Showing posts with label DC Comics. Show all posts
Showing posts with label DC Comics. Show all posts

Thursday, July 10, 2025

REVIEW: SUPERMAN (2025) VERSI JAMES GUNN YANG LEBIH GROUNDED DAN BERANI AMBIL RISIKO



Film SUPERMAN terbaru arahan James Gunn akhirnya tayang, dan hasilnya jauh dari ekspektasi standar superhero klasik. Gunn membuka film ini dengan langkah berani—memperlihatkan Superman yang kalah. Sebuah pernyataan langsung bahwa kita akan melihat sisi berbeda dari sang Man of Steel.

David Corenswet sebagai Superman: Lebih Manusia, Lebih Dekat

Dalam film ini, David Corenswet tampil sebagai Superman yang lebih grounded. Karakternya tidak lagi sekadar alien penyelamat, melainkan sosok yang sudah berbaur dengan kehidupan manusia, menjadi figur publik yang dituntut sempurna dan selalu menjadi panutan. Pilihan ini membuat Superman 2025 terasa lebih manusiawi dan relevan secara emosional.

Cerita Penuh Aksi dan Humor Khas James Gunn

Dengan ritme cerita yang cepat dan padat dialog, James Gunn menyajikan narasi yang langsung menghantam penonton. Ia tidak lagi repot menjelaskan siapa Superman—melainkan langsung mengajak penonton menikmati gaya khasnya: aksi penuh energi, musik eksentrik, dan humor yang terkadang lucu, terkadang membingungkan.

Film ini jelas menyasar penonton yang sudah familiar dengan dunia DC baru. Humor internal ala YTTA Universe mungkin terasa membingungkan bagi penonton kasual, dan konflik yang tumpang tindih membuat beberapa bagian cerita terasa padat dan sulit diikuti.

Sinematografi Epik Tapi Bisa Bikin Pusing

Camerawork dalam SUPERMAN 2025 juga sangat khas. Banyak adegan dirancang untuk terlihat epik dan intens. Namun, bagi penonton yang sensitif terhadap gerakan kamera cepat, film ini berpotensi memicu motion sickness. Sebuah hal yang perlu dicatat sebelum menonton di layar lebar.

Konflik Politik Fiksi dengan Makna Nyata

Salah satu elemen cerita yang patut diapresiasi adalah konflik antara dua negara fiktif: Boravia dan Jarhanpur. Meski imajinatif, konflik ini punya nuansa geopolitik yang sangat terasa. Dalam konteks saat ini, banyak penonton menangkapnya sebagai representasi konflik Israel–Palestina, disampaikan secara halus namun cukup menyentil.

Kesimpulan: Superman 2025 Bukan untuk Semua, Tapi Layak Dicoba

SUPERMAN versi James Gunn adalah film superhero yang berbeda. Berani, penuh warna, dan mengangkat sisi manusia dari tokoh ikonik. Meski tidak sempurna dan mungkin tidak cocok untuk semua orang, film ini tetap layak ditonton—terutama bagi mereka yang menginginkan pendekatan baru dalam dunia film superhero DC.

Thursday, December 21, 2023

REVIEW: AQUAMAN AND THE LOST KINGDOM




Bisa dibilang film Aquaman and the Lost Kingdom mengalamai segala kesialan yang tidak ada habisnya sampai filmya tayang. Bagaimana tidak, film ini sudah kehilangan sebagian fansnya terlebih dahulu karena 'reset universe' yang sudah diumumkan, lalu kontroversi aktrisnya Amber Heard yang memeberikan dampak negatif pada film sampai tidak melbatkan pemeran Mera ini pada materi promonya. Lalu berita film ini melakukan syuting ulang, menghapus adegan hingga hasil film yang tidak memuaskan makin memperparah kondisi itu. Jadi dengan hasil final yang sudah bisa tonton, apakah hasil film ini memang seburuk itu?

Arthur Curry (Jason Momoa) yang menjalani kehidupannya sebagai ayah untuk anaknya dan raja untuk rakyatnya harus kembali melawan Black Manta (Yahya Abdul-Mateen II) yang sekarang semakin kuat setelah mendapat kekuatan dari benda kuno dan menjadi ancaman besar bagi kehidupan Atlantis. Arthur terpaksa bekerja sama dengan Orm (Patrick Wilson) saudaranya sekaligus musuhnya demi nasib Atlantis dan juga daratan.


