Showing posts with label DC Comics. Show all posts
Showing posts with label DC Comics. Show all posts

Thursday, July 10, 2025

REVIEW: SUPERMAN (2025) VERSI JAMES GUNN YANG LEBIH GROUNDED DAN BERANI AMBIL RISIKO



Film SUPERMAN terbaru arahan James Gunn akhirnya tayang, dan hasilnya jauh dari ekspektasi standar superhero klasik. Gunn membuka film ini dengan langkah berani—memperlihatkan Superman yang kalah. Sebuah pernyataan langsung bahwa kita akan melihat sisi berbeda dari sang Man of Steel.

David Corenswet sebagai Superman: Lebih Manusia, Lebih Dekat

Dalam film ini, David Corenswet tampil sebagai Superman yang lebih grounded. Karakternya tidak lagi sekadar alien penyelamat, melainkan sosok yang sudah berbaur dengan kehidupan manusia, menjadi figur publik yang dituntut sempurna dan selalu menjadi panutan. Pilihan ini membuat Superman 2025 terasa lebih manusiawi dan relevan secara emosional.

Cerita Penuh Aksi dan Humor Khas James Gunn

Dengan ritme cerita yang cepat dan padat dialog, James Gunn menyajikan narasi yang langsung menghantam penonton. Ia tidak lagi repot menjelaskan siapa Superman—melainkan langsung mengajak penonton menikmati gaya khasnya: aksi penuh energi, musik eksentrik, dan humor yang terkadang lucu, terkadang membingungkan.

Film ini jelas menyasar penonton yang sudah familiar dengan dunia DC baru. Humor internal ala YTTA Universe mungkin terasa membingungkan bagi penonton kasual, dan konflik yang tumpang tindih membuat beberapa bagian cerita terasa padat dan sulit diikuti.

Sinematografi Epik Tapi Bisa Bikin Pusing

Camerawork dalam SUPERMAN 2025 juga sangat khas. Banyak adegan dirancang untuk terlihat epik dan intens. Namun, bagi penonton yang sensitif terhadap gerakan kamera cepat, film ini berpotensi memicu motion sickness. Sebuah hal yang perlu dicatat sebelum menonton di layar lebar.

Konflik Politik Fiksi dengan Makna Nyata

Salah satu elemen cerita yang patut diapresiasi adalah konflik antara dua negara fiktif: Boravia dan Jarhanpur. Meski imajinatif, konflik ini punya nuansa geopolitik yang sangat terasa. Dalam konteks saat ini, banyak penonton menangkapnya sebagai representasi konflik Israel–Palestina, disampaikan secara halus namun cukup menyentil.

Kesimpulan: Superman 2025 Bukan untuk Semua, Tapi Layak Dicoba

SUPERMAN versi James Gunn adalah film superhero yang berbeda. Berani, penuh warna, dan mengangkat sisi manusia dari tokoh ikonik. Meski tidak sempurna dan mungkin tidak cocok untuk semua orang, film ini tetap layak ditonton—terutama bagi mereka yang menginginkan pendekatan baru dalam dunia film superhero DC.

Thursday, December 21, 2023

REVIEW: AQUAMAN AND THE LOST KINGDOM




Bisa dibilang film Aquaman and the Lost Kingdom mengalamai segala kesialan yang tidak ada habisnya sampai filmya tayang. Bagaimana tidak, film ini sudah kehilangan sebagian fansnya terlebih dahulu karena 'reset universe' yang sudah diumumkan, lalu kontroversi aktrisnya Amber Heard yang memeberikan dampak negatif pada film sampai tidak melbatkan pemeran Mera ini pada materi promonya. Lalu berita film ini melakukan syuting ulang, menghapus adegan hingga hasil film yang tidak memuaskan makin memperparah kondisi itu. Jadi dengan hasil final yang sudah bisa tonton, apakah hasil film ini memang seburuk itu?

Arthur Curry (Jason Momoa) yang menjalani kehidupannya sebagai ayah untuk anaknya dan raja untuk rakyatnya harus kembali melawan Black Manta (Yahya Abdul-Mateen II) yang sekarang semakin kuat setelah mendapat kekuatan dari benda kuno dan menjadi ancaman besar bagi kehidupan Atlantis. Arthur terpaksa bekerja sama dengan Orm (Patrick Wilson) saudaranya sekaligus musuhnya demi nasib Atlantis dan juga daratan.


Plot cerita yang melanjutkan beberapa tahun setelah film pertama ini tanpa banyak bertele-tele langsung masuk pada konflik utamanya dengan mempertegas motif dari antagonis utama film ini yaitu Black Manta yang mendapat porsi dua kali lebih besar dari film pertama dan hal itu cukup sepadan hasilnya. Karakter Black manta tampak sangat mendominasi lewat kekuatan yang didapat dari trisula kunonya menjadi lawan yang cukup tanggguh untuk Aquaman. Yang menjadi daya lebih lain film ini bagaimana naskahnya mencoba mengeksplorasi hubungan antara Aquaman dan adik tirinya Orm dengan cukup solid. Memang bukan pertama kita bisa melihat villain di film pertama menjadi partner protagonis, bahkan hubungan Aquaman dan Orm mengingtakan kita dengan Thor dan Loki dan MCU. Tahu penonton pasti akan membandingkan hal itu, filmnya dengan cerdiknya menyelipkan dialog yang makin menebalkan Aqumana dan Orm adalah Thor dan Loki. Sebuah keputusan efektif yang memancing tawa penonton. 


