Friday, September 30, 2022

ULASAN: SMILE





Mental Health merupakan hal penting yang dicari banyak orang di jaman serba canggih ini akibat arus informasi dan interaksi social media yang terlalu berlebihan dibandingkan dekade sebelumnya. Apa jadinya jika suatu film mengangkat hal terpenting dalam interaksi sosial manusia menjadi tema horor? Smile merupakan film bergenre supernatural psychological thriller yang mengambil setting dunia psikiatri medis (atau lebih kita kenal dengan Kesehatan Jiwa kalau di Indo) yang siap membuat anda ‘terguncang’ secara psikologis. Smile disutradarai oleh Parker Finn sebagai debut film layar lebar pertamanya berdasarkan film pendeknya tahun 2020 “Laura Hasn't Slept”. Film ini dibintangi oleh Sosie Bacon, Jessie T. Usher, Kyle Gallner, Caitlin Stasey, Kal Penn, dan Rob Morgan. Smile ditayangkan secara premier di acara Fantastic Fest (US) pada 22 September 2022.



Diceritakan bahwa setelah menyaksikan kejadian traumatis yang aneh yang melibatkan kematian seorang pasien yang tersenyum, Dr. Rose Cotter (Sosie Bacon) mulai mengalami kejadian menakutkan yang tidak bisa dia jelaskan. Saat teror yang luar biasa perlahan mulai mengambil alih hidupnya dan Kesehatan mentalnya, Rose kembali harus menghadapi masa lalunya yang kelam sambil berusaha memecahkan misteri teror yang mengerikan yang mengancam nyawanya. Akankah Rose mampu bertahan hidup dari situasi baru yang mengerikan? Jawabannya harus anda saksikan sendiri dengan menonton film ini yang menurut saya serasa membuat anda mengalami sensasi panic attack dari awal hingga akhir. Tidak disarankan menonton film ini jika anda sedang mengalami stress atau ada masalah yang sedang dialami.



Durasi 115 menit film ini benar-benar dimanfaatkan dengan sangat baik, inti film soal trauma dan mental health menjadi jiwa dan nyawa film ini dari awal hngga akhir. Pada bagian awal kita diperkenalkan dengan dr. Rose Cotter dan lingkungan RS tempat ia bekerja, keluarganya, dan secara perlahan kita dibukakan mengenai kehidupan pribadinya yang ternyata memiliki masa lalu kelam. Tidak butuh waktu lama untuk membuat kita simpatik dengan karakternya. Lalu setelah itu penonton mulai dibawa kepada adegan pembuka horor traumatis yang bisa dibilang efeknya sangat disturbing dan membekas tapi efektif memancing rasa penasaran penonton atas apa sebenernya yang terjadi. Sesudah itu di bagian kedua kita akan dibawa dalam proses kegilaan yang dialami Rose akibat kejadian di awal. Perlahan-lahan misteri film ini mulai dibukakan seiring penyelidikan yang  dilakukan Rose dan jika anda pernah menyaksikan film The Ring (The Grudge untuk versi AS), The Shining maka tema yang melingkupi adalah seputar kutukan yang menyebar dari satu orang ke orang yang lain. Perjuangan Rose mencari penyebab dan cara mengatasi kutukan dieksplorasi di bagian kedua ini dan kehadiran Joel memberikan dinamika menarik sehingga penonton tidak bosan. Penggunaan jumpscare benar-benar digunakan pada momen yang tepat dan walau beberapa kali dilakukan tapi ini tidak masalah karena penting untuk jalan cerita. Sampai di bagian konklusinya penonton baru akan mendapat jawaban bagaimana nasib Rose dan Joel dalam perjuangannya melawan terror yang mengejar mereka.




Sosie memiliki performance yang kuat sebagai dr. Rose karakter utama film ini. Dia mampu membuat penonton bersimpati lewat penjiwaan karakter yang diperankannya sebagai dokter psikiatri yang terguncang mentalnya dan memiliki pengalaman masa lalu yang traumatis. Para cast yang terlibat bisa dikatakan semuanya menampilkan dinamika yang baik, Kyle Gallner yang memerankan mantan pacar Sosie yang juga polisi tampil meyakinkan. Jessie T Usher dalam perannya sebagai Trevor tunangan Sosie yang agak kurang menurut saya karena chemistry yang ditampilkan tidak begitu mengena serta tidak terlalu dieksplor banyak. Di luar itu supporting cast lain sudah menampilkan performa sesuai porsinya. Sinematografi film ini yang menampilkan kesan ‘dreamy’ dan distorsi terbalik atas dan bawah (banyak adegan yang menampilkan camera movement yang berputar 180 derajat) dan efek scoring tanpa music dan hanya berupa sound-sound yang mengganggu dan menimbulkan anxiety memperkuat vibe horror film ini. Semua adegan representasi horror di film ini menggunakan practical effects untuk menampilkan kesan real dan visceral. Tom Woodruff Jr didapuk untuk mengerjakan setiap adegan horror (Tom sudah dikenal lewat karyanya di It, Aliens, dan Terminator). Untuk scoring, Komposer peraih Emmy® Cristobal Tapia de Veer (“The White Lotus”) yang bertugas menciptakan sound di film ini sehingga terasa memiliki karakter unik untuk film Smile ini.



