Thursday, August 30, 2018

MILLY DAN MAMET, SPIN-OFF AADC YANG SUDAH MULAI MASUK PRODUKSI





Setelah menyimpan rapat-rapat siapa saja jajaran aktor dan aktris yang terlibat, selain tentunya Sissy Prescillia dan Dennis Adishwara yang memerankan dua karakter utamanya, akhirnya Starvision dan Miles Films pun membuka nama-nama yang akan mengisi peran dalam film terbaru kerja sama mereka, Milly & Mamet, dalam press conference yang diadakan di Casadina Kitchen & Bakery.



Publik memang bisa dibilang dibuat penasaran dengan aktor dan aktris yang akan terlibat dalam film yang akan mulai shooting 2 September mendatang ini. Pasalnya, pihak Starvision dan Miles Films tidak membocorkan petunjuk apa pun, baik melalui akun media sosial mereka mau pun saat wawancara dengan media. Satu-satunya petunjuk hanyalah foto tampak belakang seorang gadis dengan baju biru putih garis-garis dan rambut hitam panjang tergerai. Hal ini sontak menimbulkan pertanyaan, siapakah sosok ini yang disebut-sebut merupakan tokoh kunci dalam Milly & Mamet? Kini, terjawab sudah bahwa sosok tersebut adalah Julie Estelle.



Meski terasa berat, namun Yoshi mengaku senang karena diberi kepercayaan untuk terlibat dalam Milly & Mamet. “Awalnya Ernest menghubungi saya, lalu kita ketemu untuk ngobrolin tentang konsep film ini.



Selain nama-nama tadi, Ernest juga menggaet beberapa nama besar untuk melengkapi line-up pemain Milly & Mamet seperti Eva Celia, Dinda Kanyadewi, Surya Saputra, dan Roy Marten. Tidak ketinggalan para komika seperti Muhadkly Acho, Awwe, Bintang Emon, Arafah Rianti, Aci Resti dan Ardit Erwandha. Juga penampilan seru dari Melly Goeslaw dan Isyana Sarasvati, yang akan menjajal kemampuan mereka dalam melakoni peran komedi. Selain duduk di kursi sutradara, Ernest Prakasa juga akan ikut bermain di film keempatnya ini setelah sebelumnya juga menjadi writer-director untuk film Ngenest (2015), Cek Toko Sebelah (2016) dan Susah Sinyal (2017). Seperti apa kepiawaian Ernest Prakasa dalam menggali talenta para ensemble cast-nya kali ini? Kita tunggu saja Milly & Mamet, tayang di bulan Desember!

ULASAN: SEARCHING




Masih ingat dengan film The Blair Witch Project, Paranormal Activity atau Cloverfield pertama ?. Jika kamu mengingatnya hal yang teringat pertama kali tentu visualisasi penceritaannya yang berbeda dengan yang lain. Menampilkan plot cerita dengan perspektif berbeda dimana penonton sedikit berusaha memahami isi cerita dari kumpulan footage-footage dari kamera, CCTV atau rekaman suara. Perspektif penceritaan yang unik dan cukup disukai penonton sehingga lahir film-film sejenis dengan genre yang berbeda seperti Rec franchise (horror), Chronicle (fantasi), Troll Hunter (fantasi), Project X (komedi) atau V/H/S (horror). Dari judul-judul yang disebut secara jelas kebanyakan film dengan konsep found footage ini lebih dikuasai genre horror. Lalu bagaimana jika konsep penceritaan seperti yang digambarkan diatas diaplikasikan ke genre thiller investigasi ?. Sesuatu hal yang cukup berani dan seingat saya sendiri belum pernah menonton sejenis ini.



Hal itulah yang dicoba 'Searching', film thiller yang disutradarai nama baru di kancah hollywood Anesh Chaganty dan naskah ditulis oleh sang sutradara dan Sev Ohanian. Lalu ada nama John Cho (Star Trek, Harold and Kumar) dan Debra Messing (Along Came Polly, Lucky You) sebagai pemeran utama. Dari kursi sutradara sampai jajaran cast tidak ada sesuatu yang luar biasa yang memancing minat menonton makin tinggi. Lalu apa yang yang menjadi kelebihan film yang satu ini ?



David Kim (John Cho) seorang duda menemukan putrinya Margot (Michelle La) menghilang secara tiba-tiba. Setelah menghubungi polisi tentang putrinya menghilang, David dibantu oleh Detektif Rosemarry Vick untuk mencari tahu nasib semata wayangnya. Ketika penyelidikan dan investigasi menemui jalan buntu, David memutuskan melakukan pencarian di tempat-tempat yang belum diperiksa yaitu laptop putrinya. Di era modern dengan teknologi yang canggih, David harus menemukan jejak digital putrinya hingga akhirnya ia mengetahui bahwa hubungannya dengan sang putri tidak berjalan dengan baik-baik saja seperti yang dia kira.



