Showing posts with label Komedi. Show all posts
Showing posts with label Komedi. Show all posts

Tuesday, July 14, 2026

JIRAYUT DEBUT SEBAGAI PEMERAN UTAMA LEWAT FILM HOROR KOMEDI CEK KHODAM

Film Cek Khodam menggelar press screening dan gala premiere pada 10 Juli 2026 menjelang penayangannya di bioskop. Mengusung genre horor komedi, film ini menawarkan premis yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Alih-alih menjadikan hantu sebagai sumber ketakutan utama, Cek Khodam mengangkat realitas bahwa manusia modern justru lebih dihantui cicilan, dompet kosong, dan tanggal tua, hingga membuat dunia khodam "panik" karena tak lagi dianggap paling menyeramkan.

Film ini juga menjadi tonggak penting bagi Jirayut yang menjalani debut sebagai pemeran utama layar lebar. Selain itu, Saputra Kori untuk pertama kalinya bermain dalam film horor komedi. Keduanya didukung oleh sederet komedian seperti Tante Lala, Kak Gem, dan Benidictus Siregar, yang menghadirkan komedi ringan dan spontan tanpa menghilangkan nuansa mistis. Deretan pemain lainnya meliputi Angie Williams, Fahira Almira, Roewina Umboh, Fanny Fadillah, Adi Sudirja, Ence Bagus, Sadana Agung, Cetul Leatherart, dan Mikayla Sofia.

Dengan memadukan unsur horor, komedi, dan isu keseharian yang relevan, Cek Khodam hadir sebagai tontonan yang menghibur sekaligus terasa dekat dengan penonton Indonesia. Film ini menjanjikan perpaduan tawa, ketegangan, dan sindiran terhadap keresahan hidup masa kini. Cek Khodam dijadwalkan tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 16 Juli 2026.

Tuesday, August 19, 2025

REVIEW FILM TINGGAL MENINGGAL: HUMOR ABSURD, SATIR, DAN SENTILAN EMOSIONAL


Tinggal Meninggal hadir sebagai debut film panjang Kristo Immanuel yang berani sekaligus unik. Dengan gaya khasnya yang nyeleneh, absurd, namun tetap menyelipkan sisi emosional, Kristo berhasil menghadirkan karya yang tidak hanya mengundang tawa, tetapi juga menyentil penonton lewat pesan-pesan yang subtil.

Sejak awal, alur ceritanya sebenarnya masih bisa ditebak, tetapi Kristo pintar menjaga atensi dengan celetukan kocak, momen awkward, hingga teknik breaking the fourth wall yang memberi kesegaran tersendiri. Premisnya sendiri dibangun dengan humor getir yang terasa natural, menjadikan film ini punya warna berbeda dibanding komedi lokal kebanyakan. Salut juga untuk Imajinari yang berani mengeksekusi ide “seaneh” ini ke layar lebar—karena biasanya konsep semacam ini hanya berhenti di film pendek.

Salah satu elemen paling menonjol adalah bit jokes bernuansa agama yang meski agak riskan, justru menjadi salah satu bagian paling ngena. Di sisi lain, ada Mario “Mahi Mahi” Caesar yang tampil sebagai scene stealer lewat perannya sebagai kolega penuh curiga namun cerdik dalam rekayasa.

Meski begitu, film ini terasa masih butuh sedikit “ledakan” ekstra agar tidak tampak canggung di beberapa bagian. Namun bisa jadi rasa canggung itu memang disengaja, agar penonton ikut merasakan apa yang dialami karakter Gema. Beberapa ganjalan mungkin ada, tetapi tidak sampai mengganggu keseluruhan pengalaman menonton.

Secara keseluruhan, Tinggal Meninggal adalah tontonan segar yang patut diapresiasi karena keberaniannya. Kristo membuktikan dirinya bukan hanya sekadar komika dengan persona lucu, tetapi juga seorang storyteller yang punya visi.

Rating: 7,5/10

Wednesday, April 26, 2023

ULASAN: ASTERIX & OBELIX 'MIDDLE KINGDOM'



Buat penonton yang gemar membaca komik-komik Perancis – Belgia pasti tidak asing dengan judul Asterix dan Obelix termasuk saya sendiri. Beberapa komik Prancis-Belgia paling terkenal yang meraih ketenaran mancanegara termasuk Indonesia adalah Petualangan Tintin (Hergé), Gaston Lagaffe (Franquin), Asterix (Goscinny & Uderzo), Lucky Luke (Morris), The Smurfs (Peyo), Spirou and Fantasio (Franquin). Judul-judul komik tersebut beberapa di antaranya sudah diadaptasi menjadi film animasi atau live-action movie. Sudah terdapat 18 judul film Asterix dan The Middle Kingdom menjadi film ke-19. Asterix & Obelix: The Middle Kingdom adalah sebuah film komedi keluarga Prancis Garapan sutradara Guillaume Canet, yang juga berperan sebagai Asterix. Kisah petualangan mereka selalu bentrok dengan tantara kerajaan Romawi yang memiliki agenda menaklukkan desa mereka. 


Asterix dan penduduk desanya selalu mampu melawan tentara Romawi berkat ramuan ajaib dukun desa Panoramix. Film Ini adalah installment kelima dalam seri film Asterix. Film ini yang dibintangi oleh Gilles Lellouche sebagai Obelix menggantikan Gérard Depardieu. Kisah aslinya didasarkan pada naskah karya Philippe Mechelen dan Julien Hervé. Canet juga berkolaborasi dalam pembuatan naskah dan merupakan film Asterix pertama yang tidak didasarkan pada salah satu album komik Asterix. Film ini didukung para cast terkenal di antaranya Julie Chen, Vincent Cassel, Jonathan Cohen, Marion Cotillard, Leanna Chea, Jose Garcia, Zlatan Ibrahimovic.