Smile akan memberikan pengalaman menonton yang membekas di benak penonton karena premisnya yang sederhana tapi dijadikan paradoks bagaimana ekspresi senyuman bisa menjadi hal yang begitu menghantui, traumatis, dan ‘disturbing’ sepanjang film. Plot cerita yang dibangun solid serta scoring music semuanya benar-benar mendukung kesatuan film ini menjadi utuh. Menonton film ini seakan mampu membuat kita berempati bagaimana rasanya memiliki pengalaman traumatis yang menghantui dan seakan membuat kita terjebak antara kenyataan dan halusinasi. Finn berhasil menyuguhkan horor psikologis yang bukan sekedar mengandalkan jumpscare, semua elemen baik dari cast, surrounding, visual dimanfaatkan dengan maksimal sehingga memberikan suguhan horror yang cukup fresh dan memiliki ciri khusus. Berkaca dari Smile, karya Finn berikutnya patut untuk ditunggu.


Overall: 8/10

(By Camy Surjadi)










Tuesday, September 27, 2022

PERGELRAN FESTIVAL SINEMA PERANCIS KE-24 SIAP DIGELAR





Institut Prancis Indonesia kembali menyelenggarakan Festival Sinema Prancis (FSP) dalam format hybrid (luring dan daring) pada 6 - 21 Oktober 2022. Pada edisi ke-24, festival film asing pertama di Indonesia ini hadir dengan mengusung tema: Generation. Dengan genre yang beragam (fiksi, serial pendek, animasi dan dokumenter), FSP menampilkan 19 film yang diputar di 21 lokasi yang tersebar di 13 kota di Indonesia, dan 5 film yang dapat diakses secara daring melalui platform video on demand MOLA. Seluruh film FSP dapat ditonton secara gratis dengan takarir Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.


Dengan membawa pesan harapan, untuk perubahan di masa depan yang lebih baik, FSP menampilkan film-film yang dapat meningkatkan kesadaran akan tantangan utama di zaman kita, yaitu, perubahan iklim, pelestarian lingkungan, kepunahan massal spesies tetapi juga hak asasi manusia dan inklusi. Disisi lain FSP menyajikan ragam genre dari Sinema Prancis yang dapat dinikmati lintas generasi untuk memberikan cita dan semangat baru setelah 2 tahun terperangkap didalam pandemi covid-19.



Festival akan dibuka pada tanggal 6 October dengan memutarkan film dokumenter yang menjadi film pilihan di Cannes Film Festival 2021, berjudul ANIMAL, karya Cyril Dion, tentang perjalanan transformatif 2 remaja yang memiliki kekhawatiran tentang kepunahan massal. Selain itu, acara pembukaan juga diramaikan dengan konser untuk tanaman dari grup musik asal Bandung, Bottlesmoker. Berbagai acara yang dihelat ini sejalan dengan program Institut Prancis Indonesia, yaitu IFI untuk Bumi. Program kerja yang mendukung pembangunan berkelanjutan untuk menciptakan lingkungan yang lebih baik dengan membangun kesadaran tentang isu lingkungan melalui budaya.


Untuk menikmati festival luring, para pecinta film Prancis dapat menghadirinya di 13 kota, yaitu ; Jakarta, Tangerang, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Bali, Medan, Pontianak, Lampung, Samarinda, Kendari, Makassar dan Ambon. 19 film Prancis menakjubkan akan disajikan dalam festival luring dari berbagai genre ; Drama (Bonne Mère, Ouistreham, Mon Lègionnaire), romantic drama (Illusions Perdues, Les Choses qu'on Dit Les Chose qu'on Fait, une Jeune Fillequi Va Bien), film keluarga (Les 2 Alfred & Petite Vampire), dua film dokumenter karya Sébastien Lifshitz (Adolescentes & Petite Fille). Di samping itu, terdapat 4 film Prancis dengan judul Animal, Mal de Pierres(From The Land of The Moon), Ne Te Returne Pas (Don’t Look Back), la Vénus à la Fourrure (Venus in Fur) serta 1 serial pendek Prancis berjudul Neuf Meuf (Nine Women), tersedia secara daring dan gratis hanya di MOLA pada tanggal 14 – 21 Oktober 2022.




