Sunday, April 7, 2019

ULASAN: SHAZAM!




Berbenah, itulah yang coba dilakukan Warner Bros/DC Comics dalam menata timeline atau superhero mana lagi yang akan diproduksi filmnya dalam DC Universe di layar lebar. Meskipun dari  film superhero yang dimunculkan seperti mengabaikan film sequel Man of Steel yang seharusnya mendapat prioritas karena keinginan fans, sampai saat ini tidak mendapatkan kejelasan. Lalu film solo Batman yang awalnya simpang-siur akhirnya mendapatkan film solonya  sendiri harus dibayar dengan perginya Ben Affleck dari peran Bruce Wayne/Batman. Seakan belum lengkap, sequel Justice League yang seharusnya menjadi puncak karakter-karakter superhero DC juga hanya tinggal di awang-awang. WB/DC seperti makin menjauh dari Justice League. Sepertinya WB/DC makin berhati-hati setelah hasil film Justice League pertama yang tidak memuaskan dan fokus pada film solo superhero mereka. Strategi itu mulai berhasil dimulai dari Wonder Woman (2017), lalu diikuti oleh Aquaman (2018) dan sekarang Shazam! akan mencoba peruntungan selanjutnya.



Untuk perjalanannya di komik, Shazam bisa dikatakan sudah cukup populer yang bisa disandingkan dengan trinity DC seperti Superman, Batman dan Wonder Woman. Tapi sayangnya peruntungannya di layar lebar tidak semulus Superman dan Batman. Mungkin itu yang menjadi salah satu alasan WB/DC menunda sequel MoS, Batman atau Justice League agar memberikan karakter lainnya yang tidak kalah menarik, dan Shazam adalah satunya. Disutradarai oleh David F. Sandberg (Lights Out, Annabelle: Creation) film layar Shazam membawa nama-nama aktor cilik yang akan menjadi pondasi plot cerita yang dipimpin oleh dua aktor dewasa Zachary Levy dan Mark Strong.



Seorang anak yatim piatu bernama Billy Batson (Asher Angel) yang sering berpindah-pindah orang tua asuh karena bermasalah. Dan perhentian orang tua asuh selanjutnya Billy diasuh oleh pasangan suami-istri Victor (Cooper Andrews) dan Rosa Vasquez (Marta Millians) dan memperkenalkannya pada anak-anak asuh lainnya mulai dari Freddy (Jack Dylan Grazer), Mary (Grace Fulton), Eugene (Ian Chen), Pedro (Jovan Armand), dan Darla (Faithe Herman). Suatu hari pada sebuah kejadian misterius, Billy bertemu dengan seorang penyihir yang sudah melemah mencari penerusnya dan memilih Billy karena memenuhi persyaratan yang membuatnya memiliki kekuatan super dan berubah dalam tubuh orang dewasa dengan hanya menyebutkan kata 'Shazam'.



Billy yang masih mencoba beradaptasi dengan kekuatan barunya didampingi oleh Freddy mencoba mencari tahu sampai mana batas dari kekuatan yang dimiliki oleh tubuh dewasa Shazam (Zachary Levi). Sebuah kesenangan yang  mewarnai hari-hari mereka berdua mulai menarik perhatian ketika Dr. Thaddeus Sivana (Mark Strong) muncul untuk mengejar kekuatan yang dimiliki Billy. Dr. Sivana terobsesi dan sangat ingin memiliki kekuatan Shazam itu tidak hanya mengancam nyawa Billy sendiri, tetapi juga mulai mengancam semua nyawa keluarga barunya. Bisa kah Billy yang dibantu Freddy memaksimalkan kekuatan besar yang dimilikinya untuk melindungi nyawa-nyawa keluarga asuhnya ? Dan kenapa Dr. Sivana sangat ingin memiliki keuatan Shazam ? Jawaban yang bisa ditemui lewat filmnya secara langsung.