Berkisah tentang pelarian yang dilakukan oleh Putri Sah Hee (Julie Chen) dari sosok pangeran jahat Deng Tsin Qin (Bun Hay Mean). Putri Sah Hee bersama pengawalnya, Kak Rah Tay (Leanna Chea) dan seorang pedagang asal Venesia Bankruptix (Jonathan Cohen) mendatangi Desa Galia. Tujuan kedatangan mereka ke desa tersebut adalah untuk meminta bantuan dari Asterix (Guillaume Canet) dan Obelix (Gilles Lellouche) untuk membebaskan ibunya (Linh-Dan Pham) yang dipenjara setelah kudeta. Bersamaan dengan itu misi pembebasan mereka ke Tiongkok, Caesar (Vincent Cassel) dan pasukannya juga mengikuti mereka untuk menaklukkan Kerajaan Cina (Middle Kingdom)



Sebetulnya film ini punya potensi yang cukup besar jika naskahnya dikembangkan dengan baik. Premisnya menarik karena Asterix dan Obelix harus berpetualang jauh dari desa mereka yaitu ke China yang sangat berbeda dari segi bahasa dan kultur. Akan tetapi seiring film berjalan, kita akan menyaksikan betapa tidak koheren antara premis, pengembangan karakter, dan penyelesaian konflik yang ada. Ciri khas Asterix dan Obelix masih tetap ada (Asterix yang selalu meminum ramuan sebelum menghadapi lawan-lawannya dan Obelix yang sudah kuat akibat tercebur ramuan Ajaib) tapi tidak dipakai untuk memperkaya dinamika cerita padahal di komiknya unsur ini selalu dipakai dalam jalan cerita utamanya. Persoalan latar belakang dan konflik yang hadir di China sebetulnya bisa digali lebih dalam lewat karakter Putri Sah Hee namun ini tidak dilakukan. Semuanya berjalan maju tanpa ada penjelasan yang konkrit. Belum cukup sampai di sana banyak plot tambahan yang tidak mampu mendukung langsung cerita utamanya sehingga dirasakan agak memaksa seperti kisah cinta segitiga yang terjadi antara Putri Sah hee, Asterix dan Bankruptix (Jonathan Cohen). Kisah cinta pada pandangan pertama antara Obelix dan pengawal sang putri, Kak Rah Tay. Serta kemunculan Antivirus (Zlatan Ibrahimovic), yang digadang-gadang sebagai mata-mata dan tentara terkuat Julius Caesar (Vincent Cassel) tapi kurang jelas juntrungannya. Untungnya, visual dan desain set pada film ini masih menjadi poin plus karena digarap dengan serius. Mulai dari set lokasi untuk adegan pertarungan hingga kostum karakter yang terlihat meyakinkan. Dari sisi komedi, porsi jokes di cukup lumayan menghibur dan mengundang gelak tawa.




Asterix & Obelix: The Middle Kingdom tampil sebagai film komedi keluarga yang menghibur. Filmnya mungkin tidak didasarkan history spesifik tapi lebih sebagai rekaan saja bagaimana jika Bangsa Galia/ Gaul berinteraksi dengan bangsa China. 2-3 tahun belakangan ini menjadi momennya bangsa Asia untuk mendapat sorotan dan dunia perfilman nampaknya sedang memanfaatkan momen tersebut. Secara keseluruhan ini bukan masterpiece tapi bukan film yang buruk juga, masih bagus untuk ditonton jika sedang butuh tontonan yang menghibur tapi jika dihadapkan pada pilihan lain yang lebih bagus tentunya film ini tidak akan pernah masuk jadi film pilihan untuk ditonton terlebih faktor tambahan bahwa ini bukan film Hollywood.



Overall : 6.5/10

(By Camy Surjadi)

Thursday, April 21, 2022

ULASAN: THE UNBEARABLE WEIGHT OF MASSIVE TALENT





Nicolas Cage punya resume film yang cukup panjang, penampilannya yang fenomenal dan paling diingat ada di film Con Air (1997), The Rock (1996), Face/Off (1997), City of Angels (1998), Lord of War (2005), The Wicker Man (2006) dan Knowing (2009). Film-filmnya beragam mulai dari action, quirky comedy, sampai award winning movies. Kondisi finansialnya yang sempat terlilit hutang membuatnya terlibat dalam film-film multigenre dan terkadang absurd, ada yang flop tapi ada juga beberapa yang bagus. Nah Apa jadinya jika ada film yang mengisahkan dirinya sendiri? The Unbearable Weight of Massive Talent adalah jawabannya. Film ini bukan biopik tapi lebih bergenre komedi surreal yang menempatkan aktor Nic Cage sebagai tokoh utama dengan plot komedi yang kental, representasi karakter fiksi (dan sebagian riil) dari Nic Cage, serta mengambil beberapa referensi dari film-filmnya. Disutradarai oleh Tom Gormican dan skenario yang ditulis bersama dengan Kevin Etten. Film ini dibintangi oleh Nicolas Cage (sebagai versi fiksi dirinya), bersama dengan pemeran pendukung yang meliputi Pedro Pascal, Sharon Horgan, Ike Barinholtz, Alessandra Mastronardi, Jacob Scipio, Neil Patrick Harris, dan Tiffany Haddish.



Alkisah Aktor Nicolas Cage diberitawaran 1 juta USD untuk menghadiri ulang tahun penggemar super miliarder Javi Gutierrez (Pedro Pascal) seperti diinfokan agennya Fink (Neil Patrick Harris) namun ia enggan untuk menerima pada awalnya. Karena keadaan dirinya yang sedang tidak dalam kondisi baik di tengah perceraian dengan istrinya Olivia (Sharon Horgan), pamor bintangnya meredup,dan hubungan dengan putrinya Addy (Lily Mo Sheen) juga memburuk maka akhirnya tawaran tersebut diterima juga. Ketika keadaan berubah menjadi sangat kacau, Cage yang terjebak dalam konflik karena membantu penyamaran CIA dipaksa untuk menjadi versi dari beberapa karakter paling ikonik dan dicintainya untuk melepaskan istri dan putrinya dari Javi yang menurut info CIA adalah seorang pedagang senjata dan diduga terlibat penculikan putri presiden Meksiko.



Sepanjang durasi 107menit, film ini sangat asyik dan tidak membosankan untuk diikuti. Ceritanya ringan dan sangat menghibur. Di bagian awal film inimemberikan kita pengenalan kepada karakter Nick Cage yang dalam universe ini adalah representasi fiksi dirinya yang diceritakan adalah legenda film di Hollywood yang karirnya sedang meredup serta memiliki permasalahan keluarga yang cukup pelik. Lalu bagian kedua penonton dibawa untuk mengenalkan rakter Javi di mana interaksi Javi dan Nick Cage menjadikan cerita semakin menarik. KarakterJavi akan  membuat penonton menduga-duga motif yang sebenarnya. Layer cerita dibuat semakin menarik dengan kemunculan dua agen CIA Vivian(Tiffany Haddish) dan Martin (Ike Barinholtz) yang mengajak Nick menguak identitas Javi. Di Bagian akhir ditutup dengan sedikit kejutan namun petunjuknya sebetulnya sudah diberikan di pertengahan cerita. Jalinan cerita yang menarik, porsi komedi yang pas, dan cerita yang tidak mudah tertebak merupakan faktor kunci kesuksesan film ini. Hal paling unik dan lucu dalam film ini ialah bagaimana persona Nicholas Cage dijadikan bahan lawakan lewat referensi peran dan film-film yang pernah ia bintangi di sepanjang film. Sebuah tribute yang tentunya memberiefek nostalgia bagi penonton khususnya yang sudah mengikuti film-filmnya dari tahun 90-an.