Sementara dari visualnya sendiri mampu menjaga atau mempertahankan kualitas dan mungkin bisa dibilang melebihi film pertamanya yang tidak hanya memberikan dunia bawah laut yang indah tapi juga memperkayanya dengan makhluk-makhluk magis yang tidak tampak pada film pertamanya. Tidak sampai disitu, dari sequence actionnya Aquaman and the Lost Kingdom juga hadir dengan koreografi juga mendpaat upgrade tersendiri, terutama pada setiap sequence duel Aquaman vs Black Manta. Duel mereka sangat terasa elemen martial art yang cukup kental.


Entah sebanyak apa dirombak dari naskahnya, syuting ulang ataupun penghapusan adegan dalam film ini, sepertinya semua itu dilakukan untuk memberikan sebuah penutup yang pas untuk universe DC yang dimulai oleh Snyder dan direset oleh James Gunn. Dengan hasil yang sudah bisa disaksikan, segala berita negatif yang menjustifikasi jika Aquaman and the Lost Kingdom adalah film superhero yang buruk sama kali tidak terbukti.

Overall: 8/10


Thursday, August 17, 2023

ULASAN: BLUE BEETLE





Buat kalian yang mengikuti genre film superhero pasti sudah mengetahui kalo DCEU era sudah berakhir karena banyaknya drama yang terjadi baik itu terkait filmnya maupun terkait aktor/aktrisnya. Berakhirnya era DCEU ditandai dengan rilisnya film solo Flash bulan juni lalu. Nah Blue Bettle sudah dikonfirmasi sebagai tokoh DCU pertama tapi bukan film pertama (penjelasannya silakan baca di https://bit.ly/3OARi9P). Blue Bettle menawarkan udara segar dari trailer yang beredar karena all looks good and proper. FDiproduksi oleh DC Studios dan The Safran Company dan disutradarai oleh Ángel Manuel Soto dan ditulis oleh Gareth Dunnet-Alcocer. Film tersebut dibintangi oleh Xolo Maridueña sebagai Jaime Reyes / Blue Bettle bersama Adriana Barraza, Damián Alcázar, Raoul Max Trujillo, Susan Sarandon, dan George Lopez. Fun fact tadinya film ini diperuntukkan untuk layanan streaming HBO Max sebelum diubah untuk dirilis di bioskop.


Blue Beetle mengisahkan Jaime Reyes, seorang remaja Meksiko-Amerika yang menemukan relik scarab kumbang yang secara tidak sengaja menyatu dengan tulang punggungnya dan memberinya kemampuan untuk memanggil armor berbentuk serangga yang canggih. Meskipun ini mungkin tampak seperti blessing in disguise, dalam perjalanannya Jaime menemukan bahwa armor tersebut memiliki pikirannya sendiri dan terkadang mampu mengendalikan dirinya. Terlebih lagi ada Victoria Kord (Susan Sarandon) salah satu petinggi Kord Industry yang berusaha merebut teknologi scarab tersebut demi pengembangan senjata militer tercanggih dan tidak segan-segan melakukan segala cara termasuk mengancam keselamatan keluarga Reyes. Namun di tengah kekacauan, Jenny Kord (Bruna Marquezine), putri dari CEO Kord Industry Ted Kord, yang mencoba membantunya sekaligus menguak misteri relik scarab tersebut yang ternyata berhubungan dengan ayahnya.


Keseruan film ini tentu harus disaksikan sendiri di layar bioskop karena banyak adegan spektakuler yang mungkin bisa dibilang agak mirip dengan vibe Iron Man di MCU Ketertarikan dengan Blue Beetle sebetulnya dimulai sejak menonton animasi Young Justice dan high expectation banget ketika tahu live action movie nya akan tayang Agustus ini. First act yang berfokus pada pengenalan Jaime dan keluarganya dilakukan dengan baik dan rapi. Pengembangan karakter dilakukan dengan baik dan semua anggota keluarga Jaime mendapat porsi yang pas. Porsi komedinya pun seimbang dan tidak terlalu mengganggu. Second act yang memfokuskan konflik antara Jamie dan Veronica cukup solid hanya sayang Susan Sarandon sebagai Villain tidak terlalu berkesan dan terkesan satu dimensional saja. Third act cukup memuaskan karena ada momen- momen jatuh bangun sang Blue Beetle yang membentuk karakternya sebagai superhero. Vibe film keluarga dan film superhero sangat terasa namun kualitas dan cerita yang solid akan membantu para penonton menikmati film ini


Sebagai film superhero formula yang dipakai agak generik namun Blue Beetle memiliki potensi menarik di Future Film DCU. Pemilihan cast dan kemampuan akting yang mumpuni turut memberi kesan positif film inu. Desain armornya bagus dan sangat mirip dengan komiknya demikian pula CGI saat transformasi dan pertarungan dibuat sangat niat dan sepenuh hati CGI. Film ini paket lengkap yang cocok ditonton sendiri ataupun bersama keluarga. Sang sutradara berhasil membuat film yang memuaskan hati para fans ataupun penonton awam. Selanjutnya kita tinggal menunggu sepak terjang Blue Beetle di DCU akan seperti apa.