Film keluarga, itulah yang pertama kali kata yang muncul untuk mendeskripsikan setelah menonton 'Shazam'. Sesuatu hal yang baru dari film-film universe superhero DC yang a  oleh Man of Steel (2013). Dan karena memang karena kentalnya dengan film keluarga meskipun cerita dibuka dengan prolog masa lalu Dr. Sivana, film Shazam! yang berjalan secara naratif ini akan mudah dipahami oleh anak-anak sekalipun. Dari plot cerita makin menarik sejak a kali munculnya transformasi Billy ke tubuh Shazam. Bahkan untuk penggemar komiknya sekalipun akan bisa menikmati plot cerita karena hampir 90% plot cerita mengadaptasi origin Shazam pada komiknya di reboot semua karakter DC Comics yang disebut dengan New 52. Bisa dibilang Shazam! adalah film adaptasi yang sangat mendekati komiknya. Yang menjadi pembeda adalah jika pada komik Shazam langsung menghadapi musuh bebuyutannya Black Adam, maka posisinya untuk film pertama diganti ke Dr. Sivana. Hal yang mungkin sangat disayangkan mungkin untuk sebagian fans komiknya.



Jika plot cerita tidak ada masalah, maka untuk para pemain sangat mudah sedikit merasa mengganjal. Transformasi karakter Billy ke Shazam salah satunya. Seperti yang kita tahu Billy dan Shazam adalah orang yang sama dengan tubuh yang berbebeda yang harusnya mempunyai karakter yang sama, tetapi hal itu sangat terasa sangat kontras berbeda. Billy yang masih dengan kepribadian bermasalah mengontrol emosi menjadi sangat menjadi karakter yang terlalu kanak-kanak pada tubuh Shazam yang diperankan Zachary Levy. Jika kamu tidak mempermasalahkan itu, maka kamu akan sangat terhibur dengan penampilan Zachary Levy yang sangat komikal.



Lalu jika kamu mengharpkan sebuah adegan final pertarungan yang seru seperti film kebanyakan maka sebaiknya menurunkan ekspetasi. Duel Shazam versus Dr Sivana dan wujud 7 dosa besarnya seperti ala kadarnya saja yang bisa dibandingkan dengan film-film serial tv DC seperti The Flash. Agak mengecewakan memang meskipun ada sedikit kejutan ketika 5 anak asuh lainnya mencoba memantu Shazam melawan Dr. Sivana.



WB/DC sepertinya ingin sedikit melunak dalam hal menampilkan visual para superheronya yang diidentikan dengan tone dark dan serius seperti film-film sebelumnya yang dimulai lewat Aquaman yang terbukti sukses. Dan sekarang diikuti oleh Shazam yang mempunyai potensi cukup besar di sequelnya nanti yang mungkin bisa membayar segara kekurangan di film pertama ini yang budgetnya sendiri jauh dibawah Man of Steel, Wonder Woman, BvS dan Aquaman sekalipun. Untuk saat ini kita cukup berdoa film pertama ini akan sukses, karena dengan segala kekurangannya Shazam! masih sangat menghibur untuk ditonton bersama keluarga.


Overall: 7,5/10

(By Zul Guci)

Sunday, March 24, 2019

ULASAN: US





Pada era dimana film franchise, sequel dan remake membanjiri pangsa perfilman, menemukan film original dengan ide yang segar menjadi agak sulit ditemukan sekarang ini. Pada tahun 2017, Jordan Peele membuat kejutan melalui sajian film directional debut melalui Get Out, sebuah film horror/thriller dengan pendekatan yang tidak biasa dan sarat akan kritik sosial di Amerika Serikat yang masih sangat kental soal perbedaan ras. Kini Jordan Peele kembali dengan follow up film bergenre sama dengan judul singkat, Us.



Bercerita tentang sebuah keluarga yang terdiri dari orang tua dengan dua orang anak, sedang melakukan piknik di kawasan pesisir. Pada suatu malam, sekelompok orang misterius mendatangi rumah mereka kemudian masuk dengan paksa untuk menyerang. Segera saja diketahui kalau ternyata sekelompok orang misterius ini adalah sosok diri mereka sendiri, semacam 'kloningan' dengan versi yang jahat.