Tidak hanya menonton film, para cinephile juga diajak menghadiri dan mendiskusikan topik – topik menarik di dunia perfilman dalam program film industry discussion, seperti Women in Cinéma, Film Scoring, dan Jean-Luc Godard Retrospective. Kemudian seri 2 diskusi tentang dunia dokumenter dirangkai dalam gelaran program bernama soirée Documentaire, yang pertama yaitu tentang dokumenter dan eksperimental, setelah itu diskusi tentang tantangan dan peluang di industri film dokumenter. Festival tahun ini lebih meriah, karena Anda dapat berpartisipasi baik secara luring atau daring, nonton di lokasi-lokasi pemutaran FSP atau di tempat ternyaman Anda, baik sendirian, bersama keluarga atau dengan teman. Dimanapun tempatnya, dan dengan siapapun kalian menonton, pastikan Anda mendapatkan programnya di website ataupun sosial media IFI.


Monday, September 26, 2022

JOURDY PRANATA IKUT MERAMAMAIKAN JAKARTA FILM WEEK 2022 SEBAGAI AMBASSADOR FESTIVAL

                     

Jakarta Film Week (JFW) 2022, sebuah festival film bertaraf internasional yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi DKI Jakarta, kembali hadir. Mengusung tema baru, yaitu Emerge, JFW siap merangkul secercah harapan baru yang muncul di industri perfilman pasca-pandemi. Di tahun ini, JFW juga menghadirkan wajah baru sebagai festival ambassador, yaitu Jourdy Pranata.

Nama Jourdy Pranata sudah dikenal sebagai aktor sejak 2017 lalu. Ia sudah terlibat di sejumlah judul film, baik itu film panjang ataupun film pendek. Beberapa judul film yang ia bintangi antara lain, Habibie & Ainun 3 (2019), #TemanTapiMenikah2 (2020), Kukira Kau Rumah (2021), One Night Stand (2021) dan yang terbaru film Pengabdi Setan 2: Communion (2022).

 

Jourdy Pranata mengaku, terlibat di sebuah festival film adalah hal yang dapat membantu karirnya yang tengah berkembang. Pasalnya, dengan terlibat sebagai festival ambassador Jakarta Film Week, ia bisa melihat karya-karya filmmaker dari negara lain. Dengan begitu, ia bisa mengapresiasi karya-karya tersebut. Karena apresiasi penonton pastinya akan membuat para filmmaker dihargai atas karyanya.

“Festival film adalah salah satu wadah penting untuk karya. Karena gue juga terlibat di beberapa film pendek, dan gue pribadi senang, karya film pendek yang beberapa menit, 9 menit 15 menit, tapi bisa berdampak besar ke orang luas, jadi gue pengin bisa melihat karya-karya dari lapisan dunia dengan berbagai pesan yang ingin disampaikan,” ungkap aktor 28 tahun tersebut.

Dengan menjadi bagian di Jakarta Film Week, ia juga berharap bisa menyaksikan karya-karya luar biasa dari luar negeri, yang tidak sempat terekspos di Indonesia. “Gue juga suka nonton, dan mungkin ada film dengan konsep niche yang enggak sempat terdengar di Indonesia, bisa
ada di festival nanti, nah gue pengen lihat itu. That’s why gue pengen terlibat di Jakarta Film Week,” lanjutnya lagi.



Selain akan aktif menonton film-film yang hadir di festival, Jourdy juga akan berbagi dalam sesi Talks, yang menjadi salah satu program di Fringe Event Jakarta Film Week 2022. Jourdy akan menjadi narasumber dan membicarakan seputar pengalamannya sebagai aktor.

Festival Jakarta Film Week 2022 ini akan hadir tanggal 13-16 Oktober 2022, yang diadakan di tiga venue: CGV Grand Indonesia untuk Program Screening, Kineforum Taman Ismail Marzuki untuk Program Screening dan Non Screening, Ashley Hotel untuk Program Producer’s Lab.

Untuk pemesanan tiket penayangan film dapat diakses mulai 1 Oktober melalui Tix ID secara gratis. Fringe Event Jakarta FIlm Week 2022 dan informasi lainnya bisa diakses melalui www.jakartafilmweek.com dan instagram @jakartafilmweek.




