemeran Utama Wanita Terbaik, Pemeran Pendukung Pria Terbaik, Tata Sinematografi Terbaik, Penyuntingan Terbaik, dan Tata Artistik Terbaik. Film ini juga menarik perhatian dunia internasional dan sudah tayang di AS dengan judul Queen of Black Magic dan di Perancis dengan judul Exorcisme Noir.



Dalam Film Ratu Ilmu Hitam versi terbaru ini diceritakan bahwa Hanif (Ario Bayu) membawa istrinya Nadya (Hannah Al Rashid) dan ketiga anak mereka Haqi (Muzakki Ramdhan), Dina (Zara JKT 48), dan Sandi (Ari Irham) untuk mengunjungi panti asuhan tempat Haif dibesarkan dulu. Lokasi panti asuhan ini cuku terpencil dan tidak ada di maps. Dua sahabat Hanif, Anton (Tanta Ginting) dan Jefri (Miller Khan) juga datang bersama istri mereka masing-masing Eva (Imelda Therinne) dan Lina (Salvita Decorte). Selama Pak Bandi sakit, panti diurus oleh Maman (Ade Firman Hakim) dan istrinya Siti (Sheila Dara Aisha). Mereka bertiga datang untuk memberikan penghormatan terakhir pada Pak Bandi (yayu Unru) karena kondisinya yang sudah tua dan sakit keras. Awalnya mereka semua tampak senang karena panti asuhan terebut terlihat nyaman. Suatu kali Haqi mendengar cerita dari Rina (Shenina Cinnamon) yang menceritakan kisah mengerikan di panti asuhan itu. Alkisah ada pintu kamar di panti tersebut yang tidak boleh dibuka karena ada pengurus panti bernama Bu Mirah (Ruth Marini) yang tewas dengan menggedor-gedorkan kepalanya ke pintu hingga pecah. Sementara itu Hanif mengajak Jefri untuk mengecek km 81 karena ia merasa ada sesuatu yang ditabraknya dalam perjalanan ke panti asuhan. Setelah sampai dan dicek kembali, alangkah terkejutnya mereka bahwa ada gadis kecil yang tergeletak bersimbah darah dan bus berisi anak panti yang mengalami kecelakaan. Malam yang tadinya damai perlahan berubah menjadi menyeramkan karena banyak kejadian-kejadian ganjil mulai bermunculan dan korban berjatuhan di antara mereka, ada yang hilang atau mengalami kematian mengerikan. Apakah Arwah Bu Mirah kembali untuk membalaskan dendamnya ataukah ada entitas lain yang sengaja mengganggu mereka? Misteri kelam apa sebenarnya yang tersimpan dalam panti asuhan tersebut.



Dengan durasi 1 jam 39 menit cerita disajikan dengan cukup efektif dan ketika memasuki konflik utama film pace ketegangan tetap terjaga hingga akhir film. Untuk bagian awal film, film ini punya tugas berat yaitu harus memperkenalkan banyak karakter dalam waktu relatif singkat akibatnya kita sebagai penonton menjadi tidak terlalu terhubung dengan beberapa karakter, hanya 3 karakter yang cukup stand out yaitu Hanif (Ario Bayu), Nadya (Hannah Al Rashid), dan Haqi (Muzakki Ramdhan) dan ini cukup berefek hingga akhir film karena kita menjadi tidak terlalu peduli dengan nasib nahas yang menimpa karakter lainnya. Peralihan narasi cerita ketika memasuki plot utama film terasa agak terlalu cepat karena tidak ada petunjuk atau peringatan untuk para karakternya bahwa mereka akan segera mengalami peristiwa mengerikan. Hal yang menginisiasi terjadinya teror tidak begitu jelas dan tiba-tiba teror terus datang ke panti tanpa henti menimpa semua karakter yang ada dimulai dari sejak ditemukannya bus berisi anak panti yang terlibat kecelakaan. Unsur misteri dalam film dieksekusi dengan sangat baik karena penonton seakan diajak untuk ikut berpikir lewat petunjuk-petunjuk yang muncul sepanjang film, bahkan ada twist mengejutkan yang dijamin bakal mengecoh penonton yang melibatkan masa lalu Hanif (Ario Bayu), Anton (Tanta Ginting), dan Jefri (Miller Khan) dengan kejadian kelam di panti tersebut. Twist ini pula yang memberi petunjuk siapa dalang teror sebenarnya.



