Showing posts with label Action. Show all posts
Showing posts with label Action. Show all posts

Thursday, February 20, 2025

REVIEW THE GORGE: KETIKA ROMANCE, ACTION, DAN HORROR BERSATU!



Apple TV+ kembali menghadirkan film terbaru yang cukup unik berjudul THE GORGE. Film ini dirilis pada Valentine’s Day, yang sekilas memberi kesan bahwa ini adalah film romantis. Tapi ternyata, Scott Derrickson—sutradara spesialis horror yang terkenal lewat Sinister dan The Black Phone—membawa sesuatu yang berbeda. THE GORGE menggabungkan elemen romance, action, dan thriller, dengan sentuhan horror yang khas. Lalu, apakah film ini layak ditonton? Simak ulasan lengkapnya berikut ini!

Sinopsis: Cinta di Tengah Misi Misterius

Film ini berfokus pada kisah Levi (diperankan oleh Miles Teller), seorang sniper veteran yang ditugaskan menjaga pos di sebuah jurang misterius. Jurang tersebut dihuni oleh makhluk mengerikan yang disebut Hollow Man. Awalnya, Levi mengira dirinya bertugas sendirian, hingga ia mengetahui bahwa ada sniper lain di pos seberangnya, yaitu Drasa (Anya Taylor-Joy).

Seiring berjalannya waktu, hubungan mereka berkembang lebih dari sekadar rekan kerja. Namun, semakin dalam mereka terlibat, semakin banyak pula misteri yang terungkap. Ternyata, ada konspirasi besar di balik tugas mereka, dan hal itu mengancam nyawa mereka berdua.

Tone Shifting yang Menarik

Salah satu kekuatan utama THE GORGE adalah perubahan tone yang drastis. Awalnya, film ini terasa seperti kisah romantis yang manis, namun seiring berjalannya cerita, suasana berubah menjadi thriller penuh aksi dan ketegangan. Sutradara Scott Derrickson benar-benar memanfaatkan keahliannya dalam menciptakan atmosfer horror dengan beberapa jumpscare yang cukup mengejutkan.

Buat yang mengharapkan film dengan alur yang stabil, mungkin tone shifting ini bisa terasa agak tiba-tiba. Namun bagi yang suka kejutan dalam cerita, perubahan ini justru jadi daya tarik tersendiri.

Chemistry Pemain & Adegan Aksi

Miles Teller dan Anya Taylor-Joy punya chemistry yang cukup unik. Mereka tidak terlalu memaksakan romantisme, tapi interaksi mereka terasa alami. Salah satu hal menarik adalah aksi cekatan Anya Taylor-Joy yang mengingatkan kita pada perannya sebagai Furiosa di Furiosa: A Mad Max Saga.

Sayangnya, latar belakang karakter mereka terasa kurang digali. Penonton mungkin akan penasaran dengan masa lalu Levi dan Drasa, namun film ini lebih fokus pada hubungan mereka saat ini ketimbang eksplorasi karakter yang lebih dalam.

Konspirasi yang Kurang Dimaksimalkan

Salah satu kelemahan THE GORGE adalah elemen konspirasi yang kurang digali dengan baik. Film ini lebih berfokus pada hubungan antara dua karakter utamanya, sehingga konflik utama yang sebenarnya bisa lebih kompleks terasa hanya sebagai latar belakang saja. Jika Anda mengharapkan plot penuh intrik dan kejutan besar, mungkin akan merasa sedikit kurang puas.

Scoring yang Kurang Menyatu

Musik latar dalam film ini digarap oleh Trent Reznor & Atticus Ross, yang biasanya menghasilkan scoring yang luar biasa. Namun kali ini, musik mereka terasa kurang menyatu dengan beberapa adegan, terutama dalam transisi antara romance dan thriller.

Kesimpulan: Layak Ditonton atau Tidak?

