Showing posts with label Daniel Craig. Show all posts
Showing posts with label Daniel Craig. Show all posts

Saturday, October 2, 2021

ULASAN: NO TIME TO DIE



Akhirnya, setelah tertunda setahun lebih dari jadwal awal karena pandemi, film ke-25 atau film terakhir Daniel Craig sebagai James Bond bisa kita tonton . Film yang awalnya Daniel Craig tolak untuk membintanginya sampai akhirnya kembali. Untuk seri terbaru James Bond kali ini dipegang oleh Cary Joji Fukunaga sebagai sutradaranya, dengan naskah yang ditulis oleh Fukunaga sendiri dan dibantu oleh Neal Purvis, Robert Wade dan Phoebe Waller-Bridge, sang penulis naskah serial drama komedi populer Fleabag. Dan selain Daniel Craig film ini juga didukung oleh Rami Malek, Lea Seydoux, Lashana Winshaw, Ben Whishaw, Naomi Harris, Jeffrey Wright, Christoph Waltz, Ralph Fiennes dan Ana De Armas. 

Melanjutkan langsung apa yang sudah terjadi pada film sebelumnya di Spectre, James Bond menikmati masa-masa pensiun bersama kekasihnyanya Madeleine Swann (Lea Seydoux). Namun ketenangan itu hanya sementara ketika James Bond mendapat serangan dari komplotan Spectre yang membuat Bond harus berpisah dengan Madeleine. 

Lalu cerita melompat 5 tahun  kemudian saat Bond melanjutkan kehidupannya dan bertemu dengan kolega lamanya Felix Leiter (Jeffrey Wright) yang memberi informasi jika ada organisasi kriminal yang mempunyai atau mengembangkan teknologi senjata pembunuh yang sangat canggih dimana bisa membunuh korban hanya cukup mengetahui DNA saja. Informasi yang membuat Bond kembali beraksi dan mengetahui fakta jika kekasihnya Madeleine punya hubungan kuat dengan organsasi tersebut, dan akhirnya mempertemukannya Bond dengan  kepala gembong organisasi Lyutsifer Safin (Rami Malek). 

No Time to Die berdurasi 163 menit. Durasi dengan terpanjang dari keseluruhan film-film James Bond sebelumnya. Namun percayalah, durasi yang cukup panjang itu terasa cukup padat. 163 menit yang menetikberatkan pada unsur drama dan menggali sisi lain dari James Bond bagaimana pada dasarnya dia manusia biasa yang ingin mendapatkan ketenangan dengan pasangannya. Unsur drama pada film ini adalah poin terkuat pada seri James Bond terbaru ini yang buat saya sendiri terbaik setelah Casino Royale untuk perbandingan film-film Bond pada era Daniel Craig. Selain drama yang cukup kuat pada seri ini, hadirnya Phoebe Waller-Bridge yang menulis naskahnya menambah kesegaran tersendiri. Untuk penggemar Fleabag akan merasakan fan service tersendiri ketika ada dialog-dialog komikal-sarkastik pada karakternya dan kita akan bisa menebak jika itu Phoebe yang menulisnya. 

Untuk sequence action masih akan membuat kita terpukau seperti seri-seri lainnya, mulai dari adegan kejar-kejaran dengan mobil, baku tembak, sampai pertarungan fisik yang menjadi ciri khas James Bond era Daniel Craig kembali tersaji di No Time to Die ini. Sedangkan untuk karakter-karakter Spectre sebagian besar kembali. Yang menjadi perhatian saya sendiri ada pada dan karakter baru. Yang pertama karakter Nomi (Lashana Lynch) , sang penyandang agen 007 yang seorang wanita. Sesuatu yang cukup baru dengan karakternya yang cukup memberi warna dan menarik perhatian. Sangat disayangkan jika kita hanya melihat karakter hanya di satu film saja. Semoga siapun yang memerankan karakter James Bond selanjutnya, karakter Nomi masih akan dilibatkan. Yang kedua villain utama film ini yaitu Lusytfer Safin (Rami Malek) yang sayangnya tidak terlalu impresif. Kehadirannya hanya seperti roda penyambung cerita tanpa meninggalkan kesan berarti. Penampilannya masih kalah ikonik dengan Bond villain lainnya di era Craig seperti Javier Bardem di Skyfall dan Bolfeld di Spectre. 