Wednesday, September 21, 2022

ULASAN: ARTHUR MELEDICTION





Film horror-thriller dituntut untuk bisa kreatif dalam hal plot dan pengembangan karakter tokoh utama dan tokoh antagonisnya dengan tujuan supaya film tersebut membekas di benak penonton. Cukup banyak film thriller yang mereferensikan film-film terkenal dalam ceritanya tetapi apa jadinya jika film anak-anak tersebut adalah suatu penyamaran dari film yang lebih sadis?Arthur and the Invisibles atau Arthur and the Minimoys adalah cerita anak-anak karya Luc Besson yang menghibur yang rilis pada 2006. Pada tahun 2022 ini dijadikan spin off film thriller horror oleh sutradara Barthlemy Grossmann. Adapun beberapa aktris dan aktor yang membintangi film Arthur Malediction diantaranya Thalia Besson, Mathieu Berger, dan Lola Andreoni. Film ini dirilis di Perancis pada 29 Juni 2022 dan sudah hadir di bioskop Indonesia sejak 16 September. Penerimaan film ini oleh kritikus dan fans tidak begitu baik.`



Arthur Malediction menceritakan mengenai sekelompok anak muda Alex (Mathieu Berger), Samantha (Thalia Besson), Jean (Yann Mendy), Mathilde (Lola Andreoni), Renata (Jade Pedri), Maxime (Vadim Agid), Douglas (MikaëlHalimi) dan Dominique (Marceau Ebersolt) yang sejakkeciltergila-gila mengikuti film Arthur. Pada ulang tahun Alex ke-18, iamengajak kawan-kawannya untuk berkemah di lokasi rumah tempat shooting film Arthur di pedalamanPrancis. Mereka tidak mengetahui bahwa terror makhluk misterius sudah menanti mereka di sana.





Sepanjang durasi 87menit, nyaris tidak ada bagian yang menonjol dari film ini. Pada bagian awal film ini berusaha mengenalkan kita pada karakter-karakter remaja termasuk Alex sang tokoh utama yang semuanya menurut saya flat dan tidak memiliki pengembangan karakter sama sekali. Ketika para remaja tersebut berpindah lokasi ke rumah yang infonya merupakan bekas tempat syuting Arthur and the Minimoys harusnya treatmentnya bisa dimanfaatkan lebih baik untuk menciptakan keseraman tetapi malah disia-siakan. Faktor Urban Legend setempat harusnya bisa digunakan untuk menciptakan atmosfer horor - thriller - slasher yang mengaitkan identitas makhluk yang mengganggu mereka tetapi kita gak akan menemukan sama sekali penjelasan soal ini bahkan hingga akhir film. Puncaknya ketika liburan berubah menjadi petaka di mana mereka satu persatu terbunuh dengan cara kematian yang mengenaskan kita akan merasa film ini masih kebingungan mencari arah cerita. Semua karakternya kebingungan sama seperti kita penonton yang bingung. Ketika sampai di bagian konklusi dan akhirnya dibukakan apa yang mengganggu mereka (yang tetap saja tidak jelas) kita akan bertambah bingung bahkan lebih aneh lagi karena ada elemen mengaitkan suku-suku pedalaman yang terasa dipaksakan untuk bisa blend dengan ceritanya. Pada akhirnya Arthur Malediction ini lebih terasa membosankan dibanding mencekam.





Jelas film ini kurang riset dan pemahaman bagaimana meramu cerita teen horror/ thriller. Hal yang kentara adalah CGI dan efek film ini yang terasa ‘palsu’ seperti mau bermain aman dengan part gore- nya. Jika dilakukan dengan all out mungkin bisa sedikit membantu. Jangan harap ada tokoh jagoan yang menonjol atau character development, hal itu tidak akan anda temukan di sini. Kita akan bertanya-tanya kenapa tokoh remaja ini bisa dipilih untuk bermain di film ini, kehadiran putri Luc Besson, Thalia Besson pun tidak berdampak banyak di film.




Arthur Malediction is really not enjoyableor even thrilling to watch, sebuah spin off yang gagal karena gaya penceritaan dan karakterisasi yang buruk. Nyaris tidak ada sisi positif film ini yang dapat menyelamatkan. Hal ini menegaskan bahwa kematangan skenario itu penting dan tidak hanya sekedar mendompleng ketenaran suatu film akan menjamin ceritanya juga akan bagus. Entah apa yang dipikirkan sang sutradara ketika mengembangkan cerita film ini. Film ini feelnya lebih seperti B-movie yang seharusnya rilis di VOD atau streaming platform saja ketimbang dirilis di bioskop.