Us dibintangi oleh jajaran cast yang memberikan kesan seperti kita ingin ikut piknik bersama dengan keluarga ini, mereka begitu mengasyikkan ketika bersama. Winston Duke sebagai sang ayah bermain dengan penuh jenaka - dengan tanpa memudarkan suasana intens yang sedang dihadapi. Semua cast yang berperan sudah memberikan kontribusinya masing-masing menjadikan film begitu menarik diikuti, namun yang patut paling disorot tentu Lupita Nyong'o yang berperan sebagai sang ibu. Ia begitu tegar, memiliki tekad, namun sekaligus juga begitu rentan dengan perjuangannya sendiri dibayangi masa lalu. Penampilan Lupita mengingatkan saya dengan Toni Collete dalam Hereditary hingga Jennifer Lawrence dalam Mother!, semua berada pada level yang sama bagusnya, sayangnya ajang penghargaan bergengsi dunia kerap memandang sebelah mata permoforma dari genre film horror/thriller seperti ini.



Menonton film ini lebih seru jika kita mengetahui sesedikit mungkin mengenai premisnya. Banyak kejutan berikut juga pertanyaan yang akan timbul selama kita mengikuti jalinan cerita. Film ini banyak bermain dengan ambiguitas, tidak semua pertanyaan akan terjawab ketika kita meninggalkan film ini, selain itu juga terdapat adegan-adegan simbolik dan interpretatif, inilah yang paling menjadi faktor divisif bagi penonton apakah akan menikmatinya atau tidak. Namun yang pasti, semua dapat merasakan bahwa film ini membangun tensi dengan susuan sekuens yang begitu terarah, cukup efektif memberikan efek deg-degan pada penonton. Ini merupakan sebuah tontonan yang menghibur dan seru karena alurnya yang menarik, ditambah lagi dengan berbagai selipan humor yang secara mengejutkan ternyata bisa mengalir dengan sinkron di antara suasana yang sedang tegang.



Dapat dirasakan terdapat upgrade penulisan/penyutradaraan yang semakin matang semenjak Jordan Peele tampil melalui Get Out. Film Us membuktikan bahwa ia bukanlah sineas one-hit wonder yang hanya mengandalkan kartu rasial untuk mendapatkan sorotan pada karyanya. Ia adalah sineas yang dapat menembus kreatifitas bercerita dengan komponen yang sangat mendetil, intens, humoris, namun tetap sarat akan kritik sosial yang mendalam. Saya bersemangat untuk mengikuti bagaimana perjalanan kreatifnya mengarah pada masa yang akan datang.


(By Arief  Iffandy)





Monday, March 18, 2019

ULASAN: FIVE FEET APART




Sejak pertama kali posternya muncul dan terlebih setelah membaca sinopsisnya, banyak yang langsung membanding-bandingkan Five Feet Apart dengan salah satu film drama-romantis populer yang pernah dibintangi Shailene Woodley dan Ansel Elgort berjudul The Fault In Our Stars. Dibanding-bandingkannya kedua film itu tentu bukan tanpa alasan. Kedua film ini mempunyai tema yang sama. Sepasang kekasih yang sama-sama menderita penyakit yang mematikan yang mana hubungan mereka berdua yang menjadi harapan dan warna kehidupan mereka yang setiap saat ajal bisa datang kapan saja. Lalu apakah kesamaan tema ini membuat Five Feet Apart jadi agak sedikit basi ketika ditonton ?



Dibintangi dua rising star yang saat ini mulai menjadi idola remaja, ada Cole Sprouse yang angkat nama lewat serial Riveldale, lalu ada Haley Lu Richardson yang sebelumnya muncul lewat Split dan Edge of Seventeen. Dan kursi sutradara ditangani oleh Justin Baldoni yang mana Five Feet Apart adalah debutnya sebagai sutrdara.



