Wednesday, November 29, 2017

ULASAN: MURDER ON THE ORIENT EXPRESS




Murder in Orient Express adalah film drama misteri yang merupakan adaptasi novel klasik berjudul sama karya Agatha Christie. Film disutradarai oleh Kenneth Branagh dengan penulis naskan Michael Green dan selain dibintang-utamai oleh sang sutradara sendiri, film juga dibanjiri sederet pemain kenamaan Hollywood seperti Johnny Depp, Penelope Cruz, William Dafoe, Judi Dench, hingga Michelle Pfeiffer. Ini bukan kali pertamanya novel kenamaan ini diadaptasikan karena sebelumnya juga udah ada beberapa film termasuk versi tahun 1974 yang mendapat sambutan positif dari para kritikus. Tahun ini, dengan produksi yang lebih besar dan studio besar Hollywood pula, kisah detektif yang sudah memiliki fanbase cukup kuat ini kembali diangkat dengan harapan dapat membuka peluang franchise baru. Proyek baru yang cukup ambisius. Terakhir kita menemukan yang seperti ini adalah reboot The Mummy beberapa bulan lalu dalam Dark Universe yang ternyata hasilnya terbilang mengecewakan terlebih sebagai permulaan mega-project. Bagaimana dengan Murder in Orient Express? Rupanya, ini bukan film yang cukup solid, baik itu sebagai permulaan sekaligus sebagai pengenalam untuk penonton umum, tapi film ini tidak sampai kebablasan dengan ambisi yang berlebihan,



Saya termasuk penonton yang tidak begitu familiar dengan materi filmnya (seri novel yang diadaptasikan). Karakter utama Hercule Poirot (diperankan Kenneth Branagh) tidak diberikan perkenalan yang cukup ataupun kisah background yang banyak. Kita hanya diberitahukan bahwa ia adalah detektif terhebat di dunia, lengkap dengan pemapilan kumisnya yang lucu dan perawakan obsesif-kompulsif. Karakter yang menarik tapi masih terkesan asing bagi penonton yang tidak mengenal banyak soal jdetektif ini. Menempati setting waktu pada tahun 30an dan bermulai di kota Jerusalem, kemudian Turki, Poirot nampaknya selalu ditiban destinasi perjalanan yang tidak terduga. Kali ini ia harus berangkat menuju London untuk menangani sebuah kasus, dengan menempuh perjalanan panjang menggunakan kereta Orient Ekspress. Di tengah perjalanan panjang inilah, sebuah pembunuhan terjadi dalam kereta, iapun dihadapi kasus tidak terduga yang terpaksa harus dipecahkan.



Alur film ini secara keseluruhan cukup menarik dan menghibur untuk disimak, Dengan beberapa selingan lelucon ringan yang kebanyakan muncul dari pembawaan karakter hercule Poirot oleh Kenneth Branagh dengan eksentrik. Penggambaran bagaimana isu rasialisme pada zamannya, juga menjadi tambahan yang memperkaya detil pada cerita yang terasa padat.Bagian teknis seperti set dekorasi hingga kostum jaman 30an juga sudah sangat baik, tampak memanjakan mata sekali. Kenneth Branagh dengan 'wajah lucu' nya, tampil selalu menarik, walo dikelilingi banyak aktor dan aktris kenamaan lain, ia tetap yang menjadi pusat perhatian di sepanjang film, bukan yang lain, well i guess that's what a lead actor supposed to do in their own film, right? Sederet karakter lain yang menjadi tersangka yang harus diselidiki juga cukup menambah kenikmatan menonton karena begitu banyak talent besar yang mengisi posisi peran-peran kecil ini. Namun apabila para pemeran pendukung ini diganti oleh pemeran lain pun, saya rasa tidak akan terlalu berpengaruh banyak.



Pada pertengahan cerita film mulai terasa datar -- malah cenderung membuat jenuh, Film memberikan durasi yang banyak untuk pembahasan berbagai petunjuk secara rinci dalam pengungkapan pelaku pembunuhan. Kita disuguhkan segudang motivasi, alibi, dan petunjuk barang bukti, semua dijabarkan dengan padat walau sudah diluangkan waktu yang lama untuk segmen ini. Namun untungnya segera saja semua kerumitan teka-teki tersebut dirangkum dengan indah dan menyentuh pada saat kisah mendekati akhir. Film ini, terutama endingnya, meninggalkan pesan yang membuat ternenyuh dan berpikir cukup lama setelah penayangannya berakhir, bahwa terdapat kebaikan dan kburukan di setiap insan manusia. Sebuah ending yang though-provoking, biasanya dapat memberi impresi yang paling kuat tentang bagaimana pada akhirnya penonton menilai film tersebut. Bagi yang tidak membaca/mengenal novelnya, ini akan menjadi sebuah nilai plus yang besar, sebuah konklusi yang tidak terduga - dalam artian yang baik.

ULASAN: DADDY'S HOME




Tidak butuh waktu lama, kurang dari dua tahun Will Ferrel dan Mark Wahlberg mempunyai dua film. Didasari ingin mengikuti kesuksesan film pertama Daddy's Home yang meraih 242 juta dollar Amerika, Daddy's Home 2 hadir dengan keseluruhan pemain-pemain utama film pertama dengan ditambah Mel Gibson, John Litgow serta John Cena. Sean Anders kembali dipercaya untuk menyutradara film sequel ini.