Secara kesuluruhan film terakhir Daniel Craig ini menjadi film perpisahan yang manis. Setelah kita menonton No Time to Die kita menjadi mengerti kenapa Daniel Craig kembali memerankan Bond setelah sesumbar tidak ingin kembali. Karena memang sangat terarasa jika naskah No Time to Die tercipta untuk Daniel Craig. Akan sangat aneh jika Bond versi No Time to Die diperankan oleh aktor selain No Time to Die. 

Rating 9/10

Sunday, December 8, 2019

ULASAN: KNIVES OUT




Teka-teki dan misteri merupakan dua hal yang wajib ada dalam film-film bergenre kriminal dan detektif tetapi cukup sulit menemukan judul film yang berkesan karena terkadang pemanfaatan kedua unsur ini tidak maksimal atau skrip ceritanya yang memang buruk dan tidak masuk akal dari awal. Jika anda suka dengan film-film misteri pembunuhan yang terinspirasi dari Novel Agatha Christie maupun Sir Arthur Conan Doyle dan mendambakan film misteri pembunuhan berkualitas maka anda tidak boleh melewatkan film Knives Out yang akan dirilis pada bulan Desember 2019 ini di layar bioskop Indonesia. Film yang bisa dikatakan sebuah masterpiece ini ditulis, disutradari, dan diproduseri oleh sutradara berbakat Rian Johnson yang belakangan dikenal publik lewat penyutradaraannya di Star Wars: The Last Jedi. Film Knives Out bergenre whodunit mystery thriller, disebut whodunit karena gaya ceritanya termasuk dalam cerita detektif yang menggunakan plot dan teka-teki yang kompleks dan berlapis dalam menghantarkan penonton menyimpulkan siapakah pelaku kejahatan sebenarnya di akhir cerita. Sederet aktor terkenal didapuk menjadi cast film ini, yaitu Daniel Craig, Chris Evans, Ana de Armas, Jamie Lee Curtis, Michael Shannon, Don Johnson, Toni Collette, Lakeith Stanfield, Katherine Langford, Jaeden Martell, dan Christopher Plummer. Knives Out telah diputar di Bioskop US pada 27 November 2019 lalu dan sudah mendapat banyak pujian untuk akting para pemerannya dan naskah ceritanya yang brilian, hingga saat ini Knives Out menduduki rating 96% di Rotten Tomatoes.



Tersebutlah seorang novelis fiksi detektif kriminal bernama Harlan Thrombey (Christopher Plummer) mengadakan pesta ulang tahunnya yang ke-85 sekaligus ajang berkumpul seluruh anggota keluarga besarnya yang masing-masing memiliki kisah dan masalahnya sendiri. Namun keesokan harinya Fran (Edi Patterson), ART (asisten rumah tangga) Harlan, menemukan Harlan telah tewas dengan dugaan bunuh diri di kamarnya. Lalu dua polisi Det. Letnan Elliot (Lakeith Stanfield) dan Trooper Wagner (Noah Segan) serta detektif swasta Benoit Blanc (Daniel Craig) datang untuk menyelidiki kasus ini. Mereka bertiga lalu memulai serangkaian wawancara dengan seluruh anggota keluarga Thrombey untuk mengungkap kemungkinan dan motif pembunuhan terhadap Harlan. Wawancara dilakukan terhadap Linda (Jamie Lee Curtis) putri pertama Harlan dan suaminya Richard (Don Johnson), Linda dan Richard memiliki anak bernama Ransom (Chris Evans) yang terkenal sebagai playboy dan gemar berfoya-foya. Berikutnya Walter (Michael Shannon) putra bungsu Harlan yang merupakan CEO perusahaan penerbit milik Harlan. Lalu wawancara berlanjut dengan Joni (Toni Collette) yang merupakan menantu Harlan dari mendiang anaknya Neil yang sudah meninggal, Joni memiliki anak Meg (Katherine Langford) yang merupakan cucu perempuan Harlan. Seiring wawancara berlangsung terkuak rahasia masing-masing anggota keluarga yang semuanya memiliki motif yang cukup beralasan untuk membunuh Harlan. Wawancara terakhir dilakukan terhadap Marta Cabrera (Ana de Armas) yang merupakan perawat Harlan karena ia yang terakhir mengurus dan memberi obat pada Harlan di kamarnya sebelum ia meninggal. Marta memiliki keunikan bahwa jika ia mengucapkan kebohongan maka ia akan muntah, hal ini dianggap polisi dapat membantu memberi titik terang tetapi ternyata Marta mampu melewati wawancara tanpa petunjuk yang berarti untuk penyelidikan. Blanc merasa ada kejanggalan yang belum terungkap dan ia bertekad menemukan penyebab tewasnya Harlan yang sesungguhnya. Akankah Blanc berhasil mengungkap kasus kematian Novelis terkenal ini dengan cepat dan menguak sesungguhnya siapa atau apa yang menyebabkan Harlan meninggal? Blanc juga harus berpacu dengan waktu sebelum setiap anggota keluarga kembali ke tempat tinggalnya masing-masing setelah pembacaan surat wasiat peninggalan Harlan oleh notaris dilakukan.



