Tuesday, July 25, 2017

BEGADANG FILMMAKING COMPETITION, KOMPETISI UNIK PRODUKSI FILM PENDEK




Begadang Filmmaking Competition adalah sebuah kompetisi pembuatan film pendek dengan skala Nasional yang diadakan Minikino. Kompetisi ini akan berlangsung pada 2 - 3 September 2017 yang merupakan rangkaian kegiatan yang mencapai puncak acaranya pada festival film pendek Internasional Minikino Film Week yang ke-3 di Bali pada 7 - 14 Oktober 2017.



Begadang Filmmaking Competition adalah kompetisi yang unik dan jarang terjadi di Indonesia. Keunikannya terletak pada persyaratannya, dimana para peserta akan membuat film berdurasi maksimal 5 menit dan membuatnya dalam waktu hanya 34 jam, terhitung mulai 2 September 2017 pukul 8:00 WITA sampai dengan 3 September pukul 18:00 WITA. Selama 34 jam para peserta akan melakukan proses pembuatan film pendek dari awal, mulai membangun cerita, merancang adegan, shooting dan merekam suara, kemudian segera melakukan proses editing.



Untuk menjamin bahwa film pendek tersebut memang benar-benar dibuat dalam jangka waktu yang ditentukan, elemen-elemen audio visual yang wajib tampil dalam film, dirahasiakan dan baru dibuka tepat pada tanggal 2 September 2017 pukul 8:00 WITA, sebagai penanda dimulainya Begadang Filmmaking Competition serentak di seluruh Indonesia.



Pendaftaran telah dibuka mulai tanggal 20 Juli 2017 dan ditutup pada tanggal 25 Agustus 2017. Jumlah peserta Begadang Filmmaking Competition tidak dibatasi, namun hanya boleh diikuti sutradara yang memegang KTP atau passpor Indonesia. Bagi sutradara Indonesia yang masih dibawah umur, harus memiliki pendamping dewasa selama mengikuti jalannya kompetisi. Lebih lanjut, produksi juga harus dilakukan di wilayah Indonesia. Detail persyaratannya dapat dilihat di minikino.org/begadang.



6 finalis terpilih akan diundang ke Bali pada saat festival film pendek internasional 3rd Minikino Film Week berlangsung, yaitu 7 – 14 Oktober 2017 dengan menerima penggantian biaya sebesar 1 Juta rupiah dan akomodasi gratis selama 2 malam untuk hadir dalam malam penganugerahan Internasional pada tanggal 14 Oktober 2017. Dalam acara ini akan diumumkan film pendek terbaik pertama, kedua dan ketiga, memperebutkan hadiah uang tunai sebesar 10 juta rupiah.



Minikino Film Week pada tahun ketiga menghadirkan kompetisi unik ini dengan harapan optimis, untuk menghubungkan lebih banyak lagi para pembuat film pendek di Indonesia, serta menawarkan sebuah pengalaman produksi yang dapat dikenang. Begadang Filmmaking Competition 2017 menjadi catatan

Monday, July 24, 2017

ULASAN: DUNKIRK




Sudah menjadi rahasia umum, sejak Christopher Nolan dikenal dengan Following, lalu menyusul ke 'Memento' dan lalu berlanjut ke trilogy The Dark Knight. Sejak saat itu juga, untuk kita penggemar film selalu menunggu dengan antusias dalam setiap film terbarunya. Selalu merasa ada hal baru yang kita dapatkan dalam setiap menonton film-filmnya. Following hingga Intertellar adalah bukti sahih-nya. Lalu bagaimanakah dengan Dunkirk ?. Film pertama Nolan yang diangkat dari kisah nyata.


Di masa Perang Dunia II, ratusan ribu tentara Sekutu dari Inggris, Prancis, Belgia dan Kanada terperangkap di pesisir pantai kota Dunkirk, Perancis. Tentara Nazi yang menguasai kota Dunkirk segera mengepung kota, dan melakukan pembantaian secara besar-besaran. Selama delapan hari, tentara sekutu Inggris harus berjuang untuk bertahan hidup dan berharap untuk sebuah evakuasi penyelamatan. Lalu dari tempat lainnya 3 pilot angakatan udara mencoba membantu evakuasi para tentara dapat berjalan lancar. Dan dari seberang laut lainnya. Para warga sipil dari Inggris merasa terpanggil untuk menjemput para tentara yang terkepung di Dunkirk menggunakan kapal laut sipil ke medan perang.


Dunkirk is intriguing. Perlu waktu untuk mencerna maksud Nolan memproduksi film ini. Karena sudah kidung mancintai Homeland (TV Series) yg mencekokiku bahwa sebuah film dg latar perang pastilah horor dlm artian tiap sisi adalah pihak yang kalah. Tapi Dunkirk tidak demikin. Nolan hanya memberi gambaran peristiwa evakuasi, bahkan pihak antagonis (Nazi/Jerman) tidak diperlihatkan. Nolan bermain di ranah medium: lumayan thrilling namun dgn drama yg sedikit.