Setahun setelah ending film pertama, Brad (Will Ferrel) dan Dusty (Mark Wahlberg) sudah bisa hidup berdampingan sebagai ayah tiri dan ayah kandung dalam mendidik anak-anaknya. Bahkan mereka berdua sudah menjadi 2 orang sahabat. Kehidupan damai itu akan berlanjut pada hari natal yang mereka ingin rayakan secara bersamaan untuk pertama kalinya. Tetapi semua berubah ketika ayah Dusty yang sangat jarang dijumpainya Kurt (Mel Gibson) juga akan merayakan natal bersama. Semua itu makin diperlengkap dengan kehadiran ayah Brad (John Litglow).



Jika di film pertama konflik utama ada pada Brad dan Dusty dalam memperebutkan perhatian anak-anaknya, di film kedua konflik akan lebih meluas pada hubungan Dusty dan sang ayah yang punya sejarah buruk. Ditengah-tengah itu, seakan kebalikannya dari hubungan Dusty dan ayah-nya yang buruk, Brad dan ayah-nya  memiliki hubungan yang sangat baik yang bahkan sangat berlebihan dalam meluapkan kasih sayang mereka.



Joke-joke dewasa seperti film pertama akan ditemui kembali di film kedua ini. Jadi meskipun film bertema keluarga, disarankan jangan menontonnya dengan anak-anak. Untuk yang sudah terbiasa dengan film-film komedi slapsitik Will Ferrel tidak akan sulit untuk bisa tertawa dalam setiap adegan komedinya. Melihat Mark Wahlberg dan Mel Gibson beradu akting dalam film komedi adalah ide yang sangat menarik.

Friday, November 17, 2017

ULASAN: JUSTICE LEAGUE




Hadir dengan segala keraguan dan tidak percaya diri dari rumah produksinya sendiri, akhirnya Justice League mencapai akhirnya untuk ditonton khalayak ramai. Jika mengikuti update berita produksi Justice League, pasti tahu bagaimana banyaknya masalah yang dihadapi oleh film live action pertama perkumpulan superhero-superhero unggulan DC Comics ini. Mulai dari tidak puasnya Warner Brothers dengan hasil awal sehingga terjadi pengembilan adegan ulang, musibah yang dialami oleh Zack Snyder setelah putrinya bunuh diri yang membuatnya mundur ditengah-tengah proses editing, lalu masuknya Josh Whedon (Avengers, Age Of  Ultron) menggantikan posisi Zack Snyder menambah kekhawatiran fans yang merasa filmnya akan terasa Marvel dari pada DC. Durasi awal yang tadinya hampir 3 jam dipotong menjadi 2 jam saja. Itu belum termasuk dengan hasil buruk Batman vs Superman yang masih membayang-bayangi Justice League. Lalu bagaimana hasilnya ?



Plot cerita Justice League melanjutkan apa yang sudah terjadi pada ending BVS. Didorong oleh rasa bersalahnya yang ingin membunuh Superman yang ternyata salah setelah pengorbanan mulia Superman, Batman(Ben Affleck) mengumpulkan bantuan sekutu barunya Wonder Woman (Gal Gadot), Aquaman (Jason Momoa), Cyborg (Ray Fisher) dan The Flash (Ezra Miller) untuk menghadapi musuh yang jauh lebih berbahaya. Mereka bersatu menghadapi ancaman baru yang telah bangkit. Musuh dengan kekuatan yang jauh lebih besar yang belum pernah mereka hadapi, yang membutuhkan seorang Superman untuk bisa menghadapinya yang dimana sudah tewas.



Wajar jika kamu salah satu yang kecewa dengan BVS akan merasa was-was dengan hasil Justice League dengan segudang masalahnya selama produksi. Jadi apakah harus merendahkan ekspetasi sebelum menontonnya ? Saya rasa tidak perlu, setidaknya itu berhasil buat saya. Film ini sangat memuaskan yang mampu menghilangkan kekecewaan saya pada BVS.



Mengenai durasi yang dipotong drastis yang sempat membuat khawatir yang akan berakibat tidak kuatnya pengenalan karakter yang pertama kali muncul seperti The Flash, Aquaman dan Cyborg sama sekali tidak terbukti. Durasinya yang dua jam sangat terasa padat. Fondasi pengenalan tiga karakter baru sudah cukup bisa dibangun dengan baik lewat adegan demi adegan.



Beberapa hal minus memang masih bisa ditemui, terutama spesial a pada efek yang masih terasa kasar, terutama disetiap adegan-adegan Steppenwolf muncul. Bisa jadi ini imbas dari reshoot yang dilakukan Josh Whedon. Sementara untuk kebalikannya, nilai plus ada spesial efek pada Atlantis yang sayang tidak terlalu banyak diperlihatkan.