Will (Cole Sprouse) dan Stella (Haley Lu Richardson) adalah remaja yang dipertemukan oleh penyakit mereka. Mereka berdua mengidap penyakit langka, yaitu Cystic Fibrosis yang merupakan sebuah penyakit langka, yang menyerang paru-paru dan sistem pencernaan. Lendir di dalam tubuh akan sangat kental sehingga bisa membuat pengidapnya terancam hidupnya. Penyakit ini belum dapat disembuhkan, namun perawatan intensif bisa membantu. Cystic Fibrosis bersifat kronis, dapat bertahan selama bertahun-tahun bahkan seumur hidup, dan selalu membutuhkan uji dan pengawasan yang cukup ketat.


Penyakit itu seperti tidak menghalangi rasa saling menyukai anatara Will dan Stella yang pada awalnya tidak mempunyai rasa kecocokan yang rasanya tidak mungkin mempunyai hubungan yang lebih personal. Tetapi justru karena penyakit itu mereka berdua bisa saling memahami satu sama lain. Mengidap penyakit yang sama bukanlah satu-satunya penghalang hubungan mereka berdua. Seakan belum cukup, tali kasih antara mereka berdua dihalang oleh jarak 5 kaki. Yap, karena penyakit Cystic Fibrosis membuat sesama pengidapnya tidak boleh melakukan kontak fisik secara langsung. Jika hal itu dilanggar maka penyakit yang mereka derita akan bertambah parah. Dengan halangan seperti itu apakah kedua pasangan ini bisa menjalin hubungan sepasang kekasih dengan semestinya ?


Memang tidak salah jika Five Feet Apart dibanding-bandingkan dengan The Fault In Our Stars karena memang menceritakan dua karakter utamanya mengidap penyakit yang berat. Tetapi untungnya dengan kemiripan seperti itu ternyata Five Feet Apart bisa berdiri sendiri. Jikapun kamu masih membanding-bandingkannya Five Feet Apart tidak bisa dikatakan berada dibawah The Fault In Our Stars. Semua itu karena peformance yang memukau Cole Sprouse dan Haley Lu Richardson yang memerankan dua karakter utamanya. Kemistri mereka yang sangat kuat membuat penonton merasa sangat peduli dengan nasib dua karakter ini. Mulai dari tersenyum, harap-harap cemas dan terharu mengikuti emosi para karakter-karakternya.


Sebagai bumbu ditengah-tengah perhatian kita pada karakter Will dan Stella, kehadiran Poe (Moises Arias) sahabat dari Stella dan Barb (Kimberly Hebrt Gregory) sang suster yang sangat menyayangi Will dan Stella lebih dari sekdar pasien memberikan warna tersendiri. Yap benar, Five Feet Apart hidup benar-benar karena bagusnya para pemainnya. Diluar peforma yang sangat solid dari dua pemeran utama, skenario yang ditulis Mikki Daughtry dan Tobias Iaconis juga salah satu kunci kenapa film ini juga sangat menjadi menarik yang dieksekusi dengan secara tepat oleh Justin Baldini yang dengan cerita yang sebenarnya bisa sudah bisa ditebak.


Jikapun ada hal yang membuat kamu tidak bisa menikmati filmnya hanyalah cerita yang sudah sangat familiar yang membuat kamu sudah kebal dengan cerita-cerita melodramatis ini. Tetapi jika kamu bisa menepiskan hal itu, bisa jadi kamu akan lebih menyukai Five Feet Apart dibandingkan The Fault of Our Stars.

Overall: 7/10

(By Zul Guci)

Sunday, March 17, 2019

ULASAN: WONDER PARK




Setelah absen setahun dari layar bioskop setelah terakhir kali muncul lewat Monster Truck, Nickelodeon Movies kembali hadir dengan dua film di tahun 2019 ini. Yang pertama animasi Wonder Park dan yang kedua live action Dora The Explorer. Berbeda dengan Dora The Explorer diadaptasi dari animasi yang sudah lebih populer terlebih dahulu, untuk Wonder Park sendiri sebuah film animasi yang mana nantinya akan menyusul menjadi serial animasi di channel yang memang sudah banyak menelurkan serial-serial animasi yang sangat digemari.