Cage dan Pascal memiliki chemistry yang absurd dan klop ketika bersama. Mereka sangat menyenangkan dan saling mengagumi satusama lain. Hal ini menular. Pada hakikatnya film ini adalah buddy action comedy yang dengan gembira memahami keinginan penonton. Cage tahu penonton suka dirinya ketika beraksi dalam film aksi maka diberikanlah porsi aksi yang cukup absurd sepanjang film mulai dari car chase, aksi mata-mata sampai tembak-menembak. Ini adalah penghargaan seorang aktor yang menaruh kepercayaannya pada penonton sebanyak mereka percaya padanya.



The Unbearable Weight of Massive Talentmerupakan film cerdas dan inovatif, film ini seakan menegaskan bahwa Nick Cage punya potensi yang jika dikembangkan dalam film yang tepat akan menjadi luar biasa efeknya. Semoga ke depannya Nick Cage bisa lebih selektif terlibat dalam film dan menghasilkan lebih banyak film-film berkualitas seperti ini



Overall : 8/10

(By Camy Surjadi)  

Thursday, March 24, 2022

ULASAN: THE LOST CITY





Jika tidak memasukan All About Steve (2011) yang gagal, terkahir kali Sandra Bullock bermain dalam film genre romance ada di tahun 2009 lewat film The Proposal yang sukses besar. 13 tahun berselang Sandra Bullock kembali  pada genre ini setelah tahun-tahun sebelumnya lebih banyak berrmain film serius yang membuat namanya makin kokoh dalam deretan akris list-A. Dalam film romance yang dikombinasikan dengan petualangan ini Sandra Bullock mendapat lawan main yang juga sudah sering bermain dalam komedi yaitu Channing Tatum. Selain itu juga ada Brad Pitt dan Daniel Radcliffe yang ikut terlibat.



Loretta Sage (Sandra Bullock) seorang novelis yang masih belum lepas dari duka atas meninggalnya sang suami sedang kesulitan menyelesasikan novel terbarunya di saat editor, fans dan bahkan Alan Caprison (Channing Tatum) yang menjadi model cover karakter novelnya tidak sabar menunggu kelanjutan novel yang dia tulis. Tanpa diketahui Loretta, Abigail Fairfax (Daniel Radcliffe) seorang jutawan mengamati tulisan Loretta lebih dalam dan merasa Loretta bisa membantunya menemukan mahkota dari sebuah negeri yang hilang. Fairfax pun menculik Loretta. Alan yang melihat penculikan tersebut memutuskan ingin menolong Loretta dan membuktikan bahwa dia lebih dari sekadar model cover yang diremehkan oleh Loretta. Dengan bantuan Jack Trainer (Brad Pitt) mereke berdua menyusul ke sebuah pulau terpencil tempat Loretta disekap.


Terinspiransi dengan Romancing the Stone (1984), film yang menggabungkan romansa dengan petualangan pencarian harta karun ini seperti yang diperlihatkan di trailer dipenuhui adegan komedi yang kental sebagai jualan utamanya. Komedi yang hampir ada dalam keseluruhan durasi film. Untuk beberapa saat komedinya terasa efektif, namun seiring berjalannya durasi komedi itu jadi terasa hambar yang terlalu dipaksakan. Itu bisa kita deteksi dari suasana bioskop di mana suara tawa makin berkurang dari pertengahan ke akhir.


Terlepas dari komedi yang memang bersifat relatif pada penonton lainnya, The Lost City mempunyai plot cerita yang menarik. Penampilan Channing Tatum dan Sandra Bullock yag umurnya terpaut jauh itu dapat dileburkan dengan chemistry mereka yang solid. Pengalaman mereka yang sudah sering membintangi film-film romance terlihat jelas di sini. Penampilan mereka lah yang membuat kamu betah dengan film ini. Selain mereka berdua, penampilan Brad Pitt juga berhasil mencuri perhatian. Tawa paling keras akan kamu dapatkan saat dia muncul. Sayangnya performa yang kuat dari cast lainnya itu tidak dapat imbangi oleh villain utama yang diperankan oleh Daniel Radcliffe. Penampilan Radcliffe di sini hampir tidak ada bedanya denagn penampilannya di film Now You See Me 2. Ada hanya untuk dilupakan.


Secara keseluruhan The Lost City mungkin belum bisa masuk dalam list film romance terbaik yang pernah kamu tonton. Tetapi film ini masih mampu menghibur di tengah-tengah film action yang sedang tayang di bioskop saat ini.

Overall: 6/10

Wednesday, March 23, 2022

ULASAN: THE BAD GUYS




DreamWorks Animation kembali mencoba membangun franchise. Setelah sukses dengan franchise seperti Shrek, Kungfu Panda, Madagascar dan The Boss Baby. Kini DreamWorks Animation mencoba mengangkat ide cerita dari adaptasi buku anak-anak berjudul The Bad Guys karangan dari Aaron Blabey. Potensi adaptasi buku ini menjadi franchise sangat besar karena bukunya sendiri memiliki 15 volume. Sekarang tinggal menungu respon apakah film pertama ini bisa diterima dengan baik oleh penonton atau tidak. Disutradarai oleh Pierre Perifel yang juga merupakan debutnya di film panjang. Naskahnya sendiri ditulis Etan Cohen (Tropic Thunder, Idiocracy) dan Hilary Winston.