Masuknya nama Josh Whedon sangat terasa pada setiap joke atau adegan komedi yang ada dalam film ini, tetapi bukan berarti menghilangkan unsur Zack Snyder. Justice League adalah hasil kombinasi yang unik dari dua sutradra ini. Secara keseluruhan buat saya Justice League ada versi live action dari animasi/komik Justice League New 52  yang sangat menyenangkan dibaca ataupun ditonton.

Wednesday, November 15, 2017

LAUNCHING STUDIO IMAX KE-6 DI INDONESIA





Cinema XXI, jaringan bioskop terbesar di Indonesia pada tanggal 14 November 2017 resmi membuka studio terbaru IMAX ke-6 di Indonesia yang berlokasi di The Breeze BSD City. Dan gilafilm.id sangat beruntung bisa menjadi salah satu media yang diundang untuk menghadiri peresmian studio IMAX terbaru ini. Terlebih film yang menjadi peresmian studio ini adalah film Justice League.


Presentasi yang dipandu oleh Catherine Keng selaku Corporate Secretary Cinema XXI, banyak hal yang dijabarkan dalam program XXI kedepannya. Salah satu hal paling menarik dari presentasi itu adalah formasi film-film yang akan tayang dalam format IMAX untuk tahun 2018.


IMAX baru di The Breeze BSD City menawarkan penonton bioskop dengan pengalaman sinematik yang benar-benar mendalam, yang memungkinkan mereka menikmati film-film blockbuster terbesar yang belum pernah ada sebelumnya. Sistem proyeksi mutakhir IMAX, yang memberikan gambar sejernih kristal, ditambah dengan geometri teater IMAX yang disesuaikan dan sistem suara digital yang kuat, menciptakan lingkungan menonton yang unik dan membuat penonton seolah-olah berada di film.



Tentang The IMAX Experience®


Di IMAX, Anda akan merasakan pengalaman yang benar-benar berbeda. Segala sesuatu mulai dari film itu sendiri hingga teknologi dan desain teater dikembangkan dan disesuaikan untuk membuat Anda percaya bahwa Anda adalah bagian dari film tersebut.



IMAX bekerja secara langsung dengan pembuat film untuk menyempurnakan film menggunakan proses Digital Re-Mastering®, yang memberikan kualitas gambar dan suara superior. Melalui sistem proyeksi IMAX, gambar yang dihasilkan sangat hidup dan sejernih Kristal, Anda akan lupa Anda berada di sebuah teater.



IMAX menarik sensasi Anda. Anda tidak hanya mendengar sound system yang kuat; Anda akan merasakannya di sekitar Anda. Secara visual, tidak ada batasan. Desain teater kustom IMAX menciptakan gambar yang lebih tinggi, lebih lebar dan lebih dekat - mengisi tampilan periferal Anda.



Tidak hanya satu hal yang membuat IMAX Experience, tetapi kombinasi dari semua elemen tersebut. Itulah perbedaan menonton film dan merasakan ada di dalam film tersebut.

KISAH HEMA DAN STARLA BERLANJUT KE LAYAR LEBAR





Ya, kisah asamara Hema (Jefri Nichol) dan Starla (Caitlin Helderman) yang sebelumnya hanya bisa disasksikan lewat mini series lewat channel youtbe Last Child yang dibuat setelah lagu Surat Cinta Untu Starla milik Virgoun menjadi fenomenal.


Surat Cinta Untuk Starla The Movie mengambil latar belakang karakter yang sama seperti mini seriesnya. Ditangani Rudi Aryanto, selaku sutradara film ini, karakter pemain-pemainnya akan digali lebih dalam lagi, hal ini bisa terlihat lewat trailernya yang baru saja diposting Screenplay Productions yang berdurasi 2 menit 14 detik. Plot cerita yang akan lebih luas dari mini seriesnya, SCUS akan berfokus pada kisah cinta dan keluarga.


Selain Jefri Nichol  dan Caitlin Helderman, SCUS juga diramaikan oleh aktor dan aktris yang sudah sangat familiar dengan penonton film Indonesia, seperti Salsabila Ardiani, Ricky Cuaca, Ramzi, Mathias Muchus, Dian Nitami, Rianti Catwright, Rizky Hanggono, Amanda Manopo dan Meriam Bellina.



Virghoun yang mempopulerkan lagu Surat Cinta Untuk Starla juga ikut turut ambil bagian di film ini, seperti terlihat dalam trailer. Lokasi shooting film dilakukan di sejumlah daerah diantaranya Jakarta, Bandung dan Purwakarta. Surat Cinta Untuk Starla The Movie akan mulai tayang pada 28 Desember 2017. Tepat saat memasuki liburan tahun baru.