Mulai berjalan produksi filmnya sejak tahun 2014, Wonder Park diramaikan dengan suara-suara aktor yang sudah sangat familiar, mulai dari Jennifer Garner, Matthew Broderick, Ken Jeong dan John Oliver. Ditengah-tengah penyelesaian produksi film Wonder Park mengahadapi masalah ketika pihak studio memecat sang sutradara Dylan Brown dikarenakan masalah isu pelecehan seksual. Sejak saat pihak studio tetap melanjutkan penyelesaian film ini tanpa ada pengganti sutradara.


Wonder Park berkisah tentang sebuah taman hiburan yang luar biasa, di mana imajinasi seorang gadis yang sangat kreatif bernama June (Brianna Denski) yang awalnya tidak diketahuinya menjadi hidup. Hingga pada suatu saat June berhenti berimajinasi ketika sang ibu (Jennifer Garner) sakit. Hal yang membuat berpengaruh pada kelangsungan Wonder Park yang tiba-tiba diserang sebuah kegelapan yang akan menghentikan aktifitas Wonder Park selama-lamanya.

Pada suatu saat dengan secara ketidaksangajaan June tersesat pada sebuah taman hiburan yang tidak terurus yang tidak butuh waktu lama June menyadari jika taman hiburan itu adalah Wonder Park ketika para penghuni dan pengurus taman hiburan itu adalah hewan-hewan yang ada dalam imajinasinya. Bersama-sama mereka mencoba untuk menyelamatkan Wonder Park dari lahapan kegelapan dan membuat Wonder Park kembali beraktfitas lagi seperti dulu.


Dengan visual yang sangat penuh warna memanjakan mata, Wonder Park akan mudah menarik perhatian penonton, terlebih anak-anak. Plot cerita yang ringan ringan juga akan mudah diikuti seperti halnya dengan film-film animasi Nickelodeon sebelumnya. Dengan plot cerita yang ringan itu sayangnya tidak dibarengi joke-joke pada dialognya yang mungkin hanya dimengerti sebagian penonton. Joke yang bisa saya katakan terlalu pintar untuk kita yang sangat tidak menyukai pelajaran fisika atau matematika sehingga tidak merasakan kelucuannya dimana. Terlebih filmnya sendiri ditujukan untuk anak-anak, jadi berharap saja mereka mengerti joke orang-orang jenius itu.


Untungnya karakter-karakter hewan yang ada dalam Wonder Park dapat mengisi plotnya dengan baik yang menjadikannya sangat menghibur seperti duo tupai bersaudara yang meributkan segala hal Gus (Kenan Thompson) dan Cooper (Ken Jeong). Lalu ada Steve (John Oliver) sang landak yang jatuh hati pada Greta (Mila Kunis) sang babi liar. Lalu juga ada Boomer (Ken Hudson Campbell)  sang beruang biru yang suka tiba-tiba tertidur ditengah-tengah percakapan. Dan ditengah-tengah sangat menghiburnya karakter pembantu itu tidak diimbangi oleh karakter penting Peanut (Norbert Leo Buzt).


Untuk sebuah porgress, animasi terbaru Nickelodeon ini tidak terlalu banyak keistimewaan dengan film-film animasi sebelumnya. Menghibur, tapi hanya sebatas itu. Dengan pesan moral yang cukup kental mengenai jangan berlarut-larut dalam sebuah kesedihan, Wonder Park memang lebih cocok jika ditonton bersama keluarga dan mungkin lebih sangat menyenangkan menjelaskan maksud pesan yang ada di film ini kepada anak-anak jika menurut kamu film ini sangat biasa.

Overall: 6,5/10

(By Zul Guci)



Wednesday, March 13, 2019

5 EPISODE PERTAMA FINALIS HOOQ FILMMAKERS GUILD MUSIM KEDUA TELAH HADIR DI HOOQ



HOOQ - Layanan video on demand terbesar di Asia Tenggara - kembali menggelar ajang pencarian cerita dan talenta terbaik di bidang film dan serial. Tahun ini, HOOQ Filmmakers Guild telah menyeleksi dan memproduksi lima naskah cerita terbaik dari penjuru Asia dan ditayangkan pada aplikasi HOOQ mulai 1 Maret 2019.



