Azzam Fi Rullah kembali bikin kejutan. Walau kali ini ia hanya berperan sebagai penulis, gaya khasnya yang sering memberi homage pada film “esek-esek” horor Indonesia era 80-an tetap terasa kuat. Bersama sutradara Yusron Fuadi (Tengkorak), mereka menghadirkan Darah Nyai, sebuah tontonan yang sengaja diramu dengan atmosfer film B lawas: dari angle kamera, tone warna, hingga scoring musik keyboard yang bikin nostalgia ke era Febby Lawrence sampai Reynaldi.
Premisnya cukup menggigit: sepasang pengantin muda mendapati malam pertama mereka berubah jadi mimpi buruk ketika sang istri kerap mendapat penglihatan misterius. Rahasianya pun terkuak — sang istri dirasuki roh seorang Nyai yang dulunya dibunuh oleh sekelompok pemuda brengsek. Dari situlah perjalanan balas dendam dimulai, dengan tubuh sang istri sebagai medium pelampiasan dendam sang arwah.
Buat penonton yang doyan film vengeance & violent ala Kill Bill atau Hard Candy, Darah Nyai bakal jadi suguhan penuh gore yang over-the-top, intens, dan sering kali unintentionally funny tapi tetap menghibur. Perpaduan tema mistis tradisional dengan gaya modern terasa unik, apalagi dialog yang (sepertinya) banyak diimprovisasi menambah kesan raw. Kehadiran aktor senior seperti Djenar Maesa Ayu, Vony Anggraini, dan Yudi Ahmad Tadjudin, plus dukungan tokoh perfilman seperti Prof Ekky Imanjaya & Hikmat Darmawan di balik layar, memberi bobot lebih pada film ini.
Meski begitu, ada beberapa hal yang masih bisa diperbaiki, seperti teknis sound dialog yang kadang terlalu keras atau mendem, serta makeup yang terasa kurang maksimal. Namun, di balik kekurangannya, Darah Nyai berhasil menyampaikan gagasan kuat soal female empowerment lewat balas dendam brutal sang Nyai.
Secara keseluruhan, Darah Nyai jadi salah satu film indie lokal yang berani tampil beda dan berhasil rilis komersial. Harapannya, karya semacam ini makin sering muncul, tentunya dengan kurasi lebih matang sebelum tayang ke publik.
Rating: 7,5/10