OVERALL : 7.5/10

Wednesday, June 14, 2023

ULASAN: THE FLASH




'Lebih susah bikin film solo The Flash dari pada bikin film Justice League'. Setidaknya itulah opini liar yang muncul setelah bertahun-tahun sejak kemunculan pertama The Flash di line-up Snyder-verse lewat Batman vs Superman: Dawn of Justice (2016). 7 tahun berselang akhirnya film solo yang ditunggu-tunggu akhirnya tayang juga. Namun meskipun ini film solo pertama, tetapi isi film sendiri bukanlah film origin dari sang hero, namun melanjutkan apa yang sudah terjadi pada event Justice League pasca mengalahkan Steppenwolf.


Barry Allen (Ezra Miller) melanjutkan hari-harinya melanjutkan kehidupan kesehariannya sebagai sang pahlawan The Flash dan sekaligus petugas forensik di kota Central City. Barry Allen yang sekarang sudah jauh lebih dewasa yang dimentori oleh Bruce Wayne (Ben Affleck) karena mempunyai trauma yang sama kehilangan orang tua menghadapi dilema ketika secara tidak disengaja menemukan cara kembali ke masa lalu dengan kekuatannya. Dengan kemampuannya kembali ke masa lalu dia bisa menyelamatkan sang ibu selamat dari pembunuhan dan ayahnya tidak pernah masuk penjara. Hanya saja konsekuensi dari perubahan yang dilakukan oleh Barry Allen tersebut membuat terciptanya realita masa depan yang baru yang tidak pernah terbayangkan dan mengancam hancurnya semesta. Dan sekarang Barry Allen harus mencegah semua itu terjadi.


Seperti yang kita tahu film pertama The Flash sendiri mengambil atau mengadaptasi secara bebas salah satu event komik DC terbaik yaitu The Flashpoint Paradox. Buat yang sudah membaca komiknya akan melihat versi film sendiri lebih padat dari Flashpoint. Banyak perubahan yang dilakukan untuk penyesuaian untuk bisa bisa ditampilkan di versi layara lebarnya. Namun untungnya esensi atau vibe utama dari The Flashpoint Paradox tidak hilang yang membuat yang sudha membaca komiknya akan tetap menikmati versi film ini.


Layaknya Across the Spider-Verse yang menempatkan multiverse sebagai gambaran besarnya, namun memakai pendekatan cukup personal pada karakter heronya mengahadapi dilema kepribadian dalam hal ini koteksnya adalah keluarga. Dan lagi, pola yang hampir sama yang juga digunakan dalam Everything Everywhere All at Once juga kembali berhasil dalam film The Flash ini yang membuat kompleksitas plot cerita jadi terasa dekat pada penonton yang diwakili oleh Barry Allen yang diperankan dengan apik oleh Ezra Miller. Yap, Ezra Miller adalah kunci utama plus The Flash yang memerankan 2 Barry Allen dengan 2 kepribadian pula. Setelah menonton menjadi masuk akal kenapa sang sutradara Andy Muschietti mengatakan tidak ada yang bisa sbeaik Ezra Miller memerankan Barry Allen.


Ezra Miller tidak sendiri, ada Micahel Keaton juga yang kembali memerankan Batman/Bruce Wayne yang tidak sekali-dua kali memnacing penonton untuk bertepuk tangan, entah itu dari dialog atau adegan yang dia lakukan membuatnya jauh kelihatan lebih badass dibandingkan penampilannya sebagai Vulture di Spider-man. Belum lagi banyaknya kejutan-kejutan cameo yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya yang menjadi fans service tersendiri.


Sementara dari visual sendiri menontonnya di layar IMAX adalah sesuatu pengalaman sinema tersendiri. Saya yang kebutulan menonton dari urutan 3 paling depan merasakan sensasi tersebut. kekhawatiran jika saya tidak akan terlalu menikmati menonton dari depan justru diganti denga pengalaman visual yang tidak mungkin saya dapatkan jika menontonnya dengan seat lebih belakang lagi. Layarnya yang full membuat seolah diajak berlari oleh The Flash pada setiap adegan The Flash menggunakan kekuatan Speed Force-nya. Ya memang ada beberapa adegan CGI yang masih cukup kasar, namun semua itu bisa tertutupi dnegan sequence-sequence action yang memukau, telebih di sequence action akhir.

Satu-satunya yang mungkin sedikit meganggu kita menikmati The Flash sudah terlalu banyaknya refrensi film sejenis ini. Belum lagi serial tv The Flash juga sudah memakai adaptasi Flashpoint terlebih dahulu. Lalu multiverse yang akhir-akhir ini sedang menjamur konsep cerita seperti ini. lalu juga time travel juga lagi-lagi bukan tema yang baru. Semuanya tergantung pada penontonnya setelah menonton The Flash sendiri. Bisa benar-benar puas atau sebaliknya. 