Overall: 4.5/10

(By Camy Surjadi)  



















Saturday, September 17, 2022

MENERIMA 461 FILM DARI 28 NEGARA, JAKARTA FILM WEEK TAHUN KEDUA AKANN HADIR JAUH LEBIH BESAR DIBANDINGKAN TAHUN PERTAMA



Jakarta Film Week (JFW), festival film bertaraf internasional kembali diadakan tahun ini pada 13-16 Oktober, secara offline dan online. Jakarta hadir sebagai kota yang merespon kegiatan ekonomi kreatif dan juga memfasilitasi ruang dan kebutuhan film, baik dari penonton dan juga industri yang terus berkembang. Jakarta Film Week edisi kedua akan mengusung tema Emerge, kembali diinisiasi oleh Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi DKI Jakarta. 




Tahun ini Jakarta Film Week masih memiliki dua program utama, yaitu program pemutaran film dan non pemutaran film. Program pemutaran film akan terdiri dari Ä program, yaitu Global Feature (merupakan pemutaran film panjang terpilih baik dari Indonesia maupun internasional), Global Short (pemutaran film pendek menampilkan film-film pendek terpilih, baik dari Indonesia maupun Internasional), dan Jakagja Film Fk[d (kompetisi ide cerita pembuatan film pendek). Dalam program pemutaran film juga akan ada sesi kompetisi yang terdiri dari, Global Feature Award (penghargaan film panjang internasional terbaik), Direction Award (penghargaan film panjang Indonesia terbaik), Global Short Award (penghargaan film pendek internasional terbaik), Jakagja Film Fk[d Aqagd (penghargaan film hasil produksi pemenang Jakarta Film Fund), Global Animation Award (penghargaan film animasi pendek), dan Series of the Year (penghargaan series orisinal yang tayang di OTT).




Untuk program non pemutaran film, terdiri dari; Masterclass (pelatihan untuk para profesional industri film dengan narasumber berpengalaman di industri film internasional), Talks (diskusi publik seputar industri film dengan panelis yang inovatif dan berpengalaman), Community (ruang berbagi komunitas film untuk memperluas jaringan dan bertukar pengetahuan dengan para ahli di industri film), Jakarta Film Fund (kompetisi ide cerita pembuatan film pendek, dengan proposal yang terpilih akan mendapatkan dukungan produksi, teknis dan pelatihan), Road to Jakarta Film Week (Kegiatan yang berjalan menjelang acara puncak Jakarta Film Week 2022). Acara ini berkolaborasi dengan instansi edukasi film di Indonesia, berbentuk diskusi dan bincang dengan praktisi industri film. Selain diskusi dan bincang dengan praktisi industri film, Road to Jakarta Film Week juga berupa penayangan 24 film pendek secara eksklusif di Vidio.com, hasil kolaborasi dari instansi edukasi film di Indonesia, dan Exhibition[ (ruang pameran dan pertemuan untuk pekerja film, prakerja film, prakarsa teknologi, investor dan penonton). Satu program terbaru lainnya di tahun ini yaitu Pg]dkcegh Lab. Program hasil kolaborasi dengan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia dan Platform BUSAN, yang secara eksklusif memfasilitasi para produser film Indonesia untuk siap berkompetisi secara lokal dan internasional. Yulia Evina Bhara, produser film asal Indonesia dan Alemberg Ang, produser film asal Filipina akan menjadi mentor program ini. Peserta yang terpilih akan mendapat kesempatan untuk mengikuti Platform BUSAN 2023.





Di tahun kedua ini JFW menerima pendaftar film mencapai 461 film yang berasal dari 28 negara. Film Balada Si Roy produksi IDN Pictures dipilih menjadi film pembuka JFW 2023. Pemutaran tersebut sekaligus menjadi momen world premiere untuk film Balada Si Roy. Penyelenggaraan Jakarta Film Week secara luring tahun ini akan diadakan di 3 lokasi berbeda, yaitu; CGV Grand Indonesia dan Kineforum Taman Ismail Marzuki untuk program pemutaran film dan non pemutaran film, Ashley Hotel untuk Program Producer Lab. Sementara penyelenggaraan secara daring akan tayang secara eksklusif di Vidio.com.