Treatment gore yang diberikan Kimo sangat efektif, adegan gore sengaja dishoot perlahan untuk membangun kengerian sewaktu menonton, saya sempat beberapa kali menahan nafas dan menggertakkan gigi terutama ketika adegan Lina (Salvita Decorte) menyayat tubuhnya akibat kena guna-guna dari sang Ratu Ilmu Hitam (Putri Ayudya). Banyak adegan film yang cukup sadis dan gore namun Kimo memberikan sesuai porsinya serta tidak berlebihan. Jika di Perempuan Tanah Jahanam kesadisan dan gore tidak diperlihatkan tetapi diserahkan ke imajinasi penonton maka Ratu Ilmu Hitam benar-benar mengekspos hal tersebut. Untuk bagian konklusi film ini sayangnya agak terlalu cepat padahal semestinya bisa dibuat lebih lama dan mengesankan karena di bagian ini memperlihatkan pertarungan karakter utama dengan Sang Ratu Ilmu Hitam. Untuk remakenya kali ini bisa dikatakan cukup fresh dan menarik karena menggunakan perspektif karakter utamanya yang bukan lagi Sang Ratu Ilmu Hitam/ Murni seperti dalam film tahun 1981 melainkan pada karakter Nadya. Selain dari segi karakter dan cerita yang berbeda namun tema yang diangkat masih sama yaitu balas dendam dengan menggunakan ilmu hitam.



Walau bertabur cast terkenal namun tidak semuanya digunakan secara optimal dalam film. Penampilan Hannah Al Rashid sangat kuat dan meyakinkan sebagai Ibu tegar yang berusaha melindungi anak-anaknya, Ario Bayu juga tampil baik sebagai family man yang care terhadap istri dan anak-anaknya namun punya masa lalu tersembunyi. Muzakki Ramdhan sebagai Haqi adalah yang paling mencuri perhatian di sini karena performa aktingnya sangat bagus walau masih sangat muda. Zara yang digadang-gadang bakal berperan penting tidak begitu dieksplorasi dan perannya tergolong cukup minor dalam film. Para cast lainnya cenderung hanya berperan sebagai korban yang tidak begitu memorable di benak penonton. Putri Ayudya tampil memukau sebagai sosok Ratu Ilmu Hitam yang mengintimidasi dan tidak kenal belas kasihan. Sinematografi film ini terbilang menarik dan membuat penonton tenggelam dalam suasana mencekam sepanjang film, set rumah panti yang digunakan cukup menimbulkan kesan angker dan kuno. Walau kebanyakan adegan berada di rumah panti namun sinematografi film ini mampu memanfaatkan sisi-sisi rumah yang variatif dan didukung scoring yang bagus sehingga menambah keefektifan setiap adegan horor. Untuk spesial efek yang digunakan sendiri di beberapa scene yang terlihat sedikit kasar seperti adegan ketika ditemukannya anak-anak panti di bus dan nasib nahas yang menimpa Anton, namun tidak begitu mengganggu dan masih dapat dimaklumi.



Harus diakui keputusan untuk menggabungkan Kimo dan Joko Anwar dalam film ini adalah perpaduan yang sangat epik, hasilnya sama sekali tidak mengecewakan. Signature Kimo yang gemar menampilkan adegan sadis dan berdarah-darah sangat memperkaya cerita film dan terlihat elegan sementara naskah cerita berkat treatment Joko Anwar menjadi lebih berisi dan membuat penonton berpikir sepanjang film. Kelihatan bahwa adegan jumpscare bukanlah jualan utamanya tapi kekuatan film ini ada pada ceritanya yang betul-betul digarap dengan serius. Aspek keluarga yang kental yang senantiasa menjadi topik film-film Joko Anwar kembali dihadirkan dalam cerita film sehingga membuat penonton mudah untuk terkoneksi dengan situasi yang dialami para karakter utamanya.



Tema supranatural dan ritual ilmu hitam merupakan hal yang jamak dalam kehidupan masyarakat di Indonesia, Kimo dan Joko mencoba menampilkan hal ini sesuai porsinya dan memenuhi ceklist film horor sehingga menjadi tontonan yang berkualitas. Banyak film horor yang mentreatment horor salah sasaran entah dari segi teror yang berlebihan dan tidak pada tempatnya, cast yang amburadul, sampai cerita yang asal-asalan. Sebetulnya banyak cerita, mitos, dan legenda horor di Indonesia yang dapat digali dan dijadikan tema film berkualitas namun kebanyakan sineas di Indonesia malas menggarap cerita horor secara serius dan hanya mengejar keuntungan semata. Kadang beberapa film horor membuat saya geleng-geleng kepala mengapa masih ada film horor asal-asalan dan bisa tayang di bioskop. Kehadiran Joko Anwar membuktikan bahwa horor Indonesia belum mati dan sebagai penonton saya haus dengan suguhan film-film horor berkualitas. Mari kita berdoa dan tidak berhenti berharap agar lebih banyak film horor yang “berani dan sadis” seperti Ratu Ilmu Hitam ini.


Overall: 8/10 

(Camy Surjadi)

Subscribe to this Blog via Email :