Secara keseluruhan The Flash berhasil mejawab ekspetasi penonton selama ini. Meskipun masih ada beberapa kekuarangan dan plothole yang belum terjawab setidaknya bisa membayar rasa penasaran kita akan film ini. Dengan ending yang sepertinya belum selesai untuk Ezra Miller, rasanya sangat disayangkan jika karakter The Flash berpindah ke aktor lain.


  Overall: 7,5/10  

Friday, March 17, 2023

ULASAN: SHAZAM! FURY OF THE GODS


Tiada film DC tanpa drama baik di film maupun di real life para actor/ aktrisnya. Shazam mungkin satu-satunya yang tanpa drama. Awal tahun 2023 publik di seluruh dunia terkejut ketika mendengar DCEU akan berakhir dan semua direset lagi dari nol (nama universe barunya menjadi DCU) di bawah arahan Peter Safran dan James Gunn yang didapuk menjadi co-CEO DC Studios (https://thedirect.com/article/dc-movies-2023-james-gunn-reboot). Shazam! Fury of the Gods akan jadi film terakhir dari era DCEU sebelumnya sebelum semuanya direset. Film sekuel Shazam diproduksi oleh New Line Cinema, DC Studios, Safran Company dan Seven Bucks Productions, dan didistribusikan oleh Warner Bros. Pictures. Film ini disutradarai oleh David F. Sandberg dan ditulis oleh Henry Gayden dan Chris Morgan, dan dibintangi oleh Zachary Levi, Asher Angel, Jack Dylan Grazer, Rachel Zegler, Adam Brody, Ross Butler, Meagan Good, Lucy Liu, Djimon Hounsou dan Helen Mirren.


Diberkahi dengan kekuatan para dewa, Billy Batson (Asher Angel) dan sesama saudara asuh yang lainnya, Frederick "Freddy" Freeman [Adam Brody (adult) - Jack Dylan Grazer (teen); Eugene Choi [Ross Butler (adult) - Ian Chen (teen)]; Darla Dudley [Meagan Good (adult) - Faithe Herman (teen)]; Mary Bromfield (Grace Fulton); Pedro Peña [D. J. Cotrona (adult) and Jovan Armand (teen); mencoba belajar bagaimana menjalani kehidupan remaja sekaligus memiliki alter-ego Pahlawan Super dewasa Shazam! Di samping itu Billy dan Mary pun menghadapi ketakutan bahwa keluarga asuh mereka tidak akan meneruskan merawat mereka karena pemerintah menghentikan uang sumbangan ke orang tua asuh mereka, Belum lagi Daughters of Atlas, trio dewa kuno pendendam yang terdiri atas Anthea (Rachel Zegler); Hespera (Helen Mirren); Kalypso (Lucy Liu), tiba di Bumi untuk mencari sihir yang dicuri dari mereka sejak lama, Billy—alias Shazam— (Asher Angel) dan keluarganya terpaksa terlibat ke dalam pertempuran menggunakan kekuatan super mereka untuk memperjuangkan hidup dan nasib dunia mereka sebelum jatuh dalam kehancuran. Peristiwa ini akan jadi ujian penting buat mereka apakah mereka layak menyandang status superhero.


Shazam! Fury of the Gods dimulai dengan awal yang menjanjikan dan menegangkan karena tanpa basa-basi kita langsung disuguhkan aksi Shazam family menyelamatkan warga dari tragedi jembatan gantung yang runtuh. David F. Sandberg memanfaatkan peringkat PG-13 dengan baik terlihat dari titik berat film ini pada ‘keluarga’. Perpaduan yang efektif antara unsur fantasi dan aksi dibawakan dengan cukup efektif kita seperti melihat gabungan Harry Potter, GoT dan film superhero jadi satu. Sekuens aksi ditampilkan secara mendebarkan dengan cukup jelas. Walau di beberapa adegan CGI terlihat masih kasar tapi tidak terlalu mengganggu. Adegan final atau konklusi yang seperti terlalu berlebihan dalam hal porsinya dalam melawan salah satu putri Atlas. Dari segi cerita - yang dikreditkan ke Henry Gayden dan Chris Morgan – mencoba menggabungkan antara dinamika keluarga dan komedi remaja dalam wadah film superhero yang untungnya bekerja dengan baik karena akting para castnya yang mumpuni walau ada beberapa adegan terasa klise dan hambar. Motivasi para tokoh antagonis tidak lebih dari alasan standar dan klise yang sebetulnya dapat dieksplor lebih mendalam mengapa mereka memiliki latar belakang yang substansial. Salah satu hal terbaik di film sekuel ini adalah bagaimana film ini masih menyenangkan di mana porsi komedinya memiliki kadar yang pas seperti film pertama, tetapi memiliki tambahan sentuhan kegelapan dan dark comedy, serta banyak referensi ke pop culture yang disematkan pada momen yang tepat.