The Bad Guys menceritakan satu kelompok kejahatan yang paling terkenal ‘The Bad Guys’. Sebuah kelompok yang menjadi dalang setiap pencurian-pencurian besar yang bertahun-tahun selalu berhasil menghindari penangkapan dan menjadi penjahat yang paling dicari oleh pihak kepolisian. Namun hanya menunggu waktu saja ketika akhirnya mereka tertangkap, Mr. Wolf (Sam Rockwell), Mr. Snake (Marc Maron), Mr. Shark (Craig Robinson), Mr. Piranha (Anthony Ramos) dan Mrs.Tarantula (Awkwafina). Didasari sebuah kesempatan yang tidak terduga ketika tertangkap, The Bad Guys membuat kesepakatan bahwa mereka akan menjadi orang baik sebagai imbalan kebebasan mereka.



Dibuka dengan adegan pembuka yang mengingatkan dengan adegan pembuka Pulp Fiction, penonton akan langsung dibawa dengan berkenalan dengan 5 anggota The Bad Guys. Dari narasi yang disampaikan Mr. Wolf kita sudah bisa mengetahui bagaimana problematika yang dihadapi karakter-karakternya. Mereka menjadi korban persepsi atau generilisasi negatif karena rupa mereka. Perbuatan yang baik adalah sesuatu yang mustahil. Setidaknya itulah anggapan publik. Sebuah sindiran dan pesan yang hendak disampaikan oleh filmnya dan cukup relevan. Kenyataannya kita memang hidup dalam lingkaran seperti itu. Pesan yang cukup kuat dan serius namun disampakan dengan pengemasan komedi dan aksi.


Kental dengan elemen-elemen 'heist movie', The Bad Guys seperti Ocean Eleven versi animasi. bahkan persona dari karakter Mr. Wolf semacam tribut untuk karakter Danny Ocean (George Clooney) di Ocean Eleven. Elemen 'heist movie' itu dikombinasikan dengan komedi yang  efektif dan sering mengocok perut. Film heist movie tidak lengkap dengan twist-twist dibalik sebuah rencana juga bagian menarik dari animasi ini. Penonton sudah tahu akan adanya twist, tapi apa dan bagaimana, cukup menggelitik penonton untuk menebak-nebak.


Plot cerita tentang penjahat yang ingin berbuat baik memang  sudah pernah kita temui lewat Despicable Me, Megamind atau Wreck-it Ralph. Tapi mengemasnya  dalam konsep heist movie? Mungkin belum banyak. Dan ketika arus animasi pada saat ini lebih banyak berjenis 3D, hadirnya The Bad Guys dengan animasi 2D memberi daya segar tersendiri pada penonton. 

Overall: 7,5/10

Monday, December 7, 2020

ULASAN: SAMJIN COMPANY ENGLISH CLASS



Buat anda yang suka dengan film-film Hollywood seperti Dark Waters (2019), The Report (2019), The Post (2017), dan the Fifth Estate (2013) pasti sepakat kalau semua film tersebut tone-nya serius. Film-film tersebut termasuk dalam Whistleblower movies atau kadang disebut juga Conspiracy movies yang merupakan salah satu genre yang cukup banyak diminatipenonton. Nah apa jadinya kalau tipe film seperti ini dibuat oleh Korsel? Jawabannya adalah Film Samjin Company English Class (Samjingeurup Yeongeotoikban) yang disutradarai oleh Lee Jong-pil (The Sound of a Flower – 2015; Born To Sing - 2013) dirilis 21 Oktober 2020 dan akan dirilis di Indonesia pada 7 Desember 2020. Film ini terinspirasi dari kisah nyata di era 90’an yang melibatkan perusahaan besar di Korsel saat itu, yang konon sengaja disamarkan menjadi Samjin, dibintangi oleh Go Ah-sung, Esom and Park Hye-su sabagai 3 karakter utamanya serta didukung oleh Cho Hyun-chul; Kim Jong-soo, David Lee McInnis, dan masih banyak lagi. Menurut info film ini langsung menduduki tanggap puncak box office selama enam hari berturut-turut dan mencapai total pendapatan 12 juta USD lebih dari 1,5 juta penonton.



Alkisah di tahun 1995, LeeJa-young (nama Inggris Dorothy; yang kita kenal lewat Snowpiercer dan The Host),Jung Yu-nah (nama Inggris Michelle; yang bermain di Scarlet Innocence),dan Shim Bo-ram (yang bermain di Swing Kids)adalah tiga karyawati yang sama-sama bekerja di Perusahaan Samjin. Setelah 8 tahun bekerja karir mereka mandek dan hanya diberikan tugas-tugas yang tidak penting serta dianggap sebelah mata mengingat mereka hanya lulusan SMA seperti kebanyakan karyawati lainnya di perusahaan itu. Suatu hari memo internal perusahaan menginfokan bahwa setiap karyawanyang berhasil mencapai skor 600 untuk TOEIC (Test of English for International Communication) akan memiliki kesempatan untuk dipromosikan menjadi asisten manajer. Sontak hal ini membuat mereka bertiga dan rekan-rekan karyawati lainnya berjuang kelas di kelas Bahasa Inggris khusus karyawan.



Suatu harisaat Ja-young sedang tugas keluarke sebuah pabrik yang memproduksi komponen elektronik untuk Samjin di daerah pedesaan, iasecara kebetulan menyaksikan air limbah pabrik dibuang ke sungai dan mencemari ekosistem di sana. Ja-young yakin bahwa perusahaannya sedang melakukan transaksi curang dan bersama dengan Yu-nah dan Bo-ram, mereka bertigamencoba untuk menemukan bukti yang tak terbantahkan untuk menguak kasus ini.Akankah trio wanita ini berhasil atau mereka malah dikeluarkan oleh perusahaan tempat mereka bekerja? Saya tidak akan menguak lebih jauh, untuk tahu jawabannya anda perlu menyaksikan film ini.



Judul film ini nampak remeh dan membingungkan tetapi justru dari judul inilah cerita dimulai dan berpusat. Awalnya pasti kita berpikir film ini drama komedi biasa yang mengambil setting karyawan kantoran tetapi percayalah film ini tidak sedangkal yang terlihat. Selama 110 menit anda akan disuguhkan dengan cerita yang menarik dan tidak membosankan sama sekali walau tema yang diusungnya serius dan berat. Coba bayangkan Isu lingkungan ala Erin Brockovich yang dipadukan dengan skandal korporasi ala Wall Street serta berbagai referensi era 90-an yang sangat kental mewarnai film ini. Referensi tersebut dipadukan dengan gaya cerita khas drama Korea, hanya Korsel yang bisa melakukan gaya film seperti ini membuktikan kehebatan sineas Korsel dalam menggarap cerita film ini secara kreatif.