Searching sudah mampu menarik perhatian dan membuat penonton secara instan sudah peduli dengan dua karakternya utamanya yaitu David dan Margot lewat sebuah prolog selama 8 menit yang mengingatkan kita dengan prolog antara Carl dan Ellie dalam film 'Up'. Dan yang membuat 'Searching' lebih menarik lagi adalah mengeksplorasi lebih jauh lagi sebuah fungsi sebuah media sosial yang hanya jika menelusuri jejak digital seseorang, kita bisa jauh lebih jauh mengenali karakternya dari pada sebuah interaksi secara langsung. Sebuah ironi memang, tetapi memang realitanya perubahan hubungan sosial memang seperti itu.



Salah satu yang unik dari 'Searching' adalah meskipun filmnya bergenre thiller, tapi hampir tidak ada adegan kekerasan tetapi masih membuat penonton harap-harap cemas. Terlebih di 15 menit terakhir ketika fakta-faktanya makin terungkap dan mengantarkan pada sebuah ending yang membuat penonton mengeluarkan kata "damn !"



Searching sebuah film thiller yang sangat fresh. Dengan plot cerita yang sebenarnya sudah banyak ditemui tetapi divisualisasikan dengan tidak biasa atau berbeda yang sudah menarik perhatian sejak adegan pertamanya. 

Sunday, August 26, 2018

PETULANGAN MENANGKAP PETIR SIAP RILIS 30 AGUSTUS 2018





Rumah produksi Fourcolours Films mempersembahkan karya terbaru mereka “Petualangan Menangkap Petir” yang siap menghibur penonton film dan anak-anak Indonesia mulai 30 Agustus 2018 di bioskop.

Film karya sutradara Kuntz Agus ini bercerita tentang Sterling (Bima Azriel), seorang YouTuber ciik yang tinggal di Hong Kong dan akan berlibur ke rumah kakeknya di Selo, Boyolali, Jawa Tengah. Sebagai bintang YouTube yang memiliki ribuan pengikut, Sterling enggan meninggalkan rutinitasnya membuat video. Ia menganggap, pelanggan saluran YouTube-nya adalah teman-teman sejatinya.



Setelah tiba di desa yang berlokasi di kaki gunung Merapi itu, Sterling berkenalan dengan Gianto alias Jaiyen (Fatih Unru), Neta (Zara Leola), Wawan (Jidate Ahmad), Kuncoro (Danang Parikesit) dan Yanto (Siswanto). Melalui kawan-kawan barunya, Sterling mengenal asyiknya berteman, berpetualang dan bermain. Mereka meminta Arifin dan Kriwil mengajari cara membuat film yang terinspirasi dari cerita legenda Ki Ageng Selo, kisah Sang Penangkap Petir. Lewat petualangan mereka, Sterling tahu apa arti persahabatan yang sebenarnya.

Drama dan komedi keluarga berdurasi 93 menit ini menambah deretan film anak yang berkualitas dan patut ditonton. Sutradara Kuntz Agus menjelaskan bahwa film “Petualangan Menangkap Petir” dibuat dengan semangat menghadirkan alternatif tontonan yang seru dan menarik bagi keluarga.



“Film ini ingin mendorong anak-anak Indonesia untuk tidak saja bermimpi, tapi juga berani berkarya sejak dini. Selain itu, kami juga ingin bercerita soal persahabatan. Di era digital ini, anak-anak jangan sampai terlalu sibuk beraktivitas di media sosial sampai lupa berkawan,” katanya.

Abimana Aryasatya adalah produser sekaligus aktor yang memerankan tokoh Arifin, seorang pemuda desa yang memiliki ketertarikan khusus terhadap sinema.



“FIlm ini memang menyorot kembali hiburan-hiburan dalam format lama, seperti film laga yang dulu pamornya tinggi, dan disajikan di layar tancap. Ini adalah hiburan yang nyata dan masih bisa dilihat di banyak desa-desa di Indonesia karena mereka tidak memiliki gedung bioskop sendiri,” jelas Abimana.

TIdak hanya Abimana, film ini juga dibintangi oleh Darius Sinathrya, Putri Ayudya, Bima Azriel, Fatih Unru, Arie Kriting, dan penyanyi cilik Zara Leola. Selain itu, aktor legenda Slamet Rahardjo juga ikut menyumbangkan penampilannya.