THE GORGE adalah film yang unik dengan kombinasi romance, thriller, dan action yang jarang ditemukan. Jika Anda suka film dengan pace yang dinamis, aksi yang seru, dan nuansa horror yang mencekam, film ini bisa jadi pilihan menarik. Namun, jika Anda mencari cerita dengan kedalaman karakter dan plot konspirasi yang kuat, mungkin akan merasa ada sesuatu yang kurang.

Rating: 7/10 ⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐☆☆☆

Film ini tetap layak untuk ditonton, terutama jika Anda ingin menikmati sesuatu yang berbeda dari film romance pada umumnya. Dengan visual yang keren, adegan aksi yang mendebarkan, dan chemistry yang cukup baik antara dua pemeran utama, THE GORGE bisa jadi tontonan seru untuk mengisi waktu luang kamu!

Thursday, February 1, 2024

REVIEW: ARGYLLE




Matthew Vaughn hadir kembali dengan film terbarunya sebagai sutradara setelah terakhir muncul lewat The King's Man tahun 2021 lalu. Sama halnya dengan King's Man, tema yang diambil di film terbaru ini adalah spionase berjudul Argylle. Yang menjadi pembeda adalah di film kali ini hadir dengan ide original, bukan adaptasi remake, atau reboot. Ini adalah film kedua Matthew Vaughn sebagai sutradara membawa ide original setelah film pertamanya, Layer Cake (2004).

Elly Conway (Bryce Dallas Howard) adalah penulis novel mata-mata terkenal. Selama hidupnya ditemani komputer dan kucing kesayangannya, Alfie. Namun, ketika plot buku novel terbarunya yang bercerita tentang agen Argylle (Henry Cavill) dan misinya mengungkap sindikat mata-mata internasional menjadi kenyataan, malam-malam yang tenang Elly tidak pernah sama lagi ketika mulai bertemu dengan Aidan (Sam Rockwell) yang mengaku adalah Argylle yang ditulis oleh Elly dan datang untuk melindungi Elly dari kejaran divisi rahasia yang teroganisir dan berbahaya.


'Jama'ah Sekte Twist' akan sujud syukur setelah menonton film ini. Lapisan kue lapis sekalipun masih kurang banyak dibandingkan dengan lapisan demi lapisan kejutan yang ada pada film action-comedy yang satu ini. Hebatnya dengan segala kompleksitasnya lapisan demi lapisan kejutan yang ada film ini plot cerita dinarasikan dengan seringan mungkin yang tidak perlu membuat jidat berkerut seperti film-film lain yang mempunyai kekuatan pada twistnya. Dan perlu diapresiasi lebih film ini berangkat dari ide original, sesuatu hal yang sudah jarang kita temui akhir-akhir ini, terlebih untuk film bertema mata-mata yang didominasi oleh sequel atau remake atau reboot.


Sementara untuk castnya sendiri yang didominasi oleh penampilan Bryce Dallas Howard dan Sam Rockwell bisa dibilang kombinasi yang unik atau mungkin lebih tepatnya penonton tidak menduga penampilan mereka adalah nyawa film ini karena penonton lebih mengantisipasi penampilan Henry Cavill seperti yang muncul di trailer.


Untuk sebuah film dengan ide original, Argylle berhasil memberikan kesegaran dalam genrenya. Memikat dengan sequence-sequence action yang luar biasanya namun juga absurd. Mengecoh penonton dengan alurnya yang tidak berhenti sampai film benar-benar selesai. Beberapa poin masih ada ditemui plot-hole dari film ini, namun semuanya bisa terlupakan dengan segala plot cerita yang sudah menarik terlebih dahulu.