Treatment yang digunakan Jong-pil untuk cerita ini terbilang berhasil karena ia menggunakan genre drama, komedi, dan investigasi yang mampu membuat penonton penasaran dan terbawa dengan ceritanya. Tone yang tidak sepenuhnya serius membuat penonton lebih rileks dan tidak stressdalam mengikuti ceritanya. Akan beda ceritanya kalau jalur serius ala The Post atau Spotlight yang dipilih. 



Storytellingnya juga juara karena meng-cover semua aspek dengan detail dan hampir sempurna, mulai dari bagian introduksi kita dibawa mengenal perusahaan Samjin lewat compro singkat (company profile) lalu ke karakter-karakternya mulai dari 3 karakter utama sampai karakter-karakter pendukung, yang masing-masing punya peran seiring cerita berkembang, serta Kelas Bahasa Inggris persiapan TOEIC tempat cerita ini dimulai. Character development masing-masing karakter dilakukan dengan sangat baik dan walaupun cukup banyak tapi karakter-karakter tersebut semua mendapat porsinya secara seimbang dan tidak ada yang tidak penting atau terlupakan. Setelah itu pace ceritamengalir cukup cepat dan menampilkan twist demi twist layaknya film detektif namun dipastikan penonton akan mendapat jawaban penyelesaian dari semua konflik yang terjadi. Bagian klimaks film ini selain penting namun juga emosional dan menyimpan kejutan yang mampu membuat kita tersenyum di akhir cerita. Gaya investigasi ala agen rahasia yang diwarnai adegan komedi untuk mendapatkan bukti guna menguak skandal korupsi di rumah sang Direktur Oh Tae-yeong (Baek Hyun-jin) merupakan adegan yang tidak boleh dilewatkan. Momen-momen emosionalberhasil dibangun lewat scoring musik yang membuat penonton ikut terbawa suasana.Kita seakan diajak ikut merasakan bagaimana berada di posisi mereka yang seakan tidak punya kekuatan untuk melawan birokrasi perusahaan. Butuh fokus untuk memahami skandal korporasi yang dibuka dan dieksplorasi sepanjang film namun semua itu akan terbayarKetika sampai pada bagian akhir



Ketiga karakter utama yang menjadi pahlawan dalam cerita film ini benar-benar solid dan saling melengkapi satu sama lain. Chemistry di antara mereka bertiga benar-benar terasa dan cepat membuat penonton terhubung dengan mereka. Go Ah-sung sebagai Ja-Young yang merupakan otak dari trio ini yang cekatan dan tahu semua detil karyawan pria di bagiannya mulai dari racikan kopi, lokasi file dan hal-hal detil lainnya,Esom sebagai Yu-nah di bagian marketing yang cantik, pandai memberi komentar pedas, dan selalu punya ide kreatif namun dipenuhi oleh karyawan yang saling sikut dan suka menjilat, dan terakhir Park Hye-su sebagai Bo-ram di bagian accounting yang lugu namun jenius matematika. Trio ini mampu menampilkan persahabatan, solidaritas, dan kekompakan yang nyata dan relate dengan penonton (khususnya bagi para wanita pekerja).



Wardrobe dan makeup gaya retro, style rambut yang begitu eye-catching dan setting duniaperkantoran era 90-an juga faktor pendukung yang betul-betul digarap serius sehingga membuat penonton merasakan nostalgia di mana era awal Microsoft Windows baru berjaya dan handphone juga masih sesuatu yang belum lazim.



Jong-pil mampu menampilkan cerita yang sebetulnya woman-centric menjadi sesuatu yang edukatif dan cerdas tanpa menggurui. Isu sosial seperti bagaimana korporasi besar melakukan tindakan ‘pembersihan’ lewat metode uang ganti rugi, dominasi kapitalisme Barat yang terjadi di seluruh Asia, diskriminasi akademis yang dialami oleh pekerja wanita, semua ditampilkan tanpa basa-basi dengan gaya satir.



“Boys be ambitious!”

“I can do it, you can do it, we can do it!”

“Even a worm will turn.”

Beberapa kalimat dan idiom bahasa Inggris yang paling sederhana yang digunakan dalam film ternyata adalah pesan utama di balik film Samjin Company English Class yang mengajarkan untuk tidak mudah menyerah walau kadang keadaan tidak berpihak pada kita, bahwa sesuatu yang benar adalah hal yang harus dipertahankan. Di sisi lain film ini memberi pesan mengapa kita rela mencurahkan waktu kita untuk pekerjaan selain untuk menafkahi hidup. Film ini dimaksudkan dapat memberi semangat positif dan menghibur penonton di saat dunia masih dilanda pandemik COVID-19 dan Jong-pil terbukti berhasil melakukannya.



Overall: 8,5/10

(By Camy Surjadi)
















Thursday, May 7, 2020

ULASAN: START-UP



Jika di Indonesia adaptasi cerita dari wattpad ke media film sedang menjadi tren, maka di Korea adaptasi serial webtoon ke media film atau tv serial juga sudah menjadi tren yang cukup lama bertahan. Bahkan adaptasi webtoon ke film yaitu dwilogi Along wih Two Gods sukses mencatatkan sebagai salah satu film tersukses dalam mendulang pemasuakn atau penonton. Dan kali ini peruntungan dicoba oleh Start Up yang sudah populer terlebih dahulu lewat serial webtoon-nya. Serial yang bergenre komedi ini diadaptasi menjadi film dibintangi oleh Park Jung-min (The King, Unforgettable),  Ma Dong-seok (Train to Busan, Ashfall), dan Jung Hae-in (Salute D'Amour, The Age of Blood).



Star-Up bercerita dari tentang Taek-Il (Park Jung-Min) pemuda berusia 18 tahun pemberontak yang masih mencari jati diri. Tinggal bersama ibunya yang memintanya untuk melanjutkan sekolah yang selalu ditolak Taek-Il dan melawan apa yang diinginkan ibunya. Hari-hari perdebatan mereka berdua sudah menjadi kebiasan di rumah mereka. Satu-satunya yang bisa memahami Taek-Il adalah sahabatnya Sang-Pil (Jung Hae-In). Suatu hari, Taek-Il tiba-tiba meninggalkan rumah dan pergi ke Gunsan, Provinsi Jeolla Utara. Sebuah keputusan yang diambil secara impulsif.