“FIlm keluarga sudah jarang bisa dinikmati di layar lebar, jadi ini kesempatan berharga untuk para penonton Indonesia yang haus akan hiburan yang bisa disimak bersama putra-putri mereka. Jangan lewatkan kesempatan menonton film ini di bioskop,” ujar Slamet.

Zara, pemeran tokoh Neta di film ini, ikut menyanyikan lagu yang menjadi official soundtrack dari film ini, yaitu “Liburan.”

“Aku senang sekali bisa ikut bergabung di film ini. Syutingnya menyenangkan karena banyak adegan seru yang kami jalani. Selain itu, lagu yang aku bawakan juga ceria karena tentang liburan,” sahut Zara.


“Petualangan Menangkap Petir” didukung oleh Kementerian Komunikasi dan Informasi, Badan Ekonomi Kreatif, SiberKreasi, Pemerintah Daerah Boyolali, Alfamidi, Telkomsel dan Musica Studio. Para pemain dan kru juga akan mengadakan nonton bareng di beberapa kota, diantaranya Solo, Jogja, dan Makassar.

Thursday, August 23, 2018

ULASAN: MILE 22



Sejak diumumkan Peter Berg akan membuat film berjudul 'Mile 22' dengan mempertemukan Iko Uwais dan Mark Wahlberg sebagai pemeran utamanya, banyak dari kita penikmat film yang sudah sangat penasaran dengan hasilnya. Terlebih pera Iko Uwais dalam film produksi hollywood ini benar-benar sangat penting, tidak hanya sekedar karakter pelengkap atau cameo seperti peran-peran Iko Uwais dalam film-film hollywood sebelumnya. Bahkan Peter Berg ide cerita Mile 22 tercipta karena Peter Berg sangat menyukai peran Iko Uwais dalam dua film The Raid dan ingin Iko Uwais bermain dalam filmnya. Jadi bisa dibilang karakter Li Noor dalam Mile 22 dicptakan Peter Berg untuk seorang Iko Uwais. Peman-pemain lain yang terlibat dalam Mile 22 ada nama John Malkovich, Lauren Cohan dan Ronda Rousey,



Kumpulan agen yang beraksi secara tidak resmi dan diakui negara yang dipimpin James Silva (Mark Wahlberg) dibantu unit komando taktis rahasia bernama 'Overwatch' ditugaskan untuk menyeludupkan membawa seorang polisi bernama Li Noor (Iko Uwais) yakni saksi kunci atau informan penting, dari pusat kota menuju pesawat yang sudah menunggunya di bandara. Jarak yang mereka tempuh dari pusat kota ke bandara yakni 22 mil. Di sepanjang perjalanan, mereka harus berhadapan dengan polisi korup, gembong penjahat, serta penjahat-penjahat bersenjata lengkap yang siap mencegah dengan segala upaya agar mereka tak sampai ke pesawat..


Peter Berg sebelumnya sudah sangat berpengalaman dalam film yang cukup memacu adrenalin penontonnya, seperti Lone Survivor atau Deepwater Horizon yang memusatkan ceritanya pada karakter yang terdesak pada situasi pilihannya hanya hidup dan mati. Dan formula itu juga kembali dipakai pada Mile 22. Dan formula yang sama itu masih cukup berhasil pada Mile 22. Sangat banyak adegan intens yang membuat penonton menahan nafas ditengah-tengah kebrutalan yang ditampilkan.


Hadirnya Iko Uwais dalam 'Mile 22' membuktikan sangat pentingnya perannya di film ini, tetapi sayang meskipun sudah banyak mengalami kemajuan dalam hal berakting Iko Uwais masih terlihat belum mampu mengimbangi Mark Wahlberg yang memang sudah tidak perlu dipertanyakan lagi dalam hal peforma memerankan karakter yang sangat keras.


Alur cerita yang sangat cepat dengan durasi hanya 90 menit tidak memberi penonton waktu yang cukup untuk bisa memahami apa yang baru saja terjadi. Adegan action dan laga pertarungan di ruang sempit dalam film ini adalah sebuah nilai plus tersendiri yang sepertinya harus ada di setiap film-film Iko Uwais. Pada akhirnya Mile 22 masih sebuah film action-laga yang masih sangat seru dan menghibur dengan rating dewasanya. Dengan ending yang sangat terbuka, kita sangat mengharapkan segera bisa menonton lanjutannya yang memang sudah direncanakan menjadi sebuah trilogi.


Tuesday, August 21, 2018

ULASAN: CHRISTOPHER ROBIN




Disney mempersembahkan film live action terbaru, "Christopher Robin" yang mengangkat kisah anak laki-laki dengan masa kecil penuh petualangan di Hundred Acre Wood bersama teman-temannya dan kini telah beranjak dewasa. Teman-teman masa kecil Christopher Robin seperti Pooh, Eeyore, Tigger, Piglet dan lain-lainnya dan bertemu kembali dengannya untuk berpetualang dan membantunya menemukan kembali sisi lain dari dirinya yang ceria dan penuh kebahagiaan.