Wednesday, November 8, 2017

ULASAN: JIGSAW





Jika dihitung dengan dengan film kali ini, maka sudah ada 8 film dari franchise Saw yang dirilis sejak film pertamanya menggebrak genre misteri/slasher pada 2003 lalu. Dengan bermodal biaya produksi yang relatif kecil, film dapat meraqup keuntungan berlipat. Tidak dipungkiri jika pihak studio terus memproduksi film ini meskipun banyak kritikus yang mengkritik film secara kualitas yang terus saja mengecewakan di setiap sekuelnya. Namun siapa yang peduli soal rating ketika film tetap meraup keuntungan yang banyak? FIlm terbaru yang kali ini tidak menggunakan embel-embel nomor urut sekuel pada judulnya ini pun, nampaknya juga dibuat dengan target yang sama dengan film-film sebelumnya,



Jigsaw mengambil setting sepuluh tahun sejak kematian John Kramer yang menjadi dalang di balik pembunuh berantai yang dikenal dengan julukan Jigsaw. Dibayang-bayangi sosok yang seolah kembali dari masa lalu, petugas dalam kepolisian kembali menelusuri kasus penculikan yang menahan para korbannya dalam permainan maut yang sadis. Terdapat lima orang korban yang terlibat dalam "permainan" Jigsaw kali ini. Sementara satu-persatu para korban gagal (tewas) dalam berbagai permainan jebakan maut, investigasi yang dilakukan oleh kepolisian pun perlahan mulai menemukan titik terang soal siapa dalang dibalik semuanya, yang mana ini akan memberikan sebuah kejutan (terutama bagi fans yang setia mengikuti sejak film pertamanya)



Cerita yang disajikan dalam film kali ini berusaha begitu keras untuk kembali pada track semula yang penuh intrik dan twist. Film diawali dengan menyajikan penonton pada permainan maut yang baru saja dimulai sebagai sekuens pembuka. Ini awal yang cukup mengesankan sebagai pengenalan yang intens. Namun ketika cerita mulai mengalir film akan dirasakan seperti kesulitan membangun struktur plot sekaligus pengenalan karakternya. Ada banyak korban yang terlibat permainan dan demukian pula dengan para investigator, namun tidak satupun yang memberikan kesan sehingga penonton tidak terdorong untuk bersimpati ketika para korban ini dimutilasi. Jumlah karakter yang banyak ini juga yang membuat cerita menjadi terlalu banyak cabang dan tidak fokus. Apabila diingat kembali, film Saw (2003) dahulu menampilkan karakter yang relatif sedikit, sehingga ketegangan yang terbangun menjadi lebih personal,lebih traumatik dan memberikan dampak yang kuat terhadap penonton. Efek seperti inilah yang diharapkan dapat dipertahankan namun kita tidak menemukannya di sini.



FIlm ini disutrarai oleh duo bersaudara Michael dan Peter Spierig, dan masih didistributori oleh Lionsgate Films. Budget film menelan biaya "hanya" 10 juta USD namun sampai dengan sekarang ini film sudah meraup lebih dari 5 kali lipat biaya diproduski. Jika menilai dari performa box office ini sudah cukup jelas bagaimana masa depan franchise ini kedepannya nanti. Masih cukup banyak fans yang setia dengan sajian kisah misteri berdarah Saw. Sebagai film slasher menyeramkan yang dirilis pada musim Halloween, Jigsaw memang memiliki daya tarik yang (masih) kuat, terlebih dengan segmen berbagai jebakan mautnya yang "kreatif" sebagai jualan. Bagi penonton umum yang dihadirkan sebuah comeback sejak film sebelumnya yang dirilis 7 tahun lalu, Jigsaw merupakan tontonan yang hanya membuat ngilu selagi dibuat kebingungan dengan jalan ceritanya.

(By Arieffandy)

Wednesday, November 1, 2017

LAUNCHING NOVEL DAN TRAILER TERBARU 'MAU JADI APA ?'






Bagaimana rasanya bersama-sama kembali ke suatu masa? Masa di mana kita semua berbagi satu dilema masa muda. Saat orang tua dan mereka yang dekat di hati tak henti mencecar fondasi masa depan seperti apa yang sedang kita bangun, dengan satu pertanyaan: Mau Jadi Apa? Dokter, insinyur, arsitek, pengusaha? Dan sepertinya tidak akan terlintas di pikiran penanya untuk melempar tebakan jawaban semacam komika.



Mau Jadi Apa? mengangkat dilema proses kehidupan yang dialami sosok Soleh Solihun dalam format buku dan juga layar perak. Kombo manis yang bisa kita nikmati jelang akhir tahun sambil mengenang kemiripan nasib kita saat duduk di bangku kuliah dulu. Siapa sih Soleh Solihun ini? Karena tak kenal maka tak sayang, mari kita sedikit berkenalan. Penulis dengan akun media sosial @solehsolihun, merupakan seorang entertainer, komedian, aktor, dan mantan wartawan musik. Ceplosannya apa adanya, namun selalu terasa cerdas berbobot, meski tidak selalu jelas faedahnya bagi masyarakat.



Buku “Mau Jadi Apa?” resmi diluncurkan hari ini oleh penerbit Bentang Pusaka berisikan memoar masa muda Soleh berlatar kisah-kisah seru yang dialaminya sebagai mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran di Bandung, semuanya di akhir tahun 1990an-2000an.