Plot cerita yang melanjutkan beberapa tahun setelah film pertama ini tanpa banyak bertele-tele langsung masuk pada konflik utamanya dengan mempertegas motif dari antagonis utama film ini yaitu Black Manta yang mendapat porsi dua kali lebih besar dari film pertama dan hal itu cukup sepadan hasilnya. Karakter Black manta tampak sangat mendominasi lewat kekuatan yang didapat dari trisula kunonya menjadi lawan yang cukup tanggguh untuk Aquaman. Yang menjadi daya lebih lain film ini bagaimana naskahnya mencoba mengeksplorasi hubungan antara Aquaman dan adik tirinya Orm dengan cukup solid. Memang bukan pertama kita bisa melihat villain di film pertama menjadi partner protagonis, bahkan hubungan Aquaman dan Orm mengingtakan kita dengan Thor dan Loki dan MCU. Tahu penonton pasti akan membandingkan hal itu, filmnya dengan cerdiknya menyelipkan dialog yang makin menebalkan Aqumana dan Orm adalah Thor dan Loki. Sebuah keputusan efektif yang memancing tawa penonton. 


Sementara dari visualnya sendiri mampu menjaga atau mempertahankan kualitas dan mungkin bisa dibilang melebihi film pertamanya yang tidak hanya memberikan dunia bawah laut yang indah tapi juga memperkayanya dengan makhluk-makhluk magis yang tidak tampak pada film pertamanya. Tidak sampai disitu, dari sequence actionnya Aquaman and the Lost Kingdom juga hadir dengan koreografi juga mendpaat upgrade tersendiri, terutama pada setiap sequence duel Aquaman vs Black Manta. Duel mereka sangat terasa elemen martial art yang cukup kental.


Entah sebanyak apa dirombak dari naskahnya, syuting ulang ataupun penghapusan adegan dalam film ini, sepertinya semua itu dilakukan untuk memberikan sebuah penutup yang pas untuk universe DC yang dimulai oleh Snyder dan direset oleh James Gunn. Dengan hasil yang sudah bisa disaksikan, segala berita negatif yang menjustifikasi jika Aquaman and the Lost Kingdom adalah film superhero yang buruk sama kali tidak terbukti.

Overall: 8/10


Thursday, August 17, 2023

ULASAN: BLUE BEETLE





Buat kalian yang mengikuti genre film superhero pasti sudah mengetahui kalo DCEU era sudah berakhir karena banyaknya drama yang terjadi baik itu terkait filmnya maupun terkait aktor/aktrisnya. Berakhirnya era DCEU ditandai dengan rilisnya film solo Flash bulan juni lalu. Nah Blue Bettle sudah dikonfirmasi sebagai tokoh DCU pertama tapi bukan film pertama (penjelasannya silakan baca di https://bit.ly/3OARi9P). Blue Bettle menawarkan udara segar dari trailer yang beredar karena all looks good and proper. FDiproduksi oleh DC Studios dan The Safran Company dan disutradarai oleh Ángel Manuel Soto dan ditulis oleh Gareth Dunnet-Alcocer. Film tersebut dibintangi oleh Xolo Maridueña sebagai Jaime Reyes / Blue Bettle bersama Adriana Barraza, Damián Alcázar, Raoul Max Trujillo, Susan Sarandon, dan George Lopez. Fun fact tadinya film ini diperuntukkan untuk layanan streaming HBO Max sebelum diubah untuk dirilis di bioskop.


Blue Beetle mengisahkan Jaime Reyes, seorang remaja Meksiko-Amerika yang menemukan relik scarab kumbang yang secara tidak sengaja menyatu dengan tulang punggungnya dan memberinya kemampuan untuk memanggil armor berbentuk serangga yang canggih. Meskipun ini mungkin tampak seperti blessing in disguise, dalam perjalanannya Jaime menemukan bahwa armor tersebut memiliki pikirannya sendiri dan terkadang mampu mengendalikan dirinya. Terlebih lagi ada Victoria Kord (Susan Sarandon) salah satu petinggi Kord Industry yang berusaha merebut teknologi scarab tersebut demi pengembangan senjata militer tercanggih dan tidak segan-segan melakukan segala cara termasuk mengancam keselamatan keluarga Reyes. Namun di tengah kekacauan, Jenny Kord (Bruna Marquezine), putri dari CEO Kord Industry Ted Kord, yang mencoba membantunya sekaligus menguak misteri relik scarab tersebut yang ternyata berhubungan dengan ayahnya.