Di kota yang dipilih secara acak itu Taek-Il mendapat pekerjaan pengiriman di restoran Cina. Di sana, dia mulai berhubungan dengan orang-orang baru yang mengisi hari-harinya, dimulai dari atasannya tempat Taek-Il bekerja Owner Kong (Kim Jong-Soo), Bae Gu-Man (Kim Kyung-Duk) partner Taek-Il mngantarkan pesanan pelanggan, lalu juru masak Geo-Seok (Ma Dong-Seok) pria yang menyembunyikan dan kekuatan masa lalunya dengan gaya nyentriknya. Lalu juga Taek-Il juga secara tidak sengaja berhubungan dengan gadis seusianya yang juga melarikan diri Kyung-Joo (Choi Sung-Eun). Sementara itu, Sang-Pil mulai bekerja di kantor pinjaman swasta dan Ibu Taek-Il (Yum Jung-Ah) memulai usaha barunya tanpa sang anak yang melibatkannya pada masalah yang lebih berat.


Start-Up disajikan sederhana dengan beberapa subplot yang muncul ditengah-tengah plot utama Taek-Il dalam mencari jati dirinya. Subplot yang menceritakan latar belakang karakter-karakter lainnya yang punya permasalahn tersendiri. Sayangnya banyaknya subplot membuat plot utama terasa tidak fokus yang seperti kebingungan. terlalu banyak yang ingin disampaikan dengan durasi yang kurang dari 2 jam.


Untungnya dengan dengan durasi yang cukup singkat Start-Up masih sangat menghibur dengan komedinya dan drama yang makin kental terasa 30 menit terakhir yang buat saya bagian terbaik dari filmnya. Sementara untuk penampilan Ma Dong-seok yang paling mencuri perhatian yang sering kita lihat memainkan karakter keras, di film ini ma Dong-seok menampilkan sisi lainnya dalam berakting yang belum pernah kita lihat sebelumnya meskipun masih belum bisa terlepas dari peran keras seutuhnya.


Start-Up film komedi ringan yang memang tida terlalu luar biasa, tetapi masih mampu menghibur penonton. Raihan jutaan penonton di negara asalnya adalah satu bukti kenapa Start-Up masih sangat menghibur, terlebih kapan lagi kita bisa melihat Ma Dong-seok memerankan karakter yang menggemari k-pop dan melakukan gerakan-gerakan dance girld band ?

Overall: 7/10

NB: Start-Up sudah bisa ditonton lewat aplikasi klik Film yang terdapat di Playstore dan IOS 

Thursday, March 19, 2020

ULASAN: MY SPY



Formula film keluarga yang memasangkan aktor berotot (biasanya polisi atau mantan anggota militer) dengan anak-anak cukup sering digunakan di Hollywood, untuk role modelnya sendiri dapat kita lihat pada Schwarzenegger (Kindergarten Cop), Hulk Hogan (Mr Nanny, Suburban Commando), Dwayne Johnson (melibatkan hampir sebagian besar filmografinya), bahkan Vin Diesel pun pernah mencoba genre ini (The Pacifier). Formula ini ada yang berhasil mengocok perut tetapi tak sedikit pula yang tidak lucu dan malah cenderung aneh. Kali ini giliran Dave Bautista yang mencoba genre ini dengan lawan mainnya Chloe Coleman sebagai anak kecil yang harus dijaganya dan seringkali menimbulkan kesulitan bagi aksinya. Film action comedy ini disutradarai oleh Peter Segal dan ditulis oleh Jon dan Erich Hoeber untuk ceritanya. Film ini juga dibintangi oleh Kristen Schaal dan Ken Jeong. Film ini dirilis di Australia pada 9 Januari 2020, disusul di UK pada 13 Maret 2020 serta 17 April 2020 di US.



Alkisah J.J. (Dave Bautista) adalah seorang agen CIA yang lihai dalam menghabisi musuh-musuh berbahaya AS namun meiliki kekurangan dalam social skill sehingga seringkali menimbulkan kerugian besar bagi CIA. Dalam misi terakhirnya semua musuh mati dan bahan plutonium untuk pembuatan senjata nuklir dibawa kabur oleh seorang teroris yang tidak ikut terbunuh. Kim Trang (Ken Jeong) karena kesal masih memberikan kesempatan terakhir untuk J.J. dalam misi domestik untuk mengintai seorang ibu, Kate (Parisa Fitz-Henley) dan anak perempuannya yang berumur 9 tahun Sophie (Chloe Coleman) yang baru saja kembali dari Paris dan diduga memiliki keterkaitan dengan Marquez (Greg Byrk) terduga teroris yang tidak lain adalah paman dari Sophie. Dalam misi pengintaian ini J.J. juga harus menerima dipasangkan dengan partner tech expert Bobbi (Kristen Schaal) yang ceroboh dan gemar menlontarkan humor sarkas. Usaha pengintaian mereka terbongkar oleh Sophie berkat kelihaiannya dan ia mengancam akan membocorkannya ke social media jika J.J. tidak membantunya memberi pengetahuan dan pelatihan menjadi agen rahasia. Akankah J.J. tetap berhasil menuntaskan misinya atau malah terjebak kesulitan yang lebih runyam akibat Sophie?



Sehabis menonton film ini, saya merasa cukup senang karena film ini berada sedikit di atas ekspektasi saya karena awalnya saya ragu dengan premis film ini serta cast utamanya yang adalah Dave Bautista. Namun stigma saya berubah setelah melihat bahwa dengan sedikit perbaikan cerita sebetulnya film ini punya potensi menjadi film keluarga yang memorable. Durasi 99 menit sudah dimaksimalkan untuk membawakan narasi cerita yang sebetulnya cukup aneh dan tidak masuk logika untuk kategori film mata-mata. Namun kita kesampingkan dahulu logika karena memang jualan utama film ini adalah komedi yang ramah ditonton oleh seluruh keluarga. Kelemahan film ini ada pada cerita yang tidak begitu terstruktur dengan baik dan semua masalah terkesan bisa diselesaikan dengan mudah. Tidak bisa dipungkiri kedalaman hubungan J.J dan Sophie terbangun dengan baik, demikian pula dengan Kate sehingga membuat kita berempati dan terhubung dengan keluarga ini. Begitu pula peran Bobbi yang menambah semarak unsur komedi dalam film ini. Film ini cocok untuk melepas kejenuhan karena ceritanya yang ringan dan cukup straightforward, konklusinya pun ditutup dengan cukup menarik dan cukup menyentuh.