Tepat hari ini juga, resmi diumumkan versi layar perak Mau Jadi Apa? yang rencananya akan bisa kita nikmati di bioskop terdekat akhir November mendatang. Film komedi penuh tawa ini kerjasama produksi Starvision dan Millennia, dengan sutradara Monty Tiwa dan Soleh sendiri sekaligus pemain utama demi menampung hajat narsisnya. “Proses kehidupan ketika ditanya ‘Mau Jadi Apa?’ pasti dilalui semua orang. Kombinasi status jomblo tak berkesudahan, tekanan orang tua dan masyarakat membuat setiap diri kita bermanuver kesana kemari untuk beneran mencari jati diri. Namun perjalanan yang seakan tak mudah kala itu, kalau kita refleksi sekarang ternyata bisa ya kita lewati, salah satunya dengan berbagi rasa dengan kawan-kawan senasib seperjuangan. Itulah salah satu esensi yang hendak kami rayakan melalui buku dan film ini.” Tutur Soleh Solihun dalam jumpa pers peluncuran buku dan trailer film Mau Jadi Apa? hari ini.

Didukung deretan pemain seperti Boris Bokir, Awwe, Ricky Wattimena, Adjis Doaibu, Anggika Borsterli, Aurelie Moeremans; serta penampilan dari Ronal Surapraja, Ernest Prakasa, Gading Marten, Andhika Pratama dan masih banyak lagi, menjadikan film Mau Jadi Apa? semakin menggelitik untuk kita nantikan kehadirannya. Tips ketika membaca buku dan menonton film ini adalah: Siap-siap bernostalgia dengan dilema Anda sendiri ya!

ULASAN: SECRET SUPERSTAR




Apa sih yang dilakukan oleh anak jaman sekarang untuk mengisi waktu luang mereka? Dahulu petak umpet, gobak sodor, kelereng bahkan layang-layang adalah permainan yang sangat digemari.Saat ini ketika teknologi sudah maju, internet sudah menginvasi, anak-anak sudah tidak mengenal permainan tersebut, yang mereka kenal adalahvideo game dan media sosial. Terutama fenomena media sosial yang makin banyak bentuknya memberikan wadah bagi anak-anak / remaja jaman sekarang untuk mengekspresikan diri mereka dimulai dari hanya memberikan ‘status’ berupa text berkembang menjadi gambar hingga menjadi video unjuk diri. Perkembangan jaman ini tentunya memiliki 2 sisi yang berlawanan, apakah mampu dimanfaatkan dengan baik oleh anak-anak / remaja jaman sekarang, atau justru menjadikan mereka lupa diri, tidak ingat waktu bahkan kebablasan. Alih-alih untuk mencari popularitas, begitu banyak hal yang dilakukan anak-anak / remaja jaman sekarang dengan menggunakan media soial mereka mulai dari cara yang baik bahkan cara yang tidak terpuji.



Hal inilah yang ditangkap oleh Secret Superstar. Film ini memberikan pesan yang positif bagaimana memaksimalkan media sosial sebagai wadah mengekspresikan diri dengan cara yang baik. Walaupun tema standar dan penonton akan berdalih, “jelas dia menjadi superstar, karena suaranya bagus”, tetap saja bagaimana cara Insia yang cukup terbatas berinteraksi dengan media sosialnya digunakan sebaik mungkin tanpa kebablasan.



Insia (dimainkan sangat apik oleh bintang Dangal Zaira Wasim) adalah gadis remaja muslim yang tinggal di kota kecil bernama Vadodara (Baroda) di Gujarat, India. Dia dilahirkan dengan budaya islam yang cukup ketat dan kuno, bahwa anak perempuan hanya belajar saja dan pada waktunya kelak dia akan dijodohkan oleh pria pilihan orang tuanya. Hal yang sudah terjadi pada Najma (Meher Vij) ibu Insia, ketika Najma remaja, dia dijodohkan oleh Farookh Malik (Raj Arjun) ayah Insia.Merasa terjebak, ayah Insia yang tidak mensyukuri mendapatkan Najma karena keluguannya dan kebodohannya (Najma masih buta huruf) sering melakukan kekerasan pada Najma yang membuat Insia geram, marah dengan keadaan terutama pada ayahnya.



Walaupun Najma lugu, dia adalah ibu terbaik bagi Insia dan Guddu (Kabir Sajid Shaikh) adik Insia. Najma yang tau akan masa depan Insia seperti apa memberikan kebahagiannya dari sejak kecil, membuat Insia menjadi gadis yang tidak seperti dirinya kelak. Najma memberikan gitar pada saat Insia berusia 6 tahun, dan dimulai saat itu Insia sangat menyukai musik, bahkan Insia memiliki suara yang sangat indah ketika Insia beranjak remaja.



Kebahagiaan Insia masih sangat terbatas, ayahnya begitu banyak memberikan larangan padanya, terutama karena Insia bukanlah gadis yang jenius dalam hal akademik.Apalagi mereka bukanlah keluarga yang berkecukupan, mereka tinggal di rumah susun yang kecil di mana Insia tidur di lantai yang ada di ruang tamu.Tetapi yang membuat hidup Insia lebih menderita karena Insia sadar bahwa kecil kemungkinan Insia mengejar mimpinya, menjadi penyanyi, menjadi seorang superstar dan terlebih lagi membahagiakan ibunya.