Keseruan film ini tentu harus disaksikan sendiri di layar bioskop karena banyak adegan spektakuler yang mungkin bisa dibilang agak mirip dengan vibe Iron Man di MCU Ketertarikan dengan Blue Beetle sebetulnya dimulai sejak menonton animasi Young Justice dan high expectation banget ketika tahu live action movie nya akan tayang Agustus ini. First act yang berfokus pada pengenalan Jaime dan keluarganya dilakukan dengan baik dan rapi. Pengembangan karakter dilakukan dengan baik dan semua anggota keluarga Jaime mendapat porsi yang pas. Porsi komedinya pun seimbang dan tidak terlalu mengganggu. Second act yang memfokuskan konflik antara Jamie dan Veronica cukup solid hanya sayang Susan Sarandon sebagai Villain tidak terlalu berkesan dan terkesan satu dimensional saja. Third act cukup memuaskan karena ada momen- momen jatuh bangun sang Blue Beetle yang membentuk karakternya sebagai superhero. Vibe film keluarga dan film superhero sangat terasa namun kualitas dan cerita yang solid akan membantu para penonton menikmati film ini


Sebagai film superhero formula yang dipakai agak generik namun Blue Beetle memiliki potensi menarik di Future Film DCU. Pemilihan cast dan kemampuan akting yang mumpuni turut memberi kesan positif film inu. Desain armornya bagus dan sangat mirip dengan komiknya demikian pula CGI saat transformasi dan pertarungan dibuat sangat niat dan sepenuh hati CGI. Film ini paket lengkap yang cocok ditonton sendiri ataupun bersama keluarga. Sang sutradara berhasil membuat film yang memuaskan hati para fans ataupun penonton awam. Selanjutnya kita tinggal menunggu sepak terjang Blue Beetle di DCU akan seperti apa.



OVERALL : 7.5/10

Wednesday, June 14, 2023

ULASAN: THE FLASH




'Lebih susah bikin film solo The Flash dari pada bikin film Justice League'. Setidaknya itulah opini liar yang muncul setelah bertahun-tahun sejak kemunculan pertama The Flash di line-up Snyder-verse lewat Batman vs Superman: Dawn of Justice (2016). 7 tahun berselang akhirnya film solo yang ditunggu-tunggu akhirnya tayang juga. Namun meskipun ini film solo pertama, tetapi isi film sendiri bukanlah film origin dari sang hero, namun melanjutkan apa yang sudah terjadi pada event Justice League pasca mengalahkan Steppenwolf.


Barry Allen (Ezra Miller) melanjutkan hari-harinya melanjutkan kehidupan kesehariannya sebagai sang pahlawan The Flash dan sekaligus petugas forensik di kota Central City. Barry Allen yang sekarang sudah jauh lebih dewasa yang dimentori oleh Bruce Wayne (Ben Affleck) karena mempunyai trauma yang sama kehilangan orang tua menghadapi dilema ketika secara tidak disengaja menemukan cara kembali ke masa lalu dengan kekuatannya. Dengan kemampuannya kembali ke masa lalu dia bisa menyelamatkan sang ibu selamat dari pembunuhan dan ayahnya tidak pernah masuk penjara. Hanya saja konsekuensi dari perubahan yang dilakukan oleh Barry Allen tersebut membuat terciptanya realita masa depan yang baru yang tidak pernah terbayangkan dan mengancam hancurnya semesta. Dan sekarang Barry Allen harus mencegah semua itu terjadi.


Seperti yang kita tahu film pertama The Flash sendiri mengambil atau mengadaptasi secara bebas salah satu event komik DC terbaik yaitu The Flashpoint Paradox. Buat yang sudah membaca komiknya akan melihat versi film sendiri lebih padat dari Flashpoint. Banyak perubahan yang dilakukan untuk penyesuaian untuk bisa bisa ditampilkan di versi layara lebarnya. Namun untungnya esensi atau vibe utama dari The Flashpoint Paradox tidak hilang yang membuat yang sudha membaca komiknya akan tetap menikmati versi film ini.