Disutradarai oleh Marc Forster (Finding Neverland, World War Z) memakai jasa Ewan McGregor, Hayley Atwell dan Mark Gattis yang ikut andil dalam film ini. Menceritakan tentang Christopher Robin (Ewan Mcgregor) yang terjebak dengan rutinitasnya sebagai karyawan yang harus mengorbankan hari-harinya yang harusnya dihabiskan bersama istri dan putrinya untuk mengerjakan tugas-tugas kantor yang harus diselesaikan dibawah pimpinan Gile Winslow Jr. (Mark Gattis). Hingga pada suatu hari yang tak terduga Christopher Robin (CR) mendapat kunjungan teman masa kecilnya Pooh yang tersesat. Hal yang membuat CR harus kembali Hundred Acre Wood, tempa yang tidak pernah dia kunjungi lagi bertahun-tahun dan bertemu teman-teman lainnya.


Mengangkat sebuah adaptasi buku atau animasi terkenal dan mengubah karakter ikonik secara garis besar adalah hal yang cukup beresiko. Nama besar bsutradra seperti Steven Spielberg pernah mengalami itu, ketika membuat Peter Pan menjadi dewasa dalam film 'Hook' yang mendapat respon buruk dari kritikus (saya sendiri secara personal masih menyukai Hook). Dan kali ini untuk Christopher Robin hal sama terjadi pula. 


Apakah Christopher Robin menjadikan Christopher Robin dewasa adalah keuputusan yang tepat ?. Sepertinya hal itu hanya bisa dijawab oleh penonton-penonton yang memang mempunyai memori masa kecil CR dan kawan-kawan. Untuk saya dan yang lainnya yang tidak pernah mengikuti karakter-karakter ini, hal itu tidak terlalu bermasalah. Hal yang cukup mengganjal adalah tone filmnya yang terasa gelap dibandingkan dengan film-film Disney lainnya yang lebih bernuansa ceria. Tone gelap itu makin terasa dengan perwakilan sifat-sifat karakternya. Seperti Pooh yang selalu lapar, Eeyore yang selalu depresif atau Piglet yang selalu paranoid.


Chrstopher Robin mungkin masih mampu memancing nostalgia untuk penontonnya. Tetapi untuk yang baru pertama kali menonton hasil bebas dari  adaptasi buku karya A.A Milne dan E.H Shepard ini akan sangat sulit bisa terkoneksi dengan jalan ceritanya.

ULASAN: THE DARKEST MINDS



Film dengan genre young-adult-post-apocalyptic event sebenarnya sudah melewati masa jayanya. Franchise semacam ini memanglah gambling, beberapa sanggup meraup untung, lainnya justru keok tak berlanjut. Pasalnya, menggerakkan pengisahan remaja bukanlah hal mudah, apalagi jika ditambahkan unsur heroik pemberontakan.



Tahun ini, dari 20th Century Fox mengeluarkan film adaptasi dari buku berjudul The Darkest Minds. Dimana penyakit yang disebut Idiopathic Acute Neurodegeneration (IAAN), menyerang seluruh remaja di Amerika, sebagian besar mengalami kematian dan sisanya yang masih dapat bertahan hidup mendapatkan kekuatan super. Pemerintah mengumpulkan dan memasukkan anak-anak ini ke dalam camp, memisahkan mereka berdasarkan tingkatan kekuatan mereka. Semakin berbahaya kekuatan mereka, semakin tinggi kemungkinan untuk dieliminasi. Ruby Daly (Amandla Stenberg) merupakan salah satu yang memiliki kekuatan super, bersama dengan timnya, Liam (harris Dickinson), Chubs (Skylan Brooks), dan Zu (Miya Cech), mencari perkumpulan kaum “berbeda” yang tersembunyi dari pemerintah. Di sisi lain Clancy Gray (Patrick Gibson), putra dari presiden, yang juga menderita penyakit tersebut, mampu untuk disembuhkan.



Sesungguhnya The Darkest Minds hanya memainkan segala unsur template young adult dan tidak menawarkan hal baru. Peran utama remaja? Cek. Perjalanan pencarian jati diri remaja? Cek. Gerakan pemerintah anti kelompok yang “berbeda”? Cek. Sekelompok pemberontak anti pemerintah? Cek. Karakter utama digadang-gadang sebagai ujung tombak perubahan, menjadi pahlawan harapan sejuta umat? Cek.