Ada 3 adegan yg menyadarkan saya maksud Nolan memproduksi film ini: ketika pesawat karakter Tom Hardy yg berada di dekat pantai setelah memberikan perlawanan terakhirnya, ia diberi tepuk tangan; setelah kapal Moonstone menepi, karakter Jack Lowden memberikan tatapan dan senyum kecil kepada karakter Mark Rylance; ketika karakter Harry Styles & Fionn Whitehead menerima selimut dari pria buta yang mengatakan "well done"... Dr adegan2 itu, Nolan sedang mengajak kita untuk berterima kasih pada mereka yang dalam peperangan ini tak kita kenal namanya, tak kita ketahui jasanya, pada mereka yg tak sadar melakukan entah itu hal kecil atau hal besar telah menolong dan menyelamatkan orang lain. Itulah mungkin alasannya sebagian besar karakter di film ini tak kita ketahui namanya.


Diantara carut marutnya dunia, Nolan dengan kerendahan hatinya dan kelembutannya mengingatkan kita untuk mengucapkan terima kasih. Dan betapa kata itu sangat berarti untuk orang lain. Itulah mungkin alasannya pihak antagonis tak diperlihatkan dalam Dunkirk, supaya kita terfokus untuk mengingat jasa orang lain, tanpa menunjuk kesalahan orang.

(By Annisa Anugra)

Monday, July 17, 2017

ULASAN: WAR FOR THE PLANET OF THE APES




Layaknya seperti sebuah tradisi, ketika suatu film mendapatkan sequel karena respon positif di film pertamanya dan lalu diikuti film kedua yang sama bagusnya dan berlanjut film ketiga yang biasanya akan menjadi titik terlemah dari sebuah trilogi. Lalu bagaimana seandainya ada film yang justru dapat jauh lebih baik lagi di film ketiganya ?. Tentu itu bukan sesuatu yang mudah. Film sekelas Godfather dan The Dark Knight sekalipun juga sempat tersandung film ketiganya. Tidak banyak yang bisa melampaui prestasi dua filmnya, dari sekian tidak banyak itu ada 'War For The Planet Of Apes' yang bisa masuk dalam kategoti yang sedikit ini.



Pada seri ketiga film Planet of the Apes, Perseteruan kaum kera dengan kelompok manusia semakin memanas, dampak dari apa yang telah terjadi pada akhir film keduanya. Caesar (Andy Serkis) dan kelompoknya terpaksa harus menjalani konflik mematikan dengan sekelompok manusia yang dipimpin oleh Kolonel (Woody Harrelson) yang tidak menerima kata damai dengan kaum kera.



Setelah mengalami kekalahan telak yang mengakibatkan Caesar kehilangan anak, istri dan banyak anggota kelompoknya, Caesar sangat marah dan bersumpah untuk membalas dendam atas kejadian tersebut. Bayang-bayang dirinya akan seperti Koba yang pernah dia bunuh karena penuh dendam yang paling dia hindari perlahan mulai menggorogoti Caesar. Berhasil Caesar membalaskan dendamnya ? atau lebih memilih tidak menjadi seperti Koba ?.  Kedua jawaban itu ada dalam film ketiga ini.


Masih disutradarai oleh Matt Reeves yang menyutradarai film keduanya. Matt Reeves seakan memberi kesempurnaan pada film ketiga ini. Perang bathin dan dampak psikologis yang dihadapi Caesar adalah hal yang paling menarik dalam seri ketiga ini. Tidak hanya itu, Matt Reeves sedikit memberikan sedikit penyegaran, di dua film awal yang sangat menjurus serius yang kering akan komedi, Matt Reeves dengan cerdiknya mengisi kekosongan itu dengan porsi yang sangat pas lewat karakter Bad Ape yang diperankan Steve Zahn yang cukup menarik perhatian sepanjang kemunculannya.


War For The Planet Of The Apes adalah sebuah puzzle penyempurna yang membuatmu tidak pernah menonton film originalnya akan sangat penasaran untuk menonton hasil dari efek ending film ini. 

ULASAN: THE BLEEDER






Chuck Wepner, seorang petinju dari kelas berat yang memiliki kesempatan membesarkan namanya jika berhasil mengalahkan Muhammad Ali. Ia dijuluki The Bleeder, diambil dari ketahanannya dalam menerima pukulan, meski telah dihantam berkali-kali Chuck masih tetap kembali berdiri.