Layaknya Across the Spider-Verse yang menempatkan multiverse sebagai gambaran besarnya, namun memakai pendekatan cukup personal pada karakter heronya mengahadapi dilema kepribadian dalam hal ini koteksnya adalah keluarga. Dan lagi, pola yang hampir sama yang juga digunakan dalam Everything Everywhere All at Once juga kembali berhasil dalam film The Flash ini yang membuat kompleksitas plot cerita jadi terasa dekat pada penonton yang diwakili oleh Barry Allen yang diperankan dengan apik oleh Ezra Miller. Yap, Ezra Miller adalah kunci utama plus The Flash yang memerankan 2 Barry Allen dengan 2 kepribadian pula. Setelah menonton menjadi masuk akal kenapa sang sutradara Andy Muschietti mengatakan tidak ada yang bisa sbeaik Ezra Miller memerankan Barry Allen.


Ezra Miller tidak sendiri, ada Micahel Keaton juga yang kembali memerankan Batman/Bruce Wayne yang tidak sekali-dua kali memnacing penonton untuk bertepuk tangan, entah itu dari dialog atau adegan yang dia lakukan membuatnya jauh kelihatan lebih badass dibandingkan penampilannya sebagai Vulture di Spider-man. Belum lagi banyaknya kejutan-kejutan cameo yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya yang menjadi fans service tersendiri.


Sementara dari visual sendiri menontonnya di layar IMAX adalah sesuatu pengalaman sinema tersendiri. Saya yang kebutulan menonton dari urutan 3 paling depan merasakan sensasi tersebut. kekhawatiran jika saya tidak akan terlalu menikmati menonton dari depan justru diganti denga pengalaman visual yang tidak mungkin saya dapatkan jika menontonnya dengan seat lebih belakang lagi. Layarnya yang full membuat seolah diajak berlari oleh The Flash pada setiap adegan The Flash menggunakan kekuatan Speed Force-nya. Ya memang ada beberapa adegan CGI yang masih cukup kasar, namun semua itu bisa tertutupi dnegan sequence-sequence action yang memukau, telebih di sequence action akhir.

Satu-satunya yang mungkin sedikit meganggu kita menikmati The Flash sudah terlalu banyaknya refrensi film sejenis ini. Belum lagi serial tv The Flash juga sudah memakai adaptasi Flashpoint terlebih dahulu. Lalu multiverse yang akhir-akhir ini sedang menjamur konsep cerita seperti ini. lalu juga time travel juga lagi-lagi bukan tema yang baru. Semuanya tergantung pada penontonnya setelah menonton The Flash sendiri. Bisa benar-benar puas atau sebaliknya. 


Secara keseluruhan The Flash berhasil mejawab ekspetasi penonton selama ini. Meskipun masih ada beberapa kekuarangan dan plothole yang belum terjawab setidaknya bisa membayar rasa penasaran kita akan film ini. Dengan ending yang sepertinya belum selesai untuk Ezra Miller, rasanya sangat disayangkan jika karakter The Flash berpindah ke aktor lain.


  Overall: 7,5/10  

Friday, March 17, 2023

ULASAN: SHAZAM! FURY OF THE GODS


Tiada film DC tanpa drama baik di film maupun di real life para actor/ aktrisnya. Shazam mungkin satu-satunya yang tanpa drama. Awal tahun 2023 publik di seluruh dunia terkejut ketika mendengar DCEU akan berakhir dan semua direset lagi dari nol (nama universe barunya menjadi DCU) di bawah arahan Peter Safran dan James Gunn yang didapuk menjadi co-CEO DC Studios (https://thedirect.com/article/dc-movies-2023-james-gunn-reboot). Shazam! Fury of the Gods akan jadi film terakhir dari era DCEU sebelumnya sebelum semuanya direset. Film sekuel Shazam diproduksi oleh New Line Cinema, DC Studios, Safran Company dan Seven Bucks Productions, dan didistribusikan oleh Warner Bros. Pictures. Film ini disutradarai oleh David F. Sandberg dan ditulis oleh Henry Gayden dan Chris Morgan, dan dibintangi oleh Zachary Levi, Asher Angel, Jack Dylan Grazer, Rachel Zegler, Adam Brody, Ross Butler, Meagan Good, Lucy Liu, Djimon Hounsou dan Helen Mirren.