PROGRAM JAKARTA FILM WEEK

Film Panjang Kompetisi :

1. Arnold is a Model Student / Sorayos Prapapan / Thailand, Singapore, France,

Netherlands, Philippines

2. Balada si Roy / Fajar Nugros / Indonesia

3. Galang / Adriyanto Dewo / Indonesia

4. Huesera / Michelle Garza Cervera / Mexico, Peru

5. Mencuri Raden Saleh / Angga Sasongko / Indonesia

6. Melchior the Apothecary / Elmo Nuganen / Estonia, Latvia, Germany

7. Nana (Before Now 2 Then) / Kamila Andini / Indonesia







Film Pendek Kompetisi :

1. Buried Bullet / Ali Nazha / Lebanon

2. Basiyat: Bathe My Corpse With Wine / Ahmad Faiz / Indonesia

3. Cake Day! / Ribka Natalia / Indonesia

4. Gabriel (Berita Duka Hari Ini) / Candra Aditya / Indonesia

5. James English Academy / Kim Kwon-hoan / South Korea

5. Jumawut Night / Yudhatama / Indonesia

6. Late Blooming in a Lonely Summer Day / Sein Lyan Tun/ Myanmar

7. Moshari / Nuhash Humayun / Bangladesh

8. Nauha (Eve of a Eulogy) / Pratham Khurana / India

9. Nusa Antara / Azalia Muchransyah 2 Firman Widyasmara / Indonesia

10. Sweet Squad (Pasukan Semut) / Haris Supiandi / Indonesia

11. Such Small Hands / Maria Martinez Bayona / UK

12. Sigarane Nyowo / Yudhatama / Indonesia (Jogja)

13. Serangan Oemoem! / Fajar Martha Santosa / Indonesia

14. Tankboy / Novella / Singapore

15. What About Mother Earth / Pamela Suryadjaya / Indonesia








Thursday, September 15, 2022

ULASAN: WHERE THE CRAWDADS SING













Bisa dibilang film bertema romansa-thriller misteri sebuah film yang mempunyai genre yang unik. yang mana 2 genre yang bertolak belakang disatukan dalam satu plot cerita. Beberapa film populer yang bertema seperti ini ada Rebecca, Original Sin,Crimson Peak atau yang baru-baru ini ada Decision to Leave arahan sutradara watak asal Korea Park Chan-wook. Kali ini tema film tersebut dihadirkan oleh Where the Crawdads Sing. Film adaptasi novel berjudul sama karya Della Owen yang dibintangi oleh aktris yang sedang naik daun Daisy Edgar-Jones.



Kya (Daisy Edgar-Jones), seorang gadis terlantar yang membesarkan dirinya sendiri hingga dewasa di rawa-rawa berbahaya di North Carolina. Selama bertahun-tahun, desas-desus tentang “Gadis Rawa” menghantui Barkley Cove, yang membuat Kya terisolasi dari orang-orang di lingkungan sekitarnya.Seiring waktu berlalu, Kya membuka diri ke dunia baru yang mengejutkan, serta tertarik pada dua pemuda dari kota, Tate Walker dan Chase Andrews. Tate mengajari Kya membaca, menulis dan berhitung, dan menjalin hubungan di masa remaja. Ketika Tate pergi untuk kuliah, hubungan mereka berakhir. Kemudian, Kya menjalin asmara dengan Chase, seorang pemain footbal lokal yang populer, yang berjanji akan menikahinya. Namun, ketika Chase ditemukan tak bernyawa, semua warga Barkley Cove menganggap Kya sebagai pelakunya.


Dibuka dengan adegan yang menjadi konflik utama kita akan di bawa pada plot cerita secara back to back past dan then. Mengenali karakter utama Kya yang mempunyai masa lalu yang berat dan membuatnya menutup diri dari dunia. 30 menit pertama kita sudah bisa mengetahui latar belakang karakter utama kita. Unsur thriller-misteri akan muncul sesekali. Isi film dominasi oleh bagian romansanya dengan hubungan pasang-surut antara Kya-Tate-Chase. namun sayangnya porsi yang mendominasi ini juga yang bisa sebagian kita akan merasa bosan, terlebih untuk kita yang sudah terbiasa dengan film-film bertema seperti ini. Alur yang sangat lambat dan ditampah plot romansanya yang sangat klise dan divisualkan dengan sesuatu yang tidak istimewa.


Untungnya ketika kita terjebak dengan plotnya yang sedikit membosankan kita masih bisa peduli dengan karakter utama kita Kya. Daisy Edgar-Jones berhasil memberikan nyawa pada karakter Kya. Perubahan karakternya dari yang menutup dari dunia, membuka hati, patah hati, dan pulih lagi adalah bagian terbaik film ini. 