Sadar akan mimpi Insia yang begitu besar, Najma nekat memberikan laptop pada Insia agar Insia bisamengejar mimpinya. Dari sinilah Insia mampu mengekspresikan dirinya, tetapi dengan batasan tertentu, hal ini tidak boleh diketahui oleh ayah Insia. Insia bertekad bahwa dia ingin dunia tahu akan suaranya, akan bakatnya terhadap musik. Ibunya memberikan saran agar Insia menggunakan Burkhasaat Insia menyanyi membuat video di media sosial yang mampu mengeskpresikan dirinya kepada dunia.Karena mimpi Insia adalah agar dunia mengenal suaranya bukan dari wajahnya.Apakah Insia berhasil menjadi superstar?Lalu apakah Insia mampu mebahagiakan ibunya, membuat ayahnya berhenti menggunakan kekerasan terhadap ibunya?



Aamir Khan lagi-lagi ingin mengulang sukses film sebelumnya yang ingin menunjukkan bahwa di India, suara wanita juga harus diperjuangkan. Seperti dalam film “Dangal”, “Secret Superstar” juga memiliki pesan yang serupa, tetapi lebih kompleksnya kali ini sang bintang utama benar-benar menggunakan suaranya, suara yang sebenarnya. Penunjukkan sutradara baru dalam film ini sebenarnya cukup riskan, tetapi Advait Chandan mampu memberikan sajian manis, sederhana namun kompleks dalam film ini. Terutama bagaimana dia mampu mengarahkan Zaira untuk menjadi Insia yang pemberani namun juga memiliki pahit getirnya kehidupan di usia belia.

Zaira sudah pasti sangat bersinar di film ini.Dia mampu menggambarkan Insia sebagai murid yang tidak pintar.Dia kesulitan dengan sains dan trigonometri, mendapat nilai 30 dari 100 dalam tes kelas.Dia bahkan membentak pada satu anak laki-laki Chintan (Tirth Sharma) yang baik padanya di sekolah.Dia juga bukan kakak yang hebat, sering berkhayal untuk melarikan diri dari ayahnya dan meninggalkan adiknya karena ayahnya lebih mencintai adiknya.Insia juga terkadangmemarahi dan mengolok-olok ibunya yang lugu walaupun Insia sangat menyayangi Ibunya.Zaira mampu menunjukkan Insia yang tidak tampak seperti putri ideal.



Begitu juga dengan Meher Vij yang menjadi Najma, ibu Insia. Dia mampu membuat semua penonton iba padanya, semua penonton menjadi orang yang sudah pasti akan melindunginya apabila bertemu dengannya. Rasa sayangnya terhadap ke dua anaknya dapat digambarkan begitu tulus bahkan dia tidak segan menjadi teman curhat Insia.Benar-benar penggambaran kasih sayang ibu yang tak dapat diukur. Kehadiran Aamir Khan adalah salah satu hal yang membuat kita santai sejenak dari drama yang mampu menguras emosi. Dia menjadi produser, penyanyi dan sutradara vokal yang punya banyak kasus, seakan dunia superstar yang dimilikinya sudah mulai redup.Kehadirannya mampu mengundang tawa, bagaimana tidak, kalau di “Dangal” dia begitu serius, dalam film ini dia begitu norak. Pakaian ketat yang memperlihatkan ototnya serta bagaimana cara dia berbicara sangatlah norak. Tapi jelas sekali chemistry antara Aamir Khan sebagai Shakti Kumar dengan Insia sangatlah nyata seperti seorang mentor kepada muridnya layaknya dalam kehidupan nyata mereka, Zaira sangat mengidolakan Aamir Khan yang sudah menjadi mentornya di 2 film mereka.

Tidak afdol apabila membahas film India yang berfokus kepada kemampuan bernyanyi tanpa membicarakan musik dan soundtrack-nya.Penyanyi utama dalam film ini adalah debut penyanyi remaja Meghna Mishra, kemampuan suaranya untuk mengisi 6 lagu dari keseluruhan soundtrack film ini sudah tidak diragukan lagi. Film dibuka dengan lagu “Sapne Re” yang terasa sangat segar dan muda, lagu yang pas untuk membuka film. Lalu dilanjutkan dengan lagu pengenalan siapa itu Insia yang berjudul “Main Kaun Hoon”.Kemudian lagu yang sangat kuat dengan lirik yang mampu membuat pendengar mengingat ibu mereka dan betapa besar kasih sayangnya, “Meri Pyaari Ammi” dengan alunan gitar dan mandolin (alat musik tradisional India) yang sangat syahdu.“Nachdi Phira” adalah lagu yang menyajikan suara rock dan blues dari Meghna Mishra, kemampuan mencapai nada-nada sulit yang tinggi menjadikan lagu ini mampu disandingkan dengan penyanyi senior di Bollywood. Dan masih banyak lagu lainnya termasuk lagu “I Will Miss You” yang dinyanyikan sangat ajeg dan sopan oleh Kushal Chokshi. Sebagai lagu penutup film ada lagu “Sexy Baliye” yang menggambarkan kehidupan Shakti Kumar yang norak dan penuh foya-foya mampu ditransferkan secara apik oleh penyanyi senior Bollywood Mika Singh.