Overall: 9/10

Thursday, August 11, 2022

ULASAN: BULLET TRAIN

Ini pendapat yang sangat subjektif, boleh setuju atau tidak. Film-film yang bersetting di area kereta api sudah dipastikan film itu akan bagus. Mulai dari action, horror, thriller sampai drama punya judul-judul film yang berkesan setidaknya bagi saya. Seperti Train to Busan, The Polar Express, Unstoppable, Te Commuter sampai Demon Slayer the movie: Mugen Train. Sekarang hadir film terbaru Bullet Train adaptasi novel berjudul Maria Beetle karya penulis Kotaro Isaka. Sebuah film adaptasi penuh jajaran cast bintang seperti Brad Pitt, Aaron Taylor Johnson, Bryan Tyree Henry, Joey King, Hiroyuki Sanada, Michael Shannon, Logan Lerman dn aktor berdarah Indonesia Yoshi Sudarso. Sementara dari sutradara ada nama David Leitch yang dari track recordnya sudah berhasil menyajikan film-film action laga yang memukau yang dimulai dari John Wick, Atomic Blonde, Deadpool dan Nobody (Produser). Dari nama-ama yang disebutkan di atas, film adaptasi novel ini sudah tampak mejanjijkan, lebih-lebih setelah kita melihat trailernya.



Pembunuh bayaran yang sudah snagat senior Ladybug (Brad Pitt) mendapat tugas mendadak menggantikan rekannya untuk mengambil sebuah koper di dalam Bullet Train atau kereta api cepat yang berangkat dari Stasiun Tokyo. Dipandu oleh Maria Beetle (Sandra Bullock) lewat telpon pekerjaan yang harusnya mudah ini menjadi mulai berantakan setelah ia bertemu pembunuh kembar, Lemon (Aaron Taylor-Johnson) dan Tangerine (Bryan Tyree Henry), pria yang ingin membalas dendam kematian istrinya, The Wolf (Bad Bunny) hingga gadis lugu dengan kemampuan mematikan dan mempunyai keberuntungan yang selalu berpihak padanya, The Prince (Joey King). Chaos-pun terjadi. Adu ketangkasan untuk saling membunuh akan tersaji selama durasi film.


Melihat banyaknya karakter hal yang membuat penasaran bagaimana cara David Leitch akan membagi porsi masing-masing karakter. David Leitch membukanya dengan cara yang sederhana lewat tokoh utama kita Lady Bug yang sedang mengalami krisis identitas. Lalu makin masuk ke dalam ketika mulai masuk ke konflik pertanyaan demi pertanyaan muncul yang memang sedikit membuat bingung, namun David Leitch sudah menyiapkannya semua jawaban pertanyaan-pertanyaan itu yang dibuka dengan pelan-pelan di tangah-tengah adegan brutal yang memacu adrenalin sampai akhirnya semua misteri terjawab dan ditutup dengan final act yang chaos abis.


Meskipun isi cerita dan karakter yang sangat kompleks, David Leitch mampu menyajikan Bullet Train seringan mungkin. Setidaknya dari pengamatan saya tidak menemukan plothole yang memang sangat rawan ditemukan untuk film yang memakai banyak karakter sejenis ini. Tidak hanya cerita, hampir karakter-karakter dalam film ini memebri kesan tersendiri. Brad Pitt terlihat sangat nyaman memerankan Lady Bug, tidak sering kita bisa melihat Brd Pitt bermain komedi seperti ini. lalu juga ada si kembar Lemon dan Tangerine. Dua karakter yang sangat layak jika mendapat spin-offfnya tersendiri.


Menonton Bullet Train seperti melihat kombinasi film-film dari Quentin tarantino bertemu dengan film-film Guy Ritchie. Film yang memang menjual aksi yang brutal yang dbalut dengan komedi ini dijamin akan menghibur untuk kamu penikmat action laga. Bahkan saya merasa Bullet Train masih dalam universe John Wick dari sisi lainnya. Setelah film berakhir, saya masih ingin melihat lebih dari Bullet Train karena masih banyak potensi yang bisa digali dari film ini.