Shazam! Fury Of The Gods akhirnya dapat mencurahkan waktu untuk eksplorasi sekaligus menyempurnakan interaksi Billy Batson (Asher Angel/Zachary Levi) dengan anggota keluarga angkatnya yang lain. Banyak fokus kali ini juga diberikan kepada Freddy Freeman (Jack Dylan Grazer/Adam Brody), kali ini dia memiliki lebih banyak screen time daripada Asher Angel sebagai Billy Batson. Dinamika di antara para Shazam Family lebih baik kali ini, karena mereka sekarang diceritakan berbagi tanggung jawab sebagai pahlawan super selain hubungan mereka satu sama lain, peran Asher Angel sebagai pemimpin juga disorot kali ini. Helen Mirren dan Lucy Liu kurang dimanfaatkan maksimal karena stereotipe mereka sebagai karakter anatagonis. Mirren sebagai aktris senior tetap mampu menonjol disbanding dua karakter Putri Atlas yang lain. Zachary Levi masih tampil memukau berperan sebagai Shazam pada usia 42 tahun. Jack Dylan Grazer cukup mencuri perhatian sebagai Freddy terlebih dengan energi remaja yang ceria dan beberapa adegan komedinya dengan Djimon Hounsou termasuk momen-momen paling menghibur dalam film.



Shazam! Fury of The Gods tampil sebagai sekuel yang fun dan family-friendly. Jangan berharap aksi yang bombastis seperti Justice League atau Black Adam karena tone nya memang tidak cocok dibuat seperti itu. Sebagai penonton kita disuguhi cerita yang ringan dan tetap punya kehangatan. Pesan yang dibawakan juga masih dapat disampaikan dengan baik terutama soal peran keluarga asuh dan rasa takut kehilangan juga pentingnya support dari anggota keluarga dalam hal ini Shazam Family. Sandberg sepertinya paham bagaimana menyuguhkan film superhero yang tetap seru, fun, dan penuh humor untuk bisa dinikmati semua kalangan. Yang pasti hilangkan ekspektasi ini film superhero serius, cukup tonton dan nikmati saja. Jangan lewatkan cameo penting di akhir film ini (yang sudah dibocorkan WB lewat trailer di TV Spot dan juga di list actor IMDB untuk film ini) dan 2 post credit scenes yang sayang untuk dilewatkan. Sayangnya setelah ini semua film2 DCEU (DC Extended Universe) akan direboot dengan kehadiran film Flash menjadi DCU (DC Universe) yang baru. Rumornya Zachary Levi tetap akan dipertahankan sebagai pemeran Shazam di DCU oleh James Gunn. Mari kita nantikan sepak terjangnya nanti




Overall Score : 7/10

(By Camy Surjadi)

Thursday, October 20, 2022

ULASAN: BLACK ADAM






8 tahun setidaknya jarak waktu yang dibutuhkan sejak dari Dwayne Johnson atau yang lebih populer dengan nama The Rock ini diumumkan akan memerankan villain utama Shazam yang itu Black Adam. Hingga akhirnya banyak perubahan terjadi dan hasil final Black Adam akan mempunyai filmnya solo sendiri, alih-alih menjadi villain utama di film pertama Shazam. Gosip yang beredar, nama besar Dwayne Johnson yang punya pengaruh kuat yang membuat  Black Adam mempunyai film solo. Disutradarai oleh Jaume Collet-Serra yang sebelumnya sudah bekerjasama dengan Dwayne Johnson lewat Jungle Cruise, banyak ekspetasi dan harapan pada film antihero ini.


Dibuka dengan adegan  Adrianna (Sarah Shahi) yang memimpin  pencarian sebuah mahkota yang mempunyai kekuatan besar yang sudah menjadi mitos di negara Kahndaq, sebuah negara konflik dan terjajah. Pencarian akan mahkota tersebut secara tidak sengaja membangkitkan seorang pahlawan di negara tersebut setelah tertidur selama 5000 tahu, sang pahlawan tersebut adalah Black Adam. Namun Black Adam bukanlah pahlawan yang menjujung norma-norma kephlawanan. Dia tidak segan-segan untuk membunuh. Segala tindakannya dikendalikan oleh amarahnya karena kejadian tragis yang dia alami di masa lalu. Hal tersebut yang membuat JSA (Justice Society of America) yang terdiri atas Hawkman (Aldis Hodge), Doctor Fate (Pierce Brosnan), Cyclone (Quintessa Swindell), dan Atom Smasher (Noah Centineo) datang untuk menghentikannya..


Film bertema antihero ini tidak perlu waktu berlama-lama dalam bercerita. Alur berlangsung cepat dari pengenalan karakter hingga menuju konfliknya. Hampir pada setiap sequencenya dibarengi dengan adegan-adegan action yang memukau penonton. Sempat ditundanya film ini berkali-kali bisa kita maklumi. Keluhan-keluhan bagaimana buruknya CGI yang kita temukan dalam film-film Marvel Studios akhir-akhir ini tidak akan temukan dalam Black Adam ini.


Namun keterpukauan penonton pada spesial efek dalam setiap sequence actionnya tidak sama dengan keterpukauan dengan plot ceritanya. Karena alurnya yang cepat film ini juga tidak mempunyai kedalaman cerita yang cukup kuat. Terutama pada kedalaman karakter. Pengenalan tokoh-tokoh terutama semua anggota JSA tidkak mempunyai latar belakang yang kuat. Jadi jika kamu mengharapkan sebuah film antihero yang kuat pada sisi ini, maka kamu harus kecewa. 