Diberkahi dengan kekuatan para dewa, Billy Batson (Asher Angel) dan sesama saudara asuh yang lainnya, Frederick "Freddy" Freeman [Adam Brody (adult) - Jack Dylan Grazer (teen); Eugene Choi [Ross Butler (adult) - Ian Chen (teen)]; Darla Dudley [Meagan Good (adult) - Faithe Herman (teen)]; Mary Bromfield (Grace Fulton); Pedro Peña [D. J. Cotrona (adult) and Jovan Armand (teen); mencoba belajar bagaimana menjalani kehidupan remaja sekaligus memiliki alter-ego Pahlawan Super dewasa Shazam! Di samping itu Billy dan Mary pun menghadapi ketakutan bahwa keluarga asuh mereka tidak akan meneruskan merawat mereka karena pemerintah menghentikan uang sumbangan ke orang tua asuh mereka, Belum lagi Daughters of Atlas, trio dewa kuno pendendam yang terdiri atas Anthea (Rachel Zegler); Hespera (Helen Mirren); Kalypso (Lucy Liu), tiba di Bumi untuk mencari sihir yang dicuri dari mereka sejak lama, Billy—alias Shazam— (Asher Angel) dan keluarganya terpaksa terlibat ke dalam pertempuran menggunakan kekuatan super mereka untuk memperjuangkan hidup dan nasib dunia mereka sebelum jatuh dalam kehancuran. Peristiwa ini akan jadi ujian penting buat mereka apakah mereka layak menyandang status superhero.


Shazam! Fury of the Gods dimulai dengan awal yang menjanjikan dan menegangkan karena tanpa basa-basi kita langsung disuguhkan aksi Shazam family menyelamatkan warga dari tragedi jembatan gantung yang runtuh. David F. Sandberg memanfaatkan peringkat PG-13 dengan baik terlihat dari titik berat film ini pada ‘keluarga’. Perpaduan yang efektif antara unsur fantasi dan aksi dibawakan dengan cukup efektif kita seperti melihat gabungan Harry Potter, GoT dan film superhero jadi satu. Sekuens aksi ditampilkan secara mendebarkan dengan cukup jelas. Walau di beberapa adegan CGI terlihat masih kasar tapi tidak terlalu mengganggu. Adegan final atau konklusi yang seperti terlalu berlebihan dalam hal porsinya dalam melawan salah satu putri Atlas. Dari segi cerita - yang dikreditkan ke Henry Gayden dan Chris Morgan – mencoba menggabungkan antara dinamika keluarga dan komedi remaja dalam wadah film superhero yang untungnya bekerja dengan baik karena akting para castnya yang mumpuni walau ada beberapa adegan terasa klise dan hambar. Motivasi para tokoh antagonis tidak lebih dari alasan standar dan klise yang sebetulnya dapat dieksplor lebih mendalam mengapa mereka memiliki latar belakang yang substansial. Salah satu hal terbaik di film sekuel ini adalah bagaimana film ini masih menyenangkan di mana porsi komedinya memiliki kadar yang pas seperti film pertama, tetapi memiliki tambahan sentuhan kegelapan dan dark comedy, serta banyak referensi ke pop culture yang disematkan pada momen yang tepat.






Shazam! Fury Of The Gods akhirnya dapat mencurahkan waktu untuk eksplorasi sekaligus menyempurnakan interaksi Billy Batson (Asher Angel/Zachary Levi) dengan anggota keluarga angkatnya yang lain. Banyak fokus kali ini juga diberikan kepada Freddy Freeman (Jack Dylan Grazer/Adam Brody), kali ini dia memiliki lebih banyak screen time daripada Asher Angel sebagai Billy Batson. Dinamika di antara para Shazam Family lebih baik kali ini, karena mereka sekarang diceritakan berbagi tanggung jawab sebagai pahlawan super selain hubungan mereka satu sama lain, peran Asher Angel sebagai pemimpin juga disorot kali ini. Helen Mirren dan Lucy Liu kurang dimanfaatkan maksimal karena stereotipe mereka sebagai karakter anatagonis. Mirren sebagai aktris senior tetap mampu menonjol disbanding dua karakter Putri Atlas yang lain. Zachary Levi masih tampil memukau berperan sebagai Shazam pada usia 42 tahun. Jack Dylan Grazer cukup mencuri perhatian sebagai Freddy terlebih dengan energi remaja yang ceria dan beberapa adegan komedinya dengan Djimon Hounsou termasuk momen-momen paling menghibur dalam film.