Perlu digarisbawahi bahwa kami tidak membaca bukunya. Entah memang dari sumber awalnya atau kemampuan tim penulis dalam membuat screenplay, The Darkest Minds meski memainkan unsur template, ia memiliki kendali bercerita yang menyenangkan untuk diikuti.

The Darkest Minds pelan-pelan membawa penonton menjelajahi perubahan yang membuat dunia dalam film ini porak poranda. Ia mengajak penonton melihat bahwa ketakutan itu dimiliki oleh dua sisi berseberangan, sang remaja pemilik kekuatan dan pemerintah. Bahwa remaja + power bukanlah kombinasi yang mudah untuk dikendalikan, terlebih jika kekuatan itu jatuh di tangan yang salah. Ada eksplorasi yang jarang tertuang untuk genre jenis ini, biasanya film-film sejenis akan langsung membuat pemerintah tanpa tedeng aling-aling mengecam dan memburu kaum “berbeda”. Tentu saja ini merupakan nilai plus bagi The Darkest Minds.



Ruby Daly selaku karakter utama, juga mengajak penonton menelusuri pergulatan batin seorang kaum “berbeda”, dimana kekuatan mereka justru mengintimidasi diri mereka sendiri. Penceritaan perjalanan pencarian jati diri Ruby dipahat dengan apik. Dimana dengan lembutnya diperlihatkan bahwa sang karakter berubah dari sosok yang menyembunyikan dirinya sendiri berubah menjadi Raja catur perpolitikan. Biasanya film-film sejenis akan langsung membuat sang karakter utama menjadi sosok messiah, pembawa revolusi, pembawa harapan. Di The Darkest Minds, menggunakan sosok antagonis dengan pantas. Ia tidak hanya digunakan sebagai musuh utama, tapi juga dijadikan alasan utama bagi sang protagonis utama mengalami titik balik.

Sebenarnya masih banyak hal yang akan lebih baik lagi dieksplorasi jika diadaptasi lewat Serial TV saja. The Darkest Minds jelas punya potensi. Tim penulis setidaknya tahu cara memainkan kisah remaja tanpa menjadi kekanakkan. Dan setidaknya setelah keluar dari bioskop, kita akan menginginkan sekuel lanjutannya.

(By Annisa Anugra)

Wednesday, August 15, 2018

TEDDY SOERIAATMADJA KEMBALI HADIR DENGAN FILM TERBARU MENUNGGU PAGI


Sang sutradara yang terkenal dengan pilihannya yang selektif dengan pilihannya menyutradarai sebuah film beberapa tahun belakangan ini Teddy Soeriaatmadja kembali hadir dengan sebuah film yang diiisi oleh aktor-aktor muda dalam film berjudul 'Menunggu Pagi' produksi IFI Sinema. Terakhir kali kita bisa melihat menonton film sang sutradara di layar bioskop secara komersil adalah Lovely Man. Setelah itu Teddy Soeriaatmadja tetap membuat film tetapi hanya dirilis dalam pemutaran terbatas yang lebih sering terlihat di festival-festival film seperti Something In The Way, About A Woman.



Dan sekarang Teddy Soeriaatmadja sudah siap dengan 'Menunggu Pagi' yang masih membawa unsur bagian kehidupan Jakarta didalam ceritanya. Dan sekarang anak-anak muda Jakarta yang menjadi sasaran cerita yang akan digali Teddy. Menurut Teddy, “Membuat film anak muda dengan background event musik terbesar di Indonesia menjadi tantangan tersendiri apalagi event seperti ini sering dikaitkan sebagai ajang hura-hura anak muda. Tetapi sebenarnya ada banyak sekali keseruan dan emosi yang dapat diceritakan dari sisi yang berbeda. Mengemas semuanya menjadi sebuah film drama romantis yang sarat pesan yang layak ditonton pecinta film Indonesia".



Menunggu Pagi dibintangi oleh aktor-aktor muda yang sudah sangat familiar bagi mata penonton seperti Aurelie Moremans yang untuk kesekian kali nya membintangi sebuah film, lalu ada Arya Siloka yang walaupun 'Menunggu Pagi' pertama kalinya memeranka peran utama dalam film layar lebar, tapi sebelumnya cukup menarik perhatian lewat perannya di 'Night Bus' dan bermain dalam web series 'Pulang-Pulang Ganteng' yang cukup disukai penonton. Lalu ada Mario Lawalata, Arya Vasco, Bio One, Ganindra Bimo, Putri Marino, Raka Hutchison dan aktor peraih piala citra Yayu Unru.