Untuk sebuah film popcorn atau blockbuster, Black Adam sudah memenuhi segala syarat untuk menjadi film yang snagat menghibur. Bahkan untuk penggemar komiknya akan sangat dimanjakan dengan film ini. Minim eksplorasi naskah pada kedalaman cerita mungkin memang disengajakan karena penulis atau sutradara ingin memberikan film antihero yang cukup ramah karena ratingnya sendiri untuk 13 tahun ke atas. 


Overall: 7/10  

Wednesday, July 27, 2022

ULASAN: DC LEAGUE OF SUPERPETS


Untuk urusan timeline universe Marvel memang sudah meninggalkan jauh DC Comics. Namun untuk bagian animasi bisa dibilang sebaliknya, DC unggul jauh dari Marvel. Walaupun animasi tersebut sebagian rilis secara digital, tapi tidak bisa dipungkiri jika animasi produksi DC jauh lebih berbobot secara kualitas dibandingkan Marvel. Lalu bagaimana dengan animasi yang rilis di bioskop? Marvel sudah berjalan dengan Into the Spider-Verse, DC dengan langkah berbeda lebih mengejar target penonton anak-anak dengan DC League of Superpets yang membawa nama-nama besar sebagai sutradaranya seperti Dwayne Johnson, Kevin Hart, Olivia Wilde, John Krasinski, Kate McKinnon, Diego Luna Luna hingga Keanu Reeves.

Seperti judulnya DC League of Superpets, film ini menceritakan Krypto (Dwayne Johnson) yang ikut dalam pesawat penyalamat bersama Kal-El bayi saat planet Krypton hancur. Sejak itupun Krypto menjadi anjing yang selalu setia sampai akhirnya Kal-El bertransformasi menjadi Clark Kent/Superman (John Krasinski). Bahkan Krypto juga ikut terlibat dalam banyak aksi Superman. Hadirnya Lois Lane (Olivia Wilde) membuat Krypto merasa tersingkirkan. Di saat bersamaan Lex Luthor (Mark Maron) melancarkan serangannya untuk menghancurkan Justice League yang gagal namun berhasil dilanjutkan hewan peliharaanya Lulu (kate McKinnon) yang berhasil melumpuhkan semua anggota Justice League. Dan semua sekarang tergantung dengan Krypto yang dibantu oleh hewan-hewan peliharannya yang tidak sengaja mendapat kekuatan karena Lulu. 

Sama halnya yang kita lihat di trailer, isi cerita DC League of Superpets sangat menonjolkan sisi komedinya yang dibalut dengan tema persahabatab. Sebuah tema yang sudah semacam menjadi cetak biru film-film animasi hollywood tentang hewan yang sudah sangat sering kita jumpai. Yang menjadi perbedaan dan keunggulan dari film ini tentu saja alternatif DC universenya itu sendiri. Segala hal kekonyolan yang tidak akan pernah kita lihat di versi live actionnya ini akan banyak mengundang tawa. Yang paling kental dan sangat ekspresif dari komedinya sendiri adalah jokes dengan refrensi pop culturenya. Sangat sering kita temukan guyonan mengenai karakter-karakter DC lainnya atau bahkan Marvel sekaligus. Di satu sisi penonton yang menangkap refrensi (mayoritas penonton usia remaja ke atas) selalu tertawa ketika jokes itu muncul, namun untuk penonton anak-anak yang menjadi target filmnya sendiri mngkin akan sulit menemukan unsur komedi ini.

Dari pengisi suara sendiri Dwayne Johnson yang sudah mampu memberikan energi karakternya pada  Krypto semakin lebih bernyawa ketika diduetkan Kevin Hart yang mengisi suara Ace. Kemistri Dwayne Johnson dan Kevin Hart yang sudah terjalin di beberapa film sebelumnya semakin terasa dalam film ini. Buat saya sendiri yang paling menarik perhatian dari hal pengisi suara adalah Keanu Reeve yang mengisi suara Batman. Suara Batman yang berat dan dalam dibarengi dengan kekonyolan salah titik tawa terkencang saya keluarkan dalam film ini. Saya tidak kaget jika nanti sampai ada film spin-off dari karakter Batman dalam universe film ini.

DC League of Superpets memang tidak mempunyai hal yang luar biasa dari hal cerita yang bahkan tema seperti ini sudah sangat sering kita jumpai, namun menghadirkannya dalam konsep universe superhero memberika rasa segar tersendiri. Humor atau jokesnya memang terkedang terjebak yang hanya bisa diikuti oleh penggemar pop culture, namun secara keseluruhan ceritanya yang ringan sangat akan mudah diterima penonton anak-anak.

Overall: 7/10

(By Senandika Dalu)



Thursday, March 3, 2022

ULASAN: THE BATMAN





Untuk memerankan sesosok bocah kelelawar dari Gotham, Robert Pattinson jelas punya beban berat. Setelah Ben Affleck yang tidak banyak diberi kesempatan oleh studio, RobPatz, sapaan untuk aktor tersebut menjadi hal yang harus diperhatikan, apalagi film The Batman kali ini adalah film solo. Namun ternyata, dengan durasi film 2 jam 56 menit, RobPatz sukses menampilkan sosok Batman dengan aksi vigilantenya dan menjadi lambang rasa takut di kota Gotham yang kelam.