Shazam! Fury of The Gods tampil sebagai sekuel yang fun dan family-friendly. Jangan berharap aksi yang bombastis seperti Justice League atau Black Adam karena tone nya memang tidak cocok dibuat seperti itu. Sebagai penonton kita disuguhi cerita yang ringan dan tetap punya kehangatan. Pesan yang dibawakan juga masih dapat disampaikan dengan baik terutama soal peran keluarga asuh dan rasa takut kehilangan juga pentingnya support dari anggota keluarga dalam hal ini Shazam Family. Sandberg sepertinya paham bagaimana menyuguhkan film superhero yang tetap seru, fun, dan penuh humor untuk bisa dinikmati semua kalangan. Yang pasti hilangkan ekspektasi ini film superhero serius, cukup tonton dan nikmati saja. Jangan lewatkan cameo penting di akhir film ini (yang sudah dibocorkan WB lewat trailer di TV Spot dan juga di list actor IMDB untuk film ini) dan 2 post credit scenes yang sayang untuk dilewatkan. Sayangnya setelah ini semua film2 DCEU (DC Extended Universe) akan direboot dengan kehadiran film Flash menjadi DCU (DC Universe) yang baru. Rumornya Zachary Levi tetap akan dipertahankan sebagai pemeran Shazam di DCU oleh James Gunn. Mari kita nantikan sepak terjangnya nanti




Overall Score : 7/10

(By Camy Surjadi)

Thursday, October 20, 2022

ULASAN: BLACK ADAM






8 tahun setidaknya jarak waktu yang dibutuhkan sejak dari Dwayne Johnson atau yang lebih populer dengan nama The Rock ini diumumkan akan memerankan villain utama Shazam yang itu Black Adam. Hingga akhirnya banyak perubahan terjadi dan hasil final Black Adam akan mempunyai filmnya solo sendiri, alih-alih menjadi villain utama di film pertama Shazam. Gosip yang beredar, nama besar Dwayne Johnson yang punya pengaruh kuat yang membuat  Black Adam mempunyai film solo. Disutradarai oleh Jaume Collet-Serra yang sebelumnya sudah bekerjasama dengan Dwayne Johnson lewat Jungle Cruise, banyak ekspetasi dan harapan pada film antihero ini.


Dibuka dengan adegan  Adrianna (Sarah Shahi) yang memimpin  pencarian sebuah mahkota yang mempunyai kekuatan besar yang sudah menjadi mitos di negara Kahndaq, sebuah negara konflik dan terjajah. Pencarian akan mahkota tersebut secara tidak sengaja membangkitkan seorang pahlawan di negara tersebut setelah tertidur selama 5000 tahu, sang pahlawan tersebut adalah Black Adam. Namun Black Adam bukanlah pahlawan yang menjujung norma-norma kephlawanan. Dia tidak segan-segan untuk membunuh. Segala tindakannya dikendalikan oleh amarahnya karena kejadian tragis yang dia alami di masa lalu. Hal tersebut yang membuat JSA (Justice Society of America) yang terdiri atas Hawkman (Aldis Hodge), Doctor Fate (Pierce Brosnan), Cyclone (Quintessa Swindell), dan Atom Smasher (Noah Centineo) datang untuk menghentikannya..


Film bertema antihero ini tidak perlu waktu berlama-lama dalam bercerita. Alur berlangsung cepat dari pengenalan karakter hingga menuju konfliknya. Hampir pada setiap sequencenya dibarengi dengan adegan-adegan action yang memukau penonton. Sempat ditundanya film ini berkali-kali bisa kita maklumi. Keluhan-keluhan bagaimana buruknya CGI yang kita temukan dalam film-film Marvel Studios akhir-akhir ini tidak akan temukan dalam Black Adam ini.


Namun keterpukauan penonton pada spesial efek dalam setiap sequence actionnya tidak sama dengan keterpukauan dengan plot ceritanya. Karena alurnya yang cepat film ini juga tidak mempunyai kedalaman cerita yang cukup kuat. Terutama pada kedalaman karakter. Pengenalan tokoh-tokoh terutama semua anggota JSA tidkak mempunyai latar belakang yang kuat. Jadi jika kamu mengharapkan sebuah film antihero yang kuat pada sisi ini, maka kamu harus kecewa. 


Untuk sebuah film popcorn atau blockbuster, Black Adam sudah memenuhi segala syarat untuk menjadi film yang snagat menghibur. Bahkan untuk penggemar komiknya akan sangat dimanjakan dengan film ini. Minim eksplorasi naskah pada kedalaman cerita mungkin memang disengajakan karena penulis atau sutradara ingin memberikan film antihero yang cukup ramah karena ratingnya sendiri untuk 13 tahun ke atas. 


Overall: 7/10