“Pemilihan soundtrack menjadi hal yang tak kalah penting dalam proses pembuatan film. Tidak hanya lirik yang tepat, tetapi penyanyi, aransemen musik yang tentunya fun dan upbeat sesuai dengan tema film juga masuk dalam pertimbangan. Perlu seleksi yang cukup lama sampai akhirnya kami menemukan Marion Jola dengan lagu Jangan yang tepat mewakili soundtrackfilm Menunggu Pagi” jelas Teddy.



Produser IFI Sinema, Adi Sumardjono, menambahkan, “Kali ini IFI menghadirkan film yang menceritakan kehidupan anak muda dari sisi yang berbeda. Film Menunggu Pagi meng-highlightkeseruan anak muda millenials dalam sebuah festival musik kelas internasional di Indonesia. Dengan cerita yang merupakan cerminan kehidupan anak muda kota metropolitan dan hadirnya beberapa bintang pendatang baru, kami harapkan film ini dapat disambut baik dan membawa warna segar bagi perfilman Indonesia.”


Marion Jola sebagai pengisi soundtrack film Menunggu Pagi, menambahkan, “Saya sangat bangga dapat terlibat dan bekerjasama dengan Mas Teddy dan IFI Sinema dan sangat senang sekali lagu saya dapat dipercaya di film Menunggu Pagi, ini merupakan keterlibatan pertama saya di film, meskipun hanya baru sebatas soundtrack saja.” ujar Marion.

Menunggu Pagi dijadwalkan rilis antara September atau Oktober tahun ini.

Monday, August 13, 2018

KETIKA RANGGA DAN CINTA DIPERTEMUKAN DALAM FILM KULINER 'ARUNA DAN LIDAHNYA'





Palari Films bersiap merilis film terbaru Aruna dan Lidahnya pada 27 September. Film bertemakan kuliner, persahabatan, cinta dan konspirasi ini dibintangi oleh Dian Sastrowardoyo, Oka Antara, Hannah Al Rashid, dan Nicholas Saputra. Film ini makin spesial dengan mengambil lokasi syuting di Surabaya, Pamekasan (Madura), Pontianak, dan Singkawang. 


Aruna dan Lidahnya adalah cerita tentang ARUNA (Dian Sastrowardoyo) yang ditugaskan bekerja berkeliling ke empat kota Indonesia sambil bertualang kuliner bersama kedua temannya, BONO (Nicholas Saputra) dan NAD (Hannah Al Rashid). Saat menjalani tugasnya, Aruna bertemu dengan mantan rekan kerja yang pernah ia taksir, FARISH (Oka Antara). Keempatnya terlibat dalam perjalanan penuh percakapan yang mengungkapkan kisah kehidupan dan rahasia terpendam.


Dalam perjalanan keempat karakter, mereka mencicipi berbagai makanan nusantara yang jarang dibahas banyak orang maupun yang sudah populer sebelumnya. Makanan yang akan hadir di antaranya adalah Lorjuk (makanan khas Pamekasan), Bakmi Kepiting (Pontianak), sampai Nasi Cumi (Surabaya). Di setiap makanannya mereka menemukan sesuatu yang tak terduga. Total ada 21 makanan, minuman, dan cemilan yang terdapat dalam film. 


Selain pencarian makanan, film ini juga menangkap sepenggal kisah perjalanan manusia yang sedang dalam proses menemukan jawaban dalam hidupnya. Masing-masing karakter datang dengan kegelisahan yang berbeda. Aruna mencari nasi goreng yang telah lama diidamkannya, Farish berusaha menyelesaikan pekerjaan yang ditugaskan kepadanya, Bono bergulat dengan perasaan yang ia pendam, dan Nad yang hendak berpetualang kuliner. 


Edwin, selaku sutradara mengeksplorasi gaya yang jarang ditampilkan dalam film-filmnya. Di Aruna dan Lidahnya, dinamika kehidupan orang dewasa dibicarakan di meja makan. Film ini mengandung banyak dialog yang dalam namun dibawakan dengan ringan. Setiap karakter yang berbeda menunjukkan bahwa keragaman pendapat dapat bertemu di satu meja.


Di film ini para pemeran juga berkesempatan untuk mengeksplorasi seni peran melalui karakter yang jarang mereka dapatkan. Dian Sastrowardoyo bercerita bahwa ia merasa lebih rileks memerankan karakter yang tidak seserius peran sebelumnya, “Senangnya main film ini adalah saya bisa menertawakan diri sendiri, nggak jaim. Saya tertantang untuk main konyol, tapi juga serius di beberapa hal,” ujarnya. 