Film ini memang sajian yang bagus untuk ditonton bersama keluarga, tetapi tetap saja ada beberapa kelemahan.Kelemahannya adalah begitu banyaknya moral kehidupan yang disajikan dalam sebuah film sederhana sehingga terasa ngat penuh dan terkadang tidak fokus cerita mau dibawa kemana.Belum lagi penyajian cerita yang dibilang klise dengan adegan penutup film yang sangat tertebak.Memang sebuah ciri khas film keluarga, apalagi film ini diputar saat hari raya Diwali. Sebuah hari perayaan umat Hindu untuk mempererat hubungan antar keluarga, saudara dan juga teman.



Aamir Khan Production bisa dibilang adalah sebuah production house yang terbilang masih berusia remaja (berdiri pada tahun 1999, baru 18 tahun) dan hanya menghasilkan 1 film dalam kurun waktu 1 atau 2 tahun. Pemilihan film yang tepat untuk diproduksi adalah sebuah strategi cerdas bagi production house yang masih belia ini.Kesuksesan Dangal menjadikan Aamir Khan Production mengeluarkan strategi serupa (tapi tak sama) untuk mengulang kesuksesan, yaitu suara wanita. Bagaimana kasih sayang dan didikan seorang ibu dengan keterbatasannya mampu membuat seorang anak gadisnya menjadi superstar dengan segala keterbatasan yang mereka miliki.Adanya kemajuan teknologi dan didikan yang tepat, membuat Insia menjadi remaja yang tau bagaimana caranya menggunakan media sosial dengan baik dan benar.Dari sanalah dia menjadi superstar dari sanalah dia mendapatkan keberanian dan kekuatan yang untuk mendobrak ketidakbahagiannya dan menyuarakan keinginannya.Dari sanalah dia merefleksikan kecerdasan remaja masa kini yang mampu mengejar impiannya.


(By Ibnu Akbar)

ULASAN: THOR RAGNAROK




Belum pernah dalam sejarah perfilman ada yang memiliki kesinambungan yang begitu besar seperti dalam raksasa Marvel Cinematic Universe (MCU) ini. Banyak keuntungan dan kemudahan yang sudah diraih oleh Marvel Studio setiap kali hendak melanjutkan seri film, pun demikian dengan tantangan yang dihadapi. Thor Ragnarok merupakan film ke-17 dalam MCU dan merupakan film solo ke-3 bagi karakter Thor, sang dewa petir yang juga merupakan salah satu anggota 'senior' Avengers. Studio sudah mendapatkan jaminan audiens dengan fanbase yang solid, namun seiring dengan berlanjutnya seri film yang dirilis semakin menunjukkan bahwa MCU sudah kepalang nyaman dengan formula yang serupa disetiap filmnya, tidak terkecuali dengan Thor Ragnarok ini.



Sebagai sutradara yang dikenal nyentrik dan humoris (baik itu secara personal maupun karya-karyanya), Taika Watiti merupakan pilihan yang sangat tepat untuk bergabung memberikan kontribusinya dalam MCU. Para pemeran karakter penting dalam petualangan Thor sebelumnya juga kembali bermain selain Chris Hemsworth sendiri sebagai Thor, kemudian Tom Hiddleston sebagai Loki - frienemies favorit banyak penonton, Idris Elba sebagai Hemidal, hingga Anthony Hopkins kembali sebagai Odin walau hanya tampil sebentar. Tidak hanya itu, sejumlah bintang kenamaan Hollywood juga ikut bergabung dalam jajaran cast. Ya, semuanya ingin tergabung dalam seri jagad film favorit berjuta umat ini. Mulai dari Jeff Goldlum, Tesa Thompson, Karl Urban, hingga Cate Blanchett ikut bergabung memerankan karakter Hela, yang sekaligus menjadi musuh perumpuan utama dalam MCU. Terakhir tapi tidak kalah penting, Mark Ruffalo kembali untuk ikut bergabung memeriahkan panggung sebagai Bruce Banne/Hulk, hingga Benedict Cumberbatch sempat ikut tampil sebagai Doctor Strange. Marvel sedang memiliki waktu yang menyenangkan lainnya dengan para karakter-karakternya yang kini semakin ramai. Soal performan para pemain ini tentu sudah tidak perlu diragukan lagi dengan para bintang papas atas Hollywood tersebut, semua bermain bagus dan santai dan sungguh telah bekerja dengan senang hati untuk peran masing-masing.



Film ini adalah bentuk sebuah pesta, sebuah perayaan, bagaikan quality time bagi semua yang terlibat. Meskipun sebetulnya definisi Ragnarok itu sendiri merupakan kisah kelam yang membawa Argard pada kehancuran besar, namun dengan suatu cara film ini tetap bisa mengatur semua menjadi begitu terang dan bahkan cenderung mengarah pada film komedi, it's kind of MCU at its finest, mostly at comedy. Setelah peristiwa dalam Avengers Age of Ultron, Thor melanjutkan kisah dalam arc nya sendiri menelusuri keberdaan invinity stone. Dalam penacriannya, ia mendapati ramalan tentang peristiwa Ragnarok yang semakin mendekati kenyataan pada kehancuran bagi Asgard. Tidak lama ketika film berlangsung, jalan cerita pun kemudian membuka paralel pada karakter utama Avengers lainnya, yaitu The Hulk, dipertemukan dengan Thor pada sebuah planet asing bernama Sakaar. Ada semacam referensi kisah "Planet Hulk" terbayangkan di sini tapi Marvel nampaknya melakukan kombinasi ini hanya untuk menambah daya tarik film saja, karena sebetulnya kisah petualangan Thor (dan juga Hulk) itu sendiri dianggap yang kurang sukses dibanding dengan film solo anggota para Avengers di fase pertama,