Lima cerita tersebut antara lain, Klenix dari Indonesia, Babi! dari Malaysia, She’s a Terrorist and I Love Her dari Singapura, dan dua cerita dari Thailand yaitu Lucky Girl dan Split Second.



Jennifer Batty, Chief Content Officer HOOQ mengatakan, “Kami sangat senang menghadirkan project episode pertama HOOQ Filmmakers Guild di musim kedua ini! Proses pemilihan yang sangat selektif dalam memilih lima naskah terbaik untuk diproduksi menjadi episode pertama dan sekarang akan lebih sulit untuk memutuskan satu naskah terbaik! Sangat menyenangkan dapat bekerjasama dengan tim HOOQ Filmmakers Guild dan juga peserta terpilih. Saya ingin menekankan bahwa HOOQ sangat berkomitmen untuk mendukung sineas berbakat di seluruh Asia tahun 2019.”



Pertama kali digelar pada Juni 2017, HOOQ Filmmakers Guild membuka kesempatan bagi para sineas kreatif dan berbakat di Asia untuk mewujudkan ide cerita terbaik mereka ke dalam sebuah film atau serial. Lima finalis dengan naskah cerita terbaik tersebut masing-masing mendapatkan USD 30,000 untuk merealisasikan cerita mereka ke dalam satu episode perdana. Satu dari lima episode perdana yang telah melewati proses penjurian serta berdasarkan popularitas, akan diproduksi menjadi serial penuh dan ditayangkan di HOOQ.





Lima finalis dari HOOQ Filmmakers Guild musim pertama telah berhasil memenangkan beragam penghargaan sepertiGrand Prize untuk Best Television Pilot dalam ajang 22nd Annual Rhode Island International Film Festival (RIIFF), Program Komedi Terbaik untuk Indonesia dan Pemeran Utama Wanita Terbaik untuk Singapura dalam ajang Asian Academy Creative Awards.



Kelima naskah terbaik diseleksi oleh barisan juri dari sineas ternama Asia, yaitu Mouly Surya dan Joko Anwar dari Indonesia, Manet Dayrit dan Agot Isidro dari Filipina serta asal Thailand, Adisorn Tresirikasem dan Banjong Pisanthanakun.



Juri asal Thailand Banjong Pisanthanakun, yang dikenal dengan karyanya dan kesuksesan film box office berjudul Shutter mengatakan, “Saya merasa terhormat mendapatkan kesempatan menjadi juri di kompetisi ini. Hari ini, kami telah melihat naskah-naskah yang menginspirasi dan berkualitas dari sineas pemula berbakat yang dimiliki Asia Tenggara.”



Juri asal Thailand lainnya Adirson Tresirikasem mengatakan, “Saya merasa semua finalis tahun ini melebihi dari harapan saya. Sineas muda ini melebihi dari standar, ketika karyanya hadir untuk melibatkan penonton melalui film. Saya percaya bahwa penonton di rumah akan menyukai karya-karya ini seperti saya.”



“Ini merupakan tahun kedua saya menjadi juri dan saya terkesima dengan standar yang sangat tinggi dari para peserta. Di tahun 2018, kami telah memproduksi pilot episode yang luar biasa, dan tahun ini juga sama. Asia Tenggara memiliki banyak talenta kreatif dan saya sangat bangga menjadi bagian dari proses dari ajang yang memberikan kesempatan untuk mereka menunjukkan talenta dan karya orisinal mereka.”, ujar juri asal Indonesia Mouly Surya, sutradara yang mendapatkan banyak pujian dan penghargaan melalui film Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak.



Sutradara peraih penghargaan asal Indonesia lainnya, Joko Anwar menambahkan, “Saya yakin penonton dari penjuru Asia Tenggara akan menyukai dan menikmati episode perdana dari 5 naskah ini. Ini adalah bukti nyata dari ramainya industri film kreatif di Asia Tenggara.”