Hal yang sama juga dirasakan oleh Nicholas Saputra. Aktor yang sudah sering bekerja dengan Edwin ini memerankan karakter Bono, seorang koki yang hendak mengeksplorasi kuliner nusantara. Nico yang juga bisa memasak tak terlalu sulit untuk memerankan Bono yang menyenangkan. “Untuk film ini, saya belajar juga presentasi dan plating. Belajar dari koki langsung untuk menambah pendalaman karakter,” ceritanya. 


Dian dan Nico yang sudah sering bekerja sama di beberapa film mendapatkan pengalaman baru dalam film ini yaitu memerankan karakter sahabat dekat yang kental. Hubungan yang sebenarnya merupakan cerminan langsung dari keseharian mereka. Ini menjadikan karakter yang mereka mainkan unik dan tidak dapat ditemukan di film-film lainnya. 


Akting merupakan bahan baku utama film Aruna dan Lidahnya. Ensemble empat pemain yang sudah tidak diragukan kualitasnya diracik menjadi sesuatu yang istimewa. Dian, Oka, Hannah, dan Nico mempertunjukkan keahlian mereka untuk berakting memainkan karakter yang punya kedalaman tapi juga ringan disaksikan. Selain empat karakter yang sudah diumumkan sebelumnya, film ini juga dibintangi oleh Deddy “Desta” Mahendra dan Ayu Azhari. Desta berperan sebagai Pak Burhan, bos Aruna di tempat ia bekerja. Ayu Azhari menjadi Mbak Priya, atasan Farish yang dulunya pernah bekerja bersama Aruna. Proses pengambilan gambar dilakukan dari bulan April hingga bulan Mei. Pasca produksi sedang berlangsung dan sudah dimulai sejak Juni. Rencananya, Palari Films akan melakukan roadshow ke sebelas kota untuk mempromosikan film.

ULASAN: THE EQUALIZER 2




Sukses dengan film pertamanya, Denzel Washington dan sutradara Antoine Fuqua untuk keempat kalinya kembali bekerjasama dalam satu film setelah Training Day, The Magnificent Seven dan The Equalizer pertama. Dalam sequel yang menceritakan tentang seorang veteran agen rahasia yang bisa tiba-tiba menjadi vigilante ketika tidak bisa diam saja ketika melihat ketidakadilan yang terjadi dilingkungannya. Dalam sequel ini sendiri plot cerita akan lebih luas dibandingkan film pertamanya. Jika di film pertama plot cerita terbatas pada lingkungan tempat karakter Robert McCall (Denzel Washington), maka untuk sequel ini akan menguak masa lalu sang vigilante lebih dalam lagi ketika sahabat terdekatnya sejak aktif sebagai agen tewas terbunuh. Nama-nama Melissa Leo, Bill Pullman dan Pedro Pascal ikut meramaikan jajaran cast sequel ini.



Setelah event film pertama, Robert McCall (Denzel Washington) yang seorang mantan agen rahasia melanjutkan kehidupan sehari-harinya dan selalu berusaha memberikan keadilan bagi orang yang membutuhkannya. Hingga suatu ketika ia mengetahui bahwa sahabat lamanya, Susan Plummer (Melissa Leo) menjadi korban pembunuhan dengan kedok perampokan. Bagi McCall, ini adalah panggilan perang. Kini ia mencari tahu siapa yang telah membunuh temannya itu untuk membalaskan dendam yang kembali mempertemukannya dengan teman lamanya semasa aktif menjadi agen Dave York (Pedro Pascal).


Sama halnya dengan film pertama yang menjadi daya tarik The Equalizer adalah action laga yang sangat brutal dan sangat mematikan akan sering terlihat juga pada sequel ini. Meskipun plot cerita jauh lebih luas, tapi The Equalizer 2 tidak meninggalkan esensi utama ceritanya, antara Robert McCall dengan lingkungannya, yang membuat alur cerita terbagi dua poros. Yang pertama Robert McaCall dengan lingkungannya yang diwakili hubungannya dengan seorang remaja kulit hitam Miles Whitaker (Ashton Sanders) yang terpengaruh lingkungan buruk, lalu yang kedua Robert McCall dengan dendamnya. Hal cukup beresiko yang membuat ceritanya tidak fokus, tetapi untungnya kedua hal itu menjadi berkesinambungan yang makin memperkuat tokoh atau karakter Robert McCall dan penonton merasa peduli dengan karakter-karakter lain, bahkan karakter Fatima yang berdarah muslim sang pemilik bangunan tempat McCall dan Miles tinggal yang tidak terlalu banyak porsi adegan masih mampu memancing rasa peduli penonton.