The Batman dibintangi oleh Robert Pattinson sebagai Batman, Zoe Kravitz sebagai Selina Kyle atau Cat Woman, serta Andi Serkis sebagai Alfred dengan Collin Farrel, Paul Dano, Jeffrey Wright, John Turturro dan Barry Keoghan sebagai pemeran pendukung. Film ini disutradarai oleh Matt Reeves yang lebih dulu sukses dengan Cloverfield (2008) dan Planet of The Apes (2014). 


Dikisahkan, Batman sedang mengintai kota di malam Halloween, dengan vandalisme yang terjadi di Gotham, lambang Batman yang ditayangkan ke langit sudah membuat beberapa penjahat takut, mereka seperti merasa selalu diawasi oleh vengeance, sebutan untuk Batman. Pada malam tersebut juga, calon walikota Gotham mati terbunuh dengan mengenaskan, seluruh wajahnya dilakban dan ditulis dengan spidol merah : no more lies. Batman yang akrab dengan Jim Gordon (Jeffrey Wright) diajak ke TKP untuk melihat petunjuk kasus pembunuhan, membuat beberapa polisi yang lain marah, termasuk kepala polisi. Tapi ternyata, pembunuh tersebut memang menginginkan Batman berada di TKP karena ia selalu meninggalkan surat TO THE BATMAN yang berisi teka-teki. Dengan keji, pembunuh terus membunuh beberapa orang penting di Gotham. Penelusuran untuk menangkap The Riddler membawa Batman bertemu Seline (Zoe Kravitz), Falcone (John Turturro), serta Penguin (Collin Farrel).

 

Untuk film solo dengan durasi hampir 3 jam, Batman terasa pas dengan cerita yang padat, tidak ada scene yang membosankan, malahan penonton seperti dipaksa harus duduk diam dan menikmati Batman menelusuri Gotham untuk menemukan The Riddler. Gotham yang kelam juga ikut memberikan rasa frustrasi, vandalisme yang terjadi di fasilitas kota, kereta bawah tanah yang menyeramkan serta banyaknya penjahat yang berkeliaran. Dengan tone film yang gelap, The Batman sukses memberikan campuran antara The Dark Knight (2008) dan Joker (2019).



Hubungan antara Batman dan Cat juga tidak di plot romantis, namun ke hubungan ke saling membutuhkan. Mereka punya tujuan yang sama, untuk menemukan dalang dibalik pembunuhan di kota. Jim, tetap menjadi polisi yang mendukung Batman dengan aksinya, entah kenapa, mereka benar-benar terlihat seperti teman yang sangat akrab walaupun keduanya tidak saling memperlihatkan, beberapa kali para polisi menyebut mereka sahabat. Dan terakhir, hubungan Alfred dan Bruce, tidak seperti film Batman yang sebelumnya dengan Alfred-Bruce yang terlihat seperti ayah-anak, disini Bruce begitu dingin ke Alfred, luka karena ditinggal ayah-ibunya belum sembuh. Namun, sang sutradara tidak luput untuk memfokuskan development hubungan mereka sehingga ada adegan percakapan mereka yang membuat hati hangat di film yang kelam ini.

 

Setelah memuji penampilan Robert Pattinson yang berhasil menghidupkan Batman dari era Christian Bale, sepertinya bukan hal yang berlebihan untuk memuji The Riddler yang diperankan oleh Paul Dano. Penampilannya sebagai villain sangat patut diacungi jempol, bagaimana tidak? Kegilaannya serta tujuan dari glorious purpose untuk unmasked the truth para petinggi Gotham benar-benar membuat tercengang. Nggak Cuma sekedar membunuh, The Riddler membuat pusing baik Batman dan para polisi, dengan meninggalkan banyak teka-teki dan kode untuk dipecahkan.



Overall, film The Batman sukses dan membawa nostalgia dari era The Dark Knight. Kelam, mencengangkan, menakutkan namun sama sekali tidak membosankan. Seluruh aspek dalam film ini dari plot, aktor sampai soundtrack benar-benar pas dan cocok. 3 jam waktumu sangat worth it untuk dihabiskan bersama Batman! Melihat bagaimana sesosok vigilante dengan otak Sherlock Holmes untuk mengungkap kasus. Film ini juga menjadi pembuka untuk sekuel selanjutnya yang sudah dikonfirmasi oleh Matt Reeves! Selamat menonton.

Overall: 9/10

(By Vanda Deosar)












Friday, March 12, 2021

NOBAR JUSTICE LEAGUE SNYDER CUT

Nobar time. Justice League Snyder Cut udah makin deket tayang nih. Durasinya 4 jam lebih. Banyak yang menyayangkan kenapa gak tayang di bioskop aja untuk film yang semewah itu? Pertanyaan itu juga yang muncul dari tim Gila Film yang akhirnya mencoba sedikit menjawab pertanyaan itu dengan event nobar Justice League Snyder Cut. Bukan nobar di bioskop regular memang, hanya di mini bioskop aja. Tapi percayalah itu jauh lebih baik dibandingkan nonton pertama kali film ini di HP, laptop ataupun TV dan plus sendirian juga. 


