Friday, August 28, 2020

MERAYAKAN DAN MENIKMATI PATAH HATI BERSAMA CHUNGKING EXPRESS


Anda pernah patah hati ? Saya anggap semua yang menjawab pernah. tetapi jika ada yang menjawab belum pernah, saya ucapkan selamat pada anda. Nikmati masa-masa itu sebelum nanti mengalami untuk pertama kalinya. Karena selalu ada yang untuk pertama kali bukan ?  Percayalah, patah hati itu berat. Setidaknya itulah yang digambarkan atau diwakili oleh Wong Kar-wai lewat Chungking Express. Wong Kar-wai salah satu sutradara dikenal sebagai salah satu sutradara hebat dari Hongkong yang mana satu-satunya filmnya yang saya tonton sebelum Chungking Express adalah My Blueberry Nights saat usia 19 tahun dan saat itu saya tertidur. Sejak saat itupun saya tidak pernah terlalu tertarik untuk mencoba menonton film-film dia yang lainnya. Merasa film-filmnya bukan secangkir teh saya. Tidak adil memang langsung menilai keseluruhan filmnya berdasarkan satu film, dan itupun bukan film terbaiknya yang saya tonton.


Ya, hakimi saja saya dengan mengatakan "kebanyakan menonton film hollywood sih loe" atau sebagainya apapun itu. Hal itu bisa saya terima. Ya bisa dikatakan saya termasuk dalam kategori penonton-penonton mainstream yang kebanyakan film-film favoritnya film-film kategori popcorn. Bahkan posisi sutradara favorit saya diurutan pertama adalah Micahel Bay. Iya Michael Bay yang itu, sutradara yang expert dalam hal ledakan yang banyak haternya itu. Tetapi kita tinggalkan dulu masalah selera nonton yang maisntream yang makin menjauh dari topik yang ingin saya coba bahas dengan kualitas tulisan yang seadanya ini.


Lalu kenapa baru muncul keinginan menonton Chungking Express sekarang setelah pengalaman tertidur menonton My Blueberry Nights ? Jawabannya karena ketidaksengajaan saya melihat postingan quote dari film Chungking Express yang ada di instagram dengan background karakter utama filmnya Takeshi Kaneshiro yang memancing perhatian saya. Quote tersebut bertuliskan:

"Actually, knowing someone doesn't mean anything. People change"


Sebuah quote yang memancing perhatian saya. Hanya sekedar memancing perhatian. Belum ada niat untuk menonton. Terlebih sudah tahu jika sutradaranya Wong Kar-wai. Namun belakangan gambar yang sama dengan quote yang sama cukup sering muncul di timeline instagram saya yang diposting oleh beberapa akun berbeda. Dan perasaan ingin menonton-pun muncul. Merasa quote itu sedikit agak relate dengan saya belakangan ini. Jadi perlu dicatat, meskipun saya tahu Chungking Express adalah salah satu film terbaik yang pernah ada dalam sinema Hongong dan bahkan dunia sesuai yang saya baca, tetapi karena pada dasarnya saya tidak terlalu tertarik dengan film-film Wor Kang-wai pasca My Blueberry Nights, saya sama sekali tidak megetahui Chungking Express bercerita tentang apa. Bahkan membaca sinopsis sebelum menontonpun saya tidak. Dan dari sini dimulailah sesuatu pengalaman yang sangat disukai orang-orang yang hobi menonton  ketika menonton dimana film itu memberikan "movie experience". Sebuah pengalaman yang tidak hanya memeberikan kepuasan setelah menontonnya, tetapi memberikan sudut pandang baru pada penontonnya.


Entah memang perlu  atau tidak saya menuliskan sinopsis filmnya disini, karena saya merasa paling telat menonton film ini dan yakin kalau ada yang baca tulisan ini pasti udah nonton. Tapi buat jaga-jaga jika memang belum ada yang menonton, saya tulis sedikit sinopsisnya. Siapa tahu bisa dapat hidayah untuk menonton dan merasakan pengalaman yang saya rasakan.


Chungking Expres terbagi dalam dua bagian cerita berbeda tetapi berhubungan secara tidak langsung. Bagian pertama menceritakan tentang seorang polisi bernama He Qiwu yang hanya kita kenal dengan nomor kode 223 (Takeshi Kaneshiro) yang masih belum bisa move on setelah diputusi oleh pacarnya pada tanggal 1 April. Nomor 223 masih berharap itu hanya sebuah joke atau prank, karena 1 April adalah April Fools Day.  Cerita kedua tentang seorang polisi dengan kode 663 (Tony Leung) yang juga masih berlarut-larut dengan perasan patah hatinya setelah diputusi oleh pacarnya yang seorang pramugari. Dari dua karakter ini kita akan dibawa tenggelam dengan dua refleksi perasaan patah hati yang berbeda. Cerita masing-masing dinarasikan oleh tokoh utamanya dari sudut pandang masing-masing. Narasi tidak hanya dari dua tokoh utama kita yang sedang patah hati itu saja, tetapi narasi dari sudut pandang berbeda dari karakter-karakter utama wanita di film ini yang diwakili oleh woman in blonde wig (Brigitte Lin) dan Faye (Faye Wong).