Where the Crawdads Sing mencoba mencoba dengan konsep slowburnya ini belum terlalu tampil dengan ciamik. Twist yang dihadirkan cukup memberi efek kejutan, namun karena rasa antusias perhalahan sudah merosot menurun seiring berjalannya durasi film, twist tersebut tidak terlalu pengaruh yang berarti, terlebih untuk film sejenis ini twist tersebut sudah sangat biasa. Daisy Edgar-Jones menjadi penyealamat film ini.

Overall: 5,5/10

Thursday, September 8, 2022

ULASAN: THE INVITATION


Coba ingat-ingat lagi, film bertema vampir apa yang menjadi perbincangan pasca saga Twilight selesai? Mungkin ada satu atau dua judul yang mengkin teringat atau bahkan tidak ingat karena memang film sejenis ini mulai jarang disentuh. Mungkin karena alasan itu juga lahirnya ide film The Invitation ini. Film yang sejatinya bergenre horror ini diselipi nuansa romansa antara manusia dan vampire. Film ini sendiri dibintangi oleh Nathalie Emmanuel (Gane of Thrones, Army of Thieves) dan disutradarai oleh Jessica M. Thompson yang mana TheI nvitation  ini adalah film panjang kedua yang dia sutradarai.



Evie (Nathalie Emmanuel) gadis sebatang kara yang tinggal di tengah-tengah kota New York harus banting ulang mencari nafkah untuk menghidupinya setelah kedua orang tuanya meninggal. Berdasarkan reaksi impulsif Evie mencoba mengirim DNA paad situs online di mana situs tersebut bisa mencocokannya dengan garis darah keturunan yang mungkin tidak kita ketahui. Gayung bersambut test DNA yang dikirmkan Evie mendapat jawaban, Evie langsung setuju untuk bertemu sepupu jauhnya, Oliver (Hugh Skinner). Oliver pun langsung mengundang Evie untuk hadir di pesta pernikahan yang terletak di pedesaan Inggris, sekaligus bertemu dengan keluarga besarnya yang lain dan berkenalan dengan tuan rumah Walter De Ville (Thomas Doherty). Evie merasa nyaman dengan suasana keluarga barunya yang terhat sempurna. Namun sesuatu yang kelihatan sempurna adalah hl terburuk karena pasti ada sesuatu yang busuk ditutupi. Hal itulah yang Evie ketika akhirnya dia menemukan rahasia kelam keluarga barunya dan mmebuat nyawanya terancam.





Premis yang ditawarkan oleh The Invitation mengingatkan kita dengan film hit 'Ready or Not'yang rilis tahun 2019 lalu. Namun meskipun premis yang hampir sama ini tidak terlalu menjadi minus, bahkan The Invitation mmepunyai porsi lebih dengan menguatkan karakter utamanya. Ini terbukti bagaimana plot cerita jadi terasa menarik karena pendekatan karakter utama ini. Lalu kita di bawa lebih dalam lagi ke dalam cerita dengan mengenal keluarga baru Evie yang dipimpin Walter De Ville. Perlahan kengerian yang dirasakan oleh Evie berhasil ditularkan kepada penonton. Sampai sejauh itu apa yang disajikan The Invitation masih berhasil mengikat penonton pada alur ceritanya.



Namun sayangnya kuat atau menariknya plot The Invitation tidak mampu dipertahankan sampai memasuki babak ketiga plot atau final act dari film ini. Tanpa membawa-bawa plothole yang sebenarnya gampang kita temukan dari awal film yang membuat ritme film ini menurun drastis adalah final act-nya. Final act seolah mencari hal termudah dari penulis untuk bisa segera menyelesaikan film ini yang membuat cerita menjadi aneh kalau mau bisa disebut kacau. 20 menit terakhir merusak set-up yang sudah dibangun dari awal film. sangat disayangkan memang.


The Ivitation mempuanyai awal yang mejanjikan dan kuat, namun sayang konsistensi itu tidak mampu dipertahankan sampai akhir. Jika saja bagian akhir atau final act bisa dipoles lebih dalam lagi, jika menyebut bisa melebihi terlalu berlebihan setidaknya film ini bisa menyamai atau setara dengan Ready or Not.