Well, tanpa perlu berlama-lama lagi langsung cek aja jadwal nobarnya di poster di bawah ini. Karena seatnya terbatas dan memang gak bisa banyak-banyak juga menampung penonton karena situasi pandemik ini, so cepet-cepetan aja daftar sebelum full seat. Nomor kontak WA ada di poster. Ampe ketemu di nobar. 




Thursday, December 17, 2020

ULASAN: WONDER WOMAN 1984



Sebuah titik cerah di tahun 2020 ini. Setelah puasa menonton film-film box office selama hampir 9 bulan karena pandemic, akhirnya ada film besar lagi yang bisa kita tonton di bioskop. Wonder Woman 1984 (WW84) yang menjadi pelepas dahaga kita akan film-film berkategori blokbuster. Sempat diundur setahun dari jadwal awal tayang Juli 2019 menjadi Juli 2020, lalu diundur lagi karena pandemic menjadi 16 Desember 2020. Dan untuk kita yang di Indonesia patut bersyukur karena kita bisa menonton 9 hari lebih awal dibandingkan hollywood yang baru tayahg secara luas saat tanggal 25 Desember 2020 nanti.


WW84 sequel pertama film originnya yang rilis tahun 2017 lalu dan masih masih prequel dari kemunculan pertama dan keduanya lewat BvS: Dawn of Justice (2016) dan Justice League (2017). Gal Gadot dan Cris Pine masih mengisi peran mereka masing-masing seperti film pertama. Dan dua pemeran villain utama diperankan oleh Pedro Pascal dan Kristen Wiig. Patty Jenkins juga kembali di kursi sutradara dengan skenario yang juga dia tulis dibantu oleh Geoff Johns dan david Callaham.


40 tahun setelah pasca perang dunia kedua, Diana Prince (Gal Gadot) sudah melebur dengan kehidupan masyarakat di sekitarnya. Diana di tahun 1984 sudah bekerja sebagai antropologi di sebuah institut yang membawanya berkenalan dengan Barbara Ann Minerva (Kristen Wiig) sesama antropologi yang sangat cerdas tapi mempunyai masalah dengan kepercayaan diri. 40 tahun waktu yang cukup lama itu juga belum bisa untuk Diana bisa merelakan kekasihnya Steve Trevor (Chris Pine) yang sudah meninggal dan membuat Diana tidak pernah menjalin hubungan dengan pria lain.


Namun semua keadaan berubah ketika sebuah batu kecubung yang mempunyai legenda mengabulkan permintaan dan tidak dketahui asalnya muncul ke permukaan. Diana dan Barbara yang tidak menyadari kekuatan batu tersebut membuat permintaan masing-masing yang tidak mereka sangka terkabul. Namun segala permintaan yang terkabul itu mempunyai konsekuensi pada sesuatu dalam diri mereka sebagai penggantinya. Situasi makin runyam ketika pengusaha minyak yang di ujung kebangkrutan Max Lord (Pedro Pascal) mengetahui kekuatan batu tersebut dan menggunakannya untuk sesuatu yang jauh lebih besar untuk dirinya sendiri. Dan konsekuensi dari permintaan demi permintaan yang dikabulkan sekarang bisa mengancam kehancuran dunia lebih cepat.


WW84 mengeksplorasi karakter Diana Prince lebih jauh lagi. Jika pada tiga film kemunculan Diana Prince/Wonder Woman sebelumnya (BvS, Justice League dan Wonder Woman) kita hanya melihat sosok seorang superhero tangguh, lewat WW84 kita akan dibawa mengenali sisi Diana yang lain. Yaitu sosoknya sebagai wanita yang rapuh yang belum bisa merelakan kematian kekasihnya. Sampai akhirnya keinginannya terkabul dengan konsekuensi hilangnya sesatu dari dirinya yang bisa menyelamatkan dunia. Tema "want vs need" inilah yang di bawa pada WW84 yang membuatnya jauh lebih menarik dari film pertamanya. Seorang superhero tangguh dan kuat sekalipun sangat sulit mengalahkan dirinya sendiri.


Dua villain utama yang diperankan oleh Pedro Pascal dan Kirsten Wiig juga berhasil memberi warna pada WW84 ini. Masing-masing villain juga yang harus bertarung dengan "want vs need"-nya sendiri yang sangat merepotkanWonder Woman kita. Terlebih untuk Kristen Wiig yang sebelumnya lebih banyak kita lihat memainkan peran komedi dapat memberikan performa yang cukup kuat untuk karakternya.


WW84 mempunyai skenario yang sangat kuat yang mampu di interpretasikan dengan baik oleh pemian-pemainnya. Kalaupun ada merasakan kekurangan itu ada  porsi actionnya yang tidak semassive film pertamanya. Lagi-lagi WW84 lebih memfokuskan dengan plot "want vs need"pada karakternya, yang menjadikan kita tidak lagi terllau fokus pada actionnya, tetapi pada karakter-karakternya. Hal ini langsung mengingatkan saya dengan Spider-man 2 yang disutradarai oleh Sam Raimi yang sangat terasa humanis. Buat saya yang tidak terllau terkesan dengan film pertama Wondr Woman, WW84 adalah sebuah kejutan yang membuat saya memasukan film ini sebagai salah satu film superhero terbaik versi saya. 

Overall: 8,5/10