Saya salut dengan Rian Johnson yang benar-benar memikirkan narasi cerita yang terstruktur dan rapi lengkap dengan twist dan misteri yang kompleks tetapi semuanya bisa dimuat dengan sangat menarik sehingga menjadi cerita misteri detektif yang mengagumkan ini. Tidak mudah menuangkan naskah cerita yang rumit menjadi adegan dalam film tetapi di sini Johnson menunjukkan kelihaiannya menyusun cerita. Sepanjang durasi 2 jam 10 menit, narasi cerita yang dibuat oleh Johnson serasa seperti mengajak kita bermain teka-teki bersama sambil ikut berpikir melalui petunjuk-petunjuk yang diberikan seiring film berjalan. Penonton ditantang untuk ikut membuat hipotesis dan menganalisis apa sebenarnya yang terjadi dengan Harlan. Ada momen di mana Johnson seperti mengecoh pikiran penonton dengan memberikan semacam adegan twist di pertengahan cerita yang dapat membingungkan penonton padahal sebenarnya bagi penonton yang jeli itu adalah adegan kunci yang akan membantu pengungkapan misteri sebenarnya di akhir film. Lapisan demi lapisan misteri dibuka secara perlahan sehingga mengundang rasa penasaran penonton akan seperti apa akhirnya dan ketika sampai pada konklusinya penonton tidak akan menyangka karena sampai akhirpun Johnson masih menyisakan kejutan. Adanya unsur komedi dengan gaya yang unik menjadikan film ini menarik untuk ditonton. Menonton film ini membutuhkan fokus anda untuk mengingat setiap karakter anak-anak Harlan dan masalah yang dimiliki mereka masing-masing. Selain itu anda juga harus fokus pada petunjuk dan detil-detil penting yang ada sepanjang film agar dapat memahami penjelasan pengungkapan misteri di akhir cerita film.



Konflik khas keluarga besar di mana setiap anggota keluarga Harlan memiliki rahasia terpendam masing-masing juga menjadi faktor yang memberi kedalaman lebih terhadap cerita film. Topik yang relate dengan penonton yang sudah berkeluarga seperti soal perselingkuhan, bisnis keluarga, dan perebutan warisan membuat penonton mudah terhubung dengan cerita film ini. Johnson sama sekali tidak membuat penonton berputar-putar tidak jelas dengan dialog yang membingungkan, dia mampu membuat adegan dialog baik pada saat wawancara maupun saat pengungkapan menjadi menarik karena didukung oleh akting para aktor yang mumpuni dan cerita yang solid. Pada bagian konklusi film ini bisa dianggap sebagai ujian di mana penonton akan menguji hipotesis yang sudah dibuatnya apakah sesuai sekaligus melatih logika penonton untuk menghubungkan petunjuk-petunjuk yang cukup banyak diberikan dari awal film. Di bagian akhir ritmenya cukup cepat sehingga butuh konsentrasi lebih dan tidak boleh mengantuk agar tidak melewatkan setiap detil yang diberikan.