Melihat kesuksesan Dwayne Johnson (The Rock) bertransformasi menjadi aktor Hollywood kelas A yang sangat sukses, rekan-rekannya dari dunia wrestling (olahraga gulat) yang sama turut mencoba peruntungan. Steve Austin, Kevin Nash, Kane Hodder, Randy Savage, Hulk Hogan, John Cena dan Dave Bautista adalah beberapa nama-nama yang mencoba meraih popularitas terutama di genre action. Dari nama-nama tersebut John Cena perlahan mulai menunjukkan peningkatan dalam setiap film yang ia bintangi dan skala filmnya pun ikut bergerak naik, Steve Austin hanya berhasil menjadi aktor film-film kelas B, Kane lebih dikenal sebagai karakter antagonis dan sekarang sepertinya sudah tidak terdengar lagi. Dave Bautista sendiri sepertinya masih dalam proses mencari bentuk dan formula karakter yang pas untuknya, perannya sebagai Drax di saga marvel cukup melambungkan namanya namun karakter yang ia perankan di film-filmnya masih kurang menampilkan banyak dimensi. Dalam My Spy, nampaknya ia menunjukkan kemampuan aktingnya yang mulai meningkat dan cukup “organik” dengan semua lawan mainnya, baik itu dengan Chloe, Kristen, maupun Parisa. Ia erlihat cukup santai dan seperti menjadi dirinya sendiri. Chloe dan Bobbi adalah dua cast scene stealer dalam film ini karena mereka mampu menghadirkan kelucuan dan hal-hal tak terduga sepanjang film. Untuk karakter antagonis tidak ada yang special karena memang sengaja diadakan untuk pelengkap cerita saja.



Segal nampaknya ingin menampilkan film keluarga yang tidak sekedar berfokus pada cerita aksi namun memiliki pesan moral mengenai kepercayaan dan persahabatan. Segal juga memasukkan unsur cinta dan bagaimana kehidupan menjadi ibu single parent yang lumayan kuat di sepanjang film ini. Interaksi yang terbangun antara Dave dan Sophie cukup baik dan berimbang, demikian pula chemistry antara Dave dan Parisa yang sayangnya hanya digambarkan sebentar karena Segal lebih ingin berfokus pada dinamika akting Dave dan Sophie. Film ini mengandung pesan kuat soal pentingnya kejujuran dalam membina hubungan apapun yang digambarkan melalui hubungan asmara J.J. dan Kate karena motivasi awal J.J. adalah mencari cara agar dapat dekat dengan keluarga Sophie agar tidak ketahuan motif sebenarnya. Dari sisi persahabatan Segal memberi kontras yang menarik antara hubungan J.J dengan Sophie dan J.J. dengan Bobbi, bahwa persahabatan seharusnya tulus dan tidak pilih-pilih atau karena asas manfaat. Segal berhasil merangkai adegan dan cerita dalam film untuk menyampaikan pesan-pesan tersebut secara santai dengan kadar humor yang pas. Film ini cocok ditonton bersama keluarga dan membuktikan bahwa Dave Bautista layak diberi kesempatan bermain film sejenis ini lagi.

Overall: 7/10
(By Camy Surjadi)


Wednesday, February 5, 2020

ULASAN: SECRET ZOO



Film – film drama komedi Korea Selatan terkenal dengan kreativitasnya dalam mengolah tema yang tidak biasa namun bisa menjadi cerita yang sangat menarik. Kali ini film keluarga bertajuk Secret Zoo yang bernuansa komedi hadir. Film ini diangkat dari adaptasi serial webcomic berjudul Haechijiana karya Hun dan sudah dipublikasikan dari 20 September 2011 hingga 27 April 2012 di Daum Webtoon Company. Film ini disutradarai dan ditulis naskah ceritanya oleh Son Jae-Gon (Villain and Widow-2010; My Scary Girl-2006) dan dibintangi oleh Ahn Jae-Hong (Miss & Mrs Cops -2019) dan Kang So-Ra (Cheer Up Mr.Lee-2013; Sunny-2011) sebagai bintang utama dengan didukung oleh Park Young-Gyu (Happiness for Sale-2013), Kim Sung-Oh (Unstoppable-2018; The Merciless-2017), Jeon Yeo-Bin (Illang: The Wolf Brigade-2018), Park Hyuk-Kwon (Unfinished-2018), Yoon Sung-Woo (Ashfall-2019), dan Jeon Woon-Jong (K-Drama series Chocolate-2018/2019). Film ini sudah dirilis di Korea Selatan pada 15 Januari 2020 dan telah menjadi box office di Korsel dengan menjual lebih dari 813 ribu tiket di 1.216 layar sejak tayang. Film Secret Zoo akan tayang di bioskop Indonesia pada 5 Februari 2020.



Tae Soo (Ahn Jae Hong), seorang pengacara yang sedang berusaha meraih kesuksesan di tempat ia bekerja mendapat kesempatan menjadi direktur di sebuah kebun binatang setelah menyelamatkan bosnya CEO Hwang (Park-Hyuk Kwon) dari amukan para demonstran. Tae Soo diberi waktu 3 bulan untuk mengurus kebun binatang tersebut agar ramai kembali sebelum perusahaannya akan menjual kembali ke pihak pembeli Min Chae-Ryung (Han Ye-Ri). Akan tetapi sesampainya di lokasi, Tae Soo terkejut mendapati kebun binatang tersebut hampir mengalami kebangkrutan dan akan ditutup. Semua hewan di kebun binatang habis terjual, dan hanya menyisakan sangat sedikit binatang serta seekor beruang kutub bernama Black Nose. CEO Hwang rutin mengecek Tae Soo untuk memastikan apakah ia mampu melaksanakan tugas yang diberikan, Tae Soo selalu menjawab dengan yakin. Karena terdesak, Tae Soo akhirnya memiliki sebuah ide yang sangat tidak biasa bahkan agak gila untuk menyelamatkan kebun binatang tersebut. Tae Soo mengajak para pegawainya untuk menggunakan hewan palsu sebagai pengganti hewan-hewan asli karena mereka tidak mungkin mendatangkan hewan-hewan asli dalam waktu singkat. Tae So dan para karyawannya mendatangi tempat pembuatan kostum untuk film yang digawangi oleh Tuan Ko (Kim Ki-Cheon), guna mendapatkan kostum yang terlihat ‘nyata’. Kostum yang disarankan adalah singa, beruang kutub, kukang, dan gorila, serta jerapah yang akan disusulkan. Para pegawai kebun binatang diminta oleh Tae Soo untuk berpura-pura menjadi hewan-hewan tersebut. Han So Won (Kang Sora) diminta menjadi singa, direktur Seo (Park Young Gyu), yang merupakan direktur kebun binatang sebelumnya, diminta menjadi beruang kutub, Kim Gun Wook (Kim Sung Oh) diminta menjadi gorilla, dan Kim Hae Kyung (Jeon Yeo Bin) menjadi kukang. Tae Soo yang menggantikan direktur Seo menyamar sebagai beruang kutub suatu ketika merasa Lelah dan meminum Coca-Cola. Hal tersebut ternyata dilihat oleh pengunjung dan akibat kelucuan itu kebun binatang tersebut akhirnya menjadi ramai dan viral di media sosial. Akan tetapi berbagai rintangan sudah menunggu Tae Soo dan para pegawai kebun binatang. Berhasilkah Tae Soo meraih kesuksesan dan posisi yang dijanjikannya setelah kebun binatang yang dipimpinnya menjadi viral atau malah ‘kepalsuan’ yang dia rencanakan terkuak?