Overall: 6/10

Wednesday, September 7, 2022

INDOSAT DAN CGV BEKERJASAMA MENGGELAR KOMPETISI FILM PENDEK DENGAN TEMA 'SAVE OUR SOCMED'



Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) bersama CGV meresmikan program literasi digital Save Our Socmed (S.O.S) melalui kompetisi film pendek. Program ini ditujukan untuk pelajar, mahasiswa, dan umum dengan total hadiah Rp100 juta. S.O.S. disertai dengan pelatihan pembuatan film gratis di bioskop-bioskop CGV di 10 kota Indonesia bagi para pendaftar. Acara dengan tema “Waspada Flex Culture, Stay Humble!” ini diinisiasi menanggapi fenomena flexing, di mana banyak anak-anak Gen-Z makin kerap memamerkan kekayaan dan menyombongkan diri di media sosial yang memberi dampak negatif. Sebab, flexing menyebabkan rasa fear of missing out (FOMO), kurang percaya diri, merusak mental pribadi, dan mempengaruhi produktivitas. Lewat S.O.S, IOH berharap bisa menginspirasi anak muda Indonesia agar menggunakan internet untuk hal-hal produktif, kreatif, dan positif. Hal ini sejalan dengan misi perusahaan untuk menghadirkan pengalaman digital kelas dunia, menghubungkan, dan memberdayakan masyarakat Indonesia. Peresmian program literasi digital S.O.S turut mengundang Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, dan Riset Teknologi, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, serta melibatkan berbagai universitas dan komunitas.




Director & Chief Regulatory Officer Indosat Ooredoo Hutchison, Muhammad Buldansyah mengatakan, “Lewat program ini, kami ingin memberikan keterampilan digital dan mengajak anak muda untuk memanfaatkan media sosial sebagai sarana meningkatkan kreativitas dengan membuat konten positif. Sehingga, anak muda yang jadi pengguna terbesar internet bisa memamerkan kreativitas mereka alih-alih terbawa flex culture.”




Pasalnya, berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) dari total 210 juta pengguna internet Indonesia periode 2021–2022, sebanyak 99,16% pengguna ada di kelompok usia 13-18 tahun. Meski pengguna internet di kalangan anak muda sangat besar, namun data Digital Civility Index (DCI) Microsoft menunjukkan terdapat peningkatan konten dan perilaku negatif di media sosial. Berdasarkan survei tersebut, 30% responden menyebut kesopanan di sosial media memburuk selama pandemi, tolong-menolong berkurang 11%, sikap tidak saling mendukung berkurang 8%, rasa kebersamaan juga menurun 11%. Dampaknya, flex culture menjadi kontributor yang menyebabkan lebih dari 19 juta anak-anak Indonesia berusia 15 tahun ke atas mengalami depresi (Riskesdas, 2018)




Staf Ahli Menteri Bidang Manajemen Krisis, Kebudayaan, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, Fadjar Hutomo, menyampaikan, “Kami berharap lewat pelatihan dan kompetisi film pendek S.O.S ini bisa menjadi media pembelajaran bagi anak muda Indonesia untuk memamerkan kreativitas. Sehingga, media sosial bisa menjadi wadah untuk membuat konten positif.” Setelah mendaftar dalam kompetisi film, peserta S.O.S akan menerima pelatihan pembuatan film pendek dan edukasi mengenai dampak negatif Flex Culture. Hasil karya mereka lantas dilombakan dan seluruh peserta akan diajak untuk bersama-sama menyaksikan karya-karya yang terpilih. Direktur CGV, Haryani Suwirman menyebut, “Kami sangat mendukung kegiatan yang mengeksplorasi kreativitas anak muda sekarang. Kami berharap lewat ajang ini bisa mengangkat bakat-bakat terpendam untuk memajukan dunia perfilman Indonesia. Kami percaya anak muda Indonesia punya banyak ide-ide luar biasa.”




Literasi Digital S.O.S dilaksanakan untuk meneruskan kesuksesan S.O.S pada tahun 2021 lalu. Lewat kegiatan CSR pilar pendidikan digital ini, IOH membuat kompetisi dan webinar terkait cyber bullying, hoaks, dan kekerasan berbasis gender online (KBGO). Hasil seluruh karya dari peserta kompetisi tersebut berhasil disaksikan oleh 2,3 juta penonton.




Produser Maxima Pictures, Ody Mulya Hidayat menyampaikan “Melalui Program Literasi Digital ini, kita harap bisa menggali potensi anak muda Indonesia yang luar biasa. Saya yakin mereka bisa menjadi penggerak industri perfilman di Indonesia ke depan. Saya sangat mendukung dan mengapresiasi kegiatan seperti ini, di samping itu program ini juga memiliki nilai edukasi yang bermanfaat bagi masyarakat”




Pendaftaran dan info lengkap mengenai S.O.S 2022, dapat dilihat di linktr.ee/saveoursocmed.