Overall: 8/10

(By Senandika Dalu)

Wednesday, March 16, 2022

ULASAN: AMBULANCE



Michael Bay kembali. Sang Bayhem yang mempunyai ciri khas dengan adegan ledakan yang sebagian besar filmnya mendapat sentimen buruk dari para kritikus. Dari total 14 film yang pernah dia sutradarai sejak tahun 1994, hanya satu film yang mendapat respon fresh di situs rottentomatoes.com. Namun bagaimana dengan penonton umum? Walalupun sering mendapat kritik pedas, namun sebagian besar film-film dia meninggalkan kesan tersendiri bagi penonton. Dan sekarang 5 tahun sejak Tranformers: The Last Knight yang dia sutradarai tayang di bisokop (6 Underground hanya tayang di OTT), Bay kembali dengan film terbaru action-thriller berjudul Ambulance yang dibintangi oleh Jake Gyllenhaal, Yahya Abdul-Mateen II dan Eiza Gonzalez.

Will (Yahya Abdul-Mateen II) seorang veteran perang yang mengalami kesulitan ekonomi untuk biaya operasi sang istri. Atas dasar desakan secepatnya mendapatkan dana tersebut Will menemui saudara angkatnya Danny (Jake Gyllenhaal), saudara yang sudah lama tidak dia jumpai. Tanpa diketahui Will, di hari yang sama Danny sudah merencanakan perampokan bank yang melibatkan Will dalam rencana tersebut. Dan kemudian cerita berjalan cukup cepat saat perampokan itu berubah menjadi kacau. Danny dan Will melarikan diri dengan sebuah mobil ambulance yang di dalamnya ada seorang polisi yang kritis karena tertembak dan Cam (Eiza Gonzalez), perawat yang sedang bertugas. Dan kejar-kejaran ambulance dengan polisi sepanjang film pun terjadi.

Ambulance mempunyai tempo cerita yang cukup cepat. Sekitar 5 menit pertama setelah pengenalan karakter Will (Yahya Abdul-Mateen II) kita akan langsung dibawa menuju konflik utama film ini. Tanpa perlu banyak basa-basi. Adegan berganti dengan cepat yang diselingi adegan-adegan ciri khas Michael Bay seperti slow motion, kamera berputar, sampai terik matahari. Lalu adegan kejar-kejaran yang memacu adrenalin terjadi hampir seluruh durasi film. Pengenalan karakter yang minim di awal justru terjadi dalam sequence action sedang naik-naiknya. Dan disinilah Bay cukup piawai menyelipkan drama. Kita bisa memahami kenapa Will mau ikut terlibat dalam perampokan yang lebih dari sekadar kebutuhan ekonomi.

Saya mengakui jika saya adalah salah satu fans Michael Bay, namun saya juga salah satu yang berpendapat bahwa tidak ada yang menarik atau daya lebih dari premis cerita ataupun judul Ambulance. Semua terkesan biasa saja. Premis yang ditawarkan oleh Ambulance sudah sering kita temui. Namun ini Bay. Tidak mungkin ini film yang biasa-biasa sja, dan itu terbukti. Bay seperti sangat bersenang-senang dalam film ini. Selain action yang seru, elemen-elemen komedi yang dimasukn di tengah-tengah ketegangan juga berjalan dengan efektif. Komedi receh yang tidak terduga. Hampir setiap komedi yang muncul dalam Ambulance membuat saya tertawa. 

Secara keseluruhan memang tidak ada yang luar biasa dari sisi cerita, bahkan dramanya juga sangat tipis-tipis. Tapi ini Bay yang mempunyai jejak rekam menytradarai film-film action penuh ledakan yang menguatkan pada sisi hiburannya. Dan buat saya sendiri itu berhasil.  Ambulance buat saya sendiri adalah sebuah perayaan sinema, Kita datang di bioskop untuk dibuat takjub dan lupa realita sesaat. Inilah pengalaman sinema.