Untuk cerita sesungguhnya Chungking Express tidak ada yang istimewa. Bisa tergolong biasa. Sudah banyak film bertema romance patah hati seperti ini. Lalu apa yang membuatnya istimewa ? Buat saya sendiri adalah penggambaran karakternya yang sangat apa adanya yang jauh lebih dekat kepada penonton. Seperti yang saya sebut diatas, saya bisa dimasukan kategori penonton mainstream termasuk film romance. Film-film romance kebanyakan yang saya tonton benar-benar kategori popcorn yang plotnya banyak kita temui di FTV yang biasanya diisi oleh lagu-lagu populer. Lalu adegan demi adegan yang sangat didaramatisir mulai dari perjumpaan dua karakter uta, konflik hingga ending yang membuat kita mengeluarkan kata-kata "so sweeet".Ya saya tumbuh dengan film-film romance sejenis itu terutama dari bollywood. Sedangkan Chungking Express sangat mudah untuk kita merasakan atau emosi karakternya yang sangat patah hati itu. Tidak bisa move on, bucin atau segala hal yang kita alami patah hati tanpa didramatisir secara berlebihan. Cop 223 dan Cop 663 adalah kita sat mengalami pengalaman patah hati tersebut, yang mana saat dalam kondisi tersebut apapun yang disekitar bahkan ditengah-tengah keramaian sekalipun tidak bisa menghibur perasaan kita. 



Dalam film ini Wong Kar-wai menggambarkan bagaimana pada saat patah hati kita itu semua sama, hanya cara mengekspresikan perasaan saja yang berbeda. Cop 223 merefleksikan paah hatinya dengan membeli nanas kaleng yang memiliki tanggal kadaluarsa tanggal 1 May yang merupakan hari ulang tahun mantan pacarnya. Cara seperti membuat suasana hati Cop 223 membaik sesaat. Sedangkan Cop 663 mengekspresikannya dengan cara berbicara pada barang-barang yang ada di apartemennya. Setiap barang yang ada di apartemen mengingatkannya pada mantan pacarnya. Dua cara berbeda dalam mengekspresikan tapi perasaan yang sama.



Dengan ending yang terbuka, Wor Kang-wai dengan tidak menggurui memberikan pilihan pada penontonnya. Chungking Express seakan-akan terapi untuk penonton, terlebih untuk yang sedang mengalami patah hati tersebut. Tidak ada yang salah bersedih berlarut-larut karena baru kandas dari hubungan sebelumnya, karena memang hal itu bukan hal yang mudah. Ambil sebanyak waktu yang kamu butuhkan. Hanya saja kamu selalu punya pilihan untuk bisa keluar dari situasi berduka itu lebih cepat seperti langkah yang diambil oleh Cop 223 dan Cop 663 yang mencoba keluar dari situasi tersebut meskipun langkah yang mereka ambil belum tentu jauh lebih baik dari sebelumnya. Ya bukankah esensi hidup itu memang masalah ? Cara kita menghadapinya yang menjadi pembeda.


Lalu apakah syarat bisa menikmati film Chungking Express harus patah hati dulu ? Entahlah, saya juga tidak bisa menjawabnya pada saat situasi saya sudah pernah mengalaminya sebelum menonton film ini. Hanya saya yakin jika seandainya saya menonton Chungking Express saat usia sama dengan ketika menonton My Blueberry Nights, mungkin saya tidak akan terlalu menikmati menonton disaat usia sekarang yang sudah kenyang mengenyam asam,manis, asin dan pahitnya mengenai perasaan (aseeeeeek). Dan yang pasti setelah Chungking Express ini saya akan menonton semua film-film Wor Kang-wai termasuk menonton ulang My Blueberry Nights.


Sebagai penutup untuk kamu-kamu yang masih berduka dan belum bisa keluar dari situasi patah hati, selamat menikmati dan rayakan dan sambil teriak nyanyikan lirik akhir lagu Dreams yang dinyanyikan oleh The Cranberries yang menjadi soundtracknya...

La.....lalalalallaa......laaaaaaaa....lalalalalalla........laaaaaaaaaaaaaaaa.









Subscribe to this Blog via Email :