Sequel yang tidak berbeda jauh dengan film pertamanya selain plot cerita yang lebih luas. Ini bagaimana kamu menyukai dengan film pertamanya atau tidak. Kamu akan sama menikmati sequel ini jika kamu suka dengan film pertamanya. Kalaupun belum nonton film pertamanya sendiri juga tidak masalah karena film pertama dan kedua bisa berdiri sendiri. Jika masih butuh refrensi pembanding film ini seperti John Wick atau Jack Reacher. Jika masih butuh alasan lagi apa yang menjadi alasan untuk menonton film ini ? Jawabannya adalah Denzel Washington yang tidak pernah bosan melihat aktingnya disetiap film yang dia bintangi

Sunday, August 12, 2018

ULASAN: SLENDER MAN




Mengangkat tema cerita urban legend ke dalam sebuah film adalah sebuah modal yang cukup menguntungkan. Karena tema cerita yang cukup dekat dengan penonton. Terlebih urban legend yang diangkat menjadi film itu berbau mistis. Sudah dipastikan cukup membuat penonton penasaran. Sudah banyak film-film horor yang diangkat ke layar lebar berdasarkan urban legend seperti Candy Man, The Blair Witch Project, I Know What YoU Did Last Summer. Dan sekarang Slender Man urban legend yang untuk pertama kalinya diangkat ke layar lebar yang mitosnya beredar secara luas dari creepypasta.



Didasari rasa iseng empat sahabat gadis SMA Hallie (Julia Goldani Telles), Wren (Joey King0, Chloe (Jaz Sinclair) dan Katie (Analise Basso) melakukan ritual untuk membuktikan mitos dari makhluk ramping bernama Slender Man. Setelah salah satu  diantara meraka hilang, ketiganya pun mulai curiga bahwa keberadaan makhluk ini adalah nyata ketika mereka satu persatupun dilanda teror dari makhluk itu.


Film yang sangat sepi improvisasi dari penceritaan, itulah yang sangat terasa pada Slender man. Plot cerita tipikal mengenai remaja ceroboh mencoba sesuatu yang tidak mereka ketahui. Hanya sebatas itu. Belum termasuk plot hole untuk 30 menit terakhir yang makin membuat filmnya menjadi aneh. Baru kali ini menonton sebuah film horor yang penuh penonton tapi sangat terasa sepi ekspresi penonton seperti teriakan efek jump scare scene pun sama sekali tidak ada.


Slender man mempunyai modal yang cukup untuk membuat cerita yang menarik seperti Candy Man yang ditonton sampai sekarangpun masih menyeramkan. Tapi sayang tim kreatif dalam penulisan cerita sama sekali tidak kreatif yang membuat film sangat monoton. Jika diminta pendapat mengenai satu kelebihan film ini saya juga tidak bisa menjawabnya. Film dokumenter yang Slender Man yang pernah diproduksi HBO masih jauh lebih menyeramkan dari pada versi fiksi ini.

HALUSTIK, ORIGINAL SERIES TERBARU KOLABORASI 3 SUTRADARA NIA DINATA, LUCKY KUSWANDI DAN ANDRI CUNG




Setelah sukses dengan Switch, The Publicist dan Sunshine. Viu kali ini hadir kembali dengan original series terbaru yang kembali menggandeng sineas-sineas lokal kondang untuk mekin meningkatkan kualitas dari konten series tersebut agar mampu memancing lebih banyak penonton lagi. Dan kali ini original series terbaru yang masih dalam produksi berjudul 'Halustik'



Halustik, series yang akan berjumlah 13 episode ini akan memadukan tiga rasa dari 3 sutradara yang berbeda yaitu Nia Dinata, Lucky Kuswandi dan Andri Cung. Halustik menawarkan jalinan cerita yang inovatif yang terpilih dari pemenang dalam Viu Pitching Forum 2018. Dan Halustik juga akan menjadi pertama kalinya original series yang disutradarai oleh 3 sutradara yang berbeda.



Dari ditunjuknya 3 sutradara berbeda untuk Halustik, Myra Surayo selaku Senior Vice President Marketing, Viu Indonesia mengatakan Nia Dinata, Lucky Kuswandi dan Andri Cung adalah pemilihan yang tepat karena karya-karya mereka sebelumnya menunjukan sangat cocok dengan cerita yang disajikan Halustik.



Halustik sendiri bercerita tentang Kanti, seorang banker muda yang sukses. Kanti kemudian dipecat dari pekerjaannya di sebuah bank ternama, sehingga ia mengubah profesinya menjadi penasehat keuangan yang dibumbui unsur spritual. Untuk memperkuat hasil cerita, beberapa cast utama yang terlibat ada nama Tara Basro, Richard Kyle, Lutesha dan Natalius Chendana. Dengan jadwal tanggal yang belum dimumkan, Halustik dipastikan dapat ditonton di tahun 2018 ini.