Friday, December 3, 2021

ULASAN: RAGING FIRE



Setelah tampil dalam 2 film yang kurang perform di box office yaitu Enter the Fat Dragon dan Mulan, kali ini Donnie Yen muncul membintangi film laga terbaru berjudul Raging Fire yang bisa dibilang sudah jadi trade mark dirinya di kancah perfilman Asia. Namanya pun sudah jadi jaminan kalau film ini akan sarat adegan aksi dan koreografi pertarungan yang seru. Temanya pun lagi-lagi menyorot dunia kepolisian Hong Kong, suatu hal yang jamak untuk film-film keluaran negara metropolis di Asia tersebut. Film ini disutradarai Benny Chan, seorang sutradara kawakan yang sudah banyak menyutradarai film -film hit seperti New Police Story (2004); Shaolin (2011), dan The White Storm (2013). Sayangnya Benny Chan sudah meninggal akibat penyakit kanker nasofaringeal pada tahun 2020 lalu. Selain Donnie Yen, Nicholas Tse juga didapuk sebagai pemeran utama antagonis dalam film ini. Kedua cast yang sangat kuat dan karismatik ini tentunya menjadi daya tarik yang sayang untuk dilewatkan.

  


Untuk akting, tidak diragukan Nicholas Tse dan Donnie Yen sama-sama mengeluarkan kemampuan terbaiknya di film ini. Nicholas Tse mampu memerankan Ngo sebagai mantan polisi yang berubah menjadi penjahat yang bengis akibat perlakuan tidak adil dan dendam terhadap institusi penegak hukum yang dianggapnya tidak membelanya di saat dia sedang dalam posisi yang tidak menguntungkan. Donnie Yen dalam memerankan sosok Zhang mampu menampilkan sosok polisi lurus dan berintegritas tetapi ini sudah sering kita lihat di film-filmnya yang serupa dan memang dia punya posisi kuat untuk karakter semacam ini. Jika dibandingkan antara keduanya, karakter Nicholas Tse terlihat lebih memiliki kedalaman dan dimensi tersendiri yang menambah poin cerita film. Film ini praktis hanya berfokus pada Donnie Yen dan Nicholas Tse, yang lain hanya muncul sebagai karakter pendukung saja untuk mengisi cerita karena tidak ada yang menonjol, tentunya membuat penonton lebih mudah juga untuk mengingat ceritanya.



Zhang, seorang polisi yang saleh dan berbakat yang telah memecahkan banyak kasus. Ngo, yang pernah menjadi polisi muda yang menjanjikan di bawah sayap Zhang. Sebuah insiden malang membawa Ngo ke penjara beberapa tahun lalu. Setelah dibebaskan, Ngo menjadi pria yang pahit dan penuh kebencian yang bertekad untuk menghancurkan semua orang yang telah menganiaya dia



Cheung Sung-bong (Donnie Yen) adalah petugas Unit Kejahatan Regional yang bekerja di garis depan selama bertahun-tahun dan memecahkan banyak kasus besar. Namun, ia dicap sebagai orang buangan karena karakternya yang sangat lurus yang lambat laun hal ini memengaruhi kariernya, tetapi anak didiknya, Yau Kong-ngo (Nicholas Tse), menghormatinya sebagai perwira yang baik meskipun Yau tidak sepenuhnya setuju dengan gaya Cheung yang terlalu keras dan terkadang mengambil jalan pintas. Namun, takdir tiba-tiba membawa mereka ke jalan yang berbeda dan menempatkan mereka sebagai rival antara satu sama lain.




Menonton film ini serasa menyaksikan nostalgia film aksi kepolisian HK era 90-an karya Ringo Lam dan Johnnie To namun bedanya sekarang suasana dan teknologi sudah serba modern. Mulai dari tema inti soal kesetiaan dalam kelompok baik di sisi penegak hukum maupun penjahat, kebrutalan penjahat yang di luar nalar, dan plot cerita sederhana yang agak bertele-tele padahal konklusinya bisa dibuat lebih cepat.