Ini bukanlah film bertema olahraga tinju, layaknya Creed, Bleed for This, atau Southpow, The Bleeder lebih mengedepankan narasi karakternya. Meski scene pertarungan tinju hanya berjalan satu bagian saja, bukan berarti The Bleeder tidak menyenangkan untuk ditonton. Adalah Liev Schreiber yang dengan apiknya memerankan sang tokoh utama.



Ini bukan cerita pahlawan yang kalian inginkan, ini cerita mengenai seorang loser. Ah, sulit mengatakannya sebagai seorang loser, namun entah yang dia lakukan adalah self-destructive. Chuck bukalah petinju terbaik pada jamannya, juga setelah ketidakberuntungannya yang mengalahkannya dari perebutan gelar akbar dan boomingnya film “Rocky”, Chuck secara konsisten memilih pilihan yang buruk. He lost the ground. He should be a big man with big name, but people will always remember his fiction-self (either the character of Rocky was based on him is true or not). Ingat Chuck di awal film mengatakan bahwa “You don't know me. Well, you know me, but you don't know you know me."


(By Annisa Anugra)

ULASAN: BAYWATCH




Sebagaimana ketika saya baru mengetahui akan dibuat remake seri Baywatch dengan seluruh pemeran barunya, dorongan skeptis yang seketika muncul itu tidak bisa terbendungi. Apakah penonton zaman sekarang benar-benar menginginkan pembuatan ulang kisah para penjaga pantai dengan kuit tan dan lekukan tubuh berbikini berlali-lari dalam slow-motion? Premis yang populer pada penghujung abad 20 lalu ini tidak begitu menjanjikan lagi untuk dijual sekarang, terlebih masih begitu melekat bagi semua orang gambaran legendaris seorang Pamela Anderson, David Hasselhoff dan seluruh kolega dalam seri originalnya berlari dalam pakaian renang merah sambil tersenyum lebar di sepanjang pantai.



Terkecuali apabila film ini memiliki sesuatu yang lebih menyegarkan untuk ditawarkan, mungkin kesempatan itu masih ada. Kita bisa melihat contoh pada The Shallows yang cukup sukses membawa ketegangan yang mengingatkan kita dengan Jaws dahulu. Untuk Baywatch, saya pikir mereka bisa melakukan komedi berbalut investigasi dengan pendekatan lucu seperti yang sukses ditampilkan dalam The Heat dan 21 Jump Street, namun nampaknya film ini bermain terlalu aman bahkan untuk sebuah action comedy sehingga kita tidak perlu menyaksikannya dengan terlalu seirus.Cukup duduk santai, kesampingkan ekspektasi dan rupanya film ini masih bisa untuk dinikmati.



Disutradarai oleh Seth Gordon (Horrible Bosses, Identity Thief), film menceritakan sepak terjang para penjaga pantai yang terdiri dari team yang sangat berdedikasi dengan pekerjaannya bahkan harus melakukan pekerjaan di luar tanggung jawabnya sendiri agar dapat bertahan. Dwayne 'The Rock' Johnson sebagai Mitch Buchannon sang ketua team yang baik hati, sangat passionate dengan pekerjaannya dan begitu dihormati oleh para kolega, harus menerima Matt Brody (Zac Efron) atlit renang peraih dua medali emas yang kere dan egois dan tidak kooperatif sebagai anggota baru dalam team penjaga pantai. Seiring dengan berbagai insiden selama training yang membuat dua pemeran utama ini dapat saling belajar dan menerima karalter masing-masing untuk kerjasama, cerita film kemudian menggiring pada investigasi tindak kriminal yang diduga terjadi.



The Rock sebagai bintang utama, juga masih bermain aman dengan memerankan karakter yang notabenenya seorang kharismatik dan baik hati. Karakter pendukung lainnya seperti Alexandra Daddario, kelli Rohrbach, cukup membantu membuat pemandangan visual jadi makin semarak. Zac Efron agaknya juga tampil santai dan rupanya karakter yang ia bawakan memiliki perkembangan yang lebih baik ketimbang yang lain. Priyanka Chopra sebagai antagonis utama tidak bisa menghidupkan karakternya menjadi lebih mengancam. Ia tampil eksotis, namun sulit melihatnya sebagai seorang yang berbahaya.



Dengan dialog yang dangkal, aksi yang santai, dan berbagai lelucon ringan yang cukup bikin menyengir, agaknya film ini masih bisa menghibur - hanya jika kita tidak terlalu menanggapi semuanya dengan serius. Tipikal hiburan yang akan terlupakan tidak lama setelah keluar bioskop. Film ini juga masih cukup asik untuk cuci mata, sebagaimana yang paling sering ditujukan oleh serinya yang terdaulu.

(By Arief Noor Iffandy)

Monday, July 10, 2017

ULASAN: DESPICABLE ME 3




Sukses dengan dua film sebelumnya dan belum termasuk dengan spin-off Minions yang juga sukses dalam segi pemasukan box office, sudah menjadi alasan cukup kuat kenapa Despicable Me mempunya film ketiganya. Daya tarik yang cukup kuat Gru, minions dan 3 putrinya masih akan membawa banyak penonton dari kalangan umur datang ke bioskop.