Juri asal Filipina Agot Isidro yang merupakan aktris peraih penghargaan menambahkan, “Episode perdana ini adalah bukti nyata bagi eksistensi sineas berbakat di seluruh Asia. Mereka berani melakukan pendekatan mereka, mengambil inspirasi dari nuansa sosial untuk menceritakan kisah-kisah menarik yang memberikan pengaruh untuk penonton.”



Penilaian naskah berdasarkan pada relevansi dan daya tarik terhadap penonton di Asia, kreativitas dalam alur cerita dan yang paling penting, cerita mengenai Asia yang teruraikan dengan baik dengan sudut pandang yang orisinal

Rekan juri dari Filipina Manet Dayrit, aktris senior peraih penghargaan di industri film Filipina, terkesan dengan naskah yang masuk, “Ini menginspirasi dan saya bangga menjadi bagian dari proses ini. Hanya dalam waktu yang singkat para finalis mampu menghasilkan karya luar biasa. Mereka dapat menggambarkan semangat penggiat film berbakat Asia dan kami tidak sabar untuk menonton episode perdana.”



Apa yang dikembangkan oleh para pendatang ini dalam waktu sesingkat itu bukanlah hal yang luar biasa. Mereka benar-benar menangkap semangat penceritaan Asia di film dan kami tidak sabar menunggu penonton untuk melihatnya

ULASAN: A PRIVATE WAR




Sejak kemunculannya pertama kali di layar lebar sebagai Bond girls lewat Die Another Day nama Rosamund Pike identik dengan peran-peran wanita cantik dan anggun yang bisa dibilang tidak ada yang spesial. Sampai pada akhirnya aktris kelahiran tahun 1979 ini bermain dalam film arahan David Fincher lewat Gone Girl yang sangat menarik perhatian yang membuahkan nominasi aktris terbaik pada ajang Academy Awards 2014. Dan sekarang Rosamund Pike mencoba sampai mana batasnya mendalami sebuah peran. Kali ini Rosamund Pike bermain dalam film biopik wartawan perang Marie Colvin.



Selain Rosamund Pike, film A Private War juga didukung oleh aktor-aktor yang sudah sangat familiar untuk mata penonton. Ada nama Jamie Dornan (Fifty Shade of Grey Trilogy), Stanley Tucci (Captain America: First Avengers, The Hunger Games) dan Tom Hollander (Bohemian Rhapshody, Bird Box). Matthew Heineman ada pada kursi sutradara yang sebelumnya lebih dikenal sebagai sutradara film dokumenter yang sudah banyak memenangi penghargaan seperti Cartel Land (2015) dan City of Ghost (2017). A Private War sendiri merupakan debut penyutradaraan film naratif bagi Matthew Heineman.


Diangkat dari kisah nyata, A Private War akan mengisahkan tentang sosok Marie Colvin (Rosamund Pike). Salah satu wartawan perang paling terkenal dan berani yang mengidap PTSD (Post Traumatic Stress Disorder) yang tidak pernah kenal kata takut, Marie meliput perang langsung di garis depan. Dalam tugasnya Marie selalu ditemani oleh photographer Paul Conroy (Jamie Dornan). Berdua mereka memasuki negara yang mengalami konflik atau perang. Semuanya untuk memberikan suara kepada orang yang tidak bersuara. Film ini akan menceritakan hubungan Marie dengan orang-orang disekitar sepanjang 11 tahn kariernya sebagai jurnalis perang yang diadaptasi dari tulisan artikel "Marie Colvin’s Private War" di Vanity Fair yang ditulis oleh Marie Brenner.



Pengalaman Matthew Heineman dalam film-film dokumenter pada daerah-daerah konflik menjadi daya kuat A Private War. Gambaran dari efek perang dengan segala kengeriannya yang tidak hanya berdampak pada kerugian infrasttrukturnya, tetapi juga kepada manusia-manusianya sendiri. Refleksi dari kengerian itu yang diwakili oleh Rosamund Pike yang memerankan Marie Colvin yang benar-benar sangat luar biasa yang setelah menonton membuat kita mempertanyakan dengan peforma luar biasa seperti masih belum cukup menembus jajaran a aktris terbaik pada ajang oscar beberapa waktu yang lalu.