Dengan durasi 126 menit, film ini bisa dikatakan full action dan hampir tidak memberi ruang untuk bernapas. Dari awal kita sudah diperkenalkan dengan tokoh Zhang sebagai polisi jagoan yang dihormati rekan setimnya dan Ngo sebagai karakter antagonis. Seiring film berjalan kita diberikan cerita background masing-masing karakter yang menjelaskan mengapa mereka bisa berada pada posisi yang sekarang. Porsi drama film ini digarap dengan baik dan tidak berlebihan walau terkadang terlalu bertele-tele.






Sejak semula penonton sudah diperlihatkan bahwa Ngo dan kelompoknya adalah penjahat dengan level yang sangat serius dan berbahaya lewat modus operandi yang keji dan brutal dalam melakukan kejahatan. Adegan aksi dan perkelahian yang jadi jualan utama di film ini dijamin tidak akan mengecewakan walau Sebagian besar tidak masuk akal karena Zhang tidak mengalami luka yang fatal dan seperti memiliki stamina seorang manusia super, tipikal film-film Donnie Yen. Overall film ini cukup straightforward dan tidak ada twist, penonton tinggal mengikuti saja. Adegan aksi tembak-tembakan massal yang sebetulnya overdramatis menarik untuk disimak terlebih adegan perkelahian puncak antara Zhang dan Ngo yang sudah ditunggu-tunggu


Media film termasuk salah satu media kritik untuk mengkritisi penguasa yang berwenang atau aparatur negara. Kita melihat di film ini pun isu internal kepolisian secara gamblang diekspos tanpa basa-basi bahkan logo dan kantor kepolisian diperlihatkan dengan jelas. Hal-hal tersebut ketika dibawakan dalam film membuat penonton relate dengan situasi yang terjadi sekaligus memperlihatkan bahwa penyimpangan pun dapat terjadi pada kalangan internal penegak hukum. Akan tetapi, hal ini bertolak belakang dengan Indonesia di mana aparat penegak hukum harus tampil sempurna tanpa cela dalam setiap film. Padahal dengan mengangkat isu-isu yang nyata, Indonesia dapat lebih mengeksplorasi tema-tema yang belum pernah diangkat sebelumnya. Nampaknya negara ini harus mulai belajar dari negara-negara Asia lain dalam keberanian mengangkat isu-isu hukum, nasional, dan keamanan ke dalam film.





Overall : 7.5/10

(By Camy Surjadi)















Tuesday, August 3, 2021

ULASAN: HITMAN'S WIFE'S BODYGUARD





Setelah musim panas tahun 2020 yang sepi dari film-film box office akibat pandemik, tahun ini film-film box office perlahan mulai mengisi. Kehadiran Hitman’s Wife’s Boyguard yang merupakan sekuel Hitman’s Bodyguard (2017) merupakan angin segar yang mengobati kerinduan penonton akan gaya komedi khas Ryan Reynolds sekalian pemanasan sebelum film Free Guy Agustus nanti. Film ini kembali disutradarai oleh Patrick Hughes dengan screenplay oleh Tom O’Connor, Brandon Murphy, dan Philip Murphy. Nama- nama beken seperti Antonio Banderas, Frank Grillo, dan Morgan Freeman turut meramaikan jajaran cast kali yang tentu bikin kita makin penasaran bakal seperti apa aksi mereka di film ini. Film ini dirilis 16 Juni 2021 yang lalu di US oleh Lionsgate dan tadinya akan segera dirilis di Indonesia namun akibat kurva penderita COVID-19 kembali tinggi semua bioskop harus ditutup kembali, sepertinya akan lama sampai kita bisa menyaksikan kembali di bioskop, Sebagai Informasi film ini menjajaki puncak box office di US dengan meraih 11.6 juta USD di minggu pertamanya dan menggeser A Quiet Place Part II.