Adaptasi cerita webtoon Haechijiana ini terbilang berhasil karena mampu menghadirkan cerita yang lucu namun tetap memiliki emosi dan pesan yang mengena untuk para penonton. Dengan durasi 117 menit narasi cerita mengalir dengan baik di bagian awal dan pertengahan cerita namun agak tergesa-gesa di bagian konklusinya. Pada bagian introduksi dan pengenalan karakter apa yang dilakukan dalam film ini sudah sangat baik, penonton diperkenalkan secara perlahan dan detil mengenai keseharian hidup Tae Soo sehingga memberi penonton waktu untuk terhubung dengannya. Lalu di bagian berikutnya penonton diperkenalkan dengan karakter-karakter pegawai kebun binatang yang cukup beragam namun mereka semua mampu memberikan dinamika yang menarik di sepanjang cerita film berkat interaksi mereka dengan Tae Soo ataupun di antara mereka satu sama lain. Unsur komedi film ini adalah aspek yang paling menarik karena mampu ditempatkan pada adegan-adegan yang tepat dan dijamin memancing gelak tawa. Selingan kisah percintaan juga turut diselipkan antara Tae Soo dan Han So serta Kim Gun Wook dan Kim Hae Kyung tetapi sayangnya terlalu dangkal padahal akan menarik jika dieksplorasi karena chemistry di antara kedua pasangan tersebut mampu ditampilkan dengan baik dan organik. Momen-momen dramatis juga disajikan dengan baik dan mampu membuat penonton berempati dan merefleksikan masalah dan konflik yang terjadi di kebun binatang. Akting Ahn Jae Hong sebagai karakter utama sangat baik terutama di momen-momen dia mengalami konflik batin dan moral atas keputusan yang harus ia buat terkait kebun binatang yang ia pimpin. Ahn Jae Hong juga terlihat lebih berakting dominan dibandingkan Kang Sora kemungkinan karena jalan cerita yang kurang memberi mereka momen untuk bersama padahal hubungan di antara mereka akan sangat menarik untuk dieksplorasi. Jalan cerita film ini mudah ditebak ketika kita menuju pertengahan film namun dinamika akting para pemainnya dalam memancing gelak tawa penonton mampu menarik penonton untuk menantikan seperti apa adegan final film ini.



Hal utama yang patut diapresiasi dalam film ini adalah penggunaan kostum yang sangat baik kualitasnya sehingga penampilan para aktor/ aktris dalam ksotum binatang terlihat meyakinkan dan mampu menunjang keseluruhan cerita dengan sangat baik. Mereka juga mampu tampil kocak lewat dialog-dialog dan tingkah konyol selagi berada dalam kostum binatang. Kekurangan yang sekaligus menjadi tantangan dalam film ini adalah karakter beruang kutub Black Nose yang full CGI tetap terlihat kentara di beberapa adegan dan sangat sulit untuk menampilkan gerakan atau interaksi yang realistis dari beruang kutub tersebut. Akan tetapi untungnya hal tersebut tidak mengganggu jalan cerita namun bagi penonton dewasa yang detil pasti akan menyadari kekurangan ini. Minimnya kehadiran hewan juga menjadi pertanyaan karena dalam film diceritakan para pegawai kebun binatang masih mengurus beberapa binatang kecil yang tersisa, penonton tidak akan melihat interaksi para pegawai kebun binatang tersebut dengan para hewan. Ide penggunaan kostum binatang sekaligus merefleksikan pertanyaan dan ironi apakah manusia mengeksploitasi para hewan hanya untuk objek tontonan semata.



Son Jae-Gon berusaha menyampaikan isu seputar permasalahan yang kerap terjadi di kebun binatang lewat serangkaian peristiwa-peristiwa dan dialog para pemainnya dalam film dengan tepat dan mengena bagi penonton khususnya mengenai nasib-nasib para binatang yang ada di kebun binatang. Jae-Gon mengajak para penonton untuk ikut berpikir tentang apakah manfaat dari kebun binatang itu sepadan dengan hewan-hewan yang ‘dikondisikan’ bukan di habitat asli mereka dan menunjukkan bahwa yang dapat manusia lakukan adalah merawat para binatang itu sebaik mungkin. Karena sebaik apapun kebun binatang dirancang tetap tidak akan dapat meyamai habitat asli mereka, hal inilah yang kerap menjadi pertentangan bagi organisasi pencinta hewan terhadap kebun binatang. Selain itu isu penindasan korporasi besar, dalam film ini properti, yang mencaplok kebun binatang untuk dijadikan area perumahan seakan menyindir praktik yang sering terjadi di kota-kota besar yang lebih mementingkan keuntungan ketimbang preservasi lingkungan dan kekayaan alam. Dilema moral tentang bagaimana seharusnya kita memilih hal yang benar untuk dilakukan dalam hidup digambarkan dengan sangat baik dalam film ini. Jae-Gon pandai merangkai adegan dan cerita dalam film guna menyampaikan pesan-pesan tersebut secara santai namun tepat sasaran. Seusai menyaksikan film ini semoga anda mendapatkan pesan bahwa kita memiliki peran dalam menjaga kelangsungan hidup hewan-hewan di dunia sekaligus memiliki perspektif baru terhadap kebun binatang dan para pekerja yang terlibat di dalamnya.

Overall: 8/10
(By Camy Surjadi)