Sangat luar biasanya performa Rosamund Pike memang menjadikan A Private War sebagai panggung aktris tersebut. Tetapi bukan berarti performa pemain lain seadanya saja, yang ada justru memperkuatnya. Jamie Dornan sebagai Paul Conroy salah satunya, hubungan pertemanannya dengan Marie menjadi bumbu dalam plot cerita. Tanpa bermaksud menyepelekan pilihan film-film sebelumnya, Jamie Dornan kedepannya harus sering mencoba bermain dalam film-film yang mengeluarkan semua potensinya sebagai aktor yang bagus seperti dalam film ini.


A Private War sebuah biopik naratif yang sudah menarik perhatian sejak adegan pertamanya. Pesan positif yang disampaikan lewat kengerian-kengerian pada daerah konflik yang mungkin akan membuat kamu memikirkannya setelah menontonnya. Dan sebuah apresiasi layak diberikan kepada wartawan-wartawan perang yang menyampaikan pesan para korban yang tidak terdengarkan.


Overall: 8,5/10

(By Zul Guci)



Monday, March 11, 2019

TAHUN KEEMPAT FESTIVAL SINEMA AUSTRALIA DIGELAR




Festival Sinema Australia Indonesia kembali untuk tahun keempatnya bulan ini dengan menayangkan film-film terbaik dari Australia dan Indonesia kepada penonton di Jakarta, Surabaya, Makassar, dan, untuk pertama kalinya tahun ini, Bandung dan Mataram, Lombok. Berbagai pilihan film Australia dan Indonesia akan diputar secara gratis di festival tahun ini, termasuk film-film pendek pilihan yang ditampilkan di Flickerfest, festival film pendek Australia yang terkenal di dunia. Festival ini akan dibuka dengan pemutaran perdana Ladies in Black di Indonesia, sebuah film berlatar tahun 1959 yang menunjukkan awal mula transformasi Australia menjadi negara multikultural seperti sekarang ini dan kebangkitan kemerdekaan perempuan di masyarakat.



Film dokumenter tentang salah satu seniman Penduduk Asli Australia yang paling terkenal,GURRUMUL, juga akan ditampilkan pada festival tahun ini. Sutradara dan penulis film dokumenter tersebut, Paul Damien Williams, akan menghadiri festival dan menyapa penggemar film di Jakarta dan Mataram dengan dukungan dari mitra berkelanjutan festival ini, Qantas.



Judul-judul film Australia lainnya yang akan diputar termasuk drama keluarga Storm Boy, filmthriller fiksi ilmiah alien Occupation, dan film fitur dokumenter tentang paduan suara perempuan Penduduk Asli Australia The Song Keepers. Kembali tayang karena permintaan khalayak ramai, susunan film pada festival kali ini juga mencakup karya alumni Australia asal Indonesia, termasuk karya film klasik modern Ada Apa Dengan Cinta? dan Ada Apa Dengan Cinta 2 dari produser Mira Lesmana, yang juga merupakan Sahabat FSAI tahun ini.



Penonton juga berkesempatan untuk menonton film pemenang penghargaan karya Kamila Andini,The Seen and Unseen.“Warga Australia dan Indonesia berbagi kecintaan terhadap karya visual, terutama film,” kata Duta Besar Australia untuk Indonesia, H.E. Mr Gary Quinlan.



“Film adalah salah satu media terbaik untuk menumbuhkan pemahaman yang lebih besar tentang negara dan budaya lain. Festival Sinema Australia Indonesia 2019 menawarkan jendela unik ke Australia kontemporer". FSAI 2019 didukung oleh Australia now ASEAN, sebuah inisiatif Pemerintah Australia untuk merayakan inovasi, kreativitas, dan gaya hidup Australia di Asia Tenggara sepanjang 2019. Tiket untuk semua pemutaran film tersedia secara gratis di fsai2019.eventbrite.com.