Pasangan aneh sekaligus mematikan di dunia pengawal Michael Bryce (Ryan Reynolds) dan pembunuh bayaran Darius Kincaid (Samuel L. Jackson) kembali ke misi lain yang mengancam jiwa. Bryce harus melindungi istri Darius, penipu internasional terkenal Sonia Kincaid (Salma Hayek), dalam usahanya menyelamatkan Darius. Ketiganya tanpa disangka masuk dalam plot global yang melibatkan rencana jahat seorang maniak Aristotle (Antonio Banderas). Walaupun lisensi sebagai pengawalnya masih di-suspend dan berada dalam pengawasan, Michael tetap dipaksa untuk terlibat oleh Sonia dan Darius, Michael pun harus kembali mempertaruhkan nyawanya meskipun ia telah sedang berada dalam liburan akibat berbagai masalah dan tekanan yang sudah dilaluinya.



Selama 116 menit durasi film ini, perasaan fun, happy, dan seru menjadi satu. Paduan aksi dan komedi dalam film ini terasa pas dan sangat menghibur. Di cerita ini peran dominan dipegang oleh karakter Michael dan Sonia, sementara Darius lebih santai namun tetap mendukung jalannya cerita keseluruhan. Tambahan karakter Bobby O’ Neill (Frank Grillo) dan Karakter kejutan yang diperankan Morgan Freeman menambah semarak film ini. Tetap ada konflik dalam film kedua ini namun terasa kurang ‘believeable’ bila dibandingkan dengan film pertamanya karena di kisah kali ini diceritakan ada seorang teroris biliuner Aristotle Papadopoulos (Antonio Banderas) yang ingin mengacak-acak Uni Eropa akibat Negara Yunani dikenai sanksi ekonomi . Lalu film ini juga memiliki subplot Sonia yang ingin sekali memiliki anak karena itu ia ingin menyelamatkan Darius yang sebetulnya tidak terlalu signifikan dan dapat digantikan dengan cerita lain. Kita tahu dari awal film ini tidak perlu ditanggapi dengan serius karena 70% isinya komedi, 30% aksi yang berisikan kejar-kejaran, tembak-menembak, dan ledakan di negara-negara Eropa seperti Kroasia, Italia, Inggris, dan Slovenia. Cukup nikmati saja kegilaan ketiga karakter ini dalam menyelesaikan misinya menghentikan Aristotle





Cast kejutan yang juga membawa twist dalam cerita, penggunaan Morgan Freeman cukup tepat mengingat dia aktor watak yang tidak diragukan. Frank Grillo agak underused dan cenderung tampil sebagai stereotipe karakter polisi yang klise. Demikian pula untuk Antonio Banderas yang kurang memiliki kharisma sebagai karakter antagonis sehingga cenderung mudah dilupakan, karakternya nampak tidak memiliki yang terlibat semuanya adalah aktor yang berpengalaman, Salma hayek, Ryan Reynolds, dan Samuel L. Jackson mampu menampilkan chemistry yang baik sebagai trio karakter yang gila dan tak takut mati. Morgan Freeman hadir sebagai karakter kedalaman emosi dan identitas yang kurang solid. Sinematografi film ini cukup baik dan ingin membawa penonton ke negara-negara di Eropa dari petualangan ketiga karakter utama sepanjang film. Efek ledakan dan pembunuhan terlihat berlebihan namun ini karena tone film ini yang lebih ke black comedy.



Hitman’s Wife’s Bodyguard benar-benar film yang menghibur di kala pandemi, membuat kita lupa sejenak kesulitan dan suasana pandemi di dunia nyata. Ceritanya memang sengaja dibuat nyeleneh khas gaya Ryan Reynolds dengan tujuan menghibur penonton. Film ini mencoba menyindir film-film bertema spionase yang ada dengan gaya komedi yang bertujuan untuk tidak membuat penonton bosan dengan plot yang klise. Humor-humor sarkastik dan vulgar memang sengaja ditampilkan sebagai ciri identitas film ini yang cukup melekat dan dinantikan oleh penonton. Jika anda suka dengan film yang pertama maka sekuelnya ini tidak boleh dilewatkan.