Untuk para cast yang bermain dalam film ini dapat dikatakan tidak ada yang mengecewakan karena semua memiliki momen mereka masing-masing, tidak ada karakter yang sia-sia baik karakter utama maupun karakter-karakter pendukung dalam film. Mereka semua diberi ruang untuk pengembangan karakter mereka masing-masing. Daniel Craig dan Ana de Armas sebagai dua karakter utama dalam film melakukan tugas mereka dengan sangat baik. Ana de Armas kali ini mendapatkan porsi cukup banyak dan penting sekaligus membuktikan bahwa ia akan menjadi next rising star dengan perannya sebagai perawat yang baik hati namun berada dalam situasi yang sulit. Daniel Craig yang terkenal fleksibel bermain dalam film aksi maupun komedi, yang juga menjadi wajah agen 007 terbaik di era ini, menunjukkan kepiawaiannya memerankan detektif eksentrik dengan aksen khas menjadikan ia karakter favorit baru. Semua aktor yang memerankan anggota keluarga Harlan diberikan backstory masing-masing yang mereka perankan dengan sangat baik mulai dari Jamie Lee Curtis sebagai putri sulung yang dominan dan angkuh, Don Johnson sebagai suami yang sangat pro Amerika, Michael Shannon sebagai anak yang putus asa menginginkan pengkuan dari Harlan, Chris Evans sebagai putra playboy yang dimanja, Tony Collette sebagai menantu yang mata duitan, Edi Patterson sebagai pelayan keluarga yang telaten dan mengetahui semua rahasia keluarga, Jaeden Martell sebagai anak yang memiliki kecendrungan politik ekstrem, dan Katherine Langford (13 Reasons Why) sebagai anak yang berusaha acuh tak acuh terhadap keluarga disfungsional ini namun tetap memiliki rasa kepedulian khususnya terhadap Marta. Bahkan Lakeith Stanfield dan Noah Segan yang tampil sebagai detektif turut memberikan kelucuan lewat line-line ucapan yang mereka berikan.



Setting lokasi yang menggunakan rumah kastil gaya Victorian di Ames Mansion (Borderland State Park) sebagai Thrombey Estate dan kota kecil Boston memberikan nuansa khas dan misterius untuk film ini. Bagian-bagian rumah seperti ruang tamu, perpustakaan, ruang berkumpul keluarga memberikan kesan grande dan klasik seperti dalam novel-novel misteri. Scoring musik instrumental yang didominasi bunyi piano dan biola cukup efektif mengundang rasa ingin tahu penonton dalam menyimak jalan cerita film. Hal unik lain adalah kursi yang berada di ruang tengah yang terbuat dari ornamen pisau yang mengelilingi dan menunjuk ke arah kepala orang yang mendudukinya, Kursi ini menunjukkan kreativitas tinggi karena mengusung judul film ini secara tersirat di mana setiap anggota keluarga yang diinterogasi menduduki kursi ini dan menunjukkan bahwa siapapun memiliki motif untuk jadi tersangka.



Johnson dalam film misteri yang cerdas ini selain mengangkat isu yang jamak dihadapi dalam keluarga besar juga memasukkan soal isu imigran yang datang ke amerika seakan menyorot kebijakan kontroversial yang dicetuskan oleh Trump selaku presiden AS. Karakter Marta selaku imigran berulang kali dianggap asing lengkap dengan stereotip imigran oleh anggota keluarga Harlan namun hanya Harlan yang betul-betul menyayangi dan peduli padanya. Isu anak-anak dalam keluarga besar yang kaya raya tapi memiliki konflik dan menyimpan rahasia keluarga memperlihatkan bahwa hidup dalam keluarga besar pun tidak luput dari tantangan apalagi ketika menyangkut surat wasiat dan warisan harta keluarga. Salah satu hal soal warisan yang banyak disorot dalam film adalah soal rumah keluarga Thrombey Estate yang memiliki nilai historis dan diperebutkan oleh setiap anggota keluarga karena masing-masing menganggap dirinya yang paling berhak dan layak. Rian Johnson berhasil menampilkan kisah misteri detektif yang fresh dan membuktikan bahwa di era abad 21 ini cerita misteri klasik dengan gaya modern masih memiliki tempat asalkan kualitas ceritanya benar-benar diperhatikan. Film Knives Out karya brilian kreasi Rian Johnson ini menjadi salah satu film penutup di penghujung tahun yang amat berkesan dan tidak boleh anda lewatkan.


Overall: 9.5/10

(By Camy Surjadi)