Kembalinya minions dan Gru dalam film ketiga ini masih menggunakan formula yang sama, yakni kelucuan minios dan lagu-lagu populer. Tapi kali ini ada kembaran Gru, yakni Dru. Dru membuat Gru kesal sebab terlihat lebih sukses darinya.



Tapi akhirnya mereka berdua bergabung untuk mengalahkan musuh baru bernama Balthazar Bratt, yang dulunya adalah mantan aktor cilik tahun 1980an. Berbagai kelucuan yang ada merupakan pengulangan dua film sebelumnya, anak-anak akan tertawa melihat tingkah polah Minions tapi orang dewasa akan bosan dengan Gru dan Dru.



Jika ditilik lebih lanjut, beberapa lelucon Dru dan Gru menjurus "dewasa", tapi tenang saja, toh anak-anak tak paham lelucon subtil tersebut dalam bahasa Inggris. Dengan durasi 90 menit, anak-anak tidak akan merasa bosan sebab kelakuan minions cukup menghibur, apalagi ketika mereka kabur dari penjara dengan perkakas seadanya.



Seperti sebelumnya Pharell Williams juga ikut menyumbangkan lagu, kali ini berjudul Yellow Lines, apakah ini akan sepopuler Happy? Kita tunggu.

Tuesday, July 4, 2017

NOBAR GAME OF THRONES SEASON 7 DIMULAI !!!!






Penantian panjang akhirnya mencapai tujuannya. Setelah menunggu setahun lebih, waktunya untuk pelampiasan menonton musim ketujuh serial termahal yang pernah ada ini, yang tak lain dan tak bukan yaitu 'Game Of Thrones'. Dan tahun ini Komunitas Gila Film akan kembali mengadakan nonton bareng serial 'Game Of Thrones' yang sudah dimulai sejak tahun lalu. Bekerja sama dengan Game Of Thrones Indonesia, kami mengundang kembali teman-teman Gila Film pecinta serial yang satu ini untuk bisa bergabung dengan teman-teman Gila Film lainnya. Kalau sempat ikutan nobarnya tahun lalu, pasti tahu bagaimana keseruan nonton bareng ini, karena beneran bakalan heboh. So, langsung aja ya. Nobar ini akan diadakan selama tujuh minggu berturut-turut dimulai dari tanggal 17 Juli 2017. Detail langsung cek poster yang ada dibawah ini ya.




Bagaimana ? sudah jelaskan ? kalau masih kurang jelas langsung aja kontak mimin di nomor yang ada di poster supaya makin jelas informasinya. Jadi sampai ketemu di acara nobar nanti. Event nonton bareng terlaksana juga di support oleh Indo Harry Potter, Fantasious dan What's Up Cafe.

Monday, July 3, 2017

NOBAR FILOSOFI KOPI 2 DI 7 KOTA DENGAN KOMUNITAS GILA FILM




Halo teman-teman Gila Film. Lebaran udah selesai, waktunya aktifitas nonton bareng jalan lagi. Kali ini kita akan mengadakan nonton bareng lagi nih. Dan untuk kali ini kita akan mengadakan di 6 kota. Kota-kotanya ada Jakarta, Padang, Jatinangor, Solo, Karawang, Makassar dan Pontianak. Merasa ada di kota-kota yang disebutkan ?. Jadi jangan pikir dua kali lagi untuk ikutan nobar ini.



Untuk nobar kali ini ada yang spesial nih, tidak cuman hanya nonton, tapi juga menyediakan paket-paket tiket dengan merchandise official Filosofi Kopi loh. Pilihan paketnya ada tiket dengan pin, tiket dengan kopi tiwus, tiket dengan tumbler, dan tiket dengan t shirt. Untuk pilihan harganya sebagai berikut:

~ Paket 1 = Pin (8rb) + HTM kota masing-masing
~ Paket 2 = Tumbler (50rb)+ HTM kota masing-masing
~ Paket 3 = Kopi Bean Tiwus (50rb) + HTM kota masing-masing
~ Paket 4 = T shirt (130rb) + HTM kota masing-masing
~ Paket 5 = T shirt & Kopi Tiwus (155rb) + HTM kota masing-masing

Bagaimana ? menarik bukan ? jarang-jarang bikin nobar film Indonesia disertai dengan merchndise-merchandise official filmnya. Untuk lebih detail bisa cek poster nobar di kota masing-masing yang ada di bawah ini dan silahkan kontak masing-masing CP yang ada di poster untuk tanya-tanya lebih lanjut.







SOLO


JATINANGOR
PONTIANAK
PADANG

JAKARTA