Petualangan seru, lelucon berlimpah, aksi yang bergaya dan set dekorasi mewah hingga efek visual yang megah semua tetap terjaga. Untuk hal-hal tersebut dalam setiap produksi film Marvel Studio sudah tidak perlu diragukan lagi, toh mereka sudah melakukan trik yang agaknya serupa hingga belasan kali, dan lagipula itu masih sukses menyedot banyak penonton. Nampaknya para penonton masih akan terus disuguhkan film dengan resep yang sama hingga mereka yang sudah tidak terkesan lagi dengan resep yang sama jumlahnya menjadi sekin banyak, barulah MCU melakukan perubahan yang benar-benar berani. Semoga itu terjadi pada fase keempat nanti.

( By Arieffandi)

ULASAN: BEYOND SKYLINE






Beyond Skyline merupakan film action sci-fi sekuel dari film sejenis berjudul Skyline yang dirilis pada 2010. Bercerita tentang invasi makhluk alien dari angkasa luar di kota Los Angeles, dengan fokus pada survival sekelompok orang. Film ini tidak melanjutkan peristiwa yang terjadi pada film pendahulu akan tetapi menceritakan kisah petualangan kelompok orang berbeda, namun masih dalam peristiwa dan timeline yang sama. Disutradarai oleh Liam O'Donnell yang juga menjadi penulis naskah, film dibintangi oleh Frank Grillo bersama dengan Iko Uwais. Di Indonesia sendiri pada khususnya, keterlibatan Iko dalam film ini menjadi jualan utamanya, tidak hanya itu, penggunaan Candi Prambanan sebagai salah satu set lokasi juga dijadikan jualan utama kepada penonton di Tanah Air.



Frank Grillo memerankan karakter seorang detektif bernama Mark, yang memiliki hubungan kurang baik dengan anaknya, Trent (Jonny Weston). Ketika peristiwa invasi besar terjadi, Mark dan Trent terjebak dalam kereta bawah tanah bersama beberapa penumpang lainnya. Ketika berhasil keluar dari terowongan untuk mencari tau apa yang sedang terjadi, merekapun menyadari bahwa pesawat alien yang menginvasi tersebut rupanya telah menangkapi manusia di seantero kota, dan mereka pun tidak luput dari penangkapan. Didorong ingin menyelamatkan abaknya beserta para kawanan lainnya, Mark beserta beberap kawanan lainnya harus berjuang untuk bertahan hidup, sekaligus mencari cara untuk mengalahkan invasi.



Jika dibagi secara keseluruhan, film ini seperti memiliki dua segmen utama, pertama adalah ketika swal invasi yang terjadi di kota LA hingga di dalam pesawat alien yang sedang melakukan perjalanan. Kedua, adalah ketika semua terdampar di kawasan hutan tropis Asia Tenggara. Pada bagian inilah nanti karakter Mark dkk bertemu dengan Iko Uwais yang memerankan karakter bernama Sua, pemimpin gerilya yang bermarkas di kawasan Candi Prambanan.



Dengan keterlibatan Frank Grillo beserta Iko Uwais dan juga Yayan Ruhian, tentu kita dapat mengharapkan agar disajikan berbagai adegan aksi bela diri yang memukau. Seperti yang diakui sang sutradara sendiri ketika menghadiri langsung press conference di Jakarta pada akhir oktober ini, film mencampurkan berbagai elemen seperti martial art, sci-fi, hingga slasher. Jika selama ini kita menyaksikan Iko bertarung melawan manusia, namun kali ini lawannya adalah alien setinggi hampir 3 meter yang tidak begitu lincah bergerak, sehingga ini menjadikan adegan laganya terkesan aneh dan kurang gregetnya.



Iko Uwais mendapat peran yang cukuo banyak dan krusial, juga beberapa dialog-dialog. Agaknya ini bisa menjadi batu loncat lanjutan bagi aktor laga kebanggaan kita ini di kancah perfilman internasional. Begitu pula dengan Yayan Ruhian yang walau memiliki screening time yang sedikit. Mengenai setting lokasi Prambanan, film tidak pernah menyebutkan secara spesifik nama lokasinya, bahasa yang digunakan warga lokal pun adalah Lao (Laos), bukan Bahasa Indonesia.



Film ini memiliki ambisi dan visi yang besar, namun terganjal oleh kendala teknis yang krusial seperti visual efek. Beberapa adegan close up dengan makhluk alien dan lokasi-lokasi pesawat secara aestetik tampak meyakinkan, namun ketika pengambilan gambar dilakukan dari jauh dan luas, akan tampak visual efek yang kurang sempurna. Untung saja ini masih dapat terbantu dengan lokasi Candi Prambanan yang eksotis.

( By Arieffandi)